• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terminal Penumpang Sebagai Ruang Publik Perspektif Arsitektur dan Islam dan Islam

BAG STORAGE

B. Sisi Darat (land side)

7. Terminal Bandara atau concourse

2.4 Konsep Integrasi KeIslaman Eco-Hightech Architecture (Terminal Penumpang) Penumpang)

2.4.1 Terminal Penumpang Sebagai Ruang Publik Perspektif Arsitektur dan Islam dan Islam

Obyek perancangan bangunan adalah Perancangan Terminal Penumpang Domestik Bandar Udara Internasional penumpang Jawa Barat di Kertajati yang merupakan bangunan untuk komersil dan harus memenuhi standar bangunan terminal penumpang bandara, baik berupa fasilitas bandara yaitu sisi udara (air

side) dan sisi darat (land side) yang merupakan dua bagian terpenting dari

bandara, ataupun fasilitas penunjang yang berpengaruh pada bandara. Bangunan dalam Islam merupakan karya seni yang terpancar dari aspek fisik (terlihat secara jelas oleh panca indera) dan metafisik (tidak tampak panca indera namun dapat dirasakan hasilnya) bangunan melalui konsep pemikiran islam yang bersumber dari Al-Qur‟an, Hadits Nabi, maupun cendikiawan muslim. Allah menciptakan manusia, bumi, dan seisinya ini dengan tujuan agar bumi ini dapat dijadikan wadah bagi manusia dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Ibadah merupakan suatu hal yang tidak terbatasi pada suatu ruang lingkup saja, namun ibadah merupakan suatu hal yang mengandung pengertian luas, sehingga ibadah dapat dikerjakan dimanapun dan kapanpun. Maka dari itu, tidak hanya obyek yang sesuai dengan kajian Islamnya. Namun dari segi ruang dan hubungan antar massa yang fungsional dan tidak mubazir, agar mendapatkan hasil rancangan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Sebagaimana yang tertera dalam ayat berikut:

[104]

ٍُْٚص َِّْٛ ٍءَْٟش ًُِّو ِِٓ بَٙ١ِف بَْٕزَجَٔأَٚ َِٟعاََٚس بَٙ١ِف بَْٕ١َمٌَْأَٚ بَ٘بَْٔدَذَِ َعْسَلأاَٚ ٔ١

Artinya : Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya

gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran (QS : al-Hijr :19).

َٓ١ِلِصاَشِث ٌَُٗ ُُْزْغٌَّ ََِٓٚ َشِ٠بَؼَِ بَٙ١ِف ُُْىٌَ بٍََْٕؼَخَٚ ٕٓ

Artinya : Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan

hidup, dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya (QS : al-Hijr :20).

Imam Jalaluddim As Suyuthi menafsirkan (Dan Kami telah menghamparkan bumi) telah membuatnya terbentang (dan Kami menjadikan padanya gunung-gunung) yang kokoh dan tegak supaya jangan bergerak-gerak mengguncangkan penduduknya (dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran) yang telah ditentukan secara pasti. (QS. 15 : 19, tafsir-jalalain-id.pdf).

Imam Jalaluddim As Suyuthi menafsirkan (Dan Kami telah menjadikan untuk kalian di muka bumi keperluan-keperluan hidup) berupa buah-buahan dan biji-bijian (dan) Kami jadikan pula untuk kalian (makhluk-makhluk yang kalian sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya) yaitu berupa hamba-hamba sahaya, binatang-binatang dan berbagai macam jenis ternak; hanya Allahlah yang memberi rezeki kepada mereka. (QS. 15:20, tafsir-jalalain-id.pdf)

Kemudian Allah menuturkan bagaimana Dia menciptakan bumi dan menjadikannya membentang luas dan datar, menjadikan gunung-gunung yang tegak, lembah-lembah, tanah [daratan], pasir, dan berbagai tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang sesuai. Ibnu „Abbas mengatakan tentang: ming kulli syai-im

mauzuun (“Segala sesuatu dengan ukurannya.”) mauzun artinya maklum

[diketahui, tertentu]. Demikian juga dikatakan oleh sa‟id bin Jubair, „Ikrimah, Abu Malik, Mujahid, al-Hakam bin „Uyainah, al-Hasan bin Muhammad, Abu Shalih dan Qatadah. Sebagian ulama mengatakan: “Mauzun artinya ditentukan kadarnya.” Sedangkan Ibnu Zaid mengatakan: “Mauzun ialah apa yang ditimbang oleh pada pedangan di pasar.”

[105]

Firman Allah: wa ja‟alnaa lakum fiiHaa ma‟aayisya (“Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup.”) Allah Ta‟ala menyebutkan bahwa Allah memberikan kepada manusia di bumi ini berbagai macam sarana dan kehidupan. Al-ma‟aayisy jamak dari ma‟iisyah (penghidupan).

Firman Allah: wa mal lastum laHuu biraaziqiina (“Dan [Kami menciptakan pula] makhluk-makhluk yang kamu sekali-sekali bukan pemberi rizky padanya.”) Mujahid mengatakan: “Yaitu binatang yang melata dan ternak.” Sedangkan Ibnu Jarir mengatakan: “Mereka adalah para budak laki-laki dan perempuan, binatang melata dan binatang ternak.” Allah bermaksud memberi anugerah kepada manusia dengan apa yang dapat memudahkan berbagai macam mata pencaharian dan beraneka ragam sarana kehidupan, dan dengan menundukkan binatang untuk dapat dikendarai dan ternak yang dapat mereka makan, serta hamba sahaya yang dapat melayani mereka, rizky mereka adalah menjadi tanggungan Sang Pencipta, bukan atas tanggungan mereka. Jadi, mereka mendapatkan manfaat, sedang rizky adalah menjadi tanggungan Allah. (Tafsir Ibnu Katsir).

Pada ayat di atas dapat diketahui bahwa Allah telah menciptakan daratan, menyediakan lahan yang luas untuk dimanfaatkan manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya dan sarana dalam mempermudah ibadah kepada Allah SWT. Pemanfaatan lahan digunakan sebagai sarana persinggahan sementara kegiatan transportasi, yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mempermudah aktivitas dalam pemenuhan kebutuhan, dimana proses dari suatu aktivitas merupakan proses yang paling penting dalam sebuah kehidupan, karena melalui proses aktivitas, manusia dapat lebih jauh mengetahui ciptaan Allah dan sarana yang sangat mendukung pula dalam ibadah kepada Allah. Allah telah menyediakan tempat semata-mata hanya untuk kebutuhan manusia, sehingga manusia harus bertanggung jawab dalam mengelolah/memanfaatkan dengan baik agar berfungsi sebagaimana mestinya. Sehingga dibutuhkan suatu sarana dan prasarana khusus di bumi ini dalam mempermudah ibadah kepada Allah SWT, salah satunya yaitu

[106]

dengan rancangan bandara. Sesungguhya Allah tidak menyukai orang yang tidak mau memanfaatkan segala sesuatu yang telah diberikannya.

Dalam Al-Quran surat Ali Imran (3): 48-49 dan Al-Maidah (5): 110 diuraikan mukjizat Nabi Isa a.s. antara lain adalah menciptakan patung berbentuk burung dari tanah liat dan setelah ditiupnya, kreasinya itu menjadi burung yang sebenarnya atas izin Allah (Shihab, 1996).

... ِ ّللَّ ِْْرِإِث ًاشْ١َؽ ُُْٛىَ١َف ِٗ١ِف ُخُفَٔأَف ِشْ١َّطٌا ِخَئْ١ََٙو ِٓ١ِّطٌا َِِّٓ ُُىٌَ ُكٍُْخَأ َِّٟٔأ ...

Artinya : Aku membuat untuk kamu dari tanah (sesuatu) berbentuk seperti burung

kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung seizin Allah (QS Ali Imran [3): 49).

Imam Jalaluddim As Suyuthi menafsirkan (bahwa aku) dapat (menciptakan) membuat bentuk (bagi kamu dari tanah seperti burung) kaf menjadi isim maf`ul (kemudian aku meniupnya) dhamir 'nya' kembali kepada kaf atau bentuk burung tadi (hingga ia pun menjadi seekor burung) menurut suatu qiraat thaa-iran (dengan izin Allah) dengan iradat-Nya. Maka diciptakan-Nya bagi mereka kelelawar, karena itulah yang paling sempurna kejadiannya di antara bangsa burung. Burung itu terbang, sementara mereka memperhatikannya. Setelah luput dari penglihatan mereka, kelelawar itu jatuh dan mati untuk membedakan antara perbuatan makhluk dengan hasil ciptaan Tuhan Yang Maha Pencipta dan agar diketahui bahwa kesempurnaan itu hanya ada pada ciptaan Allah (Tafsir Jalalain).

Bandara merupakan penghubung antara transportasi daratan dan udara yang secara umum bandara mempunyai fungsi sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan penumpang pesawat, untuk bokar/muat barang atau naik/turun penumpang serta sebagai tempat perpindahan (interchange) antar transit. Bandara merupakan sarana publik yang dijadikan penghubung antara transportasi darat dan udara pada suatu wilayah dan merupakan salah satu tempat dalam mewadahi aktivitas sosial khususnya aktivitas sosial dalam bidang transportasi. Dalam kehidupan sehari-hari manusia ditakdirkan untuk hidup bersosial, yaitu selalu

[107]

hidup dalam keadaan saling membutuhkan, khususnya pelayanan aktivitas masyarakat dari tempat satu ke tempat yang lain. Islam sangat memperhatikan dalam melayani masyarakat atau memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat adalah hal utama yang harus dipertimbangkan.