• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terhadap Kebijakan Pemerintah Hindia-Belanda

DAMPAK PELACURAN

4.2 Terhadap Kebijakan Pemerintah Hindia-Belanda

Banyak terjadi perdebatan antara dua kelompok yang bertentangan di Deli. Kelompok yang bertentangan tersebut adalah kelompok pemilik atau pendukung usaha perkebunan dengan kelompok liberal dari pemerintah Hindia-Belanda. Perdebatan

114 Ibid., hlm. 188

yang terjadi terkait kebijakan yang dibuat oleh pihak perkebunan dengan citra buruk yang didapat pemerintah Hindia-Belanda di Deli. Pihak perkebunan mendukung dan membiarkan praktik pelacuran terjadi di wilayah perkebunan Deli. Sementara itu, kelompok liberalis pemerintahan melarang116 praktik pelacuran tersebut. Penyakit kelamin yang terjadi akibat pelacuran tersebut telah dianggap sebagai satu kejahatan besar dan harus segera dihentikan. Akan tetapi, para pihak yang mendukung praktik pelacuran, pelacuran harus tetap ada tanpa memperdulikan dampak yang terjadi akibat praktik pelacuran tersebut. Hal ini karena penyakit tersebut dianggap sebagai tanggung jawab dari masing-masing kuli itu sebagai akibat dari buruknya moral kuli perempuan yang menjadi pelacur tersebut.

Hasil dari perdebatan itu maka, pada tahun 1880 dibentuk lah Komisi Pengorganisasian Pelayanan Kesehatan Masyarakat117 dan dikeluarkan lah peraturan tentang pengendalian pelacuran yang diberikan kepada kuli-kuli di wilayah perkebunan Deli. Peraturan tersebut mengharuskan kepada perempuan yang ingin menjadi pelacur agar mendaftarkan diri terlebih dahulu ke kepolisian, dan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter setiap satu kali dalam seminggu. Akan tetapi, penerapan terhadap peraturan pengendalian pelacuran tersebut tidak membuahkan hasil. Jika seorang kuli perempuan sudah mulai terlihat tanda bahwa ia terkena penyakit kelamin, maka ia harus berada

116 Pelarangan praktik pelacuran tersebut terkait dengan berkembangnya paham liberal di negara induk (Belanda-Eropa) tentang proses “memanusiakan manusia” (memberikan hak-hak yang benar kepada orang lain / HAM). Bahkan salah seorang dari pemerintah Hindia-Belanda (HJ Bool) menyatakan bahwa perusahaan perkebunan di Deli merupakan bisnisnya para monyet. Lihat H. J. Bool, op. cit., hlm. 36

117 Komisi ini berisi para dokter yang telah belajar dan bekerja sama dengan perkebunan Senembah terhadap penanganan penyakit kuli di Deli.

dalam perawatan dokter hingga sembuh. Akan tetapi, kuli tersebut tidak mampu membayar uang perobatan dan pada akhirnya dokter tetap memperbolehkan ia bekerja. Kondisi ekonomi kuli ini lah yang mengakibatkan peraturan yang dikeluarkan oleh pengusaha perkebunan tersebut tidak berjalan.118

Tidak berjalannya peraturan tersebut, menyebabkan semakin pula banyaknya tersebar penyakit kelamin diantara kuli-kuli perkebunan tersebut. Kemudian peraturan diperbaharui dengan berusaha mengintensifkan pemeriksaan berkala yang harus dilakukan oleh kuli tersebut. Peraturan kembali diperbaharui dengan adanya usulan dari pemerintah Hindia-Belanda terkait penghapusan hukuman terhadap pelacur dan pengurangan pajak melacur. Akan tetapi, para pengusaha perkebunan tidak meyepakati hal itu karena beranggapan bahwa yang memilih profesi sebagai pelacur itu adalah kuli perempuan itu sendiri.119

Pada kenyataannya, para pengusaha perkebunan menjalankan apa yang telah diusulkan oleh pemerintah tersebut. Pada kenyataannya, pemeriksaan ke dokter yang dilakukan oleh para kuli hanya dianggap sebagai lelucon belaka. Ditambah lagi, pengetahuan tentang penyakit ini masih belum berkembang dan dokter yang terdapat pada wilayah Deli juga jumlahnya masih sedikit. Ini berdampak pada pemeriksaan terhadap yang pelacur semakin tidak terkendali dan penyakit kelamin menjadi satu fenomena besar di perkebunan hingga awal abad ke-20.120

118 Liesbeth Hesselink, Prostitutuin: A Necessary Evil, . . . op. cit., hlm. 192

119 Ibid, hlm 194

Satu kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda adalah kurangnya perhatian setelah dikeluarkannya peraturan yang menyangkut pelacuran itu. Pemerintah seolah-olah tidak peduli dan menganggap masalalah tersebut telah terselesaikan setelah dikeluarkannya peraturan tersebut sehingga, banyak pelacur yang tidak memeriksakan dirinya kedokter lagi.

Pada tahun 1905, karena sedikitnya laporan tentang penyakit sipilis dari Komisi Pengorganisasian Pelayanan Kesehatan Masyarakat maka, pemerintah menganggap bahwa penanganan penyakit sipilis telah selesai, sehingga pada tahun 1911 peraturan tersebut dihapuskan. Untuk pelacur yang sebelumnya telah terkena penyakit sipilis, mereka akan direhabiitasi ke daerah Tanjung Pinang, dan Banjaran. Akan tetapi,, dikarenakan pengetahuan yang masih minim, sebagian besar dari pelacur tersebut tidak dapat diobati dan menemui ajalnya disana.121

Keadaan seperti yang telah digambarkan diatas, berdampak pada munculnya rumah-rumah bordil di wilayah geemente, rumah-rumah mesum diwilayah perkebunan, dan lahirnya praktik germo.122 Munculnya rumah bordil dan praktik germo ini mendapat respon yang cukup baik oleh pemerintah Hindia-Belanda. Rumah bordil dan germo akhirnya menjadi legal (resmi) di wilayah Sumatera Timur. Cara ini memberikan keuntungan tersendiri bagi pemerintah Hindia-Belanda. Mereka mendapat keuntungan berupa pajak dari praktik pelacuran tersebut. Untuk lebih menertibkan rumah bordil dan germo tersebut, pemerintah memunculkan peraturan

121 Liesbeth Hesselink, Prostitutuin: A Necessary Evil, . . . op. cit., hlm. 196

untuk menerbitkan selebaran seperti sertifikat kepada pelacur-pelacur di rumah bordil dan germo-germo tersebut, sehingga dapat mengurangi pelacur-pelacur yang tidak sah dari wilayah perkebunan Deli.123

Para pelacur yang bekerja di barak kuli, juga diorganisir oleh seorang germo. Germo ini adalah para mandor besar dari suku Jawa yang berperan juga sebagai pemimpin dari sebuah kelompok penari ronggeng. Setiap akan melakukan praktik pelacuran, perempuan penari ronggeng meminta izin terlebih dahulu kepada pemimpinya. Bayaran yang diterima akan dibagi sesuai dengan kesepakatan antara satu kelompok perempuan penari ronggeng (pelacur) dan pemimpinnya.124

Peraturan yang telah dikeluarkan ini, seolah tidak berlaku untuk para gundik. Hal ini karena para administratur kebun berkedok bahwa para gundik tersebut hanya lah pembantu rumah tangga mereka. Selain itu, jarang sekali ada laporan penyakit sipilis di kalangan perempuan gundik tersebut.

123 Ibid, hlm. 61

BAB V

Dokumen terkait