• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Penundaan Pemberian Tarif Preferensi

3.3 Tes Formatif 3

1. Sebagai seorang PFPD di KPPBC Soekarno-Hatta, anda menerima pengajuan Pemberitahuan Pabean untuk impor barang tujuan pameran (exhibition). Importir memberitahukan kepada PFPD tersebut bahwa apabila pada saat pameran nanti terdapat barang impor yang dibeli oleh pengunjung, maka pihak eksportir telah menyanggupi akan mengirimkan surat keterangan asal atas barang tersebut. Menanggapi pemberitahuan dari importir tersebut, maka tindakan yang harus dilakukan oleh PFPD adalah : a. Memberikan catatan pada Pemberitahuan Pabean yang diterimanya,

yang pada intinya untuk mengingatkan tentang rencana penggunaan surat keterangan asal atas barang yang dibeli oleh pengungjung pameran.

b. Menyimpan sementara dokumen Pemberitahuan Pabean tersebut pada arsip khusus, untuk diproses setelah adanya transaksi antara pihak yang memasukkan barang dengan pengunjung yang membeli barang.

c. Memberitahukan kepada importir bahwa untuk mengantisipasi kemungkinan adanya transaksi selama pameran, maka sesuai OCP dari

perjanjian pembentuk skema FTA-TIG, pada saat importasinya harus telah dilampiri dengan surat keterangan asal.

d. Meminta importir untuk mengurus surat keterangan asal-nya segera, sementara barang diproses secara normal sebagaimana prosedur untuk impor tujuan pameran.

2. Seorang importir di Indonesia berencana mengimpor satu produk elektronik buatan China, melalui marketing-nya di Singapore. Atas transaksi ini pihak importir meminta agar atas barang yang akan diimpornya dapat dilindungi dengan surat keterangan asal, dan kemudian disepakati oleh pihak perusahaan Singapore. Berdasarkan OCP, maka mekanisme yang dapat ditempuh adalah :

a. Third country invicing.

b. Back-to-back ceritificate of origin.

c. True certified certificate of origin.

d. Issued retroactively.

3. Untuk surat keterangan asal Form E yang digunakan untuk melindungi impor barang dengan menggunakan mekanisme third country invoicing dalam rangka skema ASEAN-China FTA-TIG, maka sebagaimana diatur dalam OCP, perlakuan dalam surat keterangan asal-nya adalah sebagai berikut : a. Box 10 hanya diisi dengan nomor dan tanggal invoice yang diterbitkan

oleh lawan transaksi importir, karena importir tidak melakukan transaksi dengan perusahaan di negara penerbit surat keterangan asal.

b. Box 10 dalam surat keterangan asal harus diisi dengan dua nomor dan tanggal invoice, yang diterbitkan oleh pabrikan di negara tempat penerbitan surat keterangan asal dan yang diterbitkan oleh lawan transaksi importir. Informasi tentang third country invoicing tidak perlu dicantumkan.

c. Box 10 tidak perlu diisi dengan nomor dan tanggal invoice manapun, karena keduanya akan dilampirkan dan dijadikan sebagai sebagai dokumen pendukung pemberitahuan pabean ketika diajukan kepada petugas pabean di kantor pelayanan dan pengawasan.

d. Box 10 harus diisi dengan nomor dan tanggal invoice yang diterbitkan oleh perusahaan di tempat penerbitan surat keterangan asal dan juga yang diterbitkan oleh lawan transaksi importir. Setelah itu penjelasan tentang third country invoicing dan lawan transaksinya ditulis di box 7.

4. Dalam sebuah surat keterangan asal yang diajukan importir melalui KPU Tanjung Priok kedapatan bahwa pada box 7 terdapat sebagian dari uraian barang yang dicoret, kemudian di atasnya terdapat uraian pengganti dari yang dicoret tersebut. Tindakan anda sebagai pejabat yang melakukan pemeriksaan dokumen adalah :

a. Memastikan bahwa coretan tersebut menggunakan tinta yang sama dengan warna tinta yang dicoret, serta ditanda tangani dengan jelas.

b. Memastikan bahwa atas coretan tersebut telah diberikan paraf dan stempel oleh pejabat yang berwenang, sebagaimana tersebut dalam daftar spesimen dari negara penerbit surat keterangan asal tersebut.

c. Menerima surat keterangan asal tanpa perlu melakukan pemeriksaan, sepanjang seluruh box telah diisi lengkap, serta box 12 telah ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang sebagaimana daftar spesimen yang telah dibagikan.

d. Mengembalikan surat keterangan asal yang diterimanya kepada importir, dan meminta untuk mengganti dengan yang baru dengan tanpa coretan apapun.

5. Seorang pejabat pemeriksa dokumen di KPPBC Tanjung Perak mendapat pengajuan PIB dengan dilampiri surat keterangan asal Form D dari Malaysia.

Pada box 8 surat keterangan asal tertulis tertulis PC 30%, yang artinya ? a. Nilai 30% sama dengan nilai Regional Value Content atau RVC, sehingga

atas impor barang tersebut dapat diberikan tarif preferensi dalam skema ATIGA.

b. Kriteria origin dari barang yang diimpor adalah partial cummulation 30%, dan tidak berhak mendapatkan tarif preferensi.

c. Angka 30% menunjukkan bahwa sejumlah itulah bahan baku yang digunakan oleh perusahaan di Malaysia untuk membuat barang tersebut, yang berasal dari negara-negara bukan anggota skema FTA-TIG.

d. Angka 30% menunjukkan bahwa hanya sejumlah itulah bahan baku yang bersumber dari Malaysia untuk pembuatan barang tersebut.

3.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan materi yang sudah ada pada pembahasan ini. Hitunglah jawaban yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini.

Perhatikan dan cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci sebagaimana rumus berikut.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%

Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman (TP) dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai:

91 % s.d 100 % : Sangat Baik 81 % s.d. 90,99 % : Baik

71 % s.d. 80,99 % : Cukup 61 % s.d. 70,99 % : Kurang

0 % s.d. 60,99 % : Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.

PENUTUP

Saudara para peserta workshop Free Trade Area-Trade in Goods, Saudara telah mempelajari seluruh kegiatan belajar yang meliputi KB-1 sampai dengan KB-3 dengan materi penerbitan certifiate of origin atau surat keterangan asal, penerimaan certificate of origin atau dikenal juga dengan verifikasi surat keterangan asal oleh administrasi pabean di negara importir, dan hal-hal khusus yang dalam implementasi skema FTA-TIG, yang seluruhnya difokuskan pada tujuan untuk mendapatkan tarif preferensi.

Modul ini merupakan gambaran dari tata cara penanganan surat keterangan asal, mulai dari penerbitan surat keterangan asal oleh issuing authority di negara asal barang atau negara pengekspor, pemeriksaan oleh petugas pabean di negara importir untuk menentukan apakah atas produk yang diimpor berhak memperoleh tarif preferensi atau tidak, serta beberapa ketentuan/prosedur khusus berupa fleksibilitas sebagaimana diatur dalam OCP.

Modul ini juga merupakan modul penutup dari tiga modul dalam rangka workshop ROO, dan merupakan bagian tidak terpisahkan dalam pembelajaran satu sama lain, sehingga untuk memahaminya harus memiliki bekal yang cukup terkait pemahaman kedua modul sebelumnya.

Sebelum Saudara menyudahi mata pelajaran ini disarankan Saudara mengerjakan test sumatif sebagaimana dibawah ini. Selanjutnya dengan selesainya pembelajaran modul ini diharapkan Saudara telah benar-benar memahami seluruh materi terkait pemahaman ROO, yang akan menjadi bekal Saudara dalam menangani impor menggunakan skema FTA-TIG, dimanapun Saudara ditempatkan.

Diharapkan pemahaman yang telah Saudara peroleh pada workshop ini dapat bermanfaat, tidak saja bagi Saudara sendiri, melainkan juga seluruh pegawai bea dan cukai yang berada di kantor Saudara, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk dijadikan bahan sosialisasi kepada masyarakat luas yang berminat mempelajari peran DJBC dalam skema FTA-TIG atau bahkan ingin memanfaatkan skema tersebut.

Semoga sukses.

TES SUMATIF

Pilihlah jawaban yang menurut anda paling sesuai.

1. Peran Direktorat Jendral Bea dan Cukai dalam skema FTA-TIG adalah sebagai receiving authority, yaitu :

a. Sebagai penerima (receiving) permohonan untuk mendapatkan surat keterangan asal yang diajukan oleh eksportir yang berada di bawah lingkup pengawasannya.

b. Sebagai penerima (receiving) surat keterangan asal yang diajukan oleh importir, bersama-sama dengan pemberitahuan pabean.

c. Sebagai penerbit surat keterangan asal yang diajukan oleh eksportir yang menghendaki agar atas barang yang diekspornya dapat memperoleh tarif preferensi pada saat diajukan oleh importir di negaranya.

d. Sebagai penerima (receiving) surat keterangan asal, kemudian dilakukan pemeriksaan untuk menguji apakah atas barang yang diimpor dengan dilindungi surat keterangan asal tersebut layak atau tidak untuk memperoleh tarif preferensi.

2. Dalam penerbitan surat keterangan asal, dimungkinkan untuk dilakukan sebelum atau setelah tanggal Bill of Lading. Bagaimanakah pengaturan penerbitan umum dari surat keterangan asal tersebut ?

a. Surat keterangan asal dapat diterbitkan sebelum tanggal B/L, pada saat, maupun tiga hari setelah tanggal B/L tersebut, bergantung pada skema FTA-TIG yang akan digunakan.

b. Surat keterangan asal harus diterbitkan setelah lewat tiga hari tanggal B/L dan selanjutnya diberikan contreng pada box 13.

c. Surat keterangan asal dapat diterbitkan setelah pengajuan PIB kepada administrasi pabeand di negara importir.

d. Surat keterangan asal harus diterbitkan tepat bersamaan tanggalnya dengan tanggal yang tertera pada B/L.

3. Salah satu pengecualian dari penerbitan umum adalah adanya surat keterangan asal yang diterbitkan diluar periode yang telah ditetapkan, yang kemudian dikenal dengan istilah :

a. ISSUED RETROACTIVELY b. THIRD COUNTRY INVOICING.

c. RETROACTIVE CHECK.

d. VERIFICATION VISIT

4. Sebuah perusahaan di Indonesia memesan barang ke Thailand, dan dalam surat pemesanannya disebutkan agar pengiriman barang dilindungi dengan Form D. Pada saat tiba di Indonesia ternyata atas setengah dari jumlah barang yang diimpor tersebut dipesan oleh perusahaan lain di Philippine, dan juga meminta agar pengiriman ke negaranya dilidungi dengan Form D agar dapat memperoleh tarif preferensi. Terkait hal tersebut, maka mekanisme yang dapat dimanfaatkan adalah :

a. Retroactive check Certificate of Origin.

b. Back-to-Back Certificate of Origin.

c. Certified True Copy Certificate of Origin.

d. Certificate of Origin issued Retroactively.

5. Dalam mekanisme third country/party invoicing, adakalanya perusahaan yang mengajukan permohonan surat keterangan asal belum menerima invoice dari pihak ketiga yang bertransaksi dengan importir. Atas kondisi ini maka bagaimanakah surat keterangan asal diterbitkan ?

a. Dalam skema FTA-TIG lingkup regional, box 10 diisi dengan penjelasan bahwa invoice akan diterbitkan menyusul oleh pihak ketiga yang bertransaksi dengan importir.

b. Dalam skema IJEPA, eksportir tidak terlebih dahulu mengajukan permohonan surat keterangan asal, sampai dengan diterimanya invoice dari pihak ketiga.

c. Petugas pabean membantu mengisi box 7 dari surat keterangan asal dalam skema FTA-TIG lingkup regional, setelah diterimanya invoice dari importir.

d. Perusahaan yang mengajukan permohonan surat keterangan asal mengisi box 10 dengan nomor dan tanggal invoice yang diterbitkannya, kemudian pada box 7 dijelaskan bahwa transaksi tersebut menggunakan mekanisme third country/party invocing, dan menyebutkan perusahaan yang akan menerbitkan invoice tersebut.

KUNCI JAWABAN

KEGIATAN BELAJAR I

Latihan 1

1. Dua instansi yang terlibat dalam proses penanganan surata keterangan asal, yaitu :

a. Issuing Authority, yaitu instansi atau lembaga lain di negara eksportir yang diberi kewenangan oleh pemerintah sehingga dapat menerbitkan surat keterangan asal.

b. Receiving Authority, yaitu instansi di negara pengimpor yang diberi kewenangan oleh pemerintahnya untuk dapat menerima surat keterangan asal yang diterbitkan oleh issuing authority. Instansi tersebut adalah administrasi pabean dari masing-masing negara anggota skema FTA-TIG, seperti halnya DJBC di Indonesia.

2. Periode penerbitan surat keterangan asal secara umum maksudnya adalah penerbitan yang dilakukan sebelum penerbitan B/L atau tiga hari setelah penerbitan B/L.

Contoh :

Dalam sebuah shipment suatu produk dari Malaysia ke Indonesia, B/L-nya diterbitkan tanggal 20 Desember 2012. Untuk penerbitan surat keterangan asal menggunakan prosedur umum, maka harus diterbitkan sebelum tanggal 20 Desember 2012, atau setelah tanggal 20 Desember 2012 tetapi tidak lebih dari tanggal 23 Desember.

3. Issued retroactively yaitu penerbitan surat keterangan asal tiga hari setelah tanggal B/L, sehingga apabila B/L terbit pada tanggal 10 November 2012, maka surat keterangan asal jenis issued retroactively

dapat diterbitkan sejak tanggal 14 November 2012 sampai dengan 12 bulan setelah tanggal B/L tersebut.

4. Atas pengiriman tersebut maka dapat digunakan mekanisme Back-to-Back Certificate of Origin, yaitu surat keterangan asal yang diterbitkan oleh issuing authority di negara pengimpor pertama berdasarkan informasi yang ada di dalam surat keterangan asal dari Thailand sebagai negara pengekspor pertama.

5. Issued Retroactively maksudnya adalah surat keterangan asal yang diterbitkan setelah 3 (tiga) hari sejak tanggal B/L sampai dengan 12 bulan sejak tanggal B/L tersebut. Adapun Certified True Copy maksudnya adalah surat keterangan asal yang diterbitkan sebagai pengganti dari surat keterangan asal yang hilang atau rusak, sehingga tidak dapat dipergunakan lagi.

Test Formatif 1

1. Eksportir wajib menandatangani surat keterangan asal yang diajukan pada box yang telah disediakan, kemudian melampirkan seluruh dokumen pendukung yang berhubungan dengan informasi/ data yang dimasukan dalam surat keterangan asal dimaksud.

2. Issuing authority melakukan pemeriksaan dokumen dengan menguji seluruh informasi yang ada di dalamnya dengan menggunakan dokumen pendukung yang dilampirkan. Dalam hal dianggap perlu, issuing auhtority dapat melakukan pemeriksaan fisik. Hal yang paling penting adalah, bahwa informasi yang ada di dalam surat keterangan asal yang diterbitkan harus sesuai (conform) dengan barang yang akan diekspor, sehingga kemudian dianggap telah memenuhi ketentuan dalam Rules of Origin dari skema FTA-TIG yang diajukan.

3. Penerbitan surat keterangan asal terdiri dari dua cara, yaitu umum dan khusus. Untuk penerbitan secara umum, dilakukan sebelum atau tidak lebih

dari tiga hari setelah tanggal B/L. Untuk penerbitan khusus, dilakukan mulai tiga hari sampai dengan 12 bulan setelah tanggal B/L.

4. Proses penerbitan surat keterangan asal tetap dilakukan sebagaimana pengajuan pada umumnya, tetapi pada box 13 harus di-contreng pada tanda

“ISSUED RETROACTIVELY”.

5. Dalam kondisi tertentu yang menyebabkan surat keterangan asal yang telah diterbitkan rusak atau hilang, maka eksportir dapat menghubungi kembali issuing authority yang menerbitkan sebelumnya, dan mengajukan permohonan penerbitan surat keterangan asal pengganti. Dalam hal ini maka surat keterangan asal dimaksud wajib diberikan contreng pada box 13, untuk tanda CERTIFIED TRUE COPY.

KEGIATAN BELAJAR II Latihan 2

1. B 2. C 3. D 4. D 5. A Test Formatif 2

1. C 2. D 3. A 4. D 5. B

KEGIATAN BELAJAR III Latihan 3

1. A 2. D 3. A 4. A 5. C 6. D 7. B Test Formatif 3

1. C 2. A 3. D 4. B 5. B

TES SUMATIF 1. A 2. A 3. A 4. B 5. D

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Customs Modernization Handbook, editor : Luc De Wulf and Jose B. Sokol, World Bank, Washington, 2005.

A Retrospective on the Bretton Woods System : Lessons for International Monetary Reform, Michael D. Bordo and Barry Eichengreen, University of Chicago Press, 1993.

International Business : Strategy, Management, and the New Realities, S. Tamer Cavusgil, Gary Knight, John R. Riesenberger, Pearson prentice Hall, 2008.

Rules of Origin in International Trade, Stefano Inama, Cambridge University Press, 2009.

Kerja Sama Perdagangan Bebas ASEAN dengan Mitra Wicara, Direktorat Kerja Sama Ekonomi ASEAN, Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri, 2010.

B. Literatur Tambahan (Jurnal)

Agreement on Rules of Origin, World Trade Organization, 1994.

A Guide to Determining the Origin of Goods Under TAFTA using the “Change in Tariff Classification Method”, Juli 2004.

Rules of Origin and EPAs, Eckart Naumann, Associate, Trade Law Centre for Southern Africa (tralac), 2008.

The Development of FTA Rules of Origin Functions, Hebei University, China, 2010.

World Trade in Rules of Origin, Certification and Verification, World Customs Organization, 2011

Rules Of Origin And Origin Procedures Applicable To Exports From Least Developed Countries, UNCTAD, 2011.

Revenue Package, World Customs Organization, 2012.

C. Lain-Lain

World Trade Organization Agreement on Rules of Origin, World Trade Organization.

The Revised Kyoto Convention, World Customs Organization.

The Agreement On The Common Effective Preferential Tariff (CEPT) Scheme For The ASEAN Free Trade Area (AFTA).

The Agreement on Trade in Goods of the Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation among the Government of the Members Countries of the Association of Southeast Asian Nations and the People’s Republic of China.

Agreement on Trade in Goods under the Framework Agreement on Comprehensive Cooperation among the Government of the Members countries Of The Association Of Southeast Asian Nations And The Republic Of Korea.

The Agreement on Trade in Goods under the Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation Between the Association of Southeast Asian Nations and the Republic of India.

The Agreement between the Republic of Indonesia and Japan for an Economic Partnership.  

The Agreement Establishing The Asean-Australia-New Zealand Free Trade Area.  

 

Dokumen terkait