LAMPIRAN I
LAMPIRAN II
Aktivitas dan Pekerjaan Kuli Perempuan Jawa di Perkebunan Deli
Maatschappij
“Kuli Perempuan Jawa pada saat mengambil ulat (hama tembakau)”.
LAMPIRAN III
“Seorang Gundik Administratur Eropa”
LAMPIRAN IV
Barak Kuli Dan Tempat Tinggal Administratur Eropa
“Tempat Tinggal Kuli Yang Disediakan Oleh Pengusaha Perkebunan, Dan Sengaja Dibuat Di Dekat Lahan Tempat Mereka Bekerja”
“Tempat Tinggal Administratur Perkebunan Eropa Yang Terletak Pada Wilyah Gemeente di Deli”
LAMPIRAN V
Fasilitas Rumah Sakit Pusat Perkebunan Senembah Maatschappij Yang Bekerja Sama Dengan Perkebunan Deli.
“Ruang Operasi”
“Penyimpanan Obat”
LAMPIRAN VI
Surat Kabar
“Iklan Penjualan Obat Penyakit Kelamin“
76
BIBLIOGRAFI
A. Arsip Nasional Republik Indonesia
AVROS 1892-1985 No. 358, Verslag van het Pathologisch Laboratorium Medan-Deli
(Sumatra’s Oostkust) over de Jaren 1907-1921
Brieven Gouvernement Secretaris/BGS, No. 418/A2, ANRI
Staatsblad van Nederlandsch-Indie, 1880 No. 133
B. Buku-Buku
Aulia, Emil W. 2006. Berjuta – Juta Dari Deli Satoe Hikajat Koeli Contract. Jakarta : Gramedia
Basharshah II, Tengku Lukman Sinar. Tanpa Tahun Terbit. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan di Sumatera Timur. Medan: Tanpa Penerbit.
Breman, Jan. 1997. Menjinakkan Sang Kuli, Politik, Kolonial pada Awal Abad ke-20. Jakarta: Pusaka Utama Grafiti
Bool, H. J. 1903. De Chineesche Immigratie Naar Deli. Utrecht: Oostkust van Sumatra Instituut.
Devi, T. Keizerina. 2004. Poenale Sanctie Studi Tentang Globalisai dan Perubahan Hukum di Sumatera Timur(1870-1950). Medan: Program Pasca Sarjana USU
Gottchalk, Louis. 1985. Mengerti Sejarah, terjemahan dari Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press.
Hellwig,Tineke. 2007. Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda.Jakarta: Yayasan Obor
Hesselink,Liesbeth. 1997. Prostitutuin and Gambling in Deli, Amsterdam: Amarpress
77
Hull, Terence. Dkk. 1997. Pelacuran di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya. Medan: Pustaka Sinar Harapan
Jaelani, Gani A. 2013. Penyakit Kelamin di Jawa 1812 – 1942. Bandung: Syabas Books
J. Pelzer, Karl. 1997. Toean Keboen dan Petani, Politik Kolonial dan Perjuangan Agrariadi Sumatera Timur(1863-1947). Jakarta: Sinar Harapan
Kartodirdjo, Sartono dkk. (eds.). 1977. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Balai Pustaka.
Wie, Thee Kian. 1977. Plantation Agricultural and Export Growth an economic history qf East Sumatra, 1863-1942, Jakarta: LEKNAS-LIPI,
Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Locher-Scholten, Elsbeth. 1992. “The Nyai in Colonial Deli: A Case of Supposed Mediation”, dalam Sita van Bemmelen, dkk. (eds.). Women and Mediation in Indonesia. Leiden: KITLV Press.
Mubiyarto. 1992. Tanah dan Tenaga Kerja Perkebunan Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.
R.P Suyono, Capt. 2005. Seks Dan Kekerasan Pada Zaman Kolonial. Jakarta: Grasindo
Said, Muhammad. 1990. Koeli Kontrak Tempo Doeloe Dengan Derita dan Kemarahannya, Cetakan ke II. Medan: PT. Harian Waspada.
Schuffner W. A. P. dan W. A. Kuenen. 1910. De Gezondheidstoestand van de Arbeiders, Verbonden aan de Senembah-Maatschappij op Sumatra, Gedurende de Jaren 1897 tot 1907. Amsterdam: De Bussy.
Stoler, Ann Laura. 1995. Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera, 1870-1979. Yogyakarta: Karsa
78
C. Artikel, Skripsi, Tesis, dan Surat Kabar
Affandi, Kiki Maulana. 2015. “Sejarah Kesehatan Kuli Kontrak di Perkebunan Senembah Maatschapij 1882-1942”, skripsi S-1, belum diterbitkan, Medan: Universitas Sumatera Utara,
Deli Courant, 17 Maret 1924
Iryana, Wahyu. 2013. Pemberantasan Prostitusi Zaman Belanda [t.t]. [t.p]. Artikel diakses dari https://www.academia.edu.
Yasmis. 2008. “Kuli Kontrak di Perkebunan Tembakau Deli Sumatera Timur 1880 -1915”, Tesis S-2, belum diterbitkan. Jakarta: Universitas Indonesia.
BAB III
BENTUK PELACURAN
3.1 Pelacuran
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, pada awalnya mayoritas pekerja
adalah kuli laki-laki. Hal ini dikarenakan belum diperlukannya tenaga perempuan pada
saat awal pembukaan lahan perkebunan. Penebangan pohon dalam proses pembukaan
hutan dan pencangkulan tanah untuk membuka lahan tentunya membutuhkan tenaga
yang besar sehingga kuli perempuan dirasa belum dibutuhkan. Disamping itu, adanya
larangan bagi kuli untuk membawa istri dan calon kuli yang sudah menikah akan
ditolak.61 Baru lah ketika perempuan dirasa perlu, pihak perkebunan melakukan
perekrutan kuli perempuan (1875) untuk dipekerjakan sebagai seperti mencari ulat
tembakau, menggaru tanah, menyortir, memilah, menggantungkan dan mengikat
daun-daun tembakau. Selain itu, mereka juga sengaja didatangkan untuk memikat para
pekerja laki-laki agar betah atau tetap tinggal di perkebunan setelah masa kontrak
selesai.
Akan tetapi, dibanding dengan kuli laki-laki, jumlah mereka masih lebih
sedikit. Melihat perbandingan yang sangat timpang tersebut, kaum perempuan yang
datang merupakan sumber daya langka dan sering kali menjadi pusat konflik antara
kuli Cina dan Jawa.
61 Kuli perempuan yang didatangkan dari Jawa, memang sengaja didatangkan dalam kondisi
Pembukaan perkebunan di tahun 1869 – 1870an secara besar-besaran oleh
Jacobus Neinhuys bersama C.G. Clemen, hanya berorientasi pada hasil yang harus
besar dan berkualitas baik. Dari pandangan terhadap hasil maksimal yang diinginkan
pihak perkebunan, ternyata menjadi satu latar belakang terjadinya masalah pada kuli.
Kuli yang sebagian besar adalah laki-laki ternyata tidak dapat menyalurkan perasaan
mereka terhadap sesama kuli,62 baik itu masalah pribadi kuli ataupun masalah yang
mendasar semua orang terkait birahi. Dalam kurun waktu satu tahun, kuli laki-laki yang
tidak dapat menyalurkan perasaan tersebut dapat bertahan dan bekerja dengan baik.
Akan tetapi, lama kelamaan merka mulai “jenuh” sehingga terjadi praktik homoseksual
diantara kuli laki-laki terutama pada kuli Cina63. Kuli-kuli Cina tersebut sudah tidak
tertarik pada perempuan lagi dan beralih pada “seks yang tidak alami”. Mereka menjadi
penyuka sesama jenis dan termasuk juga para pengawas (kepala suku dalam satu regu).
Biasanya, para pengawas lah yang memiliki hak pertama atas diri mereka.
62 Ditinjau dari aspek psikologi, manusia itu merupakan makhluk yang sangat memerlukan
hiburan, atas dasar rasa lelah yang dirasa, penat, ataupun kejenuhan dalam berpikir. Hiburan-hiburan yang diinginkan manusia dapat diperoleh dari liburan, musik, dan sebagainya tergantung dari kebutuhan seorang individu tertentu. Dalam kasus kuli ini, jika ditinjau dalam aspek psikologi, akan muncul ego dalam diri laki-laki. Laki-laki cenderung enggan menceritakan masalah yang di alami kesesama lelaki. Hal ini diakibatkan karena perasaan si laki-laki yang cenderung individualis dan merasa lebih hebat dari lelaki lainnya maka kemudian, laki-laki akan cenderung lebih banyak bercerita tentang masalahnya kepada perempuan yang disukainya. Lihat Jan Bremen op. cit., hlm. 205
63 Jika dilihat dari sisi psikologi, orang yang berasal dari Asia, terutama Asia Timur, memiliki
Praktik homoseksual ini terjadi secara terang-terangan dan didepan kuli-kuli
lain.64 Praktik homoseksual ini juga disaksikan oleh kuli-kuli lain yang tinggal dibarak
yang sama dengan kuli tersebut. Tidak jarang terjadi pembunuhan diantara kuli-kuli
Cina tersebut diakibatkan hubungan cinta. Hal ini juga menyebabkan adanya pelacur
laki-laki dikalangan kuli Cina. Pelacur laki-laki ini merupakan orang Cina itu sendiri
dan beberapa orang Jawa yang mereka sebut sebagai anak jawi.65 Pada awalnya pihak
perkebunan tidak mengetahui akan hal ini. Kemudian, ada kuli yang terserang penyakit
dan diketahui dari penyakit yang dialami oleh kuli tersebut bahwa, penyakit tersebut
berasal dari bakteri yang berasal dari kelamin pria.66
Berbeda halnya dengan kuli Jawa. Bagi kuli Jawa berlaku hal yang sebaliknya.
“tidak mungkin bagi mereka untuk bertahan hidup di perkebunan, jika tidak ada
perempuan”67. Setelah mengetahui hal tersebut, pihak perkebunan melakukan
perekrutan kuli perempuan yang dimulai pada tahun 1873.68
Dalam perekrutan kuli perempuan, pihak perkebunan juga mempertimbangkan
keterkaitan pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh kuli perempuan tersebut. Kuli
perempuan memang sengaja direkrut untuk menjadi pelacur69. Selain itu, mereka
64 Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, didalam barak tidak ada pembatas ataupun
kamar-kamar sebagai tempat tidur. Kepuasan yang dirasakan oleh salah seorang kuli pada saat berhubungan seksual, meski terhadap sesama menjadi penarik perhatian kuli-kuli lain. Hal ini lah yang menyebabkan praktik homoseksual meluas dikalangan kuli Cina.
65 Jan Bremen op. cit., hlm. 204 66 Ibid. hlm. 203
67 Capt. R.P. Suyono, Seks dan Kekerasan Pada Zaman Kolonial. Jakarta : Gramedia, 2005.
Hlm 17
68 Meski demikian, kuli Jawa termasuk kuli yang cepat merasa puas. Jan Bremen, op. cit., hlm.
206
hanya dipekerjakan sebagai pengambil hama ulat yang memakan daun tembakau,
pencuci, dan penjemur daun tembakau.
Perekrutan terhadap kuli perempuan dilakukan dengan selektif. Perempuan
yang akan didatangkan ke Deli dipilih dengan syarat-syarat tertentu seperti, perempuan
yang masih muda70, cantik, dan memiliki fisik yang baik. Pihak perkebunan juga tidak
begitu peduli tentang keahlian kuli perempuan tersebut dalam bekerja. Selain hanya
melakukan pekerjaan ringan, mereka memang sengaja akan dipekerjakan sebagai
pelacur.
Mereka ditipu dengan janji akan mendapat gaji yang besar, dan akan bekerja
sebagai pemilih tembakau. Pada kenyataan yang terjadi, memang benar perempuan
tersebut dipekerjakan sebagai pemilih tembakau, akan tetapi dengan penghasilan yang
sangat kecil71. Dengan penghasilan yang kecil tersebut, dan kebutuhan perempuan
yang cukup banyak, terutama pakaian, sabun (peralatan mandi), lulur (perawatan kulit)
70 Muda dalam artian produktif (dapat bekerja). Kebanyakan diantara kuli perempuan yang
direkrut berusia 19-26 tahun. Melihat kembali dalam aspek psikologi, terutama morfologi (bentuk tubuh manusia), pada usia tersebut, seorang wanita biasanya berada pada puncak masa perkembangan bagian tubuhnya. Bagian dada dan bokong masih terasa kencang, kulit belum keriput, dan yang terpenting, pada kasus diatas, adalah pada bagian kelamin wanita yang masih kencang ataupun belum kendur karena tidak perawan lagi. Tidak semua juga kuli perempuan yang direkrut tersebut yang masih muda. Ada beberapa kuli perempuan yang juga direkrut namun teah menikah. Calon kuli perempuan ini yang nantinya akan menjadi gundik (istri simpanan administratur perkebunan). Lihat Tineke Hellwig, op.cit., hlm. 48.
71 Penghasilan yang kecil ini bertujuan agar kuli perempuan tidak dapat kembali ke daerah
asalnya. Hal ini dikarenakan tujuan awal didatangkannya kuli perempuan adalah sebagai pelacur dan pengikat kontrak kuli laki-laki. Upah yang diterima kuli perempuan jauh lebih sedikit dari pada upah yang diterima oleh kuli laki-laki. Upah kuli perempuan hanya sebesar ƒ1.5 sedangkan kuli laki-laki menerima upah sesuai dengan berat yang dikerjakan (rata–rata upah yang diterima sebesar ƒ3 perbulan). Upah tersebut belum termasuk potongan yang dilakukan oleh pihak perkebunan. Kuli harus membiayai sendiri alat berladangnya (termasuk pergantian alat), papan berita di ruang tidur, sampai buku kecil untuk mencatat upah kuli juga ditanggung sendiri oleh kuli. Dan dapat dirata-ratakan pemotongan sekitar
dan ditambah lagi dengan adanya pemotongan upah dari administratur perkebunan,
memaksa kuli perempuan tersebut untuk bekerja lebih. Seringkali seorang kuli
perempuan dipanggil oleh seorang administratur di tengah jam kerjanya untuk
kemudian “memisahkan diri” dari kuli lain dan pergi bersamanya. Mereka tidak secara
terang-terangan dipaksa untuk melacurkan diri. Mereka hanya memiliki sedikit pilihan,
tetap menjadi kuli perkebunan dengan upah yang sangat sedikit, atau menjadi pelacur
dengan penghasilan tambahan.
Biasanya, perekrutan terhadap kuli perempuan dalam satu tahun hanya
sebanyak empat puluh orang. Dari ke empat puluh orang tersebut, semuanya menjadi
pelacur.72 Saat berada dalam perjalanan ke Deli dari Pulau Jawa, para calon kuli
perempuan tersebut disetubuhi di atas kapal terlebih dahulu oleh orang-orang biro
penyedia tenaga kuli yang ditunjuk pihak perkebunan.73 Hal ini bertujuan “melatih”
kuli perempuan tersebut menjadi pelacur sehingga mereka nantinnya terbiasa dengan
pelacuran itu. Mereka tidak dapat menolak atau melarikan diri dari kapal karena kapal
dijaga sangat ketat oleh polisi perkebunan dan perusahaan penyedia tenaga kerja.
Setelah disetubuhi, para perempuan calon kuli tersebut dibiarkan dan diminta untuk
menutupi kejadian tersebut seolah-olah itu tidak pernah terjadi. Sebagai contoh,
72 Perekrutan kuli perempuan memang disengaja dibatasi oleh pihak perkebunan. Terjadi
pembatasan dalam setiap perekrtutan perempuan. Perempuan dalam wilayah perkebunan tidak diperbolehkan berada dalam jumlah yang banyak. Hal ini dikarenakan agar tetap menjaga kontrak kuli laki-laki. Para perempuan yang telah menjadi pelacur, memberikan harga yang dinilai cukup tinggi sehingga kuli laki-laki harus mengutang kepada tandil dan dengan utang tersebut yang nantinya akan menjerat kuli laki-laki tersebut dengan kontrak yang semakin panjang. Sehingga tidak memungkinkan kuli laki-laki tersebut untuk menabung untuk pulang kekampung halamannya.
ditahun 1892 terdapat kasus yaitu dari 38 kuli perempuan yang direkrut ke Deli, ada 1
orang yang tidak menjadi pelacur. Hal ini disebabkan karena perempuan itu dianggap
memiliki penyakit menular saat berada diatas kapal sehingga para petugas pengiriman
kuli dalam kapal takut untuk mendekatinya. Pada saat itu pengetahuan tentang penyakit
masih belum berkembang.74
Tidak jarang terjadi konflik antara kuli Jawa dan kuli Cina yang berujung pada
kematian hanya karena perempuan, misalnya, jika seorang pelacur yang biasa melacur
pada kuli Jawa, kemudian berpindah pada kuli Cina sehingga menimbulkan
kecemburuan pada kuli Jawa dan begitu pula yang terjadi sebaliknya. Hal ini dilakukan
oleh pelacur tersebut untuk memperoleh uang yang lebih banyak. Selain itu, banyak
kuli laki-laki Jawa yang kalah dalam bermain judi, atau gaji yang diperoleh telah
dipakai untuk membeli candu sehingga mereka tidak mampu membayar jasa pelacuran
kuli perempuan tersebut.75
Disamping kuli perempuan Jawa, kuli perempuan Cina juga didatangkan dari
Semenanjung Malaya bersama kuli laki-laki Cina lainnya. Kasus yang serupa juga
dialami oleh kuli perempuan Cina tersebut. Akan tetapi, pelacuran di Deli seolah-olah
memiliki tingkatan-tingkatan tertentu76. Untuk kalangan kuli, maka perempuan yang
menjadi pelacur adalah perempuan dari Jawa, sementara untuk kalangan staff
74 Liesbeth Hesselink, op. cit., hlm. 108 75Ibid., hlm. 196
76 Tingkatan-tingkatan yang dimaksud adalah tempat pelacur yang berbeda antara perempuan
perkebunan, pelacur yang dipergunakan berasal dari kuli perempuan Cina. Perempuan
Cina dinilai lebih cantik dan bersih dibandingkan perempuan Jawa. Selain itu juga oleh
faktor warna kulit, antara yang lebih terang dan yang lebih gelap. Kulit perempuan
Cina yang lebih terang dianggap lebih cantik dan bersih dibandingkan kulit perempuan
Jawa yang lebih gelap. Hal lain adalah, postur dan bentuk tubuh orang Cina dinilai
lebih menggairahkan.77
Pelacuran berlangsung disetiap datangnya hari gajian, baik gajian besar maupun
gajian kecil. Pada hari gajian, selalu diadakan suatu keramaian yang lebih dikenal
dengan sebutan “malam gajian”. Pada saat itu banyak pedagang yang datang ke
perkebunan, dan ada pula pertunjukan kesenian, misalnya ketoprak, wayang orang,
ronggeng, bioskop. Selain pertunjukan kesenian, juga disediakan tempat–tempat
perjudian, Begitu mereka menerima gaji mereka tidak pulang dulu ke barak melainkan
langsung ke tempat keramaian. Bagi buruh yang sudah ketagihan judi mereka langsung
mendatangi arena perjudian untuk mempertaruhkan uang yang baru saja diterimanya.
Pelacuran dapat terjadi pada saat pertunjukan ronggeng. Mungkin untuk tujuan
ini juga lah dalam perekrutan kuli perempuan dipilih yang cantik dan masih muda agar
dapat dijadikan sebagai pelipur lara para kuli laki-laki di perkebunan tersebut. Awalnya
para peronggeng tersebut menarikan tariannya dan pada saat menerima saweran dari
laki-laki, maka selanjutnya praktik pelacuran dapat terjadi. Setelah mendapat saweran
maka penari akan menarik kuli laki-laki yang menari dengannya dengan selendang dan
menjauh dari keramaian. Mereka akan pulang kebarak atau pergi ketempat sepi di
perkebunan. Bayaran sekali melacur seperti ini adalah sebesar ƒ0,5.78
Terhadap aktifitas pelacuran, dikenakan pajak oleh administratur perkebunan
sebesar ƒ1 setiap bulannya. 79 Pemungutan pajak dilakukan karena dalam pandangan
orang Eropa sendiri pekerjaan melacur sebagai sebuah profesi. Tidak jarang terjadi
pelecehan terhadap kuli perempuan didalam barak, diluar waktu pelacuran tersebut.
Hal ini terjadi karena kuli laki-laki yang kalah berjudi tersebut tidak memiliki uang lagi
untuk membayar pelacur.
Pelacuran untuk kalangan administratur, biasanya diadakan di wilayah
gemeente80. Salah satu tempat pelacuran yang terkenal pada waktu itu adalah hotel de
bour.81 Para pelacur untuk kalangan administratur bukan berasal dari penduduk
pribumi, tetapi sengaja didatangkan dari wilayah Asia Timur seperti dari Cina dan
Jepang. Perempuan dari wilayah ini dipilih karena dinilai lebih menggairahkan dan,
pelacur yang menjadi primadona di kalangan administratur adalah yang berasal dari
Jepang.
Pelacur Jepang menjadi primadona di kalangan administratur karena mereka
dianggap jauh lebih sopan82, tidak “berisik”, dan bersih. Tidak berisik yang
78 Ibid.
79 Ibid. hlm 200
80 Gemeente merupakan wilayah otonomi administrasi yang diberikan oleh pemerintah kolonial
pada beberapa kota besar (kota praja).
81 H. J. Bool, op. cit., Hlm. 26
82 Hal ini tentu sesuai dengan budaya Jepang dalam menyambut tamu. Dalam budaya Jepang,
dimaksudkan disini adalah, pada saat berhubungan badan, pelacur Jepang seolah
menikmati dan tidak teriak mendesah berlebih seolah kesakitan. Berhubungan badan
yang seperti ini lah yang sangat di sukai oleh orang-orang Eropa pada waktu itu. Selain
tidak berisik, orang Eropa pada waktu itu juga menilai orang Jepang lebih bersih.
Selain warna kulit, lebih bersih yang dimaksudkan adalah, perempuan Jepang, sebelum
“bekerja” memakai parfum terlebih dahulu. Selain itu, kebiasaan pelacur Jepang adalah
mencukur rambut di sekitar kemaluan sehingga terlihat lebih bersih dan
menggairahkan.83
Berbeda dengan pelacur Jepang, pelacur Cina dianggap lebih rendah
dibandingkan denga pelacur Jepang. Setibanya pelacur-pelacur Cina tersebut, di dada
mereka langsung dikalungkan tulisan berupa nomor urut mereka masing-masing. Para
administratur memilih dari balik kaca jendela yang hitam yang hanya bisa melihat
keluar dari sisi dalam sesuai selera mereka masing-masing. 84
Bayaran bagi ke dua pelacur ini berbeda. Para pelacur Cina mendapat bayaran
lebih murah dibanding pelacur Jepang. Jika pelacur Jepang mendapat bayaran ƒ5, maka
pelacur Cina mendapat bayaran sebesar ƒ3. Tidak ada perbedaan yang terlalu
mencolok, hanya saja pelacur Jepang dikhususkan bekerja sebagai pelacur. Pihak yang
mendatangkan pelacur Jepang juga bukan dari pihak perkebunan, melainkan pihak
hotel lah yang mendatangkan dan menawarkan jasa pelacuran tersebut.85
83 Liesbeth Hesselink,op. cit., hlm. 201-202
84 Pelacur Cina dianggap lebih rendah, karena orang Eropa menganggap mereka sama dengan
kuli laki-laki yang telah memiliki citra buruk sebagai kuli dan penyuka sesama jenis.
Sejak awal tahun 1890-an, telah dikenal adanya penyakit kelamin seperti sipilis.
Dalam papan pengumuman yang ada di barak-barak kuli, dan hotel-hotel penyedia jasa
pelacuran, telah ada pengumuman atau pun poster-poster selebaran berisi himbauan
akan penyakit tersebut. Akan tetapi, himbauan tersebut tidak dihiraukan sehingga
mengakibatkan tingginya penderita sipilis yang terjadi di wilayah perkebunan,
terutama dari kalangan para kuli dan tidak terlepas pula pada kalangan administratur.
3.2 Pergundikan
Kuli perempuan yang direkrut oleh pihak perkebunan maupun penyedia jasa
tenaga kerja, tidak hanya terdiri perempuan yang masih muda dan belum menikah,
beberapa diantara mereka ada juga yang telah menikah. Dari rata-rata empat puluh
orang perempuan yang didatangkan, terdapat lima orang perempuan yang telah
menikah dan bersuami. Mereka didatangkan dengan cara yang sama, yaitu dengan
cara penipuan dengan janji akan memperoleh kehidupan yang lebih layak dan gaji
yang cukup besar kalau bekerja di perkebunan Deli. akibat penipuan ini,
menyebabkan adanya satu keluarga yang mau ikut sehingga terdapat tenaga kerja
anak-anak yang berusia sepuluh sampai empat belas tahun. Untuk kuli perempuan
yang telah menikah ini, mereka terhindar dari perbuatan negatif seperti yang terjadi
pada calon kuli perempuan yang belum menikah di atas kapal.86
Kuli perempuan yang telah menikah tersebut juga mengerjakan hal yang sama
dengan kuli perempuan lainnya dan juga mendapati permasalahan perekonomian
yang sama sehingga memaksa mereka menjadi pelacur. Tekanan ekonomi ini
menyebabkan para suami mereka mengizinkan mereka menjadi pelacur. Bahkan
untuk perempuan yang telah menikah, mendapat bayaran yang lebih besar.87
Larangan untuk menikah yang dikenakan kepada para administratur, memaksa
mereka untuk memakai jasa pelacur ini untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.
Dengan demikian, mereka membiarkan proses pelacuran itu terjadi, dan mengambil
keuntungan darinya, walaupun mereka menolak untuk mengakuinya.88 Dalam
keuntungan lain, kuli perempuan yang telah menikah mereka anggap telah mampu
untuk mengurus sebuah rumah tangga. Sering terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh
administratur Eropa.89 Kuli perempuan tersebut dipaksa untuk berpisah dari suaminya
selama enam tahun dan setelahnya diperbolehkan untuk bertemu kembali. Tidak jarang
terjadi penyerangan-penyerangan terhadap administratur Eropa yang dilakukan oleh
para kuli karena adanya penyalahgunaan kekuasaan administratur terhadap kuli
perempuan yang sudah bersuami orang pribumi tersebut.90
87 Upah pelacur yang telah menikah sebesar ƒ0,8 –ƒ1,5. Hal ini dikarenakan mereka dianggap
lebih profesional dalam berhubungan badan. Pelacuran yang mereka lakukan merupakan bentuk pergundikan atau menjadi istri simpanan administratur. Lihat Tineke Hellwig, op.cit., hlm. 40. Lihat juga Liesbeth Hesselink, op. cit.,. hlm. 199
88 Ibid., hlm 89
89 Menurut salah seorang administratur Eropa, kuli-kuli Jawa merupakan orang yang lugu,
bodoh, namum picik, dan memiliki sifat yang kekanak-kanakan. Sifat ini terlihat melalui jika ada seorang kuli yang lewat melintasi administratur maka dengan sendirinya ia akan menundukkan kepala atau berjalan jongkok. Atau pun, jika seorang kuli melewati rumah administratur, maka ia akan dengan sendirinya membuka topi saat melintas. Sifat ini lah yang dimanfaatkan oleh orang-orang Eropa untuk mengambil alih kekuasaan. Bahasa pengantar yang dipakai adalah bahasa Melayu, namun sering kali diselipkan kata-kata kotor dengan alasan mendisiplinkan kuli agar mau menurut kepada administratur tersebut. Lihat Jan Bremen, op. cit., hlm. 210
90 Penyerangan tersebut dilakukan atas dasar ketidaksenangan atau lebih tepat dikatakan
Para kuli perempuan yang telah menikah tersebut dan masih cantik tersebut,
dipaksa menjadi gundik/nyai oleh administratur bangsa Eropa. Mereka dipekerjakan
sebagai pembantu rumah tangga di rumah para administratur, sekaligus sebagai
pemuas kebutuhan seksual mereka. Di rumah administratur tersebut, biasanya mereka
mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, membersihkan rumah, dan
memasak, sehingga mereka disebut sebagai “housekeeper”91 sebagai kedok terhadap
atasan (pemerintah Hindia-Belanda). Sesungguhnya para gundik/nyai ini juga mereka
anggap sebagai pelacur.
Pergundikan ini penulis kategorikan kedalam bentuk pelacuran dikarenakan,
kondisi yang dialami oleh pelacur hampir sama dengan kondisi yang dialami oleh
gundik. Dalam pergundikan, seorang gundik/nyai juga mendapat bayaran, dan yang
mereka terima lebih besar dari pada pelacur. Bayaran yang diberikan kepada seorang
gundik/nyai sebesar ƒ2. Bayaran diberikan pada setiap gajian kecil di perkebunan.92
Ketika mereka dijadikan gundik/nyai, mereka tidak diperbolehkan untuk hamil.
Jika mereka memiliki anak, biasanya administratur tersebut tidak akan mengakui itu
sebagai anaknya kecuali bila anak tersebut berwajah seperti orang Eropa. Anak yang
lahir tetapi tidak berwajah Eropa, dibiarkan oleh administratur tersebut atau
dipulangkan ke Jawa dengan asuhan yang tidak jelas setelahnya.93 Jika anak tersebut
91 Ann Laura Stoler, op. cit., hlm. 52 92 Ibid., hlm. 54
berwajah mirip dengan orang Eropa, maka anak tersebut akan dipulangkan ke negara
asalnya untuk diasuh oleh keluarga si administratur tersebut.
Sejak awal tahun 1890-an, telah dikenal alat kontrasepsi94. Meski demikian,
ada juga administratur yang tidak mempergunakannya, sehingga mengakibatkan
kehamilan pada gundiknya. Gundik yang telah hamil biasanya akan segera diganti
oleh administratur tersebut. Dalam satu tahun, seorang administratur dapat berganti
gundik sebanyak tujuh belas kali. Selain karena kehamilan, pergantian gundik terjadi
karena adanya kesalahan yang dilakukan oleh gundik tersebut pada saat bekerja.95
Pergundikan tidak hanya terjadi pada kalangan administratur yang belum
menikah, tetapi juga terdapat juga di rumah administratur yang telah menikah, setelah
gundik tersebut mendapat izin dari istri administratur tersebut. Gundik tersebut
bekerja seolah-olah menjadi budak yang mengerjakan segalanya dalam pantauan istri
administratur tersebut, namun tidak dengan melakukan hubungan seksual. Akan
tetapi, beberapa istri administratur mengizinkan suaminya untuk berhubungan seksual
dengan gundiknya. Izin ini diberikan atas dasar fisik mereka sulit beradaptasi dengan
iklim tropis yang panas sehingga menyebabkan tubuh mereka lemah.96
94 Alat kontrasepsi yang dikenal pada waktu itu adalah kondom. Kondom tersebut dibagikan
secara gratis oleh angkatan laut pada saat angkatan laut singgah dipelabuhan diwilayah Belawan. Karena belum berkembangnya pengetahuan tentang obat dari penyakit kelamin atau pun sipilis, maka upaya pencegahan dilakukan dengan membagi kondom gratis. Tetapi jika sudah terkena penyakit kelamin,
maka kondom harus dibeli dengan harga ƒ2 ke angkatan laut itu sendiri. Lihat Liesbeth Hesselink, op. cit.,. hlm. 210.
95 Ibid., hlm. 211
96 Reggie Bay, Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda. Jakarta: Komunitas Bambu, 2010,
Tidak ada gundik dari kalangan perempuan Cina. Perempuan Cina hanya
dijadikan sebagai pelacur di wilayah gementee dan diantara kuli-kuli Cina saja.
Gundik-gundik tersebut semuanya berasal dari kalangan perempuan Jawa. Akan
tetapi, para administratur kelas atas seperti penasihat atau kontrolir perkebunan, lebih
sering memilih gundik dari kalangan perempuan Jepang yang tentunya dengan
bayaran yang lebih tinggi. 97
Selain menjadi gundik, gundik-gundik yang berasal dari suku Jawa dapat
menjadi penengah dalam permasalahan yang terjadi antara administratur dan kuli
perempuan Jawa,98 seperti protes pemotongan upah oleh kuli karena kesalahan yang
dibuat oleh kuli itu sendiri. Atau masalah pembayaran upah pelacuran yang kurang
yang dilakukan oleh seorang administratur. Meski demikian, gundik tersebut harus
tetap membela administratur tersebut karena takut dan demi mendapatkan uang agar
tidak diberhentikan sebagai housekeeper atau pembantu dirumah administratur
tersebut.
Di dalam kalangan militer, pergundikan juga banyak ditemukan. Mereka
disebut dengan nama Sarina yang diangkat menjadi anggota militer golongan pribumi.
Munculnya pergundikan disini dipicu oleh izin yang diberikan pada para serdadu
pribumi yang sudah menikah dan berkeluarga hidup bersama di dalam tangsi. Para
serdadu yang masih lajang kemudian marah dan memprotes kebijakan tersebut.
97 Tineke Hellwig, op.cit., hlm. 53
98
Mereka akhirnya diperbolehkan hidup dalam sebuah pergundikan dengan para tentara
perempuan atau yang disebut moentji.
Pergundikan di dalam tangsi ini berkembang pesat karena kebijakan
pemerintah Belanda yang mengijinkan pergundikan tangsi ini. Pertimbangan mereka,
dengan adanya seorang moentji, kehidupan para tentara kolonial ini menjadi lebih rapi
dan disiplin. Kebiasaan mabuk-mabukan di kalangan tentara dan praktek pelacuran
yang sering membawa penyakit kelamin menjadi berkurang. Oleh karena kebanyakan
tentara berpenghasilan rendah, jadi kemungkinan untuk memelihara gundik dari
warga sipil sangat kecil.
Faktor lain berkembangnya pergundikan tangsi ini adalah para pejabat militer
dengan pangkat tinggi yang lebih suka hidup dengan memelihara gundik daripada
pernikahan. Padahal memiliki harta yang cukup untuk membiayai seorang perempuan
Eropa. Alasannya, hanya sedikit perempuan Eropa yang dianggap sesuai, perempuan
pribumi yang tidak banyak menuntut, dan lebih mudah didapatkan.
Umur para moentji yang ada di dalam tangsi umumnya berusia 12-35 tahun.
Mereka yang sudah berusia lebih dari 35 tahun, akan diabaikan bahkan diusir dari
tangsi dengan sebuah surat pemberhentian. Mereka hidup kembali dalam kemiskinan
dan tanpa kepastian karena tidak memiliki pekerjaan lagi. 99
BAB IV
DAMPAK PELACURAN
4.1 Terhadap Kuli
Pada tahun 1870 sampai dengan 1927, perempuan pribumi dijadikan komoditas
dalam tangan lelaki kulit putih. Pada penjelasan bab sebelumnya, telah dijelaskan
bahwa kuli perempuan merupakan bagian dari umpan yang digunakan untuk memikat
kuli laki-laki ke perkebunan Deli. Secara tidak langsung, mereka dipekerjakan sebagai
pelipur lara para kuli laki-laki dan sebagai pengikat kontrak kuli di sana. Kondisi
seperti ini sengaja diciptakan agar dapat memberikan pelayanan seksual (pelacur)
dalam proses mempertahankan kuli laki-laki tersebut dan berdampak cukup besar di
wilayah perkebunan di Deli.
Dampak pelacuran terhadap kuli sangat jelas terlihat adalah mewabahnya
penyakit sipilis dikalangan kuli. Sejak awal abad ke-19, dampak pelacuran yang terkait
dengan penyakit sipilis sudah mulai dibahas di Pulau Jawa. Akan tetapi, pembahasan
dilakukan melalui ruang lingkup sosial dan politik. Pemerintah kolonial beranggapan
bahwa, penyakit ini merusak dan menggerogoti tatanan sosial dan politik
kekuasaannya, karena penyakit ini banyak menyebar dikalangan militer dan kuli-kuli
perkebunan. Akan tetapi, para pengusaha perkebunan tetap membiarkan proses
Kegiatan prostitusi yang dilakukan oleh kuli perempuan itu lah yang kemudian
menyebabkan tingginya jumlah penderita penyakit sipilis100. Banyak dari kuli para
penderita sipilis yang tidak menyadari jika mereka terkena sipilis dan karena itu mereka
tidak segera melakukan pencegahan terhadapnya. Pada masa itu, penyakit sipilis ini,
juga masih belum banyak diketahui, sehingga mereka beranggapan bahwa ini hanya
penyakit biasa. Hal ini disebabkan karena gejala-gejala yang ditimbulkan oleh penyakit
ini berlangsung cukup panjang. Gejala-gejala yang dialami akan berlangsung 3-4
minggu, atau kadang-kadang sampai 13 minggu. Kemudian akan timbul akan benjolan
seperti bisul di sekitar alat kelamin. Kadang-kadang disertai pusing-pusing dan nyeri
tulang disertai flu, yang akan hilang sendiri tanpa diobati. Setelah itu, akan muncul
bercak kemerahan pada tubuh sekitar 6-12 minggu setelah hubungan seks. Gejala ini
akan hilang dengan sendirinya dan seringkali kuli-kuli tersebut tidak memperhatikan
hal ini. Dalam jangka waktu dua sampai tiga tahun, penyakit sipilis akan menyerang
susunan syaraf otak, pembuluh darah dan jantung yang mengakibatkan kematian.101
Penyebaran penyakit kelamin ini, lebih banyak menyebar dikalangan kuli Cina
dari pada kuli Jawa. Beberapa faktornya adalah :
100Penyakit sipilis merupakan penyakit kelamin yang menular disebabkan oleh satu bakteri
tertentu. Penyakit ini dapat menular melalui hubungan seksual, gesekan antara luka si penderita dengan organ genital pasangannya (meski dalam keadaan normal/tidak terjangkit penyakit tersebut), melalui air liur yang bertukar, luka pada kulit yang saling bersentuhan, tetapi tidak dengan udara pernafasan, keringat, atau pun pakaian. Karena meyerang di bagian kelamin, maka penyakit ini juga dikenal degan
“penyakit kencing”
101 Kiki Maulana Affandi, “Sejarah Kesehatan Kuli Kontrak di Perkebunan Senembah
1. Kuli Jawa melakukan sunat pada organ genitalnya sehingga menyebabkan
organ genital kuli Jawa lebih terjaga kebersihannya.
2. Kebanyakan kuli Jawa menikah dengan satu perempuan. Meski pun, para
suami dari kuli perempuan Jawa tersebut juga memperbolehkan istrinya
untuk menjadi pelacur atau gundik akibat dari kemiskinan yang dialami kuli
tersebut pada waktu itu.102
3. Jika ditinjau dari sisi medis, kuli Cina yang suka meminum arak (minuman
keras khas Cina) juga berdampak pada cepatnya proses penyebaran virus
sipilis ke otak, karena alkohol juga dalam jangka panjang dapat merusak
saraf-saraf yang terdapat pada otak manusia.103
Seorang manajer di Deli Maatscapij mengeluh karena dari 60 orang kuli
perempuan, sebanyak 35 orang dimasukkan ke rumah sakit karena sipilis. Akan tetapi,
data tersebut masih diragukan karena gejala penyakit ini yang tidak terlalu tampak jelas
serta dengan gejala yang panjang, dan mirip dengan gejala penyakit kulit lain yang juga
menyebar di perkebunan pada waktu itu. 104
Atas merebaknya penyakit kelamin ini, banyak bermunculan tuduhan-tuduhan
pada kuli perempuan. Penyakit ini selalu dikaitkan dengan penyakit perempuan105,
sehingga muncul istilah di masyarakat, bahwa penyakit kelamin tersebut adalah
102 Ann Laura Stoler, op. cit., hlm. 51.
103 Gani A Jaelani, Penyakit Kelamin di Jawa 1812 – 1942. Bandung: Syabas Books, 2013, hlm.
40.
104 Ann Laura Stoler, op. cit., hlm. 60
105 Istilah penyakit perempuan ini disebabkan karena stigma yang melekat pada waktu itu adalah
penyakit yang dibawa oleh “perempuan jahat”. Setidaknya, dari tuduhan terhadap
perempuan tersebut, dapat diambil kesimpulan: pertama, bahwa perempuan merupakan
penyebar penyakit, dan kedua, mereka mempraktikkan kegiatan immoral sebagai
pelacur. Tuduhan ini sebenarnya lebih didasarkan pada struktur tubuh dari perempuan
itu sendiri yang tidak pernah tahu jika dirinya telah tertular penyakit tersebut. Pada
bagian dalam kelamin perempuan terdapat satu organ yang disebut dengan lamad106.
Perempuan yang bagian lamad-nya sering mendapatkan gesekan, maka lamad tersebut
akan semakin menebal. Setelah menebalnya lamad tersebut, maka penyakit ini pun
sering tidak diketahui oleh perempuan pelacur tersebut. Oleh karena itu, perempuan
selalu dilihat sebagai gudang kuman bibit penyakit kelamin.
Setelah munculnya peraturan yang mewajibkan pemeriksaan terhadap para
pelacur, dokter pemeriksa mendapatkan sebuah hasil penelitian bahwa penyakit
tersebut sebenarnya menular melalui kelamin laki-laki. Dokter tersebut beranggapan
bahwa lelaki lah yang sebenarnya sebagai penular penyakit ini. Mungkin berawal dari
para tentara yang telah terkena sebelumnya. Ditambah lagi dengan adanya anggapan
pada waktu itu, “jika seseorang tidak menyalurkan birahinya maka ia akan terkena satu
penyakit”. Akan tetapi tidak ada satu dokter pun pada waktu itu yang menyatakan
anggapan tersebut adalah benar.107
Stigma seperti ini muncul karena kegiatan prostitusi yang dilakukan oleh kuli
perempuan dan perempuan juga selalu dipandang rendah di semua wilayah
perkebunan. Bahkan para pengusaha perkebunan sendiri mengklaim bahwa adanya
prostitusi dan penyebaran penyakit kelamin, karena kebobrokan moral perempuan itu
sendiri.
Meski telah muncul stigma buruk di kalangan kuli perempuan tersebut, mereka
tetap merasa bangga terhadap profesinya sebagai pelacur. Dijelaskan bahwa kuli
tersebut menyatakan diri bangga dan tidak malu sama sekali. Bahkan untuk beberapa
kuli perempuan yang telah menikah, mereka lebih menyalahkan kuli laki-laki
(suaminya) yang seharusnya bertanggung jawab atas profesi pelacur yang mereka
jalani. Dilain sisi, kebanggan sebagai pelacur juga karena penghasilan yang diperoleh
dari hasil melacur, dapat membantu kehidupan ekonomi mereka.
Berbeda dengan kuli perempuan, di kalangan kuli laki-laki, penyakit kelamin
merupakan satu simbol kejantanan. Sekelompok laki-laki (satu regu dalam sebuah
perkebunan) akan lebih merasa dihormati kalau sudah tertular penyakit kelamin ini.
Akibatnya banyak laki-laki yang ingin tertular penyakit ini. Bagi para pemuda
misalnya, sering terjadi orang tua (laki-laki) memaksa agar anaknya dapat tertular
penyakit ini, karena anggapan bahwa, jika seorang ayah memiliki anak yang tertular
penyakit kelamin akan dihargai sebagai orang tua yang “jantan”.108
Tidak terlepas pula pada administratur perkebunan, maupun golongan militer
perkebunan. Penyakit kelamin merupakan satu simbol ketangguhan terutama bagi
seorang serdadu militer. Dalam bukunya, Gani A. Jaelani menjelaskan tentang terdapat
satu ungkapan yang cukup populer dikalangan seluruh anggota militer di
Hindia-Belanda pada waktu itu bahwa, “seorang serdadu, tidak akan menjadi serdadu yang
baik jika belum pernah tertular sipilis”. Bahkan penyakit ini merepresentasikan
kedudukan terhormat di kalangan militer (dalam hierarki yang informal).109
Lain halnya menurut pandangan kaum liberalis Eropa. Orang Eropa yang
datang dan mengambil alih pemerintahan di Hindia-Belanda, khususnya para
pengusaha perkebunan, merupakan orang liar (sauvage). Rusaknya moralitas yang
terjadi di perkebunan, terutama citra buruk yang terdapat di Deli, menurut kaum
liberalis Eropa tersebut karena bangsa Eropa yang datang ke Hindia-Belanda
merupakan “orang kulit putih yang telah mengalami degenerasi”. Selain pelacuran
yang mengakibatkan wabah penyakit kelamin yang cukup besar, praktik suap, pegawai
yang korup, dan pergundikan merupakan contoh-contoh dari hilangnya moralitas orang
Eropa di Deli. Selain dikatakan sebagai “bisnisnya para monyet”, perkebunan di Deli
terkenal dengan “rumah sakit dari para penderita ketidakbermoralan”.110 Sebagai
pembelaanya, iklim, makanan, bahasa, dan cara berpakaian dianggap sebagai penyebab
hilangnya moralitas bangsa Eropa di tanah jajahannya. Disamping itu, muncul dari
asumsi bahwa karakter orang pribumi sebagai “orang liar” menular pada orang Eropa.
Penularan “penyakit ini”, terutama terjadi akibat hubungan seks antara kedua jenis ras
tersebut.
109 Ibid., hlm. 136
Selain menyebabkan gangguan biologis (penyakit kelamin), akar permasalahan
sosial dari “degenerasi kulit putih”, praktik seks bebas yang terjadi juga memunculkan
kegelisahan politik. Hal ini kemudian memunculkan pendapat bahwa para lelaki Eropa
tidak hanya tertular penyakit, tetapi juga telah kehilangan martabatnya dan cenderung
menjadi tidak bermoral.111
Kebanggan yang berlebih juga ada pada kuli perempuan yang menjadi gundik
administratur kebun. Selain berpenghasilan, mereka juga merasa bangga karena dapat
dekat dengan administrator yang sebagian besar adalah orang Eropa. Selain itu, mereka
juga mendapat pendidikan tentang bahasa dan kebersihan dari orang-orang Eropa
tersebut. Pelajaran lain yang diberikan adalah berupa tata cara berpakaian yang rapi
dan terlihat berwibawa, kebersihan kulit terutama pada bagian kelamin112. Untuk
menjaga alat kelamin nereka agar tetap bersih, mereka harus mencukur rambut yang
tumbuh pada bagian organ genital itu. Mereka juga diajarkan untuk mencukur rambut
pada ketiak.113
Dampak lain dari eksploitasi terselubung yang dilakukan oleh pengusaha
perkebunan terhadap para kuli perempuan tersebut, adalah lahirnya anak-anak diluar
nikah. Dalam kasus pergundikan, selain hanya dianggap sebagai objek seksualnya, para
nyai/gundik ini juga tidak memiliki hak karena mereka tidak dapat menuntut apapun
111 Liesbeth Hesselink, op. cit., hlm. 200
112 Pembelajaran yang dimaksudkan dalam pembersihan organ genital, agar setelah gundik
tersebut pindah dari satu laki-laki administratur ke administratur lainnya, ia tetap mampu melayani dan dapat menjadikan satu kebanggaan pada administratur sebelumnya bahwa ia memakai salah seorang kuli yang bersih.
dari tuannya. Jika suatu saat tuannya kembali ke Eropa untuk cuti ataupun menetap
disana dan menikah dengan perempuan Eropa, sang nyai harus ikt serta tanpa boleh
membawa anaknya yang lahir dari hubungan pergundikan tersebut. Gundik itu
terkadang bisa dijadikan barang lelangan oleh tuannya. Gundik tersebut akan dilelang
kepada teman dan kenalan sang tuan untuk kemudian dijadikan gundiknya.
Anak yang lahir diluar nikah dari pergundikan, hanya menjadi tanggung jawab
si perempuan. Tidak jarang anak yang terlahir seperti ini, ketika berusia 10 tahun akan
dijual oleh ibu mereka kepada pengusaha perkebunan untuk dijadikan kuli jika anak
tersebut laki-laki, dan dijadikan gundik jika anak tersebut perempuan.114
Masa pelacuran dan pergundikan seorang perempuan di perkebunan akan
berakhir setelah ia berusia 45 tahun. Perempuan yang telah berusia 45 tahun115 kurang
diminati oleh para kuli ataupun para administratur. Pada saat itu lah, mereka akan
menikah dengan seorang kuli laki-laki yang juga telah berusia tua. Mereka tetap
bekerja pada pengusaha perkebunan tapi, hanya bekerja sebagai pemanen, penjemur,
atau sebagai pengutip ulat-ulat hama dari daun tembakau.
4.2 Terhadap Kebijakan Pemerintah Hindia-Belanda
Banyak terjadi perdebatan antara dua kelompok yang bertentangan di Deli.
Kelompok yang bertentangan tersebut adalah kelompok pemilik atau pendukung usaha
perkebunan dengan kelompok liberal dari pemerintah Hindia-Belanda. Perdebatan
yang terjadi terkait kebijakan yang dibuat oleh pihak perkebunan dengan citra buruk
yang didapat pemerintah Hindia-Belanda di Deli. Pihak perkebunan mendukung dan
membiarkan praktik pelacuran terjadi di wilayah perkebunan Deli. Sementara itu,
kelompok liberalis pemerintahan melarang116 praktik pelacuran tersebut. Penyakit
kelamin yang terjadi akibat pelacuran tersebut telah dianggap sebagai satu kejahatan
besar dan harus segera dihentikan. Akan tetapi, para pihak yang mendukung praktik
pelacuran, pelacuran harus tetap ada tanpa memperdulikan dampak yang terjadi akibat
praktik pelacuran tersebut. Hal ini karena penyakit tersebut dianggap sebagai tanggung
jawab dari masing-masing kuli itu sebagai akibat dari buruknya moral kuli perempuan
yang menjadi pelacur tersebut.
Hasil dari perdebatan itu maka, pada tahun 1880 dibentuk lah Komisi
Pengorganisasian Pelayanan Kesehatan Masyarakat117 dan dikeluarkan lah peraturan
tentang pengendalian pelacuran yang diberikan kepada kuli-kuli di wilayah perkebunan
Deli. Peraturan tersebut mengharuskan kepada perempuan yang ingin menjadi pelacur
agar mendaftarkan diri terlebih dahulu ke kepolisian, dan melakukan pemeriksaan rutin
ke dokter setiap satu kali dalam seminggu. Akan tetapi, penerapan terhadap peraturan
pengendalian pelacuran tersebut tidak membuahkan hasil. Jika seorang kuli perempuan
sudah mulai terlihat tanda bahwa ia terkena penyakit kelamin, maka ia harus berada
116 Pelarangan praktik pelacuran tersebut terkait dengan berkembangnya paham liberal di
negara induk (Belanda-Eropa) tentang proses “memanusiakan manusia” (memberikan hak-hak yang benar kepada orang lain / HAM). Bahkan salah seorang dari pemerintah Hindia-Belanda (HJ Bool) menyatakan bahwa perusahaan perkebunan di Deli merupakan bisnisnya para monyet. Lihat H. J. Bool, op. cit., hlm. 36
117 Komisi ini berisi para dokter yang telah belajar dan bekerja sama dengan perkebunan
dalam perawatan dokter hingga sembuh. Akan tetapi, kuli tersebut tidak mampu
membayar uang perobatan dan pada akhirnya dokter tetap memperbolehkan ia bekerja.
Kondisi ekonomi kuli ini lah yang mengakibatkan peraturan yang dikeluarkan oleh
pengusaha perkebunan tersebut tidak berjalan.118
Tidak berjalannya peraturan tersebut, menyebabkan semakin pula banyaknya
tersebar penyakit kelamin diantara kuli-kuli perkebunan tersebut. Kemudian peraturan
diperbaharui dengan berusaha mengintensifkan pemeriksaan berkala yang harus
dilakukan oleh kuli tersebut. Peraturan kembali diperbaharui dengan adanya usulan
dari pemerintah Hindia-Belanda terkait penghapusan hukuman terhadap pelacur dan
pengurangan pajak melacur. Akan tetapi, para pengusaha perkebunan tidak meyepakati
hal itu karena beranggapan bahwa yang memilih profesi sebagai pelacur itu adalah kuli
perempuan itu sendiri.119
Pada kenyataannya, para pengusaha perkebunan menjalankan apa yang telah
diusulkan oleh pemerintah tersebut. Pada kenyataannya, pemeriksaan ke dokter yang
dilakukan oleh para kuli hanya dianggap sebagai lelucon belaka. Ditambah lagi,
pengetahuan tentang penyakit ini masih belum berkembang dan dokter yang terdapat
pada wilayah Deli juga jumlahnya masih sedikit. Ini berdampak pada pemeriksaan
terhadap yang pelacur semakin tidak terkendali dan penyakit kelamin menjadi satu
fenomena besar di perkebunan hingga awal abad ke-20.120
118 Liesbeth Hesselink, Prostitutuin: A Necessary Evil, . . . op. cit., hlm. 192 119 Ibid, hlm 194
Satu kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda adalah
kurangnya perhatian setelah dikeluarkannya peraturan yang menyangkut pelacuran itu.
Pemerintah seolah-olah tidak peduli dan menganggap masalalah tersebut telah
terselesaikan setelah dikeluarkannya peraturan tersebut sehingga, banyak pelacur yang
tidak memeriksakan dirinya kedokter lagi.
Pada tahun 1905, karena sedikitnya laporan tentang penyakit sipilis dari Komisi
Pengorganisasian Pelayanan Kesehatan Masyarakat maka, pemerintah menganggap
bahwa penanganan penyakit sipilis telah selesai, sehingga pada tahun 1911 peraturan
tersebut dihapuskan. Untuk pelacur yang sebelumnya telah terkena penyakit sipilis,
mereka akan direhabiitasi ke daerah Tanjung Pinang, dan Banjaran. Akan tetapi,,
dikarenakan pengetahuan yang masih minim, sebagian besar dari pelacur tersebut tidak
dapat diobati dan menemui ajalnya disana.121
Keadaan seperti yang telah digambarkan diatas, berdampak pada munculnya
rumah-rumah bordil di wilayah geemente, rumah-rumah mesum diwilayah
perkebunan, dan lahirnya praktik germo.122 Munculnya rumah bordil dan praktik
germo ini mendapat respon yang cukup baik oleh pemerintah Hindia-Belanda. Rumah
bordil dan germo akhirnya menjadi legal (resmi) di wilayah Sumatera Timur. Cara ini
memberikan keuntungan tersendiri bagi pemerintah Hindia-Belanda. Mereka
mendapat keuntungan berupa pajak dari praktik pelacuran tersebut. Untuk lebih
menertibkan rumah bordil dan germo tersebut, pemerintah memunculkan peraturan
untuk menerbitkan selebaran seperti sertifikat kepada pelacur-pelacur di rumah bordil
dan germo-germo tersebut, sehingga dapat mengurangi pelacur-pelacur yang tidak sah
dari wilayah perkebunan Deli.123
Para pelacur yang bekerja di barak kuli, juga diorganisir oleh seorang germo.
Germo ini adalah para mandor besar dari suku Jawa yang berperan juga sebagai
pemimpin dari sebuah kelompok penari ronggeng. Setiap akan melakukan praktik
pelacuran, perempuan penari ronggeng meminta izin terlebih dahulu kepada
pemimpinya. Bayaran yang diterima akan dibagi sesuai dengan kesepakatan antara satu
kelompok perempuan penari ronggeng (pelacur) dan pemimpinnya.124
Peraturan yang telah dikeluarkan ini, seolah tidak berlaku untuk para gundik.
Hal ini karena para administratur kebun berkedok bahwa para gundik tersebut hanya
lah pembantu rumah tangga mereka. Selain itu, jarang sekali ada laporan penyakit
sipilis di kalangan perempuan gundik tersebut.
123 Ibid, hlm. 61
BAB V
UPAYA PENANGANAN PELACURAN DAN PENYAKIT KELAMIN
5.1 Penanganan Pelacuran
Seperti yang telah dijelaskan pada bab terdahulu, masalah pelacuran mulai
mendapat penanganan serius sejak munculnya citra buruk terhadap perkebunan di
wilayah Deli pada tahun 1875. Akan tetapi, upaya tersebut masih gagal meski telah
dibuat suatu peraturan dan lembaga masyarakat yang mewajibkan kepada perempuan
untuk mendaftar kepada pihak kepolisian setempat. Pada tahun 1905, dikarenakan
sedikitnya laporan tentang penyakit sipilis kepada Komisi Pengorganisasian Pelayanan
Kesehatan Masyarakat, maka pemerintah Hindia-Belanda menyatakan bahwa
penanganan sipilis telah usai dan menghapuskan tersebut. Keadaan ini mengakibatkan
menjamurnya rumah bordil dan germo-germo.
Pada tahun 1919, Inspektur Deputi Pencegahan Penjualan Wanita dan Anak125
datang mengunjungi wilayah perkebunan di Deli. Pada saat kedatangannya ke Medan,
mereka terkejut ketika menemukan banyaknya rumah-rumah bordil, dan bahkan
mereka menemukan wanita-wanita bukan pribumi yang berasal dari wilayah Asia
Timur (Cina dan Jepang). Atas dasar kecurigaan ini, maka Inspektur Deputi
125
Pencegahan Penjualan Wanita dan Anak tersebut memutuskan untuk melakukan
investigasi di wilayah perkebunan Deli.126
Pemeriksaan dilakukan terhadap instansi pemerintahan, rumah-rumah bordil,
para germo, dan juga kepada para pelacur. Dari hasil investigasi tersebut, ditemukan
bahwa masih banyaknya penderita sipilis dan anak-anak yang menjadi pelacur. Sangat
berbeda jauh dengan laporan pemerintah Hindia-Belanda (yang telah dijelaskankan
sebelumnya) dengan kenyataan yang ada di lapangan. Inspektur Deputi Pencegahan
Penjualan Wanita dan Anak tersebut kemudian mendesak pemerintah Hindia-Belanda
segera melakukan penanganan terhadap pelacuran tersebut. Mereka menuntut kepada
pemerintah agar dapat membuat satu peraturan untuk mengendalikan pelacuran agar
pelacuran tersebut berjalan sesuai dengan peraturan yang ada.127
Peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia-belanda pada
waktu itu hanya berupa peraturan untuk dilakukannya legalisasi terhadap pelacur
bukan untuk penghapusan/pengurangan pelacuran. Peraturan ini setidaknya juga
memberikan dua keuntungan bagi pemerintah.
1. Kembali dengan diberlakukannya pelaporan oleh para pelacur, maka secara
tidak langsung, itu akan memberikan dampak pada penanganan penyakit
kelamin.
2. Pemerintah Hindia-Belanda dapat diuntungkan dari sisi pekerja laki-laki
karena dapat memberikan jaminan kepada para pekerja (kuli/administratur)
laki-laki tersebut dalam melampiaskan kebutuhan seksualnya.128
Upaya-upaya pengendalian pelacuran seperti tersebut diatas, dilakukan dengan
melakukan sensus dan pendataan terhadap para pekerja rumah bordil serta germo.
Pemimpin rumah bordil kembali diwajibkan agar melaporkan para pekerjanya kepada
pihak kepolisian dalam jangka waktu sebulan sekali. Pelaporan ini bertujuan agar
pemerintah selalu mendapatkan informasi dan dapat melakukan kontrol secara penuh
terhadap rumah bordil ataupun germo tersebut. Selain itu, pemerintah Hindia-Belanda
juga megeluarkan aturan terkait kelayakan rumah bordil, terutama dalam hal
kebersihan. Rumah bordil harus menyediakan air dan kamar mandi yang cukup,
pekerja tidak boleh terlalu banyak, dan harus menjual alat kontrasepsi ataupun
obat-obatan pencegah penyakit kelamin.129
Dengan adanya legalisasi seperti ini, harapannya pemerintah Hindia-Belanda
berharap dapat melakukan pengendalian terhadap pelacur-pelacur yang ada di wilayah
perkebunan Deli. Pada kenyataannya, peraturan ini seolah untuk menjaga orang-orang
Eropa saja, terutama pada para tentara. Peraturan hanya terlihat tegas diwilayah
gementee, namun tidak pada wilayah perkebunan.130 Tidak diketahui pasti, namun
menurut interpretasi penulis, hal ini dilakukan semata-mata karena adanya pengawasan
dari Inspektur Deputi Pencegahan Penjualan Wanita dan Anak tersebut, dan para
germo yang bekerja di wilayah perkebunan juga tidak banyak, karena telah dikuasai
oleh mandor-mandor besar suku Jawa.
Selain mengeluarkan peraturan terhadap rumah bordil dan germo, pada tahun
1919, pemerintah Hindia-Belanda juga mengeluarkan peraturan terhadap orang Eropa
yang akan bekerja diperkebunan. Peraturan yang dibuat pada masa itu ialah keputusan
mengenai pencabutan peraturan larangan menikah terhadap orang Eropa yang akan
bekerja di perkebunan Deli. Para administratur Eropa yang sebelumnya telah terkena
penyakit kelamin, akan dikembalikan ke Eropa dan digantikan dengan tenaga baru
yang telah menikah. Berdasarkan keputusan ini, jumlah gundik banyak berkurang sejak
tahun 1919.131
Berkurangnya pergundikan tersebut, tidak serta merta mengurangi praktik
pelacuran. Bahkan sebaliknya, para gundik yang tidak bekerja lagi beralih menjadi
pelacur, sementara itu, gundik yang telah memasuki usia tuanya akan kembali bekerja
di perkebunan. Pada masa ini, pihak perkebunan kembali memberikan syarat kepada
perempuan tersebut agar menikah sebelum bekerja, untuk mencegah pelacuran ilegal
yang dilakukan oleh perempuan tersebut terhadap kuli laki-laki lain nantinya.132
Pada awalnya, pemerintah Hindia-Belanda melakukan kontrol terhadap
pelacuran tersebut melalui pusat pemerintahan di Batavia. Akan tetapi, pada tahun
1922, upaya pengendalian pelacuran belum berjalan lancar karena masih banyaknya
ditemukan pelacur-pelacur dan rumah bordil yang tidak memenuhi standar sesuai
dengan yang ditetapkan pemerintah. Kemudian pemerintah Hindia-Belanda
mengeluarkan peraturan mengenai hak otonomi terhadap pengendalian pelacuran pada
setiap wilayah residen masing-masing. Harapan pemerintahan Kolonial Belanda adalah
adanya tanggung jawab lebih besar terhadap pengawasan tempat prostitusi tersebut.133
Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, menurut kaum liberalis yang
berasal dari Eropa, pemerintah Hindia-Belanda pada waktu itu merupakan orang-orang
degenerasi bangsa Eropa, terlihat pada adanya suap-suap yang dilakukan oleh
pengusaha rumah bordil dan germo pada pemerintah Hindia-Belanda. Suap dilakukan
untuk menghindari penyelidikan pemerintah terhadap pelacur yang bekerja untuk
rumah bordilnya. Dalam upaya penanganan penyakit kelamin, perempuan yang telah
terkena penyakit ini akan diisolasi ke suatu daerah, dan biasanya tidak akan bekerja
sebagai pelacur lagi. Dengan melihat hal ini, maka upaya suap dilakukan agar
pendapatan dari pengusaha rumah bordil tersebut tidak berkurang.134 Sehingga sampai
tahun 1930, pelacuran tidak dapat ditangani dengan baik.
Aktivitas pelacuran banyak terhenti dikarenakan tutupnya
pengusaha-pengusaha perkebunan sebagai dampak dari depresi ekonomi pada tahun 1930. Tidak
ada data pasti mengenai berhentinya proses pelacuran pada waktu itu. Akan tetapi, satu
hal yang pasti, banyaknya perkebunan yang tutup, menjadikan banyaknya
pengangguran yang terjadi di Deli khususnya pada kuli Jawa (laki-laki dan
perempuan).135
5.2 Penanganan Penyakit Kelamin
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, upaya penanganan penyakit kelamin
mulai diintensifkan sejak dikeluarkannya peraturan yang berisi bahwa setiap rumah
bordil (yang telah dilegalkan) harus memiliki fasilitas berupa air dan kamar mandi yang
memadai, serta menjual alat kontrasepsi dan obat penyakit kelamin.
Sebelum adanya usaha pencegahan dari pemerintah pada waktu itu, maka upaya
pencegahan dari penyakit kelamin dilakukan secara tradisional oleh perempuan itu
sendiri. Caranya adalah dengan membasuh organ vitalnya dengan menggunakan air
sirih yang dicampur dengan kapur136. Air sirih direndam sampai airnya berubah
menjadi kemerahan, kemudian dicampur dengan kapur sirih yang juga telah
dilumatkan sebelumnya. Cara yang mereka pakai ini hanya berdasarkan pengetahuan
yang didapat secara turun-temurun. Tidak ada upaya penanganan lain yang mereka
lakukan selain dengan menggunakan air sirih tersebut.137
Sebenarnya pada tahun 1871, telah didatangkan dr. H. Sanders dokter Eropa
pertama asal Inggris ke perkebunan Deli Maatschappij. Awalnya upaya penanganan
135 T. Keizerina Devi, op. cit., hlm. 308.
136 Kapur yang dimaksud adalah kapur yang biasa digunakan untuk memakan sirih, bukan
kapur tulis atau pun kapur barus.
ini lebih didasari oleh kepentingan ekonomis138, dan karena desakan-desakan dari
kelompok liberalis yang ada dalam pemerintah Hindia-Belanda. Pada tahun yang sama
juga, sebuah tempat perawatan kuli yang sakit dibangun di Medan yang menjadi cikal
bakal Rumah Sakit Pusat Perkebunan Deli Maatschappij (yang sekarang dikenal
dengan Rumah Sakit Tembakau Deli).139 Akan tetapi, karena pengetahuan tentang
penyakit kelamin masih rendah, maka penanganan penyakit kelamin tidak
membuahkan hasil sama sekali.
Kamudian setelah dibentuknya Komisi Pengorganisasian Pelayanan Kesehatan
Masyarakat pada 1880, masyarakat banyak diberi penyuluhan-penyuluhan tentang
penyakit kelamin. Seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, penyuluhan
dilakukan hanya lewat selebaran yang ditempatkan pada barak-barak kuli,
rumah-rumah bordil, dan di hotel-hotel tempat adanya pelacuran. Akan tetapi, karena adanya
paradigma kaum lelaki pada waktu itu bahwa belum menjadi laki-laki seutuhnya jika
belum terkena penyakit kelamin, maka penyuluhan yang dilakukan oleh komisi
tersebut juga gagal.
Melihat kemajuan penanganan kesehatan yang dilakukan oleh perkebunan
Senembah, Deli Maatschappij mulai belajar banyak dari sana. Rumah sakit yang ada
di wilayah perkebunan Deli kemudian diintegrasikan dengan Rumah Sakit Pusat
Tanjung Morawa. Dimulai dengan adanya tempat untuk merawat kuli yang sakit yang
138 Kepentingan ekeonomis yang dimaksud adalah untuk penghematan biaya pendatangan
kuli.
disebut poliklinik. Tempat perawatan tersebut bersifat sementara dan bentuknya
sederhana. Rumah Sakit Pusat Tanjung Morawa dibangun untuk mengakomodir
tempat-tempat perawatan kuli di setiap perkebunan yang ada. Fasilitas kesehatan di
rumah sakit selalu diperbaharui dan ditambah. Pada tahun 1902 rumah sakit ini
dilengkapi dengan teknologi X-Ray, dan tahun 1921 ditambah lagi satu unit. Setiap satu
sampai dua pekan sekali dokter kepala rumah sakit pusat datang ke tempat ini dan
melakukan pemeriksaan terhadap para kuli.140
Rumah sakit terdiri dari beberapa ruangan dan bagian, yaitu ruang kerja, ruang
laboratorium ronsen x-ray, ruang apotik, ruang persediaan obat, ruang mesin, ruang
operasi, ruang sterilisasi, ruang tunggu, kamar mandi dan w.c., ruang konsultasi,
sumur, menara air, ruang kuli perempuan, ruang kuli jawa, ruang pegawai, dapur, dan
ruang isolasi penyakit yang terdiri dari penyakit malaria, beri-beri, penyakit sipilis,
dysentri, typhus dan kolera.141
Rumah Sakit Pusat Tanjung Morawa dapat menampung hingga 300 pasien.
Gedung di rumah sakit terbagi menjadi 6 gedung utama. Gedung I berfungsi sebagai
ruang perawatan pasien. Ruang perawatan pasien dipisah antara kuli Cina, kuli Jawa
dan kuli perempuan. Setiap ruangan biasanya dijaga oleh tiga orang pegawai. Gedung
II adalah gedung untuk menampung pasien yang menderita penyakit dalam. Gedung
III berfungsi untuk ruangan bedah pasien. Gedung IV terdiri dari ruang isolasi untuk
140 Kiki Maulana Affandi, op. cit., hlm. 80
141 W. A. P. Schuffner dan W. A. Kuenen, De Gezondheidstoestand van de Arbeiders,
penyakit malaria dan beri-beri. Gedung V juga terdiri dari ruang isolasi untuk penyakit
dysentry, typhus, dan kolera serta penyakit pencernaan lainnya. Terakhir adalah gedung
VI berfungsi sebagai ruangan diagnosa awal dan juga ruangan untuk penderita penyakit
kelamin.142
Seiring makin meluasnya wilayah perkebunan, maka pada tahun 1921
Perkebunan Senembah Maatschappij melakukan beberapa kebijakan mengenai
perawatan kesehatan. Kebijakan tersebut yaitu kebun-kebun yang letaknya jauh dari
Rumah Sakit Pusat Tanjung Morawa harus melakukan perawatan kuli kontrak pada
rumah sakit pusat di perkebunan lain yang letaknya berdekatan. Perkebunan Simpang
Empat, Titian Urat, Ramunia dan Melati melakukan perawatan kesehatan kuli kontrak
di Rumah Sakit Perbaungan. Perkebunan Pagar Merbau, Lubuk Pakam dan Kuala
Namu berafiliasi dengan Rumah Sakit Petumbukan milik Yayasan Serdang Doktor
Fonds. Perkebunan Selayang, Wampu, Two Rivers dan Tanjung Garbus merawat kuli
yang sakit di Rumah Sakit Sei Sikambing sampai tahun 1922 karena rumah sakit
tersebut ditutup sehingga Perkebunan Selayang dan Wampu dialihkan di Rumah Sakit
Bangkatan di Binjai milik Perkebunan Deli Maatschappij. Sementara itu, Perkebunan
Two Rivers dan Tanjung Garbus dialihkan ke Rumah Sakit Pusat Tanjung Morawa.143
Pada tahun 1903 sebuah laboratorium pusat patologi penyakit tropis dibangun
di Medan. Laboratorium ini dibangun atas prakarsa administratur utama Perkebunan
Deli Maatschappij, J. W. van Vollenhoven dan direktur utama Perkebunan Senembah
142 Ibid., hal. 48 dan 56.
Maatschappij, C. W. Janssen. Pembangunan laboratorium tersebut terjadi juga berkat
kerjasama tiga perusahaan perkebunan besar di Sumatera Timur, perusahaan tersebut
adalah Perkebunan Deli Maatschappij, Perkebunan Senembah Maatschappij, dan
Perkebunan Medan Tabak Maatschappij. 144
Lembaga laboratorium ini merupakan tempat untuk meneliti dan mendiagnosa
penyakit-penyakit tropis dan penyakit kelamin di berbagai perkebunan di Sumatera
Timur. Penelitian yang dilakukan adalah pembuatan serum dan vaksinasi serta
obat-obatan. Selain itu juga dilakukan penelitian mengenai penyebab suatu penyakit,
hubungan antara gejala dan lingkungan dengan merebaknya wabah penyakit di suatu
wilayah.145
Sejak 1909, selain 3 perusahaan perkebunan yang menjadi inisiator lembaga
ini, banyak perusahaan dan berbagai rumah sakit lain yang menjadi anggotanya. Pada
tahun 1921 anggota lembaga laboratorium patologi penyakit tropis berjumlah 45 yang
dapat dilihat dalam tabel berikut. Deli (Sumatra’s Oostkust) over de Jaren 1907-1921, ANRI.
1917 Central Hospital Bindjei
Soengei Rampah Rubber & Cocoanut Pl. Cy.
Sumatra Para Rubber Plant Cy. Laboratorium Medan-Deli (Sumatra’s Oostkust) over de Jaren 1907-1921, ANRI.
Pada tahun 1918 pemerintah Hindia Belanda membuat kebijakan untuk
memberikan biaya operasional pada lembaga ini sebesar f 500 per bulan.146 Setelah itu
setiap tahun anggaran ini mengalami peningkatan yang disalurkan melalui lembaga
kesehatan milik pemerintah yaitu B.G.D.147 Selain itu Pembiayaan lembaga ini juga
berdasarkan iuran yang dilakukan oleh setiap anggota. Iuran dibayar berdasarkan