• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terlibat Amandemen

Dalam dokumen no 2th ixfebruari 2015 (Halaman 64-66)

Meski pembetukan Lembaga Pengkajian nyaris sudah tidak ada lagi yang bisa merintanginya, namun ada sejumlah tanya terkait masa depan keberadaan lembaga tersebut. Antara lain, soal sinergi lembaga kajian dengan badan-badan yang ada di MPR. Nah, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid selaku koordinator pembentukan Lembaga

Pengkajian ini memberikan jawabannya.

Pembentukan Lembaga Pengkajian tinggal menunggu ketuk palu, pendapat Bapak?

Kita sudah mengembangkan prinsip permusyawaratan dalam MPR. Berbagai musyawarah sudah digelar sejak pelaksananaan expert meeting untuk mempersiapkan pembentukan Lembaga Pengkajian ini. Rapat pimpinan, serta rapat pimpinan dengan ketua-ketua fraksi dan kelompok DPD sudah digelar. Semangat inilah yang melandasi MPR untuk melaksanakan ketentuan UU dan Tata Tertib, terkait pembentukan lembaga pengkajian.

Targetnya, Lembaga Pengkajian ini terbentuk sebelum masa sidang tahun ini selesai. Kita sepakat pada 10 Februari 2015 masing-masing fraksi dan kelompok anggota menyerahkan daftar calon anggota Lembaga Pengkajian, lalu dipilih. Kemudian dilantik pada 16 Februari. Setelah itu mereka menentukan pimpinannya, lalu melaksanakan tugas sebagai anggota Lembaga Pengkajian untuk tiga hal utama yang ditentukan Tata Tertib

Adakah masih ada persoalan masih mengganjal untuk melaksana rencana tersebut?

Secara prinsip tidak ada lagi. Kita telah memilki pengalaman untuk menyelesaikan masalah-masalah yang serius. Seperti, pembagian keanggotaan badan-badan di MPR. Kalau mengacu pada DPR bisa rumit, tapi nyatanya MPR bisa selesai dengan baik dan nyaman. Juga menyangkut pelantikan presiden, yang semula tampak mengerikan ternyata dilalui dengan sangat baik, dan terselenggarakan dengan sangat sukses.

Kalau kedua masalah besar itu bisa diselesaikan, insya Allah pembentukan lembaga ini pun bisa diatasi. Apalagi para pimpinan fraksi bersepakat, sekalipun diusulkan oleh fraksi dan kelompok DPD, semua paham bahwa mereka akan bekerja untuk kepentingan MPR dengan 3 tugas utama itu. Kekhawatiran tentang pengkotakan itu insya Allah tidak akan terjadi.

Apalagi yang akan duduk di lembaga ini adalah mereka yang sudah terlibat dalam amandemen, terlibat dalam pesan sosialisasi zaman saya (pimpinan MPR RI periode 2004- 2009-red), atau era Empat Pilar (2009- 2014). Terbukti setelah mereka menjadi anggota di situ tidak lagi terlihat bahwa mereka adalah anggota partai, dan yang ada

mereka adalah satu, yaitu MPR. Insya Allah tidak ada halangan yang berarti.

Bagiamana menyinergikan Lembaga Pengkajian dengan Badan Pengkajian dan Pusat Pengkajian yang sudah ada sebelumnya?

Itu juga menjadi bagian yang kita bahas. Secara prinsip kita tidak ingin ada duplikasi, tapi juga di waktu yang bersamaan sesungguhnya masing-masing sudah dibedakan tugasnya oleh Tata Tertib dan Aturan Kerja. Pusat Pengkajian adalah sistem yang melekat kepada MPR dan pimpinan MPR ketika melakukan kajian-kajian, administratif ataupun segala yang dibutuh- kan oleh MPR.

Badan Kajian diisi oleh anggota MPR yang masih aktif sekarang. Mereka melaku-

kan kajian terhadap beragam hal. Sementara Lembaga Pengkajian beranggotakan mereka yang pernah menjadi anggota MPR dan mereka yang terlibat dalam amandemen UUD atau yang mempunyai kepakaran dalam berbagai bidang.

Nah, sinerginya nanti perlu disepakati bersama. Tapi salah satu solusinya ada keanggotaanex officio dalam keanggotaan Lembaga Pengkajian. Mereka itu adalah pimpinan MPR dan pimpinan badan-badan. Dengan demikian diharapkan hasil kajian dari Lembaga Pengkajian itu menjadi satu hal yang tidak tumpang tindih atau tidak lepas dari konteks ke-MPR-an kita.

Bagaimana kalau terjadi rekomen- dasi antara badan dan Lembaga Peng- kajian berbeda, mana yang dipakai?

Itu ditentukan oleh keputusan pimpinan.

Kita tidak bisa secara hitam putih mengatakan mana yang diutamakan, karena pada prinsipnya namanya juga rekomendasi, tentu akan jadi masukan. Selanjutnya pasti akan digodok lagi oleh pimpinan MPR, mana yang utama tentu akan diambil.

Agar tidak kontradiktif, dalam Lembaga Pengkajian akan ada koordinatornya. Dan, koordinatornya pimpinan MPR, yaitu saya sendiri. Sementara di Badan Kajian, koordinatornya Pak Mangindaan. Di Lembaga Pengkajian, pimpinan badan dan pimpinan MPR menjadi anggota ex officio. Dengan begitu diharapkan peluang munculnya kontradiksi antara rekomendasi Lembaga Pengkajian dan Badan Pengkajian bisa diminimalisir.

Bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa keduanya tidak menimbulkan kemubaziran lantaran fungsi dan tugasnya hampir sama?

Bangat berbeda. Badan Pengkajian diisi anggota MPR. Sementara di luar sana kita mempunyai banyak pakar konstitusi. Bahkan di antara mereka itu ada yang terlibat langsung dalam amandemen UUD. Pendapat dan pemikiran mereka sangat diperlukan. Karena itu alternatifnya, apakah mereka dibiarkan begitu saja sehingga mereka semakin lupa, tua dan seluruh informasi yang dikuasai tidak didokumentasikan dan tidak tercatat sebagai dokumentasi sejarah konstitusi, atau mereka diwadahi. Tentu kita tak ingin membuang potensi besar ini, karena itu mereka harus diwadahi.

Banyak diantara kawan-kawan yang dulu terlibat dalam kegiatan sosialisasi sangat pakar dalam konstitusi dan setelah melalui perjalanan panjang mareka paham bagaimana memahami dan menyelami perasaan masyarakat dalam hal konstitusi itu. Karenanya, mereka harus diakomodasi. Nah, kalau tidak ada Lembaga Pengkajian mereka ini tidak akan terakomodasi.

Begitu pula rekomendasi mereka juga diperlukan untuk memberikan kajian-kajian yang lebih dalam, karena mereka terlibat langsung. Itulah, saya kira, mereka ini termasuk narasumber luar biasa. Orang akan disebut sebagai narasumber utama adalah yang terlibat langsung. Yang telibat langsung itu adalah para pakar yang terlibat dalam amandemen dan sosialisasi sejak zaman saya hingga sekarang. Dan, tempat mereka di Lembaga Pengkajian. ❏

Dalam dokumen no 2th ixfebruari 2015 (Halaman 64-66)