PSIKOLOGI KRIMINIL SEBAGAI BAGIAN DARI KRIMINOLOG
A. Pengertian Kriminolog
A.2. Teori – Teori dan Madzab dalam Kriminolog
Madzab dalam Kriminologi
Dalam perkembangan lahirnya teori – teori tentang kejahatan, maka dapat dibagi menjadi empat madzab atau aliran yaitu :
1. Madzab Klasik 2. Madzab Kartografik 3. Madzab Socialis 4. Madzab Tipologi Ad.1.Madzab Klasik
Madzab Kriminologi klasik dipengaruhi oleh ajaran agama, hedonisme, rasionalisme dan lain – lain. Madzab Kriminologi klasik mulai berkembang di Inggris selama pertengahan abad 19, kemudian pengruhnya meluas kenegara – negara eropa lainnya termasuk sampai ke Amerika Serikat . Tokoh aliran ini antara lain Becaria, yang mengatakan pelaku memiliki kehendak bebas ( Free Will ) dengan konsekuensi yang telah dikalkulasikan sendiri. Oleh karena itu menurut aliran ini persoalan sebab kejahatan telah dijawab secara sempurna sehingga tidak perlu lagi digali melalui penelitian untuk menemukan sebab musabab kejahatan. Ad.2. Madzab Kartografik
Peletak dasar Mazab ini adalah Quelet dan A. M. Guery. Penganut madzab ini berpendapat bahwa segala kejahatan sebagai ekspresi kondisi sosial tertentu. Sistem pemikiran ini bukan hanya meneliti jumlah kriminalitas secara umum saja tetapi melakukan study khusus tentang Juvenile Delequency ( kenakalan remaja ). Dan mengenai kejahatan profesional yang ada pada saat itu.
Madzab ini mengacu pada ajaran Marx dan Engels yang telah dimulai sejak tahun 1850 yang didasarkan pada diterminisme ekonomi. Menurut mazhab ini kriminalitas adalah konsekuensi dari masyarakat kapitalis akibat sistem ekonomi yang diwarnai dengan penindasan terhadap kaum buruh, sehingga menciptakan faktor – faktor yang mendorong berbagai penyimpangan termasuk kejahatan sesuai dengan ideologinya. Maka mazdab ini menampilkan ajaran masyarakat sosialis.
Ad. 4. Madzab Tipologi
Madzab Tipologi atau Biotopologi tercatat dalam sejarah kriminologi meliputi tiga kelompok yang berpendapat bahwa “ beda antara penjahat dan bukan penjahat terletak pada sifat tertentu pada kepribadian, yang mengakibatkan sesorang tertentu dalam keadaan tertentu berbuat kejahatan dan seseorang yang lain tidak.
Kelompok Tipologi diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Lombrosian
Aliran ini dipelopori leh seorang dokter Italia C. LAMBROSO. Oleh karena itu madzab ini dinamakan madzab Italia. Penyebaran pendapat ini dilakukan dengan menggunakan pamlet tahun 1876 kemudian berkembang menjadi tiga buku. Pada mulanya mazhab ini dengan tegas mengelurkan pendapatnya sebagai berikut :
Penjahat sudah sejak lahirnya memiliki tipe tersendiri. Tipe ini dapat dikenali melalui beberapa ciri tertentu seperti, tengkorak yang simetris, rahang bawah pesek, rambut janggut yang jarang, dan tahan sakit. Tanda – tanda lahiriah itu
bukan penyebeb kejahtan, tanda itu pembawaan sejak lahir sebagai ciri seorang penjahat, karena ada kepribadian sejak lahir mereka tak dapat terhindar untuk berbuat kejahatan kecuali jika lingkungan dan kesermpatan tidak memungkinkan.
2. Mental Testersi
Pelopornya adalah GODDARD aliran ini berrpendapat bahwa Feele Mindedness ( kelemahan otak) ini dapat menimbulkan kejahatan. Goddard dengan teorinya mengatakan bahwa kelemahan otak yang diturunkan oleh orang tuanya sesuai dengan hukum – hukum mandel, mengakibatkan orang – orang tersebut tidak mampu menilai sebagaimana mestinya. Aliran – aliran inipun lama – lama pudar karena setelah dilakukan standarisasi tes mengenai kelamhan otak dalam sebab kejahatan tidak menunjukkan hasil yang memuaskan seperti adanya kejahatan White Collar Crime.
Teori – Teori dalam Kriminologi
GEORGE B. VOLD menyebutkan bahwa teori adalah bagian dari suatu penjelasan yang muncul manakala seseorang dihadapkan pada suatu gejala yang tidak dimengerti. Sejarah peradaban manusia mencatat adanya dua bentuk pendekatan yang menjadi landasan bagi lahirnya teori – teori dalam kriminologi yaitu :
1. Spritualisme
Dalam penjelasan tentang kejahatan, spritualisme memiliki perbedaan yang mendasar dengan metode penjelasan kriminologi yang ada pada saat ini. Penjelasan Spriritualisme memfokuskan perhatian pada perbedaan antara kebaikan yang datangnya dari dewa/ tuhan dan keburukan yang datangnya dari
setan. Seseorang yang telah melakukan suatu kejahatan dipandang sebagai orang yang telah kena bujukan setan. Pendekatan Spritualisme ini menekankan pada kepercayaan bahwa yang benar – benar pasti menang dengan menggunakan kepercayaan ini sehingga segala persoalan yang dihadapi dimasyarakat selalu disesuaikan dengan metode – metode yang mereka yakini sebagai sebuah kebenaran.
2. Naturalisme
Naturalisme merupakan model pendekatan lain yang sudah ada sejak berabad – abad yang lalu. Hippocrates menyatakan “ the brain is organ of the maind “ otak adalah organ untuk berfikir. Perkembangan paham rasionalisme yang muncul dari perkembangan ilmu alam setalah abad pertengahan menyebabkan manusia mencari model yang lebih rasional dan mampu dibuktikan secara rasional.
Beberapa teori yang sangat relevan untuk dilakukan pengkajian, yaitu : 1. BODY TYPES THEORIES ( TEORI TIPE FISIK )
Teori ini mengemukakan bahwa penjahat itu dapat dilihat dengan kondisi fisik tertentu. Para ahli yang memiliki teori dengan model tipe fisik ini melihat orang melakukan kejahatan dapat diamati melalui keadaan fisik, baik fisik yang terlihat maupun fisik yang termasuk kedalam gen.
2. CULTURAL DEVIANCE THEORIES ( TEORI PENYIMPANGAN
Teori ini memfokuskan diri pada perkembangan area – area yang angka kejahatannya tinggi yang berkaitan dengan diintegrasi nilai – nilai konvensional yang disebabkan oleh industialisasi yang cepat, peningkatan imigrasi dan urbanisasi.
3. TEORI LABELING ( TEORI PEMBERIAN CAP / LABEL )
Teori Labeling ini merupakan teori yang terinspirasi oleh bukunya
Tannembaum yang berjudul Crime and The Cumunity menurutnya, kejahatan tidaklah sepenuhnya hasil dari kekurangmampuan seseorang untuk menyesuaikan dengan kelompoknya, akan tetapi dalam kenyataanny ia dipaksa untuk menyesuaikan bahwa kejahatan merupakan hasil dari konflik antara kelompok dengan masyarakatnya.
4. TEORI PILIHAN RASIONAL
Pilihan Rasional berati pertimbangan – pertimbangan yang rasioanal dalam menentukan pilihan perilaku yang kriminil atau non kriminil dengan kesadaran bahwa ada ancaman pidana apabila perbuatannya yang kriminil diketahui dan dirinya diproses melalui peradilan pidana. Dengan demikian maka semua perilaku kriminil adalah keputusan – keputusan rasional.