Pada penderita yang dicurigai menderita ekstrinsik atau alergik bronkial asma, seharusnya dilaksanakan tes eksposisi inhalatif dengan alergen
tertentu (inhalatif provokatif tes spesifik), karena hasil tes intra- atau epikutan yang positif belum membuktikan seratus persen, bahwa sistem pernafasan sudah terkena. Kecuali jika dalam anamnesa sudah benar-benar nyata, bahwa pada eksposisi dengan alergen tersebut penderita menderita sesak nafas. Dalam
hal ini bahkan tes eksposisi inhalatif dengan alergen tersebut tidak dianjurkan, karena jelas berbahaya.
Tes eksposisi inhalatif spesifik ini tentunya harus dilaksanakan dengan persiapan yang teliti, terutama persiapan untuk kedaan gawat-darurat yang bisa terjadi, yaitu reaksi yang parah dengan sesak nafas berat yang bisa sampai menyebabkan kematian. Karena itu sebelum tes ini harus dipastikan, bahwa obat-obatan seperti kortison, antihistaminikum, epinefrin, cairan infus serta alat-alat untuk resusitasi termasuk intubasi sudah tersedia lengkap.
Pelaksanaan tes eksposisi inhalatif :
Setelah persiapan-persiapan di atas, pemeriksaan dimulai dengan pelaksanaan spirometri. Jika ternyata pada pasien sudah dapat dibuktikan adanya obstruksi bronkial, maka tes tidak boleh dilaksanakan. Kecuali kalau obstruksinya hanya ringan sekali. Dalam hal ini dan jika tidak ada obstruksi, maka tes bisa dimulai dengan menyemprotkan alergen ke lubang hidung atau pasien harus menghirup alergen tersebut dari nebulizer.
Tes provokasi inhalatif Spirometri
Setelah beberapa waktu, spirometri diulangi lagi dan jika tenyata timbul obtsruksi, maka harus diberikan bronkolitikum/betamimetikum. Tes ini bisa dilakukan di praktik, tetapi sebaiknya pasien tidak diijinkan pulang
selama 1 - 2 jam untuk menjaga-jaga timbulnya reaksi lambat, yang terkadang juga bisa berat.
5. Uji provokasi Makanan Persiapan
Sebelum melakukan uji provokasi makanan, harus diberikan penjelasan rinci kepada pasien atau orang tua pasien tentang prosedur pemeriksaan, keuntungan dan kegunaan pemeriksaan, serta komplikasi yang mungkin terjadi.
Eliminasi makanan. Eliminasi makanan diperlukan sebelum melakukan provokasi. Eliminasi dilakukan selama 3 minggu dengan bentuk diet yang disesuaikan dengan anamnesis, pemeriksaaan fisis, dan pemeriksaan laboratorium. Ada 5 bentuk diet yang telah disebutkan di dalam bab tentang alergi makanan. Jika diet eliminasi berhasil menyembuhkan semua gejala alergi maka setelah 3 minggu dari awal diet dapat dilakukan uji provokasi.
Penghentian obat tertentu. Menjelang provokasi maka beberapa jenis obat yang dapat mengganggu penilaian uji provokasi makanan harus disingkirkan dalam selang waktu tertentu, yaitu antihistamin (96 jam), agonis β ( 12 jam), teofilin ( 12 jam), dan kromolin ( 12 jam).
Metode dan cara uji provokasi. Ada 2 macam cara uji provokasi makanan, yaitu uji provokasi makanan terbuka ( open food challenge), dan uji provokasi makanan buta ganda (double blind placebo controlled food challenge=DBPCFC) .
Uji provokasi makanan terbuka. Jika uji kulit negatif dan riwayat reaksi terhadap makanan meragukan maka uji provokasi makanan terbuka dapat dilakukan setelah melakukan diet eliminasi selama 3 minggu.
Uji provokasi makanan buta ganda. Cara ini merupakan cara yang ideal untuk menentukan adanya reaksi terhadap makanan. Untuk memenuhi persyaratan buta ganda maka vehikulum harus memenuhi syarat sebagai berikut, 1) menghilangkan bau, 2) menghilangkan rasa, 3) menghilangkan penampilan, dan 4) dapat memuat sejumlah banyak makanan hingga dapat
dilak provokasi multipel dalam beberapa jam. Vehikulum tersebut dapat berupa kapsul, es kering, es krim, saus apel, hamburger, atau campuran tapioka
dengan buah dan sop. Kapsul yang dipakai umumnya ukuran 00 terbuat dari gelatin buram dengan bintik-bintik titanium oksida. Untuk 5 gram tepung telur kering biasanya memerlukan 10-15 kapsul. Setelah diisi, kapsul disalut dengan bubuk gula sehingga rasanya sama dengan kapsul plasebo. Plasebo yang
Pemberian makanan secara buta
Pemberian harus bertahap mulai dari jumlah yang diperkirakan tidak menyebabkan serangan gejala alergi, kemudian ditingkatkan 2 kali lipat setiap 15-60 menit sampai timbul gejala yang nyata, atau dihentikan setelah mencapai 8-10 gram makanan kering atau 60-100 gram makanan basah dosis tunggal. Cukup jelas bahwa ketika dosis mencapai 8-10 gram makanan kering, berarti pasien mendapat dosis total sebesar 15-20 gram sejak dari awal sampai akhir. Jika provokasi buta ganda sampai 8 gram makanan kering hasilnya negatif maka makanan tersebut boleh dicoba secara terbuka yang dianjurkan dilakukan dengan pengawasan. Kadang-kadang pada pemberian provokasi makanan secara terbuka terjadi gejala alergi. Hal ini disebabkan karena nilai ambang serangan alergi lebih tinggi daripada provokasi buta, alergenisitas makanan mungkin berbeda karena perbedaan penyajian, dan faktor psikologis berpengaruh pada provokasi terbuka.
2.4 Diagnosis
Diagnosis dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian
makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi. Diagnosis alergi makanan tidak ditegakkan berdasarkan test alergi, karena validitasnya sangat terbatas. Hasil tes alergi positif belum tentu mengalami alergi makanan. Demikian pula sebaliknya hasil negative belum tentu tidak alergi makanan tersebut.
Jenis alergi makanan di tiap Negara berbeda tergantung usia dan kebiasaan makan makanan tertentu. Alergi makanan pada bayi di Amerika Serikat terbanyak disebabkan karena protein susu sapi, sereal, telur, ikan dan kedelai. Pada usia lebih tua coklat, kacang tanah lebih berperanan.
Data yang diperlukan pada evaluasi alergi makanan (Ari Baskoro, 2007): 1. Makanan yang dicurigai
2. Banyaknya bahan makanan yang diperlukan untuk memicu timbulnya reaksi
3. Adanya riwayat timbulnya reaksi pada setipa kali paparan 4. Waktu antara paparan hingga timbulnya reaksi
6. Hilangnya gejala setelah bahan makanan yang dicurigai dihindari/dieliminasi
7. Lama berlangsungnya gejala
8. Pengobatan yang diperlukan untuk mengatasi masalah 2.5 Tindakan pencegahan terjadinya alergi
Ada 3 hal utama dalam tindakan pencegahan terjadinya alergi yaitu : 1. Penghindaran
Tindakan penghindaran akan berhasil bila penyebab / pencetus terjadinya alergi diketahui. Salah satu cara untuk mengetahui pencetus alergi ialah dengan melakukan uji kulit ( tes alergi ) di samping hasil pengamatan yang cermat sehari-hari oleh orang tua penderita. Dari hasil pemeriksaan tes alergi dapat diketahui zat-zat yang menimbulkan alergi. Beberapa zat-zat terutama makanan kadang-kadang tidak ada hubungan yang jelas antara hasil tes dengan gejala alergi. Hal ini disebabkan anak yang mempunyai alergi terhadap makanan belum tentu karena laergi terhadap makanan itu sendiri, akan tetapi alergi terhadap zat-zat hasil pemecahan / metabolisme makanan dalam tubuh. Selain tes alergi pada kulit, juga dapat dilakukan pemeriksaan kadar immunoglobulin E yang spesifik dalam darah terhadap zat-zat tertentu yang dicurigai menimbulkan alergi.
Hindari makanan tambahan sebelum si kecil mencapai usia 4 bulan, karena untuk mengefektifkan ASI eksklusif untuk meningkatkan daya tahan tubuh si kecil.
Hindari penggunaan pewangi ruangan/pembersih ruangan yang harus disemprotkan ke seluruh ruangan. Jangan merokok/membiarkan orang lain merokok di sekitar si kecil. Jangan biarkan binatang peliharaan seperti anjing, kucing, burung berada di dalam rumah sebelum anak menginjak usia 1 tahun.
2. Cara hidup yang baik
Cara hidup yang baik perlu diperhatikan pada penderita alergi yaitu cukup istirahat, olahraga teratur, disiplin dalam diet yang ditetapkan serta hidup dalam lingkungan dengan zat allergen yang minimal
3. Pemakaian obat-obatan
Obat-obatan pencegahan diberikan pada penderita alergi yang kronis/berat atau yang sering kambuh.Pemberian imunoterapi/desensitisasi (pengebalan terhadap allergen) hanya berhasil bila penderita hanya mempunyai alergi terhadap
satu zat saja. Ibu hamil yang mempunyai riwayat alergi dalam keluarga sebaiknya melakukan diet pencegahan terhadap makanan yang sering menimbulkan alergi untuk mencegah terjadinya reaksi alergi pada bayi yang dilahirkan. Diet ini dilakukan pada akhir triwulan kehamilan.
2.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan alergi makanan harus secara benar dan berkesinambungan, saat ini penatalaksanaan yang paling ideal adalah menghindari pencetus yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut. Namun, masih banyak perbedaan dan kontroversi diantara para ahli atau peneliti dalam sistem penanganan alergi makanan yang sesuai. Sehingga banyak tercipta pola dan variasi pendekatan diet yang dilakukan oleh para ahli dalam menangani alergi makanan dan autisme. Banyak kasus pengendalian alergi makanan tidak berhasil dengan optimal, karena penderita
menghindari beberapa makanan yang dianggap sebagai penyebab alergi dari hasil pemeriksaan yang bukan merupakan pemeriksaan baku atau “Gold Standard”.
Penatalaksanaan alergi dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Terapi Non Farmakologis: a. Terapi desentisasi.
Berupa penyuntikan berulang alergen (yang dapat mensentisasi pasien) dalam jumlah yang sangat kecil dapat mendorong pasien membentuk antibodi IgG terhadap alergen. Antibodi ini dapat bekerja sebagai antibodi penghambat (blocking antibodies). Sewaktu pasien tersebut kembali
terpajan ke alergen , maka antibodi penghambat dapat berikatan dengan alergen mendahului antibodi IgE. Karena pengikatan IgG tidak menyebabkan degranulasi sel mast yang berlebihan, maka gejala alergi dapat dikurangi.
b. Terapi probiotik (preparat sel mikroba atau komponen mikroba yang dapat mempertahankan kesehatan melalui kegiatan yang dilakukan dalam flora usus).
Salah satu pendekatan terbaru yang digunakan dalam penatalaksanaan alergi makanan. Penelitian yang dilakukan oleh Trapp et al. (1993) menunjukkan bahwa responden yang diberikan yoghurt memiliki penurunan konsentrasi IgE dalam darah dan frekuensi alergi yang rendah. Matsuzaki et
al (1998) menunjukkan bahwa pemberian bakteri probiotik Lactobacillus casei (L. casei) secara oral terhadap tikus, dapat menghambat pembentukan IgE oleh ovalbumin. Namun, informasi terhadap efektivitas probiotik dalam penatalaksanaan alergi makanan sangat terbatas, untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut (Isolauri et al., 1999; Kirjavainen et al., 1999).
c. Payung ASI Eksklusif
Risiko alergi makanan pada bayi dapat dikurangi dengan peran aktif ibu memberi ASI eksklusif selama 6 bulan penuh. Jangan kenalkan makanan tambahan apapun pada periode ini, terlebih susu formula berbahan dasar sapi serta produk-produk turunan susu. Mengenalkan makanan padat pada usia terlalu dini, yaitu 4 bulan pertama kehidupan anak, dihubungkan dengan peningkatan risiko alergi hingga usia 10 tahun. Bayangkan dampaknya pada anak. Anjuran studi Dr Fiocchi yang dimuat di jurnal Annals Allergy, Asthma & Immunology disarankan mengenalkan makanan satu persatu. Para peneliti juga mengingatkan bahwa makanan padat harus dikenalkan dalam jumlah kecil terlebih dahulu. Jangan langsung memberi bayi campuran beberapa jenis bahan makanan. Sebab, dengan begini akan
sulit diketahui apakah bayi Anda alergi terhadap bahan makanan tertentu.
d. Diet
Diet dilakukan selama 3 minggu, setelah itu dilakukan provokasi dengan 1 bahan makanan setiap minggu. Makanan yang menimbulkan gejala alergi pada provokasi ini dicatat. Disebut alergen kalau pada 3 kali provokasi menimbulkan gejala alergi. Waktunya tidak perlu berturut-turut. Jika dengan salah satu regimen diet tidak ada perbaikan padahal sudah dilakukan dengan benar, maka diberikan regimen yang lain. Sebelum memulai regimen yang baru, penderita diberi ”carnaval” selama seminggu, artinya selama 1 minggu itu semua makanan boleh dimakan (pesta). Maksudnya adalah memberi hadiah setelah 3 minggu diet dengan baik, dengan demikian ada semangat untuk menjalani diet berikunya. Selanjutnya diet yang berikutnya juga dilakukan selama 3 minggu sebelum dilakukan provokasi. Ada beberapa regimen diet yang bisa digunakan :
- ”ELIMINATION DIET”: beberapa makanan harus dihindari yaitu Buah, Susu, Telur, Ikan dan Kacang, di Surabaya terkenal dengan singkatan BSTIK (data BSTIK terlampir). Merupakan makanan-makanan yang banyak ditemukan sebagai penyebab gejala alergi, jadi makanan-makanan dengan indeks alergenisitas yang tinggi. Indeks ini mungkin lain untuk wilayah yang lain, sebagai contoh dengan DBPFC mendapatkan telur, kacang tanah, susu sapi, ikan, kedelai, gandum, ayam, babi, sapi dan kentang, sedangkan Bischop mendapatkan susu, telur, kedelai dan kacang. - ”MINIMAL DIET 1” (Modified Rowe’s diet 1): terdiri dari beberapa
makanan dengan indeks alergenisitas yang rendah. Berbeda dengan ”elimination diet”, regimen ini terdiri dari beberapa bahan makanan yang diperbolehkan yaitu : air, beras, daging sapi, kelapa, kedelai, bayam, wortel, bawang, gula, garam dan susu formula kedelai. Bahan makanan lain tidak diperbolehkan.
- ”MINIMAL DIET 2” (Modified Rowe’s Diet 2) : Terdiri dari makanan-makanan dengan indeks alergenisitas rendah yang lain yang diperbolehkan, misalnya : air, kentang, daging kambing, kacang merah, buncis, kobis, bawang, formula hidrolisat kasein, bahan makanan yang
lain tidak diperkenankan.
- ”EGG and FISH FREE DIET”: diet ini menyingkirkan telur termasuk makanan-makanan yang dibuat dari telur dan semua ikan. Biasanya diberikan pada penderita-penderita dengan keluhan dengan keluhan utama urtikaria, angionerotik udem dan eksema.
- ”HIS OWN’S DIET”: menyingkirkan makanan-makanan yang dikemukakan sendiri oleh penderitanya sebagai poenyebab gejala alergi.
2. Terapi Farmakologis:
Obat alergi secara optimal hanya dapat menekan reaksi alergi dalam waktu 12-24 jam. Bila reaksi itu berkurang maka akan timbul gejala lagi dan harus minum obat lagi. Bahkan meskipun sudah minum obat kadang hanya dapat menekan gejala alergi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali dan umumnya mempunyai efisiensi rendah. Bila diet tidak bisa dilaksanakan maka harus diberi farmakoterapi dengan obat-obatan seperti yang tersebut di bawah ini :
a. Prescription antihistamines, dapat menghambat degranulasi sel mast sehingga dapat mengurangi gejala-gejala alergi tanpa menyebabkan rasa kantuk. Pengobatan ini dilakukan sesaat si penderita mengalami reaksi alergi. Jangka waktu pemakaian hanya dalam satu hari, 24 jam. Diantaranya adalah;
• H1-Reseptor antagonis
H1 reseptor antagonis generasi kedua tidak ada efek samping CNS. Setirizin bisa digunakan pada anak mulai umur 1 tahun dan tidak ada efek samping kardiovaskular, dapat digunakan jangka lama. H1 reseptor antagonis generasi pertama efek antikolinergiknya dapat memperburuk gejala asma karena pengentalan mukus. Pada dosis tinggi efek samping pada CNS sangat membatasi penggunaanya dalam pengobatan asma. Obat-obatan yang sering dipakai misalnya;
Difenhidramin (diberikan dengan dosis 0,5 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam) CTM (diberikan dengan dosis 0,09 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam) Setirizin (dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis,1 kali/hari; > 6 tahun : 5-10 mg/dosis,1 kali/hari), Loratadin (dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 2-5 tahun : 2.5 mg/dosis,1 kali/hari; > 6 tahun : 10 mg/dosis,1 kali/hari), Feksofenadin (dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 6-11 tahun : 30 mg/hari, 2 kali/hari; > 12 tahun : 60 mg/hari, 2 kali/hari atau 180 mg/hari, 4 kali/hari), Azelastine (dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 5-11 tahun : 1 semprotan 2 kali/hari; > 12 tahun : 2 semprotan, 2 kali/hari) Pseudoephedrine (dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-6 tahun : 15 mg/hari, 4 kali/hari; 6-12 tahun : 30 mg/hari, 4 kali/hari; > 12 tahun : 60 mg/hari 4 kali/hari), dan Ipratropium bromide 0.03% (dosis 2 semprotan 2-3 kali/hari).
b. Steroid atau Kortikosteroid yang dihirup (Nasal corticosteroid semprot) atau sistemik bekerja sebagai obat anti peradangan dan dapat mengurangi gejala suatu alergi. Cara pengobatan ini yaitu dengan dimasukkan ke dalam mulut atau melalui injeksi. Obat ini bekerja cukup ampuh dan aman dalam penggunaan, pengobatan ini tidak menyebabkan efek samping. Orang yang mengidap alergi perlu menggunakan obat-obat ini dalam jangka waktu yang cukup lama
sebelum obat menjadi efektif. Kortikosteroid inhalansif hanya berefek di saluran nafas dan tidak menimbulkan efek sistemik. Contoh:
• Glukokortikoid.
Digunakan terutama bila ada gejala asma. Steroid oral pada asma akut digunakan pada yang gejala dan PEF nya makin hari makin memburuk, PEF yang kurang dari 60%, gangguan asma malam dan menetap pada pagi hari, lebih dari 4 kali perhari, dan memerlukan nebulizer serta bronkodilator parenteral darurat. menggunaan bronkodilator . Steroid oral yang dipakai
adalah : metil prednisolon/hidrocortison (dengan dosis 4-10 mg/kg/dosis tiap 4-6 jam sampai kegawatan dilewati disusul rumatan prednison oral), prednisolon dan prednison (diberikan sebagai dosis awal adalah 1-2 mg/kg/hari dosis tunggal pagi hari sampai keadaan stabil kira-kira 4 hari kemudian diturunkan sampai 0,5 mg/kg/hari, dibagi 3-4 kali/hari dalam 4-10 hari). Steroid hirupan digunakan bila ada gejala asma dan rinitis alergika diantaranya adalah; fluticasone (Flonase), mometasone (Nasonex), dan triamcinolone (Nasacort).
c. Beta Arenergic Agonist
Digunakan untuk relaksasi otot polos bronkus. Epinefrin subkutan bisa diberikan dengan dosis 0,01 mg/kg/dosis maksimum 0,3 mg/dosis. Biasanya digunakan untuk penanganan syok anafilaktik.
d. Metil Xantin (Beta 2 Agonist)
Digunakan sebagai bronkodilator. Obat yang sering digunakan adalah aminofilin dan teofilin, dengan dosis awal 3-6/kg/dosis, lanjutan 2,5 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam.
e. Simpatomimetika
• Efedrin : 0,5 – 1,0 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam
• Orciprenalin : 0,3 – 0,5 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
• Terbutalin : 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
• Salbutamol : 0,1 – 0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
LTC4 dan LTD4 menimbulkan bronkokonstriksi yang kuat pada manusia, sementara LTE4 dapat memacu masuknya eosinofil dan netrofil ke saluran nafas. Dapat digunakan pada penderita dengan asma persisten ringan. Namun pada penelitian dapat diberikan sebagai alternatif peningkatan dosis kortikosteroid inhalasi, posisi anti lekotrin mungkin dapat digunakan pada asma persisten sedang, bahkan pada asma berat yang selalu membutuhkan kortikosteroid sistemik, digunakan dalam kombinasi dengan xantin, beta-2-agonis dan steroid. Preparat yang sudah ada di Indonesia adalah Zafirlukast yang diberikan pada anak sebesar 20 mg/dosis 2 kali/24jam.
g. Kromolin dan Nedokromil.
Dipakai terutama pada penderita dengan gejala asma dan rinitis alergika. Kromolin umumnya efektif pada alergi makanan dengan gejala Dermatitis Atopi yang disebabkan alergi makanan. Dosis kromolin untuk penderita asma berupa larutan 1% solution (20 mg/2mL) 2-4 kali/hari untuk nebulisasi atau berupa inhalasi dengan metered-dose inhaler 1,6 mg (800 µg/inhalasi) 2-4 kali/hari. Untuk rinitis alergik digunakan obat semprot 3-4 kali/hari yang mangandung kromolin 5.2 mg/semprot. Untuk konjungtivitis diberikan tetes mata 4% 4-6 x 1 tetes mata/hari. Nedokromil untuk nebulisasi tak ada. Yang ada berupa inhalasi dengan metered-dose inhaler dan dosis untuk asma adalah 3,5 mg (1,75 mg/inhalasi) 2-4 kali/hari. Untuk konjungtivitis diberikan tetes mata nedokromil 2% 4-6 x 1-2 tetes mata/hari.
Komplikasi yang sangat berbahaya pada pasien dengan alergi (hipersensitivitas) adalah Syok Anafilaktik yang dapat menyebabkan kematian Syok Anafilaktik adalah gangguan perfusi jaringan akibat adanya reaksi antigen-antibodi yang mengeluarkan histamine, dengan akibat peningkatan permeabilitas membrane kapiler dan terjadi dilatasi arteriole, sehingga venous return menurun. Untuk itu diperlukan manajemen yang baik pada syok anafilaktik yang tepat untuk menghindari kematian.
Penatalaksanaan syok anafilaktik.
• Pertahankan jalan nafas
• Beri suntikan epinefrin/adrenalin (0,01 mg/kg/dosis maksimum 0,3 mg/dosis) di Subcutan.
• Beri oksigen
• Pemberian metil prednisolon/hidrocortison (dengan dosis 4-10 mg/kg/dosis tiap 4-6 jam sampai kegawatan dilewati disusul
rumatan prednison oral)
• Pemberian Difenhidramin (diberikan dengan dosis 0,5 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam).
(DIET BSTIK)
NO PANTANGAN
BAHAN
YANG TIDAK DAPAT DIMAKAN
PENGGANTI
BAHAN
YANG DAPAT DIMAKAN 1 Buah-buahan - semua buah Umbi-umbian - Kentang, wortel,
BRONKOSPASME HIPOTENSI
Pemberian Metil Xantin (Beta 2 Agonist) Digunakan sebagai bronkodilator. Obat yang sering digunakan adalah aminofilin dan teofilin, dengan dosis awal 3-6/kg/dosis, lanjutan 2,5 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam.
Pemberian posisi trendelenbrug (30-45 derajat).
Manajemen cairan yang benar (pemberian infuse
cairan kristalloid atau colloid)
- semua bahan makanan yang mengandung buah
Contohnya:
- sayur asam, saos tomat, sambal - rawon, sayur nangka (gudeg), sayur labu
- coklat, keripik melinjo
bengkuang, ketela pohon, tales, gembili,
gadung, semua sayur dan sebagainya.
2 Susu sapi
Susu sapi dan bahan bahan makanan yang mengandung susu sapi, contohnya;
- Permen - Es krim - Biscuit - Keju, - Chiki, chitos dst Susu kedelai
Susu kedelai yang ada di pasaran: - Nutrilon Soya - Nursoy, probee 3 Telur unggas dan daging unggas
Telur ayam/ bebek/burung dan daging ayam/bebek/burung, contohnya;
- Mie telur, Indomie, Supermie, Sarimi, Makaroni, roti, kue dan sebagainya.
Tahu dan Tempe Daging kambing, gule, sate kambing, daging sapi dst.
4
Ikan, kepiting, Udang dan
Rajungan
Ikan air laut/tawar, kepiting, udang, rajungan, dan bahan makanan yang mengandung ikan/udang/kepiting, contohnya: - Petis - Kerupuk - terasi Daging sapi, kambing, kerbau 5 Kacang Tanah dan Kacang Hijau Termasuk:
- bumbu gado-gado,sate, dan rujak.
- Kecambah (Kacang tanah dan Kacang hijau).
- Bahan dari kacang hijau (tepung hungkue dan mie Su’un)
Kacang sayur, kacang kedelai, buncis, kacang panjang, kacang merah,
kacang beras.
Mie mihun dari (beras) bisa digunakan sebagai
pengganti Su’un.
Keterangan :
1. Selama 3 minggu, hindari makanan pantangan, termasuk makan dengan pewarna dan pengawet.
2. Setelah berpantang 3 minggu dan gejala alergi hilang, setiap minggu dapat mencoba 1 jenis makanan pantangan, diberikan sedikit demi sedikit.
3. Bila muncul gejala alergi, berarti anak alergi dengan jenis makanan tersebut. Hentikan makanan yang dicobakan dan obati gejala.
4. Bila tidak muncul gejala alergi, berarti anak tidak alergi dan makanan boleh dikonsumsi.
2.7 WOC
Ig E melekat pada sel mast & Allergen berikatan
Ion Ca++masuk sel
Perubahan membran sel mast
Degranulasi sel
Pengeluaran mediator , pelepasan histamin pajanan allergen :
bahan makanan, obat-obatan, tungau, debu,
Ditangkap APC ( antigen precenting Peptide-peptida HLA IL-Sel B
Produksi IL-4 dan Th-2 Presentasi ke sel Sensitifitas tidak Sel B memproduksi Th-2 Eosinofil Sensitifitas sel mass dan
B B3
Mk :
- Resti Kekurangan Vol Cairan
- Nutrisi kurang dari k Mk : pola nafas inefektif B1 Bronko konstriksi Dispnoe Respon system imune Pengelura n secret pada mukosa Mk : bersihan jalan nafas inefektif Tidak ditemuka n B 5 Histamin pd fundus lambung Aktivasi sel parietal Pe↑ asam lambun g Mual / muntah B 2Vasodilat asi perifer & pembeng kakan ruang intertisiu