B. Pola Interaksi dan Komunikasi dalam Pertemanan 1. Pola Interaksi
1. Terjalinnya hubungan interaksi sosial antar sesama manusia
Dalam Islam, interaksi sosial disebut dengan istilah hablun min al-Na>s (hubungan dengan sesama manusia), pengertiannya juga tidak berbeda dengan
10Sudarsono, S.H, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja (Cet. IV; Jakarta: Rineka Cipta, 2005.), h. 25.
pengertian interaksi sosial yaitu hubungan individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok.11 Contohnya, saling sapa, berjabat tangan, silaturrahim, solidaritas sosial, ukhuwah islamiah dan lain-lain. Kesemua contoh dari interaksi sosial ini semua terjalin dalam bentuk pertemanan.
Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Allah swt. menciptakan manusia dengan keragaman bangsa serta suku adalah dalam rangka saling kenal-mengenal satu sama lain (lita‘a>ru>). Kesempurnaan fitrah seseorang bisa dilihat dari mampunya ia berinteraksi dalam hal ini berteman dengan sesama manusia, sebab manusia merupakan makhluk sosial yang tak akan lepas dari sebuah keadaan yang bernama pertemanan. Begitu luasnya daratan serta lautan yang membentang dari timur hingga barat yang sebagiannya dihuni oleh manusia dengan ragam peradaban serta adat istiadat. Bermulanya peradaban suatu masyarakat tentu tidak lepas dari adanya inetraksi sosial (pertemanan) yang terjadi di antara manusia, baik diantara anggota masyarakat dalam satu komunitas maupun interaksi yang terjadi dengan anggota masyarakat lain diluar komunitasnya.12
Keunikan suatu peradaban masyarakat yang satu dengan yang lainnya telah menghasilkan begitu banyaknya ragam dalam budaya, seperti banyaknya jenis bahasa yang digunakan sebagai salah satu syarat interaksi. Interaksi yang terjadi antar sesama manusia dengan latar belakang yang berbeda, baik budaya maupun karakter pribadi yang melekat pada diri masing-masing sudah pasti suatu ketika akan menimbulkan gesekan-gesekan, bisa berupa kesalah pahaman dalam memandang suatu keadaan ataupun perbedaan sudut pandang. Namun dalam
11Sahrul, Sosiologi Islam (Medan: IAIN Press, 2001), h. 67.
12Muhammad al-Sayyid Yusuf, Pustaka Pengetahuan al-Qur’an (t.t: PT. Rehal Publika, 2007), h. 99.
Islam, kenyataan seperti ini tidak menjadikan seorang surut dan urung niat serta lebih menyendiri daripada berinterkasi atau berteman dengan sesama.13
Jika manusia bisa melihat bahwa gesekan-gesekan yang terjadi dalam berinterkasi sosial merupakan sebagai bahan pelajaran dan ujian kesabaran serta memandangnya sebagai sebuah tantangan dalam kehidupan yang majemuk, maka hal ini merupakan sebuah keutamaan, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. dalam salah satu hadisnya:
َّمَحُم َسَوُم وُتَب اَنَجَّدَح
، ِشَ ْعَْلْا َناَمََْل ُس ْنَغ ،َةَبْؼ ُص ْنَغ ، ٍّيِدَػ ِبَِب ُنْبا اَنَجَّدَح :َلاَك َّنََّثُلما ُنْب ُد
ِّ ِبَّنلا ِنَغ ،ُهاَرُب ََّلَّ َسَو ِوََْلَػ ُ َّللَّا َّلَّ َظ ِّ ِبَّنلا ِةاَ ْصَْب ْنِم ،ٍخَْ َ ص ْنَغ ، ٍة َّثََّو ِنْب َيَْ َي ْنَغ
َّلَّ َظ
َسَو ِوََْلَػ ُ َّللَّا
:َلاَك ََّلَّ
«
َلً يِ َّلَّا ِ ِلَّ ْسُلما َنِم ٌ ْيرَذ ْ ُهُاَذَب َلََّػ ُ ِبِ ْعًََو َساَّنلا ُطِلاَ ُيُ َن َكَ اَذِا ُِلَّ ْسُلما
ُْهُاَذَب َلََّػ ُ ِبِ ْعًَ َلً َو َساَّنلا ُطِلاَ ُيُ
»
14.
Artinya:Telah diceritakan kepada kami Abu> Mu>sa> Muh}ammad bin al-Mus\anna>, telah diceritakan kepada kami Ibn Abi> ‘Adwi> dari Syu’bah dari Sulaima>n al-‘A’masy dari Yah}ya> bin Wasa>b dari seorang yang alim dari sahabat Nabi Muhammad saw., bersabda: ‘Sesungguhnya seorang muslim, jika ia bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka‛.
Hadis ini menunjukkan keutamaan seorang yang bergaul dengan manusia, dalam hal pergaulan manusia diperintahkan untuk mengerjakan kebaikan dan melarang kemungkaran, berbuat baik dalam menggauli seseorang. Sesungguhnya itu lebih utama dari seorang yang menyendiri dan tidak sabar atas percampuran. Hadis diatas juga telah dibahas oleh al-Nawa>wi sebagaimana yang dikutip oleh Ali bin Sult}a>n Muh}ammad al-Qa>ri> dalam kitabnya bahwa keutamaan bergaul dengan manusia, seperti menghadiri shalat jum’at dan shalat berjamaah bersama mereka, pemandangan baik dan majelis-majelis dzikir bersama mereka,
13Muhammad al-Sayyid Yusuf, Pustaka Pengetahuan al-Qur’an , h. 13.
14Muh}ammad bin ‘I<sa> Abu> ‘I<sa> Turmuz\i> al Salami>, Ja>mi’ S}ah}i>h} Sunan al-Turmuz\i> , Juz IV (Beiru>t: Da>r Ih}ya>’ al-Tura>s\ al-‘Arabi>, t.th), h. 662.
menjenguk yang sakit dari mereka, menghadiri pengurusan jenazah mereka, menolong yang membutuhkan dari mereka, memberikan petunjuk kepada seseorang yang yang tidak tahu dari mereka dan selainnya dari maslahat-maslahat mereka, bagi siapa yang mampu untuk memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan menahan dirinya dari menyakiti orang lain dan sabar atas gangguan dari orang lain.15
Ketahuilah, sesungguhnya bergaul dengan manusia dalam keadaan seperti ini adalah pendapat yang dipilih, yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah saw. dan seluruh nabi dan para khalifah al-Ra>syidi>n serta orang-orang setelah mereka dari para sahabat dan tabiin dan para ulama-ulama Islam dan orang-orang terbaiknya setelah mereka.
Berkata al-‘Us\aimin rahimahulla>h: Dan ‘Uzlah (kesendirian) lebih baik jika di dalam bergaul terdapat keburukan, adapun jika dalam bergaul tidak terdapat keburukan, maka bergaul dengan manusia lebih utama. Nabi saw. bersabda ‚Sesungguhnya seorang muslim, jika ia bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada seorang muslim yang tidak ergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas mereka’. Akan tetapi jika bergaul terdapat bahaya atasmu dalam agamamu, maka selamatkan agamamu. Sebagaimana Nabi Muhammad saw. bersabda ‚Akan mejadi sebaik-baik harta seseorang adalah kambing, ia mengikutinya ke bukit-bukit pegunungan dan ke tempat-tempat subur, yaitu ia menyelamakan agamanya dari fitnah godaan. 16
Penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan yang dikehendaki dari hubungan pertemanan adalah terjalinnya hubungan interaksi sosial yang baik
15Ali bin Sult}a>n Muh}ammad al-Qa>ri>, Mirqatu al-Mas}a>bi>h} Syarh} Misyakatul al-Mas}a>bi>h}, Juz V (Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.th), h. 214.
16Muh}ammad bin Isma>’i>l Abu> ‘Abdulla>h al-Bukha>ri> al-Ja’fi>, Juz III (Beiru>t: Da>r Ibn Kas\i>r, 1987), h. 1201.
sebagaimana anjuran al-Qur’an dan hadis. Seseorang yang menjalin suatu hubungan selalu berharap bahwa dalam setiap pertemanan yang terjadi terdapat nilai ibadah serta berharap akan menyebarnya nilai-nilai positif dalam tiap diri yang terlibat didalamnya. Dan pada akhirnya, apa yang dihasilkan dari sebuah pertemanan/interaksi dapat membangun semangat keimanan dalam mengajak manusia menuju jalan yang diridhai Allah swt. serta munculnya kasih sayang, tolong menolong dalam hal kebaikan dan perbaikan serta persaudaraan sehingga semakin meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah swt. dari waktu ke waktu.