• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Pengaruh 2-ip terhadap pembentukan dan pertumbuhan umbi mikro

Dari hasil analisis data, diketahui bahwa pemberian 2-ip pada berbagai konsentrasi menunjukkan pengaruh yang nyata hanya pada peubah amatan jumlah nodus di akhir kondisi terang. Sedangkan pada peubah amatan lainnya belum menunjukkan pengaruh yang nyata.

Pada peubah amatan jumlah nodus akhir kondisi terang, perlakuan terbaik terdapat pada pemberian konsentrasi 2-ip sebesar P4 (8 mg/l) yaitu 12.63 nodus dan berbeda nyata (berdasarkan Uji Duncan) dengan perlakuan lainnya yaitu P0 (kontrol) sebesar 10.19 nodus, P1 (2 mg/l) sebesar 9.38, P2 (4 mg/l) sebesar 9.94 nodus dan data terendah terdapat pada perlakuan P3 (6 mg/l) sebesar 8.94 nodus dengan konsentrasi optimum sebesar 3.18 mg/l. Hal ini diduga karena dalam pembentukan daun, eksplan membutuhkan sitokinin sebagai bahan dasar pemacu pembelahan sel (Salisbury dan Ross, 1995) yang terjadi pada 3 lapisan sel terluar pada permukaan batang, yang merupakan tanda awal perkembangan daun (nodus kentang). Lakitan (1996) menambahkan bahwa sitokinin yang di translokasikan dari akar dapat merangsang pertumbuhan daun, dimana dalam hal pertumbuhan kentang, keberadaan satu daun setara dengan keberadaan satu nodus. Sehingga pemberian konsentrasi sitokinin yang tinggi mampu meningkatkan pertumbuhan

daun. Pada tiap nodus planlet kentang terdapat mata tunas aksiler yang dapat di dorong untuk membentuk tunas, stolon atau umbi mikro tergantung dari komposisi media dan kondisi lingkungan tumbuhnya.

Akan tetapi, pada peubah amatan jumlah nodus akhir kondisi gelap, pemberian 2-ip tidak memberikan pengaruh yang nyata. Data tertinggi tetap terdapat pada perlakuan P4 (8 mg/l) yaitu sebesar 17.13 nodus akan tetapi data terendah terdapat pada perlakuan P2 (4 mg/l) yaitu sbebesar 13.81 nodus. Pertumbuhan jumlah nodus selama masa gelap ternyata mengalami penurunan. Karena dalam masa ini, planlet lebih menekan pertumbuhan nodus dan memacu diri untuk membentuk umbi melalui tunas dan nodus-nodus pada planlet dengan cara menumbuhkan stolon. Menurut Ni’mah et al (2012), pada media umbi mikro, sitokinin mendorong terbentuknya umbi mikro pada tunas dan nodus dari eksplan tanaman kentang secara in vitro. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahawa pertumbuhan planlet (sebelum terbentuknya umbi) bukanlah untuk pertumbuhan nodus melainkan untuk menumbuhkan stolon.

Untuk peubah amatan waktu muncul umbi akibat pemberian sitokinin 2-ip, waktu kemunculan umbi tercepat terdapat pada perlakuan P4 (8 mg/l) yaitu selama 3.94 hari. Masalah mengenai waktu kemunculan umbi secara jelas tergantung pada tingkat kemampuan stolon pada tiap planlet untuk segera berkembang menjadi umbi pada kondisi lingkungan yang khusus (seperti suhu dan intensitas cahaya). Salisbury dan Ross (1995) telah menjelaskan bahwa pertumbuhan awal stolon memerlukan kadar giberelin yang tinggi dan kadar sitokinin yang tidak terlalu tinggi. Oleh sebab itulah, pemberian 2-ip dengan

konsentrasi sebesar 4 mg/l ternyata lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya dalam hal memunculkan umbi mikro.

Perbandingan diantara jumlah umbi mikro per planlet dan bobot basah umbi dapat diketahui bahwa jumlah umbi terbanyak terdapat pada perlakuan P2 (4 mg/l) yaitu 1.31 buah namun bobot basah umbi yang mampu dihasilkan adalah sebesar 0.65 mg. Sedangkan bobot basah umbi terbaik terdapat pada perlakuan P3 (6 mg/l) yaitu 2.35 mg namun jumlah umbi mikro yang dapat dihasilkan hanyalah 0.74 buah. Hal ini diduga berkaitan erat dengan besarnya proporsi distribusi asimilat yang diterima oleh masing-masing umbi yang dihasilkan tiap planlet. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Warnita (2008) yang menyebutkan bahwa eksplan yang mempunyai jumlah umbi yang banyak terjadi proses distribusi asimilat yang menyebar ke setiap umbi, tetapi pada eksplan yang mempunyai umbi sedikit distribusi asimilat lebih terfokus pada pertumbuhan umbinya sehingga umbi yang terbentuk berukuran besar.

Pada sejumlah perlakuan, tidak ditemukannya pertumbuhan umbi mikro akan tetapi pada organ daun masih terlihat segar dan berwarna hijau. Pada dasarnya, dalam memacu pertumbuhan umbi, tanaman kentang akan mengalami penuaan (senescens daun) yang ditandai dengan menguningnya bagian daun dan menyebabkan tanaman mati. Taji et al (2001) mengungkapkan dalam pembentukan umbi sering terjadi senescence, dan ini dapat diatasi dengan penambahan sukrosa dan sitokinin pada medium. Adapun mekanisme penundaan senescens daun telah dijelaskan oleh Salisbury dan Ross (1995) yang mengungkapkan bahwa cara sitokinin memperlambat penuaan pada daun diawali dengan terurainya protein menjadi asam amino kemudian diikuti oleh hilangnya

klorofil dimana penuaan ini terjadi jauh lebih cepat di tempat gelap daripada di tempat terang dan sitokinin yang ditambahkan pada larutan tempat daun tumbuh, dapat menggantikan efek cahaya dan menunda penuaan.

Pengaruh interaksi konsentrasi sukrosa dan 2-ip terhadap pembentukan dan pertumbuhan umbi mikro

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, interaksi antara sukrosa dan 2-ip belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua peubah amatan. Namun untuk peubah jumlah nodus akhir kondisi terang, perlakuan S2P4 (50 g/l sukrosa dan 8 mg/l 2-ip) menghasilkan jumlah nodus paling banyak yaitu sebanyak 15.75 nodus dan nodus terendah terdapat pada perlakuan S1P1 (35 g/l sukrosa dan 0 mg/l 2-ip) yaitu sebesar 7.00 nodus. Seperti telah dikemukakan pada pembahasan sebelumnya bahwa dalam memacu pertumbuhan nodus dimulai sejak eksplan hingga membentuk planlet, maka konsentrasi sukrosa tidak melebihi 5% sedangkan 2-ip bekerja maksimal untuk melakukan pembelahan sel yang memang dibutuhkan untuk perkembangan daun (nodus). Zulkarnain (2009) menambahkan bahwa konsentrasi medium menjadi faktor penting bila sitokinin tidak diberikan pada tingkat konsentrasi yang optimum. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa untuk mendapatkan hasil yang maksimum dari perlakuan zat pengatur tumbuh maka komponen medium lainnya harus berada pada kadar yang optimum.

Sedangkan pada jumlah nodus akhir kondisi gelap, nodus tertinggi dihasilkan oleh perlakuan S3P0 (65 g/l sukrosa dan 0 mg/l 2-ip) yaitu sebanyak 21.75 nodus dan terendah pada perlakuan S2P0 (50 g/l sukrosa dan 0 mg/l 2-ip) dan S2P3 (50 g/l sukrosa dan 6 mg/l 2-ip) yaitu sebanyak 11.75 nodus. Dalam kondisi gelap ini, sitokinin tidak lagi banyak berperan, berbeda dengan sukrosa

karena kondisi ini ditujukan untuk menghasilkan umbi mikro. Oleh sebab itu, kemungkinan keberadaan sitokinin eksogen diduga dapat menghambat pertumbuhan nodus dalam kondisi gelap dan keadaan planlet yang teretiolasi.

Untuk peubah amatan waktu muncul umbi, hasil terbaik terdapat pada perlakuan S1P2 (35 g/l sukrosa dan 4 mg/l 2-ip) yaitu selama 15.75 hari sedangkan untuk peubah amatan jumlah umbi mikro per planlet, hasil terbaik terdapat pada perlakuan S1P2 (35 g/l sukrosa dan 4 mg/l 2-ip) yaitu sebesar 5.25 umbi. Sedangkan bobot basah umbi terbaik diperoleh dari hasil kombinasi S1P3 (35 g/l sukrosa dan 6 mg/l 2-ip) yaitu sebesar 7.75 mg.

Dokumen terkait