• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA

A. Analisis Filologis

5. Terjemahan

Terjemahan adalah pemindahan makna atau transfer bahasa dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Pemindahan makna tersebut harus lengkap dan terperinci. Salah satu tujuannya adalah untuk memudahkan dalam hal memahami isi teks dari suatu naskah. Terjemahan akan dilakukan secara bebas, yaitu: keseluruhan teks bahasa sumber diganti dengan bahasa sasaran secara bebas (Darusuprapta, 1984: 11).

Pupuh I Pangkur

1. Sebelumnya adalah tembang Sinom, yang menggambarkan semangat Suwanda dari Maespati. Akan lebih baik jika mampu menirunya sama persis. Ialah seorang patih yang unggul. Jika diibaratkan di Jawa, seperti patih di Yogyakarta.

2. Tirulah Danureja. Telah disebutkan bahwa ia adalah patih yang unggul. Kelebihannya sedang, namun ia tidak ingin melakukan perbuatan nista. Kalau bicara selalu tepat dan tidak salah. Seorang yang sabar dan ikhlas menjalani hidup. Ialah seorang patih yang mampu memimpin (mengayomi) rakyat kecil.

3. Semua benar dan tidak ada yang rusak. Selesai usaha dan tugasnya. Seorang yang berpedoman bagus dan baik. Tidak takut bicara meskipun akhirnya ia mati. Berani bicara dengan jendral (VOC), selama ia benar dan tidak meleset.

4. Tirulah Danureja. Jika di Jawa yang terhitung baik dan disebut patih yang unggul adalah Danureja, sedangkan jika di Surakarta yang terhitung unggul adalah Dipati Sindurja. Hanya sewajarnya yang ia senangi.

5. Menjauhi perbuatan nista, dan yang baik yang ia dekati. Menyenangkan dalam berbicara. Mendapat tawaran dari jendral (VOC). lalu memakan racun hingga mati. Menolak kesepakatan karena bisa hilang kekuasaannya. 6. Meskipun telah mati, kalau masih menganggap kekuasaannya, itu tidak buruk melainkan bagus. Perkataannya telah dilakukan. Semua prajurit masih menghormati yang mati. Jika sampai melakukan nistha, hal itu akan menurunkan derajat negara.

7. Sudah menjadi kebiasaan zaman dahulu. Jika prajurit menghadapi suatu masalah, mereka bersedia untuk mati. Malu jika menjadi tawanan. Seperti patih Wiradigda di Kanduruh yang tidak punya malu, membuat negara menjadi tidak tentram.

8. Ketika masa pemerintahan Brawijaya sampai sekarang tidak pernah terjadi kalau seorang bupati kalah, meringkuk seperti tuyul dalam tawanan. Sama seperti Wiradigda Kanduruh, yang tidak pantas ditiru. Contohlah perbuatan yang utama.

9. Ialah Adipati Pringgalaya. Kasar dan tidak baik. Jika buruk sangat buruk. Tetapi akhirnya mati memakan racun. Ketika perpecahan negara, membuat banyak orang bingung. Kompeni (VOC) akhirnya ikut sedih.

10. Dan juga Sultan Kabanaran. Jika bicara dengan Pringgalaya, selalu dibuat buruk dan dibuat bingung. Tanpa basa-basi. Hanya pendapatnya yang dianggap benar. Tidak pernah jujur, dan sembunyi-sembunyi seperti hantu. 11. Ucapannya Sultan Kabanaran kalau masih iparnya Pringgalaya dan seorang patih anak prabu, jika pembagian negara jadi dilakukan, ia lebih memilih mengembara ke hutan dengan kudanya.

commit to user

12. Raden Pringgalaya mendengar berita kalau bersama dengan kompeni dan sinuhun, yaitu Sultan Kabanaran. Kemudian ia ingat akan takdir Tuhan bahwa semua ciptaan Hyang Suksma (Tuhan) pasti akan mati.

13. Kemudian mendadak, Adipati Pringgalaya mati dalam keadaan ia sudah menjadi orang yang baik. Ia bunuh diri tanpa ragu-ragu, ingat bahwa ia menjadi patihnya sang prabu. Jika sampai melakukan kenisthaan, maka akan hilang indahnya negara.

Pupuh II Dhandhanggula

1. Itulah suatu contoh teladan para patih. Adapun punggawa yang baik ceritanya, pada zaman dahulu yang disebut unggul adalah Jang Rana dari Surabaya dan Cakraningrat dari Madura. Keduanya pantas dicontoh. Merekalah prajurit pemberani, selalu berhati-hati dan teguh pendiriannya. 2. Bisa mengangkat raja. Ketika kepergiannya Pangeran Puger, kedua orang

itulah temannya. Tegas dan tidak ragu-ragu. Demikianlah ketiga tumenggung. Akhirnya Jayaningrat Pekalongan diambil besan oleh Dipati Natakusuma.

3. Seandainya mengikuti ketiga bupati, ketika perang melawan Cina, negaranya tidak akan rusak. Hanya berfikir untuk diam. Orang yang sudah merasa tentram pikirannya menjadi kacau. Selalu meminta Tirta Wiguna untuk menghasut raja, sehingga membuat negara tidak tentram.

4. Patihnya menjadi korban, diasingkan dari Pulau Jawa. Negaranya semakin rusak, kemudian menyesal karena tertipu oleh kompeni tetapi terlanjur dilakukan, menjadikan salah paham. Tersesat dan menderita tiada hentinya. Jika meskipun yang menjadi tumbal adalah Sinuhun Kabanaran

5. Adapun maksud ketiga punggawa tersebut menyampaikan masalah, agar menjadi lebih baik. Negara tidak menjadi kacau dan terpecah belah. Tetapi petunjuk itu tidak dihiraukan oleh para patihnya. Akhirnya semua mati meminum racun. Tidak bisa ikut berperang

6. Demikian sifat/perbuatan dipati/bupati zaman dahulu. Sangat besar kepercayaannya terhadap Tuhan. Tidak memperhitungkan mati, jarang yang tidak berterus terang. Tahan malu tetapi tidak suka membuat malu. Kalau sifat tumenggung tirulah yang baik, agar tidak membuat negara suram. Ada lagi yang diceritakan.

7. Punggawa yang dinilai baik ialah Rangga Wirasentika dari Jipang, berasal dari Sokawati. Seseorang yang berbudi luhur. Seperti Ranadiningrat dan Suryanegara, ialah Suwandi yang berjiwa ksatria serta Raden Supama yaitu prajurit yang unggul. Angkuh dan teguh hati.

8. Kalau berperang tidak dicela. Berikat pinggang dan berbaju kurung saja. Jika diserang musuh, hanya berkacak pinggang penuh keberanian, sambil menghisap rokok. Daya tipunya pada tangan kiri, tangan kanan memegang rokok. Jarang menggunakan senjata.

9. Musuhnya hanya ditunjuk dengan rokoknya sambil berkata, “Kamu datang ke sini, ayo berperang denganku!”. Musuhnya takut dan lari tergopoh-gopoh, turun dari jog kudanya dan menyerahkan diri. Meskipun musuhnya banyak hanya dihadapi dengan senyum, tidak lain musuhnya pun lari. 10. Diceritakan Prabu Parikesit, ialah Raden Supama Janjingrat dari

Pekalongan. Datang ke seberang yang sudah termasyur. Serta Raja dari Malawapati yaitu seorang panglima perang. Ialah seorang prajurit yang

commit to user

unggul dan sangat sakti. Tidak sesuai dengan karakternya yang lucu, ceroboh dan apa adanya.

11. Jika didatangi oleh para prajuritnya, tidak ada yang tertinggal. Semua dibuat tertawa sampai terkencing-kencing. Jika ada orang sakit nafas, maka akan kambuh sakitnya. Hingga menjadi bayangan. Awalnya hanya tertawa, tidak bisa diam. Sudah terlihat kalau Pangeran Nata Kusuma adalah gila waris.

12. Adapun punggawa dari Surakarta yang sudah menjadi seorang perwira, dan tidak buruk budinya adalah Kyai Tumenggung Puspa Nagara. Dulu, asalnya adalah seorang saudagar dari Gresik yang bernama Juragan Bali. Ketika masa pimpinan Ja Puspita.

13. Keluar dari Kartasura, juragan Bali kembali ikut berperang. Lama-lama Jaya Puspita mendengar bahwa Ki Juragan Bali kembali ke Kartasura. Kemudian disampaikan kepada raja, bahwa ada seseorang yang berani berperang dan mau melawan musuh.

14. Kemudian ia diberi julukan Ngabèhi Tohjaya dan diberi tahta di Lamongan. Pengikutnya sebanyak seribu orang, kemudian diberi julukan lagi setelah perang Cina, dengan nama Tumenggung Puspa Nagara. Hingga anak cucunya menjadi bupati. Demikianlah orang yang baik. 15. Jangan seperti Mangun Onèng dari Pati. Tidak ingat bahwa dulu ia adalah

seorang berandalan, yang suka mengikuti kehendaknya sendiri, tanpa dibicarakan dahulu. Hal yang baik dirusak dan selalu mengunggulkan diri sendiri. Lupa akan segalanya. Ketika mendapat wewenang, menggemparkan kerajaan.

16. Karena Rama Wijaya ketika berhasil mengajar, sangat senang hatinya. Yaitu ajaran kepada seseorang yang akan menjadi raja, hatinya tidak boleh tergoyah. Demikianlah ajaran Sastra Cetha, tanamkanlah di hatimu ajaran tersebut mulai dari orang-orang pilihan yang memimpin suatu negara. 17. Perbuatan nista ketahuilah terlebih dahulu, kemudian perbuatan yang

sedang. Jangan sampai lupa, dan jangan sampai terjerumus. Perbuatan nista itu jangan sampai berani melakukannya. Perbuatan yang sedang hendak dilakukan. Terlebih lagi perbuatan yang utama. Inginkanlah seperti engkau menemukan seorang wanita.

18. Nista adalah perbuatan yang mengkhawatirkan. Pikirannya selalu mengikuti sanak keluarga bangsawan maupun kepada para punggawa dan menteri. Selalu diselimuti rasa tidak percaya, dan suka mengira sesuatu hal yang belum pasti, menyimpan rasa canggung/serba salah dalam hal apapun. Dengan demikian, dekatilah yang utama.

19. Baik buruknya harus dipahami. kalau sudah menjadi orang kepercayaan tidak boleh goyah. Perbuatan buruk hendaklah diusahakan agar menjadi baik. Milikilah perbuatan yang baik itu. Jika ada prajurit yang tidak mau mempelajarinya, maka hasilnya akan buruk.

20. Ketahuilah sesuatu hal yang membahayakan negara, ada lima hal. Ketahuilah semua tingkah laku. Ketika terlihat ada musuh yang mengepung, dan jika ada pasukan menyerbu, celakalah. Singkirkanlah mereka. Di dalam memimpin negara jangan sampai melakukan lima hal. Yang pertama yaitu pencuri.

commit to user

21. Keduanya yaitu pencuri wanita. Ketiga yaitu orang yang pekerjaannya menyamun. Keempat adalah penjudi. Kelima yaitu seseorang yang mendekati raja dan membuat hanya kepada dirinyalah raja percaya. Lupa pada kenyataan bahwa rajanya adalah raja milik banyak orang.

22. Hanya ingin dirinya. Ketika di pertemuan agung, tidak ada gunanya. Ketika pertemuan bubar, baru dia berani berkata kepada sang raja. Raja hendaknya jangan mudah percaya. Orang yang demikian, bawalah ia ke hutan karena bisa mengotori bumi.

Pupuh III Mijil

1. Jika engkau menjadi raja, dinda pesanku. Perhatikanlah pedoman sang prabu, yaitu Sastra Cetha. Terapkanlah yang benar. Demikian ajaran dari sang prabu.

2. Karena orang-orang pilihan zaman dahulu yang memegang pemerintahan. Perbuatan buruk ketahuilah semua, dan perbuatan sedang jangan dilupakan. Maksudnya satu per satu, jangan sampai terlena.

3. Perbuatan yang hina akan membuat celaka jika seseorang melakukannya. Perbuatan yang sedang pahamilah semua, sedangkan yang utama inginkanlah ia seperti engkau menginginkan seorang wanita.

4. Nista adalah perbuatan yang membuat seseorang menjadi serba khawatir/tidak tenang. Dalam segala hal, pikirannya selalu bimbang. Pikirannya selalu mengikuti sanak keluarga bangsawan, maupun pada

para punggawa dan menteri. Hatinya selalu bingung dan diselimuti kebimbangan.

5. Tidak mengetahui bahwa watak yang demikian jika diterapkan pada suatu pemerintahan akan membahayakan. Perbuatan yang sedang hilangkanlah. Perlu dijelaskan untuk selalu berhati-hati pada suatu hal yang menyangsikan. Perbuatan yang utama itu hendaklah dikuasai semua.

6. Baik dan buruk adalah tanggung jawabmu (raja). Maka di dunia ini hendaknya jangan bimbang. Perbuatan buruk usahakanlah menjadi baik. Milikilah itu untuk meraih kebahagiaan tak ada yang lain. Pelajarilah hal itu terus menerus sampai tuntas.

7. Yang berkewajiban (raja) harus mampu mempelajari kesenangan orang lain, karena semua hal pasti ada sebabnya. Pelajarilah tentang tata cara yang buruk maupun baik, dan yang mudah maupun sulit demi terciptanya keindahan.

8. Jika prajurit yang dinilai pada saat diberi pendidikan hatinya penuh dengan kebimbangan, maka akhirnya akan membahayakan. Hal yang demikian segeralah ditumpas, karena kalau demikian tidak akan mampu menerima nasihat yang baik.

9. Adapun kebimbangan yang membahayakan itu ada lima hal. Waspadailah hal itu pada prajuritmu yang banyak karena itu ibarat musuh yang mengepung istana. Hendaklah hal itu diingat. Sang adik menhaturkan sembah.

commit to user

10. Rama Wijaya berkata lagi, “maksud dari lima hal tersebut, barang siapa yang melakukannya hendaklah segera bawa ia ke hutan dan jangan disatukan di dalam istana, karena akan membahayakan istana. 11. Pertama pencuri, kedua juga pencuri yaitu pencuri wanita. Ketiga

adalah orang yang pekerjaannya menyamun. Keempat adalah penjudi, dan kelima adalah penjilat raja.

12. Ingin melebih-lebihkan diri sendiri. Kenyataannya raja adalah milik orang banyak. Kalau dimintai pendapat pada saat pertemuan umum tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

13. Setelah pertemuan bubar dia menjilat. Lekas-lekas menghaturkan pendapatnya sendiri. Orang yang demikian adalah merupakan penjahat/sampah dunia. Padahal ketika berada di istana dan dihadiri banyak orang sama sekali tidak bisa bicara.

14. Selalu mengahalangi perintah yang baik. Hanya memikirkan dirinya sendiri, mudah iri, panas hati. Orang yang demikian akan membahaykan negara.

15. Karena itulah dinda, prajuritmu baik yang tua maupun muda pilihlah yang mengerti pada isyarat. Jangan sampai salah. Pilih yang memiliki rasa kasih pada istrinya dan yang berjiwa susila dan sejahtera.

16. Tidak tamak dan selalu berhati-hati dalam bertindak. Andalkan dia, yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Selalu berhati-hati dan berpaling dari perbuatan sirik. Sungguh akan tercapai tujuan yang dikehendaki.

17. Kalau ada prajurit yang dalam segala hal suka dikagumi, merasa serba tahu, walau tahunya hanya dari mencuri dengar, mengaku tahu padahal sebenarnya tidak tahu.

18. Dan kalau berperang suka mendahului dengan bertingkah keras dan berteriak, dalam hatinya menumpang keberanian tetapi bukan sungguh-sungguh berani. Orang yang demikian dinda, tempatkanlah segera.

19. Untuk menjaga batas negara, (dia) merasa sanggup melakukannya. Istana bukanlah tempat yang tepat untuknya bekerja karena akan mengganggu ketentraman dan suka membuat gaduh apabila disuruh

menjaga. 20. Tidak jahat orang yang menunggu batas negara berbohong sebagai

strategi mengalahkan musuhnya. Mengalahkan musuh satu per satu, hal itu memang sudah menjadi pekerjaan prajurit.

21. Apabila ada prajurit yang sungguh-sungguh mampu, berani, dan memiliki keahlian, sering memperingatkan para prajurit raja, mampu memberi tauladan yang baik dan juga tangguh.

22. Ia pantas dijadikan panglima dari prajurit perang. Pimpinlah semua prajurit yang berada di wilayah jajahan yang jauh. Kerajaan lain di luar sana memiliki raja yang tangguh.

23. Semua prajurit hendaknya paham tentang kesusilaan, waspada tidak dilupakan, dan peka terhadap kesejahteraan umum. Beritahulah mengenai permasalahan negara dan rakyat kecil. Itulah yang harus diperhatikan.

commit to user

24. Karena sudah menjadi tanggung jawab raja menjaga kerajaan, yaitu menjaga seluruh rakyat. Permasalahan negara harus selalu diperhatikan. Kasihilah seluruh rakyat.

25. Rakyat kecil yang yang sering digumul kesulitan, bantulah dan kasihilah, serta para satria serta bupati, semua harus selaras.

26. Tidak terasa meskipun telah diberi tanda kasih karena sudah wataknya suka bersuara keras. Tanggung jawabnya hanya mengenai baik buruknya suatu negara.

27. Selalu waspada menjadi hal awal yang harus dimiliki oleh semua prajurit yang tangguh dalam perang serta cermat dan pemberani. Bebaskanlah dari pekerjaan agar yang lain mengikuti.

28. Mengenai tata negara janganlah dicampuradukkan dengan dunia sastra. Tindakan buruk dan baik dalam sastra boleh dipegang dan diperhatikan dengan cermat. Namun dalam memerintah suatu negara tidak boleh mengabaikan sebagian pihak.

29. Pada keinginan warga baik pembesar maupun rakyat kecil, arahkanlah mereka pada hal yang baik. Kedua, perbanyaklah pembicaraan mengenai akhir kehidupan. Sang adik menghaturkan terima kasih seraya menangis menghormati.

30. Rama Wijaya mengingatkan lagi, “adinda, ada dua hal yang sangat mengotori kehidupan masyarakat, yaitu sifat dengki dan mudah marah. Hendaklah segera disingkirkan karena akan menimbulkan kesedihan, jika marah suka mencaci maki.

31. Ibarat bersahabat dengan musuh dan akan mengacaukan peperangan. Karena terdorong ingin ditakuti, belum jelas kesalahannya sudah terburu marah. Itu akan menambah dosa.

32. Perkiraannya batu bata yang didekatkan dengan kayu api unggun. Buru-buru naik. Menunjukkan bahwa tindakannya tergesa-gesa, tidak meredakan maslah tetapi justru menambah marah dan ribut.

33. Serta ada suatu cela lagi, orang pembesar mabuk, suka minum minuman keras dan buruk pemikirannya. Pikirannya menganggap itu suatu hal yang baik dan benar. Itulah orang yang licik dan kurang ajar. 34. Jangan mempertengkarkan suatu masalah karena hasilnya tidak akan

baik. Lebih baik keinginan itu disimpan saja sebalatentaramu.

35. Jika ada prajurit yang membahayakan orang lain, jangan suruh ia untuk sesuatu yang baik, karena akan sangat mencelakakan dan menghilangkan kesejahteraan.

Pupuh IV Dhandhanggula

1. Rama Wijaya berkata agar menjaga seluruh wilayah beserta rakyatnya dengan tanpa henti setiap malam. Seorang pencuri harus segera diringkus agar semua aman. Demikian juga semua yang sedang berdoa dan memuja jangan sampai dimasuki pencuri.

2. Apa yang dimiliki raja bisa menciptakan keselamatan di bumi, perbaikilah jalan termasuk jalan di luar negara. Buatlah aliran air bersih dari mata iar atau telaga. Setiap jalan dirikanlah rumah untuk singgah mereka yang melakukan perjalanan.

commit to user

3. Bumi bagaikan seorang satria yang diberi senjata, dan semakin sentosa jika ia selalu menang. Ibarat orang yang istirahat di tepi sungai merasa nyaman karena ada tempat istirahat ketika dalam perjalanan.

4. Pada hakikatnya raja itu seperti bumi, maka sudah menjadi janji seorang raja untuk membuat kenyamanan pada rakyatnya. Hormatilah para pendeta resi dan serahkanlah pada generasi muda, dan bekali mereka dengan ilmu dalam mengabdi negara.

5. Perhatikanlah semua prajurit yang menghadap, mana watak yang tua dan muda agar bisa dimanfaatkan secara optimal.

6. Semua orang yang berkata dengarkanlah karena tidak akan mengurangi kemuliaan, jalankanlah yang baik. Jadikanlah aturan yang dapat dicontoh. 7. Didiklah rakyat, kasihilah para prajurit yang memliki daya lebih. Tetapi

jika ada prajurit yang tidak bersedia membantu sedikitpun namun justru merasa bisa maka prajurit yang demikian tidak baik. Karena tidak berbudi luhur, maka ingatkanlah.

8. Karena sudah menjadi tanggung jawab seorang raja untuk menyembuhkan yang sakit, membuat pandai yang bodoh, menunjukkan bagi yang bingung, memberikan rasa aman. Seorang raja bagaikan matahari yang menyinari bumi dan tidak ada yang bisa menolak sinarnya.

9. Jagalah semua orang yang jahat. Berilah pelajaran agar dapat meniru orang-orang yang baik. Jika ia dapat meneladani dalam hidupnya tentu sembuhlah ia dari tindakan yang jahat. Namun jika tidak mau menurut, singkirkan dia atau bunuh. Kamu tidak salah jika melakukan hal itu.

10. Kedudukan seorang raja adalah ibarat gunung. Adapun kerajaannya adalah semua tumbuhan yang ada di hutan. Semua isi hutan tingginya terkalahkan oleh gunung. Kalau semua bala tentara ibarat hutan, raja ibarat singa. Terjaganya keselamatan singa adalah karena hutan yang lebat. Tetapi jika hutannya terang benderang.

11. Singa tidak akan ditakuti. Walaupun dia kuat tapi tidak akan berguna, meronta pun akan mudah tertangkap. Jadi sudah semestinya seorang raja mengasihi warganya, seperti harimau yang mengasihi hutannya. Oleh karena itu usahakan agar tetap mendapat kesetiaan para punggawa agung. 12. Siapapun rakyatmu jika ada yang sakit, tolonglah dan obatilah hingga

sembuh. Jika engkau mendapatkan musuh yang terkalahkan, jangan kau bunuh. Cukup kau penjarakan dia sebentar kemudian bebaskan. Perlakukan dia seperti saudara, dan hilangkan pikiran-pikiran jahat.

13. Percayalah dan serahkanlah semua kepada Tuhan, engkau akan mendapat keselamatan selama di bumi. Kesaktianmu akan bertambah jika hatimu mantap, selalu baik terhadap musuh, maka yang membalas semua adalah Tuhan.

14. Prajurit yang berbudi luhur dan sakti, demikianlah orang yang sudah bertekad. Orang yang percaya pada musuh akan mendapat balasan dari Tuhan. Apabila dalam hatinya penuh dengan keraguan, ia ibarat ilalang kering. Jika engkau pasrah pada Tuhan, seperti api yang diletakkan pada ilalang kering, maka ilalang itu akan sirna terbakar.

commit to user

15. Kurang berbakti dan merasa takut terhadap Tuhan. Hati yang selalu curiga akan membuat rugi karena akan selalu merasa khawatir dan tidak tenang. Musuh-musuhmu tidak akan habis jika kau selalu menganiaya.

16. Hanya dirinya yang dihormati, namun akhirnya semua akan rusak dan kau akan celaka jika jauh dari Tuhan. Tetapi kebaikan akan datang jika kamu selalui menjauhi dosa, dengan musuh berdamai. Jika adinda demikian maka akan baik pada akhirnya.

17. Engkau sendiri janganlah lupa untuk selalu bersemedi. Segala tindakan jangan hanya menuruti kenyang, melainkan untuk mencapai keselamatan. Orang yang penuh keraguan ibarat sampah yang mengotori bumi. Adapun wadah dari kepandaian, kejayaan, kemasyuran, dan kemuliaan adalah terletak pada sifat yang selalu memaafkan. Apabila engkau percaya pada cinta kasih Tuhan, maka segala yang baik dan utama akan mendekatimu.

Dokumen terkait