• Tidak ada hasil yang ditemukan

Organizational Influences

2.4 Teori - Teori Penyebab Kecelakaan

Kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh beberapa hal. Terdapat dua golongan penyebab kecelakaan kerja. Golongan pertama adalah faktor mekanis dan lingkungan, yang meliputi segala sesuatu selain faktor manusia. Faktor mekanis dan lingkungan dapat dikelompokkan menurut keperluan dan maksud tertentu misal dikelompokkan berdasarkan pengolahan bahan, mesin penggerak, dan pengangkat, terjatuh di lantai dan tertimpa benda jatuh, pemakaian alat secara manual, menginjak atau terbentur barang, luka bakar oleh benda pijar, dan transportasi. Sedangkan golongan kedua adalah faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan (Suma’mur, 2009).

Sebuah kecelakaan kerja kemungkinan akan mengakibatkan atau tidak mengakibatkan bahaya secara fisik bagi individu. Tidak masalah apa yang dihasilkannya, yang mendasar adalah mempertanyakan bagaimana sebuah kecelakaan

kerja bisa terjadi. Sejumlah teori penyebab kecelakaan kerja memberikan pemahaman akan hal ini (Winarsunu, 2008).

2.4.1 Teori Domino Heinrich

Teori ini diperkenalkan oleh H.W. Heinrich pada tahun 1931 setelah menganalisis 75.000 kasus kecelakaan. Dalam hasil pengamatannya tersebut dia menyimpulkan bahwa 88% penyebab kecelakaan adalah tindakan tidak aman (unsafe acts), 10% merupakan kondisi tidak aman (unsafe condition) daan 2% lainnya adalah penyebab yang tidak dapat dihindari (unavoidable).

Heinrich berpendapat bahwa cidera disebabkan oleh beberapa faktor yang terangkai dan saling berkaitan dimana akhir dari rangkai tersebut adalah cidera. Sebagaimana tampak pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Teori Domino Heinrich Sumber : iDRM Training Modules

Lima faktor yang saling berhubungan dalam teori Domino Heinrich adalah :

a. Lingkungan Sosial dan Sifat Bawaan Seseorang (Social environmnent and Ancestry). Heinrich menjelaskan bahwa manusia memiliki sifat bawaan yang tidak

baik seperti keras kepala dan ceroboh yang diperoleh karena faktor keturunan atau pengaruh lingkungan dan pendidikan atau keduanya yang berkontribusi atas terjadinya keselahan manusia.

b. Kesalahan Manusia (Fault of person). Faktor kedua ini terbentuk dari kegagalan/kecacatan lingkungan dan keturunan yang mempengaruhi seseorang hingga kurang hati-hati dan banyak membuat kesalahan.

c. Perilaku tidak aman dan atau kondisi tidak aman (Unsafe act and/or unsafe condition). Merupakan tindakan berbahaya disertai bahaya mekanik/mesin dan bahaya fisik lainnya yang memudahkan untuk terjadinya rangakain berikutnya. Heinrich menyatakan bahwa unsafe act dan unsafe condition adalah faktor utama dalam mencegah kecelakaan, dan faktor penyebab kecelakaan termudah untuk diperbaiki.

d. Kecelakaan (Accident) yaitu peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja yang pada umumnya disertai kerugian.

e. Cidera (Injury) merupakan kerugian yang dihasilkan oleh kecelakaan kerja.

Heinrich mengumpamakan lima batu domino yang disusun berurutan sebagai faktor-faktor penyebab kecelakaan. Apabila batu domino tersebut jatuh ke kanan maka semua batu domino setelahnya akan ikut jatuh sehingga terjadi suatu kondisi celaka. Berdasarkan teori domino, kecelakaan dapat dicegah dengan menghilangkan salah satu faktor sehingga dapat mencegah timbulnya dampak berikutnya. Heinrich mengusulkan bahwa tindakan tidak aman dan bahaya mekanis (kondisi tidak aman) merupakan faktor utama dalam urutan kecelakaan kerja dan dengan menghilangkan

faktor utama tersebut dapat mengakibatkan faktor-faktor sebelumnya tidak efektif . Heinrich mengutamakan faktor manusia yang dinyatakan sebagai kegagalan manusia “Man Failure” sebagai penyebab sebagian besar kecelakaan (OHS Body of Knowledge Models of Causation : Safety, 2012).

2.4.2 ILCI Loss Causation Model

Teori domino Heinrich kemudian dikembangkan oleh Bird dan Germain pada tahun 1985 yang mengakui bahwa teori domino Heinrich tersebut merupakan dasar pemikiran keselamatan selama 30 tahun lebih. Bird dan Germain menyadari bahwa diperlukan manajemen untuk mencegah dan mengendalikan kecelakaan. Mereka mengembangkan teori domino baru yang mencerminkan hubungan langsung manajemen dengan penyebab dan dampak dari kerugian kecelakaan. Teori domino baru dari Bird dan Germain sekarang ini lebih dikenal dengan sebutan The ILCI Loss Causation Model yang digambarkan dengan lima batang domino, terkait satu sama lain dalam suatu urutan linear (OHS Body of Knowledge Models of Causation : Safety, 2012).

Gambar 2.2 The International Loss Control Institute Loss Causation Model (modified from Bird and Germaine, 1985)

Teori ini terdiri dari lima batu domino yang berurutan dengan susunan sebagai berikut :

a. Kurangnya pengawasan manajemen (Lack of control)

Pengawasan merupakan salah satu di antara fungsi manajemen yang penting, selain perencanaan, pengorganisasian, dan kepemimpinan. Ada beberapa hal yang menyebabkan kurangnya pengawasan manajememen yaitu kurangnya program keselamatan dan kesehatan kerja, standar kerja yang tidak sesuai dan kepatuhan terhadap standar yang berlaku.

b. Penyebab dasar (basic cause)

Penyebab dasar adalah sesuatu yang menyebabkan timbulnya tindakan dan kondisi tidak aman. Ada dua penyebab dasar yaitu faktor manusia dan faktor pekerjaan. Adapun faktor manusia diantaranya adalah kemampuan fisik yang tidak memadai, kemampuan mental/psikologi yang tidak memadai, minimnya pengetahuan, motivasi kerja yang kurang, dan lain sebagainya. Sedangkan faktor pekerjaan meliputi tidak memadainya peralatan dan perlengkapan.

c. Penyebab langsung (immediate cause)

Penyebab langsung dari suatu kecelakaan adalah tindakan tidak aman (unssafe act) dan kondisi tidak aman (unsafe condition). Tindakan tidak aman berupa mengabaikan prosedur keamanan, mengoperasikan alat tanpa izin, menggunakan peralatan yang tidak sesuai atau rusak. Kondisi tidak aman meliputi ventilasi yang tidak memadai, kebisingan dan panas yang berlebihan, penerangan yang tidak memadai atau berlebihan, dan lain sebagainya.

d. Kejadian/ kontak dengan energi atau benda (Incident)

Kecelakaan dapat timbul apabila kondisi-kondisi seperti di atas tidak diberi tindakan. Oleh karena itu peluang kontak dengan sumber energi dari bahan atau struktur yang ada harus dicegah. Energi yang dimaksud adalah energi kinetik, energi listrik, panas, sumber radiasi dan kimia.

e. Kerugian (Loss)

Kerugian yang dimaksud adalah kerugian yang dapat berupa cidera pada pekerja yang bahkan dapat menyebabkan kematian, kerusakan harta benda, dan kerugian proses kerja (waktu).

Dalam teori ILCI Loss causation Model awal dari kecelakaan dan kerugian adalah manjemen, yaitu kurangnya kontrol pengawasan manajemen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kerugian (loss) adalah indikasi kegagalan pada bagian manajemen dalam melakukan salah satu fungsinya yang penting. Dengan mempertanyakan pertanyaan yang benar, kurangnya pengawasan dalam sistem manajemen dapat diidentifikasi dan dapat digunakan untuk mencegah kecelakaan dan kerugian (Storbakken, 2002).

2.4.3 Teori Faktor Manusia

Ferrel dalam Tri Astuti (2004) meyatakan bahwa kesalahan manusia (human error) adalah pangkal dari kecelakaan. Kesalahan tersebut terdiri dari :

a. kelebihan beban kerja (work overload), beban kerja dihitung sebagai penjumlahan dari tugas yang menjadi tanggung jawab ditambh beban

lingkungan kerja (bising, tekanan panas, dan lain-lain), faktor internal (stress emosional) dan faktor eksternal (instruksi kerja tidak jelas).

b. Reaksi yang tidak tepat (inappropriate response) misalnya mendeteksi adanya hazard tetapi tidaak memperbaikinya, mengabaikan standar keselamatan dan lain sebagainya.

c. Aktivitas yang tidak tepat (inappropriate activities) misal melaksanakan tugas tanpa pelatihan wajib, salah menilai besarnya resiko dari suatu tugas, dan lain sebagainya.

2.4.4 Swiss Cheese Model

Menurut Reason dalam buku “A Human Error Approach to Aviation Accident Analysis :The Human Factors Analysis and Classification System” yang disusun oleh Wiegman dan Shapeell (2003) kecelakaan terjadi ketika terdapat kerusakan dalam interaksi antara komponen yang terlibat dalam proses produksi. Kegagalan ini menurunkan integritas sistem sehingga lebih rentan terhadap bahaya operasional yang dapat mengakibatkan kerentanan terhadap terjadinya bencana kegagalan atau kecelakaan. Teori penyebab kecelakaan menurut Reason ini dikenal sebagai Swiss Cheese Model . Model ini menggambarkan sebuah sistem sebagai keju swiss yang berlubang-lubang dan diletakkan berjajar setelah dipotong-potong. Setiap lubang dari keju menggambarkan kelemahan manusia dan sistem. Dalam medel ini dianggap bahwa kecelakaan terjadi akibat adanya dua jenis kegagalan yaitu kegagalan aktif dan kegagalan laten. Kegagalan aktif berupa unsafe act. Sedangkan kegagalan laten yaitu berupa kegagalan dari sisi organisasi (pengaruh pengorganisasian dan kebijakan

manajemen), unsafe supervision (pengawasan yang tidak baik), dan precondition for unsafe act (kondisi yang mendukung munculnya perilaku tidak aman).

Gambar 2.3 Model Penyebab Kecelakaan “Swiss Cheese” 2.5 Kerugian yang Disebabkan Kecelakaan Kerja

Dalam bukunya Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan (1987) Suma’mur menyatakan bahwa kecelakaan dapat menyebabkan lima jenis kerugian yaitu:

a. Kerusakan

b. Kekacauan organisasi c. Keluhan dan kesedihan d. Kelainan dan cacat e. Kematian.

Bagian mesin, pesawat, alat kerja, bahan, proses dan lingkungan kerja mungkin rusak oleh kecelakaan. Akibat dari itu, terjadilah kekacauan organisasi dalam proses produksi. Orang yang ditimpa kecelakaan mengeluh dan mendeita, sedangkan keluarga dan kawan-kawan sekerja akan bersedih hati. Kecelakaan tidak jarang berakibat luka-luka, terjadinya kelainan tubuh dan cacat. Bahkan tidak jarang kecelakaan merenggut nyawa dan berakibat kematian.

Kerugian – kerugian tersebut dapat diukur dengan besarnya biaya yang dikeluarkan bagi terjadinya kecelakaan. Biaya yang dikeluarkan akibat kecelakaan sering kali besar. Biaya ini dibagi menjadi biaya langsung dan biaya tersembunyi. Biaya langsung adalah biaya atas P3K, pengobatan dan perawatan, biaya rumah sakit, biaya angkutan, upah selama pekerja tak mampu bekerja, kompensasi cacat, dan biaya atas kerusakan bahan, perlengkapan, peralatan dan mesin. Biaya tersembunyi meliputi segala sesuatu yang tidak terlihat pada waktu dan beberapa waktu pasca kecelakaan terjadi. Biaya ini meliputi berhentinya operasi perusahaan, oleh karena pekerja lainnya menolong korban atau berhenti bekerja sebagaimana biasa dialami pada peristiwa terjadinya celaka, biaya yang harus diperhitungkan untuk mengganti orang yang ditimpa kecelakaan dan sedang sakit serta beada dalam perawatan dengan orang baru yang belum biasa bekerja pada pekerjaan di tempat terjadinya kecelakaan (Suma’mur, 2009)

Dokumen terkait