• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis-jenis plesetan serta hubungan makna antara leksem terucap dan leksem termaksud dalam humor plesetan dalam buku plesetan Republik Indonesia karya Kelik Pelipur Lara.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Jenis-jenis plesetan serta hubungan makna antara leksem terucap dan leksem termaksud dalam humor plesetan dalam buku plesetan Republik Indonesia karya Kelik Pelipur Lara."

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

ix ABSTRAK ABSTRAKABSTRAKABSTRAK Nugroho,

Nugroho,

Nugroho,Nugroho, Wendy.Wendy.Wendy.Wendy. 2015.2015.2015.2015. "Jenis-Jenis"Jenis-Jenis"Jenis-Jenis"Jenis-JenisPlesetanPlesetanPlesetanPlesetanSertaSertaSertaSerta HubunganHubunganHubunganHubungan MaknaMaknaMaknaMakna AntaraAntaraAntaraAntara Leksem

Leksem

LeksemLeksem TerucapTerucapTerucapTerucap dandandandan LeksemLeksemLeksemLeksem TermaksudTermaksudTermaksudTermaksud dalamdalamdalamdalam HumorHumorHumorHumor PlesetanPlesetanPlesetanPlesetan dalamdalamdalamdalam Buku

Buku

BukuBuku PlesetanPlesetanPlesetanPlesetan RepublikRepublikRepublikRepublik IndonesiaIndonesiaIndonesiaIndonesia karyakaryakaryakarya KelikKelikKelikKelik PelipurPelipurPelipurPelipur LaraLaraLaraLara".".".". SkripsiSkripsiSkripsiSkripsi Strata

Strata

StrataStrata 1111 (S1).(S1).(S1).(S1). Yogyakarta:Yogyakarta:Yogyakarta:Yogyakarta: ProgramProgramProgramProgram StudiStudi SastraStudiStudi SastraSastraSastra Indonesia,Indonesia,Indonesia,Indonesia, FakultasFakultasFakultasFakultas Sastra,

Sastra,

Sastra,Sastra, UniversitasUniversitasUniversitasUniversitas SanataSanataSanataSanata Dharma.Dharma.Dharma.Dharma.

Penelitian ini mengkaji hubungan makna antara leksem yang dimaksud dengan leksem terucap yang terdapat dalam wacana humor plesetan. Ada dua masalah yang diangkat dalam penelitian ini. Permasalahan yang pertama adalah jenis-jenis plesetan apa saja yang memiliki hubungan makna antara leksem terucap dan leksem termaksud. Permasalahan yang kedua adalah apa saja jenis hubungan makna antara leksem terucap dan leksem termaksud. Tujuan Penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis-jenis plesetan yang memiliki hubungan makna antara leksem terucap dengan leksem yang dimaksud dan mendeskripsikan jenis-jenis hubungan makna yang terdapat dalamplesetan.

Objek dalam penelitian ini adalahhubungan makna antara leksem terucap dengan leksem termaksud. Sumber data dalam penelitian ini adalah plesetan bahasa.Data diperoleh dari sumber pustaka berupa buku karya Kelik Pelipur Lara yang berjudul Plesetan Republik Indonesia. Data diperoleh menggunakan metode simak. Teknik catat diterapkan dengan mencatat satuan-satuan lingual yang memuat unsur plesetan. Tidak seluruh data dimasukkan ke dalam penelitian ini, penulis hanya menggunakan beberapa data yang representatif sebagai sampel. Data-data kemudian dikelompokkan berdasarkan jenisnya masing-masing.

Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini penulis menerapkan metode padan. Ada beberapa sub-jenis metode padan yang digunakan, yaitu metode padan referensial, metode padan fonetis artikulatoris, metode padan ortografis, dan metode padan translasional. Metode padan referensial, alat penentunya adalah kenyataan atau referen bahasa. Metode padan fonetis artikulatoris, alat penentunya adalah organ wicara. Metode padan ortografis, alat penentunya adalah tulisan. Metode padan translasional, alat penentunya adalah bahasa lain.

Berdasarkan penelitian ini, tidak semua jenis plesetan memiliki hubungan makna antara leksem terucap dan leksem termaksud. Hubungan makna tersebut hanya ditemui dalam jenis plesetan fonologis, plesetan grafis, plesetan ideologi, plesetan diskursi. Hubungan makna tidak ditemui dalam jenisplesetan morfemis, plesetan frasal, plesetan ekspresi. Berdasarkan hubungan makna antara leksem terucap dan leksem termaksud, plesetan dapat digolongkan menjadi (1) plesetan antonimi, (2) plesetanhomonimi, (3)plesetanpolisemi, (4) plesetanhiponimi, (5) plesetanmetonimi, dan (6)plesetanasosiatif.

(2)

x ABSTRACT ABSTRACT ABSTRACT ABSTRACT Nugroho, Nugroho,

Nugroho,Nugroho, Wendy.Wendy.Wendy.Wendy. 2015.2015.2015.2015. ““““TypesTypesTypesTypes ofofofof PlesetanPlesetanPlesetanPlesetan andandandand MeaningMeaningMeaningMeaning RelationRelationRelationRelation betweenbetweenbetweenbetween Spoken

Spoken

SpokenSpoken andandandand MeantMeantMeantMeant LexemesLexemesLexemesLexemes inininin PlesetanPlesetanPlesetanPlesetan HumorHumorHumorHumor inininin BookBookBookBook PlesetanPlesetanPlesetanPlesetan Republik

Republik

RepublikRepublik IndonesiaIndonesiaIndonesiaIndonesia bybybyby KelikKelikKelikKelik PelipurPelipur LaraPelipurPelipur LaraLaraLara””””.... StrataStrataStrataStrata 1111 (S1)(S1)(S1)(S1) Thesis.Thesis.Thesis.Thesis. Yogyakarta:

Yogyakarta:

Yogyakarta:Yogyakarta: IndonesianIndonesianIndonesianIndonesian LiteratureLiteratureLiteratureLiterature StudyStudy Program,StudyStudy Program,Program,Program, FacultyFacultyFacultyFaculty ofofofof Literature,

Literature,

Literature,Literature, SanataSanataSanataSanata DharmaDharmaDharmaDharma University.University.University.University.

This research investigated the meaning relation between meant lexemes and spoken lexemes inplesetan humor discourse. There were two problems discussed in this research. The first was what kinds ofplesetan which had meaning relation between spoken and meant lexeme were. The second was what kinds of meaning relation between spoken and meant lexemes. This research aimed to describe the types ofplesetan which had meaning relation between spoken and meant lexemes and types of meaning relation inplesetan.

The object in this research was meaning relation between meant lexemes and spoken lexemes. The data in this research was language plesetan. The data was obtained from literary resource in form of book written by Kelik Pelipur Lara entitled Plesetan Republik Indonesia. The data achieved by intensive reading. Notation technique was applied by noting lexicons which contains plesetan’s elements. The researcher did not put the whole data; only the representative ones were chosen as samples. Then, the data was classified into groups based on their types.

To answer the formulated problems in this research, the researcher applied matching method. There were several sub-types of matching method used in this research. They were referential, phonetic-articulatory, orthographic, and translational matching method. The determining instrument of referential matching method was reality or language referent. The determining instrument of phonetic-articulatory matching method was phonetic articulation devices. The determining instrument of orthographic matching method was script or writing. The determining instrument of translational matching method was other languages.

Based on this research, not allplesetanhad meaning relation between spoken and meant lexemes. The meaning relation was only found in phonological plesetan, graphic plesetan, ideological plesetan, and discourse plesetan. The meaning relation was not found in morphemic plesetan, phrasal plesetan, and expressional plesetan. Based on the meaning relation between spoken and meant lexeme, plesetan could have been classified into (1) antonymic plesetan, (2) homonymic plesetan, (3) polysemous plesetan, (4) hyponymy plesetan, (5) metonymicplesetan, and (6) associativeplesetan.

(3)

JENIS-JENIS

JENIS-JENIS

JENIS-JENIS

JENIS-JENIS

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN

SERTA

SERTA

SERTA

SERTA HUBUNGAN

HUBUNGAN

HUBUNGAN

HUBUNGAN

MAKNA

MAKNA

MAKNA

MAKNAANTARA

ANTARA

ANTARA

ANTARA LEKSEM

LEKSEM

LEKSEM

LEKSEM TERUCAP

TERUCAP

TERUCAP

TERUCAP

DAN

DAN

DAN

DAN LEKSEM

LEKSEM

LEKSEM

LEKSEM TERMAKSUD

TERMAKSUD

TERMAKSUD

TERMAKSUD

DALAM

DALAM

DALAM

DALAM HUMOR

HUMOR

HUMOR

HUMOR

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN

DALAM

DALAM

DALAM

DALAM BUKU

BUKU

BUKU

BUKU

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN REPUBLIK

REPUBLIK

REPUBLIK

REPUBLIK INDONESIA

INDONESIA

INDONESIA

INDONESIA

KARYA

KARYA

KARYA

KARYA KELIK

KELIK

KELIK

KELIK PELIPUR

PELIPUR

PELIPUR

PELIPUR LARA

LARA

LARA

LARA

Tugas Akhir

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh Wendy Nugroho NIM: 114114002

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)

i

JENIS-JENIS

JENIS-JENIS

JENIS-JENIS

JENIS-JENIS

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN

SERTA

SERTA

SERTA

SERTA HUBUNGAN

HUBUNGAN

HUBUNGAN

HUBUNGAN

MAKNA

MAKNA

MAKNA

MAKNAANTARA

ANTARA

ANTARA

ANTARA LEKSEM

LEKSEM

LEKSEM

LEKSEM TERUCAP

TERUCAP

TERUCAP

TERUCAP

DAN

DAN

DAN

DAN LEKSEM

LEKSEM

LEKSEM

LEKSEM TERMAKSUD

TERMAKSUD

TERMAKSUD

TERMAKSUD

DALAM

DALAM

DALAM

DALAM HUMOR

HUMOR

HUMOR

HUMOR

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN

DALAM

DALAM

DALAM

DALAM BUKU

BUKU

BUKU

BUKU

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN

PLESETAN REPUBLIK

REPUBLIK

REPUBLIK

REPUBLIK INDONESIA

INDONESIA

INDONESIA

INDONESIA

KARYA

KARYA

KARYA

KARYA KELIK

KELIK

KELIK

KELIK PELIPUR

PELIPUR

PELIPUR

PELIPUR LARA

LARA

LARA

LARA

Tugas Akhir

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh Wendy Nugroho NIM: 114114002

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(5)

JENIS-JEMS

PI.ESi'NIil

SERTtr.

HUBT]NGAI\I

MAKNA

ANTARA

LEKSEM

TERUCAP

DA]\I LEI(SEM

TERIIIAI(,SUD

DALAM

HUMOR

PLESETAN

DALAM

B{IKU

PLESEUN NEPADTIK TNDONESIA

KARYA

KELIKPELIPUR LARA

Oleh:

Wendy Nugroho

Nllvt ll4ll4002

Prof. I. Prapta$o Baryadi, M. Hum.

a':

Tanggal:Z5funi 2015

.

'.:

'

a---/

Tanggal:25 Juni 2015

Antonq M. Hum.

.

telah disetujui oleh:

(6)

JEIVIS-JENIS

PI.ESE' TAN SERTA HTJBUNGAN

MAKNA

AI\TTARA

LEKSEM

TERUCAP

DAII

LEKSEIVI

TERMAKSUD

DALAM

HT}MOR

PLESETAN

DALAM

BUKU

PLESETAN REPUBTIX

INDONESIA

KARYA

KELIK PELIPUR LARA

Dipersiapkan dan ditrlis oleh

Wendy Nugroho NIM: I14114002

Tetah dipertahanl€n di depan Panitia Penguji

Pada?l Juli 2015

Dan dinyatakan memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap

"--:

Ketua

Sekretaris

Anggota

Drs. HeryAntono, M.Hum.

S.E. PeniAdjio S.S., M.Hum.

Dr. P.Ari Subagyo, M.Hum. Dm. HeryAntono, M.Hum.

nof, pr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum.

Sastra

31 Juli 2015 Sanata Dharma

ru

(7)

iv

MOTTO MOTTOMOTTOMOTTO

"Eyes can see, and a mind can think. Insanity is just one step away."

~Simon Deimel~

(8)

PERNYATAAI\I KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tugas akhir yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Juli 2015

Wendy Nugroho Yogyakarta, 2l

Penulis

(9)

PERNYATAAN PERSETUJUAII PUBLIKASI KARYA

ILMIAH

UNTUK

KEPENTINGAII AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, safr,olhurir*u Universitas Sanata Dharma:

Nama :

Wendy Nugroho

NIM

:114114002

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul "Jenis-Jenis Plesetan Serta Hubungan Makna Antara Leksem Terucap dan Leksem Tennaksud dalam Hulnor Plesetan dalam Buku Plesetan Republik Indonesia karya Kelik Pelipur

Lara" beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya

memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma h'ak menyimpan,

mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data,

mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di intemet atau media

yang lain untuk kepentingan akademis tanpa meminta

ijin

dari saya maupun

memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai

,

penulis.

Demikian pemyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

-Pada tanggal2I IuLi 2014

Yang menyatakan

,a

Wendy Nugroho I

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang selalu membimbing dan

I -'- \

menuntun penulis dalam perjalanan pengerjaan skripsi ini, Sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan gelar sarjana

di

Fakultas Sastra,

Program Studi Sastra Indonesia" Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, skripsi

ini

telah berhasil diselesaikan. Peneliti menyadari bahwa skripsi

ini

tidak akan

selesai tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak baik yang terlibat secara

langsung, maupun yang tidak terlibat secara langsung. Oleh sebab itu, penulis

hendak rnengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut memberikan

bantuan dan dukungan, yaitu:

L

Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum. selaku dosen pernbimbing

i

yang

telah membimbing dengan penuh kesabaran dan memberikan memberi

dukungan, semangat, masukan sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan.

2.

Drs. Hery Antono, M.Hum. selaku dosen pembimbing

II

yang telah

membimbing ,"rtu memberikan saran, masukan, perhatian, dan dorongan

mental.

Seluruh dosen Program Studi Sastra Indonesia: Drs.

B.

Rahmanto,

M.Hum., Drs. F.X. Santoso, M.S., Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum., Dra. Fr.

Tjandrasih, M.Hum., S.E. Peni Adji, S.S., M.Hum., Dr. Yosepiapi Taum,

M.Hum., Prof Dr. I Dewa Putu Wijana, SU, MA., yang telah memberikan

bekal

ilmupengeahrun-Seluruh staf

sfuid

Fakultas sastra atas segala bentuk bantuan yang

telah

diberilcm-a

(11)

5.

6.

7.

8.

=9.

10.

Staf

UPT

Perpustakaan Universitas Sanata Dharma _

yang

telah

memberikan pelayanan untuk memperoleh sumber-sumber dan referensi.

Orangtua penulis,

Oei Hok An

yang

tulus

hati

membiayai dan

mendoakan penulis dalam mqreqluh pendidikan hingga menyelesaikan

skripsi ini.

Gabriela Melati Putri sebagai orang spesial yang mendukung dan

mengingatkan penulis untuk menyel esaikan skrips i

Rafael Marion Galley yang telah membantu menerjemahkan abstrak

penelitian ini ke dalam bahasa Inggris.

Teman-teman sedarah-seperjuangan angkatan 20 1 1 Sastra Indonesia uSD yang telah membagi waktu dan pengalamannya.

I

Seluruh

Awak

notos

dan

pemukim

di

Rumah

nolqs,

seluruh teman-teman Sastra, teman-teman Jaksa, teman-teman Media Sastra.

Yogyakarta, 25 Juni 2015

,h

Penulis
(12)

ix

ABSTRAK ABSTRAKABSTRAKABSTRAK Nugroho,

Nugroho,

Nugroho,Nugroho, Wendy.Wendy.Wendy.Wendy. 2015.2015.2015.2015. "Jenis-Jenis"Jenis-Jenis"Jenis-Jenis"Jenis-JenisPlesetanPlesetanPlesetanPlesetanSertaSertaSertaSerta HubunganHubunganHubunganHubungan MaknaMaknaMaknaMakna AntaraAntaraAntaraAntara Leksem

Leksem

LeksemLeksem TerucapTerucapTerucapTerucap dandandandan LeksemLeksemLeksemLeksem TermaksudTermaksudTermaksudTermaksud dalamdalamdalamdalam HumorHumorHumorHumor PlesetanPlesetanPlesetanPlesetan dalamdalamdalamdalam Buku

Buku

BukuBuku PlesetanPlesetanPlesetanPlesetan RepublikRepublikRepublikRepublik IndonesiaIndonesiaIndonesiaIndonesia karyakaryakaryakarya KelikKelikKelikKelik PelipurPelipurPelipurPelipur LaraLaraLaraLara".".".". SkripsiSkripsiSkripsiSkripsi Strata

Strata

StrataStrata 1111 (S1).(S1).(S1).(S1). Yogyakarta:Yogyakarta:Yogyakarta:Yogyakarta: ProgramProgramProgramProgram StudiStudi SastraStudiStudi SastraSastraSastra Indonesia,Indonesia,Indonesia,Indonesia, FakultasFakultasFakultasFakultas Sastra,

Sastra,

Sastra,Sastra, UniversitasUniversitasUniversitasUniversitas SanataSanataSanataSanata Dharma.Dharma.Dharma.Dharma.

Penelitian ini mengkaji hubungan makna antara leksem yang dimaksud dengan leksem terucap yang terdapat dalam wacana humor plesetan. Ada dua masalah yang diangkat dalam penelitian ini. Permasalahan yang pertama adalah jenis-jenis plesetan apa saja yang memiliki hubungan makna antara leksem terucap dan leksem termaksud. Permasalahan yang kedua adalah apa saja jenis hubungan makna antara leksem terucap dan leksem termaksud. Tujuan Penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis-jenis plesetan yang memiliki hubungan makna antara leksem terucap dengan leksem yang dimaksud dan mendeskripsikan jenis-jenis hubungan makna yang terdapat dalamplesetan.

Objek dalam penelitian ini adalahhubungan makna antara leksem terucap dengan leksem termaksud. Sumber data dalam penelitian ini adalah plesetan

bahasa.Data diperoleh dari sumber pustaka berupa buku karya Kelik Pelipur Lara yang berjudul Plesetan Republik Indonesia. Data diperoleh menggunakan metode simak. Teknik catat diterapkan dengan mencatat satuan-satuan lingual yang memuat unsur plesetan. Tidak seluruh data dimasukkan ke dalam penelitian ini, penulis hanya menggunakan beberapa data yang representatif sebagai sampel. Data-data kemudian dikelompokkan berdasarkan jenisnya masing-masing.

Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini penulis menerapkan metode padan. Ada beberapa sub-jenis metode padan yang digunakan, yaitu metode padan referensial, metode padan fonetis artikulatoris, metode padan ortografis, dan metode padan translasional. Metode padan referensial, alat penentunya adalah kenyataan atau referen bahasa. Metode padan fonetis artikulatoris, alat penentunya adalah organ wicara. Metode padan ortografis, alat penentunya adalah tulisan. Metode padan translasional, alat penentunya adalah bahasa lain.

Berdasarkan penelitian ini, tidak semua jenis plesetan memiliki hubungan makna antara leksem terucap dan leksem termaksud. Hubungan makna tersebut hanya ditemui dalam jenis plesetan fonologis, plesetan grafis, plesetan ideologi,

plesetan diskursi. Hubungan makna tidak ditemui dalam jenisplesetan morfemis,

plesetan frasal, plesetan ekspresi. Berdasarkan hubungan makna antara leksem terucap dan leksem termaksud, plesetan dapat digolongkan menjadi (1) plesetan

antonimi, (2) plesetanhomonimi, (3)plesetanpolisemi, (4) plesetanhiponimi, (5)

(13)

x ABSTRACT ABSTRACT ABSTRACT ABSTRACT Nugroho, Nugroho,

Nugroho,Nugroho, Wendy.Wendy.Wendy.Wendy. 2015.2015.2015.2015. ““““TypesTypesTypesTypes ofofofof PlesetanPlesetanPlesetanPlesetan andandandand MeaningMeaningMeaningMeaning RelationRelationRelationRelation betweenbetweenbetweenbetween Spoken

Spoken

SpokenSpoken andandandand MeantMeantMeantMeant LexemesLexemesLexemesLexemes inininin PlesetanPlesetanPlesetanPlesetan HumorHumorHumorHumor inininin BookBookBookBook PlesetanPlesetanPlesetanPlesetan Republik

Republik

RepublikRepublik IndonesiaIndonesiaIndonesiaIndonesia bybybyby KelikKelikKelikKelik PelipurPelipur LaraPelipurPelipur LaraLaraLara””””.... StrataStrataStrataStrata 1111 (S1)(S1)(S1)(S1) Thesis.Thesis.Thesis.Thesis. Yogyakarta:

Yogyakarta:

Yogyakarta:Yogyakarta: IndonesianIndonesianIndonesianIndonesian LiteratureLiteratureLiteratureLiterature StudyStudy Program,StudyStudy Program,Program,Program, FacultyFacultyFacultyFaculty ofofofof Literature,

Literature,

Literature,Literature, SanataSanataSanataSanata DharmaDharmaDharmaDharma University.University.University.University.

This research investigated the meaning relation between meant lexemes and spoken lexemes inplesetan humor discourse. There were two problems discussed in this research. The first was what kinds ofplesetan which had meaning relation between spoken and meant lexeme were. The second was what kinds of meaning relation between spoken and meant lexemes. This research aimed to describe the types ofplesetan which had meaning relation between spoken and meant lexemes and types of meaning relation inplesetan.

The object in this research was meaning relation between meant lexemes and spoken lexemes. The data in this research was language plesetan. The data was obtained from literary resource in form of book written by Kelik Pelipur Lara entitled Plesetan Republik Indonesia. The data achieved by intensive reading. Notation technique was applied by noting lexicons which contains plesetan’s elements. The researcher did not put the whole data; only the representative ones were chosen as samples. Then, the data was classified into groups based on their types.

To answer the formulated problems in this research, the researcher applied matching method. There were several sub-types of matching method used in this research. They were referential, phonetic-articulatory, orthographic, and translational matching method. The determining instrument of referential matching method was reality or language referent. The determining instrument of phonetic-articulatory matching method was phonetic articulation devices. The determining instrument of orthographic matching method was script or writing. The determining instrument of translational matching method was other languages.

Based on this research, not allplesetanhad meaning relation between spoken and meant lexemes. The meaning relation was only found in phonological

plesetan, graphic plesetan, ideological plesetan, and discourse plesetan. The meaning relation was not found in morphemic plesetan, phrasal plesetan, and expressional plesetan. Based on the meaning relation between spoken and meant lexeme, plesetan could have been classified into (1) antonymic plesetan, (2) homonymic plesetan, (3) polysemous plesetan, (4) hyponymy plesetan, (5) metonymicplesetan, and (6) associativeplesetan.

(14)

xi

DAFTAR

DAFTARDAFTARDAFTAR BAGANBAGANBAGANBAGAN

(15)

xii

DAFTAR

DAFTARDAFTARDAFTAR TABELTABELTABELTABEL

(16)

xiii

DAFTAR DAFTAR DAFTAR DAFTAR ISIISIISIISI

HALAMAN HALAMAN

HALAMANHALAMAN JUDULJUDULJUDULJUDUL ... i

HALAMAN HALAMAN HALAMANHALAMAN PERSETUJUANPERSETUJUANPERSETUJUANPERSETUJUAN PEMBIMBINGPEMBIMBINGPEMBIMBINGPEMBIMBING ... ii

HALAMAN HALAMAN HALAMANHALAMAN PENGESAHANPENGESAHANPENGESAHANPENGESAHAN PENGUJIPENGUJIPENGUJIPENGUJI... iii

MOTTO MOTTO MOTTOMOTTO... iv

PERNYATAAN PERNYATAAN PERNYATAANPERNYATAAN KEASLIANKEASLIANKEASLIANKEASLIAN KARYAKARYAKARYAKARYA... v

LEMBAR LEMBAR LEMBARLEMBAR PERSETUJUANPERSETUJUANPERSETUJUANPERSETUJUAN PUBLIKASIPUBLIKASIPUBLIKASIPUBLIKASI... vi

KATA KATA KATAKATA PENGANTARPENGANTARPENGANTARPENGANTAR ... vii

ABSTRAK ABSTRAK ABSTRAKABSTRAK ... ix

ABSTRACT ABSTRACT ABSTRACTABSTRACT ... x

DAFTAR DAFTAR DAFTARDAFTAR BAGANBAGANBAGANBAGAN ... xi

DAFTAR DAFTAR DAFTARDAFTAR TABELTABELTABELTABEL... xii

DAFTAR DAFTAR DAFTARDAFTAR ISIISIISIISI... xiii

BAB BAB BABBAB IIII PENDAHULUANPENDAHULUANPENDAHULUANPENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

1.5 Tinjauan Pustaka ... 7

1.6 Landasan Teori ... 8

1.7 Sumber Data ... 16

1.8 Metode Penelitian ... 16

1.9 Sistematika Penyajian ... 19

BAB BAB BABBAB IIIIIIII JENIS-JENISJENIS-JENISJENIS-JENISJENIS-JENIS PLESETANPLESETAN YANGPLESETANPLESETAN YANGYANGYANG MEMILIKIMEMILIKIMEMILIKIMEMILIKI HUBUNGANHUBUNGANHUBUNGANHUBUNGAN MAKNA MAKNA MAKNAMAKNA ANTARAANTARAANTARAANTARA LEKSEMLEKSEMLEKSEMLEKSEM TERUCAPTERUCAPTERUCAPTERUCAP DENGANDENGANDENGANDENGAN LEKSEMLEKSEMLEKSEMLEKSEM YANGYANGYANGYANG DIMAKSUD DIMAKSUD DIMAKSUDDIMAKSUD 2.1 Pengantar ... 20

(17)

xiv

2.3 PlesetanGrafis ... 23

2.4 PlesetanMorfemis ... 26

2.5 PlesetanFrasal ... 27

2.6 PlesetanEkspresi ... 29

2.7 PlesetanIdeologi ... 32

2.8 PlesetanDiskursi ... 34

BAB BAB BABBAB IIIIIIIIIIII HUBUNGANHUBUNGANHUBUNGANHUBUNGAN MAKNAMAKNAMAKNAMAKNA ANTARAANTARA LEKSEMANTARAANTARA LEKSEMLEKSEMLEKSEM TERUCAPTERUCAPTERUCAPTERUCAP DENGANDENGANDENGANDENGAN LEKSEM LEKSEM LEKSEMLEKSEM YANGYANGYANGYANG DIMAKSUDDIMAKSUDDIMAKSUDDIMAKSUD DALAMDALAMDALAMDALAM PLESETANPLESETANPLESETANPLESETAN 3.1 Pengantar ... 38

3.2 PlesetanAntonimi ... 39

3.3 PlesetanHomonimi ... 44

3.4 PlesetanPolisemi ... 50

3.5 PlesetanHiponimi ... 53

3.6 PlesetanMetonimi ... 58

3.7 PlesetanAsosiatif ... 61

BAB BAB BABBAB IVIVIVIV PENUTUPPENUTUPPENUTUPPENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 65

4.2 Saran ... 66

DAFTAR DAFTAR DAFTARDAFTAR PUSTAKAPUSTAKAPUSTAKAPUSTAKA ... 67

(18)

BAB BAB BAB BAB IIII

PENDAHULUAN PENDAHULUAN PENDAHULUAN PENDAHULUAN

1.1 1.1

1.11.1 LatarLatarLatarLatar BelakangBelakangBelakangBelakang MasalahMasalahMasalahMasalah

Plesetancukup lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Pada tahun 1970-an,

plesetan mulai banyak dipraktikkan oleh pelawak-pelawak Indonesia. Salah satu

pelawak tahun 1970-an yang sering menggunakan plesetan dalam lawakannya

adalah Basiyo, seorang pelawak dari Yogyakarta yang terkenal karena

plesetan-nya.

Namun, pada kenyataannya plesetan tidak hanya digunakan oleh para

pelawak saja. Plesetan sering muncul dalam perbincangan masyarakat pada

umumnya. Plesetanbiasanya muncul pada situasi informal atau keseharian, tetapi

plesetan bisa juga muncul pada situasi yang formal. Karena sifatnya yang

menimbulkan gelak tawa, plesetan biasanya menjadi pelumas dalam komunikasi

dan sering dimanfaatkan untuk mencairkan suasana.

Mengutip tuturan Wijana (2004: 2) dalam bukunya yang berjudul Kartun:

Studi tentang Permainan Bahasa, humor adalah salah satu bentuk permainan.

Sebagai homo ludens1 manusia gemar bermain. Plesetan merupakan fenomena

yang tidak hanya dialami oleh masyarakat Indonesia. Sebagai homo ludens,

manusia di manapun mereka berada gemar bermain. Istilah swerving words

merupakan bukti bahwa plesetan juga ada dalam bentuk bahasa Inggris. Hal ini

dipengaruhi oleh adanya sifat dasar suatu bahasa, yaitu arbitrer. Jadi, bahasa

memiliki fleksibilitas tergantung siapa yang menggunakannya.

(19)

Karena plesetan telah menjadi semacam kebiasaan atau permainan dalam

kehidupan masyarakat Indonesia, plesetan dimanfaatkan pula dalam bidang

ekonomi. Di dunia hiburan, dijumpai Ketoprak Plesetan pada tahun 1990-an. Di

dunia perkausan, plesetan menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta kaus dan

pecinta plesetan.Dagadu adalah merk salah satu kausplesetan yang berasal dari

kota Yogyakarta.

Menurut Baryadi (2003: 37), plesetan dapat dimengerti sebagai tindak tutur

yang menggelincirkan satuan lingual yang secara konvensional telah memiliki

bentuk-makna tertentu ke satuan lingual yang memiliki bentuk-makna lain.

Berikut adalah salah satu contohplesetan:

(1) Swedia payung sebelum hujan

Pada contoh tersebut dapat dimengerti bahwa plesetan tersebut merupakan

penggelinciran dari sebuah peribahasa yang sudah memiliki bentuk dan makna

tertentu, yaituSedia payung sebelum hujan. Contohplesetantersebut menjadi hal

yang lucu jika didengar oleh orang berbahasa Indonesia yang, tentu saja, mengerti

wujud konvensional peribahasa aslinya, yaitu yang seharusnyasediadigelincirkan

menjadiswedia.

Dalam dunia plesetan, nama Raden Kelik Sumaryoto sudah tidak asing lagi.

Pelawak yang lebih akrab dikenal dengan nama Kelik Pelipur Lara ini

menciptakanplesetan-plesetan yang bersifat mengkritik dan menyindir. Pria yang

(20)

meliputi:Please Edan, Plesetan dengan Kau, Plesetan Relublik Indonesia.

Ada faktor yang mempengaruhi kelucuan suatu plesetan. Faktor eksternal

berasal dari konteks yang dialami para pendengar atau pembaca. Faktor internal

berasal dari plesetan itu sendiri. Oleh sebab itu, perlu dilakukan sebuah tinjauan

mengenai kelucuan tersebut.

Pada kasus ini, penulis tidak akan membahas mengenai konteks pendengar

atau pembaca suatu plesetan karena penelitian mengenai konteks penggunaan

telah banyak dilakukan.

Penulis lebih tertarik meneliti faktor struktural plesetan. Berdasarkan konsep

hubunganin absentia Saussure, dalam plesetanditemui hubungan asosiatif antara

satuan lingual yang diucapkan dalam tuturan dengan satuan lingual lain yang tidak

hadir dalam tuturan. Hubungan tersebut dimungkinkan sebagai hubungan makna.

Hubungan makna yang dimaksud adalah hubungan semantis baik bentuk maupun

makna suatu satuan lingual dengan satuan lingual lain. Berikut adalah contoh

hubungan absensia padaplesetan:

(2) + Binatang apa yang paling kaya?

- Beruang

Dalam tuturan hadir leksem beruang yang bermakna 'binatang'. Leksem

tersebut mengasosiasikan satuan lingual lain yang tidak hadir dalam tuturan, yaitu

beruang yang bermakna 'memiliki uang'. Dari kedua leksem tersebut,

(21)

Secara semantis, sebenarnya kedua kata beruang tersebut memiliki makna

yang sangat berbeda. Beruang1 merupakan suatu bentuk dasar yang bermakna

'binatang', sedangkanberuang2berasal dari kata uangyang mendapat awalanber

-sehingga menjadi kata beruangyang secara tidak disengaja memiliki bentuk yang

sama dengan kata beruang yang bermakna 'binatang' tersebut. Karena kedua kata

tersebut memiliki susunan bunyi dan susunan ortografis yang sama, plesetan

tersebut merupakanplesetanhomonimi.

Seperti pada contoh tersebut, suatuplesetanselalu berdasarkan bentuk satuan

lingual yang telah diakui secara konvensional. Keseluruhan atau sebagian dari

bentuk konvensional tersebut diganti dengan satuan lingual lain yang memiliki

kemiripan. Hal ini didukung dengan adanya asosiasi satuan lingual dengan satuan

lingual lain yang memiliki kemiripan bentuk atau makna. Atas dasar kemiripan

tersebut, dilakukanlah substitusi atas kedua satuan lingual tersebut untuk

memunculkan kelucuan. Penerapan prinsip ini dilakukan secara beragam sehingga

memunculkan jenis-jenisplesetanyang beragam pula.

Untuk memudahkan pembahasan mengenai konsep ini, penulis memilih

istilah leksem terucap sebagai sebutan untuk satuan kebahasaan yang

digelincirkan dan leksem yang dimaksud sebagai sebutan untuk bentuk

konvensional suatuplesetan.

Selain leksem terucap dan leksem yang dimaksud, sebenarnya ada maksud

atau tujuan plesetan. Namun, hal tersebut dibahas dalam ranah pragmatik,

misalnya adanya pelanggaran maksim pada leksem terucap sehingga menyindir

(22)

Berikut adalah gambar mengenai hubungan antara tiga unsurplesetan:

A B

Bagan 1. Ranah yang Dibahas dalam Pembahasan

Dalam penelitian ini penulis hanya akan membahas mengenai hubungan yang

ditunjukkan oleh huruf A pada gambar 1.1. Penulis tidak akan membahas

hubungan yang ditunjukkan oleh huruf B agar pembahasan lebih fokus dan sesuai

dengan topik yang diangkat dalam penelitian ini.

Pada praktiknya tidak semuaplesetanmemiliki hubungan makna seperti yang

telah dibahas sebelumnya. Berikut adalah contoh plesetan yang tidak memiliki

hubungan makna:

(3) + Makanan apa yang disukai anak-anak?

- Donat. Donat Bebek

Kata Donat pada contoh tersebut merupakan substitusi dari kata Donal. Hal

ini disebabkan oleh adanya kata Bebek yang secara konvensional diakui oleh

masyarakat sebagai Donal Bebek. Hubungan asosiatif pada kata Donat dengan Leksem

Terucap

Maksud/Tujuan Leksem yang

(23)

Donal memang terbukti ada, tetapi kedua kata tersebut tidak memiliki hubungan

makna sama sekali. Kedua kata tersebut hanya memiliki susunan bunyi dan

ortografis yang mirip.

Karena tidak semua plesetan memiliki hubungan makna, perlu dilakukan

tinjauan mengenai jenisplesetanyang memiliki hubungan makna.

Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis akan menggali keberadaan

hubungan makna yang terdapat dalam plesetan dan merumuskan jenis-jenis

plesetan berdasarkan hubungan makna yang teredapat di dalamnya. Hubungan

makna menjadi hal yang sangat penting untuk dibahas karena hubungan makna

itulah yang secara tidak disadari membuat konkret kata "lucu" yang masih bersifat

relatif.

1.2 1.2

1.21.2 RumusanRumusanRumusanRumusan MasalahMasalahMasalahMasalah

Dari batasan masalah yang telah dijelaskan di Latar Belakang Masalah,

permasalahan bisa dirumuskan sebagai berikut:

1. Apa saja jenis-jenis plesetan yang memiliki hubungan makna antara

leksem terucap dengan leksem yang dimaksud dalam buku Plesetan

Republik Indonesiakarya Kelik Pelipur Lara?

2. Apa saja hubungan makna antara leksem terucap dengan leksem yang

dimaksud yang terdapat pada wacana humor plesetan dalam buku

(24)

1.3 1.3

1.31.3 TujuanTujuanTujuanTujuan PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian

Berdasarkan permasalahan yang akan dibahas, penelitian ini bertujuan:

1.3.1 Mendeskripsikan jenis-jenis plesetan yang memiliki hubungan makna

antara leksem terucap dengan leksem yang dimaksud dalam buku

Plesetan Republik Indonesiakarya Kelik Pelipur Lara.

1.3.2 Mendeskripsikan berbagai jenis hubungan makna antara leksem terucap

dengan leksem yang dimaksud dalam beberapa wacana humor plesetan

dalam bukuPlesetan Republik Indonesiakarya Kelik Pelipur Lara.

1.4 1.4

1.41.4 ManfaatManfaatManfaatManfaat HasilHasilHasilHasil PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian

Hasil penelitian ini memberikan sumbangan teori dalam semantik berupa

hubungan makna yang terdapat dalam humor plesetan. Secara tidak langsung,

penelitian ini juga memberikan teori mengenai bagaimana hubungan makna

terbentuk dalamplesetan.

Secara praktis penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi dalam bidang

humor dan plesetan. Dengan melihat adanya hubungan makna dalam plesetan,

teori yang terdapat dalam penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi untuk

menciptakan plesetan-plesetan baru yang memiliki hubungan makna antara

leksem terucap dengan leksem yang dimaksud.

1.5 1.5

1.51.5 TinjauanTinjauanTinjauanTinjauan PustakaPustakaPustakaPustaka

Penulis menemukan sebuah penelitian dengan judul topik "Proses

(25)

Dalam tulisannya, dia meneliti bagaimana plesetan dalam satuan lingual itu

tertentuk dan apa saja jenisnya.

Purwanti, juga meneliti plesetan. Dalam tulisannya yang berjudul Analisis

Wacana Plesetan pada Kaos Dagadu Djokdja (Kajian Pragmatik), Purwanti tidak

menggunakan pendekatan semantik, tetapi pragmatik. Dia lebih mengerucutkan

objeknya khusus plesetanyang ada pada kaus Dagadu Djokdja. Dia lebih melihat

fenomena pragmatik apa saja yang terjadi dalam plesetan pada kaus Dagadu,

teknik penciptaan, dan bagaimana bentuk tindak tuturnya.

Semantik saat ini belum banyak digunakan untuk dijadikan sebagai

persepktif dalam mengkaji plesetan. Rachmat Widodo memang pernah

mengangkat soal humor plesetan. Namun topik yang penulis angkat ini memiliki

kebaruan, yaitu tentang hubungan makna.

1.6 1.6

1.61.6 LandasanLandasanLandasanLandasan TeoriTeoriTeoriTeori

Berikut akan dijelaskan beberapa teori yang menjadi landasan dalam

penelitian ini, yaitu (a)plesetan, (b) jenis-jenisplesetan, dan (c) relasi makna.

1.6.1 1.6.1

1.6.11.6.1 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetan

Plesetandapat digambarkan sebagai kegiatan berbahasa yang mengutamakan

atau memanfaatkan secara maksimal pembentukan berbagai pernyataan dan aneka

makna yang dimungkinkan oleh sifat sewenang-wenang pada kaitan

penanda-makna-realitas empirik (Heryanto 1996: 110).

Plesetan dapat dimengerti sebagai tindak tutur yang menggelincirkan satuan

lingual yang secara konvensional telah memiliki bentuk-makna tertentu ke satuan

(26)

Biasanya, dalam eksekusinya, plesetanmenggelincirkan suatu makna dengan

mengubah bahasa dalam berbagai taraf. Adaplesetanyang hanya mengubah bunyi

suatu kata, tetapi ada juga plesetanyang mengubah atau menggelincirkan struktur

kebahasaan yang lebih rumit, seperti fungsi gramatik, kata atau frasa secara

keseluruhan, hingga satu wacana secara utuh.

Verhaar (1996: 385-386) menyebutkan bahwa fonem tidaklah membawa arti,

tetapi berperan sebagai pembeda makna. Jadi, jika alur logikanya ditarik ke dalam

konteksplesetan, perubahan fonem atau bunyi yang terjadi dalam plesetansangat

berpotensi menyebabkan penggelinciran makna karena satupun bunyi berubah,

menimbulkan perubahan makna. Begitu pula dengan penggelinciran struktur

kebahasaan yang lebih rumit, potensi lahirnya plesetan pun semakin besar. Fonem,

sebagai satuan tingkat kebahasaan paling sederhana, adalah sarana paling mudah

untuk menciptakanplesetan. Itu sebabnya, plesetandengan melibatkan perubahan

fonem sangat sering kita jumpai.

Plesetan jenis homonim—hal ini akan dijelaskan dalam pembahasan tentang

jenis-jenis plesetan berdasarkan relasi makna—terkadang akan disalahartikan

sebagai metafora. Namun, Ratna (2009: 181) dalam bukunya yang berjudul

Stilistika: Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya menyatakan bahwa

metafora, secara luas atau umum, dapat dimengerti sebagai penggunaan bahasa

yang dianggap 'menyimpang' dari bahasa baku. Konsep penyimpangan dalam

metafora tersebut memiliki konsep yang sama dengan konsep penyimpangan

dalamplesetan. Jadi, pada konteks tertentu, metafora juga dapat dianggap sebagai

(27)

1.6.2 1.6.2

1.6.21.6.2 Jenis-JenisJenis-JenisJenis-JenisJenis-JenisPlesetanPlesetanPlesetanPlesetan

Berdasarkan tingkat kebahasaannya, Sibarani (2004 dalam Ni Made Dhianari,

2011: 15-16) mengelompokkan plesetan berdasarkan tingkat kebahasaannya

menjadi 7 jenis, yaituplesetan fonologis (bunyi),plesetangrafis (huruf), plesetan

morfemis (leksikon),plesetan frasal (kelompok kata), plesetankalimat (ekspresi),

plesetanideologis (semantis),plesetandiskursi (wacana).

1.6.2.1 1.6.2.1

1.6.2.11.6.2.1 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanFonologisFonologisFonologisFonologis

Plesetanfonologis (bunyi) yaitu plesetan yang menggelincirkan fonem suatu

satuan lingual. Dhianari (2011: 15) menyebutkan bahwa plesetan fonologis pada

umumnya digunakan untuk memperolok-olok atau mengejek orang lain. Contoh:

Robertdiplesetkan menjadiRobek.

1.6.2.2 1.6.2.2

1.6.2.21.6.2.2 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanGrafisGrafisGrafisGrafis

Perlu dipahami bahwa katagrafis di sini bukan bermakna gambar, melainkan

huruf. Plesetan jenis ini menggelincirkan setiap huruf pada suatu satuan lingual

dengan menganggapnya memiliki kepanjangannya masing-masing sehingga

satuan lingual tersebut menjadi sebuah singkatan.

Plesetan Grafis (huruf) yaitu plesetan gabungan huruf dengan menjadikannya sebagai singkatan. Contoh: ABCD diplesetkan menjadi ABRI Bukan Cepak Doang. Hasil akhir plesetan ini hampir sama dengan singkatan atau akronim. Namun, perbedaannya terletak pada proses pembentukannya. Singkatan pada umumnya dibentuk setelah ada bentuk yang panjangnya sehingga dibentuk menjadi singkatan atau akronim, contohnya: Sekolah Menengah Atas disingkat menjadi SMA. Namun, plesetan pada umumnya gabungan hurufnya telah lebih dahulu ada atau diciptakan kemudian diberi kepanjangan. Misalnya MBA menjadi Married By Accident. (Dhianari. 2011: 15-16)

1.6.2.3 1.6.2.3

1.6.2.31.6.2.3 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanMorfemisMorfemisMorfemisMorfemis

(28)

kata dengan menjadikan atau menganggapnya sebagai akronim. Berbeda dengan

plesetan grafis, plesetan morfemis menggelincirkan setiap morfem dari satuan

lingual dengan menganggapnya memiliki kepanjangan. Misalnya, nama Agus

diplesetkan menjadiAgak GUndul Sedikit.

1.6.2.4 1.6.2.4

1.6.2.41.6.2.4 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanFrasalFrasalFrasalFrasal

Plesetan frasal (kelompok kata) yaitu, seperti plesetan morfemis, plesetan

yang menggunakan frasa dan menganggapnya sebagai akronim. Bedanya, jika

plesetan frasal melibatkan frasa atau kelompok kata, plesetan morfemis

melibatkan morfem saja. Misalnya, frase Botol Lampu diplesetkan menjadi

BOdoh TOLol LAMbat PUla.

1.6.2.5 1.6.2.5

1.6.2.51.6.2.5 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanEkspresiEkspresiEkspresiEkspresi

Plesetan kalimat (ekspresi) yaitu plesetan sebuah kalimat dengan cara

mengubah kata-katanya sehingga mengubah baik secara parsial atau keseluruhan

makna sebuah kalimat tanpa mengubah struktur dan intonasi kalimat tersebut.

Misalnya, teks lagu “Ayo Maju Maju” diplesetkan menjadi “Tidak Maju Maju.

1.6.2.6 1.6.2.6

1.6.2.61.6.2.6 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanIdeologisIdeologisIdeologisIdeologis

Plesetan ideologis (semantis) yaitu plesetan sebuah ide menjadi ide lain

dengan bentuk linguistik yang sama. Misalnya,hidup tak hidup, pandangan hidup,

pegangan hidupdigelincirkan menjadidipandang saja sudah hidupataudipegang

baru hidup.

1.6.2.7 1.6.2.7

1.6.2.71.6.2.7 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanDiskursiDiskursiDiskursiDiskursi

Plesetan diskursi (wacana) yaitu plesetan dengan tingkat kerumitan paling

(29)

fakta, kenyataan, atau alur logika wacana yang sebenarnya. Misalnya: Andaikata

celana Anda terkena noda, so pasti akan mengurangi penampilan Anda. Nah,

untuk menghilangkan noda pada celana Anda sangatlah mudah untuk

mengantisipasinya. Pertama-tama, rendamlah celana Anda pada air hangat

selama 15 menit. Kedua peras dan jemurlah di depan pagar rumah Anda selama

24 jam. Dijamin sebelum 24 jam, noda yang menempel pada celana Anda akan

hilang seketika, berikut celananya. Contoh tersebut menggelincirkan sebuah

wacana menghilangkan noda pada celana menjadi menghilangkan noda beserta

celana.

1.6.3 1.6.3

1.6.31.6.3 RelasiRelasiRelasiRelasi MaknaMaknaMaknaMakna

Dalam semantik, satuan-satuan kebahasaan memiliki hubungan bentuk dan

makna dengan satuan kebahasaan yang lain. Selain itu, satuan-satuan kebahasaan

dimungkinkan memiliki berbagai makna (Wijana dan Rohmadi 2011: 19). Wijana

memberikan contoh kata putih. Kata putih memiliki beberapa hubungan. Kata

putihmemiliki hubungan dengan katasuci. Kataputihmemiliki hubungan dengan

hitam. Kata putih juga memiliki hubungan dengan kata kuning, biru, cokelat,

merahdan warna-warna lainnya.

Namun, ada juga satuan-satuan bahasa yang tidak memiliki hubungan makna,

tetapi secara kebetulan memiliki hubungan bentuk. Wijana memberikan contoh

binatang beruang memiliki hubungan bentuk secara tidak sengaja dengan kata

beruang 'memiliki uang' dan beruang 'memiliki ruang'.

Dari beberapa hubungan itu, Wijana menyimpulkan bahwa sinonimi,

(30)

semantik (Wijana dan Rohmadi 2011: 20).

1.6.3.1 1.6.3.1

1.6.3.11.6.3.1 SinonimiSinonimiSinonimiSinonimi

Sinonimi adalah hubungan atau relasi persamaan makna. Jadi, bentuk

kebahasaan yang satu memiliki kesamaan makna dengan bentuk kebahasaan lain

(Wijana dan Rohmadi 2011: 20). Wijana mengatakan bahwa meskipun kata-kata

yang bersinonim memiliki kesamaan makna, itu pun tidak menyuruh. Kesamaan

menyeluruh (complete synonym) tidak pernah dijumpai (Wijana dan Rohmadi

2011: 20).

Setiap bentuk kebahasaan yang memiliki struktur fonemis yang berbeda dapat

dipastikan memiliki makna yang berbeda, betapa pun kecilnya (Bloomfield

1993: 145 dalam Wijana dan Rohmadi 2011: 20).

1.6.3.2 1.6.3.2

1.6.3.21.6.3.2 AntonimiAntonimiAntonimiAntonimi

Antonimi oleh Wijana disebut sebagai perlawanan kata. Antonimi bisa

dibedakan menjadi beberapa jenis tergantung pada jumlah pasangan dan sifat

perlawanannya, yaitu antonimi biner dan antonimi nonbiner, antonimi bergradasi

dan antonimi tak bergradasi, antonimi ortogonal dan antipodal, antonimi

direksional dan antonimi relasional (Wijana 2011: 25).

Antonimi biner adalah perlawanan yang hanya beranggotakan dua buah

leksem. Dalam antonimi biner tidak bisa ditemui anggota lain selain kedua

anggota tersebut, contohnya antonimi biner antara kata hidup dan mati tidak

memiliki anggota selain kedua itu.

Antonimi nonbiner adalah antonimi, yang anggotanya lebih dati dua. Wijana

(31)

hangat dan sejuk. Menurut Wijana dan Rohmadi, nama-nama bulan dianggap

sebaai pasangan antonimi nonbiner karena selain Januari dan Desember ada

anggota-anggota yang lain, seperti Februari, Maret, Juli, dan lain-lain.

Antonimi bergradasi adalah perlawanan yang berjenjang atau bertingkat

(gradable opposite) sehubungan dengan sifat-sifat relatif makna kata-kata yang

berlawanan itu (Wijana dan Rohmadi 2011: 28). Dalam antonimi bergradasi,

sangat dimungkinkan anggotanya dilekati oleh kata-kata seperti lebih, kurang,

agak, dan lainnya.

Menurut Wijana dan Rohmadi (2011: 29) antonimi yang tak bergradasi adalah

perlawanan tak bertingkat atau tak berjenjang (ungradable opposite). Biasanya

anggotanya berupa kata-kata yang tidak bersifat relatif, jadi tidak dijumpai

kata-kata seperti lebih, kurang, agak, dan lainnya.

Antonomi ortogonal adalah perlawanan yang oposisinya tidak bersifat

diametrik. Utara secara ortogonal bisa berantonim dengan semua arah mata angin

kecuali Selatan. Utara secara antipodal hanya berlawanan dengan Selatan saja.

Antonimi direksional adalah perlawanan makna yang oposisinya ditentukan

berdasarkan gerak menjauhi dam mendekati suatu tempat. Wijana mencontohkan

kata pulang dan pergi, ke sana dan ke mari, datang dan pergi merupakan pasangan

antonimi yang bersifat direksional. Sedangkan antonimi relasional menurut

Wijana dan Rohmadi adalah perlawanan yang oposisinya bersifat kebalikan.

1.6.3.3 1.6.3.3

1.6.3.31.6.3.3 PolisemiPolisemiPolisemiPolisemi

Polisemi adalah sebuah bentuk kebahasaan yang memiliki berbagai macam

(32)

ditelururi atau dirunut hingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa makna-makna

itu berasal dari sumber yang sama (Wijana dan Rohmadi 2011: 31). Suatu kata

bisa memiliki lebih dari satu makna dan kesamaan-kesamaan itu selalu memiliki

garis merah berupa kesamaan konsep kata-kata yang berpolisemi tersebut.

1.6.3.4 1.6.3.4

1.6.3.41.6.3.4 HomonimiHomonimiHomonimiHomonimi

Berbeda dengan polisemi, meskipun merupakan hubungan dua kata atau lebih

yang memiliki bentuk yang sama, homonimi ada atas dasar ketidaksengajaan.

Wijana mencontohkan kata beruang 'binatang' secara kebetulan memiliki bentuk

yang sama dengan beruang 'memiliki ruang' dan beruang 'memiliki uang'.

Homonimi secara umum adalah hubungan bentuk dua kata atau lebih yang

tulisan dan bunyinya sama persis. Hubungan bentuk yang hanya tulisannya saja

yang sama disebut homografi, sedangakan hubungan bentuk yang hanya bunyinya

saja yang sama disebut homofoni.

1.6.3.5 1.6.3.5

1.6.3.51.6.3.5 HiponimiHiponimiHiponimiHiponimi

Hiponimi adalah hubungan semantik antara makna spesifik dan makna

generik, atau anggota taksonomi dengan nama taksonomi (Kridalaksana, 1993: 74

dalam Wijana 2011: 53).

1.6.3.6 1.6.3.6

1.6.3.61.6.3.6 MetonimiMetonimiMetonimiMetonimi

Metonimi adalah kata atau leksem yang memiliki hubungan asosiatif dengan

kata atau leksem lain. Suatu kata terkadang dapat mengasosiasikan pendengarnya

(33)

1.7 1.7

1.71.7 SumberSumberSumberSumber DataDataDataData

Dalam penelitian ini sumber telah ditentukan pada satu buku saja karena buku

tersebut merupakan buku yang penuh dengan plesetan. Berikut adalah informasi

mengenai sumber data yang digunakan dalam penelitian ini:

Judul buku : Plesetan Republik Indonesia 2004 - 2009 gerr sama

Kelik Pelipur Lara

Pengarang : Kelik Kelipur Lara

Penerbit : Pink Books

Kota terbit : Yogyakarta

Tahun terbit : 2005 (cetakan kedua)

Tebal buku : 169 halaman

1.8 1.8

1.81.8 MetodeMetodeMetodeMetode PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian

Berikut akan dijelaskan metode dalam pengerjaan penelitian ini mulai dari

metode pengumpulan data, metode analisis data, hingga metode penyajian hasil

analisis data.

1.8.1 1.8.1

1.8.11.8.1 MetodeMetodeMetodeMetode PengumpulanPengumpulanPengumpulanPengumpulan DataDataDataData

Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak. Objek data dari

penelitian ini adalah plesetan yang bersumber dari sumber pustaka berupa buku

Plesetan Republik Indonesia karya Kelik Pelipur Lara yang akan dibahas lebih

detail pada poin selanjutnya. Penulis terlebih dahulu membaca buku Plesetan

(34)

Karena penelitian ini bukan merupakan penelitian kuantitatif, melainkan

penelitian kualitatif, penulis mengambil beberapa data sebagai sampel yang

representatif untuk masuk ke tahap klasifikasi.

1.8.2 1.8.2

1.8.21.8.2 MetodeMetodeMetodeMetode AnalisisAnalisisAnalisisAnalisis DataDataDataData

Data-data yang telah diperoleh kemudian dianalisis sesuai dengan rumusan

masalah. Masalah yang pertama adalah "Apa saja jenis-jenis plesetan yang

memiliki hubungan makna antara leksem terucap dan leksem termaksud dalam

buku Plesetan Republik Indonesia karya Kelik Pelipur Lara?". Untuk menjawab

masalah tersebut, diterapkan metode padan refensial. Menurut Sudaryanto (1993:

12) metode padan refernsial adalah sub-jenis pertama metode padan yang alat

penentunya adalah kenyataan yang ditunjuk oleh bahasa atau referent bahasa.

Masalah kedua adalah "Apa saja hubungan makna antara leksem terucap

dengan leksem yang dimaksud yang terdapat pada wacana humor plesetan?".

Untuk menjawab masalah tersebut, diterapkan pula metode padan refensial.

Misalnya, untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan makna antara leksem

terucap dengan leksem termaksud dalam sebuah plesetan yang berbunyi kamu

bakal ketemu sama teman lama, tentunya yang sudah meninggal dunia, status

teman yang sudah meninggal duniatetap bisa dianggap sebagai teman. Kata lama

berhubungan dengan waktu, begitu pula dengan frasa meninggal dunia. Jadi

terdapat hubungan makna anatarateman lamadan (teman yang)sudah meninggal.

Selain penerapan metode padan referensial, diterapkan pula metode padan

fonetis artikulatoris, metode padan translasional, dan metode padan ortografis.

(35)

satuan lingual dengan membandingkan bunyinya. Misalnya, dengan

mengidentifikasi bunyi kata Meriampada Meriam Belina, dapat diketahui bahwa

terdapat dua leksem yang memiliki tulisan yang sama, tetapi memiliki bunyi yang

berbeda.

Metode padan translasional digunakan untuk mengidentifikasi satuan

kebahasaan dalam bahasa tertentu berdasarkan satuan kebahasaan dalam bahasa

lain, hal ini terkait dengan sangat dimungkinkannya terjadinya relasi makna yang

terbentuk karena adanya pengaruh bahasa asing dalam proses pembentukan

plesetan. Berikut adalah contoh penggunaan metode padan translational yang

digunakan dalam penelitan ini. Pada contoh yang membahas mengenai nama artis

yang membawa senjata, muncul nama Broery Peso Lima. Katapesodalam bahasa

Indonesia tidak memiliki makna, tetapi dalam bahasa Jawa kata peso bermakna

senjata tajam untuk memotong benda lain. Jika diterjemahkan dalam bahasa

Indonesia, katapesobermakna pisau yang bermakna senjata tajam.

Metode padan ortografis digunakan untuk mengidentifikasi identitas kata

homofon, hal ini terkait dengan banyaknya kasus homofon dalam humorplesetan.

Berikut adalah contoh penggunaan metode padan ortografis dalam penelitian ini.

Pada contoh yang membahas mengenai nama artis (tunggal) yang jumlahnya lebih

dari satu, muncul nama Nia Daniati. Nama tersebut dianggap sebagai plesetan

mengenai nama orang tunggal yang jumlahnya lebih dari satu karena jika ditinjau

dari segi ortografis, terdapat susunan huruf d, a, dan n pada bagian nama Daniati.

Ketiga huruf tersebut jika disusun akan menjadi kata dan yang bermakna kata

(36)

Metode-metode tersebut diterapkan dalam memperoleh identifikasi data yang

kemudian data-data tersebut akan diklasifikasi berdasarkan masing-masing

masalah yang dibahas. Klasifikasi pada masalah pertama adalah klasifikasi jenis

plesetan menurut Sibarani. Klasifikasi masalah kedua adalah klasifikasi jenis

plesetan berdasarkan hubungan makna antara leksem terucap dan leksem

termaksud.

1.8.3 1.8.3

1.8.31.8.3 MetodeMetodeMetodeMetode PenyajianPenyajianPenyajianPenyajian HasilHasilHasilHasil AnalisisAnalisisAnalisisAnalisis DataDataDataData

Hasil data yang telah dianalisis kemudian disajikan menggunakan metode

informal dan formal. Hasil penelitian ini disajikan dengan menggunakan dengan

melalui penjabaran kasus demi kasus dalam bentuk ulasan yang disusun dalam

[image:36.595.106.514.206.564.2]

paragraf-paragraf. Selain itu, penulis juga menampilkan beberapa gambar atau

tabel untuk memudahkan pembaca dalam memahami objek kajian.

1.9 1.9

1.91.9 SistematikaSistematikaSistematikaSistematika PenyajianPenyajianPenyajianPenyajian

Penyajian penelitian ini dapat dirumuskan dalam beberapa bab. Bab I

merupakan pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, dan metodologi

penelitian. Bab II merupakan analisis mengenai jenis-jenis plesetan yang

mengandung relasi makna. Bab III merupakan pembahasan mengenai hubungan

makna yang terdapat dalam plesetan. Bab IV, yaitu bab penutup, berisi

(37)

BAB BAB BABBAB IIIIIIII

JENIS-JENIS JENIS-JENIS JENIS-JENIS

JENIS-JENISPLESETANPLESETANPLESETANPLESETANYANGYANGYANGYANG MEMILIKIMEMILIKI HUBUNGANMEMILIKIMEMILIKIHUBUNGANHUBUNGANHUBUNGAN MAKNAMAKNAMAKNAMAKNA

ANTARA ANTARA ANTARA

ANTARA LEKSEMLEKSEMLEKSEMLEKSEM TERUCAPTERUCAPTERUCAPTERUCAP DANDANDANDAN LEKSEMLEKSEMLEKSEMLEKSEM TERMAKSUDTERMAKSUDTERMAKSUDTERMAKSUD

2.1 2.1

2.12.1 PengantarPengantarPengantarPengantar

Sampel data yang diperoleh dikelompokkan ke dalam tujuh jenis plesetan

menurut Sibarani. Dari setiap data, perlu ditentukan terlebih dahulu leksem

terucap dan leksem termaksudnya. Namun, tidak semua jenis plesetan memiliki

hubungan makna antara leksem terucap dengan leksem termaksud.

Hubungan makna anatara leksem terucap dan leksem termaksud hanya

dijumpai dalam (a) plesetan fonologis, (b) plesetan grafis, (c) plesetan ideologi,

dan (d) plesetan diskursi. Hubungan makna tidak dijumpai dalam (a) plesetan

morfemis, (b)plesetanfrasal, dan (c)plesetanekspresi.

Ada sebuah pola yang dapat dirumuskan mengenai kedudukan plesetan

diskursi terhadap plesetan jenis lainnya. Berdasarkan data yang telah diperoleh.

Plesetan diskursi biasaya memuat plesetan jenis lainnya. Dalam sebuah plesetan

diskursi terkadang dijumpai plesetanfonologis,plesetan grafis,plesetan eskpresi,

dan lain-lain.

2.2 2.2

2.22.2 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanFonologisFonologisFonologisFonologis

Potensi adanya hubungan antara leksem terucap dengan leksem termaksud

dalam plesetan fonologis dapat dinilai tinggi. Verhaar (1996: 385-386)

(38)

pembeda makna. Jadi, dengan adanya perubahan fonem pada suatu satuan lingual

yang telah memiliki bentuk konvensional menjadi satuan lingual lain, dalam hal

ini bunyi, munculnya hubungan makna antara leksem terucap dengan leksem

termaksud sangat mungkin terjadi.

Berikut adalah beberapa contoh plesetan yang tergolong dalam plesetan

fonologis:

(4) Swediapayung sebelum hujan.

(5) Makanan apa yang disukai anak-anak? (Jawab:Donat. Donat Bebek)

(6) Binatang apa yang paling kaya? (Jawab:Beruang)

(7) Burung yang paling kaya? (Jawab: Belibis)

Dari keempat contoh yang disebutkan, semua contoh yang telah disebutkan di

atas merupakan plesetan fonologis karena terdapat penggelinciran fonem. Pada

contoh (4) terjadi perubahan bunyi, ada berubahan bunyi berupa penambahan

fonem berupa penambahan fonem /w/ dan perubahan fonem /é/ menjadi fonem /ə/

pada katasedia menjadiswedia. Pada contoh (5) terjadi perubahan fonem berupa

perubahan fonem /l/ menjadi /k/ pada kataDonatmenjadiDonal.

Secara auditori, contoh (6) dan (7) tidak mengalami perubahan fonem, tetapi

sesungguhnya terdapat permainan fonem pada kedua contoh tersebut. Contoh (6)

merupakan plesetan fonologis karena memanfaatkan dua buah kata yang

kebetulan memiliki susuanan fonemis yang sama, yaitu beruang yang bermakan

'binatang' dengan beruang yang bemakna 'memiliki uang'. Contoh (7) juga

merupakanplesetanfonologis karena memanfaatkan bunyi yang sama antara frasa

(39)

Dari keempat contoh tersebut dapat diidentifikasi mengenai keberadaan

hubungan makna antara leksem termaksud dengan leksem terucap. Pada contoh

(4), kataSwediamerupakan leksem terucap, sedangkan leksem termaksud penutur

adalah kata sedia. Kedua kata tersebut, Swedia dan sedia tidak berhubungan.

Begitu pula dengan contoh (5), kata yang diucapkan oleh penutur adalah kata

donat, sedangkan yang leksem termaksud oleh penutur adalah frasa yang

mengikutinya, yaitu Donat Bebek. Kata donat dan frasa Donal Bebeksebenarnya

tidak memiliki hubungan makna. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa dari

contoh (6) dan (7) tidak dijumpai hubungan makna antara leksem terucap dengan

leksem termaksud.

Namun, ditemui hubungan makna antara leksem terucap dengan leksem

termaksud dalam beberapa contoh berikut ini. Pada contoh (6), terdapat kata

beruang yang bermakna 'binatang' yang berkedudukan sebagai sebagai leksem

terucap, sedangkan leksem termaksud secara kebetulan memiliki susunan huruf

dan fonem yang sama, yaitu beruang yang bermakna 'memiliki uang'. Hubungan

antara leksem terucap dengan leksem termaksud pada contoh (6) disebut sebagai

homonimi yang akan dibahas lebih dalam pada bab III. Hal serupa juga dijumpai

pada contoh (7), leksembeli (membeli) busdengan leksembelibismemiliki bunyi

yang sama. Kedua leksem tersebut memiliki hubungan homofoni.

Berikut adalah tabel mengenai keberadaan hubungan makna antara leksem

(40)
[image:40.595.98.518.165.525.2]

Tabel 1: Hubungan Makna antara Leksem Terucap dan Leksem Termaksud

dalamPlesetanFonologis

Contoh LeksemTerucap TermaksudLeksem Ada/Tidak adahubungan

Swedia payung sebelum

hujan. swedia sedia _

Makanan apa yang disukai anak-anak? (Jawab: Donat.

Donat Bebek) donat donal _ Binatang apa yang paling

kaya? (Jawab:Beruang) beruang beruang + Burung yang paling kaya?

(Jawab: Belibis) belibis beli (membeli)bus +

Berdasarkan keempat contoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat

hubungan makna antara leksem yang dimaskud dengan leksem terucap dalam

jenis plesetan fonologis meskipun tidak semua contoh plesetan fonologis

memiliki hubungan tersebut.

2.3 2.3

2.32.3 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanGrafisGrafisGrafisGrafis

Pada praktiknya hubungan makna antara leksem terucap dengan leksem

termaksud tidak dijumpai pada contoh-contoh plesetan grafis. Namun, hubungan

yang ada merupakan hubungan antara leksem terucap dengan tujuanplesetan1.

Berikut adalah beberapa contoh plesetan grafis yang dijadikan sampel untuk

dianalisis:

(8) STPDN: Sekolah Tanpa Peraturan Dan Norma (perikemanusiaan) (9) SARS: Sakit Akibat Rindu Seks

(10)TVRI: Televisi Verlu Raih Iklan

Contoh (8) tergolongplesetan grafis karena melibatkan penggelinciran setiap

1 Lihat penjelasan mengenai hubungan leksem terucap, leksem termaksud, dengan sasaran atau maksud pada

(41)

huruf pada bentuk konvensional singkatan STPDN. STPDN yang sebenarnya

adalah Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri digelincirkan menjadi

Sekolah Tanpa Peraturan Dan Norma. Ditinjau dari segi makna, dijumpai pokok

frasa yang sama antara Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri dengan

Sekolah Tanpa Peraturan Dan Norma, yaknisekolah.

Pada tahun 2000-an—hampir bersamaan dengan buku Plesetan Republik

Indonesia ini ditulis—STPDN sedang ramai diberitakan tentang kasus terkait

tindakan yang melanggar norma perikemanusiaan. Munculnya kata norma pada

plesetantersebut menumbulkan adanya hubungan antara leksem terucap (plesetan

STPDN) dengan kejadian yang dialami STPDN pada masa itu. Selain itu, kata

sekolah pada Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri dan kata sekolah pada

Sekolah Tanpa Peraturan Dan Norma (perikemanusiaan).menunjuk pada referen

yang sama, yaitu bangunan atau gedung yang digunakan untuk menuntut ilmu.

Contoh (9) tergolong plesetan grafis karena menggelincirkan huruf dari

singkatan yang sudah ada, yaitu SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)

menjadi Sakit Akibat Rindu Seks. Pada kasus ini, kedua leksem tersebut memiliki

hubungan makna karena kedua frasa tersebut menunjukkan atau bermakna suatu

penyakit. Kata sakit pada Sakit Akibat Rinsu Seks memiliki makna yang sama

dengan kata syndrome dalam Severe Acute Respiratory Syndrome. Keduanya

berkeduduakan sebagai pokok pembentuk frasa.

Contoh (10) tergolong plesetan grafis karena menggelincirkan huruf dari

singkatan yang sudah ada, yaitu TVRI (Televisi Republik Indonesia) menjadi

(42)

kata perlu menjadi verlu yang secara semantis juga tidak memiliki hubungan

makna. Televisi Republik Indonesia berkedudukan sebagai leksem termaksud,

sedangkan Televisi Verlu Raih Iklan berkedudukan sebagai leksem terucap.

Hubungan makna yang dimiliki contoh ini terletak pada katatelevisipadaTelevisi

Verlu Raih Iklan dengan kata televisi pada Televisi Republik Indonesia. Kedua

[image:42.595.102.517.235.596.2]

kata televisi tersebut mengacu pada referen yang sama, yaitu sistem penyiaran

gambar disertai bunyi.

Berikut adalah tabel untuk memudahkan mencari hubungan makna antara

leksem terucap dengan leksem termaksud dalamplesetangrafis:

Tabel 2: Hubungan makna antara leksem terucap dengan leksem termaksud dalam

plesetangrafis

Contoh Leksem Terucap Leksem Termaksud Ada/Tidak adahubungan STPDN Sekolah Tanpa Peraturan

Dan Norma (peikemanusiaan)

Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam

Negeri +

SARS Sakit Akibat Rindu Seks Severe Acute

Respiratory Syndrome +

TVRI Televisi Verlu Raih Iklan Televisi Republik

Indonesia +

Berdasarkan beberapa contoh sampelplesetangrafis, dijumpaiplesetangrafis

yang memiliki hubungan makna antara leksem terucap dengan leksem termaksud.

Namun, hubungan yang terdapat pada plesetan grafis lebih mengarah ke

hubungan antaraplesetandengan sasaran atau maksud dari plesetantersebut yang

(43)

bermaksud menyindir.

2.4 2.4

2.42.4 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanMorfemisMorfemisMorfemisMorfemis

Dalam buku Plesetan Republik Indonesia, ditemukan beberapa contoh yang

digolongkan secara utuh dalamplesetanmorfemis.

(11) HONDA: HObinya Nongkrongi janDA (12) SPRITE: Sungguh PRIbadinya TEnang

(13) KAWASAKI: suKA WAnita, SAyang Ketahuan Istri

Contoh (11) tergolong plesetan morfemis karena menganggap

morfem-morfem pada nama HONDA memiliki kepanjangan. HONDA yang

merupakan merk kendaraan bermotor berkedudukan sebagai leksem termaksud.

Leksem tersebut digelincirkan menjadi leksem terucap berupa Hobinya

Nongkrongi Janda. Kedua leksem tersebut secara semantis tidak berhubungan.

Contoh (12) tergolong plesetan morfemis karena menganggap

morfem-morfem pada nama SPRITE memiliki kepanjangan. SPRITE yang

merupakan merk minuman ringan berkedudukan sebagai leksem termaksud.

Leksem tersebut digelincirkan menjadi leksem terucap berupa Sungguh

Pribadinya Tenang. Dari kedua leksem tersebut tidak dijumpai hubungan makna.

Contoh (13) juga termasuk plesetan morfemis karena menganggap setiap

morfem pada nama KAWASAKI memiliki kepanjangan. KAWASAKI yang

merupakan merk kendaraan bermotor berkedudukan sebagai leksem termaksud.

Leksem tersebut digelincirkan menjadi leksem terucap berupa Suka Wanita,

Sayang Ketahuan Istri. Kedua leksem tersebut tidak memiliki hubungan makna.

Berikut adalah tabel untuk memudahkan mencari hubungan makna antara

(44)
[image:44.595.103.519.160.614.2]

Tabel 3: Hubungan Makna antara Leksem Terucap dan Leksem Termaksud

dalamPlesetanMorfemis

Contoh Leksem Terucap Leksem Termaksud Ada/Tidak adahubungan HONDA Hobinya Nongkrongi

Janda HONDA _

SPRITE Sungguh Pribadinya

Tenang SPRITE _

KAWASAKI Suka Wanita, Sayang

Ketahuan Istri KAWASAKI _

Jadi, seperti yang terjadi pada plesetan grafis, tidak dijumpai hubungan

makna antara leksem terucap dengan leksem termaksud dalamplesetanmorfemis.

2.5 2.5

2.52.5 PlesetanPlesetanPlesetanPlesetanFrasalFrasalFrasalFrasal

Dari beberapa contoh yang ditemui dalam bukuPlesetan Republik Indonesia,

plesetanyang tergolong dalamplesetanfrasal tidak banyak dijumpai. Dalam buku

tersebut tidak ditemui plesetan frasal yang memiliki hubungan makna. Berikut

adalah contohplesetanfrasal:

(14) JARUM SUPER: Janda Rumantis Suka Pergi

(15) GUDANG GARAM: Lugu, Sedang, tapi Garang dan Seram (16) SUSUKI KATANA: Sungguh-sungguh Lelaki Kalem tapi

mempesona

(17) SUPER KIJANG: Suka Perempuan Berkaki Panjang

Contoh-contoh tersebut memilih frasa yang merupakan nama merk-merk atau

jenis suatu produk. Contoh (14) tergolong plesetan frasal karena menganggap

sebuah frasa JARUM SUPER sebagai akronim. JARUM SUPER yang merupakan

sebuah merk berkedudukan sebagai leksem termaksud. Leksem tersebut

(45)

Contoh (15) termasuk plesetan frasal karena menganggap frasa GUDANG

GARAM sebagai akronim. GUDANG GARAM berkedudukan sebagai leksem

termaksud dan merupakan merk. Leksem GUDANG GARAM digelincirkan

menjadi Lugu, Sedang, tapi Garang dan Seram. Kedua leksem tersebut tidak

memiliki hubungan makna.

Contoh (16) juga termasukplesetanfrasal karena menganggap frasa SUSUKI

KATANA sebagai akronim. SUSUKI KATANA—ejaan yang benar adalah

SUZUKI KATANA—merupakan merk sekaligus jenis kendaraan bermotor yang

berkedudukan sebagai leksem termaksud. Leksem tersebut dige

Gambar

Tabel 3: Hubungan Makna antara Leksem Terucap dan Leksem Termaksuddalam Plesetan Morfemis.............................................................................
tabel untuk memudahkan pembaca dalam memahami objek kajian.
Tabel 1: Hubungan Makna antara Leksem Terucap dan Leksem Termaksud
gambar disertai bunyi.
+6

Referensi

Dokumen terkait

Kalimat bervariasi berita-perintah-tanya memiliki hubungan makna yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya. Tujuan penelitian ini ada dua 1) Memaparkan

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) Prinsip kerja sama yang digunakan dalam dialog, (2) Penyimpangan yang dilakukan sebagai sarana penciptaan humor,

Sesuai dengan permasalahan yang ada, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan makna eksplisit dan implisit, strategi

Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna implikatur percakapan yang terdapat dalam buku “Humor Politik Pak Presiden, Buatlah Rakyat

memandikan jenazah/nyiramin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna dan fungsi simbol-simbol yang ada pada saat memandikan jenazah/nyiramin. jenis penelitian

Melihat bahwa keduanya berada dalam sebuah wacana yang sarat estetika, penulis melihat bahwa jenis makna dalam frasa dan kata majemuk bisa terdiri atas beberapa macam

Kalimat bervariasi berita-perintah-tanya memiliki hubungan makna yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya. Tujuan penelitian ini ada dua 1) Memaparkan

Bagi masyarakat Taluk, hubungan yang baik antara bako dan anak pisang begitu juga dengan kelurga laki-laki dan perempuan memiliki nilai dan makna tersendiri, karena adanya restu dari