• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori – teori yang terkait dengan Pengembangan Kompetensi Sosial

BAB V HASIL PENELITIAN

1.5 Keaslian Penelitian

2.2.3 Teori – teori yang terkait dengan Pengembangan Kompetensi Sosial

Teori s osialisasi da lam s ub ba b i ni di maksudkan unt uk m enjelaskan terjadinya s osialisasi. Dalam ha l ini , s osialisasi be rpengaruh terhadap perkembangan psikososial dan pembentukan perilaku, sehingga diperkirakan pula mampu mengembangkan da n m embentuk ko mpetensi s osial i ndividu dalam kehidupan di masyarakat.

a. Teori Sosialisasi Anak Menurut Albert Bandura

Teori i ni m emiliki pa ndangan ba hwa pe rkembangan di pengaruhi ol eh tingkah laku, lingkungan dan kognisi sebagai faktor utama. Hal ini berarti bahwa individu da lam be respon t erhadap or ang l ain d an l ingkungan di pengaruhi ol eh proses pi kir, na lar, imajinasi, ha rapan, r encana, ke percayaan, ni lai da n perbandingan yang b erasal da ri pr oses kog nisi. A rtinya ba hwa i ndividu da pat bereaksi terhadap stimulus lingkungan melalui kontrol kognisi (Santrock, 2003). Belajar s ecara um um d idefinisikan sebagai pe rubahan yang r elatif pe rmanen (tetap) sebagai hasil dari pengalaman (Seifert dan Hoffnung, 1991). Berpijak dari hal t ersebut, maka t eori be lajar sosial da pat di gunakan unt uk m enjelaskan

terjadinya pe rilaku belajar da lam ka itannya d engan situasi s osial. B andura percaya ba hwa i ndividu be lajar de ngan m engamati apa yang dilakukan orang lain. Melalui be lajar o bservasi, i ndividu s ecara ko gnitif me representasikan tingkah laku orang lain dan kemudian mengambil tingkah laku tersebut. Para ahli teori be lajar s osial juga pe rcaya b ahwa indi vidu memperoleh sejumlah be sar tingkah l aku, pi kiran, d an pe rasaan i ndividu l ain de ngan m elakukan ob servasi. Oleh karena itu, observasi menjadi bagian dari perkembangan individu.

Tingkah l aku, faktor m anusia da n ko gnisi s erta pe ngaruh l ingkungan beroperasi secara interaktif. Tingkah laku dapat mempengaruhi kognisi, demikian pula s ebaliknya; a ktivitas kog nitif i ndividu da pat m empengaruhi l ingkungan; pengaruh l ingkungan d apat m engubah pr oses p ikiran i ndividu, da n s eterusnya. Teori sosialisasi i ni m emfokuskan pa da pr oses–proses yang m enjelaskan perkembangan di pengaruhi ol eh f aktor kog nisi dan s osial. S aling ke terkaitan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut .

P

B E

Gambar 2.1 Model Sosialisasi Bandura tentang Pengaruh Timbal Balik Tingkah Laku – Faktor Manusia & Kognisi - Lingkungan

Keterangan :

P (C) : Person - Cognition; Faktor manusia & kognitif

B : Behavior; Faktor Tingkah Laku

E : Environment; Lingkungan

b. Teori Ekologi Perkembangan Manusia dalam Perspektif Urie Brofenbrenner

Seperti di ketahui, bahwa pe rkembangan m anusia m erupakan ha sil da ri interaksi a ntara i ndividu i tu s endiri de ngan l ingkungan di mana i ndividu i tu tinggal ( L.Abate, 2010) . U ntuk mengakomodasi ke butuhan s osialisasi da n sekaligus m engembangkannya, s iswa m enjalin hubunga n de ngan be rbagai macam significant others. Hal i ni berarti bahwa t erdapat pengaruh l ingkungan,

dalam mengembangkan dan membentuk perilaku individu (Brofenbrenner, 1979; Cauce, 1986; Dam dan Volman, 2007). S elanjutnya, pandangan B rofenbrenner dalam perspektif ilmiah dikenal sebagai Teori ekologi perkembangan manusia .

Perkembangan s iswa s angat be rorientasi da n di pengaruhi ol eh lingkungan. T eori ekologi pe rkembangan m anusia m erupakan studi i lmiah yang menyatakan bahwa perilaku i ndividu t idak be rdiri sendiri, melainkan da mpak dari i nteraksi o rang yang b ersangkutan dengan l ingkungan di l uarnya ( L’Abate, 2010). Adapun lingkungan diluar diri yang mempengaruhi pribadi individu terdiri dalam be rbagai l ingkaran yang b erlapis-lapis. Lingkaran yang be rlapis tersebut membentuk suatu sistem yang terdiri atas mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, da n kr onosistem ( Brofenbrenner, 1979; S antrock, 2003) . T eori ekologi perkembangan manusia dapat di lihat dari gambar berikut :

Gambar 2.2. : Teori Ekologi Perkembangan Manusia dalam Perspektif Urrie Brofenbrenner

Sumber : Bronfenbrenner, U. 1979. The Ecology of Human Development:

Experiments By Nature and Design. USA : Harvard University Press.

1). Mikrosistem.

Mikrosistem merupakan lingkungan di mana individu tinggal. K onteks ini mencakup keluarga, teman sebaya, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal. Dalam s istem m ikrolah kebanyakan interaksi be rlangsung de ngan agen sosial seperti orang tua, guru, dan teman. Individu bukanlah penerima pasif dari pengalaman dalam lingkungan tersebut, tetapi sebagai seseorang yang membantu membentuk lingkungan tersebut.

2). Mesosistem.

Mesosistem mencakup hubungan antara sistem mikro atau hubungan antar konteks. C ontohnya a dalah hubunga n a ntara pe ngalaman keluarga d an pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dan pe ngalaman ke rja, atau

pengalaman ke luarga da n pe ngalaman t eman s ebaya. P ara a hli perkembangan percaya bahwa penting untuk mengamati tingkah laku dalam lingkungan s eperti da lam kont eks ke luarga, s ekolah da n t eman s ebaya untuk m emperoleh gambaran yang l ebih l engkap t entang pe rkembangan remaja.

3). Eksosistem .

Eksosistem tercakup bilamana p engalaman dalam lingkungan sosial lain – di mana individu tidak mempunyai peran aktif - mempengaruhi apa yang dialami individu dalam konteks langsung. Misalnya pengalaman kerja dapat mempengaruhi hubunga n w anita de ngan s uami da n s iswanya. M ungkin karena pr omosi, a ktivitas i bu di ka ntor m enjadi s emakin m eningkat, sehingga meningkatkan konflik dalam perkawinannya.

4). Makrosistem.

Makrosistem mencakup budaya dimana individu tinggal. Budaya dalam hal ini menunjuk pada pola tingkah laku, kepercayaan, dan semua produk lain dari s ekelompok m anusia yang di wariskan d ari ge nerasi ke ge nerasi berikutnya.

5). Kronosistem. Kronosistem mencakup pola–pola kejadian lingkungan dan transisi sepanjang perjalanan hidup dan kondisi sosial sejarah. Contohnya, pengaruh perceraian terhadap kehidupan remaja.

b. Relation Competence Theory

Relasi da lam kont eks i ni m enunjukkan pa da hubung an s ecara l angsung dan saling mempengaruhi antara dua orang individu atau lebih. S ebagai contoh hubungan a ntar anggota ke luarga yang s aling m empengaruhi, m embentuk kualitas kom petensi s osial s etiap a nggota di dalamnya (L’Abate, 2010) . T eori Kompetensi r elasi m emandang ba hwa pe rilaku di pengaruhi ol eh l ingkungan, dimana ke luarga m erupakan a kar da ri pe mbentukan kom petensi s osial a nak. Hubungan da lam ke luarga, t ermasuk di dalamnya konf lik, ke terlibatan a ntar anggota be rpengaruh terhadap ke mampuan anak d alam m engembangkan kompetensi sosialnya.

Spitzberg da n C upach ( L’Abate, 2010) m eyakini ba hwa s elain f aktor individu, situasi dan budaya k eluarga berpengaruh pula dalam mengembangkan kompetensi s osial a nggota ke luarga. O leh ka rena i tu, ke luarga da n hub ungan antar anggota, b erpengaruh sepanjang hi dup dalam m enghasilkan kom petensi sosial yang pos itif m aupun s ebaliknya. Lebih l anjut s elain ke luarga da n lingkungan rumah, s ekolah, t empat ke rja s erta a ktivitas di w aktu l uang, merupakan el emen s pesifik yang mempengaruhi kua litas kom petensi s osial. Setting s osial yang b erpengaruh t erhadap kom petensi s osial da pat di jelaskan melalui tabel di bawah.

Tabel 2.1. : Setting sosial yang berperan dalam Kompetensi Sosial Sumber : L’Abate, L., et al. 2010. Relation Competence Theory ;

Research and Mental Health Application.

Spesifikasi s etiap setting sosial a dalah pe nting unt uk m emahami da n

mengevaluasi ba gaimana i ndividu be rinteraksi de ngan i ndividu l ain. Seorang individu dapat menunjukkan kompetensi sosial d i setting tertentu, namun di sisi lain kur ang da pat m enunjukkan kom petensi s osialnya di s etting yang b erbeda.

Seorang anak b erperilaku kom peten di r umah, be lum t entu m enjamin keberhasilannya menunjukkan pe rilaku kom peten di s ekolah; d emikian pul a sebaliknya. L ebih lanjut L ’Abato, dkk (2010) m enyampaikan pul a ba hwa kompetensi s osial di s ekolah m aupun di r umah, m enjadi j aminan ke berhasilan individu untuk menunjukkan kompetensi di masa depan.

2.2.4 Faktor–faktor yang Mempengaruhi Kompetensi Sosial

Seluruh t indakan i ndividu di hasilkan da ri f aktor i nternal d an f aktor eksternal. Demikian halnya dengan kompetensi sosial. Dari studi literatur, artikel jurnal s erta ha sil pe nelitian yang r elevan (penelitian t erhadap s ubjek normal maupun subjek cerdas i stimewa, anak–anak maupun remaja) d apat dikatakan bahwa kompetensi sosial dipengaruhi oleh banyak faktor. Berdasarkan integrasi dari be rbagai pe ndapat da n t emuan, m aka di simpulkan ba hwa faktor–faktor tersebut secara garis besar terpilah ke dalam faktor internal dan eksternal.