BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.2 Penerapan Hukum Terhadap Tindak Pidana Pemilihan Kepala
Pemilihan kepala daerah di Tana Toraja ataupun Toraja Utara yang melakukan pilkada serentak, selalu saja ada masalah atau kendala yang ditemui khususnya terhadap warga atau pemilih yang
ingin melakukan pemilihan kepala daerah di tana toraja. Ini terjadi karena masih kurangnya pemuktahiran data pemilih yang masih kurang maksimal itu sebabnya terjadi hal seperti itu, akan tetapi dari pihak Komisi Pemilihan Umum toraja sendiri sudah maksimal dalam melaksanakan pemuktahiran data pemilih hanya saja kemarin kejadian atau masalah seperti itu juga dipengaruhi “ada mobilisasi pemilih dari warga tana toraja ataupun warga toraja utara” tetapi ada tindakan-tindakan tertentu dari pihak luar tetapi itu entah dari siapa yang sengaja memasukan orang-orang dari luar untuk melakukan pencoblosan walaupun mereka tidak mempunyai KTP tetapi orang ini difasilitasi oleh orang-orang tertentu dengan memberikan surat keterangan dalam bentuk keterangan penduduk setempat yang ada di toraja itu dikeluarkan. Karena memang di dalam undang-undang PKPU pemilih di hari pemilihan yang tidak mempunyai KTP setempat itu masih dimungkinkan untuk memilih sepanjang ada surat keterangan bahwa yang bersangkutan itu adalah betul-betul penduduk di Toraja, mungkin belum sempat membuat identitas itu bisa digunakan karena itu dijamin oleh undang-undang dan aturan PKPU yang telah diatur.
Untuk dalam penegakan hukum sudah diatur dalam undang-undang bahwa money politik ini tindakan dengan sengaja untuk menyuap seseorang masyarakat atau calon pemilih yang akan memilihnya, kasus tersebut masuk dalam ketentuan pidana umum dalam undang-undang pilkada. Dari pihak gakkumdu dan panwaslu sudah mengetahui secara konsekuensinya hukumnya akan tetap sulit untuk
ingin diterapkan, dari pihak KPU Toraja berharap kepada masyarakat untuk melapor apabila melihat hal tersebut akan tetapi tidak ada satupun masyarakat Tana Toraja ataupun baik dari Toraja Utara yang melapor kasus tersebut kepada panwaslu dan KPU yang memang secara langsung mengawasi berhubungan dengan tindak pidana pilkada.
Untuk kasus pemalsuan dokumen sendiri pada saat pilkada di Toraja kejadian tersebut tidak ada, karena pemalsuan dokumen ini banyak baik yang berhubungan dengan data diri pemilih dan ada calom yang memalsukan dokumen dalam bentuk ijasah. Tetapi di Toraja tidak terjadi hal tentang pemalsuan dokumen karena dari pihak KPU melakukan verifikasi dengan baik, baik untuk calon pemilih di verifikasi betul dari petugas-petugas TPS yang ada di lapangan di bantu oleh saksi dan di awasi oleh pengawas memang mereka memastikan apakah warga tersebut betul-betul masyarakat toraja.
Kejaksaan Negeri Tana Toraja mengatakan bahwa tentang adanya kasus pilkada seperti pembakaran kotak suara pada pilkada tahun 2010, money politik, dan pemalsuan dokumen itu tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut terjadi di tana toraja tetapi kasus tersebut tidak pernah sampai di Pengadilan Negeri karena tidak ada yang dapat membuktikan adanya hal tersebut pada saat pilkada serentak berlangsung di Toraja. Misalnya masyarakat ingin bekerjasama kepada penegak hukum yang ada di Tana Toraja mungkin saja kasus pilkada tersebut itu bisa kita bawa ke Pengadilan
tetapi sudah berapa tahun Toraja melaksanakan pilkada tidak satupun terdapat keluhan tentang adanya kasus tersebut dari masyarakat yang melakukan pencoblosan pada saat pilkada. Dari Kasi Datum Kejaksaan Negeri Tana Toraja mengatakan “bahwa Toraja ini sangat unik kenapa saya bilang unik karena pada saat pilkada baik dari pemerintahan Toraja dan masyarakat mereka sudah bekerjasama pada saat pilkada jadi saat pilkada terjadi di Tana Toraja itu aman saja” jadi kalau meliat ke Undang-Undang pilkada bahwa apa yang telah di tetapkan dalan UU tersebut di Toraja belum menerapkannya karena di Tana Toraja sendiri apabila ada kasus seperti itu akan di bicarakan secara musyawarah.
Hakim Pengadilan Negeri Makale mengatakan bahwa tahapan pilkada serentak yang dilaksanakan di Tana Toraja dari pihak hakim tidak mengetahui apakah sudah sesuai atau belum tetapi secara logika hakim sepanjang tidak ada perkara yang tidak sampai di pengadilan berarti sudah sesuai dengan ketentuan atau sudah sesuai dengan aturan, karena dari hakim sendiri mengatakan bahwa apabila terdapat tentang masalah pilkada pasti dari pihak pengadilan sendiri akan mengusut persoalan pilkada tapi sepanjang pilkada serentak dilaksanakan di tana toraja tidak pernah ada masalah yang sampai di pengadilan. Hal ini juga didasari oleh perkembangan fungsi peradilan yang tidak selalu hanya untuk memberikan putusan terhadap suatu sengketa, tetapi putusan pengadilan juga dapat membentuk prinsip dan ketentuan hukum yang harus dijalankan dalam penyelenggara
pilkada. Oleh karena itu peran peradilan tidak hanya menyelesaikan sengketa biasa tetapi juga harus memastikan terlaksananya prinsip-prinsip pilkada sehingga dapat diselamatkan dari upaya penyalahgunaan dan pelanggaran sistem pemilihan.
Kabaskrim Tana Toraja peran dari kepolisian pada saat pilkada yaitu kalau ada pelanggaran hukum sebelum dilaksanakan pilkada peran dari polri melakukan sosialisasi tentang masalah keamanan tentang pelaksanaan pilkada secara khusus, adapun penanganan dalam kasus tindak pidananya apabila panwaslu melaporkan adanya tindak pidana ke polres kepada gakkundu. Kalau sudah dilaporkan oleh panwaslu bahwa itu memenuhi cukup bukti untuk diproses pidana maka dari pihak polres menggelar kasusnya, misalnya ada anak di bawah umur memilih pada saat pilkada panwaslu harus membuat laporan, menganalisis, dan evaluasi di panwaslu setelah itu mengundang polres, gakkumdu, dan kejaksaan apa memenuhi persyaratan untuk proses lanjut tentang pidana atau tidak. Kalau kasusnya cukup bukti di proses dengan aturan yang berlaku, karena di dalam pelanggaran pilkada ada 2 (dua) yaitu :
1. Pelanggaran administratif, yaitu pelanggaran yang ditangani oleh KPU.
2. Pelanggaran pidan pilkada, yaitu ditangani oleh kapolres setelah di proses lanjut apabila ada masalah dari pihak kapolres membawa laporan tersebut di kejaksaan beserta alat bukti.
Polisi tidak dapat menindak massa pada saat pilkada serentak karena telah dilakukan sosialisasi untuk tidak melakukan tindakan anarkis tetapi apabila massa tersebut diketahui bukan warga dari toraja maka perlu dilakukan untuk mencari tahu apakah orang yang menghadang tersebut merupakan warga asli setempat atau ada pihak ketiga yang memprovokasi warga. Tentang adanya money politik dan pemalsuan dokumen pasti itu ada tetapi terselubung karena saat ini kepolisian tidak menangani hal tersebut melainkan panwaslu sendiri, karena aturan pengawasan dari pilkada dari pihak kepolisian hanya di tempatkan pada penegakan hukum tapi yang berkompeten hanyalah panwaslu karena yang hanya dalam penegakan pilkada itu Cuma kepolisian dan kejaksaan dalam bagian penegak hukum tetapi yang selanjutnya yang lebih berhak adalah panwaslu. Jadi semua laporan dari masyarakat dari manapun baik dari tindak pidana maupun administratif pada saat pilkada itu semuanya panwaslu yang saring baru pihak kepolisian di undang oleh panwaslu untuk menangani perkara tersebut.
Pilkada di kabupaten Tana Toraja ini memang sudah bagus dan masyarakat sudah mulai sadar, tetapi dalam hal ini pilkada di tana toraja terlalu banyak di nilai dengan uang dan itulah yang menghancurkan proses dari pilkada maka hal tersebut tidak ekfektif dalam rangka memperpanjang pembangunan ke depanya karena orang menggunakan uangnya di tana toraja tidak sesuai dengan apa yang telah ditujukan dan itulah yang menghancurkan, akhirnya
peningkatan pembangunan infrastruktur kesejahteraan masyarakat tidak terleasasi, harapan dari pihak kapolres Tana Toraja kalau bisa pilkada cukup datang untuk mencoblos dan transport untuk orang yang mengadakan kampanye pilkada agar tidak ada yang menyangkut tentang uang supaya hal tersebut tidak ada yang muncul pada saat pilkada serentak dilakukan di tana toraja, kalau tidak dilaksanakan hal tersebut tidak tegas undang-undang KPU dan akan begitu seterusnya pada saat pilkada serentak di tana toraja.
Tindak pidana yang diatur dalam perundang-undangan pilkada tidak selalu berupa tindak pidana baru dalam perundang-undangan lain. Beberapa tindak pidana pilkada merupakan tindak pidana yang sebelumnya sudah diatur dalam KUHP. Di luar tindak pidana yang diatur dalam perundang-undangan yang mengatur tentang pilkada masih terdapat berbagai tindak pidana yang dapat terjadi di dalam atau yang berhubungan dengan penyelenggara pilkada. Konsekuensinya, tindak pidana tersebut hanya dapat dituntut jika dilakukan dalam konteks pilkada, dalam arti berbagai perbuatan yang ditetapkan sebagai tindak pidana pilkada hanya dapat dituntut sesuai dengan undang-undang pilkada bukan ketentuan pidana umum.
Hanya saja, dalam pengaturan teknis dan praktiknya, gakkumdu justru ditempatkan sebagai institusi yang bertugas menyelenggarakan penanganan tindak pidana pilkada secara terpadu. Pada saat yang sama, juga member penilaian apakah bukti-bukti dugaan tindak pidana yang diserahkan bawaslu beserta jajaran telah terpenuhi atau tidak.
Dalam konteks itu pada kondisi tertentu, penyidik kepolisian justru hanya memposisikan diri sebagai pihak yang menerima bersih laporan tanpa melakukan penyidikan lagi. Padahal, sesuai undang-undang pilkada penyidik kepolisian yang semestinya melakukan penyidikan terhadap dugaan adanya tindak pidana pilkada. Sedangkan pemeriksaan tindak pidana ditangani oleh majelis khusus yang dibentuk pada pengadilan negeri dan pengadilan tinggi, dimana hakim khusus perkara pidana pilkada mesti memiliki syarat dan kualifikasi tertentu.
Keberadaan struktur hukum sangat penting, karena betapa bagusnya norma hukum, namun jika tidak ditopang aparat penegak hukum yang baik, penegakan hukum dan keadilan hanya sia-sia.
Kultur hukum adalah opini-opini, kepercayaan, kebiasaan, cara berfikir, dan cara bertindak, baik dari para penegak hukum maupun dari warga masyarakat tentang hukum dan berbagai fenomena yang berkaitan dengan hukum.
Belum efektifnya penegakan hukum tindak pidana pilkada juga tidak dapat dilepaskan dari masalah yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan pilkada, khususnya terkait tindak pidana pilkada.
Masalah profesionalisme aparat penegak hukum yang terdiri dari pengawas pilkada, kepolisian, kejaksaan dan hakim pada pengadilan negeri, dan budaya hukum penyelenggaraan pilkada yang jauh dari kondisi sehat. Pada taraf norma, peraturan perundang-undangan sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya belum cukup jelas
dan lengkap mengatur hukum materil maupun hukum formil yang ada tidak cukup memadai untuk menegakkan hukum pidana pilkada secara efektif. Sementara pada level struktur, penegak hukum dihadapkan pada persoalan masih belum memadainya pemahaman aparatur terhadap jenis tindak pidana pilkada, belum professional dan masih terjadinya “tolak-menolak” yang berujung pada kebuntuan dalam menangani perkara pidana pilkada. Sedangkan pada ranah budaya hukum, pihak-pihak berkepentingan terutama peserta pilkada masih berkecenderungan untuk “mengakali” aturan yang ada sehingga dapat berkelit dari tuntutan hukum. Masyarakat politik bukannya membangun kesadaran akan perlunya mengikuti pilkada sesuai aturan-aturan yang ada melainkan justru membangun sikap culas atas aturan yang ada.
Jika ditelusuri lebih jauh, nampaknya masih ada keengganan masyarakat untuk melaporkan pelanggaran yang terjadi karena ada kesan prosedur pelaporan yang birokratis. Masyarakat pada umumnya tidak mau direpotkan dengan proses pemeriksaan atau pembuatan berita acara ketika laaporan mereka diferivikasi oleh panwaslu, atau saaat mereka diminta untuk menghadirkan bukti-bukti dari laporannya.
Realitas tersebut menjadikan panwaslu semakin kesulitan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya untuk menegakkan hukum guna mewujudkan prinsip pilkada yang bersih, jujur, dan adil.
Meski banyak sekali bentuk pelanggaran yang dapat terjadi dalam pilkada, tetapi secara garis besar undang-undang pilkada membaginya berdasarkan kategori jenis pelanggaran pilkada menjadi :
(1) Pelanggaran administrasi pilkada (2) Pelanggaran pidana pilkada (3) Perselisihan hasil pilkada
Adanya persoalan menyangkut aturan ini berakibat pada penanganan pelanggaran inkonsisten atau justru mendorong pembiaran atas pelanggaran karena peraturan yang ada tidak cukup menjangkau. Demi untuk mewujudkan penyelenggaraan pilkada yang berkualitas dan memiliki integritas tinggi maka perlu dilakukan penyempurnaan terhadap aturan yang telah ada melalui penambahan aturan, penegasan maksud dan sinkronisasi antar peraturan perundang-undangan yang ada salah satu diantaranya adalah melalui pembuatan instrument complain atas terjadinya pelanggaran pilkada yang lengkap, mudah diakses, terbuka, dan adil. Lebih penting lagi adalah memastkan bahwa aturan main yang ditetapkan tersebut dijalankan secara konsisten.
Terjadinya aturan yang konkrit dan implementasi penting untuk menjamin kepastian dan keadilan hukum sehingga pilkada memiliki landasan legalitas dan legitimasi yang kuat sehingga pemerintahan yang dihasilkan melalui pilkada tetap mendapatkan dukungan masyarakat luas. Untuk itu maka segala pelanggaran yang terjadi dalam proses pelaksanaan pilkada harus diselesaikan secara adil, terbuka dan konsisten.
Upaya mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan melalui peraturan tertentu sebagaimana diamanatkan undang-undang
pilkada, kesepakatan bersama antara KPU dan lembaga penegak hukum mengenai tata cara penanganan pelanggaran, serta meningkatkan kapasitas aparat di masing-masing lembaga mengenai aturan perundang-undangan pilkada. Penanganan pelanggaran secara jujur dan adil merupakan bukti adanya perlindungan kedaulatan rakyat dari tindakan-tindakan yang dapat mencederai proses dan hasil pilkada adalah kewajiban bagi pengawas, penyelenggara, dan aparat penegak hukum untuk memastikan bahwa semua pelanggaran pilkada yang terjadi dapat diselesaikan secara adil dan konsisten.
3.3 Pandangan Masyarakat Terhadap Penyelesaian Tindak Pidana Pemilihan Kepala Daerah Di Tana Toraja
Pemilihan kepala daerah merupakan salah satu kewajiban masyarakat untuk memilih calon kepala daerah yang jujur dan adil, merupakan salah satu karakter pemimpin untuk masyarakatnya.
Masyarakat tana toraja sangat perduli dengan adanya pilkada apalagi pilkada tersebut bisa terlaksana dengan baik dan tanpa adanya kekuatan fisik.
Tetapi permasalahan yang muncul adalah adanya berbagai macam tindak pidana yang dilakukan merebak diberbagai daerah dalam memilih seorang kepala daerah khususnya di daerah Tana Toraja. Sampai sekarang ada kesulitan untuk mendapatkan bukti-bukti tertulis guna memprosesnya secara hukum, pada hal hukum senantiasa menuntut adanya bukti-bukti tertulis untuk dapat
mengajukan seseorang ke pengadilan dengan tuduhan telah melakukan tindak pidana dalam pemilihan kepala daerah.
Saat ini di berbagai daerah setelah pilkada marak dengan aksi protes atas hasil pilkada, dimana protes-protes yang ada terkadang menjurus ke penggunaan kekuatan fisik. Tuntutan keberatan atau hasil pilkada banyak dilakukan oleh pasangan calon yang kalah, yang pada umumnya bermuara pada kehendak untuk membatalkan hasil pilkada dan dilakukan pilkada ulang. Kasus inilah yang terjadi di tana toraja pada saat pilkada tahun 2010 yang dimana pendukung tidak menerima kekalahan calon kepala daerah sehingga masyarakat toraja melakukan aksi pembakaran kotak suara.
Kepolisian bergerak atas tindakan yang dilakukan oleh masyarakat toraja dengan mengamankan oknum-oknum yang berbuat dan setelah itu mengumpulkan masing-masing pendukung dari pasangan calon kepala daerah. Setelah itu panwaslu mengundang tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda serta penegak hukum seperti kepolisian dan kejaksaan. Dimana tokoh-tokoh yang telah diundang oleh panwaslu sangat berperan dalam daerah tana toraja karena mereka juga yang dapat memutuskan apakah kasus tersebut di tangani kembali oleh penegak hukum atau dibicarakan secara musyawarah karena masyarakat toraja sendiri menganggap apa yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan tanpa membawa kerana hukum.
Pandangan masyarakat toraja sendiri tentang penyelesaian sengketa pilkada dianggap masih bisa dibicarakan secara mufakat atau musyawarah karena di daerah tana toraja sangat menghargai putusan dari tokoh adat yang dianggap paling tertua di toraja karena putusan dari yang ditertuakan di toraja sangat dianggap lebih baik oleh masyarakat toraja dan khususnya calon kepala daerah yang akan memimpin di daerah tana toraja. Maka dari itu masyarakat toraja menggangap apa yang telah diputuskan oleh tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda itu sudah merupakan jawaban yang terbaik untuk warga toraja sendiri. Karena apa yang telah dibicarakan oleh ke 4 (empat) tokoh tersebut adalah merupakan buah satu pemikiran untuk keseluruhan masyarakat toraja, karena toraja sendiri memegang teguh pepatah yang mengatakan “Misa Kada Di Patuo Pantan Kada Di Pomate” yang artinya satu suara di pertahankan banyak suara di hilangkan.
BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan
1. Bahwa tindak pidana pemilihan kepala daerah di Tana Toraja yang terjadi adalah penerapan Hukum Adat karena apabila terjadi tindak pidana pilkada di Toraja diselesaikan dengan cara musyawarah dan kekeluargaan jadi selama perkara tindak pidana pilkada di Tana Toraja belum ada yang sampai pada Pengadilan Negeri Makale.
2. Dari pandangan masyarakat Toraja sendiri mengikuti keputusan dari Tokoh Adat Toraja kalau dari tokoh adat telah memutuskan untuk membicarakan penyelesaian dari tindak pidana pilkada yang di Toraja dengan cara musyawarah atau kekeluaragaan maka dari pihak masyarakat Toraja akan mengikuti hasil kepetusan dari tokoh adat yang ada Toraja karena masyarakat Toraja lebih menghargai keputusan yang dibicarakan secara kekeluargaan.
4.2 Saran
Sesuai dengan kesimpulan diatas maka, penulis akan menyampaikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Diharapkan pada saat pilkada serentak jangan hanya mengandalkan dengan cara kekeluargaan tetapi kalau memang itu harus ditangani oleh pihak dari penegak hukum berikan yang lebih berwenang menangani kasus tersebut.
2. Bagi calon pilkada Toraja agar lebih menyadari pentingnya untuk melakukan hal dengan jujur agar kedepannya toraja juga bisa dianggap Kabupaten yang pada saat pilkada menaati undang-undang pilkada yang telah ditetapkan dan menjadi contoh yang baik kepada masyarakatnya, Jika bersalah katakan salah dan jika benar katakan benar.
DAFTAR PUSTAKA A. Literatur
Mulyati Pawennei dan Rahmanuddin Tomalici. 2015. Hukum Pidana, Mintra Wacana Media, Yogyakarta.
Zainal Abidin Farid. 2010. Hukum Pidana I, Sinar Grafika, Jakarta.
BambangPurnomo.1978. Azas-azas Hukum Pidana. GhaliaIndonesia, Yogyakarta.
Rusli Effendy, 1986. Azas-Azas Hukum Pidana; Cetakan III, Lembaga Percetakan dan Penerbitan Universitas Muslim Indonesia (LEPPEN-UMI), Makassar.
WirjonoProdjodikoro. 2002. Azas-azas Hukum Pidana Indonesia. PT.
Eresco, Bandung.
Janedjri M. Gaffar. 2013. Demokrasi dan Pemilu di Indonesia, konstitusi Press, Jakarta.
Topo Santoso. 2006. Tindak Pidana Pemilu, Sinar Grafiki, Jakarta.
Moeljatno. 2002. Asass-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta.
J.Kaloh. 2014.Kepemimpinan Kepala Daerah, Sinar Grafiki, Jakarta.
Siswanto Sunarso. 2012. Hukum Pemerintahan Daerah, Sinar Grafika, Jakarta.
Moh. Mahfud MD, 1993, Demokrasi Dan Konstitusi Di Indonesia, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Tolib Setiady,2010, Pokok-Pokok Hukum Penitensier Indonesia, Alfabet, Bandung.
Barda Nawawi Arief, 2011. Perbandingan Hukum Pidana, Raja Grafindo Persado, Jakarta
Moh. Mahfud MD, 2011. Politik Hukum Di Indonesia, Raja Grafindo Persado, Jakarta
Tongtat, 2009.Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam Perspektif Pembaharuan, UMM Press, Malang