• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.2. Teori yang Digunakan

Secara etimologi, teori berasal dari kata Theoria (Yunani), berarti kebulatan alam atau relita. Teori diartikan sebagai kumpulan konsep yang telah teruji keterandalannya melalui kompetensi ilmiah yang dilakukan dalam penelitian. Teori merupakan hal yang sangat perlu didalam menganalisis suatu karya sastra yang diajukan sebagai objek penelitian, karena teori adalah landasan berpijak. Teori merupakan suatu hal yang sangat

diperlukan didalam menganalisis suatu karya sastra yang diajukan sebagai objek, karena teori adalah landasan berpijak.

2.2.1 Teori Struktur Naratif

Teori struktur naratif merupakan teori sastra dalam kelompok teori postrukturalisme naratologi. Oleh karena itu teori struktural dapat dimanfaatkan untuk penelitian folklor pada umumnya. Namun perkembangan selanjutnya teori struktural juga dapat dimanfaatkan bagi folklor pada umumnya. Hampir setiap gendre folklor memiliki struktur tertentu. Tiap struktur terkait dengan makna secara keseluruhan.

Lebih dari itu, teori struktural ini juga banyak dimanfaatkan bagi pengkaji sastra lisan yang berhubungan dengan legenda atau cerita rakyat. Aspek-aspek fiksi dan fantasi dalam prosa rakyat tersebut menjadi inti kajian. Kajian ditekankan pada unsur-unsur pembangun sebuah teks. Perkembangan selanjutnya teori struktural dapat merambah kesegala bentuk folklor. Oleh karena itu tiap foklor memiliki bentuk yang jelas, tentu strukturnyapun dapat dipahami.

Analisis struktural tidak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi, misalnya tema, alur, latar/setting dan perwatakan/penokohan (Nurgiantoro (2007 :38). Namun yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antar unsur itu, dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai. Hal itu perlu dilakukan mengingat bahwa karya sastra sebuah struktur yang kompleks dan unik, di samping di setiap karya mempunyai ciri kompleksan dan keunikannya sendiri, dan hal inilah antara lain yang membedakan antara karya yang satu dengan karya yang lain.

1. Tema

Tema adalah gagasan (makna) dasar umum yang menopang sebuah karya sastra sebagai struktur semantis dan bersifat abstrak yang secara berulang–ulang dimunculkan lewat motif-motif dan biasanya dilakukan secara implisit. Hartoko dan Rahmanto (Burhan Nurgiyantoro, 2018) Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.

2. Alur atau plot

Alur atau plot adalah awal peristiwa yang ditampilkan dalam sebuah teks fiksi yang secara teoritis dapat diurutkan dan dikembangkan secara kronologis. Dengan demikian, tahap awal cerita tidak harus berada diawal cerita atau di bagaian awal teks, melainkan dapat terletak dibagian mananpun. Tanpa alur kita tidak akan tau jalan cerita tersebut apakah alur maju, alur mundur atau alur bolak-balik. Aristoteles (Burhan Nurgiyantoro, 2018), megemukakan alur atau plot harus terdiri dari tahap awal (beginning), tahap tengah (middle), tahap akhir (end).

3. Latar atau setting

Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu sejarah, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepeda pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Latar atau setting adalah keterangan tentang tempat, waktu dan suasana terjadinya suatu peristiwa dalam suatu peristiwa. Dengan demikian, pembaca merasa difasilitasi dan dipermudah untuk

mengoperasikan daya imajinasinya, di samping dimungkinkan untuk berperan serta secara kritis sehubungan tentang pengetahuannya dengan latar.

Unsur-unsur latar menurut (Nurgiyantoro 2007 : 227) dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.

a) Latar tempat

Latar tempat adalah suatu unsur latar yang mengarah pada lokasi dan menjelaskan dimana peristiwa itu terjadi. Bila latar tersebut termasuk latar tipikal, akan disebut nama dan tempat tersebut.

b) Latar Waktu

Latar waktu merupakan unsur latar yang mengarah pada kapan terjadinya suatu peristiwa didalam sebuah cerita fiksi. Waktu dalam latar dapat berupa masa terjadinya peristiwa tersebut dikisahkan, waktu dalam hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan lain sebagainya.

c) Latar sosial

Latar sosial adalah latar yang menjelaskan tata cara kehidupan sosial masyarakat yang meliputi masalah-masalah dan kebiasaan-kebiasaan pada masyarakat tersebut. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, kenyakinan, cara berpikir dan lain sebagainya.

4. Perwatakan/penokohan

Perwatakan/penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga dapat diketahui karakter atau sikap para tokoh itu. Dalam pembicaraan

sebuah cerita fiksi, sering dipergunakan istilah-istilah seperti tokoh dan penokohan watak dan perwatakan atau karakter dan karakterisasi secara bergantian dengan menunjukkan pengertian yang hampir sama. Penokohan dan karesteristik sering juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan, menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro 2007 :165). Perwatakan tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra ada beberapa watak :

a) Tokoh Protagonis

Tokoh yang dikagumkan yang salah satunya secara popular yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nialai, yang ideal bagi pembaca/penikmat karya sastra.

b) Tokoh Antagonis

Tokoh penyebab terjadinya konflik, beroperasi dengan tokoh protagonis.

c) Tokoh Trigonis

Tokoh yang memiliki sifat protagonist dan antagonis atau tokoh yang berada diluar kedua tokoh/pihak ketiga.

2.2.2 Teori Fungsi

Konsep teori fungsi folklor sebenarnya telah lama berkembang. Bahkan, dikalangan folkloris antropologis, teori fungsi telah tergolong klasik. Teori fungsionalisme Malinowski, yang menganggap budaya itu berfungsi bila terkait dengan kebutuhan dasar manusia, sebenarnya yang mendasar teori fungsi. Namun, teori ini dibantah oleh ahli-ahli lain, seperti halnya Radcliffe-Brown, yang mengemukakan agar fungsi dikaitkan dengan struktur.

Hal tersebut diakui oleh Dorson dalam buku Suwardi Endraswara (2009:124) bahwa teori fungsi folklor juga telah berkembang luas juga di Amerika. Sejak Boas

menerapkan dan Benedict menerapkan etnografi budaya, terungkap bahwa folklor mampu mencerminkan norma budaya. Hal ini semakin tampak lagi ketika Bascom mengungkap fungsi folklor dengan memperluas pandangan Malinowski. Inti dari penelitian mereka, tampak antara lain folklor ritual memiliki fungsi mimpi menentramkan hati (ego-reassurance).

Konsep fungsi folklor memang bersifat lentur. Banyak ahli yang memiliki rumusan, sesuai dengan bidang masing-masing dalam mengartikan fungsi. Hal ini juga diakui oleh Hutomo dalam buku Suwardi Endraswara (2009:125) bahwa konsep fungsi diantara para ahli ilmu-ilmu sosial belum ada kata sepakat.

Bascom dalam buku Endraswara (2009:125) folklor mempunyai empat fungsi, yakni sebagai berikut: (1) cerminan atau proyeksi angan-angan pemiliknya, (2) alat pengesah pranata dan lembaga kebudayaan, (3) alat pendidikan, (4) alat penekan atau pemaksa berlakunya tata nilai masyarakat (means of social pressure) dan pengendalian perilaku masyarakat (exercisian social control). Fungsi-fungsi semacam ini, dapat dilacak berdasarkan data dilapangan. Fungsi tersebut masih dapat berkembang. Varian-varian fungsi folklor masih dapat dimungkingkan, sejauh didukung oleh data yang jelas.

Berbagai konsep teoritis fungsi folklor diatas, rupa-rupanya telah banyak diterapkan oleh peneliti di Indonesia. Peneliti-peneliti banyak yang mencoba mengangkat aspek fungsi, agar menemukan relevansi dan pragmatika folklor secara eksplisit.

BAB III

METODE PENELITIAN

Metologi berasal dari kata metode dan kata logos. Metode artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu ilmu pengetahuan. Penelitian adalah suatu usaha untuk mengumpulkan, mencari dan menganalisis fakta-fakta mengenai sesuatu masalah.

3.1 Metode Dasar

Metode dasar yang penulis lakukan adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Alasan penulis menggunakan metode ini karena sumber utama metode penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Metode tersebut dipilih karena data yang digarap adalah kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Dengan demikian dalam penelitian ini penulis hanya mandiskripsikan data-data fakta yang terdapat didalam cerita sehingga diketahui unsur-unsur pembentuk ceritanya.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang digunakan sebagai tempat penelitian adalah di desa Sarimarrihit, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir. Tempat Batu Sawan ini terletak di bawah Kaki Dolok Pusuk Buhit. Batu Sawan bertempat di Desa Simarrihit.

3.3 Sumber Data Penelitian

Sumber data terkait dengan subjek penelitian dari mananya data diperoleh. Subjek penelitian sastra adalah teks-teks novel, cerita rakyat/ legenda, drama dan puisi. Dalam sikripsi ini adalah legenda.

Sumber data menurut (Zuldafrial 2012:46) “adalah subjek dari mana data dapat diperoleh”. Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data diperoleh yang terbagi atas dua bagian, yaitu :

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah sumber data-data mentah yang diperoleh dari lapangan

dan belum pernah di analisis.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber data yang sudah pernah diteliti dan dijadikan

acuan untuk penelitian selanjutnya dari sudut pandang orang lain.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan sumber data primer berupa hal-hal yang mencakup keterangan nilai-nilai sosial dalam legenda Batu Sawan di kecamatan Sianjur Mula-Mula.

3.4 Instrumen Penelitian

Insrumen penelitian merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi yang bermanfaat untuk menjawab permasalahan penelitian. Alat bantu yang digunakan peneliti antara lain :

1. Alat rekam (tape recorder) penulis gunakan untuk mengumpulkan data, karena tidak semua data dapat ditulis berupa catatan-catatan lapangan mengingat waktu penelitian yang memakan waktu tidak sedikit.

2. Pulpen alat tulis digunakan untuk menulis atau mencatat data-data yang diperoleh dari lapangan.

3. Buku tulis

Catatan-catatan mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam proses obsevasi sehingga dapat mempermudah penulis untuk mengingat dan menemukan kembali data-data yang telah diperoleh yang selanjutnya akan dituangkan dalam penulisan proposal skripsi.

4. Daftar pertanyaan (kusioner)

Merupakan tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepeda informan untuk memudahkan memperoleh data-data yang akan dituangkan dalam penulisan skripsi.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah:

1. Metode Observasi

Metode ini dilakukan untuk mengamati secara langsung tempat penelitian untuk mendapatkan informasi data yang dibutuhkan, teknik yang digunakan penulis adalah teknik mencatat.

2. Metode Wawancara

Metode ini digunakan untuk memperoleh keterangan lebih lengkap tentang cerita dan penulis akan melakukan wawancara dengan beberapa informan, teknik yang digunakan adalah teknik rekam.

3. Metode Kepustakaan

Metode ini dilakukan untuk mendapat sumber acuan penelitian, agar data yang didapatkan dari lapangan dapat diolah semaksimal mungkin sesuai tujuan yang digariskan. Teknik yang digunakan yaitu teknik mencatat.

3.6 Metode Analisis Data

Metode analisis data adalah metode atau cara dalam mengolah data mentah sehingga menjadi data akurat dan ilmiah. Pada dasar dalam menganalisis data diperlukan imajinasi dan kreatifitas sehingga diuji kemampuan peneliti dalam menalar sesuatu. Metode yang digunakan penulis dalam menulis data adalah metode intrinsik dan metode etnografi dan langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam menganalisis cerita Batu Sawan adalah :

1. Mengeliminasi data yaitu membuang data yang tidak cocok dan mencocokkan data

Yang baik.

2. Menganalisis unsur-unsur instrinsik legenda Batu Sawan.

3. Menganalisis fungsi legenda Batu Sawan.

4.Membuat kesimpulan.

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Unsur-unsur Intrinsik Pada Legenda Batu Sawan

4.1.1 Tema

Didalam legenda Batu Sawan, penulis menyatakan bahwa tema legenda Batu Sawan adalah: Batu Sawan merupakan sebuah tempat suci untuk berdoa untuk meminta berkat dan di mana air Batu Sawan dapat berfungsi sebagai obat bagi siapa saja yang mempercayainya.

Hal ini dapat kita lihat dari kutipan legenda Batu Sawan halaman 60 paragraf 1:

Dung disada tingki taon 1998 ro ma Oppung ta si Raja Uti marboa-boa tu parnipion ni pinomparna na margoar Jonger Limbong, na mandok “uhalma tawar pangurason ki,uhalma paridian ki Alana boe gabe ubat i” ima boa-boa ro tu nipi nai. Holan adong songoni tu parnipion nai dilului si Jonger Limbong ma inganan ni adong do dua minggu, dung dapot di elek ma akka oppung ta i sae hona elek oppung tai di korek ma lokasi batu Sawan sampe do marbulan-bulan asa dapot bentuk ni Batu Sawan i jala adong do halaki opat halak, dung sae hona paias dohot hona tata hona paboa ma mardongan napuran tu oppung tai.

Terjemahan:

„ Suatu ketika pada tahun 1998 datanglah Oppung Raja Uti memberitahukan kepada keturunanya yang bernama Jonger Limbong lewat mimpi yang mengatakan,

“galilah air suci pemandianku,karena air itu bias menjadi obat” itulah petunjuk yang

datang melalui mimpinya. Setelah kejadian itu Jonger Limbong mecari tempat itu selama dua minggu. Setelah dia menemukan tempat pemandian Oppung Raja Uti, Jonger Limbong berdoa dan memohon dengan mengapit daun sirih dikedua telapak tangannya, setelah itu mereka menggali dan mengorek-ngorek lokasi Batu Sawan bersama tiga orang temannya. Mereka menemukan bentuk Batu Sawan, setelah mereka selesai membersikan dan menata Batu Sawan, mereka berdoa untuk memberitahukan kepada Oppung Raja Uti.

4.1.2 Alur / Plot

Dalam legenda Batu Sawan penulis menyatakan bahwa Alur/plot adalah : alur maju yang merupakan jalan peristiwa yang dimulai dari awal hingga akhir. Aristoteles (Burhan Nurgiyantoro, 2018), mengemukakan alur atau plot harus terdiri dari tahap awal

(beginning), tahap tengah (middle), tahap akhir (end).

Alur atau plot dari legenda Batu Sawan adalah sebagai berikut :

1.Tahap Awal (beginning)

Tahap awal sebuah cerita biasanya disebut sebagai tahap perkenalan. Tahap perkenalan pada umumnya berisi sejumlah informasi penting yang berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap-tahap berikutnya.

Hal ini dapat dilihat dalam kutipan legenda Batu Sawan halaman 60 paragraf 1 :

Najolo disada huta namargoar Sianjur Mula-mula adong ma sada saripe na margoar Raja Guru Tatea Bulan ima anak ni si Raja Batak siakkangan dohot

parsondukna Si Baso Bolon. Raja Guru Tatea Bulan adong ma ianakhon na sampulu, lima baowa lima boru. Anak na lima I ima na margoar Si Raja Margeleng-geleng,

Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja. Malau Raja, dohot boruna na lima i ima namargoar Sibiding Laut, Siboru Pareme,Siboru Anting Sabungan, Siboru Nantinjo, dohot Siboru Pungga Hamuatan. Sian sude ianakhon ni Raja Guru Tatea Bulan Si Raja Margeleng-geleng ma na paling sakti/anak siangkangan.

Terjemahan:

„ Pada jaman dahulu di suatu Desa yang bernama Sianjur Mula-Mula hiduplah suatu keluarga yang bernama Raja Guru Tatea Bulan (anak si Raja Batak yang paling sulung) dan istrinya si Baso Bolon. Raja Guru Tatea Bulan memiliki sepuluh anak, lima laki-laki dan lima perempuan. Anak laki-laki bernama Si Raja Margeleng-geleng, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, Malau Raja dan anak perempuan yang bernama Si Biding Laut, Siboru Pareme, Siboru Anting Sabungan, Siboru Nantinjo dan Siboru Pungga Hamuatan. Dari semua anak Raja Guru Tatea Bulan, Siraja Margeleng-gelenglah yang paling sakti (anak sulung).‟

2. Tahap Tengah (middle)

Tahap tengah cerita yang dapat sebagai tahap pertikaian menampilkan pertentangan atau konflik yang semakain meningkat.

Hal ini dapat dilihat dalam kutipan legenda Batu Sawan halaman 60 paragraf 2 :

Si Raja Margeleng-geleng tubu sian bortian ni Si Baso Bolon dang adong simangido dohot simanjojakna gabe songon tabu-tabu ma ibana. Alani parsorion ni Raja Margeleng-geleng gabe tubu di rohana na leas rohani jolma mangida ibana.

Disada tingki ditaruhon Raja Guru Tatea Bulan dohot parsondukna Si Baso Bolon ianakhon na siakkangan na margoar Si Raja Margeleng-geleng ima tu sada batu

liang na margoar Batu Sondi. Alani ahama asa ditaruhon Raja Si Margeleng-geleng tu Batu Sondi i, ima alani siak ni bagi di baen Oppung Debata Mula Jadi Nabolon dang adong simangido dohot simanjojakna jala dang marholi-holi na gabe songon tabu-tabu.

Martaon-taon marbulan-bulan dang adong parhusoran manang pargantian ni pamatangna, jala ala ninon dapot ma ditingki na martongga ma Raja Guru Tatea Bulan dohot parsondukna Si Baso Bolon tu Oppung Debata Mula Jadi Nabolon alai ido na manompa jala ido na manongos, jala haporseaon ni nasida ikkon boe

paubaonna tompana. Dung disada tingki leleng diparlelengan lalap diparlalapan dapot ma diarina tagi ma Oppung Debata Mula Jadi Nabolon ditongos ma aek paridianna sian Dolok Pusuk Buhit ima na rot u toru manang tu joloni inganan ni Raja Si Margeleng-geleng ima Aek Batu Sawan na marlapatan sampur na pitu paranggiran manang pangurasan ni Raja Si Margeleng-geleng.

Terjemahan :

„ Si Raja Margeleng-geleng lahir dari rahim si Baso Bolon tidak memiliki tangan dan kaki seperti tidak layaknya manusia. Karena si Raja Margeleng-geleng lahir tidak sempurna maka timbullah dalam hatinya bahwa saudaranya akan sepele melihatnya.

Disuatu waktu Raja Tatea Bulan bersama istrinya si Baso Bolon mengantar anak sulungnya yang bernama Raja Si Manggeleng-geleng ke suatu Goa yang bernama Batu Sondi. Raja Si Margeleng-geleng diantar ke dalam Batu Sondi karena kondisi fisiknya yang kurang sempurna di ciptakan oleh Oppung Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) tidak memilik tangan dan tidak memiliki kaki, sehingga Raja Si Margeleng-geleng terlihat seperti labu.

Bertahun-tahun lamanya Si Raja Guru Tatea Bulan bersama istrinya Si Baso Bolon melihat tidak ada perkembangan dan pertumbuhan Si Raja margeleng-geleng. Pada saat itu tibalah waktunya Raja Guru Tatea Bulan dan istrinya Si Baso Bolon berdoa ke pada Oppung Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa), karna dialah yang menciptakan dan menitipkan, dan mereka percaya Oppung Debata Mula Jadi Nabolon mampu mengubah kekukarangan anaknya Si Raja Margeleng-geleng. Pada suatu waktu, udah lama menunggu doa mereka dikabulkan akhirnya Oppung Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) mendengarkan doa Si Raja Guru Tatea Bulan dan istrinya si Baso Bolon. Oppung Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa), mengalirkan air tempat pemandiannya dari bukit Pusuk Buhit yang mengalir didepan tempat tinggal Si Raja Margeleng-geleng yang bernama aek Batu Sawan yang berarti mata air penyucian Si Raja Margeleng-geleng.‟

3. Tahap akhir (end)

Tahap akhir sebuah cerita atau dapat juga disebut sebagai tahap menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks.Bagian ini berisi bagaiman kesudahan cerita.

Hal ini dapat dilihat dari kutipan legenda Batu Sawan halaman 64 paragraf 8:

Songon i ma turi-turian ni aek Batu Sawan jala adong do tonani oppung ta tu pinomparna ima na mandok “manang na ise pe na ro tu aek Batu Sawan on unang marsihata-hataan, sandok ise ro tuson lao mangalap pasu-pasu ma, na mangalap ubat ma, jala unang marsiadu sakti.

Terjemahan :

„ Demikianlah Legenda Batu Sawan dan Raja Uti berpesan kepada semua

keturunanya, “siapaun yang datang ke tempat pemandian air Batu Sawan ini jangan saling membicarakan satu dengan yang lain,siapapun yang datang ketempat ini hanya untuk mencari berkat dan mengambil air Batu Sawan sebagai obat, bukan untuk beradu kesaktian.‟

4.1.3 Latar atau Setting

Latar tempat dalam legenda Batu Sawan ini adalah terjadi di Sianjur Mula-Mula.

Cerita ini terjadi di bawah kaki bukit Pusuk Buhit, terletak di Desa Sarimarrihit Kecamatan Sianjur Mula-Mula Kabupaten Samosir.

Dalam legenda Batu Sawan ini terdapat tiga latar, yaitu :

1. Latar Tempat

2. Latar Waktu

3. Latar sosial

a) Latar Tempat

Latar tempat menunjuk pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Legenda Batu Sawan di latarkan pada 8 tempat yakni : Sianjur Mula-Mula, Batu Sondi, Puncak Pusuk Buhit, Air Malum, Tala-Tala, Barus, Aceh dan Pulau Jawa.

Latar tempat di Sianjur Mula-Mula dapat di lihat dalam kutipan legenda Batu sawan halaman 60 paragraf 1 :

Najolo disada huta namargoar Sianjur Mula-mula adong ma sada saripe na margoar Raja Guru Tatea Bulan ima anak ni si Raja Batak siakkangan dohot parsondukna Si Baso Bolon.

Terjemahan :

„ Pada jaman dahulu di suatu Desa yang bernama Sianjur Mula-Mula hiduplah suatu keluarga yang bernama Raja Guru Tatea Bulan (anak si Raja Batak yang paling sulung) dan istrinya si Baso Bolon.‟

Latar tempat di Batu Sondi dapat dilihat dalam kutipan legenda Batu Sawan halaman 60 paragraf 2 :

Disada tingki ditaruhon Raja Guru Tatea Bulan dohot parsondukna Si Baso Bolon ianakhon na siakkangan na margoar Si Raja Margeleng-geleng ima tu sada batu liang na margoar Batu Sondi.

Terjemahan :

„ Disuatu waktu Raja Tatea Bulan bersama istrinya si Baso Bolon mengantar anak sulungnya yang bernama Raja Si Manggeleng-geleng ke suatu Goa yang bernama Batu Sondi.‟

Latar tempat Pusuk Buhit dapat di lihat dalam kutipan legenda Batu Sawan halaman 62 paragraf 5 :

Sai diulanghin Si Raja Miak-miak ma muse maridi tu aek Batu Sawan i lam boe

Sai diulanghin Si Raja Miak-miak ma muse maridi tu aek Batu Sawan i lam boe

Dokumen terkait