• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terfenadin ; Hiblorex; Nadane

Dalam dokumen Histamin dan antagonis histamin (1) (Halaman 72-94)

 

Merupakan antagonis H1 selektif yang relatif tidak menimbulkan efek sedasi dan

anti-kolinergik. Senyawa ini tidak berinteraksi dengan

reseptor  dan  adrenergik, karena tidak mampu

menembus sawar darah otak. Terfenadin efektif untuk pengobatan alergi rinitis musiman,

pruritik dan urtikaria kronik. Absorbsi obat dalam cerna baik dan cepat.  

Awal kerja obat cepat sekitar 1-2 jam, efek mencapai maksimum setelah 3-4 jam dan berakhir setelah

sekitar 8 jam. Metabolit utamanya adalah feksofenadin (Allegra) yang juga merupakan antagonis H1 yang

poten.

2. Astemizole

Astemizole merupakan produk pengembangan dari be-berapa benzimidazol. Efek sampingnya serupa

terfanadin.

3. Akrivastin ( Semprex)

Triprolidin

Senyawa analog triprolidin yang mempunyai lipofilitas rendah karena ada gugus karboksilat (asam akrilat), sehingga sukar menembus SSP dan kerja obat

menjadi lebih cepat.

Akrivastin digunakan untuk alergi kulit yang kronis. Pemakaiannya sering dikombinasi dengan obat

5. Cetirizine

Cetirizine merupakan metabolit asam dari oksidasi alko-hol primer dari antihistamin hidroksizin. Memp. durasi aksi lama dan selektivitas tinggi pada reseptor H-1.

4. Loratadin (= Claritin)

Merupakan turunan antihistamin trisiklik azatadin yang poten, mempunyai masa kerja yang panjang dengan aktivitas antagonis perifer yang selektif.

Loratadin dimetabolis melalui proses oksidasi dan bukan hidrolisis menjadi deskarboetoksi loratadin.

Loratadin digunakan untuk meringankan gejala alergi

rinitis urtikaria kronik dan kelainan alergi dermatologis.

Azatadin Loratadin

Antagonis H2

Antagonis H2 menjadi alternatif yang penting dalam

terapi borok peptic. Denominator umum dalam etilogi borok peptic adalah adanya enzim proteolitik aktif, yaitu pepsin.

Oleh karenanya mekanisme untuk mengobati dan mencegah sakit borok peptik adalah mekanisme penghambatan pepsin.

Mekanisme penghambatan aktivitas pepsin :

1. Kompleksasi kimia

2. Penghambatan pH 3. Antasida

1.      Kompleksasi

Turunan ester sulfat dan sulfonat dari poli sakarida dan ligmin membentuk kompleks kimia dengan enzim, pepsin.

Kompleks ini tidak mempunyai aktivitas proteolitik. Karena polisulfat dan polisulfonat absorbsinya dalam saluran gastro intestinal buruk, kompleksasi kimia spesifik kelihatannya menjadi mekanisme penghambatan pepsin yang diinginkan.

Sayangnya, polimer ini juga merupakan anti koagulan yang poten.

Aktivitas pepsin itu tergantung pH. Aktivitas optimum pada pH 1,5 – 2,5 pada 37º C.

Mekanisme antasid merupakan netralisasi asam, bukan kompleksisasi kimia dengan pepsin.

Salah satu faktor yang menyulitkan adalah ketidakpastian dari interval dosis.

Karena laju dan jumlah sekresi asam beragam dengan perhatian individu terhadap makanan, kebiasaan makan dan laju pengosongan lambung yang membatasi durasi aksi antasid.

Secara teoritik pengikatan kembali asam adalah masalah yang patensial karena pH isi lambung mempengaruhi pelepasan gastrin.

pH sekitar 2,0 mekanisme gastrin untuk menstimulasi sekresi lambung diblok, tetapi kenaikan pH diatas 3 menyebabkan pelepasan gastrin.

Oleh karena itu mekanisme antasid secara tidak langsung menstimulasi sekresi asam.

Mekanisme antisekresi antagonis-H2

Antagonis-H2 menghambat aksi histamin langsung pada sekresi asam yang distimulasi oleh gastrin atau asetil kolin.

Menurut hipotesis, pensekresi itu mempunyai dua kemajuan :

1. Kemanjuran intrinsic, yang menunjukkan respon

maksimal yang dihasilkan jika tidak ada obat lain. 2. Kemanjuran potensiasi yang menunjukkan besarnya respon dengan adanya obat kedua yang

Histamin mempunyai kedua kemanjuran intrinsic dan potensiasi.

Sedangkan gastrin dan asetilkolin hanya mempunyai kemanjuran potensiasi.

Obat antimuskarinik seperti atropin menekan sekresi lambung yang terstimulasi histamin dengan memblok aksi potensial asetilkolin.

Oleh karena itu, histamin dan antagonis-H2 mampu mengalami tautorisme 1,3-prototropik dan tautomer N-H pada keduanya lebih lazim.

Gugus donor elektron, mis. metil lebih menyukai mer N-H yang lebih dekat, sedangkan gugus

Struktur Histamin

( -imidazoliletilamin atau 1-H-imidazol-4-etanamin)

Struktur burimamida menyukai tautomer N-H, kan metiamida menyukai tautomer N-H.

Metiamida lebih poten  5x dibanding burimamida. Jika gugus R diatas adalah metil (donor é), tautomer

N-H juga lebih disukai dengan demikian, efek tautomer suatu rantai penarik elektron diperkuat oleh substituen metil.

Rantai

Untuk memperoleh aktivitas optimal, cincin harus dipisahkan dari gugus N oleh rantai setara dengan rantai empat karbon.

Rantai yang lebih pendek menurunkan secara drastis aktivitas antagonis H-2 nya.

Senyawa yang lebih aktif mengandung rantai tio eter

isosterik (-S-) menggantikan gugus metilena (-CH2)

Gugus N

Untuk mendapatkan aktivitas antagonis yang maksimum, gugus N-ujung harus merupakan substituen non basis yang polar, misal gugus guanidin yang terprotonkan pada pH fisiologik menghasilkan senyawa yang antagonis lemah dan agonis parsial.

Struktur kimia dari antagonis H1 berbeda dengan

antagonis H2.

Antagonis H1 mempunyai gugus aril yang tidak perlu

mempunyai hubungan struktural dengan cincin imidazol histamin, tetapi memberikan lipofilitas yang besar kepada molekul.

Kemiripannya dengan histamin adalah memiliki gugus rantai samping umumnya ammonium yang bermuatan positif pada pH fisiologis.

Pada antagonis-H2 : merupakan molekul hidrofilik yang mempunyai cincin imidazol yang mampu mengalami tautomeri 1,3-proto tropik.

Mereka berbeda dengan struktur histamin pada rantai samping yang meskipun polar, tetapi tidak bermuatan.

Dengan demikian tidak menirukan aksi stimulasi histamin.

Obat-obat yang beraksi sebagai antagonis H2 1. Metiamida

Metiamida memgandung gugus tiourea non basik dan pola.

Substituen serupa dengan gugus sianoguanidin merupakan gugus yang sangat polar, tetapi pada pH fisiologis didominasi oleh yang tidak terionisasi.

Senyawa yang dihasilkan adalah simetidin, yang mempunyai aktivitas sama dengan metiamida

dan tidak memberikan efek samping agranulositopenia

.

2. Simetidin USP, Tagamet

Berupa padatan kristal tak berwarna, sedikit larut dalam air (1,14% pada 37º C). Pada pH 7, larutan dalam air stabil selama 7 hari. Mempunyai koefisien partisi oktanol-air : 2,5.

Merupakan antagonis kompetitif histamin pada reseptor H-2 dari sel parietal, sehingga secara efektif dapat menghambat sekresi asam lambung yang disebabkan oleh rangsangan

makanan maupun oleh asetil kolin, kaffein dan insulin.

Simetidin digunakan untuk pengobatan tukak lambung atau usus dan keadaan hipersekresi yang patologis.

Efek samping yang ditimbulkan a.l. : diarrhae, pusing dan kelelahan. Keadaan kebingungan dan impotensi dapat terjadi meskipun bersifat terpulihkan.

Dosis lazim dewasa : borok duodenal-oral 300 mg, 4 x sehari sewaktu makan dan pada waktu tidur.

Kondisi hiper sekresi patologik-oral, 300 mg, 4 x sehari dengan makanan dan pada waktu tidur, selama pengobatan klinik.

Dosis anak lazim : oral, 5-10 mg per kg berat badan, 4 x sehari, dengan makanan dan waktu tidur

3. Ranitidin HCl = Ranin = Rantin

Merupakan senyawa analog simetidin dengan pe-nggantian cincin imidazol dengan isosternya, yakni cincin furan dan penggantian gugus sianogen

Merupakan antagonis kompetitif histamin pada reseptor H2.

Digunakan untuk pengobatan tukak lambung atau usus. Adanya modifikasi diatas maka dapat menghilangkan

efek samping dari simetidin, seperti ginekomastia, konfusi mental dan mengurangi kebasaan senyawa. Efek samping ranitidin a.l. hepatitis, trombosito-penia,

dan leukopenia yang terpulihkan.

Dalam dokumen Histamin dan antagonis histamin (1) (Halaman 72-94)

Dokumen terkait