• Tidak ada hasil yang ditemukan

: Terdampinginya pengembangan komoditas strategis

Untuk mencapai sasaran tersebut, diukur melalui jumlah pendampingan komoditas strategis. Adapun pencapaian indikator kinerja adalah sebagai berikut:

Indikator Kinerja Target Realisasi % Jumlah pendampingan

komoditas strategis 7 7 100

a. Pendampingan Upaya-Upaya Khusus Peningkatan Produksi dan Produktivitas Komoditas Strategis

Pendampingan UPSUS bertujuan untuk pendampingan inovasi teknologi spesifik lokasi dalam optimasi lahan dan Indeks Pertanaman (IP) padi, jagung dan kedelai di setiap wilayah Kabupaten, Provinsi Riau. Kegiatan UPSUS Pajale ini diawali dengan koordinasi di awal tahun untuk menetapkan target LTT tahun

23 2017. Acara dalam rangka Koordinasi UPSUS PAJALE Tingkat Provinsi Riau yang bertujuan Untuk menyamakan persepsi dan sikronisasi data dalam pelaksanaan kegiatan Upaya Khusus peningkatan produksi Padi Jagung dan Kedelai.

Strategi pencapaian luas tanam dan produksi padi, jagung dan kedelai:

1). Perluasan areal lahan, antara lain: peningkatan indeks pertanaman (PIP), pemanfaatan lahan tidur, pengembangan pangan pada lahan pekebunan dan perhutani, pengembangan areal baru, 2). Peningkatan produktivitas antara lain:

penggunaan benih varietas unggul baru, penerapan teknologi budidaya (Jarwo), penerapan pupuk berimbang, 3). Pengamanan produksi antara lain penurunan susut hasil, pengaman produksi dari gangguan OPT, dan 4). Dukungan kebijakan antara lain kebijakan harga, pasar, tarif, dan tata niaga, Penyuluhan, permodalan dan stake holder terkait

b. Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Hortikultura (Bawang Merah & Cabai)

Inovasi dan adopsi teknologi merupakan faktor utama dalam pengembangan kawasan agribisnis hortikultura. BPTP melakukan dukungan dalam bentuk pendampingan untuk komoditas unggulan daerah antara lain dengan melakukan koordinasi dengan pemda setempat, membuat demplot sebagai percontohan penerapan teknologi, pelatihan penerapan teknologi inovatif, pengembangan kelembagaan petani dan menjadi narasumber dalam pertemuan dan pelatihan. Kabupaten Kampar masuk ke dalam kategori kawasan pengembaangan yang belum berkembang berdasarkan ciri-ciri tahapan perkembangannya karena kegiatan masih dominan di on-farm dan teknologi budidaya belum maju sehingga masih butuh pembinaan teknologi. Komoditas yang didampingi adalah bawang merah dan jeruk yang juga merupakan fokus pengembangan komoditas nasional.

Pemkab Kampar melihat potensi dan peluang yang ada akan mengembangkan wilayahnya sebagai sentra bawang merah khususnya untuk menjadi penghasil bawang merah di Sumatera bagian timur. Sistem budidaya bawang merah di kalangan petani masih mengalami beberapa masalah antara lain Kesuburan tanah masih rendah (tanah gambut dan asam), Pestisida dan pupuk mahal, Pupuk kimia terkadang tidak tersedia pada waktunya, Benih unggul tidak tersedia dan Serangan OPT. Untuk komoditas jeruk Kampar merupakan penghasil jeruk terbesar hingga 10 (sepuluh) tahun terakhir musnah karena serangan penyakit CVPD.Dalam hal ini perlu dibenahi dan dikembangkan sistem perbenihan jeruk yang dilakukan oleh petani penangkar benih jeruk karena hingga kini hanya 10% benih jeruk yang beredar yang telah bersertifikat bebas CVPD. Untuk itu perlu adanya Penguatan kelembagaan penangkar, penataan Blok Fondasi (BF) dan Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT)

c. Pendampingan Pengembangan Kawasan Peternakan

Provinsi Riau dalam memenuhi kebutuhan akan daging baru mampu memenuhi 47%, sisanya didatangkan dari propinsi tetangga bahkan ada yang impor. Lambannya perkembangan populasi ternak sapi di Provinsi Riau disebabkan berbagai faktor diantaranya : keterbatasan pakan, Rata-rata

24 peternak memelihara sapi hanya sebagai kegiatan sampingan, sehingga sistem pemeliharaan yang dilakukan masih sederhana. Percepatan peningkatan populasi ternak sapi melalui pendampingan diharapkan dapat meningkat dari tahun ke tahun. Pendampingan dilaksanakan di 1) Kelompok Tani Sidodadi Makmur Desa Langsat Hulu. 2) Kelompok Tani Maju Makmur Kecamatan Sentajo Raya Kabupaten Kuansing Provinsi Riau. Teknologi yang telah diterapkan oleh kelompok adalah 1).teknologi pakan konsentrat fermentasi berbasis limbah sawit, 2). Kompos dan biourine, 3). Jamu Ternak 4). Mineral Blok, 5).

Pengembangan sumber pakan ternak: Penanaman Hijauan pakan ternak dan Tumpang sari tanaman pangan/hortikultura diantara tanaman sawit berumur < 3 tahun serta pemanfaatannya limbahnya sebagai pakan ternak, 6). Teknologi Android Dalam Pelayanan Kesehatan Hewan Secara Interaktif

d. Pengembangan Pola Tanam Tanaman Pangan

Kegiatan Pengembangan Pola Tanam Tanaman Pangan diawali dengan Seminar Proposal kemudian dilakukan koordinasi dan pengumpulan data sekunder potensi sumberdaya pertanian Provinsi Riau serta pengumpulan data Iklim dan Curah hujan dari kantor BMKG dan Balai Sumberdaya Wilayah III Air dan Sungai Pekanbaru. Menginventasisasi data sumberdaya iklim, terutama curah hujan, yang kemudian dianalisis untuk menentukan karaktersitik curah hujan, yaitu variabiltas iklim, potensi awal musim tanam dan intesitas pertanaman (IP).Komponen utama deliniasi kalender tanam adalah curah hujan dan ketersediaan air irigasi.

Dalam rangka menyebarluaskan SI-KATAM Terpadu di Provinsi Riau, telah dilakukan Sosialisasi pada beberapa kabupaten yakni Kabupaten Indragiri Hulu, Siak dan Kabupaten Kepulauan Meranti.Selain itu juga diserahkan buku Informasi Katam Musim Kemarau (MH) Oktober - Maret (OKMAR) 2017 kepada peserta yang memuat informasi Estimasi waktu dan luas tanam padi dan palawija, estimasi wilayah rawan banjir, kekeringan dan serangan OPT, Rekomendasi varietas, kebutuhan benih pupuk dan alsintan. Uji coba validasi rekomendasi pemupukan SI-Katam terpadu di desa Muara Kelantan Kelompok Tani Jaya. Petani kooperator sebanyak 2 orang dengan luasan masing-masing lahan seluas 0,5 ha

e. Pendampingan Kawasan Perkebunan

Koordinasi dan karakterisasi calon lokasi kegiatan pendampingan pengembangan kawasan perkebunan di Provinsi Riau dilakukan di daerah Kabupaten Indragiri Hilir.Bertempat di Parit Biuku Darat, Desa Pembenaan, Kec Keritang, dilakukan penyerahan dan pemasangan FEROTRAP. Ferotrap merupakan perangkap kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros) dengan memakai hormon penarik kumbang (atractan). Ferotrap dipasang pd lahan kelapa seluas 20 ha (demplot). Pada kawasan perkebunan kelapa di Parit Biuku Darat (Parit adalah setingkat RT) Desa Pembenaan, tanaman kelapa terserang kumbang dengan kategori berat sebanyak 9.572 pohon (± 65 ha). Pada lahan demplot ini nantinya, selain dilakukan pengendalian kumbang menggunakan ferotrap, juga dilakulan peningkatan produktivitas kelapa melalui pemupukan spesifik lokasi.

25 Pengamatan hama kumbang kelapa pada alat perangkap hama kumbang (FEROTRAP) yang telah dipasang 16 minggu lalu di lahan seluas 20 ha (demplot) f. Dukungan Inovasi Pertanian untuk Peningkatan Indeks Pertanaman Padi

lahan kering dan tadah hujan

Upaya swasembada padi telah dilakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Selain lahan sawah irigasi, lahan kering dan sawah tadah hujan sangat berpotensi ditanami padi gogo, kedela, dan jagung untuk mendukung program peningkatan produksi pangan nasional. Provinsi Riau memiliki potensi yang besar untuk pengembangan padi gogo, kedelai dan jagung sebagai tanaman sela.Riau memiliki lahan perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia, mencapai 23% luas perkebunan sawit nasional, seluas 1.781.900 ha.

Sebanyak 17,60% dari luasan tersebut merupakan tanaman belum menghasilkan, sehingga layak digunakan sebagai lahan penanaman padi gogo, kedelai dan jagung namun rendahnya intensitas cahaya matahari menjadi salah satu faktor penghambat untuk pengembangan tanaman padi di bawah tegakan kelapa sawit. Introduksi varietas unggul baru padi gogo tahan naungan, kedelai dan jagung menjadi salah satu alternatif dalam pemecahan masalah tersebut di lahan kering dan tadah hujan

g. Dukungan Inovasi Teknologi di Daerah Perbatasan

Sebelum dilakukan pengkajian Inovasi Teknologi Daerah Perbatasan dilakukan pada Dinas Pertanian Kabupaten Pelalawan dan institusi tingkat kabupaten yang terkait lainnya, Petugas pertanian tingkat kecamatan dan stakeholders lainnya. Selanjutnya dilakukan identifikasi kondisi wilayah, permasalahan dan potensi pengembangan pertanian.Secara geografis Pulau Mendol merupakan pecahan dari Pulau Sumatera. Sebagai sentra utama produksi padi, Pulau Mendol yang dikenal juga dengan Pulau Penyalai ini memiliki lahan sawah sekitar 5.921 ha, atau hampir 80% dari total luas lahan sawah di Kabupaten Pelalawan. Pada umumnya pola usahatani berupa padi satu kali setahun.Namun pada beberapa daerah usahatani ada yang 2 kali setahun, dengan pola usahatani padi-jagung, padi-semangka, atau padi-kacang-kacangan.

Teknologi budidaya padi di Pulau Mendol tanpa penambahan pupuk (tanpa input eksternal), baik berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik. Namun produktivitasnya dapat berkisar 3,8-4,3 ton/ha. Dengan luas lahan sawah 5.921 hadan frekwensi tanam satu kali setahun, Pulau Mendol mampu memproduksi 25.000 ton padi (15.500 ton setara beras) tiap tahunnya. Permasalahan yang dihadapi yaitu masih rendahnya harga beras karena kualitas beras yang dihasilkan masih rendah. Inovasi teknologi yang diintroduksikan pada kegiatan ini berupa paket teknologi budidaya padi jarwo super. Pengenalan dan implementasi inovasi teknologi budidaya padi jarwo super. Selain itu juga dilakukan perbaikan pada Kelembagaan Pertanian.

26 Sasaran 4 : Dihasilkannya rumusan rekomendasi kebijakan

pembangunan pertanian

Untuk mencapai sasaran tersebut, diukur dengan satu indikator kinerja sebagai berikut:

Indikator Kinerja Target Realisasi % Jumlah rekomendasi

kebijakan 1 rekomendasi 1 rekomendasi 100

Wilayah Propinsi Riau yang luas, sarana dan prasarana transportasi yang terbatas dan media komunikasi yang minim menyebabkan pelayanan dan kehadiran BPTP Riau kepada stakeholders di daerah tidak maksimal. Banyak lokasi tidak dapat terlayani/terjangkau dalam kegiatan BPTP. Karenanya diperlukan suatu strategi baru dalam pelayanan dan kegiatan diseminasi inotek kepada stakekeholders. Dimana stakeholders dapat bertatap muka langsung ataupun virtual melalui teknologi informasi yang lebih interaktif. Berkaitan dengan percepatan diseminasi hasil-hasil penelitian dan peningkatan jejaring kerja serta pelayanan kepada stakeholder, maka digagas suatu program “Korner Pelayanan Interaktif Teknologi Agroinovasi (KOPI TANI)”. Melalui KOPI TANI diharapkan (1) terselenggara diseminasi Agroinovasi dan komersialisasi produk bekerjasama dengan dunia usaha, (koperasi, swasta, BUMN/BUMD dan lainnya, (2) teradopsinya berbagai teknologi spesifik lokasi dan kegiatan komersialisasi yang sekaligus mengembangkan unit agribisnis bagi mitra-mitra BPTP Litbang Pertanian, (3) diperolehnya nilai tambah produk dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tani melalui inovasi teknologi Balitbangtan.

Sasaran 5 : Tersedianya model pengembangan inovasi pertanian bioindustri spesifik lokasi

Untuk mencapai sasaran tersebut, diukur dengan satu indikator kinerja sebagai berikut.

Indikator Kinerja Target Realisasi % Jumlah model pertanian

bioindustri 1 model 1 model 100

Limbah pelepah sawit di perkebunan belum banyak dimanfatkan hingga saat ini. Pada umumnya pekebun hanya menumpuk pelepah diantara tanaman kelapa sawit pada saat panen, padahal pelepah dapat digunakan sebagai sumber pakan alternatif bagi sapi. Jumlah sapi di Riau menurut Disnak Riau (2014) sebanyak 197.340 ekor. Sapi membutuhkan pakan hijauan 5-10% dari berat badan, dengan demikian rata-rata ternak sapi membutuhkan 10-15 kg pakan per

27 hari. Tetapi sumber hijauan tidak selalu tersedia dalam jumlah cukup di kawasan perkebunan terutama pada tanaman menghasilkan yang kanopinya sudah menutupi permukaan tanah. Oleh karena itu pemanfaatan pelepah sawit sangat penting pada pola integrasi sawit-sapi. Pengkajian bertujuan untuk 1) Membangun dan mengembangkan modelpertanian bioindustri terpadu sistim integrasi sawit-sapi di Kabupaten Kampar, Riau; 2) Menerapkan dan mengembangkan inovasi teknologi peningkatan nilai tambah sistim produksi sawit, produksi daging sapi, produksi sayuran organik, produksi ikan, produksi pupuk organik komersial, dan pemanfaatan limbah untuk bioenergy; 3) Mengembangkan model bioindustri berbasis sawit-sapi yang ramah lingkungan, zero waste, dan berkelanjutan yang diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani kooperator; 4) Mendiseminasikan model pertanian bioindustri terpadu sistim integrasi sawit-sapi kepadapemangku kepentingan. Ruang lingkup kegiatan yang direncanakan meliputi: 1) Perbaikan manajemen produksi sawit meliputi pemupukan, pemeliharaan dan pemanenan; 2) Perbaikan manajemen kandang, reproduksi dan pakan serta untuk usaha peng-gemukan sapi potong unggul; 3) Pengembangan MOL untuk biodekomposer dalam pembuatan kompos dan bioremediasi limbah cair biogas dalam pemeliharaan ikan dan pembuatan pupuk organik cair; 4) Pemanfaatan limbah kandang untuk bioenergi (biogas dan listrik); 5) Peningkatan diversifikasi produk dengan memanfaatkan limbah untuk budidaya sayuran, pemeliharaan ikan dan produksi pupuk organik komersial; 6) Peningkatan nilai tambah sistim produksi sawit,produksi daging sapi, produksi sayuran organik, produksi ikan, dan produksi pupuk organik komersial, dan perbaikan PPH; 7) Diseminasi konsep model pertanian bioindustri terpadu sawit-sapi. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Desa Suka Mulya, Kecamatan Bangkinang Seberang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Sasaran 6: Tersedianya benih sumber padi mendukung sistem perbenihan

Untuk mencapai sasaran tersebut, diukur melalui jumlah produksi benih sumber. Adapun pencapaian indikator kinerja adalah sebagai berikut:

Indikator Kinerja Target Realisasi % Jumlah produksi Benih Sumber 20 ton 9 ton 45

Pelaksanaan produksi benih sumber kegiatan UPBS BPTP Riau di Kabupaten Siak yang meliputi 3 (tiga) Desa yaitu: Desa Bungaraya, Desa Jayapura dan Desa Muara Kelantan. Benih yang dihasilkan oleh UPBS BPTP Riau merupakan produksi benih yang sudah lulus sertifikasi dari UPT. PSB-TPH Provinsi Riau yang dibuktikan dengan surat keterangan lulus dan label sesuai dengan kelas benih yang diproduksi kecuali Varietas Inpago 8. Varietas Inpago 8 yang menurut hasil uji laboratorium UPT PSB-TPH Provinsi Riau dinyatakan tidak lulus karena daya tumbuh dibawah 80%. Dilihat dari karakteristik tanaman dan daya adaptasi yang baik pada varietas Inpago 8 di lapangan menyebabkan

28 banyaknya petani yang memcari benih tersebut, sehingga walaupun tidak lulus uji lab. UPT PSB-TPH, bayak petani yang memaksa untuk menanam kembali benih tersebut. Benih yang diproduksi oleh UPBS BPTP Riau MT. I tahun 2017 meliputi: varietas Inpari 30, Inpara 32, Inpari 33, Inpari 34, Inpari 35, Logawa, Batang Piaman dan Inpago 8 seluas 8,6 ha yang berjumlah: 16,180 ton (FS:

3,0 ton, SS: 5,835 ton dan ES: 7,345 ton), yang sebagian sudah menyebar ke berbagai kabupaten/kota di Provinsi Riau.

Dokumen terkait