HASIL DAN PEMBAHASAN Pemodelan struktur gedung Tanoto
1. Tepat Guna Lahan ( Appropriate Site Development – ASD )
Aspek ASD membahas tentang kebijakan perusahaan terhadap pengelolaan tata guna lahan. Tata guna laham yang dimaksud ialah semua lahan yang terbangun ataupun tidak terbangun yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan perusahaan. Hal ini tercakup dalam pembangunan infrastruktur, tersedianya ruang terbuka hijau (RTH), dan fasilitas pelengkap lainnya, seperti jaringan dan moda transportasi, utilitas, komunikasi, serta berbagai fasilitas umum lainnya. Keterhubungan dengan semua fasilitas dan infrastruktur ini dapat memberikan kemudahan sehingga efisiensi energi dan biaya tercapai.
Aspek tepat guna lahan diharapkan mampu mengurangi pengaruh negatif dari perubahan guna lahan oleh pembanguna terhadap lingkungan. Rating dan penilaian dalam aspek ASD terdiri dari 2 rating prasyarat dan 8 rating biasa dengan total maksimal adalah 16 poin. Hasil penilaian terhadap rating aspek ASD berdasarkan GBCI adalah sebagai berikut :
Site Management Policy
Peraturan pemeliharaan tapak merupakan kriteria prasyarat yang berisi adanya komitmen atau kebijakan mengenai pemeliharaan eksterior bangunan. Berdasarkan hasil wawancara terhadap pihak manajemen, terdapat komitmen dalam usaha pemeliharaan eksterior bangunan seperti dinding bangunan. Usaha pemeliharaan diberikan pada pihak ketiga yaitu PT Pola Gondola Adiperkasa (Gambar 10). PT Pola Gondola Adiperkasa merupakan perusahaan spesialis yang bergerak dalam usaha membangun gondola, menyewa dan pemeliharaan, bagian dan aksesoris bangunan.
Motor Vehicle Reduction Policy
Pada kategori ini, manajemen puncak IPB telah mengimplementasikan komitmen pengurangan penggunaan kendaraan bermotor pribadi di dalam kampus. Komitmen tersebut diimplementasikan melalui kebijakan Green Transportation yang dituangkan ke dalam Keputusan Rektor Institut Pertanian Bogor nomor 240/IT3/LK/2015 tentang Pelaksanaan Green Transportation di Lingkungan Kampus IPB.
Gambar 10 Pemeliharaan eksterior bangunan oleh pihak ketiga PT Gondola Adiperkasa
Gambar 11 Transportasi dalam kampus berupa bus dan mobil listrik
Tabel 14 Hasil pengukuran ketersediaan fasilitas umum di Gedung Tanoto IPB
No Keterangan Jarak (m)
1 ATM center 800
2 Rumah Sakit Hewan IPB 1200
3 Bank Mandiri 1300 4 Poliklinik IPB 400 5 Perpustakaan LSI 450 6 Supermarket Alfamidi 650 7 SMU Kornita 240 8 Mesjid Al Hurriyah 750 9 Bank BNI 950 10 Halte 950 Community Accessibility
Tolok ukur dalam aspek aksesibilitas dan komunitas ini meliputi 3 tolok ukur. Tolok ukur yang pertama ialah adanya minimal 5 jenis fasilitas umum dalam pencapaian jalan utama sejauh 1500 m dari tapak bangunan. Pada gedung Tanoto terdapat lebih dari 5 fasilitas umum dalam jarak 1500 m dari tapak yang dapat dilihat pada Tabel 14.
Tolok ukur kedua adalah tersedianya fasilitas pejalan kaki yang aman, nyaman dan bebas dari perpotongan akses kendaraan bermotor untuk menghubungkan 3 fasilitas umum sesuai dari tolok ukur pertama. Gedung Tanoto tidak memiliki jalur yang nyaman untuk pejalan kaki dalam menuju ke fasilitas lainnya.
Tolok ukur ketiga adalah tersedianya shuttle bus bagi pengguna gedung untuk mencapai stasiun transportasi. Institut Pertanian Bogor sendiri mempunyai bus karyawan yang dapat digunakan oleh pengguna gedung Tanoto. Berdasarkan 3 tolok ukur tersebut, aspek ini mendapatkan 2 poin nilai. Gambar lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 1.
Motor Vehicle Reduction
Dalam aspek pengurangan kendaraan bermotor, tolok ukur yang digunakan adalah tersedianya pengurangan pemakaian kendaraan pribadi bermotor dengan salah satu opsi: car pooling, feeder bus, voucher kendaraan umum, atau perbedaan tarif parkir. Gedung Tanoto IPB sudah memiliki bus karyawan dan fasilitas umum bus di dalam kampus untuk aksesibilitas di areal kampus (Gambar 11). Selain itu, tersedia juga fasilitas mobil listrik yang ramah terhadap lingkungan. Oleh karena itu, aspek ini mendapatkan 1 poin nilai.
Gambar 12 Parkir khusus sepeda di gedung Tanoto
Gambar 13 Shelter sepeda di depan gedung Tanoto Bicycle
Pada kategori sepeda, di gedung Tanoto sudah menyediakan secara khusus lokasi parkir sepeda yang aman untuk pengguna gedung (Gambar 12).
Selain itu, kampus IPB juga mempunyai fasilitas shelter sepeda yang dapat dipinjam oleh mahasiswa, pengunjung dari luar maupun karyawan yang hampir tersebar di seluruh areal kampus. kapasitas parkir unit sepeda di shelter lebih dari 30 unit sepeda. Jarak terdekat dari gedung Tanoto ke shelter sepeda adalah 60 m (Gambar 13). Dengan demikian kategori ini mendapatkan nilai poin 1.
Site Landscaping
Site landscaping merupakan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Keberadaan RTH memberikan perananan atau fungsi antara lain meningkatkan estetika dan suasana asri, menciptakan iklim mikro yang baik bagi lingkungan di sekitarnya, meningkatkan kualitas udara melalui mekanisme penyerapan dan penyerapan polutan di sekitarnya, menjadi daerah tangkapan dan resapan air, menjadi habitat fauna darat, dan menjadi taman koleksi berbagai jenis flora (arboretum). Tolok ukur lansekap pada lahan adalah persentase area lansekap berupa vegetasi (softscape) yang bebas dari bangunan taman (hardscape) yang terletak di atas permukaan tanah seluas minimal 30% luas total lahan. Luas area yang diperhitungkan adalah termasuk taman di atas basement, roof garden, terrace garden dan wall garden. Formasi tanaman sesuai dengan Permen PU No.5/PRT/M/2008 mengenai Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pasal 2.3.1 tentang Kriteria Vegetasi untuk Pekarangan. Hasil perhitungan luasan area tampak gedung
Gambar 14 Luasan area tapak gedung Tanoto Dapat dilihat pada Tabel 15.
Persentase softcase terhadap total luas lahan gedung Tanoto IPB adalah sebesar 33.04 %, hal ini berarti sesuai dengan tolok ukur site landscaping yang menyaratkan luas softcase minimal 30 % dari luas total lahan (Gambar 14).
Areal lahan di sekitar gedung Tanoto ditanami beberapa jenis vegetasi tanaman seperti Meranti (Shorea selanica), Jati (Tectona grandis), Jati putih (Gmelina arborea) dan Eboni (Diospyros celebica). Vegetasi yang ada berupa tegakan pohon dan didominasi oleh jenis Shorea selanica. Shorea selanica merupakan jenis pohon tahunan, tidak beracun dan dahan tidak mudah patah, sangat tahan terhadap penyakit, dan mampu menyerap tanaman polusi udara. Di areal gedung Tanoto terdapat beberapa jenis hewan seperti burung-burung kecil, tupai, kadal dan berbagai jenis serangga pada vegetasi tersebut. Sesuai dengan Permen PU No. 5/PRT/M/2008 pasal 2.3.1, maka jenis Shorea selanica sesuai dengan kriteria tanaman pekarangan (Gambar 15).
Sesuai dengan tujuan site landscaping yaitu memelihara atau memperluas kehijauan kota, aspek ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan hidup, mengurangi limpasan permukaan terhadap beban sistem drainase sehingga meminimalkan dampak terhadap neraca air bersih dan sistem air tanah, mengurangi heat island, reduksi CO2 dan zat polutan lain pencegah erosi, konservasi dan penanganan polusi. Dengan demikian kategori ini mendapatkan nilai 3 poin.
Tabel 15 Hasil perhitungan luasan area tapak Gedung Tanoto
Keterangan Luas (m2)
Bangunan 536.5
Ruang hijau (softcase) 1410
Lahan terbuka 2321.75
Heat Island Effect
Nilai Albedo adalah ratio jumlah sinar matahari yang dipantulkan oleh suatu permukaan dibandingkan dengan total sinar matahari yang mengenai permukaan tersebut, memiliki range : 0 - 1 (0: warna hitam; 1: warna putih). Angka 0 menunjukkan bahwa material dengan daya serap sempurna, sedangkan angka 1 menunjukkan bahwa bahan dengan daya pantul sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kecil nilai albedo maka radiasi matahari akan banyak terserap pada permukaan bumi sehingga akan menimbulkan suatu fenomena heat island effect, yaitu meningkatnya suhu permukaan area.
Menurut GBCI, nilai albedo rata-rata minimal adalah 0.3 untuk perhitungan pada area atap gedung yang tertutup perkerasan. Gedung Tanoto menggunakan material beton pada area tutupan atap dan non atap. Nilai albedo dari beton adalah sebesar 0.55 (Rushayati et al. 2010), sehingga telah memenuhi persyaratan untuk area atap gedung yang tertutup perkerasan dan area non atap gedung yang tertutup perkerasan. Dengan demikian aspek ini mendapatkan nilai 2 poin.
Stormwater Management
Manajemen air limpasan merupakan tolok ukur dalam usaha pengurangan beban volume limpasan air hujan dari luas lahan ke jaringan drainase kota sebesar 50% total volume hujan harian yang dihitung berdasarkan perhitungan debit air hujan pada bulan basah. Peluang kejadian hujan pada bulan basah dihitung berdasarkan data curah hujan harian yang didapatkan dari stasiun klimatologi Dramaga Bogor dengan rentang 11 tahun dari tahun 2004 – 2014, dan ditunjukkan pada Tabel 16.
Berdasarkan dari Tabel 16, dibentuk diagram penentuan bulan basah dan bulan kering yang bersumber pada klasifikasi Oldeman yang akan ditunjukkan pada Gambar 16
Pada klasifikasi Oldeman, kategori bulan basah adalah jika rata-rata curah hujan lebih dari 200 mm, bulan lembab 100-200 mm dan bulan kering kurang dari 100 mm (Sasminto et al. 2014) Berdasarkan dari diagram pada gambar , bulan basah terjadi pada semua bulan kecuali pada bulan Juli. Data ini digunakan untuk menghitung volume hujan harian yang dihitung menurut perhitungan debit air hujan pada bulan basah.
Total beban volume limpasan di gedung Tanoto adalah 0.000124 m3/s atau 1.43 mm3/hari. Volume hujan harian yang didapat dari perhitungan curah air hujan pada bulan basah dari tahun 2004 – 2014 adalah 10.8 mm/hari. Persentase total beban volume limpasan air hujan terhadap beban volume hujan harian adalah 13.24 %, yang berarti air yang terserap dan masuk ke dalam tanah sebesar 86.76 % (Tabel 17). Berdasarkan GBCI, dijelaskan bahwa pengurangan beban Tabel 16 Data curah hujan rata-rata bulanan dari 2004-2014
Bulan Tahun Rata- Rata (mm) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Jan 403,7 536,5 639,8 372,8 260,6 360,8 252,0 202,7 271,7 509,8 702,0 410,2 Feb 327,2 580,4 434,3 438,2 384,5 305,3 460,7 76,5 548,9 406,2 337,4 390,9 Mar 431,8 679,6 138,3 276,4 671,6 261,1 414,5 140,0 136,0 289,8 281,6 338,2 Apr 639,8 307,7 163,9 472,7 527,0 259,9 42,9 278,4 389,5 216,0 510,9 346,2 Mei 373,6 428,9 323,7 195,6 267,1 570,6 330,9 361,7 194,8 399,3 296,4 340,2 Jun 169,3 682,0 173,1 273,5 171,5 338,1 303,4 274,6 93,9 62,3 84,7 238,8 Jul 208,6 215,4 31,2 133,9 172,4 131,1 270,4 202,0 118,9 360,2 349,0 199,4 Agust 166,0 153,2 191,2 247,9 195,7 33,1 477,6 142,0 79,3 258,3 538,4 225,7 Sept 391,5 319,9 25,7 205,9 343,5 156,8 601,0 105,9 270,5 503,2 21,8 267,8 Oktr 277,3 350,9 152,0 235,5 311,3 415,8 435,9 256,0 539,5 393,6 180,3 322,6 Nop 400,8 422,9 354,9 444,0 509,0 407,0 284,2 457,7 548,9 186,9 673,2 426,3 Des 431,7 251,5 362,5 476,0 224,7 258,2 177,3 344,6 358,8 407,7 200,2 317,6
Sumber : Stasiun Klimatologi Klas I Darmaga Bogor 2015
volume limpasan sebesar 50 % dan total 50 % limpasan yang diserapkan ke lahan maupun yang dikelola dengan sistem Rain Water Harvesting. Oleh karena itu, tolok ukur dalam kategori ini terpenuhi dan mendapatkan nilai 2 poin.
Building Neighbourhood
Salah satu tolok ukur pertama dalam kategori ini adalah melakukan peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar gedung dengan melakukan salah satu dari tindakan berikut: perbaikan sanitasi, penyediaan tempat beribadah, WC umum, kaki lima dan pelatihan pengembangan masyarakat. Di dalam gedung Tanoto terdapat kantin yang dibuka untuk umum, sehingga warga sekitar dapat menyewa lokasi di dalam kantin untuk berjualan. Disamping itu, terdapat juga fasilitas WC umum yang dapat digunakan oleh siapapun termasuk masyarakat umum.
Tolok ukur kedua adalah membuka akses pejalan kaki ke minimal 2 orientasi menuju bangunan tetangga tanpa harus melalui area publik. Orientasi yang berbeda yang dimaksud dalam GBCI adalah arah mata angin. Sebagai contoh, di sebelah selatan gedung Tanoto terdapat akses pejalan kaki ke gedung Fakultas Kehutanan dan gedung Auditorium Sylva Pertamina dan di sebelah timur dari gedung terdapat akses pejalan kaki ke gedung Kuliah Bersama/CCR. Dengan demikian kategori ini mendapatkan nilai 2 poin.
Tabel 17 Hasil perhitungan limpasan gedung Tanoto Fungsi
lahan
Luas (m2) Luas (Ha) I (mm/jam) C Q (m3/s)
Bangunan 536.5 0.05365 0.179 0.80 0.000082 Ruang hijau 1410 0.141 0.179 0.10 0.000007 Lahan terbuka 2321.75 0.232175 0.179 0.30 0.000035 Total 4268.25 0.426825 0.000124
Hasil penilaian Appropriate Site Development- ASD
Hasil penilaian terhadap aspek ASD pada gedung Tanoto menunjukkan bahwa perolehan poin nilai yang didapat adalah 13 poin dari nilai poin maksimal 16 poin sehingga telah memenuhi 81.25% dari rating yang telah ditetapkan pada GREENSHIP GBCI.