EVALUASI KEKUATAN STRUKTUR
GEDUNG
TANOTO FORESTRY INFORMATION CENTER
IPB
TERHADAP FAKTOR GEMPA DAN ASESMEN
TERHADAP
GREEN BUILDING
SAHAT MAHARIS P GULTOM
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertas berjudul Evaluasi Kekuatan Struktur Gedung Tanoto Forestry Information Center IPB terhadap Faktor Gempa dan Asesmen terhadap Green Building adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
RINGKASAN
SAHAT MAHARIS PARSAULIAN GULTOM. Evaluasi Kekuatan Struktur Gedung Tanoto Forestry Information Center IPB terhadap Faktor Gempa dan Asesmen terhadap Green Building. Dibimbing oleh ERIZAL dan YUDI CHADIRIN.
Indonesia dibagi menjadi 6 wilayah gempa seperti yang tertulis dalam SNI 03-1726-2012.Oleh karena itu, bangunan-bangunan yang berada pada wilayah dengan tingkat gempa tinggi harus memiliki perencanaan struktur beton yang baik, untuk menghindari kerusakan saat terjadinya gempa. Gedung Tanoto Forestry Information Center adalah salah satu bangunan baru yang dibangun di kawasan IPB yang termasuk kedalam wilayah gempa 4 yang harusnya sudah memiliki struktur yang kuat dan sudah menerapkan aspek green building. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi ketahanan struktur gedung Tanoto Forestry Information Center terhadap faktor gempa berdasarkan Peta Gempa Indonesia 2010 serta mengkaji penerapan aspek green building dari bangunan Tanoto Forestry Information Center IPB berdasarkan penilaian GREENSHIP dari GBCI. Pemodelan struktur gedung menggunakan SAP 2000. Analisa pembebanan yang diberikan yaitu dengan metode spektrum respons ragam. Struktur yang dianalisis adalah struktur atas gedung berupa balok, kolom dan pelat. Struktur yang dievaluasi berupa jumlah tulangan yang dibandingkan dengan jumlah tulangan struktur yang terpasang di lapangan. Metode kajian green building dilakukan dengan metode penilaian aspek green building yang mengacu pada GREENSHIP GBCI dengan sistem rating untuk gedung terbangun versi 1.0.
Hasil analisis dan evaluasi dengan adanya pengaruh gempa menunjukkan bahwa terdapat beberapa komponen struktur yang terpasang memiliki jumlah tulangan yang kurang dari jumlah tulangan hasil pemodelan, sehingga gedung Tanoto Forestry Information Center IPB belum aman terhadap beban gempa berdasarkan Peta Gempa 2010. Hasil asesmen terhadap enam aspek pada kriteria GBCI yaitu Appropriate Site Development (ASD), Energy Efficiency and Conservation (EEC), Water Conservation (WAC), Material Resources and Cycle (MRC), Indoor Health and Comfort (IHC) dan Building Environment Management (BEM) yang mengacu pada GREENSHIP Existing Building Version 1.0, gedung “Tanoto Forestry Information Center” berhasil mendapatkan nilai 49 poin atau 41.88% dari maksimal 117 poin. Apabila seluruh prasyarat dari setiap aspek telah terpenuh, maka sesuai dengan peringkat GREENSHIP GBCI, gedung Tanoto Forestry Information Center mendapatkan peringkat minimum yaitu Bronze seperti yang telah ditetapkan oleh GBCI.
SUMMARY
SAHAT MAHARIS PARSAULIAN GULTOM. Evaluation of Structural Strength related to Earthquakes Factor and Assessment of Green Building of Tanoto Forestry Information Center Building IPB. Supervised by ERIZAL and YUDI CHADIRIN.
Indonesia is divided into six earthquake regions as written in SNI 03-1726-2012. Therefore, buildings that are in area with high seismic must have good structure planning, to avoid damage when earthquake occured. Tanoto Forestry Information Center Building is one of the new buildings, was built at the Bogor Agricultural University area and included into the earthquake zone 4, which should already have a strong structure. Furthermore, Tanoto building should already implementing aspects of green building.
The purpose of this study was to evaluate the resistance of building structure of Tanoto Forestry Information Center building to the earthquake factor based on Indonesian Earthquake Hazard Map 2010 and to assess aspects of the green building of the Tanoto Forestry Information Center building. The assessment is conducted based on GREENSHIP existing Building version 1.0 from GBCI.
Modelling of building structure was analyzed using SAP 2000. The loading analysis was using response spectrum analysis method of variance procedure (Response Spectrum Modal Analysis). The analyzed structure was the upper-structure building, which were beams, columns and slabs. The evaluated structure was in the form of evaluated reinforcement compared to the amount of installed reinforcement structure in the building. Green building assessment method performed by the assessment method that refers to GREENSHIP existing Building version 1.0 from GBCI.
The results of the analysis and evaluation showed there were some structural components installed had the amount of reinforcement that was less than the amount of the modelling reinforcement, therefore Tanoto Building was not safe against earthquake based on Indonesian Earthquake Hazard Map 2010. The results of assessment of six aspects of GBCI critera namely Appropriate Site Development (ASD), Energy Efficiency and Conservation (EEC), Water Conservation (WAC), Material Resources and Cycle (MRC), Indoor Health and Comfort (IHC) and Building Environment Management (BEM) managed to get the value of 49 points, or 41.88% of the maximum 117 points. Final assessment shows that the Tanoto Forestry Information Center building is categorized as Bronze level.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2017
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Teknik Sipil dan Lingkungan
EVALUASI KEKUATAN STRUKTUR
GEDUNG
TANOTO FORESTRY INFORMATION CENTER
IPB
TERHADAP FAKTOR GEMPA DAN ASESMEN
TERHADAP
GREEN BUILDING
SAHAT MAHARIS P GULTOM
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Yesus Kristus sehingga dapat menyelesaikan karya tulis ini. Judul yang dipilih dalam penelitian yang telah dilaksanakan berjudul Evaluasi Kekuatan Struktur Gedung Tanoto Forestry Information Center IPB terhadap Faktor Gempa dan Asesmen terhadap Green Building.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ir. Erizal, M.Agr dan Bapak Dr Yudi Chadirin, S.TP., M.Agr selaku pembimbing.Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, rekan-rekan mahasiswa Pascasarjana Teknik Sipil dan Lingkungan Angkatan 2013 dan rekan seperjuangan di Perwira 77 .Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xi
DAFTAR LAMPIRAN xii
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 1
Manfaat Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 2
2 TINJAUAN PUSTAKA 3 Pemodelan struktur gedung 3
Beban Vertikal 4
Wilayah Gempa 7
Kombinasi Pembebanan 7
Analisa Struktur 10
Green Building 12
3 METODE 13
Waktu dan Tempat 13
Bahan 13
Alat 13
Batasan Masalah 13
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 16
Pemodelan struktur gedung Tanoto 16
Green Building 21
5 KESIMPULAN DAN SARAN 40
DAFTAR PUSTAKA 41
LAMPIRAN 43
DAFTAR TABEL
1 Berat sendiri bahan bangunan 4
2 Berat sendiri komponen gedung 5
3 Beban hidup pada lantai gedung berdasarkan PPURG 1987 6 4 Beban hidup pada atap gedung berdasarkan PPURG 1987 6
5 Faktor keutamaan gempa, Ie 9
6 Klasifikasi situs berdasarkan SNI 03-1726-2012 10
7 Beban mati pada struktur pelat lantai 17
8 Beban mati pada struktur balok 17
9 Beban hidup pada struktur pelat lantai 17
10 Nilai parameter-parameter respon spektra untuk kondisi tanah sedang
(D) 18
11 Hasil analisis penulangan pelat lantai 19
12 Perbandingan jumlah dan diameter tulangan lentur dan geser kolom 20 13 Perbandingan jumlah tulangan lentur dan geser pada balok 22 14 Hasil pengukuran ketersediaan fasilitas umum di Gedung Tanoto IPB 23 15 Hasil perhitungan luasan area tapak Gedung Tanoto 25 16 Data curah hujan rata-rata bulanan dari 2004-2014 27
17 Hasil perhitungan limpasan gedung Tanoto 28
18 Perkiraan konsumsi arus listrik per bulan di gedung Tanoto 29
19 Hasil perhitungan IKE listrik gedung Tanoto 30
20 Perkiraan total konsumsi air di gedung Tanoto 32
21 Gas pencemar untuk tempat kerja perkantoran 36
22 Hasil pengukuran kualitas udara di gedung Tanoto IPB 36 23 Hasil pengukuran tingkat kebisingan di gedung Tanoto 37
DAFTAR GAMBAR
1 Mekanisme pembebanan portal akibat pelat 3
2 Mekanisme pembebanan portal akibat balok dan dinding 3 3 Lokasi Gedung Tanoto Forestry Information Center 13
4 Diagram alir pelaksanaan penelitian 14
5 Pemodelan 3D struktur gedung Tanoto Forestry Information Center
pada SAP 2000 (tampak depan) 16
6 Pemodelan 3D struktur gedung Tanoto Forestry Information Center
pada SAP 2000 (tampak samping) 16
7 Peta gempa wilayah Bogor untuk T=1.0 detik 17
8 Peta gempa wilayah Bogor untuk T=0.2 detik 17
9 Grafik desain spektrum gempa gedung pada lokasi objek penelitian 19 10 Pemeliharaan eksterior bangunan oleh pihak ketiga PT Gondola
Adiperkasa 22
11 Transportasi dalam kampus berupa bus dan mobil listrik 23
12 Parkir khusus sepeda di gedung Tanoto 24
13 Shelter sepeda di depan gedung Tanoto 24
15 Vegetasi yang didominasi pohon Shoreaselanica 26
16 Bulan basah dan bulan kering 27
17 Orientasi menuju bangunan tetangga menurut mata angin 28
18 Tipe refrigerant gedung Tanoto 33
19 SOP penggunaan gedung Tanoto tercantum larangan merokok dan
stiker dilarang merokok 35
DAFTAR LAMPIRAN
1 Peta Gempa Indonesia 2010 44
2 Denah Tie Beam Lantai Dasar 45
3 Denah balok lantai 2 46
4 Denah balok lantai 3 47
5 Denah balok lantai dak 48
6 Denah kolom lantai 1 49
7 Denah kolom lantai 2 50
8 Denah kolom lantai 3 51
9 Contoh perhitungan penulangan pelat tipe S1 52
10 Contoh perhitungan penulangan lentur balok tipe B1 55
11 Contoh perhitungan tulangan geser balok B1 58
12 Contoh perhitungan tulangan geser kolom K1-2 61
13 Sebaran akses umum dari gedung Tanoto 62
14 Contoh surat manajemen puncak mengenai pembelanjaan material
ramah lingkungan 63
15 Contoh surat pernyataan manajemen puncak mengenai pengelolaan
sampah berdasarkan pemilahan 64
16 Contoh SOP pemilahan sampah 65
17 Contoh SOP pengelolaan limbah B3 66
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Negara Indonesia terletak diantara 3 lempeng tektonik besar yaitu Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasifik, Indonesia berpotensi tinggi mendapatkan bencana alam yang sangat besar. Pergerakan yang aktif dari ketiga lempeng tersebut menyebabkan terjadinya tumbukan dan menghasilkan energi yang besar yang dapat menimbulkan gempa bumi. Gempa bumi menimbulkan banyak efek negatif bagi manusia seperti banyaknya korban jiwa dan menimbulkan kerusakan pada bangunan serta lingkungan.
Menurut SNI 03-1726-2012, Indonesia dibagi menjadi 6 wilayah gempa.Wilayah gempa 1 adalah wilayah dengan tingkat gempa paling rendah sedangkan wilayah gempa 6 adalah wilayah dengan tingkat gempa paling tinggi. Oleh karena itu, bangunan-bangunan yang berada pada wilayah dengan tingkat gempa tinggi harus memiliki perencanaan struktur beton yang baik, untuk menghindari kerusakan saat terjadinya gempa.
Menurut SNI 03-2847-2002, perencanaan struktur beton bertulang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut; “(1) Analisis struktur harus dilakukan dengan cara-cara mekanika teknik baku, (2) Analisis dengan komputer harus disertai dengan penjelasan mengenai prinsip cara kerja program, data masukan serta penjelasan mengenai data keluaran, (3) Percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritis dan (4) Analisis struktur harus dilakukan dengan mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsurnya”.
Gedung Tanoto Forestry Information Center adalah salah satu bangunan baru yang dibangun dikawasan IPB yang berfungsi sebagai pusat informasi kehutanan. IPB merupakan kawasan yang termasuk ke dalam wilayah gempa 4. Sebagai bangunan yang berada pada wilayah gempa 4, gedung Tanoto Forestry Information Center harus sudah memiliki struktur bangunan yang kuat dalam menghadapi ancaman gempa bumi.
Diharapkan dalam pembangunan gedung Tanoto Forestry Information Center sudah menerapkan aspek-aspek green building. Berdasarkan Green Building Council Indonesia (GBCI), sebagai lembaga resmi yang melakukan sertifikasi bangunan hijau di Indonesia, 6 aspek yang harus dimiliki oleh sebuah bangunan sehingga bangunan tersebut layak mendapatkan sertifikat green building dari GBCI adalah Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development/ASD), Efisiensi Energi dan Refrigeran (Energy Efficiency and Refrigerant/EER), Konservasi Air (Water Conservation/WAC), Sumber dan Siklus Material (Material Resources and Cycle/MRC), Kualitas Udara dan Kenyamanan Udara (Indoor Health and Comfort/IHC), dan Manajemen Lingkungan Bangunan (Building and Enviroment Management/BEM).
Tujuan Penelitian
bangunan Tanoto Forestry Information Center IPB berdasarkan penilaian GREENSHIP dari GBCI.
Manfaat Penelitian
P'enelitian ini bermanfaat untuk mengetahui ketahanan struktur atas gedung Tanoto Forestry Information Center terhadap beban gempa 2010 dan peraturan-peraturan terbaru dengan menggunakan metode respon spektrum. Pada aspek green building, melindungi kesehatan penghuni dan meningkatkan produktivitas pengguna, sesuai dengan salah satu kriteria kesehatan dan kenyamanan dalam ruang dan dapat dijadikan masukan dan saran untuk perbaikan sistem green building di gedung Tanoto.
Ruang Lingkup Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Pemodelan struktur gedung
McCormac (2004) menyatakan bahwa terdapat dua jenis beban yang bekerja pada struktur yaitu beban statis dan dinamis. Beban statis merupakan beban yang terus menerus bekerja pada struktur. Beban ini terdiri atas beban mati dan beban hidup. Beban dinamis adalah beban yang bekerja secara tidak terduga pada struktur misalnya beban angin, beban gempa dan beban akibat ledakan. Ditinjau dari arah beban yang bekerja pada struktur, beban terdiri atas beban vertikal dan beban horizontal. Beban vertikal terdiri atas beban mati dan beban hidup, sedangkan beban horizontal terdiri atas beban angin dan beban gempa. Beban-beban ini dapat bekerja serentak dan bekerja sendiri-sendiri. Beban yang bekerja serentak dapat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap struktur. Pada analisa portal yang terdiri dari balok dan kolom, lantai merupakan beban mati yang bekerja pada balok dan kolom tersebut. Seluruh beban yang ada akan didistribusikan ke balok dan kolom berdasarkan metode amplop yang diilustrasikan pada Gambar 1.
Berat sendiri balok dan berat dinding yang bekerja pada balok dianggap sebagai beban yang terdistribusi secara merata di sepanjang portal. Mekanisme pembebanannya seperti pada Gambar 2
Gambar 1 Mekanisme pembebanan portal akibat pelat
Beban Vertikal A.Beban mati
Beban mati suatu elemen dihitung berdasarkan berat satuan material dan volume elemen tersebut. Beban mati pada struktur bangunan terdiri atas berat penggunaan suatu gedung termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat berpindah, mesin-mesin serta peralatan yang tidak terpisahkan dari gedung (DPU 1987). Beban hidup pada lantai gedung berdasarkan PPURG 1987 dapat dilihat ada Tabel 3.
Beban hidup pada atap yang dapat dibebani oleh orang harus diambil sebesar 100 kg/m2 bidang datar. Beban hidup pada atap gedung dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 1 Berat sendiri bahan bangunan
No Material Berat Keterangan
1 Baja 7850 kg/m3
2 Batu alam 2600 kg/m3
3 Batu belah, batu bulat, batu gunung
1500 kg/m3 Berat tumpuk
4 Batu karang 700 kg/m3 Berat tumpuk 11 Pasangan bata merah 1700 kg/m3
12 Pasangan batu belah, batu bulat, batu gunung
2200 kg/m3 13 Pasangan batu cetak 2200 kg/m3 14 Pasangan batu karang 1450 kg/m3
Beban Gempa
Gempa bumi adalah fenomena getaran yang dikaitkan dengan kejutan pada kerak bumi. Beban kejut ini dapat disebabkan oleh banyak hal tetapi sah satufaktor utamanya adalah benturan/gesekan kerak bumi yang mempengaruhi permukaan bumi. Lokasi gesekan ini disebut fault zone.
Tabel 2 Berat sendiri komponen gedung
No Material Berat Keterangan
1 Adukan, per cm tebal : dari semen
dari kapur, semen merah/tras
21 kg/m2 17 kg/m2
2 Aspal, per cm tebal 14 kg/m2
3 Dinding pasangan bata merah : satu batu
setengah batu
450 kg/m2 250 kg/m2 4 Dinding pasangan batako :
berlubang : 5 Langit-langit dan dinding, terdiri :
semen asbes (eternit),
40 kg/m2 Tanpa langit-langit, bentang maks. 5 m, beban hidup maks. 200 kg/m2
Tabel 3 Beban hidup pada lantai gedung berdasarkan PPURG 1987
No Penggunaan Berat Keterangan
1 Lantai dan tangga rumah tinggal 200 kg/m2 kecuali yang disebut no.2 2 - Lantai & tangga rumah tinggal
sederhana
6 Lantai dan balkon dalam dari ruang pertemuan
400 kg/m2 masjid, gereja, ruang pagelaran/rapat, bioskop dengan tempat duduk tetap
7 Panggung penonton 500 kg/m2 tempat duduk tidak tetap /
penonton yang berdiri 8 Tangga, bordes tangga dan gang 300 kg/m2 no.3
9 Tangga, bordes tangga dan gang Tangga, bordes tangga dan gang
no. 4, 5, 6, 7
10 Ruang pelengkap 250 kg/m2 no. 3, 4, 5, 6, 7 11 - Pabrik, bengkel, gudang
- Perpustakaan,r.arsip,toko buku - Ruang alat dan mesin
400 kg/m2 minimum
12 Gedung parkir bertingkat : - Lantai bawah
- Lantai tingkat lainnya
800 kg/m2 400 kg/m2
13 Balkon menjorok bebas keluar 300 kg/m2 minimum Tabel 4 Beban hidup pada atap gedung berdasarkan PPURG 1987
No Bagian Atap Berat Keterangan
1 Atap / bagiannya dapat dicapai orang, termasuk kanopi
100 kg/m2 atap dak
2 Atap / bagiannya tidak dapat dicapai orang (diambil min.) : - beban hujan
Kejutan tersebut akan menjalar dalam bentuk gelombang. Gelombang ini menyebabkan permukaan bumi dan bangunan di atasnya bergetar. Pada saat bangunan bergetar timbul gaya-gaya pada struktur bangunan karena adanya kecenderungan dari massa bangunan untuk mempertahankan dirinya dari gerakan. Gaya yang timbul disebut gaya inersia, besar gaya tersebut bergantung pada
5. Mekanisme redaman dari struktur
6. Perilaku dan besar alami getaran itu sendiri 7. Wilayah kegempaan
8. Periode getar alami Wilayah Gempa
Berdasarkan SNI 03-1726-2012 wilayah gempa ditetapkan berdasarkan parameter Ss (percepatan batuan dasar pada perioda pendek 0.2 detik) dan S1(percepatan batuan dasar pada periode 1.0 detik). Hal ini dapat dilihat pada Gambar Peta Gempa Indonesia 2010 pada lampiran 1.
Kombinasi Pembebanan
1.Kombinasi Pembebanan
7)1,2DL + 1,1LL + 1(ρQE + 0,2SDS.DL ) + 0,3(ρQE + 0,2SDS.DL).
a)= 1,2.DL +1,1LL + 1 (1,3Ex + 0,2.0,578DL) + 0,3(1,3Ey+0,2.0,578DL) = 1,2DL + 1,1LL + 1,3Ex + 0,1156DL + 0,39Ey+ 0,03468DL
d)= 1,2.DL +1,1.LL - 1 (1,3Ex + 0,2.0,578DL) + 0,3(1,3Ey+0,2.0,578DL) = 1,2DL + 1,1LL - 1,3Ex - 0,1156DL + 0,39Ey+ 0,03468DL
Berdasarkan SNI 03-1726-2012 pasal 7.4.2, pada kombinasi yang terdapat variabel beban gempa (E) harus didefinisikan sebagai E = Eh + Ev dan E = Eh - Ev. Pengaruh beban gempa seismik Eh dan Ev harus ditentukan dengan rumus berikut,
Eh = �. Q . E (1)
Keterangan:
Q = Pengaruh gaya seismik horizontal dari V atau Fp.
Pengaruh beban seismik Ev harus ditentukan dengan rumus berikut ini, Ev = 0,2 . SDS. DL (2) Keterangan:
Eh = Pengaruh beban seismik horizontal. Ev = Pengaruh beban seismik vertikal.
Q = Pengaruh gaya seismik horizontal dari V atau Fp.
Ρ = Faktor redudansi, untuk desain seismik D sampai F nilainya 1,3. SDS = Parameter percepatan s spektral pada perioda pendek, redaman 5. DL = Beban mati. ditentukan sesuai SNI-1726-2012 dengan persamaan berikut:
= �� (3) Keterangan:
Cs = koefisien respons seismik W = berat seismik efektif
Koefisien respons seismik, Cs, harus ditentukan sesuai SNI-1726-2012 dengan persamaan:
�
(4)
Keterangan:
SDS = parameter percepatan spektrum respons desain dalam rentang periode pendek
R = faktor modifikasi respons Ie = faktor keutamaan gempa
Faktor keutamaan gempa dibagi menjadi empat kategori. Pembagian nilai faktor keutamaan gempa pada keempat kategori dapat dilihat pada Tabel 5.
Nilai Cs yang dihitung sesuai dengan Persamaan 3 tidak perlu melebihi berikut ini:
�
(5) Tabel 5 Faktor keutamaan gempa, Ie
Kategori Risiko Faktor Keutamaan Gempa, Ie
I atau II 1,0
III 1,25
IV 1,50
2. Penentuan kelas situs tanah
Cara menentukan klasifikasi situs tanah, dengan cara melihat parameter karakteristik tanah melalui besaran nilai Vs (Kecepatan rata-rata gelombang geser), N (Tahanan penetrasi standar lapangan rata-rata), Nch (Tahanan penetrasi standar rata-rata untuk lapisan tanah non-kohesif),dan Su (Kuat geser niralir rata-rata) (Lihat tabel 1). Klasifikasi situs berdasarkan SNI 03-1726-2012 dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Klasifikasi situs berdasarkan SNI 03-1726-2012
Kelas Situs Vs (m/s) N atau Nch Su
atau setiap profil tanah yang mengandung lebih dari 3 m tanah dengan karakteristik sebagai berikut :
1.Indeks Plastisitas, PI > 20 2.Kadar air, w > 40 % dan Kuat geser niralir, Su< 25 Kpa SF (Tanah khusus,
yang membutuhkan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons spesifik-situs yang mengikuti Pasal 6.9.1)
Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah satu atau lebih dari karakteristik berikut:
Rawan dan berpotensi gagal atau runtuh akibat beban gempa seperti mudah likuifaksi, lempung sangat sensitif, tanah tersementasi lemah.
Lempung sangat organik dan atau gambut (ketebalan H > 3 m).
Lempung berplastisitas sangat tinggi (ketebalan H > 7,5 m dengan Indeks Plastisitas PI > 75
Lapisan lempung lunak/setengah teguh dengan ketebalan H > 35 m dengan Su < 50 Kpa.
Catatan: N/A tidak dapat dipakai
Analisa Struktur Struktur Pelat
Pelat lantai selain berfungsi sebagai struktur sekunder juga berfungsi sebagai diafragma yang membantu menyalurkan gaya-gaya lateral akibat gempa ke rangka struktur utama (Budiono dan Supriyatna 2011).
Analisa pelat sama seperti analisis balok. Pembebanan disesuaikan dengan beban persatuan panjang dari lajur pelat sehingga gaya momen tipikal dengan sistem balok. Pemasangan tulangan lentur akan membentang dari kedua tumpuannya. Sedangkan pemasangan tulangan yang tegak lurus terhadap tulangan lentur diperuntukkan guna mencakup efek struktur beton.
utama) harus diberikan untuk menahan tegangan susut (shrinkage stress) dan tegangan-tegangan akibat perubahan temperatur (Fauzan dan Riswan 2002). Struktur Balok
Balok merupakan komponen pemikul momen yang akan menyalurkan beban ke kolom. Balok dimodelkan sebagai frame yang memiliki joint yang kaku sehingga momen-momen maksimum terjadi di ujung balok.
Struktur balok yang diberi beban lentur akan mengakibatkan terjadinya momen lentur pada balok tersebut, sehingga akan terjadi deformasi (regangan) lentur dalam balok tersebut. Regangan-regangan yang terjadi tersebut akan menimbulkan tegangan pada balok.
Sifat utama beton yang kurang mampu menahan tarik, mengakibatkan perlunya penahan tegangan tarik pada beton dengan cara memasang baja tulangan pada daerah tarik sehingga terbentuk struktur beton bertulang yang dapat menahan lenturan. Apabila gaya geser yang bekerja sangat besar maka perlu dipasang baja tulangan tambahan untuk menahan geser tersebut.
Jenis tulangan geser yang umum digunakan adalah sengkang vertikal (vertical stirrup), yang dapat berupa baja berdiameter kecil ataupun kawat baja las yang dipasang tegak lurus terhadap sumbu aksial penampang, dan sengkang miring. Sengkang miring dapat juga berasal dari tulangan longitudinal yang dibengkokkan.
Struktur Kolom
Perencanaan kolom harus memperhitungkan semua beban vertikal yang bekerja pada kolom. Pada suatu struktur, kolom menyalurkan beban yang berasal dari berat struktur sendiri, beban hidup, dan beban yang berasal dari gedung baik itu yang berada di atas pelat lantai maupun pada balok dan kolom ke kolom di bawahnya, kemudian ke pondasi sehingga beban total yang diterima oleh suatu kolom merupakan beban kumulatif dari beban kolom diatasnya. Pengaruh retak beton akibat beban gempa dapat diperhitungkan dengan mereduksi momen inersia penampang kolom sehingga momen inersia efektif yang digunakan hanya 75% dari momen inersia penampang utuh.
SNI 03-2847-2002 menyatakan bahwa suatu kolom dapat dievaluasi berdasarkan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:
1. Kekuatan unsur-unsur harus didasarkan pada perhitungan yang memenuhi syarat keseimbangan dan kompatibilitas regangan.
2. Regangan di dalam beton dan baja tulangan dimisalkan berbanding lurus dengan jarak terhadap garis netral.
3. Regangan maksimum yang dapat dipakai pada serat tekan ekstrim beton adalah 0.003.
4. Kekuatan tarik beton diabaikan dalam perhitungan.
Tulangan geser suatu kolom yang ditentukan dalam SNI 03-2847-2002 adalah sebagai berikut:
1. Untuk tulangan longitudinal yang lebih kecil dari D-32, maka diikat dengan sengkang paling sedikit dengan ukuran D-10.
Green Building
Green building adalah bangunan ramah lingkungan yang dicapai baik dari tahap perencanaan, pembangunan maupun pengoperasian dan pemeliharaan sehari-hari (GBCI 2013). Sebuah bangunan ramah lingkungan harus menggunakan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien. Green building adalah konsep untuk bangunan berkelanjutan dan merupakan salah satu upaya untuk penghematan energi yang dapat diterapkan pada suatu gedung (Putri et al. 2012). Bangunan berkelanjutan mempunyai prinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan generasi kedepan, hal ini tentu sangat selaras dengan konsep green building yang salah satunya menerapkan praktik-praktik ramah lingkungan.
Sertifikasi bangunan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana bangunan tersebut telah menerapkan aspek-aspek green building. Pihak yang melakukan sertifikasi diantaranya adalah Amerika Serikat – LEED, Singapura - Green Mark, dan untuk di Indonesia adalah GBCI. Green Building Council Indonesia atau Lembaga Konsil Bangunan Hijau Indonesia adalah asosiasi bangunan green building untuk Negara Indonesia. Salah satu program GBC Indonesia adalah menyelenggarakan kegiatan Sertifikasi Bangunan Hijau di Indonesia berdasarkan perangkat penilaian khas Indonesia yang disebut GREENSHIP dengan sistem rating. Kategori GREENSHIP dibagi menjadi dua yaitu untuk kategori bangunan baru (new building) dan kategori bangunan terbangun (existing building).
GBCI (2013) menjelaskan bahawa sistem rating GREENSHIP merupakan alat bantu bagi para pelaku industri bangunan, baik pengusaha, engineer, maupun pelaku lainnya dalam menerapkan best practices dan mencapai standar terukur yang dapat dipahami oleh masyarakat umum, terutama tenant dan pengguna bangunan. Standar yang ingin dicapai dalam penerapan GREENSHIP adalah terjadinya suatu bangunan hijau (green building) yang ramah lingkungan sejak tahap perencanaan, pembangunan, hingga pengoperasian dan pemeliharaan sehari-hari. Kriteria penilaiannya dikelompokkan menjadi enam kategori, yaitu:
1. Appropriate site development/ASD (tepat guna lahan)
2. Energy efficiency and conservation/EEC (efisiensi dan konservasi energi) 3. Water conservation/WAC (konservasi air)
4. Material resources and cycle/MRC (sumber dan siklus material)
5. Indoor air health and comfort/IHC (kualitas udara dan kenyamanan ruangan)
6. Building and environment management/BEM (manajemen lingkungan bangunan)
3 METODE
Waktu dan Tempat
Pengumpulan data penelitian dilakukan dari bulan Juni 2014 dan penelitian dilaksanakan dari bulan Juli – September 2014 di gedung Tanoto Forestry Information Center, Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor. Peta lokasi gedung dapat dilihat pada Gambar 3.
Bahan
Bahan penelitian berupa data sekunder yang diperoleh dari perencana dan peraturan SNI. Data tersebut meliputi Gambar As Built Drawing, SK SNI 03-2847-2002 “Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Bertulang untuk Bangunan Gedung”, SK SNI 03-1726-2012 “Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung “, Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983, Peta Gempa Indonesia 2010,
Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah komputer, Microsoft Office Excel, Program Structure Analysis Program 2000 (SAP 2000), Autocad 2010, Sound level meter, Termometer, Air sampler, GPS (Global Positioning System) dan perangkat analisis green building GBCI GREENSHIP rating tools untuk gedung terbangun versi 1.0.
Batasan Masalah
Ruang lingkup permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Struktur gedung dibagi atas dua bagian :
Struktur atas berupa bangunan utama
Struktur bawah berupa pondasi dan tiang pancang
2. Analisis dan perhitungan struktur dilakukan dalam tiga dimensi dengan menggunakan beban-beban sebagai berikut :
Beban mati (dead load) Beban hidup (live load)
Beban gempa (earthquake load)
3. Gaya dalam dianalisis dengan menggunakan program komputer SAP 2000 4. Analisa beban gempa dilakukan dengan menggunakan analisa gempa respon
spektrum
5. Dimensi struktur dan jenis penulangan disesuaikan dengan As Built Drawing. 6. Desain penulangan terfokus pada struktur balok, kolom, dan pelat
7. Hasil desain yang dibandingkan adalah banyaknya tulangan yang didesain tulangan yang dipakai di lapangan.
8. Perencanaan beban gempa memakai Peta Gempa Indonesia 2010 dengan berpedoman pada perencanaan gempa pada SK SNI 1726-2012.
9. Kajian aspek green building berdasarkan pada parameter-parameter GREENSHIP GBCI (Green Building Council Indonesia).
Keterangan Diagram Alir : 1. Pengumpulan data
Pengumpulan data terdiri atas dua sumber yaitu data dari kontraktor perencana dan data dari peraturan. Data dari kontraktor perencana meliputi gambar As Built Drawing dan data kekuatan tanah untuk perencanaan daya dukung pondasi tiang pancang, sedangkan data dari peraturan berupa SK SNI
Kajian green building
Data dari Kontraktor MULAI Peraturan SNI
Pengumpulan data
Pemodelan struktur
Analisa Pembebanan
Beban hidup (liveload) Beban mati(deadload)
Beban gempa (earthquakeload)
Respon Spektrum
Analisa Struktur
Evaluasi Struktur
Penyusunan laporan akhir
SELESAI Pembuatan spektrum
gempa
03-2847-2002, SK SNI 1726-2012, Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983 dan Peta Gempa Indonesia 2010.
2. Pemodelan struktur
Gambar As Built Drawing dimodelkan secara tiga dimensi dengan memakai aplikasi program SAP 2000. Pemodelan struktur dikondisikan dengan keadaan struktur sebenarnya.
3. Pembuatan spektrum gempa
Pembuatan spektrum gempa bertujuan untuk mencari besarnya koefisien dasar gempa (Sa) sebagai langkah awal dalam menganalisis beban gempa. 4. Analisa pembebanan
Pembebanan dianalisa dengan menggunakan aplikasi program SAP 2000 untuk menentukan gaya-gaya dalam struktur yang nantinya akan digunakan dalam perencanaan tulang struktur. Beban yang dianalisa adalah beban mati, beban hidup, dan beban gempa. Beban mati dan hidup dirujuk dari Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983.
5. Analisis struktur
Hasil dari pemodelan struktur SAP 2000 yang berupa gaya-gaya dalam dianalisis untuk merencanakan tulangan struktur pada balok, kolom dan pelat. 6. Evaluasi struktur
Hasil dari perhitungan struktur yang berupa jumlah tulangan dibandingkan dengan jumlah tulangan struktur yang terpasang di lapangan (kondisi eksisting), kemudian dievaluasi.
7. Kajian green building
Pengumpulan data-data teknis bangunan untuk bangunan yang sudah jadi dan termasuk ke dalam aspek-aspek green building GBCI.
8. Penyusunan laporan akhir
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemodelan struktur gedung Tanoto
Komponen struktur seperti balok, kolom, pelat lantai, pada gambar as built drawing dimodelkan dengan menggunakan software SAP 2000. Material yang digunakan diinput pada software yaitu beton dengan mutu K-300 untuk setiap komponen struktur. Tulangan beton menggunakan baja dengan mutu BJTD-39 untuk tulangan dengan diameter lebih besar dari D12, dan mutu BJTP-24 untuk tulangan dengan diameter lebih kecil dari D12. Hasil pemodelan berupa tiga dimensi yang dapat dilihat pada Gambar 5 dan Gambar 6. Beban mati pada struktur pelat lantai dapat dilihat pada Tabel 7, beban mati pada struktur balok pada Tabel 8 dan beban hidup pada struktur lantai pada Tabel 8.
Gambar 5 Pemodelan 3D struktur gedung Tanoto Forestry Information Center pada SAP 2000 (Tampak Depan)
Gambar 7 Peta gempa wilayah Bogor untuk T=1.0 detik Desain Spektrum Gempa
Respon Spektrum adalah sebuah grafik hubungan nilai puncak respons struktur akibat eksitasi gempa sebagai fungsi dari periode natural sistem struktur. Spektrum gempa dibuat berdasarkan peta gempa Indonesia 2010. Pembuatan spektrum gempa disesuaikan dengan letak geografis dan kelas tanah bangunan.Berdasarkan SNI 03-1726-2012, terdapat dua jenis percepatan batuan dasar, yaitu percepatan dasar 1 detik (S1) dan percepatan batuan dasar 0.2 detik (Ss). Penentuan nilai masing-masing percepatan batuan dasar untuk wilayah Bogor dapat dilihat pada gambar peta zonasi dibawah ini.
Gambar 8 Peta gempa wilayah Bogor untuk T=0.2 detik Tabel 7 Beban mati pada struktur pelat lantai
Jenis Bahan Berat (kg/m2)
Instalasi ME 25
Sanitasi dan Plumbing 30
Plafond dan penggantung 18
Spesi dan keramik 66
Total 139
Tabel 8 Beban mati pada struktur balok
Jenis bahan Berat (kg/m2)
Bata merah (tinggi 4.5m) 1125
Kaca (tebal 12 mm) 140.4
Tabel 9 Beban hidup pada struktur pelat lantai
Jenis beban hidup Berat (kg/m2) Lantai sekolah, ruang
kuliah, kantor dan asrama
Berdasarkan peta gempa wilayah dapat diketahui bahwa nilai S1 untuk wilayah kota Bogor berkisar 0.3 – 0.4 dan nilai Ss untuk wilayah Bogor berkisar 0.8 – 0.9 g. Penentuan nilai S1 dan Ss dapat juga diperoleh dengan mengakses website resmi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman (PUSKIM) milik Kementerian Pekerjaan Umum dengan memasukkan koordinat dari objek penelitian. Gedung Tanoto Forestry Information Center terletak pada koordinat 6°33‟21.2832„„LS dan 106°43‟52.6188 BT, sehingga dapat diketahui nilai percepatan batuan dasar di lokasi penelitian. Hasil analisa dari website PUSKIM diketahui bahwa wilayah objek penelitian masuk dalam kelas situs sedang (D), nilai percepatan batuan dasar 1 detik (S1) diperoleh sebesar 0.353 dan nilai percepatan batuan dasar 0.2 detik (Ss) diperoleh sebesar 0.867.
Nilai S1 dan Ss dijadikan acuan untuk menentukan nilai faktor amplifikasi terkait spektra percepatan. Pada jenis tanah yang sama, semakin tinggi nilai S1 dan Ss, nilai faktor amplifikasi terkait spektra percepatan semakin kecil. Nilai S1 dijadikan acuan dalam menentukan nilai faktor amlifikasi terkait percepatan yang mewakili getaran perioda 1 detik (Fv) dan nilai Ss dijadikan acuan untuk menentukan nilai faktor amplifikasi getaran terkait percepatan pada getaran perioda pendek 0.2 detik (Fa). Dalam pembuatan grafik spektrum gempa dibutuhkan juga nilai parameter-parameter lainnya yang dihitung berdasarkan SNI 03-1726-2012, yaitu spektrum respons percepatan pada perioda pendek (SMS), spektrum respons percepatan pada perioda 1 detik (SM1), percepatan spektral desain untuk perioda pendek (SDS) dan perioda 1 detik (SD1), percepatan respon
Tabel 10 Nilai parameter-parameter respon spektra untuk kondisi tanah sedang (D)
Gambar 9 Grafik desain spektrum gempa gedung pada lokasi objek penelitian
Hasil dari pembuatan grafik spektrum gempa pada lokasi gedung Tanoto Forestry Information Center IPB dengan kelas situs tanah sedang (D) dapat dilihat pada Gambar 9.
Evaluasi Pelat
Perencanaan pelat direncanakan dengan metode koefisien momen dengan analisis dua arah yaitu arah sumbu x dan arah sumbu y. Gedung Tanoto memakai dua jenis pelat yang berbeda ketebalannya. Perbedaan pelat ini disesuaikan berdasarkan fungsi dari lantai tersebut. Pada pelat tipe S1, tebal pelat adalah 120 mm dan pelat tipe S2 memiliki tebal 100 mm. Hasil dari perencanaan penulangan pelat dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Hasil analisis penulangan pelat lantai Pelat Tebal
(mm)
Kondisi Arah X Arah Y Keterangan
S1 120 Eksisting D8-150 D8-150 Aman
Evaluasi D8-150 D8-150
S 100 Eksisting D6-150 D6-150 Aman
Evaluasi D6-150 D6-150
Evaluasi Kolom
Dari hasil analisis struktur dapat diketahui bahwa, untuk analisis tulangan lentur beberapa tipe kolom memiliki jumlah tulangan eksisting yang kurang dari analisis respon spektrum. Kolom tersebut merupakan tulangan dengan diameter 19 mm yaitu kolom K1-1 yang memiliki perbedaan sebanyak 6 tulangan, K1-2 sebanyak 8 tulangan, K2-2 sebanyak 3 tulangan, K2-3 sebanyak 1 tulangan, K2-4 sebanyak 2 tulangan dan K31 sebanyak 2 tulangan. Untuk tipe kolom K1-3 dan K2-1, nilai eksisting jumlah tulangan lebih besar daripada nilai analisis, yaitu K1-3 memiliki perbedaan sebanyak 1 tulangan dan K2-1 sebanyak 4 tulangan. Pada tulangan geser kolom, hasil analisis pada SAP 2000 menunjukkan perbedaan yang sangat kecil ataupun hampir tidak terjadi perbedaan pada setiap kolom. Hasil perbandingan jumlah dan diameter dan tulangan lentur dan geser kolom dapat dilihat pada Tabel 12.
Evaluasi Balok
Pada analisis struktur dengan adanya pengaruh gempa, masih terdapat tipe balok yang dapat dikatakan tidak aman terhadap dalam menahan beban gempa. Tipe balok tersebut dikatakan tidak aman terhadap beban gempa dikarenakan jumlah tulangan eksisting kurang dari jumlah tulangan hasil evaluasi.
Adapun tipe balok yang memiliki perbedaan tulangan lentur tersebut adalah balok B1A di bagian tumpuan atas 3D19 lebih kecil dari hasil analisis yaitu 6D19, untuk tumpuan bawah eksisting (2D19) juga lebih kecil dari analisis (3D19). Balok B2 di bagian tumpuan atas (5D19) jauh lebih kecil dari hasil analisis (11D19), tumpuan bawah (3D19) juga lebih kecil dari hasil analisis (5D19). Selanjutunya adalah balok B3 yang memiliki perbedaan pada bagian tumpuan atas (6D19) yang lebih kecil daripada hasil analisis (8D19).
Tabel 12 Perbandingan jumlah dan diameter tulangan lentur dan geser kolom
Kolom Kondisi Dimensi Lentur Geser
K1-1 Eksisting 40x40 12D19 3D10-150
Respon spektrum 18D19 3D10-150
K1-2 Eksisting 40x40 10D19 3D10-150
Respon spektrum 18D19 3D10-150
K1-3 Eksisting 40x40 8D19 D10-150
Respon spektrum 7D19 D10-150
K2-1 Eksisting 40x40 10D19 D10-150
Respon spektrum 6D19 D10-150
K2-2 Eksisting 40x40 8D19 D10-150
Respon spektrum 11D19 D10-150
K2-3 Eksisting 40x40 6D19 D10-150
K2-4 Eksisting 40x40 6D19 D10-150
Respon spektrum 8D19 D10-150
K3-1 Eksisting 30x40 6D19 D10-150
Respon spektrum 8D19 D10-150
Tabel 13 Perbandingan jumlah tulangan lentur dan geser pada balok
Balok Dimensi Kondisi
Lentur Geser
Hasil perencanaan tulangan geser pada struktur balok gedung Tanoto ini menunjukkan bahwa kondisi eksisting telah memenuhi kebutuhan jumlah tulangan hasil perencanaan dengan menggunakan gempa.
Green Building
1. Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development – ASD)
Aspek tepat guna lahan diharapkan mampu mengurangi pengaruh negatif dari perubahan guna lahan oleh pembanguna terhadap lingkungan. Rating dan penilaian dalam aspek ASD terdiri dari 2 rating prasyarat dan 8 rating biasa dengan total maksimal adalah 16 poin. Hasil penilaian terhadap rating aspek ASD berdasarkan GBCI adalah sebagai berikut :
Site Management Policy
Peraturan pemeliharaan tapak merupakan kriteria prasyarat yang berisi adanya komitmen atau kebijakan mengenai pemeliharaan eksterior bangunan. Berdasarkan hasil wawancara terhadap pihak manajemen, terdapat komitmen dalam usaha pemeliharaan eksterior bangunan seperti dinding bangunan. Usaha pemeliharaan diberikan pada pihak ketiga yaitu PT Pola Gondola Adiperkasa (Gambar 10). PT Pola Gondola Adiperkasa merupakan perusahaan spesialis yang bergerak dalam usaha membangun gondola, menyewa dan pemeliharaan, bagian dan aksesoris bangunan.
Motor Vehicle Reduction Policy
Pada kategori ini, manajemen puncak IPB telah mengimplementasikan komitmen pengurangan penggunaan kendaraan bermotor pribadi di dalam kampus. Komitmen tersebut diimplementasikan melalui kebijakan Green Transportation yang dituangkan ke dalam Keputusan Rektor Institut Pertanian Bogor nomor 240/IT3/LK/2015 tentang Pelaksanaan Green Transportation di Lingkungan Kampus IPB.
Gambar 11 Transportasi dalam kampus berupa bus dan mobil listrik
Tabel 14 Hasil pengukuran ketersediaan fasilitas umum di Gedung Tanoto IPB
No Keterangan Jarak (m)
1 ATM center 800
2 Rumah Sakit Hewan IPB 1200
3 Bank Mandiri 1300
4 Poliklinik IPB 400
5 Perpustakaan LSI 450
6 Supermarket Alfamidi 650
7 SMU Kornita 240
8 Mesjid Al Hurriyah 750
9 Bank BNI 950
10 Halte 950
Community Accessibility
Tolok ukur dalam aspek aksesibilitas dan komunitas ini meliputi 3 tolok ukur. Tolok ukur yang pertama ialah adanya minimal 5 jenis fasilitas umum dalam pencapaian jalan utama sejauh 1500 m dari tapak bangunan. Pada gedung Tanoto terdapat lebih dari 5 fasilitas umum dalam jarak 1500 m dari tapak yang dapat dilihat pada Tabel 14.
Tolok ukur kedua adalah tersedianya fasilitas pejalan kaki yang aman, nyaman dan bebas dari perpotongan akses kendaraan bermotor untuk menghubungkan 3 fasilitas umum sesuai dari tolok ukur pertama. Gedung Tanoto tidak memiliki jalur yang nyaman untuk pejalan kaki dalam menuju ke fasilitas lainnya.
Tolok ukur ketiga adalah tersedianya shuttle bus bagi pengguna gedung untuk mencapai stasiun transportasi. Institut Pertanian Bogor sendiri mempunyai bus karyawan yang dapat digunakan oleh pengguna gedung Tanoto. Berdasarkan 3 tolok ukur tersebut, aspek ini mendapatkan 2 poin nilai. Gambar lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 1.
Motor Vehicle Reduction
Gambar 12 Parkir khusus sepeda di gedung Tanoto
Gambar 13 Shelter sepeda di depan gedung Tanoto Bicycle
Pada kategori sepeda, di gedung Tanoto sudah menyediakan secara khusus lokasi parkir sepeda yang aman untuk pengguna gedung (Gambar 12).
Selain itu, kampus IPB juga mempunyai fasilitas shelter sepeda yang dapat dipinjam oleh mahasiswa, pengunjung dari luar maupun karyawan yang hampir tersebar di seluruh areal kampus. kapasitas parkir unit sepeda di shelter lebih dari 30 unit sepeda. Jarak terdekat dari gedung Tanoto ke shelter sepeda adalah 60 m (Gambar 13). Dengan demikian kategori ini mendapatkan nilai poin 1.
Site Landscaping
Gambar 14 Luasan area tapak gedung Tanoto Dapat dilihat pada Tabel 15.
Persentase softcase terhadap total luas lahan gedung Tanoto IPB adalah sebesar 33.04 %, hal ini berarti sesuai dengan tolok ukur site landscaping yang menyaratkan luas softcase minimal 30 % dari luas total lahan (Gambar 14).
Areal lahan di sekitar gedung Tanoto ditanami beberapa jenis vegetasi tanaman seperti Meranti (Shorea selanica), Jati (Tectona grandis), Jati putih (Gmelina arborea) dan Eboni (Diospyros celebica). Vegetasi yang ada berupa tegakan pohon dan didominasi oleh jenis Shorea selanica. Shorea selanica merupakan jenis pohon tahunan, tidak beracun dan dahan tidak mudah patah, sangat tahan terhadap penyakit, dan mampu menyerap tanaman polusi udara. Di areal gedung Tanoto terdapat beberapa jenis hewan seperti burung-burung kecil, tupai, kadal dan berbagai jenis serangga pada vegetasi tersebut. Sesuai dengan Permen PU No. 5/PRT/M/2008 pasal 2.3.1, maka jenis Shorea selanica sesuai dengan kriteria tanaman pekarangan (Gambar 15).
Sesuai dengan tujuan site landscaping yaitu memelihara atau memperluas kehijauan kota, aspek ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan hidup, mengurangi limpasan permukaan terhadap beban sistem drainase sehingga meminimalkan dampak terhadap neraca air bersih dan sistem air tanah, mengurangi heat island, reduksi CO2 dan zat polutan lain pencegah erosi, konservasi dan penanganan polusi. Dengan demikian kategori ini mendapatkan nilai 3 poin.
Tabel 15 Hasil perhitungan luasan area tapak Gedung Tanoto
Keterangan Luas (m2)
Bangunan 536.5
Ruang hijau (softcase) 1410
Lahan terbuka 2321.75
Heat Island Effect
Nilai Albedo adalah ratio jumlah sinar matahari yang dipantulkan oleh suatu permukaan dibandingkan dengan total sinar matahari yang mengenai permukaan tersebut, memiliki range : 0 - 1 (0: warna hitam; 1: warna putih). Angka 0 menunjukkan bahwa material dengan daya serap sempurna, sedangkan angka 1 menunjukkan bahwa bahan dengan daya pantul sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kecil nilai albedo maka radiasi matahari akan banyak terserap pada permukaan bumi sehingga akan menimbulkan suatu fenomena heat island effect, yaitu meningkatnya suhu permukaan area.
Menurut GBCI, nilai albedo rata-rata minimal adalah 0.3 untuk perhitungan pada area atap gedung yang tertutup perkerasan. Gedung Tanoto menggunakan material beton pada area tutupan atap dan non atap. Nilai albedo dari beton adalah sebesar 0.55 (Rushayati et al. 2010), sehingga telah memenuhi persyaratan untuk area atap gedung yang tertutup perkerasan dan area non atap gedung yang tertutup perkerasan. Dengan demikian aspek ini mendapatkan nilai 2 poin.
Stormwater Management
Manajemen air limpasan merupakan tolok ukur dalam usaha pengurangan beban volume limpasan air hujan dari luas lahan ke jaringan drainase kota sebesar 50% total volume hujan harian yang dihitung berdasarkan perhitungan debit air hujan pada bulan basah. Peluang kejadian hujan pada bulan basah dihitung berdasarkan data curah hujan harian yang didapatkan dari stasiun klimatologi Dramaga Bogor dengan rentang 11 tahun dari tahun 2004 – 2014, dan ditunjukkan pada Tabel 16.
Berdasarkan dari Tabel 16, dibentuk diagram penentuan bulan basah dan bulan kering yang bersumber pada klasifikasi Oldeman yang akan ditunjukkan pada Gambar 16
Pada klasifikasi Oldeman, kategori bulan basah adalah jika rata-rata curah hujan lebih dari 200 mm, bulan lembab 100-200 mm dan bulan kering kurang dari 100 mm (Sasminto et al. 2014) Berdasarkan dari diagram pada gambar , bulan basah terjadi pada semua bulan kecuali pada bulan Juli. Data ini digunakan untuk menghitung volume hujan harian yang dihitung menurut perhitungan debit air hujan pada bulan basah.
Total beban volume limpasan di gedung Tanoto adalah 0.000124 m3/s atau 1.43 mm3/hari. Volume hujan harian yang didapat dari perhitungan curah air hujan pada bulan basah dari tahun 2004 – 2014 adalah 10.8 mm/hari. Persentase total beban volume limpasan air hujan terhadap beban volume hujan harian adalah 13.24 %, yang berarti air yang terserap dan masuk ke dalam tanah sebesar 86.76 % (Tabel 17). Berdasarkan GBCI, dijelaskan bahwa pengurangan beban Tabel 16 Data curah hujan rata-rata bulanan dari 2004-2014
Bulan Tahun
Rata-Rata (mm)
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Jan 403,7 536,5 639,8 372,8 260,6 360,8 252,0 202,7 271,7 509,8 702,0 410,2 Feb 327,2 580,4 434,3 438,2 384,5 305,3 460,7 76,5 548,9 406,2 337,4 390,9 Mar 431,8 679,6 138,3 276,4 671,6 261,1 414,5 140,0 136,0 289,8 281,6 338,2 Apr 639,8 307,7 163,9 472,7 527,0 259,9 42,9 278,4 389,5 216,0 510,9 346,2 Mei 373,6 428,9 323,7 195,6 267,1 570,6 330,9 361,7 194,8 399,3 296,4 340,2 Jun 169,3 682,0 173,1 273,5 171,5 338,1 303,4 274,6 93,9 62,3 84,7 238,8 Jul 208,6 215,4 31,2 133,9 172,4 131,1 270,4 202,0 118,9 360,2 349,0 199,4 Agust 166,0 153,2 191,2 247,9 195,7 33,1 477,6 142,0 79,3 258,3 538,4 225,7 Sept 391,5 319,9 25,7 205,9 343,5 156,8 601,0 105,9 270,5 503,2 21,8 267,8 Oktr 277,3 350,9 152,0 235,5 311,3 415,8 435,9 256,0 539,5 393,6 180,3 322,6 Nop 400,8 422,9 354,9 444,0 509,0 407,0 284,2 457,7 548,9 186,9 673,2 426,3 Des 431,7 251,5 362,5 476,0 224,7 258,2 177,3 344,6 358,8 407,7 200,2 317,6
Sumber : Stasiun Klimatologi Klas I Darmaga Bogor 2015
volume limpasan sebesar 50 % dan total 50 % limpasan yang diserapkan ke lahan maupun yang dikelola dengan sistem Rain Water Harvesting. Oleh karena itu, tolok ukur dalam kategori ini terpenuhi dan mendapatkan nilai 2 poin.
Building Neighbourhood
Salah satu tolok ukur pertama dalam kategori ini adalah melakukan peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar gedung dengan melakukan salah satu dari tindakan berikut: perbaikan sanitasi, penyediaan tempat beribadah, WC umum, kaki lima dan pelatihan pengembangan masyarakat. Di dalam gedung Tanoto terdapat kantin yang dibuka untuk umum, sehingga warga sekitar dapat menyewa lokasi di dalam kantin untuk berjualan. Disamping itu, terdapat juga fasilitas WC umum yang dapat digunakan oleh siapapun termasuk masyarakat umum.
Tolok ukur kedua adalah membuka akses pejalan kaki ke minimal 2 orientasi menuju bangunan tetangga tanpa harus melalui area publik. Orientasi yang berbeda yang dimaksud dalam GBCI adalah arah mata angin. Sebagai contoh, di sebelah selatan gedung Tanoto terdapat akses pejalan kaki ke gedung Fakultas Kehutanan dan gedung Auditorium Sylva Pertamina dan di sebelah timur dari gedung terdapat akses pejalan kaki ke gedung Kuliah Bersama/CCR. Dengan demikian kategori ini mendapatkan nilai 2 poin.
Tabel 17 Hasil perhitungan limpasan gedung Tanoto Fungsi
lahan
Luas (m2) Luas (Ha) I (mm/jam) C Q (m3/s)
Bangunan 536.5 0.05365 0.179 0.80 0.000082
Ruang hijau
1410 0.141 0.179 0.10 0.000007
Lahan terbuka
2321.75 0.232175 0.179 0.30 0.000035
Total 4268.25 0.426825 0.000124
Hasil penilaian Appropriate Site Development- ASD
Hasil penilaian terhadap aspek ASD pada gedung Tanoto menunjukkan bahwa perolehan poin nilai yang didapat adalah 13 poin dari nilai poin maksimal 16 poin sehingga telah memenuhi 81.25% dari rating yang telah ditetapkan pada GREENSHIP GBCI.
2. Efisiensi dan Konservasi Energi (Energy Efficiency & Conservation- EEC)
Energi merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam penilaian Green Building. Pada praktiknya, dibutuhkan konservasi energi untuk meningkatkan efisiensi energi atau penghematan energi. Pengoperasian sistem dengan menggunakan teknologi dan cara yang tidak efisien akan berdampak pada perubahan iklim serta pemanasan global disebabkan oleh efek rumah kaca.
Tujuan utama pada aspek ini adalah mendorong terjadinya penghematan konsumsi energi melalui langkah-langkah efisiensi energi. Penilaian terhadap aspek EEC terdiri dari 2 rating prasyarat, 5 rating biasa dan 2 rating bonus dengan nilai total maksimal adalah 36 poin.
Optimized Efficiency Building Energy Performance
Tolok ukur dalam kategori Optimized Efficiency Building Energy Performance adalah perhitungan nilai IKE (Intensitas Konsumsi Energi) gedung yang menunjukkan nilai di bawah IKE standar acuan, setiap penurunan 3% akan mendapatkan 1 poin tambahan sampai maksimal 16 poin. IKE listrik adalah pembagian antara konsumsi energi listrik pada kurun waktu tertentu dengan satuan luas bangunan gedung (Untoro et al. 2014).
Pada saat ini tidak terdapat meteran khusus untuk mencatat pemakaian listrik setiap bulan di gedung Tanoto, sehingga dilakukan perkiraan konsumsi listrik di gedung Tanoto berdasarkan pada alat-alat yang menggunakan arus listrik untuk beroperasi yang berada di gedung Tanoto. Perkiraan konsumsi arus listrik di gedung Tanoto dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18 Perkiraan konsumsi arus listrik per bulan di gedung Tanoto
Dengan asumsi bahwa 1 hari jam kerja adalah 8 jam dan 1 bulan adalah 22 hari kerja maka dapat diketahui bahwa konsumsi pemakaian listrik per hari dari gedung Tanoto adalah 332376 Watt hour atau 332.376 kWh dan konsumsi per bulan adalah 7312272 Watt hour atau 7312.272 kWh. Dimana konsumsi listrik terbesar dari gedung Tanoto adalah pemakaian AC (Air Conditioning). Penggunaan AC sebagai peralatan mekanis gedung adalah pemakaian energi listrik terbesar (Heryanto 2004)
Apabila dikalkulasikan biaya listrik per bulan dengan harga per kWh di bulan November 2016 yaitu Rp 1461.8 maka biaya listrik per bulan dari gedung Tanoto adalah sebesar Rp 10,689,079. Dari hasil perkiraan pemakaian listrik ini dapat dihitung IKE listrik pada gedung Tanoto dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19 Hasil perhitungan IKE listrik gedung Tanoto Gedung Konsumsi energi Dengan demikian didapatkan penghematan sebesar 83.01% dari standar acuan yang ditetapkan pada kategori ini sehingga kategori Optimized Efficiency Building Energy Performance mendapatkan 16 poin nilai.
Hasil penilaian Energy Efficiency and Conservation-EEC
Hasil penilaian terhadap aspek EEC yang dilakukan pada gedung Tanoto menghasilkan 16 poin nilai sama dari total 36 poin maksimal sehingga telah memenuhi 44.44% dari rating yang telah ditetapkan GREENSHIP GBCI.
3.Konservasi Air (Water Conservation – WAC)
Tujuan utama dari aspek WAC adalah adalah mendorong penghematan konsumsi air melalui aplikasi langkah-langkah efisiensi air, manajemen penggunaan air dan menjaga serta melindungi kualitas air. Penilaian aspek WAC terdiri dari 1 rating prasyarat, 7 rating biasa dan 1 rating bonus dengan total nilai maksimal adalah 20 poin.
Water Management Policy
Water Management Policy merupakan kriteria prasyarat. IPB telah memiliki komitmen untuk melakukan penghematan tidak saja air namun juga hemat energi. Hal ini sesuai dengan tema kampanye green transportation yakni “Hemat air, hemat energi, kelola sampah dan bijak transportasi menuju IPB Green Campus 2020”. Namun demikian, sebagai sebuah gedung baru, perlu dilakukan pemasangan kampanye tertulis secara permanen di setiap lantai, antara lain berupa stiker, poster atau email di dalam gedung Tanoto.
Water Sub-Metering
induk yang terletak di menara air Fahutan. Air akan didistribusikan dari menara air ke gedung Kuliah Bersama/CCR, FAPERTA, FMIPA, FEMA, FATETA, FAHUTAN, Gymnasium, FEM, PAU, ASTRI, dan gedung Tanoto. Dengan demikian gedung Tanoto belum memiliki sub meteran konsumsi khusus.
Water Monitoring Control
Aspek yang harus ada pada Water Monitoring Control adalah adanya standar operasi mengenai pelaksanaan dalam pemeriksaan dan pemeliharaan sistem plambing atau pipasecara berkala untuk mencegah terjadinya kebocoran dan pemborosan air dengan menunjukkan neraca air dalam 6 bulan terakhir dan laporan setiap 6 bulan. Mengenai standar operasi pemeriksaan dan pemeliharaan secara khusus belum tersedia, sehingga sering terjadi kerusakan pada meteran air yang mengakibatkan tidak adanya catatan pemakaian air yang lengkap. Disamping itu, jumlah tenaga kerja yang tidak memadai juga menjadi kendala utama di lapangan, sebab untuk tanggung jawab untuk pemeliharaan dan pemeriksaan itu berada pada divisi Biro Umum IPB yang mana bertugas tidak hanya memeriksa dan memelihara satu gedung saja akan tetapi seluruh gedung yang berada di kampus IPB.
Fresh Water Efficiency
Seperti yang sudah diketahui bahwa gedung Tanoto tidak memiliki meteran konsumsi air khusus , sehingga untuk mengetahui pemakaian air khusus gedung Tanoto digunakan dengan metoda penaksiran laju air. Metoda ini didasarkan pada pemakaian air rata-rata sehari dari setiap penghuni, dan perkiraan jumlah penghuni. Apabila jumlah penghuni diketahui untuk satu gedung, maka angka yang dipakai untuk menghitung pemakaian rata-rata sehari berdasarkan tabel “standar” mengenai pemakaian air per orang per hari (Morimura 2000).
Tolok ukur dalam Fresh Water Efficiency menurut GBCI adalah untuk gedung dengan konsumsi air 20% diatas SNI (SNI 03-7065-2005 tentang Tata Cara Pelaksanaan Sistem Plambing), setiap penurunan 10% mendapat 1 poin nilai sampai mencapai standar acuan dengan maksimum 2 poin nilai. berdasarkan SNI 03-7065-2005, standar minimum konsumsi air khusus untuk gedung perkantoran adalah 50 liter/hari/pekerja dan untuk penghuni tidak tetap adalah 25 liter/hari/pengunjung. Apabila dikonversikan dengan waktu kerja bulanan rata-rata sebanyak 22 hari, maka didapatkan standar konsumsi air sebesar 1100 liter/bulan/pekerja dan untuk nilai 20% diatas standar SNI didapatkan nilai sebesar 1320 liter/bulan/pekerja. Untuk penghuni tidak tetap didapatkan standar konsumsi air sebesar 550 liter/bulan/pengunjung dan untuk nilai 20% diatas standar SNI didapatkan nilai sebesar 660 liter/bulan/pengunjung. Total pengunjung per hari gedung Tanoto rata-rata diperkirakan sebanyak 50 orang/hari (Tabel 20).
Recycled water
Tabel 20 Perkiraan total konsumsi air di gedung Tanoto
Tolok ukur pertama adalah menggunakan air daur ulang dengan kapasitas yang cukup untuk kebutuhan flushing WC, sesuai dengan dengan standar World Health Organization (WHO) untuk medium contact (<100 Fecal Coliform/100 ml). Sesuai dengan penjelasan pada tolok ukur recycled water pasokan kebutuhan air gedung Tanoto bersumber dari air daur ulang sungai termasuk untuk kebutuhan penggunaan flushing WC di gedung.
Tolok ukur kedua adalah pengukuran dan pemeriksaan di laboratorium untuk mengetahui kualitas air bersih di gedung Tanoto. Pada tolok ukur ini tidak ada data tentang pengukuran dan pemeriksaan kualitas air yang berada di gedung Tanoto. Tolok ukur ketiga adalah mempunyai sistem air daur ulang yang outputnya setara dengan standar air bersih Permenkes No. 416 tahun 1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air bersih. WTP Cihideung menggunakan tolok ukur sesuai dengan Permenkes No. 416 tahun 1990, proses monitoring kualitas air hasil produksi pada setiap pengolahan di WTP Cihideung dilakukan minimal sekali sehari dan dibuat dalam laporan bulanan. Dengan demikian aspek Recycled Water mendapatkan nilai 3.
Deep Well Reduction
Tolok ukur pada Deep Well Reduction meliputi adanya penghematan penggunaan air tanah. Gedung Tanoto sama sekali tidak menggunakan air tanah sebagai pasokan air untuk gedung karena pasokan air 100% berasal dari WTP Cihideung yang merupakan instalasi pengolahan air bersih yang dimiliki oleh IPB. Dengan demikian kategori ini mendapatkan 2 poin nilai.
Hasil penilaian Water Conservation – WAC.
Hasil penilaian terhadap aspek WAC yang dilakukan pada gedung Tanoto menunjukkan bahwa perolehan poin nilai yang didapat adalah 5 poin dari nilai maksimal 20 poin sehingga telah memenuhi 25% dari rating yang telah ditetapkan GBCI.
4. Sumber dan Siklus Material (Material Resources and Cycle – MRC)
Gambar 18 Tipe refrigerant gedung Tanoto Fundamental Refrigerant
Kategori Fundamental Refrigerant merupakan kriteria prasyarat. Pada kategori ini terdapat tolok ukur penggunaan Referigen non-CFC dan Bahan Pembersih yang dimiliki nilai Ozone Depleting Potential (ODP) kecil yaitu <1. Gedung Tanoto IPB menggunakan refrigerant R22 dengan nilai ODP sebesar 0.05. dengan demikian kriteria prasyarat dalam kategori ini terpenuhi (Gambar 18).
Material Purchasing Practice
Tolok ukur pada kategori Material Purchasing Practice adalah adanya dokumen yang menjelaskan pembelanjaan material sesuai dengan kebijakan dalam prasyarat 2 yaitu pembelanjaan material sesuai dengan ramah lingkungan, paling sedikit 3 material yang diterapkan pada Daftar Material Ramah Lingkungan dalam 6 bulan terakhir. Berikut adalah daftar material ramah lingkungan tersebut :
a. 80% produksi regional berdasarkan total pembelanjaan material keseluruhan.
b. 30% bersertifikat SNI/ISO/ecolabel berdasarkan total pembelanjaan material keseluruhan.
c. 5% material yang dapat didaur ulang (recycle) berdasarkan total pembelanjaan material keseluruhan.
d. 10% material bekas (reuse) berdasarkan total pembelanjaan material keseluruhan.
e. 2% material terbarukan (renewable) berdasarkan total pembelanjaan material keseluruhan.
f. 30% material modular atau pre fabrikasi berdasarkan total pembelanjaan material kayu keseluruhan.
g. 100% kayu bersertifikat berdasarkan total pembelanjaan material kayu keseluruhan.
h. 2.5% lampu yang tidak mengandung merkuri dari total unit pembelanjaan lampu.
j. Plafond atau partisi yang tidak mengandung asbestos formaldehyde rendah.
k. Produk kayu komposit dan agrifiber beremisi formaldehyde rendah. l. Produk cat dan karpet yang beremisi VOC rendah
Gedung Tanoto telah memakai lebih dari 80% material yang telah diproduksi dalam regional. Untuk penerangan, gedung Tanoto menggunakan lampu TL dan dipadu lampu LED (Light-Emitting Diode) yang tidak mengandung merkuri dan lebih ramah lingkungan. Penggunaan lampu LED menunjukkan bahwa investasi penggunaan lampu tersebut lebih menguntungkan, walaupun biaya awal pembelian lampu lebih besar daripada lampu essensial (Andini dan Utomo 2014). Pada poin j, gedung Tanoto telah memakai plafond gypsum non-asbestos dan dikombinasikan dengan tripleks.
Waste Management Practice
Salah satu tolok ukur Waste Management Practice yaitu, apabila telah melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik, selanjutnya dilakukan pengelolaan sampah organik secara mandiri atau bekerja sama dengan badan resmi pengelolaan limbah organik. Biro Umum IPB, selaku unit yang bertanggung jawab dalam penanganan sampah di kampus IPB melakukan penanganan sampah organik menjadi kompos berstandar SNI bekerja sama dengan kelompok mahasiswa yang peduli terhadap pengelolaan sampah organik di sekitar kampus. Tolok ukur berikutnya adalah, adanya pengolahan sampah anorganik secara mandiri atau berkerja sama dengan badan resmi pengolahan limbah anorganik yang memiliki prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Biro Umum IPB melakukan kerja sama dengan CV. Cipta Karya dalam penanganan sampah anorganik. Dengan demikian kategori ini mendapatkan 2 poin nilai.
Hasil penilaian Material Resources and Cycle – MRC
Hasil penilaian terhadap aspek MRC yang dilakukan pada gedung Tanoto menunjukkan bahwa perolehan nilai yang didapat adalah 2 poin dari nilai maksimal 12 sehingga telah memenuhi 16.67% dari rating yang telah ditetapkan GREENSHIP GBCI.
5. Indoor Health and Comfort – IHC
Sebagian besar waktu manusia dihabiskan di dalam ruang (indoor), seperti kantor, sekolah, dan rumah, sehingga kualitas udara dalam ruangan menjadi penting untuk kesehatan manusia dan kesejahteraan (Giulio et al. 2009).Kualitas udara dalam ruang akan mempengaruhi kesehatan bagi pengguna ruangan tersebut.
No Smoking Campaign
Kategori No Smoking Campaign merupakan kriteria prasyarat. Di dalamnya terdapat dua tolok ukur. Tolok ukur pertama memuat komitmen dari manajemen puncak untuk mendorong minimalisasi aktifitas merokok dalam gedung. Gedung Tanoto mempunyai SOP penggunaan FSC (Forest Student Center) Tanoto Forestry Information Center yang didalamnya tercantum larangan merokok di dalam gedung Tanoto (Gambar 19).
Tolok ukur kedua memuat adanya kampanye dilarang merokok yang mencakup dampak negatif dari merokok terhadap diri sendiri dan lingkungan dengan minimal pemasangan kampanye tertulis secara permanen di setiap lantai, antara lain berupa: stiker, poster, email. Gedung Tanoto telah memasang kampanye berupa stiker dilarang merokok serta surat himbauan untuk tidak merokok di dalam gedung. Dengan demikian kedua tolok ukur dalam kriteria prasyarat ini terpenuhi.
Environmental Tobacco Smoke Control
Tolok ukur pada kategori Environmental Tobacco Smoke Control adalah dilarang merokok diseluruh area gedung dan tidak menyediakan/area khusus di dalam gedung untuk merokok. Apabila menyediakan area khusus untuk merokok harus berjarak minimal 5 m dari pintu masuk, tempat masuknya udara segar dan bukaan jendela dengan tindak lanjut prosedur pemantauan, dokumentasi dan sistem tanggap terhadap larangan merokok. Manajemen puncak gedung Tanoto melarang setiap pengunjung gedung untuk merokok di seluruh area gedung disamping itu terdapat juga Selain itu terdapat juga Peraturan Rektor Institut Pertanian Bogor Nomor 13/13/KM/2015 tentang Tata Tertib Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Institut Pertanian Bogor pada pasal 9 a yang berisi larangan untuk merokok dan memperdagangkan rokok dan sejenisnya di dalam lingkungan Gambar 19 SOP penggunaan gedung Tanoto tercantum larangan merokok