• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tes Diagnostik dalam Pembelajaran Matematika

ASESMEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

C. Asesmen dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Sekolah Dasar

6. Tes Diagnostik dalam Pembelajaran Matematika

Diagnosis diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh guru untuk mendeteksi dan menetapkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyerap pelajaran yang disampaikan oleh guru, khususnya dalam mengerjakan tugas-tugas akademik. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat berupa kesalahan dalam menerima konsep, prinsip, menggunakan algoritma, operasi hitung, dan lain-lain.

Langkah-langkah yang dilakukan guru dalam kegiatan belajar mengajar belum tentu menjamin terbinanya siswa yang kemampuannya berbeda, yaitu siswa-siswa berbakat, siswa yang kemampuan akademis-nya normal, siswa yang lambat belajar, dan siswa yang kurang mampu belajar. Untuk itu, pengajaran yang dilakukan guru semestinya bukan hanya pengajaran biasa, tetapi pengajaran diagnostik yang dilakukan secara terus menerus. Proses pengajaran diagnostik itu meliputi: (1) melihat kelemahan dan kekuatan siswa secara umum dan khusus serta memperhatikan penyebab kekuatan dan kelemahan tersebut; (2) merumuskan tujuan instruksional untuk pengajaran remidinya; (3) mencari dan merumuskan cara-cara untuk memperkaya dan

menyem-buhkan kelemahannya; dan (4) melakukan penilaian secara terus menerus (Ruseffendi, 1980).

Setelah guru menyiapkan rencana pelajaran dengan baik, guru mulai melakukan pengajaran di kelas dengan menggunakan metode yang tepat, sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan, dengan melibatkan secara aktif seluruh siswa. Segala upaya dilakukan guru agar materi pelajaran yang disajikan dapat diserap dengan mudah, benar, dan menyenangkan bagi siswa sehingga tujuan instruksional yang telah ditetapkan dapat tercapai. Setelah menyajikan materi pelajaran, guru mengadakan evaluasi secara tertulis atau lisan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui penguasaan materi pelajaran yang baru saja disajikan guru. Mengingat kondisi siswa yang beragam kemampuannya dan proses belajar mengajar dilakukan secara klasikal, masih ada saja kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa. Kesalahan-kesalahan tersebut tidak dapat dibiarkan begitu saja, mengingat matematika mendasarkan hierarki yang sangat ketat. Kurang memahami pada satu pokok bahasan akan mengakibatkan kesulitan dalam mempelajari pokok bahasan yang berikutnya. Oleh karena itu, guru perlu melakukan pengamatan terhadap pola kesalahan yang dilakukan oleh siswa tersebut, kemudian menetapkan hipotesis tentang kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Apakah kesalahan itu bersifat konseptual atau hanya karena ketidakcermatan belaka. Hal ini penting untuk diketahui guru agar dapat menentukan tindak lanjut terhadap kesalahan yang ada. Adapun langkah-langkah dalam mendiagnosis kesulitan belajar, yakni: (1) melihat tahap perkembangan mental siswa; (2) meneliti tujuan pembelajaran khusus (TPK) atau kompetensi yang belum tercapai; (3) meneliti prasyarat yang belum dikuasai siswa; (4) membuat soal-soal diagnostik; (5) melaksanakan tes diagnostik dan mengolah hasilnya; dan (6) mencari penyebab lain, selain dari kemampuan akademisnya (Ruseffendi, 1980).

Ketika proses matematis dievaluasi dan siswa merespon, proses kognitif yang benar atau salah dapat diduga. Tetapi, ketika siswa menjawab tidak benar, sulit mengetahui proses kognitif yang digunakan siswa untuk menjawab pertanyaan. Kadang-kadang dugaan dapat dibuat berdasarkan pekerjaan tertulis dengan menggunakan teknik analisis kesalahan. Jika metode kelompok tidak dapat menghasilkan data yang memadai, observasi atau interview klinis adalah cara yang terbaik untuk memperoleh data yang memadai (Underhill, 1992).

Kadang-kadang kesalahan merespon yang dilakukan siswa dapat mengindikasikan ketidakhadiran suatu skill atau konsep. Tetapi, kadang-kadang tidak demikian. Hal ini dapat dibuktikan oleh Casey; Clements (dalam Underhill, 1992) bahwa antara 20% dan 40% dari kesalahan siswa disebabkan oleh kekuranghati-hatian siswa itu sendiri.

Suatu cara sederhana untuk mengurangi kesalahan dan men-diagnosis kesulitan belajar siswa adalah menggunakan lebih dari satu pertanyaan dalam mengevaluasi suatu konsep atau skill. Jika siswa salah merespon dua pertanyaan, guru dapat meyakinkan bahwa siswa kurang memahami konsep atau skill daripada jika siswa hanya salah merespon satu pertanyaan saja.

Bagaimana guru mendiagnosis kesulitan belajar siswa, tergantung pada hasil belajar yang sedang diukur. Misalnya, guru memberikan soal 236 + 497 = ..., berarti guru akan mengevaluasi kemampuan siswa dalam perhitungan penjumlahan yang ditujukan pada tingkat keakuratan dan efisiensi perhitungan. Tetapi, soal tersebut tidak cukup untuk mengukur tingkat pemahaman karena siswa dapat juga menghitung soal tersebut dengan prosedur hafalan. Untuk mengevaluasi pemahaman, di samping soal tersebut, guru dapat menyuruh siswa menggunakan manipulatif untuk mendemonstrasikan penjumlahan. Tindakan ini bertujuan untuk meyakinkan pemahaman siswa terhadap penjumlahan (Underhill, 1992).

Tes diagnostik adalah seperangkat tes yang digunakan untuk mengungkap kekuatan dan kelemahan khusus siswa beserta sebab-sebabnya dalam menguasai suatu konsep matematika. Adapun format dari tes diagnostik dapat berupa wawancara, pengamatan, atau tes tertulis.

Karena akan mengungkap kekuatan dan kelemahan siswa tentang pemahaman suatu konsep, penggunaan alat peraga untuk mendemon-strasikan konsep akan lebih baik daripada hanya sekadar tes tertulis.

Dalam membuat dan menggunakan suatu tes akan melibatkan tiga langkah, yaitu: (1) memilih topik dan menentukan tujuannya; (2) menentukan pertanyaan atau tugas yang khusus; dan (3) menganalisis hasil tes. Setelah hasil tes dianalisis, guru dapat menemukan kekuatan dan kelemahan siswanya. Selanjutnya, guru menentukan tindak lanjut dari keadaan yang ditemukan di kelas.

Tes diagnostik dalam belajar matematika perlu dilakukan secara periodik. Hal ini bertujuan agar secara dini guru dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa dalam belajar matematika. Ini perlu dilakukan agar tidak terjadi kelemahan atau kesalahan dalam memahami konsep secara berkepanjangan, yang pada akhirnya akan dapat mempengaruhi hasil belajar siswa terhadap matematika.

7. Portofolio

Portofolio untuk penilaian adalah kumpulan hasil-hasil kerja siswa yang dapat digunakan sebagai informasi tambahan bagi guru untuk menilai kemajuan siswa dalam belajar matematika. Yang dimaksud penilaian dengan portofolio adalah prosedur penilaian yang dilakukan guru terhadap siswa dalam belajar matematika dengan menggunakan

sumber informasi berupa kumpulan hasil-hasil kerja siswa. Portofolio berisi sekumpulan koleksi pilihan siswa tentang pekerjaan rumah sehari-hari, hasil tulisan, gambar, tabel, grafik, diagram, dan komentar-komentar tertulis dari aktivitas pemecahan masalah secara individu maupun kelompok, tugas-tugas unjuk kerja, catatan wawancara baik yang ditulis guru maupun siswa, fotokopi surat penghargaan atau tanda prestasi, dan jurnal siswa. Sebuah portofolio bahkan dapat berupa foto atau rekaman video yang dibuat ketika siswa bekerja. Terdapat beberapa keuntungan penilaian dengan menggunakan portofolio, yaitu:

a. bukti-bukti unjuk kerja siswa lebih konkret, bahkan dapat melebihi pengetahuan yang terlihat dari luar.

b. catatan penilaian yang mencerminkan penekanan program matematika yang baik.

c. catatan yang permanen dan berjangka waktu panjang tentang kemajuan siswa mencerminkan sifat belajar seumur hidup.

d. gambaran yang jelas dan dapat dimengerti, selain skor tes yang misterius.

e. kesempatan untuk meningkatkan unjuk kerja sebagai kesan pribadi siswa.

f. dapat mengenal tipe-tipe belajar yang berbeda dari siswa.

g. suatu peranan aktif siswa dalam menilai dan memilih pekerjaan mereka.

Proses yang holistik dapat digunakan untuk menilai portofolio siswa. Portofolio dapat diketagorikan dalam tiga bendel, yaitu kategori

"bagus", "cukup", dan "kurang". Kemudian setiap tumpukan itu dapat dipisahkan menurut kategori lagi yang lebih khusus. Setiap portofolio perlu dilakukan evaluasi secara mendalam agar informasi tentang kemajuan siswa dalam belajar matematika diperoleh secara akurat sesuai dengan keadaan siswa yang sebenarnya.