• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori terkait Variabel yang digunakan

Dalam dokumen , ISLAMIC CORPORATE GOVENANCE (Halaman 50-87)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Teori terkait Variabel yang digunakan

Beberapa teori dasar yang sudah diuraikan sebelumnya menjelaskan bahwa perusahaan memiliki perilaku sendiri dan motivasi dalam menjalankan usahanya, oleh sebab itu perlu penjelasan lebih lanjut terkait variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya sebagai berikut:

1. Nilai Perusahaan

Menurut Fama (1978) dan Harmono (2009) nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang bisa dilihat dari harga saham perusahaan tersebut, dimana harga pasar saham terbentuk dari pembeli dan penjual pada saat transaksi, pendapat Brigham & Ehrhardt (2005) bahwa nilai perusahaan merupakan nilai sekarang (present value) dari free cash flow di masa mendatang pada tingkat diskonto sesuai rata-rata tertimbang biaya modal. Dimana free cash flow merupakan cash flow yang tersedia bagi investor setelah memperhitungkan seluruh pengeluaran untuk operasional perusahaan dan pengeluaran untuk investasi serta aktiva lancar bersihnya. Pendapat Gitman (2006) berpandangan bahwa nilai perusahaan adalah nilai aktual per lembar saham yang akan diterima apabila asset perusahaan dijual sesuai harga saham.

Sartono (2010) berpendapat bahwa nilai perusahaan merupakan nilai jual sebuah perusahaan sebagai entitas bisnis yang sedang beroperasi. Adanya kelebihan nilai jual diatas nilai likuidasi merupakan nilai dari organisasi manajemen yang menjalankan perusahaan tersebut, sedangkan menurut (Noerirawan et,al, 2012) menerangkan bahwa nilai perusahaan merupakan kondisi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai dengan saat ini.

31

Menurut Keown, et al (2008) nilai perusahaan juga bergantung pada karakteristik operasional dan keuangan dari perusahaan yang diambil alih, ada beberapa variabel kuantitatif yang sering digunakan sebagai usaha untuk memperkirakan nilai Perusahaan, diantaranya:

a. Nilai buku

Merupakan nilai aktiva dari neraca dikurangi kewajiban yang ada atau modal pemilik. Nilai buku tidak menghitung nilai pasar dari suatu perusahaan secara keseluruhan karena menghitung nilai buku berdasarkan pada historis aktiva perusahaan.

b. Nilai appraisal

Perusahaan berdasarkan appraisal independen akan mengizinkan pengurangan terhadap goodwill apabila harga aktiva perusahaan meningkat. Goodwill dihasilkan sewaktu nilai pembelian perusahaan melebihi nilai aktivanya.

c. Nilai pasar saham

Nilai pasar saham merupakam suatu pendekatan untuk memperkirakan nilai bersih dari suatu bisnis. Pendekatan nilai merupakan salah satu yang sering digunakan dalam menilai perusahaan besar.

d. Nilai arus kas yang diharapkan

Nilai ini dipakai dalam penilaian merger atau akuisisi. Nilai sekarang dari arus kas yang telah ditentukan akan menjadi maksimal dan harus dibayar oleh perusahaan yang ditargetkan, pembayaran awal kemudian dapat dikurangi untuk menghitung nilai bersih sekarang dari merger. Nilai sekarang (present value) adalah arus kas bebas dimasa yang akan datang.

Adapun metode yang baku dalam mengukur nilai perusahaan adalah sebagai berikut: a. Price Earing Ratio (PER)

Menunjukkan berapa banyak jumlah uang yang rela dikeluarkan oleh para investor untuk membayar setiap dollar laba yang dilaporkan (Brigham & Houston, 2006). Rasio ini untuk mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh oleh para pemegang saham. Kegunaan PER adalah

32

untuk melihat bagaimana pasar menghargai kinerja keuangan yang dicerminkan oleh Earning per share (EPS)nya. PER menunjukkan hubungan antara pasar saham biasa dengan EPS. PER berfungsi untuk mengukur perubahaan kemampuan laba yang diharapkan di masa yang akan datang, semakin besar PER, maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Adapun rumus yang digunakan untuk mengukur PER adalah sebagai berikut:

……….. (2.1)

b. Price To Book Value (PBV)

Adalah rasio yang menunjukkan apakah harga saham yang diperdagangkan overvalued atau undervalued nilai buku saham tersebut. (Fakhruddin and Hadianto, 2001). Price to Book Value (PBV) menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Makin tinggi rasio ini, berarti pasar percaya akan prospek perusahaan tersebut. PBV juga menunjukkan sebarapa jauh suatu perusahaam mampu menciptakan nilai perusahaan yang relative terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Untuk perusahaan-perusahaan yang berjalan baik, umumnya rasio ini mencapai diatas satu, yang menunjukkan bahwa nilai pasar saham lebih besar dari nilai bukunya. Semakin besar rasio PBV semakin tinggi perusahaan dinilai oleh para pemodal relatif dibandingkan dengan dana yang telah ditanamkan di perusahaan Adapun rumus yang digunakan untuk mengukur PBV adalah sebagai berikut:

……….(2.2) c. Tobin‘s Q

Alternatif lain yang digunakan dalam mengukur nilai perusahaan adalah dengan menggunakan metode Tobin‘s Q yang dikembangkan oleh James Tobin. Tobin‘s Q dihitung dengan membandingkan rasio nilai pasar saham perusahaan dengan nilai buku ekuitas perusahaan (Weston & Copeland, 2001). Rasio Tobin‘s Q lebih unggul daripada rasio nilai pasar terhadap nilai buku karena rasio ini fokus pada berapa nilai

33

perusahaan saat ini secara relatif terhadap berapa biaya yang dibutuhkan untuk menggantikan saat ini. Adapun rumus Tobin‘s Q adalah sebagai berikut:

……….(2.3) Keterangan:

Tobin‘s Q = Nilai perusahaan EMV = nilai pasar ekuitas EBV =nilai buku dari total aktiva D =nilai buku dari total hutang

Weston & Copeland (2001) menjelaskan bahwa ukuran yang paling tepat dalam mengukur nilai perusahaan adalah rasio penilaian (valuation), karena rasio tersebut mencerminkan rasio (risiko) dengan rasio hasil pengembalian. Rasio penilaian sangat penting karena rasio tersebut berkaitan langsung dengan tujuan memaksimalkan nilai perusahaan dan kekayaan para pemegang saham.

Penggunaan dan pengukuran nilai perusahaan yang tidak go public atau perusahaan private setidaknya dapat diukur dengan 3 (tiga) cara diantaranya adalah:

a. Comparable Company Analysis (CCA)

Menurut Chen (2020) penggunaan metode ini mengasumsikan bahwa perusahaan serupa dalam industri yang sama memiliki kelipatan yang serupa. Mencari perusahaan yang mirip dengan penilaian target dan menentukan nilai perusahaan target menggunakan kelipatan perusahaan yang sebanding. Untuk menerapkan metode ini, yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi karakteristik perusahaan target dalam ukuran, industri, operasi dll, dan membentuk ‖peer group‖ perusahaan yang memiliki karakteristik serupa, dikumpulkan perusahaan tersebut dan dihitung rata-rata industrinya. Sementara menentukan kelipatan bergantung pada industri dan tahap pertumbuhan perusahaan, yang cocok menggunakan EBITDA dimana laba bersih disesuaikan bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi, dan menggunakan representasi perkiraan arus kas bebas. Adapun rumus penilaian perusahaan dinayatakan sebagai berikut:

34 Dimana:

M adalah rata-rata Nilai perusahaan /EBITDA dari perusahaan pembanding EBITDA perusahaan target diproyeksikan untuk 12 bulan ke depan

b. Discounted Cash Flow (DFC) Method

Menurut Fernando (2021) Penggunaan metode ini mengestimasi arus kas yang didiskontokan dari target, didasari informasi keuangan yang didapat dari pasar. Pada metode DFC ini, langkah yang harus dilakukan pertama kali adalah menentukan tingkat pertumbuhan pendapatan untuk perusahaan target dengan cara menghitung tingkat pertumbuhan rata-rata dari perusahaan yang menjadi perusahaan pembanding, kemudian memproyeksikan pendapatan perusahaan, biaya operasional, pajak dll, dan menghasilkan Free Cash Flow (FCF) dari perusahaan target, biasanya selama 5 tahun. Adapun Rumus Free Cash Flow (FCF) adalah sebagai berikut:

Free Cash Flow = EBIT (tarif 1-Pajak) + ( Penyusutan) + (amortisasi) – (Perubahan modal kerja bersih) – (Pengeluaran modal).

Namun demikian dengan penggunaan yang lebih kongkrit adalah dengan menggunakan biaya modal rata-rata tertimbang perusahaan (WACC) sebagai tingkat diskonto yang sesuai. Dalam rangka menurunkan WACC perusahaan, yang perlu diketahui adalah biaya ekuitas, biaya hutang, tarif hutang, tarif pajak, dan struktur modal. Biaya ekuitas dihitung dengan menggunakan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Kemudian yang diperlukan adalah nilai beta perusahaan diambil dari nilai beta rata-rata industri, biaya hutang tergantung pada profil kredit perusahaan target, yang mempengaruhi tingkat bunga dimana akan menimbulkan utang. Dan memperhatikan norma industri tariff pajak dan struktur modal. Setelah itu memiliki bobot hutang dan ekuitas, biaya hutang, dan biaya ekuitas.

c. First Chicago Method

Menurut Sahlman and Scherlis (2009) penggunaan metode ini merupakan kombinasi dari metode penilaian berbasis multiple-based valuation dan discounted cash flow method. Yang menjadikan metode ini unik adalah terletak pada pertimbangan berbagai kondisi dari hasil perusahaan target, dengan mengkontruksi 3 (tiga) skenario: Kondisi

35

terbaik (sesuai rencana bisnis perusahaan), kondisi dasar (skenario yang paling mungkin), dan kondisi terburuk. Probabilitas diberikan untuk setiap kondisi. Dan membuat proyeksi arus kas dengan menggunakan 2 (dua) metode sebelumnya pada skenario dan tingkat pertumbuhan selama 5 (lima) tahun. Kemudian memproyeksikan nilai terminal perusahaan dengan menggunakan model pertumbuhan Gordon, dilanjutkan penilaian setiap kondisi diturunkan menggunakan DCF, dan akhirnya dapat menentukan penilaian perusahaan target dengan mengambil rata-rata tertimbang probabilitas dari 3 (tiga) skenario.

Dari ketiga alternatif tersebut yang paling relevan dan yang paling bisa digunakan adalah menggunakan Comparable Company Analysis (CCA) yang digunakan untuk menentukan harga saham prediksi perusahaan private. Sehingga bisa menjadi alternatif perhitungan Price to Book Value (PBV) dalam menjelaskan Nilai Perusahaan.

2. Agresivitas Pajak

Agresivitas pajak merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan perusahaan untuk mengurangi kewajiban pajaknya. Menurut Frank & Rego (2009) menjelaskan bahwa agresivitas pajak adalah tindakan perencanaan pajak secara legal maupun illegal untuk menurunkan laba kena pajak. Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua perusahaan yang melakukan perencanaan pajak (tax planning) dianggap melakukan agresivitas pajak. Biasanya perusahaan sebagai wajib pajak badan memanfaatkan kelemahan yang terdapat dalam undang-undang (UU) maupun peraturan perpajakan lainnya. Kelemahan tersebut juga biasa disebut grey area, yaitu celah atau kelonggoran regulasi yang berada antara praktik perencanaan atau perhitungan pajak yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Suatu perusahaan dikatakan melakukan agresivitas pajak jika perusahaan berusaha mengurangi beban pajak secara agresif, baik menggunakan cara yang tergolong legal yakni tax avoidance atau illegal seperti tax evasion.

Walau tidak semua tindakan perencanaan pajak dilakukan secara illegal, namun semakin banyak celah yang digunakan perusahaan untuk menghindari pajak maka perusahaan dianggap semakin agresif. Pendapat lain terkait definisi agresivitas pajak.

36

Pembayaran pajak sebuah perusahaan seharusnya memiliki implikasi bagi masyarakat dan sosial dikarenakan membentuk fungsi yang penting dalam membantu mendanai penyediaan barang publik dalam masyarakat, termasuk hal-hal seperti pendidikan, pertahanan nasional, kesehatan masyarakat, transportasi umum, dan penegakan hukum (Friese, et, al, 2008). Dan pada akhirnya seperti yang ditunjukkan oleh Williams (2007), isu yang paling signifikan yang timbul dalam upaya menerapkan prinsip-prinsip CSR untuk pajak perusahaan meliputi tindakan-tindakan yang dapat mengurangi kewajiban pajak perusahaan melalui penghindaran pajak perusahaan dan perencanaan pajak. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Balakrishnan, et al (2012) bahwa perusahaan terlibat dalam berbagai bentuk perencanaan pajak untuk mengurangi kewajiban pajak yang diperkirakan.

Sedangkan Hlaing (2012) mendefinisikan agresivitas pajak sebagai kegiatan perencanaan pajak semua perusahaan yang terlibat dalam usaha mengurangi tingkat pajak yang efektif. Tidak ada definisi ataupun ukuran agresivitas pajak yang dapat diterima secara universal (Balakrishnan, et, al, 2012) dan (Hanlon & Heitzman, 2010). Sedangkan Slemrod (2004) berpendapat bahwa agresivitas pajak merupakan kegiatan yang spesifik, yaitu mencakup transaksi yang tujuan utamanya adalah untuk menurunkan kewajiban pajak perusahaan. Lebih lanjut Balakrishnan, et, al (2012) menyatakan bahwa perusahaan yang agresif terhadap pajak ditansai dengan transparansi yang lebih rendah. Demikian juga dengan Jimenez (2008) yang menyatakan bahwa bukti empiris yang menunjukkan bahwa agresivitas pajak lebih merasuk dalam tata kelola perusahaan yang lemah. Perusahaan yang melakukan tindakan pajak agresif bisa memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak melakukan praktik pajak agresif. Resiko dimaksud dapat berupa ancaman sanksi atau denda, sehingga risiko turunnya harga saham serta reputasi perusahaan, bila tindakan agresivitas pajak diketahui melanggar aturan. Harga saham yang turun ini bisa terjadi karena citra perusahaan menjadi kurang bagus di mata investor, lantaran labanya tercatat kecil. Sedangkan manajemen perusahaan merasa perlu membuat laba perusahaan menjadi lebih kecil agar pajak yang dibayarkan juga akan kecil.

37

Dari sudut pemerintah, praktik penghindaran pajak secara agresif ini jelas merugikan, akan berpengaruh terhadap penerimaan negara dari sektor pajak, namun demikian praktik agresivitas pajak juga memiliki tujuan meraih keuntungan, salah satunya adalah menghemat pengeluaran atas pajak agar keuntungan pengusaha semakin besar. Keuntungan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendanai investasi yang dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dimasa yang akan datang. Keuntungan lainnya bagi manajemen adalah agresivitas pajak bisa meningkatkan kompensasi yang diterima dari pemilik atau pemegang saham perusahaan. Tindakan Agresivitas pajak yang bisa digunakan adalah: 1. Melakukan Leverage, menggunakan leverage sebagai sumber pendanaan operasional dan investasi kegiatan sehingga memunculkan beban tetap, dan akan mengurangi laba yang didapat; 2. Mengadakan Corporate Social Responsibility (CSR), dengan memunculkan biaya CSR yang berlebihan akan membuat pendapatan yang menjadi objek pajak penghasilan perusahaan berkurang; 3. Membeli saham perusahaan lain dalam jumlah minim, hal ini dilakukan perusahaan untuk berinvestasi di perusahaan lain namun tidak besar dengan harapan akan mendapatkan Deviden sebagai pendapatan perusahaan yang tidak masuk objek pajak. Sedangkan faktor penentu perusahaan melakukan agresivitas pajak ada dua faktor utama yaitu karena Likuiditas perusahaan rendah dan Return On Asset Tinggi.

Kebanyakan proksi pengukuran agresivitas pajak memerlukan data dari laporan keuangan karena laporan pajak tidak dipublikasikan dan akses untuk mendapatkan laporan-laporan ini terbatas. Ada beberapa cara mengukur agresivitas pajak diantaranya Effective Tax Rate (ETR), Book Tax Differences (BTD), Discretionary Permanent BTDs (DTAX), Unrecognize Tax benefit, Tax shelter Activity dan Marginal tax rate. Menurut Rego & Wilson (2011) menjelaskan bahwa tidak ada proksi agresivitas pajak yang dapat menangkap secara sempurna adanya agresivitas pajak, namun demikian dalam rangka memahami tingkat agresifitas pajak pada industri perbankan syariah perlu alat ukur yang mampu memperlihatkan besaran pajak yang dibayarkan, sehingga rasio yang tepat untuk mengukur agresivitas pajak pada penelitian ini adalah menggunakan Effective Tax Rate

38

(ETR), dimana definisi ETR adalah salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengukur

agresivitas pajak. Effective tax rate (ETR) melihat beban pajak yang dibayarkan pada tahun berjalan, yang berisi beban pajak saat ini dan beban pajak tangguhan (Dyreng, 2009). Beberapa peneliti seperti (Timothy, 2010; Balakrishnan, et, al, 2012; Lanis & Richardson, 2011) menggunakan ETR untuk mengukur agresivitas pajak. Lanis & Richardson (2011) menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan menggunakan ETR sebagai proksi untuk mengukur Agresivitas pajak, dan menjadikan ETR menjadi proksi yang paling banyak digunakan dalam literature dan dapat diterapkan di laporan keuangan perbankan syariah serta lebih didasari karena ketersediaan data yang ada pada perusahaan private dan khususnya perbankan syariah. Nilai yang rendah dari ETR dapat menjadi indikator adanya agresivitas pajak. Secara keseluruhan perusahaan-perusahaan yang menghindari pajak perusahaan dengan mengurangi penghasilan kena pajak mereka dengan tetap menjaga laba akuntansi keuangan memiliki nilai ETR yang lebih rendah. Dengan demikian ETR dapat digunakan untuk mengukur agresivitas pajak. Adapun rumus dari ETR adalah sebagai berikut:

Effective Tax Rate (ETR) =

………..…..(2.2) Keterangan :

ETR : Effective Tax Rate

Beban Pajak : Beban pajak penghasilan perusahaan i pada tahun t

Laba Sebelum Pajak : Laba sebelum pajak perusahaan i pada tahun t

3. Earning Management

Munculnya konflik keagenan disebabkan oleh adanya asimetri informasi antara manajer dan pemegang saham (Jensen & Meckling, 1976). Manajer yang lebih dekat dalam kegiatan operasional perusahaan akan cenderung memiliki lebih banyak informasi yang berkaitan dengan perusahaan. Asimetri informasi tersebut membuat para manajer dapat dengan leluasa untuk melakukan manajemen laba. Manajemen laba merupakan upaya untuk mengubah, menyembunyikan, dan merekayasa angka-angka dalam laporan keuangan serta mempermainkan metode dan prosedur akuntansi yang digunakan oleh perusahaan (Sulistyanto, 2008) Perusahaan yang melakukan manajemen laba dapat

39

menyebabkan laporan keuangan tidak lagi mencerminkan nilai perusahaan yang sesungguhnya. Hal tersebut akan berdampak pada pihak eksternal seperti investor sebagai pihak yang menggunakan informasi pada laporan keuangan tersebut. Investor akan mengalami kegagalan dalam menentukan investasi yang tepat dan dapat menimbulkan konsekuensi kesalahan alokasi dana kepada perusahaan yang tidak prospektif. Manajemen laba juga dapat terjadi karena kebebasan penggunaan metode dan estimasi akuntansi Bartov (1993).

Menurut Scott (2003) mendefinisikan earning management sebagai ―the choice by a manager of accounting policies so as to achieve some specific objective‖ atau pilihan yang dilakukan manajer dalam menentukan kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan tertentu. Menurut Sugiri (1998), definisi earning manajement dibagi dalam dua definisi yaitu:

a. Definisi dalam arti sempit

Earning Management dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earning management dalam arti sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk ―bermain‖ dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya earnings.

b. Definisi dalam arti luas

Earning management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) labayang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut.

Surifah (1999) memberikan pendapat bahwa earning management dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan ketika digunakan untuk pengambilan keputusan, karena earning management adalah suatu bentuk manipulasi laporan keuangan yang menjadi target komunikasi antara manajer dan pihak eksternal perusahaan. Sedangkan menurut Salno & Baridwan (2000) menggunakan pendekatan teori agensi yang menyatakan bahwa "praktik manajemen laba dipengaruhi oleh konflik

40

antara kepentingan manajemen (agent) dan pemilik (Principal) yang timbul karena masing-masing pihak berusaha mencapai atau mempertimbangkan tingkat kemakmuran yang diinginkannya".

Teori keagenan memiliki asumsi bahwa setiap individu semata-mata dimotivasi oleh kepentingannya sendiri, menyebabkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Principal termotivasi untuk mengadakan kontrak untuk meningkatkan kesejahteraannya dengan keuntungan yang terus meningkat. Agent termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologis mereka, termasuk dalam hal mendapatkan investasi, pinjaman, atau kontrak kompensasi. Konflik kepentingan meningkat, terutama karena principal tidak dapat memonitor kegiatan manajemen harian untuk memastikan bahwa manajemen bekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham (pemilik). Ada dua cara untuk memahami manajemen laba,yaitu sebagai berikut:

a. Melihat manajemen laba sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimalkan utilitas mereka dalam berurusan dengan kontrak kompensasi, utang, dan biaya politik.

b. Melihat manajemen laba dari perspektif kontrak yang efisien, yang berarti bahwa manajemen laba memberikan fleksibilitas kepada manajer untuk melindungi diri mereka sendiri dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian tak terduga untuk kepentingan mereka yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer mungkin dapat mempengaruhi nilai pasar perusahaan mereka melalui manajemen laba. Watts & Zimmermen (1986) menjelaskan bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh manajemen melalui manajemen laba meliputi: mendapatkan bonus dan kompensasi lainnya, memengaruhi keputusan para pemain pasar modal, menghindari biaya politik. Berdasarkan pertimbangan biaya dan manfaat, manajemen diizinkan untuk memilih dan menerapkan metode akuntansi. Ini adalah alasan utama bagi manajer untuk melakukan manajemen laba. Adapun Scott (2003)

41

menjelaskan beberapa motivasi yang mendorong manajemen untuk membuat manajemen laba, termasuk yang berikut:

a. Motivasi Bonus, manajer akan mencoba mengatur laba bersih untuk memaksimalkan bonus.

b. Motivasi kontrak, terkait dengan hutang jangka panjang, yaitu manajer meningkatkan laba bersih untuk mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami gagal bayar teknis.

c. Motivasi politik, aspek politik ini tidak dapat dipisahkan dari perusahaan, terutama perusahaan besar dan industri strategis karena kegiatannya melibatkan kehidupan banyak orang.

d. Motivasi pajak, pajak adalah salah satu alasan utama perusahaan mengurangi laba bersih yang dilaporkan.

e. Pergantian CEO (Chief Executive Officer), banyak motivasi muncul berkaitan dengan CEO, seperti CEO mendekati pensiun akan meningkatkan bonus, CEO yang kurang berhasil dalam meningkatkan kinerja mereka untuk menghindari dipecat, CEO baru untuk menunjukkan kesalahan dari CEO sebelumnya.

f. Initial Public Offering (IPO), manajer perusahaan publik membuat manajemen laba untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi untuk saham mereka dengan harapan mendapatkan respons pasar yang positif terhadap ramalan pendapatan sebagai sinyal nilai perusahaan.

g. Motivasi pasar modal, misalnya, untuk mengungkapkan informasi pribadi yang disimpan oleh perusahaan kepada investor dan kreditor.

Banyak cara dapat dilakukan oleh manajer untuk mempengaruhi waktu, jumlah, atau makna transaksi dalam pelaporan keuangan dengan memilih metode akuntansi dan penilaian akuntansi (Merchant & Rockness, 1994). Menurut Scott (2003) berbagai pola yang sering dilakukan oleh manajer dalam manajemen laba menyatakan terdapat empat bentuk manajemen laba yang dapat dilakukan oleh manajer yaitu taking a bath, income decreasing, income increasing, dan income smoothing.

42

Praktik manajemen laba dalam perusahaan merupakan hal yang sangat logis. Jika fleksibilitas akuntansi memungkinkan manajer mempengaruhi suatu keputusan, dan secara legal (dalam batas tertentu) merupakan praktik yang sah, sudah tentu manajer akan melakukannya. Besarnya kesempatan dan insentif manajer melakukan manajemen laba mendorong para peneliti untuk mengevaluasi praktik manajemen laba. Yang sulit bagi para peneliti untuk mengeksplorasi praktik manajemen laba adalah keterbatasan metodologi untuk membuktikan praktik manajemen laba, karena pada dasarnya manajemen laba memang sulit untuk dideteksi.

Sedangkan jika melihat kerangka perspektif Islam terkait Earning Management diawali bahwa Islam hadir membawa perdamaian dengan selalu taat pada kehendak Allah SWT, dengan memegang dua prinsip yaitu Al Qur‘an sebagai kitab suci yang diturunkan oleh Allah dan Hadist yang berisi tindakan yang diilhami Allah: ucapan Nabi Muhammad SAW dan deskrpsi perilakunya. Kedua prinsip ini membangun sumber hukum Islam (Abdul Rahman, 2003). Pemisahan antara dimensi duniawi dan dimensi spiritual tidak ada dalam Islam, dan Islam memandang etika sebagai bagian dari

Dalam dokumen , ISLAMIC CORPORATE GOVENANCE (Halaman 50-87)