• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS YURIDIS TINDAK PIDANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH DI TANA TORAJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ANALISIS YURIDIS TINDAK PIDANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH DI TANA TORAJA"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS YURIDIS TINDAK PIDANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH

DI TANA TORAJA

Skripsi Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pada Fakultas Hukum

Oleh

ERNA MENTARI SALENG 4513060119

Fakultas Hukum/Ilmu-Ilmu Hukum UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR

2017

(2)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Usulan Penelitian dan Penulisan Hukum Mahasiswa :

Nama : ERNA MENTARI SALENG

NIM : 4513060119

Minat : HUKUM PIDANA

No. Pendaftaran : 02/Pid/PA/Unibos/II/2017 TglPendaftaranJudul : 21 Februari 2017

JudulSkripsi :Analisis Yuridis Tindak Pidana Pemilihan Kepala Daerah Di TanaToraja

Telah diperiksa dan diperbaiki untuk dimajukan dalam ujian skripsi mahasiswa program strata satu (S1)

Makassar, Disetujui :

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr.H.Abdul Salam Siku.SH.MH Hj.Siti Zubaidah.SH.MH

Mengetahui : DekanFakultasHukum

Dr.Ruslan Renggong,S.H.,M.H

(3)

PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI

Pimpinan Fakultas Hukum Universitas Bosowa Menerangkan Bahwa :

Nama : St.Kamariah Taulabi

NIM : 4513060132

Program Studi : Ilmu Hukum

Minat : Hukum Pidana

No. PendaftaranJudul : 15/Pid/FH/Unibos/2017 Tgl. PendaftaranJudul :

JudulSkripsi : Pemenuhan Hak Memperoleh Pendidikan Yang Layak Bagi Narapidana Anak Di Lembaga Penempatan Anak Sementara Kelas IIA Maros.

Telah disetujui skripsinya untuk diajukan dalam ujian Skripsi Mahasiswa Program Strata Satu (S1).

Makassar, Ketua Program StudiIlmu-IlmuHukum

DekanFakultasHukum

Dr.Ruslan Renggong,S.H.,M.H

(4)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... . i

HALAM PERSETUJUAN SKRIPSI……….. ii

KATA PENGANTAR………... iii

DAFTAR ISI ... iv

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah... 5

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelian ... 5

1.4 Metode Penelitian………. 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Unsur-Unsur Tindak Pidana ………... 8

2.2 Pengertian Tindak Pidana Pemilihan Kepala Daerah……...15

2.3 Jenis-Jenis Tindak Pidana Pemilihan Kepala Daerah……….. 17

2.4 Pertanggung Jawaban Dalam Hukum Pidana………21

2.5 Asas-Asas Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah…………. 25

2.6 Teori-Teori Penjatuhan Pidana……… 28

BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 3.1 Uraian Singkat Peristiwa Tindak Pidana Dalam Pemilihan Kepala Daerah Pada Tahun 2010 ……….… 38

3.2 Penerapan Hukum Terhadap Tindak Pidana Pemilihan Kepala Daerah Di Tana Toraja……… 40

(5)

3.3 Pandangan Masyarakat Terhadap Penyelesaian Tindak Pidana Pemilihan Kepala Daerah Di Tana Toraja ……… 50 BAB 4 KESIMPULAN DAN PENUTUP

4.1 Kesimpulan……… 53 4.2 Saran……….. 53 DAFTAR PUSTAKA………... 55

(6)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Pada pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen IV menyebutkan bahwa Negara Indonesia berlandaskan Negara Hukum, maka setiap tindak pidana seharusnya diproses melalui jalur hukum, jadi hukum dipandang sebagai satu-satunya dalam penyelesaian suatu perkara tindak pidana. Dalam hal ini bahwa ada hubungan dengan asas legalitas yang mana dimaksud asas tersebut tiada suatu perbuatan dapat dipidana melainkan telah diatur dalam undang-undang, maka barang siapa melanggar larangan tersebut dan larangan sudah diatur dalam undang-undang, maka pelaku dapat dikenakan sanksi atau hukuman, sedangkan ancaman pidanya diajukan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu.

Tujuan dibentuknya Negara sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Tahun 1945 alinea IV adalah membentuk suatu pemerintah negara indonesia yang melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan, kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Berbicara tentang NKRI sebagai negara yang berlandaskan hukum, masyarakat di indonesia dalam melewati aktivitasnya sebagai warga sosial dilingkungan masyarakat. Sebuah negara dengan konsep

(7)

negara hukum selalu mengatur setiap tingkah dan laku masyarakat berdasarkan atas Undang-Undang yang berlaku untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian dan kesejahteraan rakyat hukum tidak lepas dari kehidupan bersosial karena hukum merupakan aturan untuk mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupannya karena tanpa adanya hukum, tidak dapat dibayangkan akan seperti apa nantinya negara indonesia.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) selain sebagai sarana untuk memberikan legitimasi kepada mereka yang akan menjabat dalam pemerintahan, juga berfungsi sebgai sarana pembelajaran demokrasi (politik) bagi rakyat .Pilkada menjadi media pembelajaran praktik berdemokrasi bagi rakyat yang diharapkan dapat membentuk kesadaran kolektif segenap unsur bangsa tentang pentingnya memilih pemimpin yang benar sesuai nuraninya. Pilkada yang dipilih secara langsung oleh rakyat dengan cara demokratis yang diajukan oleh partai politik atau gabungan parpol, calon kepala daerah dapat juga diajukan dari calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang.Dalam pilkada secara langsung, membutuhkan biaya yang banyak dalam melakukan pencalonan sebagai kandidat baik itu dalam melakukan kampanye dan mendaftarkan diri sebagai calon pilkada.Masing-masing kandidat memerlukan biaya yang besar dalam melakukan pencalonan sebagai pilkada, salah satu dana yang didapat dalam mencalonkan sebagai kepala daerah yaitu biaya dari sponsor, sponsor di dapat dari partai yang menaungi calon pilkada tersebut dan mendapatkan juga biaya dana dari

(8)

berbagai gabungan parpolyang telah menyetujui untuk menaungi calon pilkada. Apabila dana sudah tidak mencukupi dalam melakukan bakal calon pilkada, maka kepala daerah melakukan hal curang dalam pencalonanya agar dapat menjadi kepala daerah di daerah tersebut.

Di daerah Tana Toraja sendiri pilkada dilakukan secara demokratis tetapi pilkada di tana toraja tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam undang-undang No.10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah, ini sangat menyimpang dengan apa yang telah diatur dalam undang-undang pilkada, yang seharusnya pemilihan tersebut di pilih secara jujur dan adil tetapi kenyataannya tidak seperti itu banyak para calon yang melakukan kecurangan dalam pilkada agar nantinya dalam melakukan pilkada dapat terpilih dalam pilkada. Kecurangan yang dilakukan oleh kepala daerah agar nantinya dalam pilkada dapat terpilih dan menang dengan melakukan penyuapan kepada masyarakat dan menerima bantuan dari instansi pegawai dengan caramengumpulkan aparatur sipil negara dalam pertemuan yang dilakukan di masing-masing rumah calon kepala daerah.

Untuk melindungi kemurnian hasil pilkada yang sangat penting bagi negara demokrasi, para pembuat undang-undang yang telah menjadikan sejumlah perbuatan curang dalam pemilihan sebagai tindak pidana.Dengan demikian, undang-undang tentang pilkada di samping mengatur tentang bagaimana pemilihan itu diselenggarakan juga melarang perbuatan yang dapat menghancurkan hakikat kebebasan dan keadilan dalam pilkada itu serta mengancam pelakunya dengan sanksi pidana.

(9)

Namun dalam konsepsi penerapan sanksi pidana pilkada tersebut perlu dikritisi dan di kaji lebih mendalam dan komprehensif tentang yang terpilih merupakan wakil-wakil rakyat.Hal ini terkait dengan banyaknya jenis pelanggaran serta kendala di lapangan yang dihadapi oleh aparat penegak hukum dan masyarakat.

Dengan demikian pilkada merupakan sarana penting bagi proses kaderisasi kepemimpinan nasional di indonesia yang melibatkan seluruh warga negara dalam menentukan pilihan terkait dengan pejabat yang akan melaksanakan urusan pemerintahan di daerahnya. Meskipun tujuan dan penyelenggaraan pilkada dilaksanakan guna mewujudkan tatanan negara yang demokratis dan berdaulat.

Penentuan suatu karakteristik perkara agar dapat dikategorikan sebagai suatu tindak pidana pilkada, hingga kini masih menjadi perdebatan, hal ini dikarenakan bahkan undang-undang pun tidak memberikan batasan yang jelas terkait dengan kategori dalam jenis-jenis pelanggaran hukum yang terjadi dalam pilkada.Selain terkait dengan karakterisitiknya, penanganannya pun masih belum ditegakkan secara optimal, hal ini dikarenakan para pelaku tindak pidana pilkada biasanya di lindungi oleh pejabat yang notabene adalah calon dalam pilkada.Aparat kepolisian, sampai saat ini masih belum tegas dalam menindak setiap laporan terkait dengan adanya dugaaan tindak pidana pilkada.

Penulis mengangkat latar belakang tersebut di atas, karena sangat menarik untuk mengetahui bagaimana sebenarnya proses penegakan

(10)

hukum dalam pilkada. Untuk itu, penelitian ini diharapkan memberikan informasi dan memperluas wawasan terhadap masalah-masalah di atas.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana penerapan hukum tentang tindak pidana pemilihan kepala daerah di tana toraja?

2. Bagaimana pandangan masyarakat terhadap penyelesaian tindak pidana pemilihan kepala daerah di tana toraja?

1.3 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1) Adapun tujuan penelitian ini adalah :

Bertujuan untuk mendapatkan tentang penerapan dan penyelesaian tindak pidana pada saat pemilihan kepala daerah serentak di daerah tana toraja.

2) Adapun manfaat penelitian ini adalah :

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan atau bahan dalam pertimbangan bagi praktisi hukum, khususnya para aparat penegak hukum dan juga diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada warga masyarakat pada umumnya.

1.4 Metode Penelitian 1. Lokasi Penilitian

Adapun lokasi penelitian yaitu di wilayah kabupaten tana toraja, Pengadilan Negeri Makale, Kejaksaan Negeri Tana Toraja, KPUD Toraja Utara, dan Kapolres Tana Toraja.

(11)

2. Jenis dan Sumber Data 1) Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu :

1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dengan mengadakan Tanya jawab langsung kepihak yang terkait yaitu baik aparat penegak hukum.

2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui penelusuran studi keperpustakaan dengan cara mempelajari peraturan perundang- undangan atau dokumen, literature serta karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah dan objek penelitian yang diteliti.

2) Sumber Data

Adapun sumber data dari penulisan ini, yaitu :

1. Sumber penelitian lapangan, yaitu sumber data lapangan yang diambil dari pihak yang terkait dalam tindak pidana pemilihan kepala daerah.

2. Sumber penelitian keperpustakaan, yaitu sumber data yang diperoleh dari hasil mempelajari atau menelah beberapa literature dan sumber bacaan lainnya yang dapat mendukung penulisan proposal ini.

3) Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data :

1. Wawancara yang dilakukan penulis untuk memperoleh informasi dan data yang dibutuhkan oleh instansi.

(12)

2. Studi dokumentasi dilakukan melalui penelitian kepengadilan, dimana penulis akan mengumpulkan data dengan cara mempelajari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini.

4) Teknik Pengumpulan Data

Semua data yang diperoleh dari hasil penelitian akan disusun dan dianalisis secara kualitatif untuk selanjutnya data tersebut diuraikan secara deskriptif dengan cara menjelaskan, menguraikan dan menggambarkan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini.

(13)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA a. Pengertian Tindak Pidana

Berbagai literatur dapat diketahui, bahwa istilah tindak pidana hakikatnya merupakan istilah yang berasal dari terjemahan kata strafbaarfeit dalam bahasa Belanda.Kata strafbaarfeit kemudian diterjemahkan dalam berbagai terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Beberapa yang digunakan untuk menerjemahkan kata strafbaarfeit oleh sarjana Indonesia antara lain : tindak pidana, delict, dan perbuatan pidana.

Menurut Mulyati Pawennei (2015: 5)

Tindak pidana merupakan suatu istilah yang mengandung suatu pengertian dasar hukum, sebagai istilah yang dibentuk dengan kesadaran dalam memberikan cirri tertentu pada peristiwa pidana.Tindak pidana mempunyai pengertian yang abstrak dari peristiwa-peristiwa yang konkret dalam lapangan hukum pidana, sehingga tindak pidana haruslah diberikan arti yang bersifat ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari-hari dalam kehidupan masyarakat.

Para pakar asing di antaranya simons dan Utrecht (Leden Marpaung: 2005: 7-8) hukum pidana menggunakan istilah “Tindak Pidana”, Perbuatan “Pidana”, atau “Peristiwa Pidana” dengan istilah :

1. Strafbaar Feit adalah peristiwa pidana;

2. Strafbare Handlung diterjemahkan dengan “Perbuatan Pidana”, yang digunakan oleh para sarjan Hukum Pidana Jerman; dan

3. Criminal Act diterjemahkan dengan istilah “Perbuatan Kriminal”.

(14)

Adapun penjelasan lain menurut Vos ialah kelakuan atau tingkah laku manusia, yang oleh peraturan perundang-undangan diberikan pidana (Zainal Abidin Farid: 2007 : 225). Begitu juga dengan Teguh Prasetyo (2011: 217) yang menjelaskan bahwa tindak pidana merupakan suatu perbuatan yang melanggar hukum, dilakukan dengan kesalahan oleh orang yang mampu bertanggung jawab dan pelakunya diancam dengan pidana.

Pendapat lain dari Marshall yang dikutip oleh Mahrus Ali (2012:

99) mengatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa yang melakukannya. Sedangkan marshall mengatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan atau omisi yang dilarang oleh hukum untuk melindungi masyarakat, dan dapat dipidana berdasarkan prosedur hukum yang berlaku. Sedangkan menurut Frans Marawis (2012:57) menjelaskan secara sederhana dapat dikatakan bahwa tindak pidana adalah perbuatan yang pelakunya seharusnya dipidana.

Pompe (1959:28) memberikan dua macam definisi, yaitu yang bersifat teoretis dan yang bersifat perundang-undangan. Defenisi teoretis, ialah pelanggaran norma (kaidah; tatahukum), yang diadakan karena kesalahan pelanggar, dan yang harus diberikan pidana untuk dapat mempertahankan tatahukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum. Defenisi tersebut sekaligus menggambarkan tujuan hukum pidana, yaitu mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum yang sesuai dengan undang-undang dasar 1945.

(15)

Menurut hukum positif, demikian Pompe, peristiwa pidana itu suatu peristiwa yang oleh undang-undang ditentukan mengandung handelling (perbuatan) dan nalaten (pengabaian); tidak berbuat; berbuat pasif) biasanya dilakukan di dalam beberapa keadaan, merupakan bagian suatu peristiwa.

Sianturi (1996:208) menulis beberapa pendapat dari para sarjana tentang pengertian perbuatan tindak pidana, antara lain :

1. Moeljatno mengatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa melanggar larangan tersebut dan perbuatan itu harus pula betul-betul dirasakan oleh masyrakat sebagai perbuatan yang tak boleh atau menghambat akan tercapainya tata dalam pergaulan masyarakat yang dicita-citakan oleh masyarakat itu.

2. Tresna berpendapat ialah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia, yang bertentangan dengan undang-undang atau peraturan-peraturan lainnya, terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman.

3. Wirjono Prodjodikoro merumuskan tindak pidana yang berarti suatu perbuatan yang dilakukannya yang pelakunya dapat dikenakan hukum pidana.

Dari penjelasan menurut para sarjana di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian yang lebih terperinci yang menjelaskan secara umum tentang pengertian tindak pidana yaitu Moeljatno karena menjelaskan

“barang siapa” yang dimana barang siapa yang dimaksud disini adalahsubjek hukum yaitu orang. Yang dimana perbuatan subjek hukum tersebut bertentangan perundang-undangan dan diancam dengan pidana.Rusli Efendy mengemukakan bahwa peristiwa tindak pidana, yaitu “perbuatan yangoleh hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana” menjelaskan (Rusli Efendy, 1986:1):

Perkataan peristiwa pidana haruslah dijadikan serta diartikan sebagai kata majemuk dan janganlah dipisahkan satu sama lainnya.

Sebab kalau dipakai kata peristiwa saja, hal ini dapat mempunyai arti yg lain yg umpamanya peristiwa alamiah.

(16)

“Pandangan monistis adalah suatu pandangan yang melihat keseluruhan syarat untuk adanya pidana itu kesemuanya merupakan sifat dari perbuatan”.Pandangan ini memberikan prinsip-prinsip pemahaman, bahwa di dalam pengertian perbuatan/tindak pidana sudah tercakup di dalamnya perbuatan yang dilarang (criminal act) dan pertanggungjawaban pidana/kesalahan (criminal responbility).

Van Hammel yang berpandangan monistis merumuskan strafbaarfeit bahwa:

“Perbuatan manusia yang diuraikan oleh undang-undang melawan hukum, strafwaardig (patut atau dapat bernilai untuk dipidana), dan dapat dicela karena kesalahan (en dan schould to wijten)”

Menurut J. Bauman, “perbuatan atau tindak pidana adalah

”perbuatan yang memenuhi rumusan delik, bersifat melawan hukum dan dilakukan dengan kesalahan”.Menurut Wiryono Prodjodikoro,

“tindak pidana adalah ”suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan pidana”. Menurut Prodjodikoro yang termasuk berpandangan monistis menerjemahkan strafbaarfeit ke dalam tindak pidana dengan menyatakan bahwa, “suatu perbuatan yang pada pelakunya dapat dikenakan hukuman dan pelaku tersebut termasuk subjek tindak pidana”. Van Hammel yang berpandangan monistis merumuskan strafbaarfeit bahwa:

“Perbuatan manusia yang diuraikan oleh undang-undang melawan hukum, strafwaardig (patut atau dapat bernilai untuk dipidana), dan dapat dicela karena kesalahan (en dan schould to wijten)”

b. Unsur-Unsur Tindak Pidana

(17)

Dalam suatu peraturan perundang-undangan pidana selalu mengatur tentang tindak pidana.

sedangkan menurut Moeljatno (Mulyati Pawennei: 2015: 10)

“Tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut”.

Untuk mengetahui adanya tindak pidana, maka pada umumnya dirumuskan dalam peraturan perundang-perundangan pidana tentang perbuatan-perbuatan yang dilarang dan disertai dengan sanksi. Dalam rumusan tersebut ditentukan dalam beberapa unsur atau syarat yang menjadi ciri atau sifat khas dari larangan tadi sehingga dengan jelas dapat dibedakan dari perbuatan lain yang tidak dilarang. Perbuatan pidana menunjuk kepada sifat perbuatannya saja, yaitu dapat dilarang dengan ancaman pidana kalau dilanggar.Menurut Simon (Zainal Abidin Farid: 2007:224), unsur-unsur tindak pidana (strafbaar feit) adalah :

1. Perbuatan manusia 2. Diancam dengan pidana 3. Melawan hukum

4. Dilakukan dengan kesalahan oleh orang yang mampu bertanggung jawab

Dari unsur-unsur tindak pidana di atas, simons (zainal Abidin Farid:2007:224) juga menyebutkan adanya unsur objektif dan unsure subjektif dari tindak pidana (strafbaar).

1. Unsur Objektif :

(18)

a) Perbuatan orang

b) Akibat yang kelihatan dari perbuatan itu

c) Mungkin ada keadaan tertentu yang menyertai perbuatan itu 2. Unsur Subjektif :

a) orang yang mampu bertanggung jawab b) adanya kesalahan

c) perbuatan harus dilakukan dengan kesalahan

Dari unsur-unsur objektif dan subjektif di atas, bisa disimpulkan bahwa unsur subjektif adalah suatu perbuatan dan unsur subjektif adalah pelaku atau subjek hukum yang dapat dipertanggung jawabkan.Pada prinsipnya seseorang yang hanya dapat dibebani tanggungjawab pidana bukan hanya karena ia telah melakukan suatu perilaku lahirlah (outwart conduct) yang harus dapat dibuktikan oleh seorang penuntut umum. Dalam ilmu hukum pidana, perbuatan lahiriah itu dikenal sebagai actus reus, dengan kata lain, actus reus adalah elemen luar (eksternal element). Dalam keputusan hukum actus reus ini sering digunakan pada kata ”conduct’ untuk perilaku yang menyimpang menurut kaca mata hukum pidana. Atau dengan kata lain, actus reus dipadankan dengan kata conduct. Sementara itu, dalam kepustakaan hukum dikatakan bahwa actus reus terdiri atas ”act and omission” atau

”commision and omission”, di mana dalam kedua frase tersebut, act sama dengan commision. Oleh karena pengertian actus reus bukan mencakup act atau commision saja, tetapi omission, Sutan Remy Sjahdeni berpendapat lebih tepat untuk memberikan padanan kata

(19)

actus reus dengan kara perilaku. Perilaku menurutnya merupakan padanan kata dari kata conduct dalam bahasa inggris yang banyak dipakai untuk merujuk kepada perilaku yang melanggar ketentuan pidana. Selanjutnya actus reus seyokyanya tidak dipadankan dengan kata ”perbuatan” atau ”tindakan” karena kata tersebut merupakan padanan dari kata act dalam bahasa inggris.

Commissionadalah melakukan perbuatan terttentu yang dilarang oleh ketentuan pidana, dan omissionadalah tidak melakukan perbuatan tertentu yang diwajibkan oleh ketentuan pidana untuk dilakukan.

”Perilaku” lebih luas maknanya daripada ”perbuatan” atau ”tindakan”, yang tidak lain sama artinya dengan actatau commission. Pengertian perilaku bukan hanya terbatas pada makna ”perbuatan untuk melakukan sesuatu” tetapi juga termasuk tidak melakukan perbuatan tertentu. Dengan keterangan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa

”tidak melakukan perbuatan tertentu yang diwajibkan oleh ketentuan pidana” tidak dapat dikatakan ”perbuatan” atau ”tindakan atau ”act” atau

”comission”. Namun demikian tetap termasuk perilaku melanggar hukum.

Lamintang yang merumuskan pokok-pokok perbuatan pidana sejumlah tiga sifat.Wederrechtjek (melanggar hukum), aan schuld tewijten (telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja), dan strafbaar (dapat dihukum).Secara unsur formal perbuatan manusia, yaitu perbuatan dalam arti luas, artinya tidak berbuat yang termasuk perbuatan dan dilakukan oleh manusia. Melanggar peraturan

(20)

pidana, dalam artian bahwa sesuatu akan dihukum apabila sudah ada peraturan pidana sebelumnya yang telah mengatur perbuatan tersebut, jadi hakim tidak dapat menuduh suatu kejahatan yang telah dilakukan dengan suatu peraturan pidana, maka tidak ada tindak pidana (blogspot.pustakahukum)

Diancam dengan hukuman, hal ini bermaksud bahwa KUHP mengatur tentang hukuman yang berbeda berdasarkan tindak pidana yang dilakukan.Dilakukan oleh orang yang bersalah, dimana unsur- unsur kesalahan yaitu harus ada kehendak, keinginan atau kemauan dari orang yang melakukan tindak pidana serta orang tersebut berbuat sesuatu dengan sengaja, mengetahui dan sadar sebelumnya terhadap akibat perbuatannya.(pusathukum.blogspot.co.id/2015/10).

2.2 PENGERTIAN TINDAK PIDANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH Pemilih dalam pemilu disebut juga sebagai konstituen, di mana para peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan program-programnya pada masa kampanye.Kampanye dilakukan selama diwaktu yang telah ditentukan menjelang hari pemungutan suara.Setelah pemungutan suara dilakukan, proses penghitungan dimulai.Pemenangan Pemilu ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih. Proses pemilihan umum merupakan bagian dari demokrasi.

Sehubungan dengan hal tersebut Ali Moertopo mengemukakan pengertian Pemilu sebagai berikut (Ali Murtopo, 1974:61):

(21)

Pada hakekatnya, pemilu adalah sarana yang tersedia bagi rakyat untuk menjalankn kedaulatannya sesuai dengan azas yang bermaktub dalam Pembukaan UUD 1945.Pemilu itu sendiri pada dasarnya adalah suatu Lembaga Demokrasi yang memilih anggota-anggota perwakilan rakyat dalam MPR, DPR, DPRD, yang pada gilirannya bertugas untuk bersama-sama dengan pemerintah, menetapkan politik dan jalannya pemerintahan negara.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Suryo Untoro dalam memberikan batas pemilu, yaitu(Suryo Untoro, 1976:34):

Bahwa Pemilihan Umum (yang selanjutnya disingkat Pemilu) adalah suatu pemilihan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia yang mempunyai hak pilih, untuk memilih wakil- wakilnya yang duduk dalam Badan Perwakilan Rakyat, yakni Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I dan Tingkat II (DPRD I dan DPRD II).

Dari berbagai sudut pandang, banyak pengertian mengenai pemilihan umum. Tetapi intinya adalah pemilihan umum merupakan sarana untuk mewujudkan asas kedaulatan di tangan rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu hubungan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Setiap daerah di Indonesia mempunyai pemimpin diantaranya adalah Gubernur, Bupati dan Wali Kota.Untuk memilih pemimpin tersebut maka pemerintah pusat melaksanakan pemilihan langsung yang dilakukan oleh rakyat dalam satu daerah.Pemilihan ini biasa disebut sebagai Pilkada.

Pemilihan kepala daerah atau yang disebut pilkada dilakukan secara langsung oleh penduduk daerah administrative setempat yang memenuhi syarat(seputarpengertian.blogspot).

Yang dimaksud dengan tindak pidana pemilihan kepala daerah adalah serangkaian tindak pidana yang diatur secara khusus dalam

(22)

peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pilkada.Namun demikian salah satu rumusan menjelaskan bahwa setiap orang, badan hukum, ataupun organisasi yang dengan sengaja melanggar hukum, mengacaukan, menghalang-halangi, atau menganggu jalanya pemilihan kepala daerah yang diselenggarakan menurut undang- undang merupakan perbuatan tindak pidana.

Perbuatan-perbuatan pidana ini menurut ujud atau sifatnya adalah bertentangan dengan tata atau ketertiban yang dikehendaki oleh hukum, mereka adalah perbuatan yang melawan (melanggar) hukum.

Tegasnya mereka merugikan masyarakat, dalam arti bertentangan dengan atau menghambat akan terlaksananya tata dalam pergaulan masyarakat yang baik dan adil (Moeljatno:2-3).

2.3 Jenis-Jenis Tindak Pidana Pemilihan Kepala Daerah

Pilkada merupakan suatu keharusan yang diselenggarakan oleh setiap daerah melalui komisi pemilihan umum daerah (KPUD).

Pemilihan ini tidak lain dan tidak bukan, bertujuan untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung oleh rakyat di daerah yang menyelenggarakan.Tetapi rupanya gagasan mulia ini sulit terwujud mengingat umumnya masyarakat tidak memiliki informasi yang cukup tentang kepala daerah maupun wakil kepala daerah yang mencalonkan diri, apakah mereka merupakan tokoh-tokoh bermoral dan memiliki kompetensi atau tidak.

Jadi pelanggaran tindak pidana pilkada ini adalah pelanggaran terhadap ketentuan pidana pilkada yang sudah diatur dalam undang-

(23)

undang pilkada.Biasanya jika terbukti bersalah sanksi yang yang diberikan bisa berupa hukuman penjara dan atau denda.Contohnya pemalsuan dokumen dan penyuapan yang perlu di waspadai.Biasanya modus yang digunakan dengan mengajak masyarakat untuk memberikan suara kepada pasangan tertentu atau mengarahkan masyarakat untuk tidak menggunakan hak pilih dengan embel uang.Adapun jenis pelanggaran pilkada yakni pelanggaran administrasi, pelanggaran pidana dan pelanggaran kode etik. Pelanggaran administrasi adalah pelanggaran terhadap tata cara, prosedur dan mekanisme yang berkaitan dengan administrasi pelaksanaan pemilihan dalam setiap tahapan penyelenggaraan pemilihan di luar tindak pidana pemilihan dan pelanggaran kode etik penyelenggara pilkada.

Pelanggaran kode etik penyelenggara terhadap kode etik penyelenggara pilkada yang dilakukan oleh jajaran KPU ataupun bawaslu. Kasus-kasus pelanggaran kode etik oleh penyelenggara pilkada nantinya akan ditangani oleh dewan kehormatan penyelenggara pilkada yang bisa memberikan sanksi berupa teguran hingga pemecatan.

Adapun jenis tindak pidana pilkada yang lainnya seperti penyimpangan yang berupa tindak pidana pilkada yang dilakukan oleh perorangan atau badan hukum bukan partai politik, penyimpangan yang berupa tindak pidana pilkada yang dilakukan oleh partai politik, dan penyimpangan kenetralan birokrasi dan penjabat pemerintah.

Pelanggaran administratif Misalnya seperti pelanggaran daftar pemilih

(24)

tetap, kampanye, pelanggaran kelengkapan persyaratan dan kebebasan syarat dari para calon(sinar grafika:66).

Adapun jenis tindak pidana pilkada yang ada dalam undang- undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang pilkada :

1. Pemalsuan Dokumen pasal 177A ayat (1) yaitu :

(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum memalsukan data dan daftar pemilih sebagaimana dimaksud dalam pasal 58, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp.12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) dan paling banyak Rp.72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).

(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh penyelenggara pemilihan dan/atau saksi pasangan calon dipidana dengan yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana maksimumnya.

Pasal 178A

Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum mengaku dirinya sebagai orang lain untuk menggunakan hak pilih, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 24 (dua puluh empat) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit

(25)

Rp.24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah) dan paling banyak Rp.72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).

Pasal 178B

Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum memberikan suaranya lebih dari satu kali di satu atau lebih TPS, dipidana dengan pidana penjara paling lama 108 (seratus delapan) bulan dan denda paling sedikit Rp.36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp.108.000.000,00 (seratus delapan juta rupiah).

2. Penyuapan Pasal 187A

(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya sebagai imbalan kepada warga negara indonesia baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk mempengaruhi pemilih agar tidak menggunakan hak pilih, menggunakan pilih dengan cara tertentu sehingga suara menjadi tidak sah, memilih calon tertentu, atau tidak memilih calon tertentu sebagaimana dimaksud pada pasal 73 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)

(26)

(2) Pidana yang sama diterapkan kepada pemilih yang dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

2.4 PERTANGGUNG JAWABAN DALAM HUKUM PIDANA

Bahwa prinsip pertanggungjawaban pidana didasarkan pada asas kesalahan (asas culpabilitas) yang secara tegas menyatakan, bahwa tiada pidana tanpa kesalahan.Artinya, seseorang baru dapat dimintai pertanggungjawaban dalam buku hukum pidana karena telah melakukan hukum apabila dalam diri orang itu terdapat

“kesalahan”.Apabila dalam diri orang tidak ada “kesalahan”, maka terhadap orang itu tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.

Patut menjadi catatan, bahwa salah satu syarat untuk adanya

“keselahan” dalam arti seluas-luasnya adalah adanya “kemampuan bertanggungjawab” yang hakikatnya merupakan “keadaan batin” si pembuat yaitu keadaan batin yang sedemikian rupa sehingga menjadi

“pembenar” untuk dijatuhkannya pidana. Dengan demikian dapat juga dikemukakan, bahwa salah satu syarat untukadanya pertanggungjawaban dalam hukum pidana adalah adanya

“kemampuan bertanggung jawab”.Artinya, seseorang barulah dapat dimitai pertanggung jawaban dalam hukum pidana manakala orang itu dianggap “mampu bertanggung jawab”. Untuk memberikan gambaran yang utuh tentang apa yang dimaksud dengan “kemampuan bertanggung jawab” berikut ini dikemukakan berbagai pandangan tentang persoalan tersebut.

(27)

Menurut Simons, “kemampuan bertanggung jawab” dapat diartikan sebagai suatu keadaan psychis sedemikian, yang membenarkan adanya penerapan sesuatu upaya pemidanaan, baik dilihat dari unsur sudut umum maupun dari orangnya”. (Tongtat:226)

Seseorang dianggap mampu bertanggung jawab, apabila jiwanya sehat yaitu apabila :

1. Ia mampu untuk mengetahui atau menyadari, bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum.

2. Ia dapat menentukan kehendak sesuai dengan kesadaran tersebut.

Bertolak dari pandangan Simons yang demikian tersimpul, bahwa untuk adanya kemampuan bertanggung jawab diperlukan dua syarat sekaligus, yaitu kemampuan untuk menyadari, bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum dan kemampuan untuk menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadarannya itu. Dua syarat tersebut bersifat kumulatif, artinya keduanya harus ada pada seseorang. Apabila seseorang bertentangan dapat menyadari, bahwa perbuatannya itu bertentangan dengan hukum, tetapi ia tidak dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadarannya itu, maka orang itu juga tidak dapat “dianggap” mampu bertanggung jawab.

Menurut Pompe seseorang itu dianggap “mampu bertanggung jawab” apabila keadaan jiwanya adalah demikian rupa, hingga apa yang telah ia lakukan itu dapat dipertanggung jawabkan kepadanya.

Apabila dicermati secara seksama, batasan “mampu bertanggung jawab” yang diberikan pompe tersebut di atas pada

(28)

hakikatnya tidak jauh berbeda dengan batasan yang diberikan oleh simons. Dalam batasan yang diberikan pompe juga terkandung maksud, bahwa untuk adanya “kemampuan bertanggung jawab” pada seseorang itu dipersyaratkan adanya keadaan jiwa yang sedemikian rupa, sehingga orang itu dapat dimintai pertanggung jawaban terhadap perbuatan yang dilakukannya.

Menurut Van Hamel “kemampuan bertanggung jawab” adalah suatu keadaan yang normal dan suatu kedewasaan secara psikis yang membuat seseorang itu mempunyai tiga macam kemampuan, yaitu : 1. Mampu untuk mengerti akan maksud yang sebenarnya dari pada

yang ia lakukan.

2. Mampu untuk menyadari, bahwa tindakannya itu dapat atau tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat.

3. Mampu untuk menentukan kehendak terhadap apa yang ingin ia melakukan.

Menurut Satochid Kartanegara, untuk adanya kemampuan bertanggung jawab pada seseorang diperlukan adanya tiga syarat, yaitu :

1. Keadaan jiwa orang itu adalah sedemikian rupa sehingga ia dapat mengerti atau tahu akan nilai dari perbuatannya itu, sehingga dapat juga mengerti akibat perbuatannya.

2. Keadaan jiwa orang itu sedemikian rupa, sehingga ia dapat menentukan kehendaknya terhadap perbuatan yang dilakukannya itu.

(29)

3. Orang itu harus sadar, insaf, bahwa perbuatan yang dilakukannya itu adalah perbuatan yang terlarang atau tidak dapat dibenarkan, baik dari sudut hukum, masyarakat maupun dari sudut tata susila.

Menurut Satochid Kartanegara, tiga syarat untuk adanya kemampuan bertanggung jawab tersebut di atas harus terpenuhi untuk adanya kemampuan bertanggung jawab pada seseorang.Dengan tiga syarat tersebut di atas, maka menurut Satochid Kartanegara, tidak dapat diharapkan dari seseorang anak yang masih sangat muda (anak-anak yang berumur delapan tahun ke bawah) untuk mengerti nilai perbuatannya. Oleh karenanya juga tidak dapat diharapkan dari seorang anak yang masih sangat muda untuk mengerti akan nilai dari akibat perbuatannya. Demikian juga tidak dapat diharapkan untuk dapat di mengerti akan nilai perbuatan dan nilai akibat perbuatannya dari seseorang yang menderita sakit jiwa atau orang gila.

(Tongtat:228)

Pada seseorang yang mendapatkan tekanan baik secara

“fisik” maupun secara “psikis” yang tidak dapat dihindari secara wajar tidak dapat menentukan kehendaknya secara bebas, oleh karena fungsi batin/jiwanya tidak normal. Artinya, batin/jiwanya tidak dapat berfungsi sebagaimana batin/jiwa yang normal misalnya ia dapat berbuat sesuai dengan kehendaknya. Apabila seseorang tidak dapat berbuat sesuai kehendaknya sendiri sehingga oleh karenanya ia kemudian berbuat sesuatu yang bertentangan denga kehendaknya karena adanya tekanan (baik fisik maupun psikis), maka berarti fungsi

(30)

batin/jiwanya orang itu normal, tetapi batin/jiwanya yang normal itu tidak dapat berfungsi sebagaimana batin/jiwa yang normal karena adanya tekanan.

2.5 ASAS-ASAS PELAKSANAAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH Salah satu ciri pemilihan Kepala Daerah yang dilaksanakan secara langsung secara demokratis dapat dilihat pada asas-asas dari pelaksanaan pemilihan tersebut. Menurut Joko J. Prihatmoko (Amir IIyas:2012) mengatakan bahwa definisi asas pemilihan Kepala Daerah adalah sebagai berikut :

Asas pilkada adalah pangkal tolak pikiran untuk melaksanakan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.Dari beberapa pendapat tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa asas pilkada merupakan prinsip-prinsip atau pedoman yang harus mewarnai proses penyelenggaraan pemilihan tersebut, asas berarti jalan atau sarana agar pilkada secara langsung dapat terlaksana secara demokratis.

Asas yang digunakan dalam pelaksanaan pilkada secara langsung adalah langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sama dengan asas yang digunakan pada pelaksanaan Pemilu Tahun 2004.

rumusan asas-asas pilkada secara langsung tertuang pada Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menegaskan bahwa pilkada dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

(31)

Berdasarkan asas-asas yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan di atas, maka dapat dikatakan bahwa pemilihan Kepala daerah di Indonesia telah menggunakan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum dan demokratis dalam proses rekrutmen pejabat publik atau pejabat politik yang terbuka, hanya saja perlu diperhatikan bahwa jangan sampai proses ini tidak murni berjalan karena adanya beberapa pelanggaran dalam pelaksanaannya seperti adanya keterlibatan pegawai negeri dalam proses pemilihan Kepala Daerah kemudian dengan jabatan yang dimilikinya dimanfaatkan untuk melakukan intervensi dan intimidasi terhadap para pemilih. Adapun pengertian dari asas-asas tersebut yaitu :

1. Langsung

Rakyat sebagai pemilih mempunyai hak untuk memberikan suaranya secara langsung sesuai dengan kehendak hati nuraninya tanpa perantara.

2. Umum

Pada dasarnya semua warga negara yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku berhak mengikuti pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung.Pemilihan yang bersifat umum mengandung makna, menjamin kesempatan yang berlaku menyeluruh terhadap semua warga negara tanpa diskriminasi berdasarkan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, pekerjaan dan status sosial.

(32)

3. Bebas

Pengertian bebas dalam hal ini adalah setiap warga negara berhak memilih bebas menentukan pilihan tanpa tekanan dan paksaan dari siapa pun.Dalam melaksanakan haknya, setiap warga negara dijamin keamanannya sehingga dapat memilih sesuai kehendak hati nurani dan kepentingannya.

4. Rahasia

Dalam memberikan suaranya, pemilih dijamin kerahasiaannya oleh pihak manapun. Pemilih dapat memberikan suaranya pada surat suara dengan tidak diketahui oleh orang lain kepada siapa pun suaranya diberikan.

5. Jujur

Dalam penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung, setiap penyelenggara Pilkada, aparat pemerintah, calon atau peserta pemilkan Kepala Daerah, pengawas Pilkada, Pemantau Pilkada pemilih serta semua pihak yang terkait harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

6. Adil

Penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung, setiap pemilik dan calon atau peserta pilkada mendapat perlakuan yang sama, serta bebas dari kecurangan pihak manapun, berdasarkan prinsip ini dihubungkan degan independensi pegawai negeri sipil dalam pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah,

(33)

maka jika ada oknum pegawai negeri terlibat langsung dalam proses pemilihan tersebut dapat dikatakan melanggar asas ini karena penekanan asas ini adalah perlakuan yang sama terhadap seluruh peserta atau calon Kepala Daerah yang bersaing dalam pilkada.

Penggunaan asas luber dan jurdil sebagai asas pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah merupakan konsekuensi logis dari pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah secara demokratis.Sehingga jika terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya, maka hak tersebut merupakan pelanggaran dan harus dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

2.6 TEORI-TEORI PENJATUHAN PIDANA

Pada dasarnya terdapat tiga pokok pemikiran tentang tujuan yang ingin dicapai dengan suatu pemidanaan, yaitu mencakup hal-hal sebagai berikut. (Tolib Setiady:31)

1. Memperbaiki pribadi dari penjahatnya itu sendiri.

2. Membuat orang menjadi jera melakukan kejahatan-kejahatan.

3. Membuat penjahat-penjahat tertentu menjadi tidak mampu untuk melakukan kejahatan-kejahatan yang lain, yakni penjabat-penjabat yang dengan cara-cara lain sudah tidak dapat diperbaiki kembali.

Simons dalam hal ini berpendapat :

“Para penulis lama itu pada umumnya telah mencari dasar pembenaran dari suatu pemidanaan pada tujuan yang lebih jauh dari suatu pembinaan di samping melihat hakikat dari suatu pemidanaan itu sebagai pembalasan”.

(34)

Sedangkan Van Hamel berpendapat bahwa :

“Hingga akhir abad XIX praktik-praktik pemidanaan itu masih dipengaruhi oleh dua pemikiran pokok seperti yang dimaksudkan di atas yaitu VERGELDINGS THEORIE dan AFSCHRIKKINGS IDEE”.

Salah satu cara untuk mencapai tujuan hukum pidana adalah

“menjatuhkan pidana terhadap seseorang yang telah melakukan sesuatu tindak pidana”. Dan pidana itu sendiri pada dasarnya adalah merupakan suatu penderitaan atau nestapa yang sengaja dijatuhkan Negara kepada mereka atau seseorang yang telah melakukan suatu tindak pidana.

Sehubungan dengan hal tersebut, timbullah suatu pertanyaan

“apakah dasar pembenaranya (rechts vaardigings grond) penjatuhan pidana, sedangkan undang-undang hukum pidana itu diadakan justru untuk melindungi kepentingan hukumnya”?untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka di dalam Ilmu Hukum Pidana dikenal beberapa teori hukum pidana (teori penjatuhan pidana) (STRAFRECHTS THEORIEN) yang pada umumnya dibagi dalam tiga golongan (teori) yaitu :

1. Teori Absolut atau Teori Pembalasan Andi Hamzah (1993:24)

“Tujuan pembalasan (revenge) disebut juga sebagai tujuan untuk memuaskan pihak yang dendam baik masyarakat sendiri maupun pihak yang dirugikan atau menjadi korban kejahatan.Hal ini bersifat

(35)

primitive, tetapi kadang-kadang masih terasa pengaruhnya pada zaman modern ini”.

Menurut teori absolute (absolute theorien) atau teori pembalasan (vergeldings theorieen), penjatuhan pidana itu dibenarkan semata-mata karena orang telah melakukan suatu kejahatan atau tindak pidana (Muladi dan Barda Nawawi Arief, 1984:10).

Pidana itu merupakan suatu akibat hukum yang mutlak harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang yang telah melakukan kejahatan.Jadi dasar pembenaran pidana terletak pada terjadinya kejahatan itu sendiri.Oleh karena kejahatan itu, mengakibatkan penderitaan kepada orang yang terkena kejahatan, maka menurut teori absolut atau teori pembalasan, penderitaan itu harus dibalas pula dengan penderitaan yang berupa pidana kepada orang yang melakukan kejahatan itu. Tidak dilihat akibat-akibat apapun yang timbul dengan dijatuhinya pidana, tidak peduli apakah masyarakat mungkin akan dirugikan (Dwidja Priyatno:2006:24)

R. Soesilo (1974:12) menyebutkan :

“Pidana adalah suatu pembalasan berdasar atas keyakinan zaman kuno, bahwa siapa yang membunuh harus dibunuh.Dasar keyakinan ini adalah “Talio” atau “Qisos” di mana orang yang membunuh itu harus menebus dosanya dengan jiwanya sendiri.Ini berarti bahwa kejahatan itu sendirilah yang memuat unsur menuntut dan membenarkan dijatuhkannya pidana”.

(36)

Jadi, pidana di sini dimaksudkan semata-mata hanya untuk memberikan penderitaan kepada orang yang melakukan kejahatan.Pada dasarnya tindakan pembalasan itu mempunyai dua sudut, yaitu :

Sudut subjektif yang pembalasan ditujukan kepada orang lain yang berbuat salah.Sudut objektif yang pembalasannya ditujukan untuk memenuhi perasaan balas dendam masyarakat.

2. Teori Relatif atau Teori Tujuan

Teori ini mencari dasar hukum pidana dalam menyelenggarakan tertib masyarakat dan akibatnya, tujuan pidana untuk prevensi terjadinya kejahatan.Wujud pidana ini berbeda-beda, yaitu menakutkan, memperbaiki atau membinasakan.

Menurut Teori Relatif atau Teori Tujuan menyatakan :

“Pidana itu bukanlah untuk melakukan pembalasan kepada pembuat kejahatan, melainkan mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat”.

Sehubungan dengan hal tersebut, ditegaskan oleh Muladi dan Barda Nawawi Arief (1984:13-16) bahwa,

“Pidana dijatuhkan bukan karena orang membuat kejahatan melainkan supaya orang jangan melakukan kejahatan”.

Mengenai tujuan pidana itu ada beberapa pendapat, yaitu :

1. Tujuan pidana adalah untuk menentramkan masyarakat yang gelisah karena akibat dari telah terjadinya kejahatan.

(37)

2. Tujuan pidana adalah untuk mencegah kejahatan yang dapat dibedakan atas pencegahan umum dan pencegahan khusus.

C. Teori Gabungan

Teori gabungan merupakan gabungan dari teori absolute atau teori pembalasan dengan teori relative atau teori tujuan.Pertama kali mengajukan teori gabungan ini ialah Pellegrino Rossi (1787-1848), dimana sekalipun tetap menganggap pembalasan sebagai asas dari pidana bahwa beratnya pidana tidak boleh melampaui suatu pembalasan yang adil, namun dia berpendirian bahwa pidana mempunyai berbagai pengaruh antara lain perbaikan suatu yang rusak dalam masyarakat dan prevensi general. Jadi, dasar pembenaran pidana dari teori gabungan adalah meliputi dasar pembenaran pidana dari teori pembalasan atau teori tujuan yaitu baik terletak pada kejahatannya maupun pada tujuan pidananya. Penganut teori ini diantaranya adalah Karl Binding

Teori gabungan ini timbul oleh karena teori pembalasan dan teori tujuan dianggap mempunyai kelemahan, untuk itu dikemukakan keberatan-keberatan terhadap kedua teori tersebut, yaitu :

1. Keberatan-keberatan terhadap teori pembalasan

1) Penjatuhan pidana semata-mata hanya untuk pembalasan dapat menimbulkan ketidakadilan.

2) Apabila memang dasar pidana hanya untuk pembalasan, mengapa hanya Negara yang berhak menjatuhkan pidana.

(38)

3) Pidana hanya sebagai pembalasan tidak bermanfaat bagi masyarakat.

2. Keberatan-keberatan terhadap teori tujuan

1) Pidana hanya ditujukan untuk mencegah kejahatan baik yang ditujukan untuk menakut-nakuti umum maupun yang ditujukan kepada orang yang melakukan kejahatan, sehingga akan dijatuhkan pidana yang berat. Hal ini dapat menimbulkan ketidakadilan.

2) Pidana yang berat itu tidak akan memenuhi rasa keadilan, apabila ternyata kejahatan itu ringan.

3) Kesadaran hukum masyarakat membutuhkan kepuasan. Oleh Karena itu pidana tidak semata-mata ditujukan hanya untuk mencegah kejahatan atau membinasakan penjahat.

Jadi, baik masyarakat maupun penjahatnya harus diberikan kepuasan yang sesuai dengan peri keadilan, maka oleh karena itu menurut teori gabungan, teori pembalasan dan teori tujuan itu harus digabungkan menjadi satu, sehingga akan menjadi praktis, puas, dan seimbang dengan kejahatannya.

Teori Gabungan ini dapat dibagi kedalam 3 (tiga) golongan yaitu:

1. Teori gabungan yang menitik beratkan kepada pembalasan, tetapi pembalasan itu tidak boleh melebihi dari pada yang diperlukandalam mempertahankan ketertiban masyarakat.

Penganutnya antara lain Pompe, Zeven Bergen.

(39)

1) Pompe

Menitik beratkan pidana pada pembalasan tetapi tindak pidana itu harus pula bermaksud mempertahankan ketertiban masyarakat agar kepentingan umum dapat diselamatkan.

2) Zevenbergen

Berpendapat bahwa makna tiap pidana adalah pembalasan, tetapi tiap pidana itu bermaksud melindungi ketertiban hukum, mengembalikan hormat kepada hukum dan pemerintah. Oleh karena itu pada hakikatnya pidana itu hanya suatu Ultimum Remedium (suatu jalan terakhir yang boleh dipakai jika tidak ada lagi jalan lain).

2. Teori gabungan yang menitik beratkan kepada pertahanan ketertiban masyarakat, tetapi pidana tidak boleh lebih berat dari pada beratnya penderitaan yang sesuai dengan beratnya perbuatan si terpidana.

3. Teori gabungan yang menitik beratkan sama baik kepada pembalasan maupun kepada pertahanan ketertiban masyarakat.

Yang jadi permasalahan sekarang adalah mengenai perbedaan pidana dari masing-masing teori hukum pidana (strafrechts theorieen).

Adapun perbedaannya adalah :

“pada teori pembalasan, pidana itu melihat kepada masa lalu oleh karena teori ini beranggapan bahwa kejahatan sebagai perbuatan yang tidak adil yang menimbulkan penderitaan pada orang yang terkena kejahatan. Oleh karena itu, penderitaan itu harus ditiadakan dengan cara menjatuhkan pidana kepada penjahatnya. Pada teori

(40)

tujuan, pidana itu melihat kepada masa yang akan datang, oleh karena di dalam teori ini yang diutamakan adalah tujuan pidananya.

Sedangkan teori gabungan berusaha mencakup kedua maksud tersebut, yaitu melihat kepada yang lalu dan melihat kepada masa yang akan datang”.

Teori-teori pemidanaan yang banyak dikemukakan oleh para sarjana selalu mempertimbangkan berbagai aspek sasaran yang kehendak dicapai di dalam penjatuhan pidana yang dalam hal ini tidak lepas dari nilai-nilai social budaya yang dihayati oleh para sarjana.

Sejak dahulu kala atau lebih pasti lagi sejak zamannya Protagoras orang selalu mencari dan memperdebatkan tentang tujuan pemidanaan. Di dalam pendapat Protagoras dinyatakan “bahwa plato telah bicara mengenai pidana sebagai sarana pencegahan khusus maupun pencegahan umum”. Demikian pula Seneca seorang Fisolof Romawi yang terkenal telah membuat formulasi yang terkenal yaitu

“Nemo Prudens Punit Quia Peccatum Est Sedne Peccetur” yang artinya adalah “tidak layak orang memidana karena telah terjadinya perbuatan salah, tetapi dengan maksud agar tidak terjadinya lagi perbuatan salah”. Kemudian Jeremmy Bentham dan sebagian besar penulis modern lainnya, selalu menyatakan bahwa tujuan pemidanaan adalah untuk “mencegah dilakukannya kejahatan pada masa yang akan datang”.

di pihak lain Immanuel Kant dan Gereja Katholik sebagai pelapor menyatakan bahwa pembenaran pidana dan tujuan pidana

(41)

adalah pembalasan terhadap serangan atau kejahatan terhadap ketertiban social dan moral.

Prof.Dr. Muladi,SH,MH (Guru Besar Hukum Pidana UNDIP) dalam desertasinya untuk memperoleh gelar dokter yang berjudul

“Lembaga Pidana Bersyarat Sebagai Faktor Yang Mempengaruhi Proses Hukum Pidana Yang Berperikemanusiaan” memperkenalkan teori tujuan pemidanaan yang integrative (Kemanusiaan dalam Sistem Pancasila) yang tetapi untuk diterapkan di Indonesia (Dwidja Priyatno:2006:27) menyatakan :

Dewasa ini masalah pemidanaan menjadi sangat kompleks menyangkut hak-hak asasi manusia serta menjadikan pidana bersifat operasional dan fungsional.Untuk diperlukan pendekatan multi dimensional yang bersifat mendasar terhadap dampak pemidanaan baik yang menyangkut dampak yang bersifat individual maupun dampak yang bersifat social.Pendekatan semacam ini mengakibatkan adanya keharusan untuk memilih teori integratif tentang tujuan pemidanaan yang dapat memenuhi fungsinya dalam rangka mengatasi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh tindak pidana (individual and social damages).

Packer selanjutnya menyatakan bahwa“pidana merupakan suatu kebutuhan, tetapi merupakan bentuk control social yang disesalkan karena ia mengenakan penderitaan atas nama tujuan- tujuan yang pencapaiannya merupakan sesuatu kemungkinan.

Dengan demikian maka tujuan pemidanaan adalah untuk memperbaiki kerusakan individual dan social (Individual And Social Damages) yang diakibatkan oleh tindak pidana. Hal ini terdiri dari seperangkat tujuan pemidanaan yang harus dipenuhi, dengan catatan

(42)

bahwa tujuan manakah yang merupakan titik berat, sifatnya adalah kasuistis.

Perangkat tujuan pemidanaan yang dimaksudkan adalah : 1. Pencegahan (umum dan khusus)

2. Perlindungan masyarakat

3. Memelihara solidaritas masyarakat 4. Pengimbalan/pengimbangan

(43)

BAB 3

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Uraian Singkat Tindak Pidana Dalam Pemilihan Kepala Daerah Di Tana Toraja Pada Tahun 2010

Pemilihan umum dalam hal ini pemilihan kepala daerah (Pilkada) merupakan wujud kedaulatan rakyat, karena hakikat pilkada jauh lebih dalam dibandingkan sekedar memberikan suara, setiap suara yang diberikan sangat bermakna bagi terbentuknya pemerintah legitimate yaitu suatu pemerintahan yang dipercaya dan didukung oleh rakyat.

Sesuai dengan pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 menyatakan bahwa “kedaulatan rakyat di tangan rakyat”, dalam hal ini adalah bahwa rakyat memiliki kedaulatan, tanggung jawab, hak, dan kewajiban untuk secara demokratis memilih pemimpin yang akan membentuk pemerintah guna mengurus dan melayani seluruh lapisan masyarakat, serta memilih wakil-wakil rakyat untuk mengawasi jalannya pemerintah.

Pada saat pemilihan kepala daerah di Tana Toraja pada tahun 2010 pasangan calon kepala daerah Theotilus Allo Rerung dan calon kepala daerah Victor Datuan mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah di Tana Toraja, pada saat pilkada kejadian tersebut terjadi pada 7 tahun yang lalu dimana kedua pendukung calon kepala daerah tersebut mengalami peristiwa yang kacau pada saat pilkada serentak dilaksanakan di Tana Toraja. Peristiwa tersebut terjadi pada saat pembacaan hasil pilkada dimana pendukung dari calon kepala daerah

(44)

Victor Datuan mengetahui bahwa kepala daerah yang mereka pilih kalah unggul dari pada pasangan dari calon kepala daerah Theotilus, sehingga pendukung dan team sukses dari calon kepala daerah tersebut tidak menerima hasil akhir dari pemilihan kepala daerah sehingga terjadi pembakaran kotak suara yang dilakukan oleh masyarakat Tana Toraja dari pendukung Victor Datuan. Pendukung yang merasa tidak terima dari hasil pilkada membakar habis semua kotak suara yang telah dikumpulkan di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Tana Toraja walaupun telah diturunkan penegak hukum seperti pihak Kepolisian di berbagai titik di tempat kejadian tapi tetap saja pihak kepolisian kewalahan mengatasi banyaknya massa pendukung dari pihak calon kepala daerah Victor Datuan yang semakin anarkis. Tetapi dari pihak kepolisian tidak tinggal diam dalam peristiwa pilkada tersebut, pihak kapolres dan kepolisian mengamankan massa yang melakukan aksi pembakaran tersebut dan di bantu oleh sentra gakkumdu, dimana gakkumdu ini berperan sebagai sentra penegakan hukum pada saat pilkada serentak dilaksanakan. Pada saat massa dari pendukung calon kepala daerah Victor Datuan diamankan oleh pihak kepolisian, kasus tersebut tidak dilimpahkan ke Pengadilan karena para pendukung dan koordinator dari tiap team sukses dari calon pilkada memutuskan kasus tersebut dengan cara musyawarah dan damai sehingga kasus pilkada yang ada di Tana Toraja tidak pernah sampai pada Pengadilan Negeri Makale karena diselesaikan secara baik.

(45)

Untung saja pada saat pembakaran kotak suara yang dilakukan dari pendukung calon kepala daerah Victor Datuan pihak dari Komisi Pemilihan Umum Tana Toraja (KPU) mempunyai arsip dari hasil kotak suara tersebut. Pada saat kasus pembakaran terjadi pada pilkada tahun 2010.

Adapun tindak pidana yang dilakukan pada saat pilkada di tana toraja yaitu penyuapan seperti money politik dan pemalsuan dokumen seperti pada saat pilkada anak yang dibawah umur melakukan pemilihan kepala daerah pada hal belum mencukupi umur. Kejadian ini sangat sering dilakukan di Tana Toraja pada pilkada serentak dilaksanakan karena hanya untuk mendapat suara terbanyak dari masyarakat calon kepala daerah melakukan hal seperti itu dengan menyuap masyarakat Toraja dengan berupa sembako dan berupa uang, serta bahkan masyarakat yang sebenarnya yang belum mencukupi umur saja di sahkan untuk memilih agar calon kepala daerah mendapatkan suara yang banyak dari masyarakat tetapi masyarakat Toraja merasa hal tersebut sudah menjadi adat pada saat pilkada dilaksanakan di Tana Toraja sampai kasus tersebut tidak pernah di laporkan kepada pihak penegak hukum di Tana Toraja.

3.2 Penerapan Hukum Terhadap Tindak Pidana Pemilihan Kepala Daerah Di Tana Toraja

Pemilihan kepala daerah di Tana Toraja ataupun Toraja Utara yang melakukan pilkada serentak, selalu saja ada masalah atau kendala yang ditemui khususnya terhadap warga atau pemilih yang

(46)

ingin melakukan pemilihan kepala daerah di tana toraja. Ini terjadi karena masih kurangnya pemuktahiran data pemilih yang masih kurang maksimal itu sebabnya terjadi hal seperti itu, akan tetapi dari pihak Komisi Pemilihan Umum toraja sendiri sudah maksimal dalam melaksanakan pemuktahiran data pemilih hanya saja kemarin kejadian atau masalah seperti itu juga dipengaruhi “ada mobilisasi pemilih dari warga tana toraja ataupun warga toraja utara” tetapi ada tindakan- tindakan tertentu dari pihak luar tetapi itu entah dari siapa yang sengaja memasukan orang-orang dari luar untuk melakukan pencoblosan walaupun mereka tidak mempunyai KTP tetapi orang ini difasilitasi oleh orang-orang tertentu dengan memberikan surat keterangan dalam bentuk keterangan penduduk setempat yang ada di toraja itu dikeluarkan. Karena memang di dalam undang-undang PKPU pemilih di hari pemilihan yang tidak mempunyai KTP setempat itu masih dimungkinkan untuk memilih sepanjang ada surat keterangan bahwa yang bersangkutan itu adalah betul-betul penduduk di Toraja, mungkin belum sempat membuat identitas itu bisa digunakan karena itu dijamin oleh undang-undang dan aturan PKPU yang telah diatur.

Untuk dalam penegakan hukum sudah diatur dalam undang-undang bahwa money politik ini tindakan dengan sengaja untuk menyuap seseorang masyarakat atau calon pemilih yang akan memilihnya, kasus tersebut masuk dalam ketentuan pidana umum dalam undang- undang pilkada. Dari pihak gakkumdu dan panwaslu sudah mengetahui secara konsekuensinya hukumnya akan tetap sulit untuk

(47)

ingin diterapkan, dari pihak KPU Toraja berharap kepada masyarakat untuk melapor apabila melihat hal tersebut akan tetapi tidak ada satupun masyarakat Tana Toraja ataupun baik dari Toraja Utara yang melapor kasus tersebut kepada panwaslu dan KPU yang memang secara langsung mengawasi berhubungan dengan tindak pidana pilkada.

Untuk kasus pemalsuan dokumen sendiri pada saat pilkada di Toraja kejadian tersebut tidak ada, karena pemalsuan dokumen ini banyak baik yang berhubungan dengan data diri pemilih dan ada calom yang memalsukan dokumen dalam bentuk ijasah. Tetapi di Toraja tidak terjadi hal tentang pemalsuan dokumen karena dari pihak KPU melakukan verifikasi dengan baik, baik untuk calon pemilih di verifikasi betul dari petugas-petugas TPS yang ada di lapangan di bantu oleh saksi dan di awasi oleh pengawas memang mereka memastikan apakah warga tersebut betul-betul masyarakat toraja.

Kejaksaan Negeri Tana Toraja mengatakan bahwa tentang adanya kasus pilkada seperti pembakaran kotak suara pada pilkada tahun 2010, money politik, dan pemalsuan dokumen itu tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut terjadi di tana toraja tetapi kasus tersebut tidak pernah sampai di Pengadilan Negeri karena tidak ada yang dapat membuktikan adanya hal tersebut pada saat pilkada serentak berlangsung di Toraja. Misalnya masyarakat ingin bekerjasama kepada penegak hukum yang ada di Tana Toraja mungkin saja kasus pilkada tersebut itu bisa kita bawa ke Pengadilan

(48)

tetapi sudah berapa tahun Toraja melaksanakan pilkada tidak satupun terdapat keluhan tentang adanya kasus tersebut dari masyarakat yang melakukan pencoblosan pada saat pilkada. Dari Kasi Datum Kejaksaan Negeri Tana Toraja mengatakan “bahwa Toraja ini sangat unik kenapa saya bilang unik karena pada saat pilkada baik dari pemerintahan Toraja dan masyarakat mereka sudah bekerjasama pada saat pilkada jadi saat pilkada terjadi di Tana Toraja itu aman saja” jadi kalau meliat ke Undang-Undang pilkada bahwa apa yang telah di tetapkan dalan UU tersebut di Toraja belum menerapkannya karena di Tana Toraja sendiri apabila ada kasus seperti itu akan di bicarakan secara musyawarah.

Hakim Pengadilan Negeri Makale mengatakan bahwa tahapan pilkada serentak yang dilaksanakan di Tana Toraja dari pihak hakim tidak mengetahui apakah sudah sesuai atau belum tetapi secara logika hakim sepanjang tidak ada perkara yang tidak sampai di pengadilan berarti sudah sesuai dengan ketentuan atau sudah sesuai dengan aturan, karena dari hakim sendiri mengatakan bahwa apabila terdapat tentang masalah pilkada pasti dari pihak pengadilan sendiri akan mengusut persoalan pilkada tapi sepanjang pilkada serentak dilaksanakan di tana toraja tidak pernah ada masalah yang sampai di pengadilan. Hal ini juga didasari oleh perkembangan fungsi peradilan yang tidak selalu hanya untuk memberikan putusan terhadap suatu sengketa, tetapi putusan pengadilan juga dapat membentuk prinsip dan ketentuan hukum yang harus dijalankan dalam penyelenggara

(49)

pilkada. Oleh karena itu peran peradilan tidak hanya menyelesaikan sengketa biasa tetapi juga harus memastikan terlaksananya prinsip- prinsip pilkada sehingga dapat diselamatkan dari upaya penyalahgunaan dan pelanggaran sistem pemilihan.

Kabaskrim Tana Toraja peran dari kepolisian pada saat pilkada yaitu kalau ada pelanggaran hukum sebelum dilaksanakan pilkada peran dari polri melakukan sosialisasi tentang masalah keamanan tentang pelaksanaan pilkada secara khusus, adapun penanganan dalam kasus tindak pidananya apabila panwaslu melaporkan adanya tindak pidana ke polres kepada gakkundu. Kalau sudah dilaporkan oleh panwaslu bahwa itu memenuhi cukup bukti untuk diproses pidana maka dari pihak polres menggelar kasusnya, misalnya ada anak di bawah umur memilih pada saat pilkada panwaslu harus membuat laporan, menganalisis, dan evaluasi di panwaslu setelah itu mengundang polres, gakkumdu, dan kejaksaan apa memenuhi persyaratan untuk proses lanjut tentang pidana atau tidak. Kalau kasusnya cukup bukti di proses dengan aturan yang berlaku, karena di dalam pelanggaran pilkada ada 2 (dua) yaitu :

1. Pelanggaran administratif, yaitu pelanggaran yang ditangani oleh KPU.

2. Pelanggaran pidan pilkada, yaitu ditangani oleh kapolres setelah di proses lanjut apabila ada masalah dari pihak kapolres membawa laporan tersebut di kejaksaan beserta alat bukti.

(50)

Polisi tidak dapat menindak massa pada saat pilkada serentak karena telah dilakukan sosialisasi untuk tidak melakukan tindakan anarkis tetapi apabila massa tersebut diketahui bukan warga dari toraja maka perlu dilakukan untuk mencari tahu apakah orang yang menghadang tersebut merupakan warga asli setempat atau ada pihak ketiga yang memprovokasi warga. Tentang adanya money politik dan pemalsuan dokumen pasti itu ada tetapi terselubung karena saat ini kepolisian tidak menangani hal tersebut melainkan panwaslu sendiri, karena aturan pengawasan dari pilkada dari pihak kepolisian hanya di tempatkan pada penegakan hukum tapi yang berkompeten hanyalah panwaslu karena yang hanya dalam penegakan pilkada itu Cuma kepolisian dan kejaksaan dalam bagian penegak hukum tetapi yang selanjutnya yang lebih berhak adalah panwaslu. Jadi semua laporan dari masyarakat dari manapun baik dari tindak pidana maupun administratif pada saat pilkada itu semuanya panwaslu yang saring baru pihak kepolisian di undang oleh panwaslu untuk menangani perkara tersebut.

Pilkada di kabupaten Tana Toraja ini memang sudah bagus dan masyarakat sudah mulai sadar, tetapi dalam hal ini pilkada di tana toraja terlalu banyak di nilai dengan uang dan itulah yang menghancurkan proses dari pilkada maka hal tersebut tidak ekfektif dalam rangka memperpanjang pembangunan ke depanya karena orang menggunakan uangnya di tana toraja tidak sesuai dengan apa yang telah ditujukan dan itulah yang menghancurkan, akhirnya

(51)

peningkatan pembangunan infrastruktur kesejahteraan masyarakat tidak terleasasi, harapan dari pihak kapolres Tana Toraja kalau bisa pilkada cukup datang untuk mencoblos dan transport untuk orang yang mengadakan kampanye pilkada agar tidak ada yang menyangkut tentang uang supaya hal tersebut tidak ada yang muncul pada saat pilkada serentak dilakukan di tana toraja, kalau tidak dilaksanakan hal tersebut tidak tegas undang-undang KPU dan akan begitu seterusnya pada saat pilkada serentak di tana toraja.

Tindak pidana yang diatur dalam perundang-undangan pilkada tidak selalu berupa tindak pidana baru dalam perundang-undangan lain. Beberapa tindak pidana pilkada merupakan tindak pidana yang sebelumnya sudah diatur dalam KUHP. Di luar tindak pidana yang diatur dalam perundang-undangan yang mengatur tentang pilkada masih terdapat berbagai tindak pidana yang dapat terjadi di dalam atau yang berhubungan dengan penyelenggara pilkada. Konsekuensinya, tindak pidana tersebut hanya dapat dituntut jika dilakukan dalam konteks pilkada, dalam arti berbagai perbuatan yang ditetapkan sebagai tindak pidana pilkada hanya dapat dituntut sesuai dengan undang-undang pilkada bukan ketentuan pidana umum.

Hanya saja, dalam pengaturan teknis dan praktiknya, gakkumdu justru ditempatkan sebagai institusi yang bertugas menyelenggarakan penanganan tindak pidana pilkada secara terpadu. Pada saat yang sama, juga member penilaian apakah bukti-bukti dugaan tindak pidana yang diserahkan bawaslu beserta jajaran telah terpenuhi atau tidak.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dapat dilaku- kan apabila Chang Tea mengetahui apa yang sebenarnya di- inginkan dan dibutuhkan oleh konsumennya mengenai produk, harga, promosi dan lokasi dalam

Pengoptima- lisasian partisipasi siswa pada taha- pan TPS mampu memberi siswa ke- sempatan untuk mengembangkan ke- terampilan berpikir dan menjawab dalam komunikasi

Upaya yang dapat dilakukan adalah: (a) mengembangkan daerah produksi jagung dengan sistem distribusi yang efisien dan sistem penyimpanan modern (silo), (b) mengembangkan

Karmarkar) kurang dari 0,05.Persoalan program linier yang berukuran kecil, metode Karmarkar membutuhkan perhitungan yang relatif lebih besar dan lebih cepat jika

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan sosialisasi nilai-nilai sila ke-4 Pancasila pada pemuda Dusun Jetak selama ini; 2) Mendeskripsikan bentuk metode

Umumnya, para kepala sekolah tidak menganggap mereka sendiri sebagai pemimpin pengajaran dan banyak di antara mereka percaya bahwa apapun yang berhubungan dengan belajar

Begitulah gambaran ketidakadilan yang dialami oleh perempuan bahwa garis batas pembedaan antara laki-laki dan perempuan di Korea merupakan suatu hal yang sangat

Penelitian selanjutnya dilakukan dalam skala yang lebih besar dengan melibatkan subjek penelitian yang berasal dari multicenter , proporsi subjek penelitian yang