• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.4 Teori Tentang Kecelakaan Kerja

II.4.1 Pengertian Kecelakaan Kerja dan Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja

Menurut Bambang (2006) kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak terduga dan yang tidak diharapkan terjadi yang dapat menimpa karyawan. Tidak terduga karena dilatar belakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih- lebih lagi dalam bentuk perencanaan. Tidak diharapkan oleh karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian materil maupun penderitaan yang paling ringan sampai kepada yang paling berat yang tidak diinginkan.

Hariandja (2002) menyatakan pada prinsipnya faktor penyebab kecelakaan kerja, berkisar pada :

a. Faktor Manusia

Pekerja tentu saja memiliki keterbatasan-keterbatasan misalnya merasa lelah, lalai, atau melakukan kesalahan-kesalahan yang bisa disebabkan oleh berbagai persoalan pribadi atau keterampilan yang kurang dalam melaksanakan pekerjaannya. Untuk mengatasi hal ini, maka perusahaaan harus melakukan pelatihan-pelatihan dalam melakukan pekerjaan secara baik, membuat pedoman pelaksanaan kerja secara tertulis, meningkatkan disiplin, melakukan pengawasan oleh atasan langsung, dan mungkin dapat memberikan reward bagi mereka yang mengikuti prosedur dengan benar.

b. Faktor Peralatan Kerja

Peralatan kerja atau pelindung bisa rusak atau tidak memadai. Untuk mengatasinya perusahaan harus memperhatikan kelayakan setiap peralatan yang dipakai dan melatih para karyawan untuk memahami karakteristik setiap peralatan dan mekanisme kerja peralatan tersebut.

c. Faktor Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja bisa menjadi tempat yang tidak aman, sumpek dan terlalu penuh, penerangan dan ventilasinya tidak memadai. Selain itu, iklim psikologis diantara pekerja juga bisa kurang baik, misalnya tidak ada interaksi yang saling membantu diantara para pekerja. Untuk ini perusahaan harus membangun tim kerja yang baik melalui berbagai macam program. Kecelakaan juga bisa terjadi akibat kondisi jalan yang tidak baik, tanda peringatan yang tidak lengkap dan jelas, serta sikap yang hanya mementingkan diri sendiri.

Dijabarkan lebih rinci oleh Desler (Panggabean, 2004) yang mengemukakan bahwa,”ada tiga penyebab utama kecelakaan, yaitu secara kebetulan (chance occurance), kondisi yang tidak aman (unsafe condition), dan sikap yang tidak diinginkan (unsafe acts on the part of employee)”.

a. Secara kebetulan (chance occurance)

Kecelakaan dapat terjadi secara kebetulan, misalnya seorang pekerja terkena pecahan kaca pada saat melintas di suatu tempat dimana ada kaca jendela yang jatuh.

b. Kondisi tidak aman (unsafe condition)

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kondisi yang tidak aman adalah : alat pengaman yang tidak sempurna; alat dan peralatan yang sudah tidak layak atau rusak; terjadi kemacatan (congestion); prosedur yangbberbahaya di dalam, di atas atau disekitar peralatan dan mesin; tempat penyimpanan yang tidak aman; kurangnya pencahayaan dan ventilasi yang kurang ataupun berlebihan; bising, radiasi, tempat penyimpanan yang tidak aman; kondisi suhu yang membahayakan terpapar gas dll; alat penjaga/pengaman gedung kurang dari estándar; ada api ditempat yang berbahaya; sistem peringatan yang berlebihan (In adequate warning system). Disamping itu, kecelakaan dapat terjadi karena pekerjaan itu sendiri, skedul kerja, dan iklim psychological ditempat kerja.

c. Sikap yang tidak diinginkan (unsafe acts on the part of employee), yaitu: menjalankan pekerjaan tanpa mempunyai kewenangan (bekerja bukan pada kewenangannya); gagal dalam menciptakan keadaan yang baik sehingga menjadi tidak aman atau memanas; menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kecepatan geraknya; memakai alat pelindung diri (APD) atau safety hanya berpura-pura; menggunakan peralatan yang tidak layak; pengrusakan alat pengaman peralatan yang digunakan untuk melindungi manusia; bekerja berlebihan/melebihi jam kerja ditempat kerja; mengangkat/mengangkut beban yang berlebihan; menggunakan tenaga yang berlebihan/tenaganya hanya untuk main-main; peminun/pemabuk/mengkonsumsi NARKOBA.

Garis besar kecelakaan yang terjadi pada karyawan dapat dilihat dari: kapasitas kerja dan beban kerja yang merupakan komponen utama dalam kesehatan dan keselamatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara komponen tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal dan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan kerja.

Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja, gizi kerja serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja sebagai modal awal seseorang untuk melakukan pekerjaan harus pula mendapat perhatian.

Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental. Dimana pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat, akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah, yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stress. Akibat beban kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat kerja.

Menurut Husni (2005) akibat dari kecelakaan kerja atau industri ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

1. Kerugian yang bersifat ekonomis, antara lain:

a. Kerusakan/kehancuran mesin, peralatan, bahan, dan bangunan. b. Biaya pengobatan dan perawatan korban akibat dari kecelakaan. c. Tunjangan kecelakaan.

d. Hilangnya waktu kerja

2. Kerugian yang bersifat non ekonomis :

Pada umumnya berupa penderitaan manusia yaitu tenaga kerja yang bersangkutan, baik itu merupakan kematian, luka/cedera berat, maupun luka ringan.

Menurut Adnan (2008) Keadaan aman yang masih wajar di dalam perusahaan terdapat pada gambar berikut ini :

Homeostatis Batas Toleransi Teknologi Stimulus Lingkungan Kerja Adaptasi Tidak Ditoleransi Stress Sumber : Adnan (2008)

Gambar II.1 Nilai Ambang Batas (Nilai Tertinggi yang Masih Aman Bagi Pekerja) Batas toleransi ialah pada homeostatis dan yang tidak dapat ditoleransi adalah teknologi yang tidak sesuai dengan sumber daya manusia dan stress. Stress diakibatkan kurangnya karyawan beradaptasi dengan lingkungan kerja serta efek lanjut diakibatkan lingkungan kerja dan mengarah pada penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja. Efek Lanjut Pencemaran Lingkungan Kerja Penyakit akibat kerja dan Kecelakaan kerja

II.4.2 Pencegahan Kecelakaan Kerja

Kecelakaan menelan biaya yang sangat banyak. Dari segi biaya saja dapatlah dipahami, bahwa kecelakaan harus dicegah. Manajemen sumber daya manusia, khususnya fungsi perawatan, perlu memperhatikan tindakan preventif agar kecelakaan kerja tidak terjadi.

Menurut Sastradipoera (2002) ada beberapa tindakan preventif yang dianjurkan, yaitu:

1. Perhatian ditujukan kepada setiap faktor keselamatan pada saat perencanaan pembangunan sistem keamanan.

2. Penelitian dan penganalisisan terhadap peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan kecelakaan dan kerusakan dan pengambilan prakarsa untuk mengurangi dan menghilangkannya.

3. Pembentukan rancangan perlengkapan dan pertimbangan keselamatan kerja dan penyediaan pakaian pengaman yang memenuhi standar.

4. Pembentukan dan pengembangan organisasi kesehatan dan keselamatan kerja. 5. Penyelenggaraan pendidikan dan latihan keselamatan kerja dan metode untuk

menghindari kecelakaan yang teratur dan bersinambung.

6. Pendokumentasian dan perawatan warkat-warkat dan statistik dan sekaligus penentuan bagian-bagian yang berbahaya.

7. Pendokumentasian dan penganalisisan peristiwa-peristiwa kecelakaan kerja di organisasi-organisasi lain melalui jurnal-jurnal yang relevan dan hasil-hasil riset ilmiah mengenai hal yang sama.

8. Pengawasan yang teratur dengan cara memonitor setiap gerakan karyawan (khususnya yang dianggap berbahaya) dan mengoreksinya jika dianggap perlu.

Dokumen terkait