Dalam rangka pengurangan jumlah rumah tangga miskin dan pengembangan ekonomi lokal, pemerintah Provinsi NTT menetapkan kebijakan pembangunan daerah melalui pembangunan terpadu desa/kelurahan mandiri anggaran untuk rakyat menuju sejahtera. Fokus dari program pembangunan tersebut adalah melaksanakan empat tekad pemerintah Provinsi NTT yaitu pengembangan jagung; pengembangan ternak; pengembangan koperasi dan pengembangan cendana. Selain fokus utama tersebut, program pembangunan anggur merah juga diarahkan untuk
BPS Provinsi NTT 2015 Persentase
0 10 20 30 40 50 60 70
Pertanian Pertambangan Dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik Dan Gas Bangunan
Perdagangan Besar Dan Eceran Rumah…
Angkutan Pergudangan Komunikasi
Keuangan Asuransi Usaha Persewaan Dan…
Jasa Kemasyarakatan Lainnya/ Tidak Menjawab
kegiatan industri rumah tangga, rumput laut, garam serta perikanan darat dan laut sesuai karakter dan potensi desa/kelurahan.
Dalam perencanaan dan implementasi program pembangunan ini,
stakeholder yang terlibat dalam perumusan kebijakan berjenjang dari level provinsi hingga sampai pada desa/kelurahan. Pada level provinsi,
stakeholder yang terlibat dikelompokkan dalam tiga tim kerja yaitu tim pengendali program, tim teknis pengendali dan sekretariat pengendali (Tabel 6). Penanggung jawab dari tim pengendali program ialah Gubernur Provinsi NTT dan penanggungjawab dari tim teknis pengendali program ialah kepala Bappeda Provinsi NTT. Sekretariat pengendalian program bertugas dalam hal pengendalian administrasi, menyusun laporan bulanan, dan menyiapkan materi rapat-rapat kelompok kerja.
Hasil yang optimal dapat dicapai dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang berkualitas. Untuk dapat mewujudkannya maka harus didukung dengan peran yang optimal dari stakeholder terkait. Pada level provinsi, Bappeda Provinsi bekerja sama dengan Bappeda kabupaten/kota untuk mendesain perencanaan kegiatan terpadu dalam hal ini mengidentifikasi potensi dan permasalahan dasar desa/kelurahan. SKPD tingkat provinsi berkerja sama dengan SKPD kabupaten/kota menyiapkan kegiatan pendukung dan pembinaan teknis. Biro keuangan bertugas Tabel 6 Stakeholder program pembangunan terpadu desa/kelurahan
Komposisi Tim Pengendali Tim Teknis Pengendali
Sekretariat Pengendali Penanggungjawab Gubernur Prov NTT Kepala Bappeda
Provinsi NTT
Ketua sekretariat
Wakil
Penanggungjawab
Wagub Prov NTT Inspektur Provinsi NTT
Anggota Kapolda NTT Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Prov NTT Pegawai sekeretariat pengendali yang ditetapkan Danrem 161 Wiarsakti Kepala Biro
keuangan Setda Prov NTT
melalui keputusan Gubernur Kajati NTT Kepala Dinas
Koperasi dan UMKM Prov NTT
Sekda Prov NTT Kepala Biro Hukum Setda Prov NTT Asisten Pemerintah dan
pembangunan Kepala BPMPD Prov NTT Asisten perekonomian dan pembangunna Kepala Dinas Peternakan Prov NTT Asisten Pemerintahan umum Kepala Dinas PU Bappeda Provinsi NTT 2014
menyiapkan mekanisme transfer bantuan modal ke nomor rekening desa/kelurahan melalui Bank NTT. Inspektorat Provinsi NTT menyiapkan instrumen pengawasan, pemanfaatan dan pertanggungjawaban pemanfaatan bantuan keuangan. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan persiapan operasional baik pada SKPD kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan. Persiapan tersebut akan dibahas secara intensif oleh TPAD provinsi dan kabupaten/kota.
Kelompok kerja level kabupaten/kota diatur sesuai kebutuhan kabupaten/kota Provinsi NTT. Untuk memudahkan koordinasi lapangan, maka melalui Bappeda kabupaten/kota disiapkan koordinator kabupaten/kota dengan memanfaatkan fungsi struktural yang ada pada Bappeda kabupaten/kota. Level kecamatan juga ditugaskan koordinator kecamatan untuk mengontrol pelaksanaan desa/kelurahan dalam kecamatan yang bersangkutan. Keorganisasian di level desa/kelurahan mengoptimalkan kelembagaan desa/kelurahan yang ada.
Informasi mengenai program pembangunan terpadu desa/kelurahan disampaikan melalui sosialisasi. Sosialisasi dilakukan secara berjenjang dari level provinsi hingga kepada masyarakat. Pihak Bappeda Provinsi melaksanakan sosialisasi program pembangunan untuk pelaku program di level kabupaten. Dengan melibatkan pihak Provinsi, Bappeda Kabupaten menghadirkan seluruh camat dan kepala desa serta PKM melakukan sosialisasi program. Di level desa/kelurahan, pihak kecamatan dan PKM melakukan penyampaian informasi kepada masyarakat. Koordinasi yang baik antara pemerintah kabupaten, pemerintah kecamatan dan pemerintah desa dalam hal ini sangat penting, sehingga sasaran dan tujuan yang diinginkan dari program dapat tercapai. Hasil penelitian Tiza et al. (2014) menunjukkan bahwa sosialisasi kepada masyarakat terkait program pembangunan terpadu dipandang belum maksimal. Tingkat pemahaman masyarakat terhadap program pembangunan masih sangat minim bahkan seringkali terjadi penyalahgunaan dana program. Hal tersebut berdampak terhadap tingkat pengembalian bantuan dana.
Selain itu, stakeholder yang terlibat dalam program pembangunan terpadu desa/kelurahan terlihat jelas dari level provinsi hingga desa/kelurahan disertai dengan kejelasan tugas dan fungsi. Namun dalam persiapan hingga implementasi, pemerintah daerah cenderung hanya melibatkan pihak Bappeda. Hasil penelitian Ngatu (2014) menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah tidak melibatkan
stakeholder terkait dengan pembangunan desa/kelurahan, misalnya Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD). Kerjasama dengan stakeholder
yang memiliki tujuan yang sama dalam membangun desa/kelurahan tentunya akan sangat membantu tercapainya tujuan pembangunan.
Pemilihan Desa/Kelurahan
Dana hibah dari program pembangunan terpadu desa/kelurahan dipercayakan untuk dikelola oleh desa/kelurahan. Desa/kelurahan yang berhak mendapatkan dana hibah ditentukan oleh tim anggaran pemerintah
daerah (TAPD) sesuai dengan arah pembangunan terpadu desa/kelurahan (Gambar 8). Desa/kelurahan yang menjadi sasaran dari program pembangunan terpadu desa/kelurahan harus memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah daerah yaitu 1) Desa/kelurahan dengan jumlah presentase penduduk miskin terbanyak menurut kriteria BPS Provinsi NTT yaitu rata-rata pendapatan penduduk, kondisi rumah, kepemilikan aset, pola pengeluaran rumah tangga dan banyaknya penduduk yang menerima bantuan dari pihak pemerintah dan swasta; 2) Kualitas sumberdaya manusia juga turut berpengaruh dalam menentukan desa/kelurahan penerima bantuan modal finansial. Kualitas sumberdaya manusia dapat dilihat dari tingkat pendidikan penduduk, persentase angka putus sekolah, angka buta huruf, dan indikator kesehatan; 3) Ketersediaan infrastruktur pelayanan sosial dasar juga menjadi kriteria dalam menentukan desa/kelurahan yang mendapatkan bantuan modal finansial. Desa/kelurahan yang terpilih memiliki ketersediaan infrastruktur yang relatif rendah. Infrastruktur pelayanan sosial dasar yang dimaksud ialah ketersediaan air bersih, sanitasi
lingkungan pemukiman, dan rumah layak huni; 4) Aksesibilitas wilayah, ketersediaan sumberdaya alam (potensi wilayah) dan khusus untuk desa, juga diperhatikan desa terpencil, terisolir dan tertinggal.
Bappeda Provinsi NTT 2014
Gambar 8 Mekanisme pemilihan desa hingga penyaluran bantuan Selain itu, TAPD bersama dengan Tim Teknis Provinsi melakukan pendataan terhadap karekteristik desa, potensi desa dan kondisi sosial ekonomi. Pendataan tersebut dilakukan untuk mengetahui gambaran awal mengenai kondisi desa/kelurahan. Hasil pendataan tersebut didiskusikan dengan TAPD di level kabupaten/kota untuk mendapatkan masukan dalam rangka menentukan desa/kelurahan di setiap kecamatan. Desa dan kelurahan yang telah disepakati bersama antara TAPD Provinsi dan TAPD kabupaten/kota ditetapkan dengan keputusan Gubernur. Keputusan Gubernur tersebut diserahkan kepada 1) Pemerintah kabupaten/kota untuk
Penetapan desa/kelurahan Penetapan PKM Identifikasi desa Bank NTT (BPD) Desa/Kelurahan Usaha Kelompok Koperasi Desa/Kelurahan Tim Verifikasi Kelompok Masyarakat TAPD & Tim Teknis Sekertariat Program Pembangunan Individu Usulan Proposal
melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa/kelurahan untuk persiapan dan pelaksanaan kegiatan ekonomi produktif; 2) SKPD tingkat provinsi untuk sinkronasi dengan program dan kegiatan setiap tahun, pembinaan, pengawasan dan evaluasi; 3) Biro keuangan Setda Provinsi NTT untuk mengatur alokasi dana yang akan ditransfer ke Bank NTT.
Di awal pelaksanaannya (tahun 2011), presentase desa/kelurahan penerima bantuan sebanyak 9,2 persen dari total 3117 desa/kelurahan. Desa/kelurahan penerima bantuan terus mengalami peningkatan hingga 18 persen di tahun 2014 (Tabel 7). Peningkatan desa/kelurahan sasaran karena ada pemekaran kecamatan di 7 kabupaten/kota yakni Kota Kupang, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Ngada, Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Sumba Barat Daya. Tahun 2011 hingga tahun 2013, Kabupaten TTS tercatat sebagai Kabupaten dengan jumlah desa/kelurahan terbanyak (32 desa/kelurahan) penerima bantuan modal finansial. Hal ini sejalan dengan data dari BPS Provinsi NTT dimana Kabupaten TTS merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Provinsi NTT. Tahun 2014, Kabupaten TTU tercatat sebagai kabupaten dengan jumlah desa/kelurahan terbanyak (60 desa/kelurahan) yang menerima bantuan dana. Data tersebut merupakan gabungan data antara Kabupaten TTU dan Kabupaten Malaka. Tahun 2012 Kabupaten Malaka mekar dari Kabupaten TTU, sehingga di
Tabel 7 Persentase desa/kelurahan penerima bantuan modal finansial
Kabupaten/Kota Tahun 2011 2012 2013 2014 Kota Kupang 7,8 11,8 11,8 17,6 Kupang 13,6 13,6 13,6 14,1 TTS 13,3 11,5 11,5 15,5 TTU 13,7 13,7 13,7 31,1 Belu 11,5 11,5 11,5 19,2 Rote Ndao 9,0 11,2 11,2 15,7 Sabu Raijua 9,5 9,5 9,5 19,0 Alor 9,7 9,7 9,7 17,1 Lembata 6,3 6,3 6,0 21,9 Flores Timur 7,6 7,6 7,6 17,6 Sikka 13,1 13,1 13,1 17,5 Ende 9,2 7,5 7,6 15,8 Nagekeo 6,2 6,2 6,2 21,2 Ngada 7,3 6,0 7,9 19,9 Manggarai Timur 3,4 3,4 5,1 15,3 Manggarai 5,6 5,6 6,8 19,1 Manggarai Barat 4,1 5,9 5,9 18,9 Sumba Timur 14,1 14,1 14,1 15,4 Sumba Tengah 7,7 7,7 7,7 20,0 Sumba Barat 8,1 8,1 8,1 17,6
Sumba Barat Daya 6,1 8,4 8,4 9,9
NTT 9,2 9,2 9,4 18,0
tahun 2014, kabupaten ini juga menerima bantuan dana dari program pembangunan terpadu desa/kelurahan. Namun data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dimulai dari tahun 2008 maka kabupaten yang mengalami pemekaran pada tahun 2012 hingga 2014 digabungkan dengan kabupaten/kota induknya.
Program pembangunan ini diharapkan dapat rnenjangkau seluruh desa/kelurahan. Pemerintah daerah menargetkan 589 desa/kelurahan setiap tahunnya, sehingga di tahun 2017, ada 2.356 desa/kelurahan yang mendapatkan bantuan dana. Hingga tahun 2014, desa/kelurahan yang mendapatkan bantuan dana 34,87 persen dari total desa/kelurahan yang ditargetkan.
Pendamping Kelompok Masyarakat
Setiap desa/kelurahan penerima bantuan modal finansial didampingi oleh pendamping kelompok masyarakat (PKM) guna kelancaran program pembangunan terpadu desa/kelurahan. Pemerintah merekrut PKM dengan tujuan untuk membantu memecahkan masalah, mengawasi dan mengelola dana sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Bina Swadaya (2003) dalam Rahayu (2013) mengatakan bahwa pendamping dapat memberikan bantuan teknis kepada masyarakat baik pada aspek manajemen maupun teknis usaha.
Pendamping kelompok masyarakat (PKM) diseleksi oleh tim pembina dan pengendali tingkat provinsi dan kabupaten/kota melalui Bappeda kabupaten/kota. PKM diseleksi melalaui dua tahap yaitu seleksi administrasi dan seleksi tertulis. Untuk seleksi administrasi, PKM diseleksi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Pertama, PKM yang terpilih harus berpendidikan sarjana (S1/D4). Kedua, kesehatan juga turut dipertimbangkan dimana setiap PKM harus sehat jasmani dan rohani yang ditunjukkan dengan surat keterangan sehat. Ketiga, PKM tidak pernah tercatat sebagai kriminal yang dibuktikan dengan melampirkan surat keterangan catatan krimanal. Untuk seleksi tertulis, calon PKM diberikan pertanyaan untuk menguji pengetahuan mengenai program pembangunan terpadu desa/kelurahan anggur merah dan pengetahuan mengenai kondisi wilayah NTT (fisik, sosial budaya, ekonomi, sumberdaya alam, sumber daya manusia dan sumberdaya sosial).
PKM yang telah lulus seleksi administrasi dan tes tertulis wajib magang sebagai bentuk pelatihan mandiri pada PKM senior untuk pendampingan masyarakat, pengorganisasian kelompok masyarakat, kegiatan ekonomi produktif dan pembangunan partisipatif. Selanjutnya setelah magang dilaksanakan, PKM akan mendapatkan pelatihan yang waktunya disesuaikan untuk meningkatkan kompetensi. Materi pelatihan PKM antara lain sebagai berikut:
1. Materi Dasar:
a. Filosofi dasar program pembangunan terpadu desa/kelurahan b. Kedudukan dan peran PKM
c. Teknik memfasilitasi dan mendampingi kelompok 2. Materi Inti
b. Pembuatan proposal usaha dan perhitungan kebutuhan anggaran kelompok
c. Pengembangan kewirausahaan dan koperasi d. Integrasi dan sinergi program
e. Strategi pemasaran 3. Materi Penunjang
a. Tata kelola pemerintahan desa/kelurahan b. Penyusunan laporan dari format laporan
Tugas dari PKM sebagai berikut: 1) Memfasilitasi proses identifikasi dan pembentukan kelompok usaha ekonomi produktif masyarakat; 2) Mendiskusikan tentang penentuan jumlah anggota dan kelompok ditingkat desa/kelurahan secara partisipaiif; 3) Membantu mengidentifikasi jenis usaha ekonomi produktif yang akan dikembangkan; 4) Memberikan pendampingan dan bimbingan kepada masyarakat/kelompok dalam menjalankan usaha ekonomi produktifnya; 5) Membantu penataan administrasi dan pelaporan perkembangan kegiatan usaha kelompok ekonomi produktif masyarakat; 6) Melakukan dokumentasi terhadap perkembangan pelaksanaan kegiatan kelompok, termasuk metode dan pindekatan yang digunakan; 7) Bersama pemerintah desa merancang alokasi penggunaan dana ADD pada proses Musrenbang desa/kelurahan secara partisipatifi; 8) Bersama pemerintah desa/kelurahan melaksanakan musrenbang desa/kelurahan, penyusunan peraturan desa/kelurahan secara partisipatif; 9) Bersama pemerintah desa/kelurahan memfasilitasi pembentukan kelembagaan koperasi di desa/kelurahan.
Fungsi dari PKM ialah 1) Melakukan koordinasi pelaksanaan kegiatan kelompok usaha ekonomi masyarakat; 2) Melakukan koordinasi bimbingan teknis pelaksanaan program pembangunan terpadu desa/kelurahan; 3) Melakukan koordinasi perumusan kebijakan teknis pelaksanaan program pembangunan terpadu desa/kelurahan.
Pemerintah daerah dalam hal ini sekretariat program pembangunan memantau kinerja dari PKM. PKM berhak mendapatkan upah kerja dan operasional. Bagi PKM yang mendampingi 1 desa/kelurahan akan mendapatkan upah kerja dan operasional sebesar Rp.2.000.000 per bulan. Bagi PKM yang mendampingi 2 desa/kelurahan akan mendapatkan upah kerja dan operasional sebesar Rp.2.500.000 per bulan.
Bagi PKM yang menjalanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan yang ditetapkan berhak untuk mendapatkan penghargaan dari pemerintah daerah. Pengahargaan tersebut diberikan dalam bentuk upah dan diberikan disaat acara ulang tahun Provinsi NTT. Selain itu, PKM tersebut juga mendapatkan tanggung jawab untuk mendampingi desa/kelurahan lainnya baik itu desa/kelurahan yang baru menerima bantuan dana maupun desa/kelurahan yang telah menerima bantuan dana. Dalam pelaksanaannya, ada PKM yang tidak menjalankan tugas dan fungsinya. Seperti yang terjadi pada Kelurahan Fatukoa, tahun pertama PKM menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, namun di tahun berikutnya tugas dan fungsinya diabaikan. PKM lebih fokus terhadap pekerjaan lain sehingga keberlanjutan program pembangunan di Kelurahan Fatukoa terabaikan. Sekretariat
program pembangunan terpadu desa/kelurahan memberikan sanksi pemberhentian terhadap PKM tersebut dan tugas pendampingan di Kelurahan Fatukoa digantikan oleh PKM lainnya yang dinilai mampu menjalankan tugas pendampingan untuk dua desa/kelurahan.
Pembentukan Kelompok Masyarakat
Masyarakat yang terlibat dalam program pembangunan terpadu desa/kelurahan diwajibkan tergabung dalam satu kelompok masyarakat bagi desa/kelurahan yang belum memiliki koperasi. Dengan artian bahwa kelompok masyarakat terbentuk ketika program pembangunan tersebut dilaksanakan di desa/kelurahan terpilih. Bagi desa/kelurahan yang telah memiliki koperasi maka masyarakat wajib menjadi anggota koperasi. Masyarakat yang menjadi anggota kelompok atau koperasi wajib memenuhi beberapa persyaratan yaitu, 1) Warga tetap di desa atau kelurahan yang mendapat bantuan modal finansial yang ditunjukkan dengan kartu tanda penduduk; 2) Merupakan rumah tangga miskin yang ditunjukkan dengan tercatatnya sebagai rumah tangga penerima beras miskin (Raskin) dan jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas); 3) Tidak sedang menerima dan atau melaksanakan program pemberdayaan masyarakat melalui program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM), program pemberdayaan dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten; 4) Memiliki kemampuan dan komitmen untuk menjalankan kegiatan pemberdayaan ekonomi yang akan diberikan.
Dengan berlandaskan kriteria tersebut, PKM beserta pihak desa/kelurahan melakukan seleksi terhadap rumah tangga miskin. Keterlibatan pihak desa/kelurahan membantu pemerintah dalam memilih rumah tangga miskin yang tepat untuk mendapatakan bantuan dana mengingat pihak desa/kelurahan mengetahui dengan jelas kehidupan masyarakat di wilayahnya. Peran PKM juga dibutuhkan dalam pemilihan rumah tangga agar menghindari terjadi penyimpangan dalam pemilihan rumah tangga, seperti pemilihan rumah tangga penerima bantuan karena hubungan kekeluargaan atau untuk berbagai kepentingan lainnya.
Kelompok masyarakat atau koperasi yang terbentuk melakukan diskusi untuk menentukan aturan dasar. Dalam diskusi tersebut, anggota kelompok atau koperasi mendiskusikan rencana usaha, waktu pengembalian dan bunga pinjaman, simpanan pokok, wajib, dan sukarela (bagi yang dikelola oleh koperasi). Diskusi tersebut melibatkan PKM, dan pihak desa/kelurahan serta pengurus koperasi.
Dalam satu desa/kelurahan, jumlah kelompok minimal 5 kelompok dan maksimal 10 kelompok masyarakat. Jumlah anggota dalam satu kelompok minimal 5 orang dan maksimal 12 orang dimana setiap kelompok dikelola oleh ketua, sekertaris dan bendahara. Kelompok yang telah terbentuk melakukan diskusi dengan PKM dan tim verifikasi (Tim yang ditetapkan oleh Kepala Desa/Lurah untuk mengawasi proses implementasi program pembangunan) guna membahas jenis usaha yang akan diusahakan oleh setiap kelompok dan menetapkan peraturan-peraturan dalam kelompok.
Pengawasan proses implementasi program pembangunan dapat dilakukan oleh koperasi, apabila dalam desa/kelurahan penerimaan bantuan modal finansial terdapat koperasi. Bappeda Provinsi berkoordinasi dengan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi untuk memfasilitasi pembentukan koperasi di setiap desa/kelurahan penerimaan bantuan modal finansial. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa setiap kelompok masyarakat berhak mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah dan diharapkan melalui koperasi, keberlanjutan pemanfaatan bantuan modal finansial dapat berjalan lancar. Jika dalam desa/kelurahan penerima bantuan modal finansial terdapat koperasi yang aktif sebelum program pembangunan dilaksanakan maka koperasi yang ada dapat diajukan untuk menjadi pengelola bantuan dari program pembangunan terpadu desa/kelurahan.
Kepengurusan koperasi di setiap desa/kelurahan terdiri dari pengurus, pengawas dan anggota. Pengurus koperasi terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris I dan II, serta bendahara. Pengurus koperasi bertugas dalam 1) mengelola koperasi dan usaha yang ditekuni oleh masyarakat; 2) menyelenggarakan rapat anggota; 3) mengajukan rancangan kerja serta rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi; 4) mengajukan laporan keuangan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas; 5) menyelenggrakan pembukuan keuangan dan inventaris secara tertib; 6) memelihara daftar buku anggota koperasi. Pengawas koperasi terdiri dari ketua dan anggota yang bertugas mengawasi implementasi program pembangunan. Pengawas koperasi memiliki wewenang untuk meneliti catatan aktivitas koperasi.
Keanggotaan dalam suatu koperasi minimal 8 orang dan maksimal 20 orang. Setiap anggota koperasi harus membayar simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela yang besarnya tidak dibatasi. Besarnya simpanan pokok dan wajib ditentukan secara bersama-sama dalam rapat anggota. Apabila dalam pelaksanaannya, anggota koperasi terlambat atau menunggak pengembalian maka yang bersangkutan tidak akan dilayani dalam urusan apapun yang berkaitan dengan desa/kelurahan. Bagi anggota koperasi yang tidak menaati peraturan yang telah disepakati maka yang bersangkutan harus mengembalikan semua keuangan yang pernah diterima dan keluar dari keanggotaan koperasi.
Koperasi menjadi pihak yang dipercayakan untuk mengelola dan mengembalikan bantuan modal finansial (dana pokok sebesar Rp. 250.000.000) kepada pihak desa/kelurahan dengan cara dicicil sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati. Apabila dalam desa/kelurahan, koperasi tidak menjalankan tugas dengan baik maka pihak desa/kelurahan akan mengelola bantuan modal.
Di tahun pertama pelaksanaan program pembangunan, koperasi yang terbentuk sebanyak 56 koperasi. Tahun 2012 dan tahun 2013, sebagian koperasi tidak melanjutkan usaha sebagai akibat dari pengembalian bantuan dana yang tidak lancar. Namun di tahun 2014, jumlah koperasi yang terbentuk meningkat dari 37 koperasi menjadi 589 koperasi (Tabel 8). Peningkatan jumlah koperasi di tahun 2014 diakibatkan karena di tahun tersebut pemerintah daerah mulai berkoordinasi dengan Dinas Koperasi dan UMKM untuk membantu setiap desa/kelurahan dalam pembentukan koperasi.
Koperasi atau kelompok masyarakat di desa/kelurahan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan program pembangunan kepada Kepala Desa/Lurah setempat setiap bulan. Kepala Desa/Lurah menyampaikan laporan konsolidasi pelaksanaan program kepada Gubernur NTT dengan tembusan disampaikan kepada Bupati/ Walikota, Kepala Bappeda Provinsi NTT dan Kepala Biro Keuangan. Laporan tersebut memuat tentang perkembangan pelaksanaan program dan tantangan serta hambatan pelaksanaan program. Laporan ini wajib disampaikan setiap semester.
Dalam implementasi program ditemukan bahwa program pembangunan terpadu desa/kelurahan mampu membangkitkan dan meningkatkan keterlibatan (partisipasi) sebagian masyarakat dalam melaksanakan pembangunan. Hal ini terlihat dari jumlah masyarakat yang turut andil dalam memanfaatkan bantuan modal finansial. Hingga tahun 2014, jumlah kelompok yang turut memanfaatkan bantuan modal finansial yang diusahakan pada usaha ekonomi produktif sebanyak 9.423 kelompok dengan jumlah anggota kelompok 91.713 orang.
Bentuk partisipasi masyarakat juga terlihat dari kerjasama dalam satu kelompok dalam menjalankan usaha bersama. Berdasarkan hasil wawancara dengan kelompok masyarakat yang menjalankan usaha ternak, kerjasama kelompok dilakukan pada saat pembuatan kandang, pemberian pakan dan pemeliharaan kebersihan kandang. Kerjasama anggota kelompok pada usaha pertanian dalam hal budidaya tanaman mulai dari persiapan lahan hingga ke panen. Untuk usaha perdagangan dan jasa lebih dominan
Tabel 8 Jumlah koperasi program pembangunan terpadu desa/kelurahan
Kabupaten/Kota Jumlah koperasi
2011 2012 2013 2014 Kota Kupang 1 3 5 9 Kupang 7 7 0 27 TTS 4 1 0 42 TTU 1 1 0 32 Belu 2 2 1 40 Rote Ndao 4 2 3 14 Sabu Raijua 4 5 6 12 Alor 0 0 2 30 Lembata 2 0 0 33 Flores Timur 0 1 0 44 Sikka 3 5 0 28 Ende 12 17 17 44 Nagekeo 1 1 0 24 Ngada 6 2 3 30 Manggarai Timur 0 0 0 35 Manggarai 1 0 0 34 Manggarai Barat 0 0 0 34 Sumba Timur 1 0 0 25 Sumba Tengah 3 3 0 13 Sumba Barat 4 0 0 13 Sumba Barat Daya 0 0 0 26 NTT 56 50 37 589
diusahakan perorangan, namun permohonan bantuan modal finansialnya dalam kelompok. Dalam suatu kelompok masyarakat, tidak semua anggota masyarakat bertahan pada periode berikutnya (melanjutkan usaha bersama). Ketidaksepahaman antar anggota kelompok mengenai pembagian keuntungan, jenis usaha pada periode berikutnya, dan adanya penyimpangan bantuan modal finansial menjadi faktor penyebab seseorang memutuskan untuk tidak melanjutkan usaha bersama kelompok.
Keterlibatan masyarakat dalam program pembangunan tidak menjamin suatu program berhasil dan berkelanjutan. Faktanya menunjukkan bahwa penambahan jumlah masyarakat yang terlibat program pembangunan bukan karena bantuan modal dirasakan oleh rumah tangga miskin lainnya dalam desa/kelurahan yang sama, namun sebagai akibat dari penambahan jumlah desa/kelurahan yang mendapatkan bantuan modal di tahun berikutnya. Tingkat pengembalian yang terus mengalami penurunan menyebabkan terhambatnya penyaluran bantuan dana kepada rumah tangga miskin lainnya.
Penyaluran Bantuan Modal Finansial
Kelompok masyarakat bersama dengan pemerintah desa/kelurahan dan PKM membuat proposal usulan dana kepada Gubernur melalui Bappeda