terhadap Laju Inflasi di Indonesia (Y)
i. Ho : β1
Hi : β
= 0 (tidak ada pengaruh)
1 ii. α = 0,05 dengan df = 4 ≠ 0 (ada pengaruh) iii. thitung ) (β Se β 3 3 = = -1,690
iv. level of significani = 0,05/2 (0,025) berarti ttabel
v. pengujian
sebesar 2,228
Gambar 14
Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Pengeluaran Pemerintah (X3) terhadap Laju Inflasi di Indonesia (Y)
Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho -1,690 2,228 - 2,228
Sumber
Berdasarkan pehitungan diperoleh t : Lampiran 4
hitung sebesar -1,690 < ttabel sebesar - 2,228 maka Ho diterima dan Hi ditolak, pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Pengeluaran Pemerintah (X2) tidak berpengaruh secara nyata terhadap Laju Inflasi di Indonesia (Y). Hal ini didukung juga dengan nilai signifikansi dari Pengeluaran Pemerintah (X2) sebesar 0,122 yang lebih besar dari 0,05.
Nilai r2 parsial untuk variabel Pengeluaran Pemerintah sebesar 0,221 yang artinya Pengeluaran Pemerintah (X3
c) Pengaruh secara parsial antara Tingkat Suku Bunga SBI (X ) secara parsial mampu menjelaskan variabel terikat Laju Inflasi di Indonesia (Y) sebesar 21,1 %, sedangkan sisanya 78,9 % dijelaskan oleh variabel lain.
3
Langkah-langkah pengujian :
) terhadap Laju Inflasi di Indonesia (Y)
vi. Ho : β1
Hi : β
= 0 (tidak ada pengaruh)
1 vii.α = 0,05 dengan df = 4 ≠ 0 (ada pengaruh) viii. thitung ) (β Se β 3 3 = = 12,117
ix. level of significani = 0,05/2 (0,025) berarti ttabel
x. pengujian
Gambar 15
Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Tingkat Suku Bunga SBI (X3) terhadap Laju Inflasi di Indonesia (Y)
Sumber : Lampiran 4
Berdasarkan perhitungan diperoleh thitung sebesar 12,117 > ttabel sebesar 2,228 maka Ho ditolak dan Hi diterima, pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Tingkat Suku Bunga SBI (X3) berpengaruh secara nyata terhadap Laju Inflasi di Indonesia (Y). Hal ini didukung juga dengan nilai signifikansi dari Tingkat Suku Bunga SBI (X3) sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05.
Nilai r2 parsial untuk variabel Tingkat Suku Bunga SBI sebesar 0,937 yang artinya Tingkat Suku Bunga SBI (X3) secara parsial mampu menjelaskan variabel terikat Laju Inflasi di Indonesia (Y) sebesar 93,7 %, sedangkan sisanya 6,3 % dijelaskan oleh variabel lain.
Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho 12,117 2,228 - 2,228
d) Pengaruh secara parsial antara Kurs Valuta Asing (X4
Langkah-langkah pengujian :
) terhadap Laju Inflasi di Indonesia (Y)
xi. Ho : β1
Hi : β
= 0 (tidak ada pengaruh)
1 xii.α = 0,05 dengan df = 4 ≠ 0 (ada pengaruh) xiii. thitung ) (β Se β 3 3 = = -0,079
xiv.level of significani = 0,05/2 (0,025) berarti ttabel
xv.pengujian
sebesar 2,228
Gambar 16
Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Kurs Valuta Asing (X5) terhadap Laju Inflasi di Indonesia (Y)
Sumber : Lampiran 4
Berdasarkan perhitungan diperoleh thitung sebesar -0,079 < ttabel sebesar 2,228 maka Ho diterima dan Hi ditolak,
pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Kurs Valuta Asing (X4) tidak berpengaruh secara nyata terhadap Laju Inflasi di Indonesia (Y). Hal ini didukung juga dengan nilai signifikansi dari Kurs Valuta Asing (X4) sebesar 0,939 yang lebih besar dari 0,05.
Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho -0,079 2,228 - 2,228
Nilai r2 parsial untuk variabel Kurs Valuta Asing sebesar 0,0006 yang artinya Kurs Valuta Asing (X3) secara parsial mampu menjelaskan variabel terikat Laju Inflasi di Indonesia (Y) sebesar 0,06 %, sedangkan sisanya 99,94 % dijelaskan oleh variabel lain.
4.4. Pembahasan
Dengan melihat hasil regresi yang didapat maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk Laju Inflasi di Indonesia :
Secara Simultan Tingkat Jumlah Uang Beredar (X1), Pengeluaran Pemerintah (X2), Tingkat Suku Bunga SBI (X3) dan Kurs Valuta Asing (X4) berpengaruh secara signifikan (nyata) terhadap Laju Inflasi di Indonesia (Y)
Jumlah Uang Beredar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Laju Inflasi di Indonesia, dapat diartikan bahwa Jumlah Uang Beredar tidak boleh terlalu berlebihan atau kurang. Kontrol Jumlah Uang Beredar perlu dilakukan untuk menciptakan iklim yang baik bagi stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi, serta kontrol bagi kegiatan kredit. Kontribusi kebijakan moneter terhadap stabilitas harga sangat penting artinya untuk menekan tingkat inflasi. Jika jumlah uang beredar yang ada mengalami peningkatan maka akan berakibat pada peningkatan pada permintaan dan penawaran barang karena tingkat inflasi yang rendah.
Pengeluaran Pemerintah tidak berpengaruh signifikan (nyata) terhadap Laju Inflasi di Indonesia, hal ini disebabkan karena tingginya pengeluaran pemerintah menyebabkan investasi turun, ini menyebabkan meningkatnya jumlah penawaran akan barang yang diakibatkan dengan turunnya tingkat inflasi di Indonesia.
Tingkat Suku Bunga SBI berpengaruh signifikan (nyata) terhadap Laju Inflasi di Indonesia, dapat diartikan bahwa tingginya tingkat suku bunga menyebabkan tingginya masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank sehingga akan mengurangi jumlah uang beredar yang ada sehingga laju inflasi mengalami penurunan.
Variabel Tingkat Suku Bunga (SBI) Merupakan faktor yang paling dominan terhadap laju inflasi di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari hasil nilai r2 parsial untuk variabel Tingkat Suku Bunga SBI sebesar 0,937 yang artinya Tingkat Suku Bunga SBI (X3) secara parsial mampu menjelaskan variabel terikat Laju Inflasi di Indonesia (Y) sebesar 93,7 %, sedangkan sisanya 6,3 % dijelaskan oleh variabel lain.
Kurs Valuta Asing tidak berpengaruh signifikan (nyata) terhadap Laju Inflasi di Indonesia, hal ini disebabkan karena dengan menurunnya nilai kurs valuta asing akan menyebabkan jumlah impor berkurang sehingga akan mengurangi jumlah uang beredar sehingga laju inflasi di Indonesia akan mengalami penurunan.
80 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan analisis Regresi Linier Berganda untuk menguji pengaruh Tingkat Jumlah Uang Beredar (X1), Pengeluaran Pemerintah (X2), Tingkat Suku Bunga SBI (X3) dan Kurs Valuta Asing (X4
1. Tingginya Jumlah Uang Beredar menyebabkan menurunnya besarnya Laju Inflasi di Indonesia.
) terhadap Laju Inflasi di Indonesia (Y), maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
2. Rendahnya Pengeluaran Pemerintah mengakibatkan berkurangnya laju inflasi di Indonesia.
3. Tingginya Tingkat Suku Bunga SBI disebabkan semakin banyaknya masyarakat untuk menyimpan dananya di bank sehingga mengurangi jumlah uang beredar maka Laju Inflasi di Indonesia meningkat.
4. Variabel Tingkat Suku Bunga (SBI) Merupakan faktor yang paling dominan terhadap laju inflasi di Indonesia.
5.2.Saran
Sejalan dengan kesimpulan tersebut diatas yangberhubungan dengan hasil pembahasan masalah, dikemukakan saran yang kiranya dapat dijadikan pertimbangan bagi pemerintah, investor dan penelitian selanjutnya dalam dalam menentukan kebijaksanaan di masa yang akan datang, antara lain :
a. Bagi pihak pemerintah
Untuk dapat meningkatkan Laju Inflasi maka pihak pemerintah hendaknya lebih memperhatikan kenaikan jumlah uang beredar dan lebih menambah Tingkat Suku Bunga SBI.
b. Bagi pihak investor
Dengan menurunnya tingkat inflasi maka semakin banyak investor akan melakukan investasi.
c. Bagi peneliti selanjutnya
untuk lebih memantapkan penelitian ini hendaknya melakukan penelitian untuk periode waktu yang berbeda dan menambah atau mengganti variabel bebas.