• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelacuran Pada Wilayah Perkebunan Di Deli Tahun 1870-1930

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pelacuran Pada Wilayah Perkebunan Di Deli Tahun 1870-1930"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN I

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

LAMPIRAN II

Aktivitas dan Pekerjaan Kuli Perempuan Jawa di Perkebunan Deli

Maatschappij

“Kuli Perempuan Jawa pada saat mengambil ulat (hama tembakau)”.

(7)
(8)
(9)

LAMPIRAN III

“Seorang Gundik Administratur Eropa”

(10)

LAMPIRAN IV

Barak Kuli Dan Tempat Tinggal Administratur Eropa

“Tempat Tinggal Kuli Yang Disediakan Oleh Pengusaha Perkebunan, Dan Sengaja Dibuat Di Dekat Lahan Tempat Mereka Bekerja”

(11)

“Tempat Tinggal Administratur Perkebunan Eropa Yang Terletak Pada Wilyah Gemeente di Deli”

(12)

LAMPIRAN V

Fasilitas Rumah Sakit Pusat Perkebunan Senembah Maatschappij Yang Bekerja Sama Dengan Perkebunan Deli.

“Ruang Operasi”

(13)

“Penyimpanan Obat”

(14)

LAMPIRAN VI

Surat Kabar

“Iklan Penjualan Obat Penyakit Kelamin“

(15)
(16)

76

BIBLIOGRAFI

A. Arsip Nasional Republik Indonesia

AVROS 1892-1985 No. 358, Verslag van het Pathologisch Laboratorium Medan-Deli

(Sumatra’s Oostkust) over de Jaren 1907-1921

Brieven Gouvernement Secretaris/BGS, No. 418/A2, ANRI

Staatsblad van Nederlandsch-Indie, 1880 No. 133

B. Buku-Buku

Aulia, Emil W. 2006. Berjuta – Juta Dari Deli Satoe Hikajat Koeli Contract. Jakarta : Gramedia

Basharshah II, Tengku Lukman Sinar. Tanpa Tahun Terbit. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan di Sumatera Timur. Medan: Tanpa Penerbit.

Breman, Jan. 1997. Menjinakkan Sang Kuli, Politik, Kolonial pada Awal Abad ke-20. Jakarta: Pusaka Utama Grafiti

Bool, H. J. 1903. De Chineesche Immigratie Naar Deli. Utrecht: Oostkust van Sumatra Instituut.

Devi, T. Keizerina. 2004. Poenale Sanctie Studi Tentang Globalisai dan Perubahan Hukum di Sumatera Timur(1870-1950). Medan: Program Pasca Sarjana USU

Gottchalk, Louis. 1985. Mengerti Sejarah, terjemahan dari Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press.

Hellwig,Tineke. 2007. Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda.Jakarta: Yayasan Obor

Hesselink,Liesbeth. 1997. Prostitutuin and Gambling in Deli, Amsterdam: Amarpress

(17)

77

Hull, Terence. Dkk. 1997. Pelacuran di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya. Medan: Pustaka Sinar Harapan

Jaelani, Gani A. 2013. Penyakit Kelamin di Jawa 1812 – 1942. Bandung: Syabas Books

J. Pelzer, Karl. 1997. Toean Keboen dan Petani, Politik Kolonial dan Perjuangan Agrariadi Sumatera Timur(1863-1947). Jakarta: Sinar Harapan

Kartodirdjo, Sartono dkk. (eds.). 1977. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Balai Pustaka.

Wie, Thee Kian. 1977. Plantation Agricultural and Export Growth an economic history qf East Sumatra, 1863-1942, Jakarta: LEKNAS-LIPI,

Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Locher-Scholten, Elsbeth. 1992. “The Nyai in Colonial Deli: A Case of Supposed Mediation”, dalam Sita van Bemmelen, dkk. (eds.). Women and Mediation in Indonesia. Leiden: KITLV Press.

Mubiyarto. 1992. Tanah dan Tenaga Kerja Perkebunan Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.

R.P Suyono, Capt. 2005. Seks Dan Kekerasan Pada Zaman Kolonial. Jakarta: Grasindo

Said, Muhammad. 1990. Koeli Kontrak Tempo Doeloe Dengan Derita dan Kemarahannya, Cetakan ke II. Medan: PT. Harian Waspada.

Schuffner W. A. P. dan W. A. Kuenen. 1910. De Gezondheidstoestand van de Arbeiders, Verbonden aan de Senembah-Maatschappij op Sumatra, Gedurende de Jaren 1897 tot 1907. Amsterdam: De Bussy.

Stoler, Ann Laura. 1995. Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera, 1870-1979. Yogyakarta: Karsa

(18)

78

C. Artikel, Skripsi, Tesis, dan Surat Kabar

Affandi, Kiki Maulana. 2015. “Sejarah Kesehatan Kuli Kontrak di Perkebunan Senembah Maatschapij 1882-1942”, skripsi S-1, belum diterbitkan, Medan: Universitas Sumatera Utara,

Deli Courant, 17 Maret 1924

Iryana, Wahyu. 2013. Pemberantasan Prostitusi Zaman Belanda [t.t]. [t.p]. Artikel diakses dari https://www.academia.edu.

Yasmis. 2008. “Kuli Kontrak di Perkebunan Tembakau Deli Sumatera Timur 1880 -1915”, Tesis S-2, belum diterbitkan. Jakarta: Universitas Indonesia.

(19)

BAB III

BENTUK PELACURAN

3.1 Pelacuran

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, pada awalnya mayoritas pekerja

adalah kuli laki-laki. Hal ini dikarenakan belum diperlukannya tenaga perempuan pada

saat awal pembukaan lahan perkebunan. Penebangan pohon dalam proses pembukaan

hutan dan pencangkulan tanah untuk membuka lahan tentunya membutuhkan tenaga

yang besar sehingga kuli perempuan dirasa belum dibutuhkan. Disamping itu, adanya

larangan bagi kuli untuk membawa istri dan calon kuli yang sudah menikah akan

ditolak.61 Baru lah ketika perempuan dirasa perlu, pihak perkebunan melakukan

perekrutan kuli perempuan (1875) untuk dipekerjakan sebagai seperti mencari ulat

tembakau, menggaru tanah, menyortir, memilah, menggantungkan dan mengikat

daun-daun tembakau. Selain itu, mereka juga sengaja didatangkan untuk memikat para

pekerja laki-laki agar betah atau tetap tinggal di perkebunan setelah masa kontrak

selesai.

Akan tetapi, dibanding dengan kuli laki-laki, jumlah mereka masih lebih

sedikit. Melihat perbandingan yang sangat timpang tersebut, kaum perempuan yang

datang merupakan sumber daya langka dan sering kali menjadi pusat konflik antara

kuli Cina dan Jawa.

61 Kuli perempuan yang didatangkan dari Jawa, memang sengaja didatangkan dalam kondisi

(20)

Pembukaan perkebunan di tahun 1869 – 1870an secara besar-besaran oleh

Jacobus Neinhuys bersama C.G. Clemen, hanya berorientasi pada hasil yang harus

besar dan berkualitas baik. Dari pandangan terhadap hasil maksimal yang diinginkan

pihak perkebunan, ternyata menjadi satu latar belakang terjadinya masalah pada kuli.

Kuli yang sebagian besar adalah laki-laki ternyata tidak dapat menyalurkan perasaan

mereka terhadap sesama kuli,62 baik itu masalah pribadi kuli ataupun masalah yang

mendasar semua orang terkait birahi. Dalam kurun waktu satu tahun, kuli laki-laki yang

tidak dapat menyalurkan perasaan tersebut dapat bertahan dan bekerja dengan baik.

Akan tetapi, lama kelamaan merka mulai “jenuh” sehingga terjadi praktik homoseksual

diantara kuli laki-laki terutama pada kuli Cina63. Kuli-kuli Cina tersebut sudah tidak

tertarik pada perempuan lagi dan beralih pada “seks yang tidak alami”. Mereka menjadi

penyuka sesama jenis dan termasuk juga para pengawas (kepala suku dalam satu regu).

Biasanya, para pengawas lah yang memiliki hak pertama atas diri mereka.

62 Ditinjau dari aspek psikologi, manusia itu merupakan makhluk yang sangat memerlukan

hiburan, atas dasar rasa lelah yang dirasa, penat, ataupun kejenuhan dalam berpikir. Hiburan-hiburan yang diinginkan manusia dapat diperoleh dari liburan, musik, dan sebagainya tergantung dari kebutuhan seorang individu tertentu. Dalam kasus kuli ini, jika ditinjau dalam aspek psikologi, akan muncul ego dalam diri laki-laki. Laki-laki cenderung enggan menceritakan masalah yang di alami kesesama lelaki. Hal ini diakibatkan karena perasaan si laki-laki yang cenderung individualis dan merasa lebih hebat dari lelaki lainnya maka kemudian, laki-laki akan cenderung lebih banyak bercerita tentang masalahnya kepada perempuan yang disukainya. Lihat Jan Bremen op. cit., hlm. 205

63 Jika dilihat dari sisi psikologi, orang yang berasal dari Asia, terutama Asia Timur, memiliki

(21)

Praktik homoseksual ini terjadi secara terang-terangan dan didepan kuli-kuli

lain.64 Praktik homoseksual ini juga disaksikan oleh kuli-kuli lain yang tinggal dibarak

yang sama dengan kuli tersebut. Tidak jarang terjadi pembunuhan diantara kuli-kuli

Cina tersebut diakibatkan hubungan cinta. Hal ini juga menyebabkan adanya pelacur

laki-laki dikalangan kuli Cina. Pelacur laki-laki ini merupakan orang Cina itu sendiri

dan beberapa orang Jawa yang mereka sebut sebagai anak jawi.65 Pada awalnya pihak

perkebunan tidak mengetahui akan hal ini. Kemudian, ada kuli yang terserang penyakit

dan diketahui dari penyakit yang dialami oleh kuli tersebut bahwa, penyakit tersebut

berasal dari bakteri yang berasal dari kelamin pria.66

Berbeda halnya dengan kuli Jawa. Bagi kuli Jawa berlaku hal yang sebaliknya.

“tidak mungkin bagi mereka untuk bertahan hidup di perkebunan, jika tidak ada

perempuan”67. Setelah mengetahui hal tersebut, pihak perkebunan melakukan

perekrutan kuli perempuan yang dimulai pada tahun 1873.68

Dalam perekrutan kuli perempuan, pihak perkebunan juga mempertimbangkan

keterkaitan pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh kuli perempuan tersebut. Kuli

perempuan memang sengaja direkrut untuk menjadi pelacur69. Selain itu, mereka

64 Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, didalam barak tidak ada pembatas ataupun

kamar-kamar sebagai tempat tidur. Kepuasan yang dirasakan oleh salah seorang kuli pada saat berhubungan seksual, meski terhadap sesama menjadi penarik perhatian kuli-kuli lain. Hal ini lah yang menyebabkan praktik homoseksual meluas dikalangan kuli Cina.

65 Jan Bremen op. cit., hlm. 204 66 Ibid. hlm. 203

67 Capt. R.P. Suyono, Seks dan Kekerasan Pada Zaman Kolonial. Jakarta : Gramedia, 2005.

Hlm 17

68 Meski demikian, kuli Jawa termasuk kuli yang cepat merasa puas. Jan Bremen, op. cit., hlm.

206

(22)

hanya dipekerjakan sebagai pengambil hama ulat yang memakan daun tembakau,

pencuci, dan penjemur daun tembakau.

Perekrutan terhadap kuli perempuan dilakukan dengan selektif. Perempuan

yang akan didatangkan ke Deli dipilih dengan syarat-syarat tertentu seperti, perempuan

yang masih muda70, cantik, dan memiliki fisik yang baik. Pihak perkebunan juga tidak

begitu peduli tentang keahlian kuli perempuan tersebut dalam bekerja. Selain hanya

melakukan pekerjaan ringan, mereka memang sengaja akan dipekerjakan sebagai

pelacur.

Mereka ditipu dengan janji akan mendapat gaji yang besar, dan akan bekerja

sebagai pemilih tembakau. Pada kenyataan yang terjadi, memang benar perempuan

tersebut dipekerjakan sebagai pemilih tembakau, akan tetapi dengan penghasilan yang

sangat kecil71. Dengan penghasilan yang kecil tersebut, dan kebutuhan perempuan

yang cukup banyak, terutama pakaian, sabun (peralatan mandi), lulur (perawatan kulit)

70 Muda dalam artian produktif (dapat bekerja). Kebanyakan diantara kuli perempuan yang

direkrut berusia 19-26 tahun. Melihat kembali dalam aspek psikologi, terutama morfologi (bentuk tubuh manusia), pada usia tersebut, seorang wanita biasanya berada pada puncak masa perkembangan bagian tubuhnya. Bagian dada dan bokong masih terasa kencang, kulit belum keriput, dan yang terpenting, pada kasus diatas, adalah pada bagian kelamin wanita yang masih kencang ataupun belum kendur karena tidak perawan lagi. Tidak semua juga kuli perempuan yang direkrut tersebut yang masih muda. Ada beberapa kuli perempuan yang juga direkrut namun teah menikah. Calon kuli perempuan ini yang nantinya akan menjadi gundik (istri simpanan administratur perkebunan). Lihat Tineke Hellwig, op.cit., hlm. 48.

71 Penghasilan yang kecil ini bertujuan agar kuli perempuan tidak dapat kembali ke daerah

asalnya. Hal ini dikarenakan tujuan awal didatangkannya kuli perempuan adalah sebagai pelacur dan pengikat kontrak kuli laki-laki. Upah yang diterima kuli perempuan jauh lebih sedikit dari pada upah yang diterima oleh kuli laki-laki. Upah kuli perempuan hanya sebesar ƒ1.5 sedangkan kuli laki-laki menerima upah sesuai dengan berat yang dikerjakan (rata–rata upah yang diterima sebesar ƒ3 perbulan). Upah tersebut belum termasuk potongan yang dilakukan oleh pihak perkebunan. Kuli harus membiayai sendiri alat berladangnya (termasuk pergantian alat), papan berita di ruang tidur, sampai buku kecil untuk mencatat upah kuli juga ditanggung sendiri oleh kuli. Dan dapat dirata-ratakan pemotongan sekitar

(23)

dan ditambah lagi dengan adanya pemotongan upah dari administratur perkebunan,

memaksa kuli perempuan tersebut untuk bekerja lebih. Seringkali seorang kuli

perempuan dipanggil oleh seorang administratur di tengah jam kerjanya untuk

kemudian “memisahkan diri” dari kuli lain dan pergi bersamanya. Mereka tidak secara

terang-terangan dipaksa untuk melacurkan diri. Mereka hanya memiliki sedikit pilihan,

tetap menjadi kuli perkebunan dengan upah yang sangat sedikit, atau menjadi pelacur

dengan penghasilan tambahan.

Biasanya, perekrutan terhadap kuli perempuan dalam satu tahun hanya

sebanyak empat puluh orang. Dari ke empat puluh orang tersebut, semuanya menjadi

pelacur.72 Saat berada dalam perjalanan ke Deli dari Pulau Jawa, para calon kuli

perempuan tersebut disetubuhi di atas kapal terlebih dahulu oleh orang-orang biro

penyedia tenaga kuli yang ditunjuk pihak perkebunan.73 Hal ini bertujuan “melatih”

kuli perempuan tersebut menjadi pelacur sehingga mereka nantinnya terbiasa dengan

pelacuran itu. Mereka tidak dapat menolak atau melarikan diri dari kapal karena kapal

dijaga sangat ketat oleh polisi perkebunan dan perusahaan penyedia tenaga kerja.

Setelah disetubuhi, para perempuan calon kuli tersebut dibiarkan dan diminta untuk

menutupi kejadian tersebut seolah-olah itu tidak pernah terjadi. Sebagai contoh,

72 Perekrutan kuli perempuan memang disengaja dibatasi oleh pihak perkebunan. Terjadi

pembatasan dalam setiap perekrtutan perempuan. Perempuan dalam wilayah perkebunan tidak diperbolehkan berada dalam jumlah yang banyak. Hal ini dikarenakan agar tetap menjaga kontrak kuli laki-laki. Para perempuan yang telah menjadi pelacur, memberikan harga yang dinilai cukup tinggi sehingga kuli laki-laki harus mengutang kepada tandil dan dengan utang tersebut yang nantinya akan menjerat kuli laki-laki tersebut dengan kontrak yang semakin panjang. Sehingga tidak memungkinkan kuli laki-laki tersebut untuk menabung untuk pulang kekampung halamannya.

(24)

ditahun 1892 terdapat kasus yaitu dari 38 kuli perempuan yang direkrut ke Deli, ada 1

orang yang tidak menjadi pelacur. Hal ini disebabkan karena perempuan itu dianggap

memiliki penyakit menular saat berada diatas kapal sehingga para petugas pengiriman

kuli dalam kapal takut untuk mendekatinya. Pada saat itu pengetahuan tentang penyakit

masih belum berkembang.74

Tidak jarang terjadi konflik antara kuli Jawa dan kuli Cina yang berujung pada

kematian hanya karena perempuan, misalnya, jika seorang pelacur yang biasa melacur

pada kuli Jawa, kemudian berpindah pada kuli Cina sehingga menimbulkan

kecemburuan pada kuli Jawa dan begitu pula yang terjadi sebaliknya. Hal ini dilakukan

oleh pelacur tersebut untuk memperoleh uang yang lebih banyak. Selain itu, banyak

kuli laki-laki Jawa yang kalah dalam bermain judi, atau gaji yang diperoleh telah

dipakai untuk membeli candu sehingga mereka tidak mampu membayar jasa pelacuran

kuli perempuan tersebut.75

Disamping kuli perempuan Jawa, kuli perempuan Cina juga didatangkan dari

Semenanjung Malaya bersama kuli laki-laki Cina lainnya. Kasus yang serupa juga

dialami oleh kuli perempuan Cina tersebut. Akan tetapi, pelacuran di Deli seolah-olah

memiliki tingkatan-tingkatan tertentu76. Untuk kalangan kuli, maka perempuan yang

menjadi pelacur adalah perempuan dari Jawa, sementara untuk kalangan staff

74 Liesbeth Hesselink, op. cit., hlm. 108 75Ibid., hlm. 196

76 Tingkatan-tingkatan yang dimaksud adalah tempat pelacur yang berbeda antara perempuan

(25)

perkebunan, pelacur yang dipergunakan berasal dari kuli perempuan Cina. Perempuan

Cina dinilai lebih cantik dan bersih dibandingkan perempuan Jawa. Selain itu juga oleh

faktor warna kulit, antara yang lebih terang dan yang lebih gelap. Kulit perempuan

Cina yang lebih terang dianggap lebih cantik dan bersih dibandingkan kulit perempuan

Jawa yang lebih gelap. Hal lain adalah, postur dan bentuk tubuh orang Cina dinilai

lebih menggairahkan.77

Pelacuran berlangsung disetiap datangnya hari gajian, baik gajian besar maupun

gajian kecil. Pada hari gajian, selalu diadakan suatu keramaian yang lebih dikenal

dengan sebutan “malam gajian”. Pada saat itu banyak pedagang yang datang ke

perkebunan, dan ada pula pertunjukan kesenian, misalnya ketoprak, wayang orang,

ronggeng, bioskop. Selain pertunjukan kesenian, juga disediakan tempat–tempat

perjudian, Begitu mereka menerima gaji mereka tidak pulang dulu ke barak melainkan

langsung ke tempat keramaian. Bagi buruh yang sudah ketagihan judi mereka langsung

mendatangi arena perjudian untuk mempertaruhkan uang yang baru saja diterimanya.

Pelacuran dapat terjadi pada saat pertunjukan ronggeng. Mungkin untuk tujuan

ini juga lah dalam perekrutan kuli perempuan dipilih yang cantik dan masih muda agar

dapat dijadikan sebagai pelipur lara para kuli laki-laki di perkebunan tersebut. Awalnya

para peronggeng tersebut menarikan tariannya dan pada saat menerima saweran dari

laki-laki, maka selanjutnya praktik pelacuran dapat terjadi. Setelah mendapat saweran

maka penari akan menarik kuli laki-laki yang menari dengannya dengan selendang dan

(26)

menjauh dari keramaian. Mereka akan pulang kebarak atau pergi ketempat sepi di

perkebunan. Bayaran sekali melacur seperti ini adalah sebesar ƒ0,5.78

Terhadap aktifitas pelacuran, dikenakan pajak oleh administratur perkebunan

sebesar ƒ1 setiap bulannya. 79 Pemungutan pajak dilakukan karena dalam pandangan

orang Eropa sendiri pekerjaan melacur sebagai sebuah profesi. Tidak jarang terjadi

pelecehan terhadap kuli perempuan didalam barak, diluar waktu pelacuran tersebut.

Hal ini terjadi karena kuli laki-laki yang kalah berjudi tersebut tidak memiliki uang lagi

untuk membayar pelacur.

Pelacuran untuk kalangan administratur, biasanya diadakan di wilayah

gemeente80. Salah satu tempat pelacuran yang terkenal pada waktu itu adalah hotel de

bour.81 Para pelacur untuk kalangan administratur bukan berasal dari penduduk

pribumi, tetapi sengaja didatangkan dari wilayah Asia Timur seperti dari Cina dan

Jepang. Perempuan dari wilayah ini dipilih karena dinilai lebih menggairahkan dan,

pelacur yang menjadi primadona di kalangan administratur adalah yang berasal dari

Jepang.

Pelacur Jepang menjadi primadona di kalangan administratur karena mereka

dianggap jauh lebih sopan82, tidak “berisik”, dan bersih. Tidak berisik yang

78 Ibid.

79 Ibid. hlm 200

80 Gemeente merupakan wilayah otonomi administrasi yang diberikan oleh pemerintah kolonial

pada beberapa kota besar (kota praja).

81 H. J. Bool, op. cit., Hlm. 26

82 Hal ini tentu sesuai dengan budaya Jepang dalam menyambut tamu. Dalam budaya Jepang,

(27)

dimaksudkan disini adalah, pada saat berhubungan badan, pelacur Jepang seolah

menikmati dan tidak teriak mendesah berlebih seolah kesakitan. Berhubungan badan

yang seperti ini lah yang sangat di sukai oleh orang-orang Eropa pada waktu itu. Selain

tidak berisik, orang Eropa pada waktu itu juga menilai orang Jepang lebih bersih.

Selain warna kulit, lebih bersih yang dimaksudkan adalah, perempuan Jepang, sebelum

“bekerja” memakai parfum terlebih dahulu. Selain itu, kebiasaan pelacur Jepang adalah

mencukur rambut di sekitar kemaluan sehingga terlihat lebih bersih dan

menggairahkan.83

Berbeda dengan pelacur Jepang, pelacur Cina dianggap lebih rendah

dibandingkan denga pelacur Jepang. Setibanya pelacur-pelacur Cina tersebut, di dada

mereka langsung dikalungkan tulisan berupa nomor urut mereka masing-masing. Para

administratur memilih dari balik kaca jendela yang hitam yang hanya bisa melihat

keluar dari sisi dalam sesuai selera mereka masing-masing. 84

Bayaran bagi ke dua pelacur ini berbeda. Para pelacur Cina mendapat bayaran

lebih murah dibanding pelacur Jepang. Jika pelacur Jepang mendapat bayaran ƒ5, maka

pelacur Cina mendapat bayaran sebesar ƒ3. Tidak ada perbedaan yang terlalu

mencolok, hanya saja pelacur Jepang dikhususkan bekerja sebagai pelacur. Pihak yang

mendatangkan pelacur Jepang juga bukan dari pihak perkebunan, melainkan pihak

hotel lah yang mendatangkan dan menawarkan jasa pelacuran tersebut.85

83 Liesbeth Hesselink,op. cit., hlm. 201-202

84 Pelacur Cina dianggap lebih rendah, karena orang Eropa menganggap mereka sama dengan

kuli laki-laki yang telah memiliki citra buruk sebagai kuli dan penyuka sesama jenis.

(28)

Sejak awal tahun 1890-an, telah dikenal adanya penyakit kelamin seperti sipilis.

Dalam papan pengumuman yang ada di barak-barak kuli, dan hotel-hotel penyedia jasa

pelacuran, telah ada pengumuman atau pun poster-poster selebaran berisi himbauan

akan penyakit tersebut. Akan tetapi, himbauan tersebut tidak dihiraukan sehingga

mengakibatkan tingginya penderita sipilis yang terjadi di wilayah perkebunan,

terutama dari kalangan para kuli dan tidak terlepas pula pada kalangan administratur.

3.2 Pergundikan

Kuli perempuan yang direkrut oleh pihak perkebunan maupun penyedia jasa

tenaga kerja, tidak hanya terdiri perempuan yang masih muda dan belum menikah,

beberapa diantara mereka ada juga yang telah menikah. Dari rata-rata empat puluh

orang perempuan yang didatangkan, terdapat lima orang perempuan yang telah

menikah dan bersuami. Mereka didatangkan dengan cara yang sama, yaitu dengan

cara penipuan dengan janji akan memperoleh kehidupan yang lebih layak dan gaji

yang cukup besar kalau bekerja di perkebunan Deli. akibat penipuan ini,

menyebabkan adanya satu keluarga yang mau ikut sehingga terdapat tenaga kerja

anak-anak yang berusia sepuluh sampai empat belas tahun. Untuk kuli perempuan

yang telah menikah ini, mereka terhindar dari perbuatan negatif seperti yang terjadi

pada calon kuli perempuan yang belum menikah di atas kapal.86

Kuli perempuan yang telah menikah tersebut juga mengerjakan hal yang sama

dengan kuli perempuan lainnya dan juga mendapati permasalahan perekonomian

(29)

yang sama sehingga memaksa mereka menjadi pelacur. Tekanan ekonomi ini

menyebabkan para suami mereka mengizinkan mereka menjadi pelacur. Bahkan

untuk perempuan yang telah menikah, mendapat bayaran yang lebih besar.87

Larangan untuk menikah yang dikenakan kepada para administratur, memaksa

mereka untuk memakai jasa pelacur ini untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Dengan demikian, mereka membiarkan proses pelacuran itu terjadi, dan mengambil

keuntungan darinya, walaupun mereka menolak untuk mengakuinya.88 Dalam

keuntungan lain, kuli perempuan yang telah menikah mereka anggap telah mampu

untuk mengurus sebuah rumah tangga. Sering terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh

administratur Eropa.89 Kuli perempuan tersebut dipaksa untuk berpisah dari suaminya

selama enam tahun dan setelahnya diperbolehkan untuk bertemu kembali. Tidak jarang

terjadi penyerangan-penyerangan terhadap administratur Eropa yang dilakukan oleh

para kuli karena adanya penyalahgunaan kekuasaan administratur terhadap kuli

perempuan yang sudah bersuami orang pribumi tersebut.90

87 Upah pelacur yang telah menikah sebesar ƒ0,8 –ƒ1,5. Hal ini dikarenakan mereka dianggap

lebih profesional dalam berhubungan badan. Pelacuran yang mereka lakukan merupakan bentuk pergundikan atau menjadi istri simpanan administratur. Lihat Tineke Hellwig, op.cit., hlm. 40. Lihat juga Liesbeth Hesselink, op. cit.,. hlm. 199

88 Ibid., hlm 89

89 Menurut salah seorang administratur Eropa, kuli-kuli Jawa merupakan orang yang lugu,

bodoh, namum picik, dan memiliki sifat yang kekanak-kanakan. Sifat ini terlihat melalui jika ada seorang kuli yang lewat melintasi administratur maka dengan sendirinya ia akan menundukkan kepala atau berjalan jongkok. Atau pun, jika seorang kuli melewati rumah administratur, maka ia akan dengan sendirinya membuka topi saat melintas. Sifat ini lah yang dimanfaatkan oleh orang-orang Eropa untuk mengambil alih kekuasaan. Bahasa pengantar yang dipakai adalah bahasa Melayu, namun sering kali diselipkan kata-kata kotor dengan alasan mendisiplinkan kuli agar mau menurut kepada administratur tersebut. Lihat Jan Bremen, op. cit., hlm. 210

90 Penyerangan tersebut dilakukan atas dasar ketidaksenangan atau lebih tepat dikatakan

(30)

Para kuli perempuan yang telah menikah tersebut dan masih cantik tersebut,

dipaksa menjadi gundik/nyai oleh administratur bangsa Eropa. Mereka dipekerjakan

sebagai pembantu rumah tangga di rumah para administratur, sekaligus sebagai

pemuas kebutuhan seksual mereka. Di rumah administratur tersebut, biasanya mereka

mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, membersihkan rumah, dan

memasak, sehingga mereka disebut sebagai “housekeeper”91 sebagai kedok terhadap

atasan (pemerintah Hindia-Belanda). Sesungguhnya para gundik/nyai ini juga mereka

anggap sebagai pelacur.

Pergundikan ini penulis kategorikan kedalam bentuk pelacuran dikarenakan,

kondisi yang dialami oleh pelacur hampir sama dengan kondisi yang dialami oleh

gundik. Dalam pergundikan, seorang gundik/nyai juga mendapat bayaran, dan yang

mereka terima lebih besar dari pada pelacur. Bayaran yang diberikan kepada seorang

gundik/nyai sebesar ƒ2. Bayaran diberikan pada setiap gajian kecil di perkebunan.92

Ketika mereka dijadikan gundik/nyai, mereka tidak diperbolehkan untuk hamil.

Jika mereka memiliki anak, biasanya administratur tersebut tidak akan mengakui itu

sebagai anaknya kecuali bila anak tersebut berwajah seperti orang Eropa. Anak yang

lahir tetapi tidak berwajah Eropa, dibiarkan oleh administratur tersebut atau

dipulangkan ke Jawa dengan asuhan yang tidak jelas setelahnya.93 Jika anak tersebut

91 Ann Laura Stoler, op. cit., hlm. 52 92 Ibid., hlm. 54

(31)

berwajah mirip dengan orang Eropa, maka anak tersebut akan dipulangkan ke negara

asalnya untuk diasuh oleh keluarga si administratur tersebut.

Sejak awal tahun 1890-an, telah dikenal alat kontrasepsi94. Meski demikian,

ada juga administratur yang tidak mempergunakannya, sehingga mengakibatkan

kehamilan pada gundiknya. Gundik yang telah hamil biasanya akan segera diganti

oleh administratur tersebut. Dalam satu tahun, seorang administratur dapat berganti

gundik sebanyak tujuh belas kali. Selain karena kehamilan, pergantian gundik terjadi

karena adanya kesalahan yang dilakukan oleh gundik tersebut pada saat bekerja.95

Pergundikan tidak hanya terjadi pada kalangan administratur yang belum

menikah, tetapi juga terdapat juga di rumah administratur yang telah menikah, setelah

gundik tersebut mendapat izin dari istri administratur tersebut. Gundik tersebut

bekerja seolah-olah menjadi budak yang mengerjakan segalanya dalam pantauan istri

administratur tersebut, namun tidak dengan melakukan hubungan seksual. Akan

tetapi, beberapa istri administratur mengizinkan suaminya untuk berhubungan seksual

dengan gundiknya. Izin ini diberikan atas dasar fisik mereka sulit beradaptasi dengan

iklim tropis yang panas sehingga menyebabkan tubuh mereka lemah.96

94 Alat kontrasepsi yang dikenal pada waktu itu adalah kondom. Kondom tersebut dibagikan

secara gratis oleh angkatan laut pada saat angkatan laut singgah dipelabuhan diwilayah Belawan. Karena belum berkembangnya pengetahuan tentang obat dari penyakit kelamin atau pun sipilis, maka upaya pencegahan dilakukan dengan membagi kondom gratis. Tetapi jika sudah terkena penyakit kelamin,

maka kondom harus dibeli dengan harga ƒ2 ke angkatan laut itu sendiri. Lihat Liesbeth Hesselink, op. cit.,. hlm. 210.

95 Ibid., hlm. 211

96 Reggie Bay, Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda. Jakarta: Komunitas Bambu, 2010,

(32)

Tidak ada gundik dari kalangan perempuan Cina. Perempuan Cina hanya

dijadikan sebagai pelacur di wilayah gementee dan diantara kuli-kuli Cina saja.

Gundik-gundik tersebut semuanya berasal dari kalangan perempuan Jawa. Akan

tetapi, para administratur kelas atas seperti penasihat atau kontrolir perkebunan, lebih

sering memilih gundik dari kalangan perempuan Jepang yang tentunya dengan

bayaran yang lebih tinggi. 97

Selain menjadi gundik, gundik-gundik yang berasal dari suku Jawa dapat

menjadi penengah dalam permasalahan yang terjadi antara administratur dan kuli

perempuan Jawa,98 seperti protes pemotongan upah oleh kuli karena kesalahan yang

dibuat oleh kuli itu sendiri. Atau masalah pembayaran upah pelacuran yang kurang

yang dilakukan oleh seorang administratur. Meski demikian, gundik tersebut harus

tetap membela administratur tersebut karena takut dan demi mendapatkan uang agar

tidak diberhentikan sebagai housekeeper atau pembantu dirumah administratur

tersebut.

Di dalam kalangan militer, pergundikan juga banyak ditemukan. Mereka

disebut dengan nama Sarina yang diangkat menjadi anggota militer golongan pribumi.

Munculnya pergundikan disini dipicu oleh izin yang diberikan pada para serdadu

pribumi yang sudah menikah dan berkeluarga hidup bersama di dalam tangsi. Para

serdadu yang masih lajang kemudian marah dan memprotes kebijakan tersebut.

97 Tineke Hellwig, op.cit., hlm. 53

98

(33)

Mereka akhirnya diperbolehkan hidup dalam sebuah pergundikan dengan para tentara

perempuan atau yang disebut moentji.

Pergundikan di dalam tangsi ini berkembang pesat karena kebijakan

pemerintah Belanda yang mengijinkan pergundikan tangsi ini. Pertimbangan mereka,

dengan adanya seorang moentji, kehidupan para tentara kolonial ini menjadi lebih rapi

dan disiplin. Kebiasaan mabuk-mabukan di kalangan tentara dan praktek pelacuran

yang sering membawa penyakit kelamin menjadi berkurang. Oleh karena kebanyakan

tentara berpenghasilan rendah, jadi kemungkinan untuk memelihara gundik dari

warga sipil sangat kecil.

Faktor lain berkembangnya pergundikan tangsi ini adalah para pejabat militer

dengan pangkat tinggi yang lebih suka hidup dengan memelihara gundik daripada

pernikahan. Padahal memiliki harta yang cukup untuk membiayai seorang perempuan

Eropa. Alasannya, hanya sedikit perempuan Eropa yang dianggap sesuai, perempuan

pribumi yang tidak banyak menuntut, dan lebih mudah didapatkan.

Umur para moentji yang ada di dalam tangsi umumnya berusia 12-35 tahun.

Mereka yang sudah berusia lebih dari 35 tahun, akan diabaikan bahkan diusir dari

tangsi dengan sebuah surat pemberhentian. Mereka hidup kembali dalam kemiskinan

dan tanpa kepastian karena tidak memiliki pekerjaan lagi. 99

(34)

BAB IV

DAMPAK PELACURAN

4.1 Terhadap Kuli

Pada tahun 1870 sampai dengan 1927, perempuan pribumi dijadikan komoditas

dalam tangan lelaki kulit putih. Pada penjelasan bab sebelumnya, telah dijelaskan

bahwa kuli perempuan merupakan bagian dari umpan yang digunakan untuk memikat

kuli laki-laki ke perkebunan Deli. Secara tidak langsung, mereka dipekerjakan sebagai

pelipur lara para kuli laki-laki dan sebagai pengikat kontrak kuli di sana. Kondisi

seperti ini sengaja diciptakan agar dapat memberikan pelayanan seksual (pelacur)

dalam proses mempertahankan kuli laki-laki tersebut dan berdampak cukup besar di

wilayah perkebunan di Deli.

Dampak pelacuran terhadap kuli sangat jelas terlihat adalah mewabahnya

penyakit sipilis dikalangan kuli. Sejak awal abad ke-19, dampak pelacuran yang terkait

dengan penyakit sipilis sudah mulai dibahas di Pulau Jawa. Akan tetapi, pembahasan

dilakukan melalui ruang lingkup sosial dan politik. Pemerintah kolonial beranggapan

bahwa, penyakit ini merusak dan menggerogoti tatanan sosial dan politik

kekuasaannya, karena penyakit ini banyak menyebar dikalangan militer dan kuli-kuli

perkebunan. Akan tetapi, para pengusaha perkebunan tetap membiarkan proses

(35)

Kegiatan prostitusi yang dilakukan oleh kuli perempuan itu lah yang kemudian

menyebabkan tingginya jumlah penderita penyakit sipilis100. Banyak dari kuli para

penderita sipilis yang tidak menyadari jika mereka terkena sipilis dan karena itu mereka

tidak segera melakukan pencegahan terhadapnya. Pada masa itu, penyakit sipilis ini,

juga masih belum banyak diketahui, sehingga mereka beranggapan bahwa ini hanya

penyakit biasa. Hal ini disebabkan karena gejala-gejala yang ditimbulkan oleh penyakit

ini berlangsung cukup panjang. Gejala-gejala yang dialami akan berlangsung 3-4

minggu, atau kadang-kadang sampai 13 minggu. Kemudian akan timbul akan benjolan

seperti bisul di sekitar alat kelamin. Kadang-kadang disertai pusing-pusing dan nyeri

tulang disertai flu, yang akan hilang sendiri tanpa diobati. Setelah itu, akan muncul

bercak kemerahan pada tubuh sekitar 6-12 minggu setelah hubungan seks. Gejala ini

akan hilang dengan sendirinya dan seringkali kuli-kuli tersebut tidak memperhatikan

hal ini. Dalam jangka waktu dua sampai tiga tahun, penyakit sipilis akan menyerang

susunan syaraf otak, pembuluh darah dan jantung yang mengakibatkan kematian.101

Penyebaran penyakit kelamin ini, lebih banyak menyebar dikalangan kuli Cina

dari pada kuli Jawa. Beberapa faktornya adalah :

100Penyakit sipilis merupakan penyakit kelamin yang menular disebabkan oleh satu bakteri

tertentu. Penyakit ini dapat menular melalui hubungan seksual, gesekan antara luka si penderita dengan organ genital pasangannya (meski dalam keadaan normal/tidak terjangkit penyakit tersebut), melalui air liur yang bertukar, luka pada kulit yang saling bersentuhan, tetapi tidak dengan udara pernafasan, keringat, atau pun pakaian. Karena meyerang di bagian kelamin, maka penyakit ini juga dikenal degan

“penyakit kencing”

101 Kiki Maulana Affandi, Sejarah Kesehatan Kuli Kontrak di Perkebunan Senembah

(36)

1. Kuli Jawa melakukan sunat pada organ genitalnya sehingga menyebabkan

organ genital kuli Jawa lebih terjaga kebersihannya.

2. Kebanyakan kuli Jawa menikah dengan satu perempuan. Meski pun, para

suami dari kuli perempuan Jawa tersebut juga memperbolehkan istrinya

untuk menjadi pelacur atau gundik akibat dari kemiskinan yang dialami kuli

tersebut pada waktu itu.102

3. Jika ditinjau dari sisi medis, kuli Cina yang suka meminum arak (minuman

keras khas Cina) juga berdampak pada cepatnya proses penyebaran virus

sipilis ke otak, karena alkohol juga dalam jangka panjang dapat merusak

saraf-saraf yang terdapat pada otak manusia.103

Seorang manajer di Deli Maatscapij mengeluh karena dari 60 orang kuli

perempuan, sebanyak 35 orang dimasukkan ke rumah sakit karena sipilis. Akan tetapi,

data tersebut masih diragukan karena gejala penyakit ini yang tidak terlalu tampak jelas

serta dengan gejala yang panjang, dan mirip dengan gejala penyakit kulit lain yang juga

menyebar di perkebunan pada waktu itu. 104

Atas merebaknya penyakit kelamin ini, banyak bermunculan tuduhan-tuduhan

pada kuli perempuan. Penyakit ini selalu dikaitkan dengan penyakit perempuan105,

sehingga muncul istilah di masyarakat, bahwa penyakit kelamin tersebut adalah

102 Ann Laura Stoler, op. cit., hlm. 51.

103 Gani A Jaelani, Penyakit Kelamin di Jawa 1812 1942. Bandung: Syabas Books, 2013, hlm.

40.

104 Ann Laura Stoler, op. cit., hlm. 60

105 Istilah penyakit perempuan ini disebabkan karena stigma yang melekat pada waktu itu adalah

(37)

penyakit yang dibawa oleh “perempuan jahat”. Setidaknya, dari tuduhan terhadap

perempuan tersebut, dapat diambil kesimpulan: pertama, bahwa perempuan merupakan

penyebar penyakit, dan kedua, mereka mempraktikkan kegiatan immoral sebagai

pelacur. Tuduhan ini sebenarnya lebih didasarkan pada struktur tubuh dari perempuan

itu sendiri yang tidak pernah tahu jika dirinya telah tertular penyakit tersebut. Pada

bagian dalam kelamin perempuan terdapat satu organ yang disebut dengan lamad106.

Perempuan yang bagian lamad-nya sering mendapatkan gesekan, maka lamad tersebut

akan semakin menebal. Setelah menebalnya lamad tersebut, maka penyakit ini pun

sering tidak diketahui oleh perempuan pelacur tersebut. Oleh karena itu, perempuan

selalu dilihat sebagai gudang kuman bibit penyakit kelamin.

Setelah munculnya peraturan yang mewajibkan pemeriksaan terhadap para

pelacur, dokter pemeriksa mendapatkan sebuah hasil penelitian bahwa penyakit

tersebut sebenarnya menular melalui kelamin laki-laki. Dokter tersebut beranggapan

bahwa lelaki lah yang sebenarnya sebagai penular penyakit ini. Mungkin berawal dari

para tentara yang telah terkena sebelumnya. Ditambah lagi dengan adanya anggapan

pada waktu itu, “jika seseorang tidak menyalurkan birahinya maka ia akan terkena satu

penyakit”. Akan tetapi tidak ada satu dokter pun pada waktu itu yang menyatakan

anggapan tersebut adalah benar.107

Stigma seperti ini muncul karena kegiatan prostitusi yang dilakukan oleh kuli

perempuan dan perempuan juga selalu dipandang rendah di semua wilayah

(38)

perkebunan. Bahkan para pengusaha perkebunan sendiri mengklaim bahwa adanya

prostitusi dan penyebaran penyakit kelamin, karena kebobrokan moral perempuan itu

sendiri.

Meski telah muncul stigma buruk di kalangan kuli perempuan tersebut, mereka

tetap merasa bangga terhadap profesinya sebagai pelacur. Dijelaskan bahwa kuli

tersebut menyatakan diri bangga dan tidak malu sama sekali. Bahkan untuk beberapa

kuli perempuan yang telah menikah, mereka lebih menyalahkan kuli laki-laki

(suaminya) yang seharusnya bertanggung jawab atas profesi pelacur yang mereka

jalani. Dilain sisi, kebanggan sebagai pelacur juga karena penghasilan yang diperoleh

dari hasil melacur, dapat membantu kehidupan ekonomi mereka.

Berbeda dengan kuli perempuan, di kalangan kuli laki-laki, penyakit kelamin

merupakan satu simbol kejantanan. Sekelompok laki-laki (satu regu dalam sebuah

perkebunan) akan lebih merasa dihormati kalau sudah tertular penyakit kelamin ini.

Akibatnya banyak laki-laki yang ingin tertular penyakit ini. Bagi para pemuda

misalnya, sering terjadi orang tua (laki-laki) memaksa agar anaknya dapat tertular

penyakit ini, karena anggapan bahwa, jika seorang ayah memiliki anak yang tertular

penyakit kelamin akan dihargai sebagai orang tua yang “jantan”.108

Tidak terlepas pula pada administratur perkebunan, maupun golongan militer

perkebunan. Penyakit kelamin merupakan satu simbol ketangguhan terutama bagi

seorang serdadu militer. Dalam bukunya, Gani A. Jaelani menjelaskan tentang terdapat

(39)

satu ungkapan yang cukup populer dikalangan seluruh anggota militer di

Hindia-Belanda pada waktu itu bahwa, “seorang serdadu, tidak akan menjadi serdadu yang

baik jika belum pernah tertular sipilis”. Bahkan penyakit ini merepresentasikan

kedudukan terhormat di kalangan militer (dalam hierarki yang informal).109

Lain halnya menurut pandangan kaum liberalis Eropa. Orang Eropa yang

datang dan mengambil alih pemerintahan di Hindia-Belanda, khususnya para

pengusaha perkebunan, merupakan orang liar (sauvage). Rusaknya moralitas yang

terjadi di perkebunan, terutama citra buruk yang terdapat di Deli, menurut kaum

liberalis Eropa tersebut karena bangsa Eropa yang datang ke Hindia-Belanda

merupakan “orang kulit putih yang telah mengalami degenerasi”. Selain pelacuran

yang mengakibatkan wabah penyakit kelamin yang cukup besar, praktik suap, pegawai

yang korup, dan pergundikan merupakan contoh-contoh dari hilangnya moralitas orang

Eropa di Deli. Selain dikatakan sebagai “bisnisnya para monyet”, perkebunan di Deli

terkenal dengan “rumah sakit dari para penderita ketidakbermoralan”.110 Sebagai

pembelaanya, iklim, makanan, bahasa, dan cara berpakaian dianggap sebagai penyebab

hilangnya moralitas bangsa Eropa di tanah jajahannya. Disamping itu, muncul dari

asumsi bahwa karakter orang pribumi sebagai “orang liar” menular pada orang Eropa.

Penularan “penyakit ini”, terutama terjadi akibat hubungan seks antara kedua jenis ras

tersebut.

109 Ibid., hlm. 136

(40)

Selain menyebabkan gangguan biologis (penyakit kelamin), akar permasalahan

sosial dari “degenerasi kulit putih”, praktik seks bebas yang terjadi juga memunculkan

kegelisahan politik. Hal ini kemudian memunculkan pendapat bahwa para lelaki Eropa

tidak hanya tertular penyakit, tetapi juga telah kehilangan martabatnya dan cenderung

menjadi tidak bermoral.111

Kebanggan yang berlebih juga ada pada kuli perempuan yang menjadi gundik

administratur kebun. Selain berpenghasilan, mereka juga merasa bangga karena dapat

dekat dengan administrator yang sebagian besar adalah orang Eropa. Selain itu, mereka

juga mendapat pendidikan tentang bahasa dan kebersihan dari orang-orang Eropa

tersebut. Pelajaran lain yang diberikan adalah berupa tata cara berpakaian yang rapi

dan terlihat berwibawa, kebersihan kulit terutama pada bagian kelamin112. Untuk

menjaga alat kelamin nereka agar tetap bersih, mereka harus mencukur rambut yang

tumbuh pada bagian organ genital itu. Mereka juga diajarkan untuk mencukur rambut

pada ketiak.113

Dampak lain dari eksploitasi terselubung yang dilakukan oleh pengusaha

perkebunan terhadap para kuli perempuan tersebut, adalah lahirnya anak-anak diluar

nikah. Dalam kasus pergundikan, selain hanya dianggap sebagai objek seksualnya, para

nyai/gundik ini juga tidak memiliki hak karena mereka tidak dapat menuntut apapun

111 Liesbeth Hesselink, op. cit., hlm. 200

112 Pembelajaran yang dimaksudkan dalam pembersihan organ genital, agar setelah gundik

tersebut pindah dari satu laki-laki administratur ke administratur lainnya, ia tetap mampu melayani dan dapat menjadikan satu kebanggaan pada administratur sebelumnya bahwa ia memakai salah seorang kuli yang bersih.

(41)

dari tuannya. Jika suatu saat tuannya kembali ke Eropa untuk cuti ataupun menetap

disana dan menikah dengan perempuan Eropa, sang nyai harus ikt serta tanpa boleh

membawa anaknya yang lahir dari hubungan pergundikan tersebut. Gundik itu

terkadang bisa dijadikan barang lelangan oleh tuannya. Gundik tersebut akan dilelang

kepada teman dan kenalan sang tuan untuk kemudian dijadikan gundiknya.

Anak yang lahir diluar nikah dari pergundikan, hanya menjadi tanggung jawab

si perempuan. Tidak jarang anak yang terlahir seperti ini, ketika berusia 10 tahun akan

dijual oleh ibu mereka kepada pengusaha perkebunan untuk dijadikan kuli jika anak

tersebut laki-laki, dan dijadikan gundik jika anak tersebut perempuan.114

Masa pelacuran dan pergundikan seorang perempuan di perkebunan akan

berakhir setelah ia berusia 45 tahun. Perempuan yang telah berusia 45 tahun115 kurang

diminati oleh para kuli ataupun para administratur. Pada saat itu lah, mereka akan

menikah dengan seorang kuli laki-laki yang juga telah berusia tua. Mereka tetap

bekerja pada pengusaha perkebunan tapi, hanya bekerja sebagai pemanen, penjemur,

atau sebagai pengutip ulat-ulat hama dari daun tembakau.

4.2 Terhadap Kebijakan Pemerintah Hindia-Belanda

Banyak terjadi perdebatan antara dua kelompok yang bertentangan di Deli.

Kelompok yang bertentangan tersebut adalah kelompok pemilik atau pendukung usaha

perkebunan dengan kelompok liberal dari pemerintah Hindia-Belanda. Perdebatan

(42)

yang terjadi terkait kebijakan yang dibuat oleh pihak perkebunan dengan citra buruk

yang didapat pemerintah Hindia-Belanda di Deli. Pihak perkebunan mendukung dan

membiarkan praktik pelacuran terjadi di wilayah perkebunan Deli. Sementara itu,

kelompok liberalis pemerintahan melarang116 praktik pelacuran tersebut. Penyakit

kelamin yang terjadi akibat pelacuran tersebut telah dianggap sebagai satu kejahatan

besar dan harus segera dihentikan. Akan tetapi, para pihak yang mendukung praktik

pelacuran, pelacuran harus tetap ada tanpa memperdulikan dampak yang terjadi akibat

praktik pelacuran tersebut. Hal ini karena penyakit tersebut dianggap sebagai tanggung

jawab dari masing-masing kuli itu sebagai akibat dari buruknya moral kuli perempuan

yang menjadi pelacur tersebut.

Hasil dari perdebatan itu maka, pada tahun 1880 dibentuk lah Komisi

Pengorganisasian Pelayanan Kesehatan Masyarakat117 dan dikeluarkan lah peraturan

tentang pengendalian pelacuran yang diberikan kepada kuli-kuli di wilayah perkebunan

Deli. Peraturan tersebut mengharuskan kepada perempuan yang ingin menjadi pelacur

agar mendaftarkan diri terlebih dahulu ke kepolisian, dan melakukan pemeriksaan rutin

ke dokter setiap satu kali dalam seminggu. Akan tetapi, penerapan terhadap peraturan

pengendalian pelacuran tersebut tidak membuahkan hasil. Jika seorang kuli perempuan

sudah mulai terlihat tanda bahwa ia terkena penyakit kelamin, maka ia harus berada

116 Pelarangan praktik pelacuran tersebut terkait dengan berkembangnya paham liberal di

negara induk (Belanda-Eropa) tentang proses “memanusiakan manusia” (memberikan hak-hak yang benar kepada orang lain / HAM). Bahkan salah seorang dari pemerintah Hindia-Belanda (HJ Bool) menyatakan bahwa perusahaan perkebunan di Deli merupakan bisnisnya para monyet. Lihat H. J. Bool, op. cit., hlm. 36

117 Komisi ini berisi para dokter yang telah belajar dan bekerja sama dengan perkebunan

(43)

dalam perawatan dokter hingga sembuh. Akan tetapi, kuli tersebut tidak mampu

membayar uang perobatan dan pada akhirnya dokter tetap memperbolehkan ia bekerja.

Kondisi ekonomi kuli ini lah yang mengakibatkan peraturan yang dikeluarkan oleh

pengusaha perkebunan tersebut tidak berjalan.118

Tidak berjalannya peraturan tersebut, menyebabkan semakin pula banyaknya

tersebar penyakit kelamin diantara kuli-kuli perkebunan tersebut. Kemudian peraturan

diperbaharui dengan berusaha mengintensifkan pemeriksaan berkala yang harus

dilakukan oleh kuli tersebut. Peraturan kembali diperbaharui dengan adanya usulan

dari pemerintah Hindia-Belanda terkait penghapusan hukuman terhadap pelacur dan

pengurangan pajak melacur. Akan tetapi, para pengusaha perkebunan tidak meyepakati

hal itu karena beranggapan bahwa yang memilih profesi sebagai pelacur itu adalah kuli

perempuan itu sendiri.119

Pada kenyataannya, para pengusaha perkebunan menjalankan apa yang telah

diusulkan oleh pemerintah tersebut. Pada kenyataannya, pemeriksaan ke dokter yang

dilakukan oleh para kuli hanya dianggap sebagai lelucon belaka. Ditambah lagi,

pengetahuan tentang penyakit ini masih belum berkembang dan dokter yang terdapat

pada wilayah Deli juga jumlahnya masih sedikit. Ini berdampak pada pemeriksaan

terhadap yang pelacur semakin tidak terkendali dan penyakit kelamin menjadi satu

fenomena besar di perkebunan hingga awal abad ke-20.120

118 Liesbeth Hesselink, Prostitutuin: A Necessary Evil, . . . op. cit., hlm. 192 119 Ibid, hlm 194

(44)

Satu kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda adalah

kurangnya perhatian setelah dikeluarkannya peraturan yang menyangkut pelacuran itu.

Pemerintah seolah-olah tidak peduli dan menganggap masalalah tersebut telah

terselesaikan setelah dikeluarkannya peraturan tersebut sehingga, banyak pelacur yang

tidak memeriksakan dirinya kedokter lagi.

Pada tahun 1905, karena sedikitnya laporan tentang penyakit sipilis dari Komisi

Pengorganisasian Pelayanan Kesehatan Masyarakat maka, pemerintah menganggap

bahwa penanganan penyakit sipilis telah selesai, sehingga pada tahun 1911 peraturan

tersebut dihapuskan. Untuk pelacur yang sebelumnya telah terkena penyakit sipilis,

mereka akan direhabiitasi ke daerah Tanjung Pinang, dan Banjaran. Akan tetapi,,

dikarenakan pengetahuan yang masih minim, sebagian besar dari pelacur tersebut tidak

dapat diobati dan menemui ajalnya disana.121

Keadaan seperti yang telah digambarkan diatas, berdampak pada munculnya

rumah-rumah bordil di wilayah geemente, rumah-rumah mesum diwilayah

perkebunan, dan lahirnya praktik germo.122 Munculnya rumah bordil dan praktik

germo ini mendapat respon yang cukup baik oleh pemerintah Hindia-Belanda. Rumah

bordil dan germo akhirnya menjadi legal (resmi) di wilayah Sumatera Timur. Cara ini

memberikan keuntungan tersendiri bagi pemerintah Hindia-Belanda. Mereka

mendapat keuntungan berupa pajak dari praktik pelacuran tersebut. Untuk lebih

menertibkan rumah bordil dan germo tersebut, pemerintah memunculkan peraturan

(45)

untuk menerbitkan selebaran seperti sertifikat kepada pelacur-pelacur di rumah bordil

dan germo-germo tersebut, sehingga dapat mengurangi pelacur-pelacur yang tidak sah

dari wilayah perkebunan Deli.123

Para pelacur yang bekerja di barak kuli, juga diorganisir oleh seorang germo.

Germo ini adalah para mandor besar dari suku Jawa yang berperan juga sebagai

pemimpin dari sebuah kelompok penari ronggeng. Setiap akan melakukan praktik

pelacuran, perempuan penari ronggeng meminta izin terlebih dahulu kepada

pemimpinya. Bayaran yang diterima akan dibagi sesuai dengan kesepakatan antara satu

kelompok perempuan penari ronggeng (pelacur) dan pemimpinnya.124

Peraturan yang telah dikeluarkan ini, seolah tidak berlaku untuk para gundik.

Hal ini karena para administratur kebun berkedok bahwa para gundik tersebut hanya

lah pembantu rumah tangga mereka. Selain itu, jarang sekali ada laporan penyakit

sipilis di kalangan perempuan gundik tersebut.

123 Ibid, hlm. 61

(46)

BAB V

UPAYA PENANGANAN PELACURAN DAN PENYAKIT KELAMIN

5.1 Penanganan Pelacuran

Seperti yang telah dijelaskan pada bab terdahulu, masalah pelacuran mulai

mendapat penanganan serius sejak munculnya citra buruk terhadap perkebunan di

wilayah Deli pada tahun 1875. Akan tetapi, upaya tersebut masih gagal meski telah

dibuat suatu peraturan dan lembaga masyarakat yang mewajibkan kepada perempuan

untuk mendaftar kepada pihak kepolisian setempat. Pada tahun 1905, dikarenakan

sedikitnya laporan tentang penyakit sipilis kepada Komisi Pengorganisasian Pelayanan

Kesehatan Masyarakat, maka pemerintah Hindia-Belanda menyatakan bahwa

penanganan sipilis telah usai dan menghapuskan tersebut. Keadaan ini mengakibatkan

menjamurnya rumah bordil dan germo-germo.

Pada tahun 1919, Inspektur Deputi Pencegahan Penjualan Wanita dan Anak125

datang mengunjungi wilayah perkebunan di Deli. Pada saat kedatangannya ke Medan,

mereka terkejut ketika menemukan banyaknya rumah-rumah bordil, dan bahkan

mereka menemukan wanita-wanita bukan pribumi yang berasal dari wilayah Asia

Timur (Cina dan Jepang). Atas dasar kecurigaan ini, maka Inspektur Deputi

125

(47)

Pencegahan Penjualan Wanita dan Anak tersebut memutuskan untuk melakukan

investigasi di wilayah perkebunan Deli.126

Pemeriksaan dilakukan terhadap instansi pemerintahan, rumah-rumah bordil,

para germo, dan juga kepada para pelacur. Dari hasil investigasi tersebut, ditemukan

bahwa masih banyaknya penderita sipilis dan anak-anak yang menjadi pelacur. Sangat

berbeda jauh dengan laporan pemerintah Hindia-Belanda (yang telah dijelaskankan

sebelumnya) dengan kenyataan yang ada di lapangan. Inspektur Deputi Pencegahan

Penjualan Wanita dan Anak tersebut kemudian mendesak pemerintah Hindia-Belanda

segera melakukan penanganan terhadap pelacuran tersebut. Mereka menuntut kepada

pemerintah agar dapat membuat satu peraturan untuk mengendalikan pelacuran agar

pelacuran tersebut berjalan sesuai dengan peraturan yang ada.127

Peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia-belanda pada

waktu itu hanya berupa peraturan untuk dilakukannya legalisasi terhadap pelacur

bukan untuk penghapusan/pengurangan pelacuran. Peraturan ini setidaknya juga

memberikan dua keuntungan bagi pemerintah.

1. Kembali dengan diberlakukannya pelaporan oleh para pelacur, maka secara

tidak langsung, itu akan memberikan dampak pada penanganan penyakit

kelamin.

(48)

2. Pemerintah Hindia-Belanda dapat diuntungkan dari sisi pekerja laki-laki

karena dapat memberikan jaminan kepada para pekerja (kuli/administratur)

laki-laki tersebut dalam melampiaskan kebutuhan seksualnya.128

Upaya-upaya pengendalian pelacuran seperti tersebut diatas, dilakukan dengan

melakukan sensus dan pendataan terhadap para pekerja rumah bordil serta germo.

Pemimpin rumah bordil kembali diwajibkan agar melaporkan para pekerjanya kepada

pihak kepolisian dalam jangka waktu sebulan sekali. Pelaporan ini bertujuan agar

pemerintah selalu mendapatkan informasi dan dapat melakukan kontrol secara penuh

terhadap rumah bordil ataupun germo tersebut. Selain itu, pemerintah Hindia-Belanda

juga megeluarkan aturan terkait kelayakan rumah bordil, terutama dalam hal

kebersihan. Rumah bordil harus menyediakan air dan kamar mandi yang cukup,

pekerja tidak boleh terlalu banyak, dan harus menjual alat kontrasepsi ataupun

obat-obatan pencegah penyakit kelamin.129

Dengan adanya legalisasi seperti ini, harapannya pemerintah Hindia-Belanda

berharap dapat melakukan pengendalian terhadap pelacur-pelacur yang ada di wilayah

perkebunan Deli. Pada kenyataannya, peraturan ini seolah untuk menjaga orang-orang

Eropa saja, terutama pada para tentara. Peraturan hanya terlihat tegas diwilayah

gementee, namun tidak pada wilayah perkebunan.130 Tidak diketahui pasti, namun

menurut interpretasi penulis, hal ini dilakukan semata-mata karena adanya pengawasan

(49)

dari Inspektur Deputi Pencegahan Penjualan Wanita dan Anak tersebut, dan para

germo yang bekerja di wilayah perkebunan juga tidak banyak, karena telah dikuasai

oleh mandor-mandor besar suku Jawa.

Selain mengeluarkan peraturan terhadap rumah bordil dan germo, pada tahun

1919, pemerintah Hindia-Belanda juga mengeluarkan peraturan terhadap orang Eropa

yang akan bekerja diperkebunan. Peraturan yang dibuat pada masa itu ialah keputusan

mengenai pencabutan peraturan larangan menikah terhadap orang Eropa yang akan

bekerja di perkebunan Deli. Para administratur Eropa yang sebelumnya telah terkena

penyakit kelamin, akan dikembalikan ke Eropa dan digantikan dengan tenaga baru

yang telah menikah. Berdasarkan keputusan ini, jumlah gundik banyak berkurang sejak

tahun 1919.131

Berkurangnya pergundikan tersebut, tidak serta merta mengurangi praktik

pelacuran. Bahkan sebaliknya, para gundik yang tidak bekerja lagi beralih menjadi

pelacur, sementara itu, gundik yang telah memasuki usia tuanya akan kembali bekerja

di perkebunan. Pada masa ini, pihak perkebunan kembali memberikan syarat kepada

perempuan tersebut agar menikah sebelum bekerja, untuk mencegah pelacuran ilegal

yang dilakukan oleh perempuan tersebut terhadap kuli laki-laki lain nantinya.132

Pada awalnya, pemerintah Hindia-Belanda melakukan kontrol terhadap

pelacuran tersebut melalui pusat pemerintahan di Batavia. Akan tetapi, pada tahun

(50)

1922, upaya pengendalian pelacuran belum berjalan lancar karena masih banyaknya

ditemukan pelacur-pelacur dan rumah bordil yang tidak memenuhi standar sesuai

dengan yang ditetapkan pemerintah. Kemudian pemerintah Hindia-Belanda

mengeluarkan peraturan mengenai hak otonomi terhadap pengendalian pelacuran pada

setiap wilayah residen masing-masing. Harapan pemerintahan Kolonial Belanda adalah

adanya tanggung jawab lebih besar terhadap pengawasan tempat prostitusi tersebut.133

Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, menurut kaum liberalis yang

berasal dari Eropa, pemerintah Hindia-Belanda pada waktu itu merupakan orang-orang

degenerasi bangsa Eropa, terlihat pada adanya suap-suap yang dilakukan oleh

pengusaha rumah bordil dan germo pada pemerintah Hindia-Belanda. Suap dilakukan

untuk menghindari penyelidikan pemerintah terhadap pelacur yang bekerja untuk

rumah bordilnya. Dalam upaya penanganan penyakit kelamin, perempuan yang telah

terkena penyakit ini akan diisolasi ke suatu daerah, dan biasanya tidak akan bekerja

sebagai pelacur lagi. Dengan melihat hal ini, maka upaya suap dilakukan agar

pendapatan dari pengusaha rumah bordil tersebut tidak berkurang.134 Sehingga sampai

tahun 1930, pelacuran tidak dapat ditangani dengan baik.

Aktivitas pelacuran banyak terhenti dikarenakan tutupnya

pengusaha-pengusaha perkebunan sebagai dampak dari depresi ekonomi pada tahun 1930. Tidak

ada data pasti mengenai berhentinya proses pelacuran pada waktu itu. Akan tetapi, satu

(51)

hal yang pasti, banyaknya perkebunan yang tutup, menjadikan banyaknya

pengangguran yang terjadi di Deli khususnya pada kuli Jawa (laki-laki dan

perempuan).135

5.2 Penanganan Penyakit Kelamin

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, upaya penanganan penyakit kelamin

mulai diintensifkan sejak dikeluarkannya peraturan yang berisi bahwa setiap rumah

bordil (yang telah dilegalkan) harus memiliki fasilitas berupa air dan kamar mandi yang

memadai, serta menjual alat kontrasepsi dan obat penyakit kelamin.

Sebelum adanya usaha pencegahan dari pemerintah pada waktu itu, maka upaya

pencegahan dari penyakit kelamin dilakukan secara tradisional oleh perempuan itu

sendiri. Caranya adalah dengan membasuh organ vitalnya dengan menggunakan air

sirih yang dicampur dengan kapur136. Air sirih direndam sampai airnya berubah

menjadi kemerahan, kemudian dicampur dengan kapur sirih yang juga telah

dilumatkan sebelumnya. Cara yang mereka pakai ini hanya berdasarkan pengetahuan

yang didapat secara turun-temurun. Tidak ada upaya penanganan lain yang mereka

lakukan selain dengan menggunakan air sirih tersebut.137

Sebenarnya pada tahun 1871, telah didatangkan dr. H. Sanders dokter Eropa

pertama asal Inggris ke perkebunan Deli Maatschappij. Awalnya upaya penanganan

135 T. Keizerina Devi, op. cit., hlm. 308.

136 Kapur yang dimaksud adalah kapur yang biasa digunakan untuk memakan sirih, bukan

kapur tulis atau pun kapur barus.

(52)

ini lebih didasari oleh kepentingan ekonomis138, dan karena desakan-desakan dari

kelompok liberalis yang ada dalam pemerintah Hindia-Belanda. Pada tahun yang sama

juga, sebuah tempat perawatan kuli yang sakit dibangun di Medan yang menjadi cikal

bakal Rumah Sakit Pusat Perkebunan Deli Maatschappij (yang sekarang dikenal

dengan Rumah Sakit Tembakau Deli).139 Akan tetapi, karena pengetahuan tentang

penyakit kelamin masih rendah, maka penanganan penyakit kelamin tidak

membuahkan hasil sama sekali.

Kamudian setelah dibentuknya Komisi Pengorganisasian Pelayanan Kesehatan

Masyarakat pada 1880, masyarakat banyak diberi penyuluhan-penyuluhan tentang

penyakit kelamin. Seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, penyuluhan

dilakukan hanya lewat selebaran yang ditempatkan pada barak-barak kuli,

rumah-rumah bordil, dan di hotel-hotel tempat adanya pelacuran. Akan tetapi, karena adanya

paradigma kaum lelaki pada waktu itu bahwa belum menjadi laki-laki seutuhnya jika

belum terkena penyakit kelamin, maka penyuluhan yang dilakukan oleh komisi

tersebut juga gagal.

Melihat kemajuan penanganan kesehatan yang dilakukan oleh perkebunan

Senembah, Deli Maatschappij mulai belajar banyak dari sana. Rumah sakit yang ada

di wilayah perkebunan Deli kemudian diintegrasikan dengan Rumah Sakit Pusat

Tanjung Morawa. Dimulai dengan adanya tempat untuk merawat kuli yang sakit yang

138 Kepentingan ekeonomis yang dimaksud adalah untuk penghematan biaya pendatangan

kuli.

(53)

disebut poliklinik. Tempat perawatan tersebut bersifat sementara dan bentuknya

sederhana. Rumah Sakit Pusat Tanjung Morawa dibangun untuk mengakomodir

tempat-tempat perawatan kuli di setiap perkebunan yang ada. Fasilitas kesehatan di

rumah sakit selalu diperbaharui dan ditambah. Pada tahun 1902 rumah sakit ini

dilengkapi dengan teknologi X-Ray, dan tahun 1921 ditambah lagi satu unit. Setiap satu

sampai dua pekan sekali dokter kepala rumah sakit pusat datang ke tempat ini dan

melakukan pemeriksaan terhadap para kuli.140

Rumah sakit terdiri dari beberapa ruangan dan bagian, yaitu ruang kerja, ruang

laboratorium ronsen x-ray, ruang apotik, ruang persediaan obat, ruang mesin, ruang

operasi, ruang sterilisasi, ruang tunggu, kamar mandi dan w.c., ruang konsultasi,

sumur, menara air, ruang kuli perempuan, ruang kuli jawa, ruang pegawai, dapur, dan

ruang isolasi penyakit yang terdiri dari penyakit malaria, beri-beri, penyakit sipilis,

dysentri, typhus dan kolera.141

Rumah Sakit Pusat Tanjung Morawa dapat menampung hingga 300 pasien.

Gedung di rumah sakit terbagi menjadi 6 gedung utama. Gedung I berfungsi sebagai

ruang perawatan pasien. Ruang perawatan pasien dipisah antara kuli Cina, kuli Jawa

dan kuli perempuan. Setiap ruangan biasanya dijaga oleh tiga orang pegawai. Gedung

II adalah gedung untuk menampung pasien yang menderita penyakit dalam. Gedung

III berfungsi untuk ruangan bedah pasien. Gedung IV terdiri dari ruang isolasi untuk

140 Kiki Maulana Affandi, op. cit., hlm. 80

141 W. A. P. Schuffner dan W. A. Kuenen, De Gezondheidstoestand van de Arbeiders,

(54)

penyakit malaria dan beri-beri. Gedung V juga terdiri dari ruang isolasi untuk penyakit

dysentry, typhus, dan kolera serta penyakit pencernaan lainnya. Terakhir adalah gedung

VI berfungsi sebagai ruangan diagnosa awal dan juga ruangan untuk penderita penyakit

kelamin.142

Seiring makin meluasnya wilayah perkebunan, maka pada tahun 1921

Perkebunan Senembah Maatschappij melakukan beberapa kebijakan mengenai

perawatan kesehatan. Kebijakan tersebut yaitu kebun-kebun yang letaknya jauh dari

Rumah Sakit Pusat Tanjung Morawa harus melakukan perawatan kuli kontrak pada

rumah sakit pusat di perkebunan lain yang letaknya berdekatan. Perkebunan Simpang

Empat, Titian Urat, Ramunia dan Melati melakukan perawatan kesehatan kuli kontrak

di Rumah Sakit Perbaungan. Perkebunan Pagar Merbau, Lubuk Pakam dan Kuala

Namu berafiliasi dengan Rumah Sakit Petumbukan milik Yayasan Serdang Doktor

Fonds. Perkebunan Selayang, Wampu, Two Rivers dan Tanjung Garbus merawat kuli

yang sakit di Rumah Sakit Sei Sikambing sampai tahun 1922 karena rumah sakit

tersebut ditutup sehingga Perkebunan Selayang dan Wampu dialihkan di Rumah Sakit

Bangkatan di Binjai milik Perkebunan Deli Maatschappij. Sementara itu, Perkebunan

Two Rivers dan Tanjung Garbus dialihkan ke Rumah Sakit Pusat Tanjung Morawa.143

Pada tahun 1903 sebuah laboratorium pusat patologi penyakit tropis dibangun

di Medan. Laboratorium ini dibangun atas prakarsa administratur utama Perkebunan

Deli Maatschappij, J. W. van Vollenhoven dan direktur utama Perkebunan Senembah

142 Ibid., hal. 48 dan 56.

(55)

Maatschappij, C. W. Janssen. Pembangunan laboratorium tersebut terjadi juga berkat

kerjasama tiga perusahaan perkebunan besar di Sumatera Timur, perusahaan tersebut

adalah Perkebunan Deli Maatschappij, Perkebunan Senembah Maatschappij, dan

Perkebunan Medan Tabak Maatschappij. 144

Lembaga laboratorium ini merupakan tempat untuk meneliti dan mendiagnosa

penyakit-penyakit tropis dan penyakit kelamin di berbagai perkebunan di Sumatera

Timur. Penelitian yang dilakukan adalah pembuatan serum dan vaksinasi serta

obat-obatan. Selain itu juga dilakukan penelitian mengenai penyebab suatu penyakit,

hubungan antara gejala dan lingkungan dengan merebaknya wabah penyakit di suatu

wilayah.145

Sejak 1909, selain 3 perusahaan perkebunan yang menjadi inisiator lembaga

ini, banyak perusahaan dan berbagai rumah sakit lain yang menjadi anggotanya. Pada

tahun 1921 anggota lembaga laboratorium patologi penyakit tropis berjumlah 45 yang

dapat dilihat dalam tabel berikut. Deli (Sumatra’s Oostkust) over de Jaren 1907-1921, ANRI.

(56)
(57)

1917 Central Hospital Bindjei

Soengei Rampah Rubber & Cocoanut Pl. Cy.

Sumatra Para Rubber Plant Cy. Laboratorium Medan-Deli (Sumatra’s Oostkust) over de Jaren 1907-1921, ANRI.

Pada tahun 1918 pemerintah Hindia Belanda membuat kebijakan untuk

memberikan biaya operasional pada lembaga ini sebesar f 500 per bulan.146 Setelah itu

setiap tahun anggaran ini mengalami peningkatan yang disalurkan melalui lembaga

kesehatan milik pemerintah yaitu B.G.D.147 Selain itu Pembiayaan lembaga ini juga

berdasarkan iuran yang dilakukan oleh setiap anggota. Iuran dibayar berdasarkan

Gambar

Tabel 3.
Tabel 1.
Tabel 2.

Referensi

Dokumen terkait

Tinggi badan dan berat badan remaja laki-laki yang jauh lebih besar dibandingkan remaja perempuan menyebabkan nilai indeks massa tubuh remaja perempuan pada

Hasil penelitian menunjukkan keterasingan (alienasi) yang dialami oleh kuli di perkebunan Deli tidak terlepas dan sistem kapitalisme dan liberalisme ekonomi di

Untuk komponen criteria for marriage readiness , subjek laki-laki dan perempuan memiliki pandangan yang cukup berbeda terkait kriteria yang harus mereka penuhi atau persiapkan

Permasalahan yang dikupas dalam buku Breman adalah sekitar seratus ribu pekerja di daerah Sumatera Timur yang tidak mempunyai hak untuk melepaskan diri dari

perkebunan, sehingga menarik perhatian para pengusaha untuk membuka lahan- lahan luas yang akan di tanami tembakau.. 7 Tanah liparitik adalah endapan tanah gembur dari

Kedatangan para pekerja dari Jawa ke perkebunan Deli sangat erat kaitannya dengan kondisi penyempitan lahan pertanian Jawa akibat penguasaan oleh perusahaan-perusahaan

Kriteria pemimpin yang sangat dirasakn oleh para pekerja laki-laki adalah tingkat kecerdasan intelektual yang cukup tinggi pada diri pemimpin perempuan tersebut,

Secara umum pernikahan dini lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki, sekitar 5% anak laki-laki menikah sebelum mereka berusia 19 tahun