• Tidak ada hasil yang ditemukan

Histamin dan antagonis histamin (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Histamin dan antagonis histamin (1)"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

Kuliah Kimia Medisinal I

Dr.Pudjono,SU,Apt.

1. Histamin dan antagonis H

1

dan H

2

(2)

Pustaka

Wolff, M. E., 1995, Burger’s Medicinal Chemistry, Ed. III., John Wiley & Sons, California.

Block J.H. and Beale J.M., 2008 , Wilson and Gisvolds Textbook of Organic Medicinal and Pharmaceutical Chemistry, Ed. 11th,

Lippincott Willians &Wilkins, Toronto

Foye W.O., Lemke, T.L., Williams D.A., 2004, Principles of Medicinal Chemistry, 5th., Lea & Febiger, Boston

Dewick, P.M., 2002, Medicinal Natural Products a Biosynthetic Approach, Second Ed., John Wiley, Baffins Lane, Chichester Siswandono & Bambang Sukardjo (ed), 2000, Kimia Medisinal,

ed. 2, Airlangga University Press, Surabaya.

Ebel S., 1979: Synthetische Arzneimittel, ein Lehr und Handbuch, VCH, Weinheim

(3)

HISTAMIN DAN ANTAGONIS HISTAMIN

Struktur Histamin

(4)

Sir Henry Dale,

(5)
(6)

Sisi reseptor

(7)

• Tersebar di alam, terdapat di ergot dan

tanaman lain, serta disemua organ dan

jaringan tubuh manusia.

• Histamin bersifat basa, gugus amino

rantai samping memp. pKa = 9,70 dan

gugus imidazol amin memp.pKa = 5,90.

(8)
(9)

• Dalam tubuh histamin berasal dari hasil

dekarboksilasi histidin dari alam.

• Reaksinya dikatalisir oleh histidin

(10)
(11)

Histamin mempunyai sifat

:

- merangsang sekresi asam lambung,

- menaikkan laju jantung

- menghambat kontraksi uterus tikus

- stimulasi sel parietal pada perut, sehingga

sekresi HCl meningkat

- pengerutan otot polos saluran cerna yang

menyebabkan sakit epigastrik, mual

muntah dan diare.

(12)
(13)

SENYAWA-SENYAWA AGONIS HISTAMIN:

Betazol HCl

(14)
(15)

Histamin fosfat

Dalam klinik dipakai untuk diagnosa ketidak-beresan sel penghasil asam ( sel parietal) dalam lambung.

Zat ini merupakan stimulan sekresi asam lambung yang kuat.

Tidak adanya sekresi asam sesudah injeksi dianggap bukti bahwa kelenjar penghasil asam lambung tidak berfungsi ( suatu kondisi aklorhidria).

(16)

Betazol HCl merupakan isomer histamin yang bersifat sebagai agonis histamin.

Digunakan untuk mendiagnosa kerusakan sel perut yang memproduksi asam.

Dibanding histamin, betazol kurang poten tetapi masih mampu merangsang sekresi lambung dan efek sampingnya lebih kecil dibandingkan dengan histamin.

Dosis lazim : subkutan / i.v. 50 mg.

(17)
(18)
(19)

C

2-isopropyl-5-methyl phenoxyethyl diethylamine (929F)

929F: Toxic

RP2339: The first

compound that was used to treat human clinically.

(20)

Pengikatan histamin pada reseptornya memacu beberapa aksi seperti respon inflamasi. Oleh karena itu aktivitas antagonistik pada reseptor histamin ditandai pada pengikatan secara

(21)

Antagonis H -1

(22)

• Antagonis H1 dievaluasi berdasarkan kemampu-annya menghambat kejang karena induksi

histamin pada secarik ileum marmot terpisah.

• Antagonis H1 bermanfaat untuk mengurangi gejala alergi karena musim atau cuaca.

• Selain itu antagonis H-1 juga digunakan seba- gai antiemetik, antimabuk, anti parkinson,

(23)

Antagonis H-1 kurang efektif untuk pengobatan asma bronchial dan schock anafilaksis.

Antagonis H-1 menimbulkan efek potensiasi dengan alkohol dan obat penekan syaraf pusat.

Efek samping antagonis H-1 antara lain mengantuk, kelemahan otot, gangguan

(24)

Struktur umum senyawa antagonis H-1

(25)

• Secara umum atom N ujung harus merupakan amina tersier supaya maksimal aktivitasnya, atau dapat pula bagian dari struktur heterosiklik.

• Perpanjangan atau percabangan rantai samping 2-aminoetil menghasilkan senyawa yang kurang aktif.

(26)

Efek samping Antihistamin

• Efek Sedasi (generasi pertama)  bahaya

mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.

• Efek muskarinik  mulut kering, penglihatan

(27)

Reseptor histamin

N N

Senyawa dapat berinteraksi dengan reseptor bila jarak N dan N+ rantai samping:

Reseptor H1 = 4,55 Ao

Reseptor H2 = 3,6 Ao

(28)

Subtipe reseptor histamin

Protein reseptor dalam manusia:

Reseptor H1 : 487 asam amino, 56 kd

Reseptor H2 : 359 asam amino , 40 kd

Reseptor H3 : 445 asam amino, 70 kd

(29)

Aktivasi reseptor H

1

oleh histamin

berakibat:

1. Penurunan tahanan vaskuler perifer 2. permeabilitas venula post kapiler naik.

3. Vasokonstriksi arteri koroner dan basilaris 4. Bronkospasme

5. Konstraksi otot polos gastrointestinal

(30)

Aktivasi reseptor H2 oleh histamin berakibat

1. Penurunan tahanan vaskuler perifer, 2. Vasodilatasi kulit muka,

3. Dilatasi arteri karotis dan pulmonaris 4. Frekuensi dan kontraksi jantung naik 5. Otomatisitas atrium dan ventrikal naik 6. Bronkodilatasi

(31)

Aktivasi reseptor H3 berakibat:

1. Penghambatan terhadap pelepasan neurotrans- mitter (histamin) dari neuron-neuron histaminergik di otak.

2. Hambatan pelepasan transmitter dari saraf tepi dalam sistem saraf otonom dan pleksus mienterikus.

(32)

Reseptor H

4

Reseptor H4 diketemukan terutama dalam

jaringan intestinal, limpa, dan sel-sel aktif

immun ( seperti T cell, neutrophil dan

eosinophil), “ .

Reseptor H

4

diduga mempunyai peranan

(33)

Berdasar strukturnya antihistamin

digolongkan menjadi:

A. Eter amino alkil (etanolamin eter)

B.

Etilen diamin

C.

Turunan Propilamin

(34)
(35)

A. Eter amino alkil

Senyawa-senyawa yang paling aktif mempunyai panjang rantai dua atom C. Kuarterinisasi nitrogen rantai samping tidak selalu menghasilkan senyawa yang kurang aktif.

Golongan ini mempunyai aktivitas antikolinergik nyata, yang mempertinggi aksi pengeblokan reseptor H1 pada sekresi eksokrin.

Efek samping pemakaian eter amino alkil tersier adalah mengantuk, sehingga dipergunakan sebagai pem-bantu tidur pada obat tanpa resep.

(36)

1.

Difenhidramin HCl USP = Benadryl

Basa bebasnya seperti minyak dan larut

dalam lipid, tersedia dalam garam HCl,

yang berupa kristal yang berasa pahit, stabil

diudara dan larut dalam air, alkohol dan

kloroform, pKa : 9

(37)

Difenhidramin mudah disintesis, dengan mengkondensasikan benzhidril bromida dengan dimetil amino etanol dengan adanya natrium karbonat.

Na2CO3

(C6H5)2 CHBr + (CH3)2N CH2CH2OH (C6H5)2CH-OCH2CH2N(CH3)2

Diberikan secara oral atau parentral untuk pengobatan urtikaria, rinitis musiman dan antiemetik dan obat batuk.

(38)

Dimenhidrinat USP; Dramamine;

= 8-kloroteofilin-2-(difenil metoksi)-N-N- dimetil etilamin.

• Dibuat dengan mereaksikan difenhidramin dengan 8-kloroteofilin.

• Dengan adanya turunan purin tersebut dimaksudkan agar ada efek menstimulasi system syarat pusat.

(39)
(40)

3. Karbinoksamin Maleat ; Colistin maleat

Bentuk basa bebasnya berupa cairan menyerupai minyak yang larut dalam lipid. Garam maleatnya berbentuk kristal putih, larut dalam air dan mudah larut dalam alkohol dan kloroform.

(41)

Isomer levo karbinoksamin yang lebih aktif mempunyai konfigurasi absolut S dan dapat superimposabel dengan isomer klorfeniramin yang mempunyai konfigurasi absolut S.

(42)

4. Klemastin Fumarat

Obat ini mempunyai aksi durasi yang lama, dengan aktivitas yang mencapai maksimum dalam 5 – 7 jam, dan tetap berlangsung selama 10 – 12 jam.

(43)

B. Etilendiamin.

Etilendiamin mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal.

Antihistamin tipe piperazin, imidazolin dan fenotiazin mengandung bagian etilendiamin.

Pada kebanyakan molekul obat adanya nitrogen kelihatannya merupakan kondisi yang diperlukan untuk pembentukan garam yang stabil dengan asam mineral.

Gugus amino alifatik dalam etilen diamin cukup basis untuk pembentukan garam, akan tetapi atom N yang diikat pada cincin aromatik sangat kurang basis.

(44)

Struktur resonansi yang menunjukkan delokalisasi elektron adalah sbb.

(45)
(46)

Fenbenzamin merupakan salah satu anti histamin kuat yang ditemukan oleh Halpern (1942), dan merupakan model untuk deret senyawa yang mempunyai struktur umum.

R R2

N – CH2-CH2- N

R1 R3

(47)

1.Tripelenamin sitrat USP, Pyribenzamin citrate; PPZ; 2-benzil [{2-(dimetil-amino)-etil}amino]

piridin dihidrogen sitrat (1:1)

Merupakan turunan fenbenzamin dengan satu

penggantian isosterik sederhana, yaitu gugus fenil diganti dengan gugus piridil.

Penggaraman dengan asam sitrat, karena garam sitrat kurang pahit dibanding garam HCl, sehingga rasanya lebih enak.

(48)

2. Tripelenamin Hidroklorida

Garam tripelenamin HCl merupakan serbuk kristal putih dan akan berubah menjadi gelap dengan adanya cahaya.

Garam yang larut dalam air (1: 0,77) dan dalam alkohol (1:6). Mempunyai pKa sekitar 9 , pada larutan 0,1 % merupakan pH 5,5.

Jika diberikan per oral, absorbsinya baik dan efektifitasnya sama dengan difenhidramin dan reaksi sampingnya lebih sedikit dan lebih ringan.

(49)

3. Pirilamin Maleat USP ; p-metoksibenzil) amino] piridil bimaleat

Basa bebas berbentuk seperti minyak, tersedia sebagai garam asam maleat., yang berupa serbuk kristal putih dengan sedikit bau, berasa pahit dan asin.

Merupakan antihistamin yang kurang poten, tetapi poten dalam meng-antagonis kontraksi terinduksi histamin pada ileum marmot.

(50)

4. Metapirilen HCL USP ; Histadyl HCL;

2-[(dimetilamino- etil) (2- tienil)-amino piridin monohidroklorida

Berupa serbuk kristalin putih, rasa pahit, larut dalam

air, alkohol dan kloroform, larutannya mempunyai

pH 5,5.

Cincin tiofen dianggap isosterik dengan cincin benzena

dan isoster ini memperlihatkan aktivitas yang

sama. Konformasi trans-metapirilen lebih disukai

untuk dua

atom nitrogen etilen diamina.

FDA pada tahun 1979 menarik produk yang

(51)

5. Tonzilamin HCL; 2-[ Z(2-dimetilaminoetil) (

metoksi- benzil) amino] pirimidin hidroklorida

Berupa serbuk kristalin, larut dalam air , alkohol dan kloroform.

Larutannya 2% dalam air mempunyai pH 5,5.

Aktivitasnya sama dengan tripelenamin tetapi kurang toksis.

(52)

C. Turunan Propilamin

Anggota kelompok yang jenuh disebut sebagai feniramin yang merupakan molekul khiral.

Turunan tersubstitusi halogen dapat diputuskan dengan kristalisaasi dari garam yang dibentuk dengan d-asam tartrat.

Antihistamin golongan ini merupakan antagonis H1 yang paling aktif.

Mereka tidak cenderung membuat kantuk, tetapi beberapa pasien mengalami efek ini.

Pada anggota yang tidak jenuh, sistem ikatan rangkap dua aromatik yang koplanar Ar – C = CH-CH2 - N

faktor penting untuk aktivitas antihistamin.

(53)

Pada anggota alkena (tidak jenuh), aktivitas antihistamin konfigurasi E berbeda sangat

menyolok dibandingkan dengan konfigurasi Z, sebagai contoh: E-Pirobutamin sekitar 165 kali lebih poten dari pada Z-Pirobutamin;

E-Triprolidin aktivitasnya sekitar 1000 kali lebih poten dibandingkan dengan Z-triprolidin.

Perbedaan ini dikarenakan jarak antara amina alifatik tersier dengan salah satu cincin aromatik

sekitar 5-6 Ao, yang jarak tersebut diperlukan

(54)

Beberapa turunan propilamin antara lain :

1.Feniramin maleat; Avil ; Trimeton; Inhiston maleat

Berupa garam yang berwarna putih dengan sedikit bau seperti amin yang larut dalam air, dan alkohol.

Feniramin maleat merupakan anggota seri yang paling kecil potensinya dan dipasarkan sebagai rasemat . Dosis lazim : 20 – 40 mg, sehari 3 kali

(55)

2. Klorfeniramin maleat ; Chlortrimeton

maleat; CTM ; Pehachlor

Berupa puder kristalin putih, larut dalam air, alkohol dan kloroform. Mempunyai pKa 9,2 dan larutannya dalam air memounyai pH 4-5.

Klorinasi ferinamin pada posisi para dari cincin fenil memberikan kenaikan potensi 10 x dengan perubahan toksisitas tidak begitu besar.

(56)

3. Dekstroklorfeniramin maleat = Polaramine maleat

merupakan enantiomer klorfeniramin yang memutar kekanan. Isomer ini aktivitas anti histaminnya paling dominan dan mempunyai konfigurasi S yang super imposable pada konfigurasi S enantiomorf karbinok-samin levorotatori yang lebih aktif.

4.Bromfeniramin maleat = Dometane maleat

(57)

5. Dekstrobromfeniramin maleat = Disomer

(58)

Turunan Propilamin yang tidak jenuh

1. Pirobutamin fosfat USP; Pyronil fosfat; (E)-1-[4-(4-Klorofenil)-3-fanil-2-butenil]pirolidin

difosfat.

Berupa serbuk kristal putih yang larut dalam air panas sampai 10 %. Garam fosfatnya lebih mudah diabsorbsi daripada garam HCl nya

(59)

.2. Tripolidin HCl USP; Actidil HCl .

(E)-2-[3-(1-pirrollidinil)-1-p-tolil propenil)piridin mono hidroklorida.

Berupa puder kristalin putih, larut dalam air, alkohol dan larutannya alkali terhadap lakmus.

Aktivitasnya terutama ditentukan pada isomer geometriknya dimana gugus pirolidinometil adalah

trans terhadap gugus 2-piridil.

(60)
(61)
(62)

D. Antihistamin sistem cincin trisiklik

Dua gugus aromatik dalam klas antihistamin dapat dihubungkan satu sama lain melalui penambahan atom, misalnya heteroatom seperti S atau O, atau melalui ikatan pendek dari satu atau dua karbon.

(63)

Antihistamin trisiklik pertama kali yang poten adalah fenotiazin ( Y = S dan X = N) dan mengandung dua atau tiga atom karbon menghubungkan rantai alkil diantara nitrogen fenotiazin dan amina alifatik.

Mereka berbeda dari turunan fenotiazin antipsikotik yang mana biasanya panjang rantai tiga atom karbon dan tidak bercabang dan hilangnya substitusi dalam cincin aromatik.

Disamping aktivitas antihistamin yang bermanfaat, kebanyakan mempunyai aksi sedatif dan durasinya lama.

(64)
(65)
(66)

Turunan Fenotiazin

1. Prometazin Hidroklorida USP ; Phenergan HCl; ()-10-(2-dimetil-aminopropil)fenotiazin

monohidroklorida

Garam ini berupa serbuk kristalin berupa kuning muda yang larut dalam air, alcohol dan kloroform.

Selain mempunyai aktivitas sebagai antihistamin, senyawa ini juga mempunyai efek antiemetik, serta memperkuat kerja obat analgetik dan sedatif.

Memperpanjang rantaisamping dan substitusi gugus lipofilik pada posisi 2 cincin aromatik menghasilkan senyawa dengan aktivitas antihistamin yang menurun dan menaikkan sifat psikoterapetik.

Dipakai juga untuk pemakaian lokal karena mempunyai efek anestesi lokal.

(67)

Trimeprazin Tartrat USP ; Temaril tartrate;

() - 10-(3-dimetilamino-2-metilpropil)

feno-tiazin tartrat

Berupa serbuk kristal putih yang mudah larut

dalam air dan alkohol.

Aksi antihistaminnya sekitar 1,5 – 5 kali

prometazin.

(68)

1. Metdilazin Hidroklorida USP; Tacaryl chloride ; ()-10-[(1-metil-3-pirolidinil)

metil] fenotiazin monohidroklorida

Berupa serbuk kristalin kehitaman dengan bau sedikit karakteristik.

Aktivitasnya sama dengan metdilazin dan diberikan secara oral untuk efek antipruritik.

(69)

Golongan trisiklik yang lain

Siproheptadin HCl USP ; Periactin Hydrochloride; Heptasan

Senyawa ini sedikit larut dalam air dan dalam alkohol. Mempunyai aktivitas sebagai antiserotonin dan antihistamin yang potensinya sebanding dengan klorfeniramin maleat.

Dapat digunakan untuk pengobatan alergi kulit seperti antipruritik, urtikaria, ekzem dan dermatitis.

Selain itu juga mempunyai aktivitas sebagai anti- migrain, perangsang nafsu makan dan trankuilizer.

(70)

Azatadin Maleat USP ; Optimine Maleat; Zadine

Azatadin merupakan isoster aza dari siproheptadin dimana ikatan rangkap dua dari 10,11-direduksi.

Azatadin merupakan antagonis-H1 yang kuat dengan masa kerja panjang dan efek sedasi rendah.

Potensinya 3 x siproheptadin pada lapisan ileum marmot terpisah dan mempunyai aktivitas yang lebih besar dibanding klorfeniramin maleat.

(71)

Antagonis H

1

Generasi kedua

Untuk menghilangkan atau meminimalkan efek sedasi, maka dikembangkan antihistamin generasi kedua, yaitu senyawa yang mempunyai kelarutan pada lipid yang rendah pada pH fisiologi, dan bekerja pada reseptor H1 perifer.

Mereka bervariasi luas dalam strukturnya.

Contoh antihistamin generasi kedua tersebut antara lain adalah terfanadin, feksofenadin, astemizol,

(72)

1. Terfenadin ; Hiblorex; Nadane

 

Merupakan antagonis H1 selektif yang relatif tidak menimbulkan efek sedasi dan

anti-kolinergik. Senyawa ini tidak berinteraksi dengan

reseptor  dan  adrenergik, karena tidak mampu

menembus sawar darah otak. Terfenadin efektif untuk pengobatan alergi rinitis musiman,

(73)

Awal kerja obat cepat sekitar 1-2 jam, efek mencapai maksimum setelah 3-4 jam dan berakhir setelah

sekitar 8 jam. Metabolit utamanya adalah feksofenadin (Allegra) yang juga merupakan antagonis H1 yang

poten.

2. Astemizole

Astemizole merupakan produk pengembangan dari be-berapa benzimidazol. Efek sampingnya serupa

terfanadin.

(74)

3. Akrivastin ( Semprex)

Triprolidin

Senyawa analog triprolidin yang mempunyai lipofilitas rendah karena ada gugus karboksilat (asam akrilat), sehingga sukar menembus SSP dan kerja obat

menjadi lebih cepat.

Akrivastin digunakan untuk alergi kulit yang kronis. Pemakaiannya sering dikombinasi dengan obat

(75)

5. Cetirizine

(76)

4. Loratadin (= Claritin)

Merupakan turunan antihistamin trisiklik azatadin yang poten, mempunyai masa kerja yang panjang dengan aktivitas antagonis perifer yang selektif.

Loratadin dimetabolis melalui proses oksidasi dan bukan hidrolisis menjadi deskarboetoksi loratadin.

Loratadin digunakan untuk meringankan gejala alergi

rinitis urtikaria kronik dan kelainan alergi dermatologis.

(77)

Antagonis H2

Antagonis H2 menjadi alternatif yang penting dalam

terapi borok peptic. Denominator umum dalam etilogi borok peptic adalah adanya enzim proteolitik aktif, yaitu pepsin.

Oleh karenanya mekanisme untuk mengobati dan mencegah sakit borok peptik adalah mekanisme penghambatan pepsin.

Mekanisme penghambatan aktivitas pepsin :

1. Kompleksasi kimia

2. Penghambatan pH 3. Antasida

(78)

1.      Kompleksasi

Turunan ester sulfat dan sulfonat dari poli sakarida dan ligmin membentuk kompleks kimia dengan enzim, pepsin.

Kompleks ini tidak mempunyai aktivitas proteolitik. Karena polisulfat dan polisulfonat absorbsinya dalam saluran gastro intestinal buruk, kompleksasi kimia spesifik kelihatannya menjadi mekanisme penghambatan pepsin yang diinginkan.

Sayangnya, polimer ini juga merupakan anti koagulan yang poten.

(79)

Mekanisme antasid merupakan netralisasi asam, bukan kompleksisasi kimia dengan pepsin.

Salah satu faktor yang menyulitkan adalah ketidakpastian dari interval dosis.

Karena laju dan jumlah sekresi asam beragam dengan perhatian individu terhadap makanan, kebiasaan makan dan laju pengosongan lambung yang membatasi durasi aksi antasid.

Secara teoritik pengikatan kembali asam adalah masalah yang patensial karena pH isi lambung mempengaruhi pelepasan gastrin.

pH sekitar 2,0 mekanisme gastrin untuk menstimulasi sekresi lambung diblok, tetapi kenaikan pH diatas 3 menyebabkan pelepasan gastrin.

(80)

Mekanisme antisekresi antagonis-H2

Antagonis-H2 menghambat aksi histamin langsung pada

sekresi asam yang distimulasi oleh gastrin atau asetil kolin.

Menurut hipotesis, pensekresi itu mempunyai dua kemajuan :

1. Kemanjuran intrinsic, yang menunjukkan respon

maksimal yang dihasilkan jika tidak ada obat lain. 2. Kemanjuran potensiasi yang menunjukkan besarnya respon dengan adanya obat kedua yang

(81)

Histamin mempunyai kedua kemanjuran intrinsic dan potensiasi.

Sedangkan gastrin dan asetilkolin hanya mempunyai kemanjuran potensiasi.

Obat antimuskarinik seperti atropin menekan sekresi lambung yang terstimulasi histamin dengan memblok aksi potensial asetilkolin.

Oleh karena itu, histamin dan antagonis-H2 mampu mengalami tautorisme 1,3-prototropik dan tautomer N-H pada keduanya lebih lazim.

Gugus donor elektron, mis. metil lebih menyukai mer N-H yang lebih dekat, sedangkan gugus

(82)

Struktur Histamin

( -imidazoliletilamin atau 1-H-imidazol-4-etanamin)

(83)

Struktur burimamida menyukai tautomer N-H, kan metiamida menyukai tautomer N-H.

Metiamida lebih poten  5x dibanding burimamida.

Jika gugus R diatas adalah metil (donor é), tautomer N-H juga lebih disukai dengan demikian, efek tautomer suatu rantai penarik elektron diperkuat oleh substituen metil.

Rantai

Untuk memperoleh aktivitas optimal, cincin harus dipisahkan dari gugus N oleh rantai setara dengan rantai empat karbon.

Rantai yang lebih pendek menurunkan secara drastis aktivitas antagonis H-2 nya.

(84)

Senyawa yang lebih aktif mengandung rantai tio eter

isosterik (-S-) menggantikan gugus metilena (-CH2)

Gugus N

Untuk mendapatkan aktivitas antagonis yang maksimum, gugus N-ujung harus merupakan substituen non basis yang polar, misal gugus guanidin yang terprotonkan pada pH fisiologik menghasilkan senyawa yang antagonis lemah dan agonis parsial.

Struktur kimia dari antagonis H1 berbeda dengan

antagonis H2.

Antagonis H1 mempunyai gugus aril yang tidak perlu

(85)

Kemiripannya dengan histamin adalah memiliki gugus rantai samping umumnya ammonium yang bermuatan positif pada pH fisiologis.

Pada antagonis-H2 : merupakan molekul hidrofilik yang mempunyai cincin imidazol yang mampu mengalami tautomeri 1,3-proto tropik.

Mereka berbeda dengan struktur histamin pada rantai samping yang meskipun polar, tetapi tidak bermuatan.

(86)
(87)

Obat-obat yang beraksi sebagai antagonis H2

1. Metiamida

Metiamida memgandung gugus tiourea non basik dan pola.

(88)

Substituen serupa dengan gugus sianoguanidin merupakan gugus yang sangat polar, tetapi pada pH fisiologis didominasi oleh yang tidak terionisasi.

Senyawa yang dihasilkan adalah simetidin, yang mempunyai aktivitas sama dengan metiamida

(89)

2. Simetidin USP, Tagamet

(90)

Merupakan antagonis kompetitif histamin pada reseptor H-2 dari sel parietal, sehingga secara efektif dapat menghambat sekresi asam lambung yang disebabkan oleh rangsangan

makanan maupun oleh asetil kolin, kaffein dan insulin.

(91)

Efek samping yang ditimbulkan a.l. : diarrhae, pusing dan kelelahan. Keadaan kebingungan dan impotensi dapat terjadi meskipun bersifat terpulihkan.

Dosis lazim dewasa : borok duodenal-oral 300 mg, 4 x sehari sewaktu makan dan pada waktu tidur.

Kondisi hiper sekresi patologik-oral, 300 mg, 4 x sehari dengan makanan dan pada waktu tidur, selama pengobatan klinik.

(92)

3. Ranitidin HCl = Ranin = Rantin

Merupakan senyawa analog simetidin dengan pe-nggantian cincin imidazol dengan isosternya, yakni cincin furan dan penggantian gugus sianogen

(93)

Merupakan antagonis kompetitif histamin pada reseptor H2.

Digunakan untuk pengobatan tukak lambung atau usus. Adanya modifikasi diatas maka dapat menghilangkan

efek samping dari simetidin, seperti ginekomastia, konfusi mental dan mengurangi kebasaan senyawa. Efek samping ranitidin a.l. hepatitis, trombosito-penia,

dan leukopenia yang terpulihkan.

(94)

4. Famotidin = Facid = Restadin

Merupakan antagonis kompetitif histamin yang khas pada reseptor H2 sehingga secara efektif dapat

(95)

Merupakan antagonis H2 yang kuat dan sangat selektif.

Efek samping obat a.l. adalah trombositopenia, konstipasi, diarrhe, sakit kepala dan pusing.

Kadar plasma tertinggi dicapai dalam waktu 1-3 jam

setelah pemberian oral dengan masa kerja obat ± 12 jam

Referensi

Dokumen terkait

Lalu penggunaan logo makara untuk dijadikan sebagai sebuah produk tanpa izin melanggar undang-undang Hak cipta dikarenakan pasal 9 yang mengatakan bahwa hanya pencipta dan pemegang

Dari hasil karakterisasi yang dilakukan, dapat diketahui pengaruh variasi jarak penyangga (spacer) terhadap kualitas lapisan tipis Cd(S 0,6 Te 0,4 ) yang terbentuk meliputi

Pengelola pelabuhan umum, terutama ocean going di Indonesia, sudah seharusnya memikirkan dan mulai menata ulang pelabuhannya menjadi bagian dari green port kelas dunia, yang

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) kelompok siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran heuritik memiliki hasil belajar lebih baik dibandingkan dengan

Ini berarti bahwa fleksibilitas putaran dan lokasi ideal pin itu bersifat tergantung pada kekakuan yang relatif dari plat dan penumpu (dan ya atau tidaknya

Menurut Sudjana (2014: 84) “Observasi atau pengamatan sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penilitian tentang “Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan Nyeri Pasien Operasi

Pedoman Pastoral Keuskupan Bandung ini menjadi titik acuan dalam merumuskan program dan kegiatan pastoral Keuskupan Bandung, baik pada tingkat komisi, paroki dan