• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Teori-teori yang mendukung

Kurikulum 2013 merupakan serentetan rangkaian penyempurnaan terhadap kurikulum yang telah dirintis tahun 2004 yang berbasis kompetensi lalu diteruskan dengan kurikulum 2006 (KTSP)(Kurniasih, 2014:32). Penyempurnaan kurikulum ini dilakukan mengikuti perkembangan zaman. Seiring berjalannya waktu, perkembangan zaman mengubah daya pikir manusia semakin tinggi, sehingga kurikulum pun disempurnakan agar tidak terlalu tertinggal oleh zaman dan dianggap kuno.

Pada Kurikulum 2013, yang menjadi titik tekan adalah adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Antara soft skills dan hard skills dapat tertanam dengan seimbang, berdampingan, dan mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. (Fadlillah, 2014:16).

Ridwan (2014:45) mengungkapkan bahwa Kurikulum 2013 mendefinisikan standar Kompetensi Lulusan (SKL) sesuai dengan yang seharusnya, yakni sebagai kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Banyak terdapat perbedaan yang spesifik antara kurikulum yang sebelumnya dengan Kurikulum 2013 yang baru ini.

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang sarat dengan pendidikan karakter (Ahmad, 2014:54). Mindset ini yang disadari sejak awal sebelum memahami teknis pelaksanaan Kurikulum 2013. Jika tidak ada landasan pemikiran ini, maka kita akan merasa terbebani oleh banyaknya “pekerjaan” yang harus dikerjakan. Pekerjaan yang akan banyak menyita waktu adalah mengumpulkan nilai peserta didik di

setiap mata pelajaran dari aspek sikap dan keterampilan, karena tidak lagi berbentuk nilai angka, tetapi berbentuk uraian.

Dari beberapa pengertian Kurikulum 2013 oleh para ahli di atas, hampir semuanya membahas tentang inti dari Kurikulum 2013, yaitu pendidikan karakter. Sesuai yang diungkapkan oleh Kurniasih, Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang disempurnakan dari kurikulum yang telah ada sebelumnya. Peneliti setuju dengan pendapat dari Kurniasih, karena memang Kurikulum 2013 adalah kurikulum perbaikan dari kurikulum yang telah ada sebelumnya. Inti yang paling penting dalam Kurikulum 2013 ini seperti yang dikemukakan oleh Fadlillah, yaitu antara soft skill dan hard skill harus seimbang, tidak boleh berat sebelah, hanya soft skill atau hanya hard skill saja, semua harus sama rata. Karena apabila hanya salah satu kemampuan yang lebih unggul dibandingkan dengan kemampuan lain, artinya Kurikulum 2013 tidak ada perubahan dari kurikulum-kurikulum yang sebelumnya, yang hanya mengandalkan atau mengutamakan satu kemampuan saja. Beberapa pengertian tentang Kurikulum 2013 oleh para ahli di atas, saling berhubungan dan melengkapi satu sama lain.

Namun peneliti lebih condong pada pengertian Kurikulum 2013 yang diungkapkan oleh Ahmad, bahwa Kurikulum 2013 sarat akan pendidikan karakter, karena memang dalam Kurikulum 2013 ini pendidikan karakter sangat diutamakan dibanding hal lainnya. Apabila seorang siswa memiliki prestasi yang tinggi namun karakter yang dimilikinya sangat kurang, maka prestasi-prestasi yang ia capai menjadi sia-sia.

Meninjau dari beberapa pengertian mengenai Kurikulum 2013 menurut para ahli, peneliti menarik kesimpulan bahwa Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan dari kurikulum-kurikulum yang pernah ada sebelumnya, yang berfokus pada penyeimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan.

b. Struktur Kurikulum 2013

Struktur Kurikulum adalah pengorganisasian Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, muatan Pembelajaran, mata pelajaran, dan beban belajar pada setiap satuan pendidikan dan program pendidikan. Untuk kurikulum 2013, Struktur kurikulum sedikit ada perubahan bila dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya (KTSP). Berikut penjelasan mengenai struktur kurikulum 2013 berdasarkan Permendikbud Nomor 67 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.

a. Kompetensi Inti

Kompetensi inti dirancang seiring dengan meningkatnya usia peserta didik pada kelas tertentu. Melalui kompetensi inti, integrasi vertikal berbagai kompetensi dasar pada kelas yang berbeda dapat dijaga. Rumusan kompetensi inti menggunakan notasi sebagai berikut:

1. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual;

2. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial;

3. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan;

dan

4. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.

Uraian tentang Kompetensi Inti untuk jenjang Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 1. Kompetensi Inti Kelas I, II dan III Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah

Kompetensi Inti Kelas I Kompetensi Inti Kelas II Kompetensi Inti Kelas III

tetangganya dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan

Tabel 2. Kompetensi Inti Kelas IV, V, dan VI Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah

Kompetensi Inti Kelas IV

Kompetensi Inti Kelas V Kompetensi Inti Kelas IV jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air.

3. Memahami

pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati, menanya

dan mencoba

berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain

4. Menyajikan

pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya

pengetahuan faktual dan konseptual dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam

Berdasarkan kompetensi inti disusun matapelajaran dan alokasi waktu yang sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan.

Susunan matapelajaran dan alokasi waktu untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah sebagaimana tabel berikut.

Tabel 3. Matapelajaran Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah

MATAPELAJARAN ALOKASI WAKTU PERMINGGU

I II III IV V IV

Kelompok A 1 Pendidikan Agama

dan Budi Pekerti

4 4 4 4 4 4

2 Pendidikan Pancasila dan

Kewarganegaraan

5 5 6 5 5 5

3 Bahasa Indonesia 8 9 10 7 7 7

4 Matematika 5 6 6 6 6 6

5 Ilmu Pengetahuan Alam

- - - 3 3 3

6 Ilmu Pengetahuan Sosial

- - - 3 3 3

Kelompok B

1 Seni Budaya dan Prakarya

4 4 4 4 4 4

2 Pendidikan Jasmani,

Olahraga dan

Kesehatan

4 4 4 4 4 4

Jumlah Alokasi Waktu 30 32 34 36 36 36

c. Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar dirumuskan untuk mencapai kompetensi inti. Rumusan kompetensi dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu matapelajaran. Kompetensi dasar dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi inti sebagai berikut:

1. Kelompok 1: kelompok kompetensi dasar dikap spiritual dalam rangka menjabarkan KI-1;

2. Kelompok 2: kelompok kompetensi dasar sikap sosial dalam rangka menjabarkan KI-2;

3. Kelompok 3: kelompok kompetensi dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI-3; dan

4. Kelompok 4: kelompok kompetensi dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI-4.

c. Tujuan Kurikulum 2013

Hendra (2018:157) mengungkapkan bahwa orientasi dari Kurikulum 2013 yakni terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), katerampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Maka secara konseptual, Kurikulum 2013 dicita-citakan untuk mampu melahirkan generasi masa depan yang cerdas komprehensif. Tidak hanya secara intelektual, namun juga cerdas emosi, sosial, dan spiritualnya.

Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skil), dan pengetahuan (knowledge). Secara konseptual, draft Kurikulum 2013 dicita-citakan untuk mampu melahirkan generasi masa depan yang cerdas komprehensif yakni tidak hanya cerdas intelektualnya, tetapi juga cerdas emosi, sosial, dan spiritualnya (Dr. Sholeh, 2013:113).

Menurut Fadlillah (2014:25), mengenai tujuan Kurikulum 2013, secara khusus dapat penulis uraikan sebagai berikut:

1. Meningkatkan mutu pendidikan dengan menyeimbangkan hard skills dan soft skills melalui kemampuan sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam rangka menghadapi tantangan global yang terus berkembang.

2. Membentuk dan meningkatkan sumber daya manusia yang produktif, kreatif, dan inovatif sebagai modal pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

3. Meringankan tenaga pendidik dalam menyampaikan materi dan menyiapkan administrasi mengajar, sebab pemerintah telah menyiapkan semua komponen kurikulum beserta buku teks yang digunakan dalam pembelajaran.

4. Meningkatkan peran serta pemerintah pusat dan daerah serta warga masyarakat secara seimbang dalam menetukan dan mengendalikan kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan.

5. Meningkatkan persaingan yang sehat antar-satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai. Sebab sekolah diberikan keleluasaan untuk mengembangkan Kurikulum 2013 sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah.

d. Metode

Imas (2014:43) mengungkapkan bahwa ada beberapa model atau metode pembelajaran yang dapat diterapkan pada Kurikulum 2013, sebagai berikut:

1) Metode Pembelajaran Kolaborasi

Strategi pembelajaran kolaborasi ini atau collaboration learning merupakan strategi yang menempatkan peserta didik dalam kelompok kecil dan memberinya tugas di mana mereka saling membantu untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan kelompok.

Strategi yang dapat diterapkan antara lain mencari informasi, proyek, kartu sortir, turnamen, tim quiz, dan lain sebagainya.

2) Metode Pembelajaran Individual

Metode pembelajaran individu atau individual learning memberikan kesempatan kepada peserta didik secara mandiri untuk dapat berkembang dengan baik sesuai dengan kebutuhan didik.

Dan strategi yang dapat diterapkan antara lain tugas mandiri, penilaian diri, portofolio, galeri proses dan lain sebagainya.

3) Metode Pembelajaran Teman Sebaya

Dengan mengajar teman sebaya peer learning memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik. Strategi yang dapat diterapkan antara lain: pertukaran dari kelompok ke kelompok, belajar melalui jigso (jigsaw), studi kasus dan proyek, pembacaan berita, penggunaan lembar kerja, dan lain sebagainya.

4) Model Pembelajaran Sikap

Aktivitas belajar afektif atau affective learning membantu peserta didik untuk menguji perasaan, nilai, dan sikap-sikapnya. Strategi yang dikembangkan dalam model pembelajaran ini didesain untuk menumbuhkan kesadaran akan perasaan, nilai dan sikap peserta didik. Strategi yang dapat diterapkan antara lain: mengamati sebuah alat bekerja atau bahan dipergunakan, penilaian diri dan teman, demonstrasi, mengenal diri sendiri, posisi penasihat.

5) Metode Pembelajaran Bermain

Permainan (game) sangat berguna untuk membentuk kesan dramatis yang jarang pesera didik lupakan. Permainan akan membangkitkan energy dan keterlibatan bagi peserta didik. Strategi

yang dapat diterapkan antara lain: tebak gambar, tebak kata, tebak benda dengan stiker yang ditempel di punggung lawan, teka-teki, sosio drama, dan bermain peran.

6) Metode Pembelajaran Kelompok

Model pembelajaran kelompok (cooperative learning) sering digunakan pada setiap kegiatan belajar-mengajar, karena selain hemat waktu juga efektif, apalagi jika metode yang diterapkan sangat memadai untuk perkembangan peserta didik. Metode yang dapat diterapkan antara lain proyek kelompok, diskusi terbuka, dan bermain peran.

7) Metode Pembelajaran Mandiri

Model pembelajaran mandiri (independent learning) peserta didik belajar atas dasar kemauan sendiri dengan mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki dengan memfokuskan dan merefleksikan keinginan. Strategi yang dapat diterapkan antara lain apresiasi-tanggapan, asumsi presumsi, visualisasi mimpi atau imajinasi, hingga cakap memperlakukan alat atau bahan berdasarkan temuan sendiri atau memodifikasi dan imitasi, refleksi karya, melalui kontrak belajar, maupun terstruktur berdasarkan tugas yang diberikan (inquiri, discovery, recovery).

8) Model Pembelajaran Multimodel

Pembelajaran Multimodel dilakukan dengan maksud akan mendapatkan hasil yang optimal dibandingkan dengan hanya satu model. Strategi yang dikembangkan dalam pembelajaran ini adalah proyek, modifikasi, simulasi, integrative, produksi, demonstrasi, imitasi, eksperiensial, kolaboratif.

e. Pendekatan Saintifik

1. Pengertian Pendekatan Saintifik

Kata “saintifik” berasal dari kata sain yang berasal dari bahasa latin yaitu scientia, dalam bahasa Inggris menjadi science (Ahmad dan Mamat, 2018:1). Arti sains adalah pengetahuan atau mengetahui.

Pendekatan scientific ialah pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran tersebut melalui proses ilmiah (Fadlillah, 2014:175). Proses ilmiah yang dimaksud adalah proses yang dilakukan dengan cara bereksperimen untuk memperoleh pengetahuan. Proses ilmiah dilakukan agar ilmu atau pengetahuan yang diperoleh memiliki sumber yang pasti, yaitu dari eksperimen yang telah dilakukan.

Menurut Hosnan (2014: 34) implementasi kurikulum 2013 dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisa data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang

“ditemukan”.

Pengertian pendekatan saintifik menurut beberapa ahli di atas hampir sama satu sama lain. Ketiga ahli mengungkapkan bahwa pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajaran yang menggunakan proses ilmiah untuk memperoleh pengetahuan.

Peneliti sendiri lebih condong pada pengertian tentang pendekatan saintifik yang diungkapkan oleh Hosnan, karena Hosnan sendiri mengungkapkan pendapatnya secara rinci dan menyeluruh, sehingga mudah untuk dimengerti dan dijadikan sebagai acuan dalam pemahaman tentang pendekatan saintifik. Hosnan juga menyebutkan bahwa pendekatan saintifik dirancang sedemikian rupa untuk membuat siswa menjadi lebih aktif, sesuai dengan tujuan Kurikulum 2013, dimana siswa menjadi pusat pembelajaran dan dituntut untuk aktif dalam pembelajaran.

2. Metode/Langkah-langkah Pendekatan Saintifik

Menurut Hosnan (2014: 39-76), pendekatan saintifik memiliki 5 tahapan pembelajaran sebagai berikut.

a. Mengamati (Observing)

Metode observasi adalah salah satu strategi pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual dan media asli dalam rangka membelajarkan siswa yang mengutamakan kebermaknaan proses belajar. Dengan metode observasi, siswa akan merasa tertantang mengeksplorasi rasa keingintahuannya tentang fenomena dan rahasia alam yang senantiasa menantang.

Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang paling penting dari suatu benda atau objek.

Adapun kompetensi yang diharapkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, dan mencari informasi. Metode observasi sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa keingintahuan siswa, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan tinggi. Dengan metode observasi, siswa menemukan fakta bahwa ada hubungan antara objek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang dibawakan oleh guru.

b. Menanya

Dalam kegiatan menanya, guru membuka kesemoatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Pada kegiatan menanya, peserta didik diharapkan dapat mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan gambar yang ada. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkret sampai pada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, ataupun hal lain yang lebih abstrak.

Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa keingintahuan peserta didik. Semakin terlatih dalam bertanya, maka rasa ingin

tahu semakin dapat dikembangkan. Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam. Guru yang efektif akan mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keteramilan, dan pengetahuannya. Pada saat bertanya, pada saat itu pula guru membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula guru mendorong peserta didik untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.

c. Mengumpulkan Informasi

Kegiatan mengumpulkan informasi dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Dalam kegiatan mengumpulkan informasi, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan sikap jujur, teliti, sopan, serta menghargai pendapat orang lain.

d. Mengolah Informasi/Menalar

Kegiatan menalar merupakan tahapan keempat dari pendekatan saintifik. Dalam kegiatan menalar, peserta didik mengolah informasi yang telah didapatkan dari kegiatan mengumpulkan informasi. Dalam hal ini, guru berperan aktif membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk dapat mengolah informasi yang telah didapatkan dengan baik.

e. Mengkomunikasikan

Tahapan terakhir dalam pendekatan saintifik adalah kegiatan mengkomunikasikan. Dalam kegiatan ini, peserta didik diharapkan mampu mengkomunikasikan hasil pekerjaan yang telah disusun baik secara bersama-sama dalam kelompok maupun secara individu. Kegiatan mengkomunikasikan dapat dilakukan dengan cara menuliskan atau menceritakan apa yang

ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, menalar, dan menemukan pola.

3. Pendekatan Saintifik pada Kurikulum 2013

Tabel 4. Indikator Proses Pembelajaran Menggunakan Pendekatan Saintifik

Langkah

Pembelajaran Deskripsi Indikator Guru Indikator Siswa

Mengamati

Teknik pengumpulan data di mana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dengan cara mengetahui karakteristiknya misal warna, bentuk, suhu, volume, berat, bau, suara, dan teksturnya.

(Abdullah Ridwan Sanu.

Pembelajaran Saintifik

2. Menampilkan media media itu pengertian

3. Melaksanakan teknik menuntun kepada guru (Sudirman, 1987:120)

2. Pertanyaan singkat dan jelas

3. Memberikan respon kepada siswa.

4. Merangsang proses interaksi

5. Memberikan waktu untuk siswa bertanya 6. Memberikan

kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang.

7. Kualitas pertanyaan untuk mendorong informasi dari objek yang akan diamati.

1. Menganalisis data

2. Menalar

informasi yang

mengumpulkan/eksperi man maupun hasil dari kegiatan mengamati dan

f. Pembelajaran Terpadu 1. Pengertian

Integrated berarti hasil dari beberapa perpaduan, apapun bentuk yang dipadukan menghasilkan sebuah wajah baru (Uum, 2017:7).

Wajah baru yang dimaksud di sini adalah hasil dari sebuah perpaduan tersebut, bukan wajah yang sebenarnya.

Joni (dalam Uum, 2017:10) mengungkapkan bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan autentik.

Pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncanakan baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan belajar anak, maka pembelajaran menjadi bermakna (Hadisubroto dalam Trianto, 2014:56).

Berdasarkan pengertian tentang pembelajaran terpadu oleh beberapa ahli di atas, peneliti lebih condong pada pengertian pembelajaran terpadu yang diungkapkan oleh Hadisubroto dan Joni, karena dalam pendapatnya, Hadisubroto mengungkapkan secara detail mengenai sebuah pembelajaran terpadu dalam konteks pembelajaran. Di lain sisi, pengertian yang diungkapkan oleh Joni juga hampir sama bobotnya dengan pengertian yang diungkapkan oleh Hadisubroto, yaitu sama-sama menjelaskan bagaimana konsep pembelajaran terpadu dalam konteks pembelajaran. Berbeda dengan pengertian yang diungkapkan oleh Uum, beliau membahas keterpaduan dalam konteks umum, bukan dalam konteks pembelajaran.

2. Model-model Pembelajaran Terpadu

Robin Forgaty (dalam Majid dan Rochman, 2014:116) mengungkapkan terdapat sepuluh cara atau model dalam merencanakan pembelajaran integratif (terpadu). Kesepuluh cara atau nodel tersebut adalah: (1) fragmented, (2) connected, (3) nested, (4) sequenced, (5) shared, (6) webbed, (7) threaded, (8) integrated, (9) immersed, (10) networked. Ada tiga pembelajaran integrative yang dipilih dan dikembangkan dalam program Pendidikan Guru Sekolah, yaitu model keterhubungan (connected), model jaring laba-laba (webbed), dan model keintegratifan (integrated).

a) Model Keterhubungan (connected) adalah model pembelajaran yang secara sengaja diusahakan untuk menghubungkan satukonsep dengan konsep lain, satu topic dengan topic lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas-tugas yang dilakuka

dalam satu hari dengan tugas-tugas yang dilakukan dalam hari berikutnya, bahkan ide-ide yang akan dipelajari pada semester berikutnya di dalam bidang studi. Tokoh yang mengembangkan model ini adalah Robert Maynard Hutchins.

b) Model jaring laba-laba (webbed) merupakan model pembelajaran integrative menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru dan siswa tetapi bisa juga dengan cara diskusi sesame guru. Setelah tema disepakati, dikembangkan sub-sub temanya dengan memerhatikan kaitannya dengan bidang-bidang studi. Dari sub-sub tema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa. Tokoh yang mengembangkan model ini adalah Lyndon B. Johnson.

c) Model keintegratifan (integrated) merupakan pembelajaran integrative yang menggunakan pendekatan antarbidang studi.

Model dengan cara menetapkan prioritas urikuler dan menemukan keterampilan, konsep, sikap yang saling tumpang tindih, di dalam beberapa bidang studi. Berbeda dengan model jaring laba-laba yang menuntut pemilihan tema dan pengembangannya sebagai langkah awal, maka dalam model keintegratifan yang berkaitan dengan tumpang tindih, merupakan hal terakhir yang ingin dicari dan dipili oleh guru dalam tahap perencanaan program. Pertama kali guru menyeleksi konsep-konsep, keterampilan, dan sikap yang diajarkan dalam satu semester dari beberapa bidang studi.

Selanjutnya dipilih beberapa konsep keterampilan dan sikap yang memiliki keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di antara berbagai bidang studi. Tokoh yang mengembangkan model ini adalah John Milton.

Menurut Majid dan Rochman (2014:117) pengorganisasian kelas di sekolah yang pada umumnya dipegang oleh guru kelas, pengatur pembelajaran integratif model jaring laba-laba (webbed) lebih memungkinkan untuk dilaksanakan. Artinya, dengan

kewenangannya mengajar semua mata pelajaran kecuali mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Olahraga, sebagai guru kelas, guru dapat mengatur sendiri cara menyajikan beberapa mata pelajarannya disesuaikan dengan ketersediaan alat pelajaran, ketersediaan waktu, ketersediaan buku pelajaran, dan kondisi minat dan kemampuan siswa.

Dokumen terkait