DANDANDAN LEKSEMLEKSEMLEKSEMLEKSEM TERMAKSUDTERMAKSUDTERMAKSUDTERMAKSUD DALAMDALAMDALAMDALAMPLESETANPLESETANPLESETANPLESETAN
3.1 3.1
3.13.1 PengantarPengantarPengantarPengantar
Dalam buku Pengantar Linguistik Umum karya Ferdinand de Saussure,
dijelaskan tentang adanya hubungan in praesentia dan hubungan in absentia.
Hubungan in praesentia adalah hubungan antara unsur-unsur yang hadir dalam
sebuah mata rantai ujaran, sedangkan hubungan in absentia adalah hubungan
antara butir-butir yang ada pada suatu ujaran dengan butir-butir lain yang tidak hadir dalam suatu ujaran dan bersifat asosiatif (Saussure 1998: 16).
Hal ini yang menjadi kunci tentang adanya hubungan, baik bentuk maupun makna gejala-gejala kebahasaan, salah satunya plesetan. Hubungan dapat berupa hubungan sintagmatis, yaitu hubungan linier atau horizontal pada suatu ujaran. Hubungan dapat pula berupa hubungan paradigmatis, yaitu hubungan yang bersifat vertikal antar ujaran. Maka, hubungan makna suatuplesetandapat muncul akibat adanya faktor sintagmatis maupun paradigmatis.
Dalam plesetan, terdapat dua leksem yang menjadi kunci mengenai suatu
plesetan, yaitu leksem terucap (said) dan leksem tidak terucap (unsaid). Leksem yang terucap bukanlah hal yang sebenarnya dimaksudkan oleh penutur. Namun, leksem yang terucap itu dapat menggantikan referen yang ada di dalam pikiran pendengar atau mitra bicara dengan hal yang dimaksudkan oleh penutur. Hubungan antara apa yang dimaksud dengan apa yang terucap inililah yang
disebut dengan hubungan in absentia, yaitu hubungan dengan unsur yang ada, tetapi tidak hadir dalam ujaran—dalam hal iniplesetan.
Bertumpu pada pemahaman tersebut, plesetan dapat dibedakan berdasarkan
jenis hubungan makna antara leksem terucap dengan leksem termaksud. Oleh
sebab itu, pada bab ini akan dijelaskan hubungan-hubungan makna pada plesetan
yang terdapat dalam buku Plesetan Republik Indonesia karya Kelik Pelipur Lara, meliputi (a) plesetan antonimi, (b) plesetan homonimi, (c) plesetan polisemi, (d)
plesetanhiponimi, (e)plesetanmetonimi, dan (f)plesetanasosiatif.
3.2 3.2
3.23.2 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanAntonimiAntonimiAntonimiAntonimi
Secara semantis, Verhaar (1978) mendefinisikan antonimi sebagai: ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat pula dalam bentuk frase atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain (Verhaar dalam Chaer, 1990: 91). Dari pernyataan tersebut dapat digarisbawahi bahwa hubungan antonimi tidak terpaku pada suatu kata saja, tetapi hubungan tersebut dapat terjadi pada satuan kebahasaan yang lebih luas. Hubungan antonimi dapat terjadi pada hubungan antara kata dengan kata, kata dengan frasa, frasa dengan kata, kata dengan kalimat, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Dari beberapa contoh yang terdapat dalam bukuPlesetan Republik Indonesia, ditemui hubungan antonimi dari suatu kata, frasa, klausa, bahkan suatu ide.
Berikut adalah contoh-contoh plesetan yang memiliki hubungan antonimi dalam
bentuk yang beragam pula:
(28) Keuangan: Cukup. Maksudnya, cukup susah... Hihihi! (29) Keuangan: Lumayan. Maksudnya, lumayan bokek... Hek!
(30) Beras Kasihan: Sementara untuk menyiasati agar tidak terjadinya kelangkaan beras di peredaran. Maka pemerintah telah melakukan operasi pasar, dengan menginstruksikan pedagang beras, agar penjualan beras tidak dijual perkilo melainkan per butir.
(31) Masih dari dunia hiburan. Seorang pesulap handal Deddy Corbuzier, tahun lalu sempat menghebohkan warga Ibu Kota Jakarta, lantaran ia berhasil menghilangkan sebuah mobil saat mendemonstrasikan sulapnya. Namun itu belum seberapa dibandingkan dengan Edy Tanzil, yang hingga kini mampu menghilang dan tak kembali lagi.
Contoh (28) dan contoh (29) merupakan plesetan yang memiliki hubungan
makna antonimi. Tidak sepertiplesetanyang hanya memunculkan leksem terucap,
contohplesetanini menghadirkan pula leksem yang dimaksud oleh penutur. Pada contoh (28), dapat dijumpai leksem terucap yang hadir dalam tuturan, yaitucukup. Selain itu, leksem termaksud dihadirkan pula dalam wacana tersebut,
yaitu cukup susah. Hubungan makna pada contoh ini terdapat antara kata dan
frasa, yaitu katacukupdan frasacukup susah.
Kata cukup dalam kehidupan sehari memiliki konotasi yang mengarah ke
keadaan atau sifat yang positif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata cukup berarti 1111 jumlahnya memenuhi kebutuhan; tidak kurang; 2222 genap; 3333
lumayan; sedang. Kata cukup juga dapat bermakna 'agak'. Oleh sebab itu, sejatinya kata cukup pada contoh, sebagai leksem terucap, mengarahkan pembaca kepada pemahaman bahwa keuangan seseorang adalah cukup yang berkonotasi
positif. Namun, pada contoh (28), kata cukup tersebut diteruskan rantai
kalimatnya menjadi sebuah frasa cukup susah. Pada taraf ini penutur
menghadirkan leksem termaksud untuk menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dalamplesetannyaadalahcukup susah.
justru memberikan konotasi yang negatif. Nilai emotif yang terdapat pada kedua leksem tersebut memiliki sifat yang berlawanan tetapi tidak mutlak. Maksudnya, makna 'cukup' di sini tidak selalu berlawanan dengan 'cukup susah'. Pengukuran tingkat kecukupan ini sebenarnya memiliki gradasi yang jumlahnya tidak
terhitung, yang bisa diwakili dengan kata agak menjadi agak cukup. Dalam hal
keuangan, lebih atau kurang sepeser pun telah bergeser dari titik gradasinya.
Berkenaan dengan keuangan, jika meminjam kata kaya dan miskin, terdapat
gradasi antara kedua kutub tersebut yang dapat diukur setiap peser dari seseorang.
Oleh sebab itu, contoh (28) merupakan plesetan antonimi. Karena makna
yang bertentangan tidak mutlak dan bergradasi, secara spesifik hubungan makna yang terdapat dalam contoh tersebut adalah antonimi kutub atau antonimi polar.
Hal serupa juga dijumpai pada contoh (29). Kasusnya sama dengan contoh
(28). Leksem yang terucap pada contoh ini adalah kata lumayan dan leksem
termaksud adalah frasa lumayan bokek. Leksem termaksud sengaja dihadirkan
penutur dalam tuturannya untuk menunjukkan leksem yang dimaksudkan oleh penutur karena jika mitra bicara tidak dapat menangkap maksud penutur jika leksem termaksud tidak diharirkan.
Kata lumayan dalam KBBI memiliki dua arti, yaitu 1111agak banyak; sedang; cukup jugs, 2222 agak baik; sedang (cantik, pandai, dsb). Kata lumayan meskipun memiliki kecenderungan mengarah ke konotasi negatif, tetapi dalam kamus lebih mengarah ke konotasi positif. Lalu, kata lumayan itu digelincirkan menjadi frasa
lumayan bokekyang artinya tidak punya uang.
membicarakan soal keuangan, yaitu kaya (memiliki banyak uang) dan bokek
(tidak memiliki uang). Kata lumayan sendiri berada di antara kedua kutub tersebut. Karena posisinya yang berada di tengah-tengah, kata lumayan sudah tidak mungkin berlawanan secara mutlak dengan kata sifat lainnya, yang pasti makna
kata lumayan pada contoh memiliki makna yang berlawanan dengan frasa
lumayan bokek yang juga terdapat di antara kedua kutub tadi. Jadi, contoh (29)
juga merupakan contoh plesetan antonimi. Karena kedua leksem tidak secara
mutlak berlawanan dan memiliki gradasi, contoh (29) tergolong dalam plesetan
antonimi kutub atau polar.
Pada contoh (30) pembaca diajak mengikuti sebuah narasi dalam sebuah wacana yang bercerita tentang distribusi beras. Dalam wacana tersebut dibahas tentang distribusi beras yang penjualannya dihitung berdasarkan satuan hitung tertentu; satuan hitung yang digunakan dalam penjualan beras dalam wacana tersebut adalah kilogram. Namun, terdapat permasalahan kelangkaan beras yang mendesak pemerintah untuk mengubah cara penjualan beras tersebut berdasarkan satuan hitung yang lain.
Sampai di sini pembaca memahami bahwa dalam wacana tersebut ada satuan hitung yang lain, tetapi itu masih berupa ide abstrak. Ide tersebut jika ditarik dari segi fungsinya dapat digolongkan sebagai leksem termaksud meskipun tidak secara langsung diucapkan. Keberadaan ide tentang satuan hitung yang akan menggantikan satuan hitung kilogram itu merupakan leksem terucap.
Terdapat penggelinciran terhadap ide tentang satuan hitung tertentu itu menjadi satuan hitung yang tidak wajar dalam menghitung beras, yaitu butir. Di
sinilah titik kelucuan yang terdapat dalam contoh plesetan (30), bahwa tidaklah lazim dan tidaklah efisien jika penjualan beras dihitung setiap butirnya.
Katabutirdalam konteks wacana tersebut dimaknai sebagai salah satu satuan hitung yang disetarakan dengan kata kilogram. Jadi,butirdan satuan hitung yang
berada dalam satu jajaran dengan kilogram memiliki hubungan antonimi
hierarkial. Chaer (1990: 95) mengatakan makna kata-kata yang beroposisi hierarkial ini menyatakan suatu deret jenjang atau tingkatan. Oleh karena itu kata-kata yang beroposisi hierarkial ini adalah kata-kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang, dan isi), nama satuan hitungan dan penanggalan, nama jenjang kepangkatan, dan sebagainya. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat
ditarik simpulan bahwa kilogram adalah salah satu bagian dari satuan hitung
massa yang tentu saja memiliki pebanding lain berupa satuan hitung massa lain yang bernilai lebih tinggi atau lebih rendah.
Pada contoh (31), tidak dapat diidentifikasikan secara jelas mana yang merupakan leksem terucap dan leksem dimaksud. Leksem termaksud dan leksem terucap pada contoh ini bersifat abstrak. Oleh sebab itu, dua ekstraksi ide berikut mewakili kedua leksem tersebut. Leksem termaksud adalah ide tentang 'menghilangkan', sedangkan leksem terucap adalah ide mengenai 'menghilang'.
Kedua kata tersebut meskipun berasal dari kata asal yang sama, yaitu hilang, tetapi maknanya menjadi berbeda setelah melalui proses morfologis. Kata menghilang berarti kegiatan melenyapkan diri atau membuat dirinya tidak ada lagi. Biasanya dalam sintaksis kata menghilang disebut sebagai kata kerja intransitif karena tidak perlu diikuti dengan objek. Berbalikan dari sifat tersebut, kata
menghilangkan bermakna kegiatan yang membuat atau menyebabkan benda lain
lenyap atau tidak ada lagi. Berdasarkan logika tersebut, kata menghilangkan
merupakan kata kerja transitif karena harus diikuti objek.
Antonimi yang terdapat dalam bentuk ini disebut khas karena antonimi ini muncul secara morfologis walaupun bentuk dasarya sama (Parera, 1990: 56-57).
Berdasarkan sifat kedua kata tersebut, dapat disimpulkan bahwa menghilang dan
menghilangkan memiliki hubungan antonimi yang secara spesifik digolongkan
oleh Parera sebagai pertentangan khas.
3.3 3.3
3.33.3 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanHomonimiHomonimiHomonimiHomonimi
Plesetan homonimi juga mencakup homografi dan homofoni. Beberapa ahli
meletakkan homografi dan homofoni dalam satu poin bersama homonimi. Chaer (1990: 97) mengutip perkataan Edi Subroto bahwa homonimi, homografi, homofoni sebenarnya tidak terlalu tepat dibicarakan di bawah judul 'relasi makna'. Alasannya karena di antara leksem-leksem yang dibicarakan di sini tidak terdapat relasi makna. Namun demikian, istilah-istilah itu secara tradisional dibicarakan bersama dengan polisemi, antonimi, hiponimi. Chaer (1990: 97) mendefinisikan homonimi sebagai ungkapan yang bentukbentukbentukbentuknya sama dengan ungkapan lain. Hubungan antara leksem-leksem yang ditemui dalam contoh-contoh yang terdapat
di buku Plesetan Republik Indonesia juga bukan merupakan hubungan makna,
melainkan berupa hubungan bentuk. Namun, dalam konteks hubungan makna, secara turun-temurun, hingga sekarang, homonimi yang juga mencakup homografi dan homofoni tetap manjadi sentral dalam pembahasan mengenai
hubungan makna.
Berikut adalah beberapa contoh plesetan yang mengandung hubungan
homonimi, baik itu homografi, homofoni, maupun homonimi sendiri:
(32) Dewasa ini untuk meraih popularitas banyak seorang penyanyi Indonesia yang suka menggunakan 2 nama untuk dijadikan satu. Seperti misalnya: Nia dan Niati, Ham dan ATT, serta tak mau ketinggalan penyanyi yang cukup beken di kalangan remaja yaitu, Ahmad dan I. (33) Gara-gara makin maraknya televisi swasta bermunculan, maka banyak
artis Indonesia yang menggunakan namanya dengan nama senjata. Di antaranya Keris Dayanti, Broery Peso Lima (alm), Tio Paku Sadewa, dan Meriam Belina.
(34) Binatang apa yang paling kaya? Beruang (35) Makanan yang paling seram? Terancam
(36) Cara menutup obat yang benar: Bagaimana menutup obat yang benar dan aman? Carannya sangat mudah. Pertama-tama buatlah undangan rapat di rumah Anda sebanyak-banyaknya untuk dibagikan kepada tetangga, kerabat, dan sodara-sodara lainnya. Kedua ajaklah mereka rapat di rumah Anda untuk membahas tentang cara menutup obat yang benar dan aman, karena sesuai dengan anjuran dokter yang tertulis pada kemasan obat yang berbunyi, "Tutuplah obat ini dengan rapat!"
Pada contoh (32), penutur menggelincirkan beberapa nama orang. Secara
auditori, plesetan tersebut tidak akan dengan mudah ditangkap mitra bicara.
Melalui tulisanlah plesetan itu lebih mudah ditangkap. Dalam wacana tersebut,
dapat diketahui beberapa leksem yang menjadi kunci dari plesetan yang ingin
disampaikan penutur. Kunci tersebut adalah Nia Daniati, Hamdan ATT, dan
Ahmad Dani. Ketiga leksem tersebut merupakan leksem terucap. Berhubungan
ketiga leksem tersebut adalah nama, tentu saja tidak dapat diketahui arti dari ketiganya, maka ketiga leksem tersebut cukup dipahami sebagai nama. Mitra bicara atau pembaca yang mengenali bunyi yang ditimbulkan dari leksem tersebut jika dibaca atau dibacakan akan mudah menangkap leksem yang dimaksud oleh
Ahmad dan I.
Wacana tersebut berbicara mengenai nama artis yang menggabungkan dua nama menjadi satu. Nama-nama tersebut dituliskan kembali menjadi sebuah frasa yang terdiri atas dua nama yang mengapit kata "dan". Pembicaraan tidak akan
terlalu membahas menganai makna dan, tetapi sebagai pemahaman bersama,
bunyi dan yang secara kebetulan terdapat pada ketiga nama tersebut dianggap
sebagai kata.
Antara Nia Daniati dengan Nia dan Niati, Hamdan ATT dengan Ham dan
ATT, Ahmad Dani dengan Ahmad dan I, terdapat kesamaan bunyi. Secara bentuk,
hal ketiga pasang tersebut dapat digolongkan dalam hubungan homofoni.
Suku kata pertama dan kedua pada Hamdan dipisahkan menjadi dua.
Pembagian suku kata juga terjadi pada kata Ahmad dan Daniati. Hanya Daniati
yang mengalami penambahan huruf n sebelum huruf i pada kata baru iati.
Meskipun secara tertulis ketiga pasang leksem tersebut berbeda, tetapi karena ketiganya memiliki kesamaan bunyi, ketiga pasang leksem tersebut memiliki hubungan homofoni.
Seperti yang terjadi pada contoh (32), contoh (33) juga melibatkan beberapa nama orang. Wacana pada contoh (33) membicarakan beberapa artis yang,
dinarasikan, bersenjata. Leksem termaksud dalam plesetan tersebut sekaligus
berkedudukan sebagai leksem terucap, hanya saja leksem termaksud adalah salah sebagian dari kelompok kata yang tersusun sebagai nama.
Pada nama Krisdayanti yang dalam buku dituliskan dengan Keris Dayanti,
bermakna 'senjata tajam'. Karena adanya kemiripan bunyi yang terdapat pada dua suku kata pertama pada leksem termaksud (Krisdayanti) dengan leksem terucap
(kata Keris pada Keris Dayanti), kedua leksem tersebut memiliki hubungan
homofoni.
Berbeda dengan kasus pada nama Krisdayanti, pada namaBroery Peso Lima
terdapat kata Peso yang bunyi dan (terlepas dengan keberadaan huruf kapital)
tulisannya sama dengan kata peso dalam bahasa Jawa yang berarti 'pisau' dalam
bahasa Indonesia. Secara kebetulan kedua leksem tersebut memiliki susunan huruf
dan bunyi yang sama. Oleh sebab itu, leksemPesomemiliki hubungan homonimi
dengan katapeso(Jawa).
Masih berbicara soal homonimi, secara kebetulan kata Paku pada nama Tio
Paku Sadewa memiliki kesamaan baik bunyi maupun susunan huruf terhadap kata
pakudalam bahasa Indonesia yang bermakna 'benda bulat tajam yang terbuat dari logam dan memiliki ujung runcing'. Karena kesamaan bunyi dan susunan huruf tersebut, kedua leksem tersebut memiliki hubungan homonimi.
Berbeda dari ketiga nama yang telah dibahas pada contoh (33), kata meriam
pada nama Meriam Belinasecara tidak sengaja memiliki kesamaan huruf dengan
kata meriam dalam bahasa Indonesia yang bermakna 'senjata api yang berat,
berlaras panjang, dan pelurunya besar'. Yang berbeda antara kedua leksem
tersebut adalah bunyi pengucapannya. Jika huruf e Meriam pada nama Meriam
Belina diucapkan dengan bunyi /é/. Huruf e pada kata meriam yang bermakna 'senjata api' diucapkan dengan bunyi /ə/. Oleh sebab itu, kedua leksem tersebut memiliki hubungan homografi.
Pada contoh (34) dan (35) terdapat kasus yang serupa. Keduanya memiliki pasangan leksem yang memiliki kesamaan baik bunyi maupun susunan hurufnya. Secara kebetulan, leksem terucap berupa kata beruangpada contoh (34) memiliki susunan huruf dan bunyi yang sama dengan leksem yang dimaksud oleh penutur,
yaitu kata beruang yang bermakna 'memiliki uang'. Pada awalnya, pembaca atau
mitra bicara akan menangkap leksem terucap tersebut sebagai kata beruangyang
bermakna 'binatang' karena kata beruang yang bermakna 'memiliki uang' jarang
digunakan dalam kegiatan sehari-hari; yang lebih sering digunakan adalah frasa "punya uang" atau "memunyai uang" atau "memiliki uang".
Kesamaan bentuk dan bunyi tersebut terjadi karena adanya proses morfologi
pada kata uang yang mengalami afiksasi dengan awalanber-, yang menghasilkan
kata turunan berupa beruang. Bunyi dari kedua leksem tersebut juga sama.
Keduanya dibaca dengan bunyi /b/.
Sama dengan kasus pada contoh (34), pada contoh (35) juga dijumpai kesamaan bunyi dan kesamaan susunan huruf pada leksem terucap dan leksem
termaksud. Kedua leksem tersebut adalah terancam yang bermakna 'salah satu
jenis sayur' dan terancam yang bermakna 'diancam oleh'. Kedua leksem tersebut
menjadi dua kata yang memiliki bentuk dan bunyi yang sama. Kesamaan bentuk
dan bnyi tersebut terjadi karena adanya proses morfologi pada kata ancam yang
mendapat awalanter-menjadi kata turunan terancam. Oleh sebab itu, contoh (34) dan contoh (35) sama-sama memiliki hubungan homonimi.
Pada contoh (36) ditemukan sebuah kasus yang cukup unik. Contoh tersebut merupakan sebuah wacana yang memunculkan leksem terucap dan leksem
termaksud penutur dalam tuturan. Leksem terucap dalam wacana tersebut berupa
kata rapat yang bermakna 'sidang atau pertemuan untuk membahas sesuatu',
sedangkan leksem termaksud penutur adalah 'hampir tidak berantara atau derap sekali'. Uniknya, dalam wacana tersebut penutur memunculkan leksem terucap
hingga tiga kali. Dua kemunculan yang pertama, yaitu pada "Pertama-tama
buatlah undangan rapatrapatrapatrapat di rumah Anda..." dan "Kedua ajaklah mereka rapatrapatrapatrapatdi rumah Anda ...", belum memunculkan kelucuan karena kata tersebut digunakan pada konteks yang tepat. Namun, pada akhir wacana, leksem tersebut muncul untuk yang ketiga kalinya sebagai penggelinciran penggunaan sebuah ekspresi "Tutuplah obat ini denganrapatrapatrapatrapat!".
Hubungan kedua leksem tersebut bisa dibilang agak rumit karena leksem tersebut tidak berdiri sebagai kata yang disandingkan begitu saja dengan leksem dimaksud oleh penutur. Namun, kedua leksem tersebut terdapat dalam dua wacana terpisah yang dijadikan satu. Wacana pertama membahas tentang cara mengadakan rapat yang bermakna 'pertemuan', sedangkan wacana kedua, yang berupa ekspresi atau kalimat perintah "Tutuplah obat ini dengan rapat!" pada kemasan obat. Karena adanya hubungan sintagmatik yang dialami kedua kata tersebut dalam jajaran rantai kalimat masing-masing, kedua kata tersebut memiliki
dua makna yang berbeda. Kata rapat yang muncul dua kali pada konteks
kemunculan pertama bermakna 'sidang atau pertemuan untuk membahas sesuatu',
sedangkan kata rapat pada ekspresi mengenai cara menutup obat bermakna
'hampir tidak berantara atau derap sekali'.
Keduanya juga diucapkan dengan bunyi yang sama. Oleh sebab itu, kedua leksem tersebut memiliki hubungan homonimi.
3.4 3.4
3.43.4 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanPolisemiPolisemiPolisemiPolisemi
Seperti yang telah dibahas pada landasan teori, polisemi merupakan satuan kebahasaan yang memiliki makna lebih dari satu. Suatu kata dapat memiliki makna ganda karena biasanya bergabung dengan kata lain menjadi frasa atau satuan kebahasaan lain yang lebih tinggi tingkatannya. Kata tersebut selalu memiliki beberapa unsur atau komponen makna. Komponen makna tersebut yang nantinya akan menjadi benang merah satuan kebahasaan turunannya karena makna-makna tersebutlah yang menjadi dasar pemaknaan satuan kebahasaan turunannya. Oleh sebab itu, sangat penting adanya pembahasan mengenai
komponen makna dari beberapa contoh yang ditemukan dalam buku Plesetan
Republik Indonesia berikut untuk meengetahui hubungan makna antara leksem
yang terucap dengan leksem termaksud:
(37) Buah apa yang selalu melambai-lambai? Buah dada
(38) Setelah diadakan lomba debat dengan para pejabat ternyata yang dinobatkan sebagai pemenang adalah atlit silat. Terbukti selain pandai bersilat ia juga lihai bersilat lidah.
(39) Pihak Pemda Jogjakarta baru-baru ini telah mengeluarkan keputusan baru, bahwasanya bagi para pelajar Jogja mulai sekarang ini dilarang menonton bioskop memakai seragam sekolah, melainkan diwajibkan memakai duit!
Sayangnya tidak dapat dijumpai lebih banyak contoh lagi untuk membahas
polisemi dalam buku Plesetan Republik Indonesia. Pada contoh (37) dijumpai
frasa buah dada yang menjadi jawaban atas sebuah pertanyaan mengenai salah
jenis buah, tetapi jawabannya merupakan leksem terucap berupabuah dada. Frasa
buah dada tersebut menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pada
contoh ini leksem termaksud masih bersifat abstrak dan tidak dapat ditentukan. Namun, dapat diketahui bahwa leksem termaksud dalam contoh ini merupakan buah yang jenisnya tidak disebutkan secara spesifik.
Jika dilihat dari bentuk wacana yang ada, penutur bermaksud menyebutbuah
dada untuk mengatakan sesuatu yang memiliki sifat melambai-lambai; sifat
melambai-lambai mengacu pada sifat feminin dari manusia, hal ini merujuk pada
perempuan. Sifat tersebut berkaitan dengan kata buah yang nantinya akan
diturunkan menjadi frasabuah dada.
Kata buah di sini memiliki komponen makna yang mangikat hubungan kata
buah sendiri dengan buah dada. Kata buahpada umumnya bersifat menggantung