KATA PENGANTAR DAN PENGESAHAN
KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI
Menunjuk Surat Keputusan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai nomor KEP-46/PP.5/2012 tanggal 23 April 2012 hal Pembentukan Tim Penyusunan Modul Pendidikan dan Pelatihan pada Pusdiklat Bea dan Cukai Tahun Anggaran 2012, maka kepada Sdr. Dedi Abdul Hadi, S.H., M.Si telah ditugaskan menyusun Modul Operational Certification Procedure untuk Workshop Rules Of Origin.
Oleh karena modul sebagaimana terlampir telah diseminarkan dan telah dilakukan perbaikan sesuai dengan masukan dan saran hasil seminar, serta mengacu pada peraturan penyusunan modul yang berlaku, maka dengan ini kami nyatakan Modul tersebut sah dan layak untuk menjadi Modul Workshop Rules Of Origin di lingkungan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan.
Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada penyusun dan semua pihak yang telah membantu penyelesaian modul tersebut.
Demikian kata pengantar dan pengesahan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Jakarta, Desember 2012 Kepala Pusdiklat Bea dan Cukai
Agus Hermawan
NIP 19640817 199103 1 002
Daftar Isi ... i
Petunjuk Penggunaan Modul ... iii
Peta Konsep ... iv
A. Pendahuluan ... 1
1. Deskripsi Singkat ... 1
2. Prasyarat Kompetensi ... 3
3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ... 4
4. Relevansi Modul ... 5
B. Kegiatan Belajar ... 6
Kegiatan Belajar 1 PENERBITAN CERTIFICATE OF ORIGIN
1.1 Uraian dan Contoh ... 6A. Certificate of Origin atau Surat Keterangan Asal ... 7
B. Prosedur Penerbitan ... 16
1.2 Latihan ... 24
1.3 Rangkuman ... 25
1.4 Tes Formatif 1 ... 26
1.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut ... 27
Kegiatan Belajar 2 PENERIMAAN CERTIFICATE OF ORIGIN
2.1 Uraian dan Contoh ... 29A. Pengajuan Surat Keterangan Asal ... 30
B. Pemeriksaan surat keterangan asal oleh petugas pabean ... 30
C. Penolakan Pemberian Tarif Preferensi ... 46
D. Penundaan Pemberian Tarif Preferensi ... 50
2.2 Latihan ... 56
2.3 Rangkuman ... 58
2.3 Tes Formatif ... 59
DAFTAR ISI
Kegiatan Belajar 3 Ketentuan Lain Lain
3.1 Uraian dan Contoh ... 63
A. Pengajuan Surat Keterangan Asal ... 64
3.2 Latihan ... 79
3.3 Rangkuman ... 83
3.3 Tes Formatif 3 ... 86
3.4 Umpan Balik dan Tindak Lanjut ... 89
Penutup ... 90
Tes Sumatif ... 91
Kunci Jawaban ... 85
Daftar Pustaka ... 99
Untuk dapat memahami modul ini secara benar, maka peserta diklat diharapkan mempelajari modul ini secara urut mulai dari Kegiatan Belajar 1 sampai dengan Kegiatan Belajar 3.
Cara mempelajari setiap kegiatan belajar adalah mengikuti tahap-tahap berikut ini:
1. Lihat apa yang menjadi target indikator dari kegiatan belajar tersebut;
2. Pelajari materi yang menjadi isi dari setiap kegiatan belajar (dengan cara membaca materi minimal 3 kali membaca isi materi kegiatan belajar tersebut);
3. Lakukan review materi secara umum, dengan cara membaca kembali ringkasan materi untuk mendapatkan hal-hal penting yang menjadi fokus perhatian pada kegiatan belajar ini;
4. Kerjakanlah Tes Formatif pada kegiatan belajar yang sedang dipelajari;
5. Lihat kunci jawaban Tes Formatif dari kegiatan belajar tersebut yang terletak pada bagian akhir modul ini.
6. Cocokkan hasil tes formatif dengan kunci jawaban tersebut, apabila ternyata hasil Tes Formatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 71, maka kegiatan belajar dapat dilanjutkan pada kegiatan belajar berikutnya, namun apabila diperoleh angka di bawah 71, maka peserta diklat diharuskan mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut agar selanjutnya dapat diperoleh angka minimal 71.
7. Kerjakan Tes Sumatif apabila semua Tes Formatif dari seluruh kegiatan belajar telah dilakukan.
8. Lihat kunci jawaban Tes Sumatif yang terletak pada bagian akhir modul ini 9. Cocokkan hasil tes sumatif dengan kunci jawaban tes sumatif, apabila
ternyata hasil tes sumatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 71 maka peserta diklat dapat dinyatakan lulus dari kegiatan belajar
PETUNJUK PENGGUNAAN
MODUL
Operational Certification procedure
Certificate of Origin atau Surat Keterangan Asal
Prosedur Penerbitan
PENERBITAN CERTIFICATE OF ORIGIN
Ketentuan Lain Lain
PENERIMAAN CERTIFICATE OF ORIGIN
Pengajuan Surat Keterangan Asal
Pemeriksaan surat
keterangan asal oleh petugas pabean
Pengajuan Surat Keterangan Asal
Penolakan Pemberian Tarif Preferensi
Penundaan Pemberian Tarif Preferensi
PETA KONSEP
A. PENDAHULUAN
1. Deskripsi Singkat
Tiga modul yang coba penulis hadirkan diharapkan dapat mewakili teori tentang perdagangan bebas dalam kaitannya dengan implementasi skema Free Trade Agreement (FTA) yang saat ini telah diberlakukan di Indonesia, khususnya keterlibatan Indonesia sebagai negara ASEAN. Modul pertama adalah Pengantar FTA yang penulis harapkan dapat menjadi pintu masuk bagi setiap pegawai DJBC khususnya, ataupun setiap yang berminat membaca pada umumnya, yang akan mempelajari hal-hal terkait perdagangan bebas barang dalam skema FTA yang menuju pada pemberian tarif preferensi.
Modul kedua adalah tentang Rules of Origin (ROO) yang merupakan
“jantung” dari perdagangan barang (Trade in Goods) dalam skema FTA. Tanpa adanya ROO, maka dapat dikatakan bahwa perdagangan barang dalam skema FTA adalah tidak ada. Modul kedua ini merupakan kekhususan dari skema FTA, karena pada dasarnya banyak sekali yag diatur di dalamnya, dan salah satunya adalah tentang ROO yang menjadi poin paling penting.
Setelah dua modul di depan, penulis mencoba melengkapinya dengan membuat modul tentang implementasi dari ROO sehingga kemudian dapat memperoleh tarif preferensi. Apabila kita masih ingat dengan tiga persyaratan untuk mendapatkan tarif preferensi, yang terdiri dari 1) origin criteria, 2) direct consignment criteria, dan 3) procedural provisions, maka modul ini merupakan persyaratan yang ke-3 tersebut. oleh karena itu diharapkan modul ini menjadi pelengkap dari dua modul sebelumnya.
Inti dari modul ketiga ini membahas seputar prosedur untuk mendapatkan tarif preferensi, yang melibatkan instansi penerbit (issuing authority) dan penerima (receiving authority) dari certificate of origin (COO), karena sebagaimana telah diterangkan pada modul sebelumnya bahwa pembuktian origin dari suatu barang harus dibuktikan dengan sebuah dokumen yang disebut
. Untuk mendapatkan tentunya diperlukan sebuah prosedur yang harus dipahami oleh para penerbit dan juga pihak perusahaan. Mengingat penerbitan merupakan kewenangan negara pengekspor, maka sebaliknya juga diperlukan prosedur bagi instansi yang akan menerimanya di negara importir.
Terkait dengan hal tersebut di atas, maka modul ketiga ini akan diawali dengan prosedur penerbitan di negara pengekspor, kemudian dilanjutkan dengan penerimaan di negara pengimpor. Selain itu juga akan dibahas hal-hal khusus yang ada di dalam perjanjian pembentuk skema FTA terkait dua kegiatan tersebut. Prosedur ini bagaimanapun merupakan bagian tidak terpisahkan dari setiap perjanjian pembentuk skema FTA, dan biasanya diletakkan pada annex (lampiran) tersendiri, yang disebut Operational Certification Procedures (OCP) yang diterjemahkan menjadi prosedur pelaksanaan sertifikasi. Tetapi istilah OCP sendiri sekarang lebih populer, karena sepertinya lebih mudah disebutkan.
Saat ini Indonesia telah terlihat di dalam 6 skema FTA, yaitu : ASEAN FTA, ASEAN-China FTA, ASEAN-Korea FTA, ASEAN-India FTA, ASEAN-Australia- New Zealand FTA, dan Indonesia-Japan EPA, sehingga tentunya kita perlu untuk memahami 6 (enam) buah OCP sebagai bagian dari masing-masing perjanjian pembentuk skema FTA. Sekalipun substansi dari masing-masing OCP kurang lebih sama, tetapi terdapat beberapa prosedur di dalam OCP yang memiliki sedikit perbedaan. Penulis sendiri mempertanyakan, tentang adanya substansi yang berbeda di dalam OCP masing-masing skema FTA, mengingat hal ini akan cukup menyita waktu bagi petugas pabean dalam memahami dan/atau melaksanakannya. Apa boleh buat, perjanjian telah ditanda tangani, termasuk oleh Indonesia, sehingga tetap harus dijalankan. Namun demikian dalam modul ini penulis tidak akan membahas satu persatu, melainkan hal-hal yang bersifat umum saja, kecuali untuk hal-hal tertentu yang memerlukan pembahasan detil sebagaimana juga di dalam perjanjian pembentuknya.
Perbedaan dimaksud misalnya terkait dengan penerbitan yang dalam beberapa OCP disebutkan misalnya :
ü at the time of exportation or no later than three (3) days from the declared shipment date (ASEAN Trade in Goods-ASEAN FTA).
ü as near as possible to, but no later than three working days after, the date of exportation (ASEAN-China FTA).
Bagaimanapun hal ini merupakan bagian penting yang akan menjadi acuan administrasi pabean dalam mengimplementasikan skema FTA tersebut. Hal yang menurut hemat penulis perlu dipertimbangakan disini adalah kemungkinan munculnya prosedur yang berbeda untuk skema FTA, dimana seharusnya administrasi pabean jangan dibebani hal-hal yang sebenarnya dapat dibuat lebih sederhana. Namun demikian, mengingat bunyi dari perjanjian pembentuk skema FTA-nya adalah seperti itu, maka bagaimanapun dalam mengimplementasikan skema FTA setiap administrasi pabean dari negara yang terlibat harus tetap mengacu pada perjanjian pembentuknya.
OCP pada dasarnya mengatur seluruh prosedur dari mulai penerbitan, verifikasi, penyampaian ceritificate of origin, verifikasi oleh administrasi pabean, sampai dengan fleksibilitas dalam skema FTA. Oleh karena itu untuk memudahkan pemahaman dari OCP, penulis mencoba menyusunnya dalam struktur sederhana, dengan diawali prosedur penerbitan di negara eksportir, prosedur penerimaan di negara importir, fleksibilitas terkait , dan kekhususan dalam OCP.
Struktur dari OCP yang ada nampaknya tidak sama, sehingga penulis mencoba untuk mengabaikan terlalu banyak perbedaan, dan mencoba mengurai persamaan (kemiripan) dari klausula dalam masing-masing artikel terkait.
2. Prasyarat Kompetensi
Evolusi peran administrasi pabean dari revenue collector menjadi trade facilitator, bagaimanapun tidak lepas dari dinamika sistem perdagangan internasional yang mengarah pada liberalisasi yang terjemahkan diantaranya dengan pembentukan skema perdagangan bebas. Kondisi ini tentunya harus diimbangi dengan kesiapan seluruh administrasi pabean, tidak terkecuali Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), untuk juga mempersiapkan diri menyambut era baru yang telah dimulai beberapa tahun yang lalu.
Mempertimbangkan hal tersebut tentunya setiap petugas DJBC memiliki
yang diakibatkannya, termasuk konsekuensi dari keikutsertaan Indonesia di dalam skema FTA yang telah terbukti ‘memaksa’ DJBC untuk membuat aturan khusus tentang hal tersebut. Hal yang perlu untuk diketahui secara kongkrit tentunya prosedur atau tatacara penanganan importasi dengan menggunakan skema FTA yang diatur dalam OCP.
Menyadari perlunya pemahaman dari seluruh petugas DJBC, maka idealnya modul ini diharapkan dapat tersampaikan kepada seluruh petugas DJBC. Namun demikian tentunya prosesnya tidak dapat dilakukan sekaligus, melainkan dengan menggunakan skala prioritas yang mengutamakan petugas di lapangan yang berhubugan langsung dengan masuknya importasi menggunakan skema FTA.
Dalam hal ini tentunya yang paling utama adalah Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) dan seksi pabean, mengingat pejabat pada posisi inilah yang menentukan apakah suatu komoditi yang diimpor dapat memperoleh tarif preferensi atau tidak. Petugas lainnya adalah yang berada di unit pengawasan (P2 dan Audit), Client Coordinator, penyuluhan dan layanan informasi, dan seterusnya. Prasyarat kompetensi untuk mengikuti workshop ini adalah:
a. Pegawai DJBC minimal golongan III b. Berkemampuan bahasa Inggris c. Sehat jasmani dan rohani
d. Tidak sedang menjalani atau dalam proses penjatuhan hukuman disiplin
e. Tidak sedang mengikuti diklat atau workshop lain f. Ditunjuk oleh Sekretaris DJBC
3. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)
a. Peserta diharapkan dapat mengetahui tata cara penerbitan Certificate of Origin oleh Issuing Authority.
b. Peserta diharapkan dapat mengetahui tata cara penerimaan Certificate of Origin oleh Receiving Authority.
c. Peserta dapat memahami hal-hal khusus yang ada di dalam prosedur penerbitan dan penerimaan Certificate of Origin.
4. Relevansi Modul
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa seiring dengan dinamika sistem perdagangan internasional diharapkan agar administrasi pabean dapat lebih fasilitatif dan dapat mengakomodir kepentingan dunia usaha, sehingga proses pengiriman barang dari satu negara ke negara lainnya dapat terhindar dari segala proses/prosedur serta kewajiban-kewajiban lainnya yang dianggap sebagai barriers.
Inilah era perdagangan bebas, yang mana keterlibatan dari administrasi pabean sedapat mungkin direduksi dengan dalih liberalisasi, dimana pergerakan barang (logistic supply chain) tidak boleh dihambat dengan prosedur yang kompleks. Oleh karena itu, mengingat bahwa skema FTA merupakan kesepakatan antar pemerintah, maka untuk implementasinya menjadi tanggung jawab dari setiap instansi terkait, termasuk DJBC.
Kondisi inilah yang selanjutnya menjadikan DJBC sebagai salah satu tulang punggung mulusnya kerja sama internasional dalam rangka perdagangan bebas barang, karena posisi dan perannya yang secara langsung menangani pergerakan barang baik tujuan ekspor maupun impor. Oleh karena adanya kewajiban bagi DJBC untuk memberikan keputusan apakah suatu barang yang diimpor dapat diberikan preferential tariff atau tidak, menjadikan modul ini sangat penting dan diharapkan dapat memberikan masukan bagi pelaksanaan kerja di lapangan, khususnya terkait penanganan masuknya barang-barang impor yang menggunakan skema FTA.
PENERBITAN CERTIFICATE OF ORIGIN
1.1 Uraian dan Contoh
Dalam dua modul sebelumnya telah disinggung tentang keutamaan dari skema FTA, yaitu adanya fasilitas dalam bentuk pemberian tarif istimewa atas komoditi yang memenuhi persyaratan tertentu sebagaimana disepakati dalam perjanjian pembentuk masing-masing skema FTA. Tiga persyaratan yang wajib dipenuhi sehingga berhak mendapatkan tarif preferensi adalah : kriteria origin, pengiriman langsung, dan procedural provisions atau ketentuan prosedural yang diatur di dalam OCP, yang biasanya disimpan sebagai lampiran dari perjanjian tersebut.
Bagaimanapun sebuah prosedur tentunya akan terdiri dari rangkaian kegiatan terpadu yang harus dilalui oleh siapapun yang berkepentingan atas apa yang diatur di dalamnya. Dalam hal ini tentunya adalah pihak eksportir dan importir, serta institusi pemerintah ataupun organisasi tertentu yang diberi
KEGIATAN BEL AJAR
SATU
Indikator Keberhasilan :
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan dapat:
1) menjelaskan format Certificate of Origin untuk masing-masing skema FTA;
2) menjelaskan hal-hal terkait prosedur penerbitan Certificate of Origin;
3) menjelaskan hal-hal penting terkait dalam proses penerbitan Certificate of Origin.
kewenangan oleh pemerintah untuk melaksanakan sebagian atau seluruh kegiatan yang ada di dalam prosedur dimaksud.
A. Certificate of Origin atau Surat Keterangan Asal
Sebelum masuk dalam pembahasan tentang proses penerbitan certificate of origin (selanjutnya akan digunakan surat keterangan asal) ada baiknya kita kenali terlebih dahulu apa dan bagaimana surat keterangan asal tersebut. Hal ini dimaksudkan agar pada saat penyebutan surat keterangan asal, maka kita akan langsung tertuju pada suatu dokumen tertentu yang sedang dibahas.
Dalam seluruh skema FTA yang diikuti oleh Indonesia, surat keterangan asal menggunakan kertas berukuran A4 dan terdiri dari 3 (tiga) lembar, yaitu lembar asli (original), lembar kedua (duplicate), dan lembar ketiga (triplicate).
Perlu dicatat bahwa khusus untuk skema AANZ-FTA tidak terdapat pengaturan tentang kertas, sehingga sangat dimungkinkan terjadinya dispute masalah ini.
Adapun penamaan masing-masing form adalah sebagai berikut : Daftar Form FTA
NO SKEMA FTA NAMA FORM JUMLAH LEMBAR
1 ASEAN FTA Form D 3 (tiga) lembar
2 ASEAN-Korea FTA Form AK 3 (tiga) lembar
3 ASEAN-China FTA Form E 3 (tiga) lembar
4 ASEAN-India Form AI 3 (tiga) lembar
5 ASEAN-Australia-New Zealand
Form AANZ 3 (tiga( lembar)
6 Indonesia-Japan CEP Form IJ 3 (tiga) lembar
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan surat keterangan asal? beruntung bahwa World Customs Organization (WCO) telah memberikan batasan dari pengertian dokumen ini sehingga memudahkan siapapun yang akan
Menurut annex K the Revised Kyoto Convention disebutkan bahwa definisi dari certificate of origin adalah :
“certificate of origin” means a specific form identifying the goods, in which the authority or body empowered to issue it certifies expressly that the goods to which the certificate relates originate in a specific country. This certificate may also include a declaration by the manufacturer, producer, supplier, exporter or other competent person.”
(certificate of origin/surat keterangan asal adalah form khusus yang digunakan sebagai identitas dari suatu komoditi, dalam hal mana instansi yang diberi kewenangan untuk menerbitkannya memberikan pernyataan tentang origin barang dari suatu negara. Sertifikat ini juga meliputi pernyataan yang dikeluarkan oleh pabrikan, produsen, supplier, eksportir, ataupun pihak lain yang ditunjuk).
Menurut artikel di atas, jelas bahwa surat keterangan asal dapat berbentuk dokumen yang diterbitkan oleh pihak-pihak yang berwenang. Namun demikian, disebutkan juga bahwa surat keterangan asal dapat juga berbentuk dokumen yang diterbitkan oleh pabrikan, produsen, supplier, eksportir, ataupun pihak lain yang ditunjuk. Akan tetapi dalam skema FTA yang diikuti oleh Indonesia, seluruh surat keterangan asal masih dalam bentuk dokumen khusus dengan bentuk, isi, dan ukuran yang telah disepakati.
Penggunaan format lain sangat dimungkinkan, karena bagaimanapun kita harus dapat menyesuaikan dengan permintaan dunia usaha yang merupakan stakeholder utama kita. Sebagai contoh penggunaan dokumen lain adalah self certification, yang telah digunakan di beberapa negara maju, dan mereka menganggap bahwa penggunaan hard copy dari surat keterangan asal telah ketinggalan.
Tentunya kita tidak harus berkecil hati sekalipun penggunaan surat keterangan asal dalam bentuk form khusus, karena masing-masing negara memilliki kebijakan/standar sendiri. Artinya dokumen apapun yang digunakan tetap berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan nasional. Khusus bagi
administrasi pabean hal ini harus disikapi secara hati-hati, karena tugas dan fungsi pengawasan dan fasilitator melekat secara bersamaan. Oleh karena itu tugas dan fungsi ini juga harus dijalankan secara seimbang. Dalam hal ini utilisasi dari risk management harus diberdayakan semaksimal mungkin, sehingga implementasi dari skema FTA dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati.
Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan di dalam lembar surat keterangan asal adalah penggunaan nomor referensi khusus di setiap lembar surat keterangan asal, serta 13 box di dalamnya, kecuali untuk skema Indonesia- Japan yang hanya terdiri 10 box.
Dalam hal uraian barang yang akan dimasukkan ke dalam surat keterangan asal jumlah cukup banyak (multiple items), maka dapat digunakan lembar lanjutan. Tetapi sejauh ini bentuk lembar lanjutan belum diatur secara jelas, melainkan berupa common understanding bahwa lembar lanjutan harus mencantumkan nomor referensi dan dibubuhi tanda tangan dari pejabat yang berwenang serta stempel yang sesuai dengan spesimen yang telah didistribusikan kepada seluruh peserta perjanjian pembentuk skema FTA. Begitu juga dengan penentuan kriteria origin-nya harus berdasarkan jenis barang yang akan diekspor (satu uraian barang harus memiliki satu kriteria origin).
Lebih lanjut tentang peruntukkan dari masing-masing lembar surat keterangan asal adalah sebagai berikut :
ü Lembar pertama (original) diberikan kepada eksportir untuk kemudian diteruskan kepada administrasi pabean di negara importir, agar atas barang yang diekspor dapat diberikan tarif preferensi;
ü Lembar kedua (duplicate) disimpan sebagai arsip di instansi penerbit surat keterangan asal (issuing authority);
ü Lembar ketiga (triplicate) diberikan kepada eksportir sebagai arsip di kantornya.
Berikut adalah format masing-masing surat keterangan asal :
B. Prosedur Penerbitan
Secara prinsip seluruh skema FTA yang diikuti Indonesia memiliki prosedur penerbitan yang kurang lebih sama, baik prosedur normal maupun prosedur yang memuat adanya perlakuan khusus, sehingga untuk memahaminya tidak terlalu sulit. Namun demikian adakalanya perbedaan tersebut cukup signifikan, sehingga pada pelaksanaannya harus diperlakukan secara berbeda juga untuk surat keterangan asal yang digunakan untuk setiap skema FTA.
Sebagai contoh misalnya tentang jenis kertas untuk dokumen surat keterangan asal, dimana untuk beberapa skema diatur jenisnya, sedangkan pada skema lain tidak terdapat pengaturan khusus. Hal ini menjadi masalah ketika diterima surat keterangan asal yang tidak seperti biasanya, sehingga menimbulkan pertanyaan dari para petugas di lapangan. Efek terburuk adalah manakala sesama petugas lapangan mengambil keputusan yang berbeda untuk masalah yang sama. Tentunya hal ini akan menjadi gambaran kurang bagus dari sistem kepabeanan Indonesia.
Prosedur penerbitan surat keterangan asal dapat juga disebut sebagai proses sertifikasi oleh instansi penerbit surat keterangan asal, yang diawali dengan permohonan oleh pihak eksportir kepada instansi tersebut, kemudian diakhiri dengan keputusan dari pihak penerbitan apakah disetujui atau tidak.
Layaknya prosedur sebuah pekerjaan, selalu ada pengecualian untuk mengantisipasi adanya kelalaian, force majeur, dan kemungkinan lain yang menimpa. Oleh karena itu dalam setiap perjanjian pembentuk skema FTA telah disiapkan aturan tentang pengecualian dimaksud.
Untuk memudahkan pemahaman tentang prosedur penerbitan, khususnya karena adanya kemungkinan diperlukannya prosedur yang berbeda, maka penulis membagi menjadi dua bagian, yaitu penerbitan umum dan penerbitan khusus.
1. Penerbitan Umum
Penerbitan umum adalah penerbitan surat keterangan asal dengan prosedur normal dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Setiap perjanjian pembentuk skema FTA mempersyaratkan jangka waktu tertentu untuk penerbitan surat keterangan asal, yaitu sebelum atau pada saat tanggal ekspor sampai dengan 3 (tiga) hari setelah tanggal pengapalan. Dalam hal ini tidak terdapat pengaturan khusus terkait jangka waktu penerbitan
‘sebelum’ tanggal ekspor, apakah misalnya satu minggu, dua minggu, dan seterusnya. Begitu juga dengan patokan tanggal ekspor atau tanggal pengapalan, sebenarnya dokumen apa yang dijadikan referensi. Adapun yang dimaksud dengan 3 (tiga) hari sesudah tanggal pengapalan contohnya sebagai berikut :
ü Apabila sebuah pengiriman barang dilindungi dengan Bill of Lading yang diterbitkan tanggal 1 Januari 2012, maka tiga hari sesudahnya adalah tanggal 4 Januari 2012. Dengan demikian, mulai tanggal 5 Januari 2012 dianggap berada diluar jangka waktu penerbitan normal, sehinggal dianggap sebagai penerbitan khusus.
Terkait dengan dokumen yang menjadi referensi dalam penetapan tanggal ekspor dan tanggal pengapalan, berdasarkan hasil konsultasi dengan Kementerian Perdagangan RI selaku unit FTA nasional, untuk Indonesia sebagaimana contoh di atas disepakati menggunakan tanggal Bill of Lading (B/L), sehingga memudahkan pihak-pihak yang berkepentingan dalam membuat acuan tanggal tersebut. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka untuk skema FTA yang ketentuan penerbitannya menyebutkan “at the time of exportation”, maka tanggal penerbitan surat keterangan asal harus sama dengan tanggal B/L.
Proses penerbitan surat keterangan asal secara umum adalah sebagai berikut :
a) Eksportir mengajukan permohonan dilampiri dengan dokumen pendukung dan form surat keterangan asal yang telah diisi dan ditanda
merupakan approval area, yang harus diisi dan ditanda tangani oleh pejabat di issuing authority (untuk skema IJEPA, approval area-nya adalah pada box 10).
b) Atas permohonan tersebut issuing authority melakukan verifikasi atas surat keterangan asal yang diajukan, membandingkan seluruh komponen/informasi yang ada di dalam dokumen yang dilampirkan, mengenai :
Ø Surat keterangan asal yang diajukan oleh eksportir atau kuasanya telah diisi dengan lengkap dan benar;
Ø Kriteria origin dari barang yang akan diekspor telah sesuai dengan kriteria yang berlaku untuk skema FTA yang akan digunakan;
Ø Setiap informasi yang ada di dalam surat keterangan asal sesuai dengan informasi yang ada di dalam dokumen pendukung, seperti : jumlah dan jenis/uraian barang, jumlah dan jenis pengemas, satuan barang, dan sebagainya.
Perlu diperhatikan tentang hal-hal yang dilakukan oleh issuing authority di atas, merupakan informasi penting dan dapat dipahami bahwa hanya atas informasi yang ada di dalam surat keterangan asal itulah yang disetujui oleh issuing authority, termasuk jumlah dan jenis barang. Hal ini akan menjadi patokan untuk penanganan selanjutnya, misalnya dalam hal terjadi kelebihan atau kekurangan jumlah barang, atau apabila terjadi perbedaan jenis barang antara surat keterangan asal dengan fisik barang.
c) Dalam hal dianggap perlu Issuing authority melakukan pemeriksaan fisik barang, sebagai salah satu proses pemeriksaan untuk membuktikan origin dari barang yang akan diekspor.
Namun demikian, untuk perusahaan tertentu (khususnya perusahaan produsen) hanya mengekspor produk tertentu, sehingga dalam hal tidak terdapat perubahan proses produksi atau tidak terdapat perubahan spesifikasi barang hasil produksinya, maka dimungkinkan untuk tidak dilakukan verifikasi dokumen seacra mendalam ataupun pemeriksaan fisik.
Dalam hal ini pihak issuing authority dapat menggunakan data-data atau informasi sebelumnya sebagai patokan dan memberikan persetujuan penerbitan surat keterangan asal.
d) Dalam hal kedapatan sesuai, issuing authority memberikan approval, dengan memberikan tanda tangan dan cap sesuai spesimen bagi skema FTA yang telah ditetapkan.
Perlu diperhatikan bahwa dalam kerangka skema ASEAN-Australia-New Zealand FTA (AANZFTA) dan Indonesia-Japan EPA (IJEPA), tanda tangan dan cap dapat dilakukan secara elektronik. Maksudnya adalah, pihak issuing authority dapat membubuhkan tanda tangan dan stempelnya secara elektronik, tetapi lembar surat keterangan asal tetap harus asli.
e) Surat keterangan asal memiliki masa berlaku 12 (dua belas) bulan, sejak tanggal penerbitan.
f) Lembar asli dari surat keterangan asal diserahkan kepada eksportir untuk dikirimkan kepada importir guna pengurusan permohonan memperoleh tarif preferensi di negara importir.
2. Penerbitan Khusus
Penerbitan khusus merupakan pengecualian dari prosedur di atas, termasuk diantaranya penerbitan diluar periode yang telah ditetapkan (mulai sebelum tanggal B/L, pada saat penerbitan B/L, sampai dengan 3 (tiga) hari setelah tanggal B/L), adanya kesalahan penulisan informasi di dalam surat keterangan asal, penerbitan surat keterangan asal oleh pihak kedua (intermediate country), serta beberapa permasalahan lain yang memerlukan prosedur khusus dalam penerbitan surat keterangan asal. Lebih jelas tentang penerbitan khusus adalah sebagaimana istilah-istilah berikut ini : a. Issued Retroactively
Pada penerbitan surat keterangan asal di atas telah dijelaskan bahwa jangka waktu penerbitan surat keterangan asal adalah sebelum atau pada saat ekspor, sampai dengan 3 (tiga) setelah tanggal pengapalan.
Kemudian telah ditetapkan bahwa patokan dari tanggal ekspor maupun tanggal pengapalan adalah tanggal bill of lading (B/L), sehingga terdapat kepastian bagi semua pihak yang memiliki keterkaitan dalam bisnis ini.
Fakta menunjukkan bahwa terdapat beberapa kasus dimana surat keterangan asal tidak dapat diterbitkan baik sebelum maupun 3 (tiga)
hari setelah tanggal B/L, melainkan setelahnya. Atas kejadian ini, dalam OCP diberikan kelonggaran bahwa surat keterangan asal tetap dapat diterbitkan, tetapi tidak boleh melebihi jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal B/L, dengan cara memberi ‘centang atau X’ pada tulisan issued retroactively di box 13.
Untuk form IJEPA, karena tidak disediakan tempat untuk melakukan centang maupun tanda ‘X’, maka wajib memberikan tanda “ISSUED RETROACTIVELY” pada surat keterangan asal-nya. Tanda tersebut tidak diatur penempatannya, tetapi karena hal tersebut merupakan kewenangan issuing authority, maka seyogyanya dituliskan/dibubuhkan pada approval area.
Masa berlaku certificate of origin yang “ISSUED RETROACTIVELY”
adalah sama, yaitu 1 tahun sejak tanggal diterbitkan. Namun demikian penerbitannya tidak boleh lebih dari jangka waktu satu tahun sejak tanggal B/L.
Perlu diingat bahwa proses pengajuan surat keterangan asal oleh eksportir maupun kuasanya, dan proses verifikasi oleh issuing authority, yang terjadi pada saat pengajuan surat keterangan asal yang issued retroactively adalah sama dengan prosedur yang ditempuh pada saat penerbitan secara umum.
Ada hal yang menarik terkait surat keterangan asal yang diterbitkan kemudian atau issued retroactively, dimana sebenarnya barang telah diberangkatkan terlebih dahulu ke tempat tujuan, tetapi persetujuan dari issuing authority belum ada. Hal ini akan menimbulkan pertanyaan, bagaimana issuing authority dapat meyakini bahwa surat keterangan asal yang akan dikeluarkan adalah benar-benar untuk barnag yang telah diberangkatkan. Oleh karena itu, dalam hal terdapat surat keterangan asal seperti ini ada baiknya dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam oleh petugas di lapangan, atau jika dianggap perlu dapat dimintakan retroactive check kepada issuing authority.
b. Back-to-Back Certificate of Origin
Bagaimanapun perdagangan internasional memiliki banyak variasi transaksi, sebagai dinamika sekaligus perkembangan dari sistem yang telah ada, baik sistem ekonomi, politik, maupun teknologi. Satu hal yang sebenarnya telah menjadi praktek yang lazim dalam perdagangan internasional adalah keterlibatan middle-man atau perantara antara pembeli dan penjual. Begitu juga dengan skema FTA perdagangan barang, tidak tertutup kemungkinan adanya dinamika baru yang kemudian dimasukkan sebagai bagian dari skema FTA tersebut.
Mekanisme Back-to Back certificate of origin adalah salah satunya.
Secara prinsip, back-to-back certificate of origin merupakan surat keterangan asal yang diterbitkan oleh pihak perantara (intermediate party) di negara yang berbeda, dimana data-datanya bersumber dari surat keterangan asal yang diterbitkan oleh negara pertama asal barang. Untuk memudahkan pemahaman mekanisme ini, berikut beberapa kemungkinan (atau contoh) terjadinya back-to-back certificate of origin adalah :
1) Sebuah perusahaan di Singapore memesan barang ke Malaysia, dan meminta supaya pengiriman barangnya dilindungi dengan Form D. Setibanya di Singapore, ternyata terdapat pembeli lain di Indonesia yang berminat atas barang yang dipesan oleh Singapore tersebut. Mempertimbangkan keuntungan yang masuk akal dari penawaran yang disampaikan oleh perusahaan di Indonesia, perusahaan Singapore menerima tawaran tersebut.
Memenuhi pesanan tersebut maka perusahaan Singapore mengajukan permohonan surat keterangan asal kepada issuing authority di negaranya, dengan melampirkan surat keterangan asal yang diterbitkan oleh issuing authority di Malaysia. Surat keterangan asal yang diterbitkan oleh issuing authority di Singapore inilah yang disebut dengan Back-to-Back certificate of origin, yang kemudian digunakan untuk diajukan kepada administrasi pabean di negara importir.
2) Mengambil contoh transaksi pertama di atas, ternyata Malaysia telah melakukan kesalahan pengiriman ke Singapore, yang seharusnya sebagian dari barang yang dikirim tersebut adalah tujuan Indonesia. Atas peristiwa ini, maka pihak Singapore dapat membantu pihak Malaysia untuk mengajukan permohonan mendapatkan surat keterangan asal kepada issuing authority di negaranya dengan juga dilampiri surat keterangan dari Malaysia.
Berdasarkan surat keterangan asal dari Malaysia tersebut, pihak issuing authority dapat menerbitkan Back-to-Back certificate of origin.
Prosedur untuk mendapatkan back-to-back certificate of origin secara prinsip sama dengan prosedur yang ada di dalam penerbitan umum surat keterangan asal, hanya saja tempat kejadiannya tidak di negara pengekspor pertama, melainkan di negara pengimpor pertama sebagaimana contoh di atas. Lebih jelas hal-hal yang perlu dipahami tentang prosedur penerbitan back-to-back certificate of origin adalah sebagai berikut :
1) Tempat pengajuan adalah di negara pengimpor pertama (lihat contoh di atas).
2) Pengajuan surat keterangan asal dilakukan oleh pihak yang semula bertindak sebagai importir, yang kemudian berubah statusnya menjadi eksportir.
3) Permohonan untuk mendapatkan back-to-back certificate of origin wajib diajukan bersama-sama dengan surat keterangan asal yang diterbitkan oleh issuing authority di negara pengekspor pertama. Hal ini untuk memastikan bahwa informasi yang ada di dalam surat keterangan asal pertama sama dengan yang diajukan oleh ekspotir kedua guna mendapatkan back-to-back certificate of origin, kecuali untuk beberapa hal yang memang dimungkinkan berbeda.
4) Hal yang mungkin berbeda antara surat keterangan asal pertama dengan back-to-back certificate of origin, misalnya adalah :
Ø Nilai barang, yang tentunya adalah nilai dari yang diajukan oleh eksportir kedua;
Ø Nama pengirim dan penerima;
Ø Pelabuhan muat dan pelabuhan bongkar;
Ø Nomor dan tanggal invoice;
Ø Issuing authority dan spesimen-nya;
Ø dan sebagainya.
5) Dalam hal barang yang akan dikirim dengan menggunakan back-to-back certificate of origin hanya sebagian, maka nilai yang harus dicantumkan hanya sejumlah nilai dari barang yang diekspor kembali tersebut.
6) Back-to-back certificate of origin lembar satu (original) akan dikirimkan oleh intermediate eksportir kepada importir di negara ketiga, untuk diajukan ke kantor pabean agar barang yang diimpornya dapat memperoleh tarif preferensi.
7) Dalam hal informasi yang dicantumkan di dalam back-to-back certificate of origin diragukan keabsahannya, maka administrasi pabean yang ada di negara pengimpor kedua dapat meminta surat keterangan asal yang diterbitkan di negara pengekspor pertama. Dalam hal ini administrasi pabean dapat melakukan permintaan retroactive check kepada issuing authority baik di negara pengekspor pertama maupun negara pengekspor kedua.
c. Certified True Copy
Penerbitan surat keterangan asal certified true copy merupakan salah satu kemungkinan dari penerbitan umum. Maksudnya, sebelumnya surat keterangan asal telah diterbitkan oleh issuing authority sesuai penerbitan umum di atas, tetapi kemudian terjadi hal-hal yang diluar dugaan semua pihak, memerlukan surat keterangan asal yang baru.
Beberapa hal yang diluar dugaan menurut perjanjian pembentuk skema FTA adalah : dicuri, hilang, atau rusak sehingga tidak dapat dipergunakan lagi.
Apabila terjadi hal-hal seperti tersebut di atas, maka eksportir dapat mengajukan kembali permohonan untuk mendapatkan surat keterangan asal kepada issuing authority di negaranya dengan melampirkan lembar ketiga (triplicate) yang diterima sebelumnya.
Issuing authority kembali melakukan verifikasi atas permohonan tersebut dan apabila diyakini kebenarannya, pihaknya dapat menerbitkan surat keterangan asal dengan mencantumkan nomor dan tanggal yang sama dengan surat keterangan asal yang hilang/rusak, serta memberikan tanda “CERTIFIED TRUE COPY” pada box yang telah disediakan (kecuali untuk form IJEPA, karena tidak disediakan tempat untuk memberikan tanda-contreng/X, maka dengan menggunakan tulisan “CERTIFIED TRUE COPY” pada approval area).
Tulisan “CERTIFIED TRUE COPY” memiliki arti bahwa surat keterangan asal tersebut merupakan pengganti dan disamakan dengan surat keterangan asal yang hilang/rusak. Adapun masa berlakunya sama dengan surat keterangan asal yang hilang/rusak tersebut.
1.2 Latihan 1
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jawaban yang singkat, jelas dan benar!
1. Dalam proses penanganan surat keterangan asal, terdapat dua instansi yang paling berperan, yaitu issuing dan receiving authority. Jelaskan peranan masing-masing kedua instansi tersebut, dan bagaimana dengan peran DJBC sendiri ?
2. Secara prinsip penerbitan surat keterangan asal telah ditetapkan periodenya.
Namun demikian, dalam prakteknya ternyata terdapat prosedur lain yang disediakan oleh perjanjian pembentuk skema FTA, dengan mempertimbangkan dinamika sistem perdagangan internasional. Oleh karena itu dalam modul ini dipisahkan antara prosedur penerbitan umum dan prosedur penerbitan khusus. Jelaskan dengan contoh tentang periode penerbitan umum dari surat keterangan asal !
3. Salah satu pengecualian dari penerbitan umum adalah adanya surat keterangan asal yang diterbitkan diluar periode yang telah ditetapkan, sehingga kemudian diberikan istilah “ISSUED RETROACTIVELY”. Apabila dalam sebuah pengiriman barang dari negara A ke negara B diketahui tanggal Bill of Lading (B/L) adalah 10 November 2012, tanggal berapakah penerbitan paling cepat dari surat keterangan asal jenis “ISSUED RETROACTIVELY”?
Jelaskan!
4. Sebuah perusahaan di Indonesia memesan barang ke Thailand, dan dalam surat pemesanannya disebutkan agar pengiriman barang dilindungi dengan Form D. Pada saat tiba di Indonesia ternyata atas setengah dari jumlah barang yang diimpor tersebut dipesan oleh perusahaan lain di Philippine, dan juga meminta agar pengiriman ke negaranya dilidungi dengan Form D agar dapat memperoleh tarif preferensi. Jelaskan tentang kemungkinan tersebut!
5. Apakah perbedaan dari dari Issued Retroactively dan Certified True Copy?
Jelaskan!
1.3 Rangkuman
Certificate of origin atau selanjutnya disebut surat keterangan asal adalah form khusus yang digunakan sebagai identitas dari suatu komoditi, dalam hal mana instansi yang diberi kewenangan untuk menerbitkannya memberikan pernyataan tentang origin barang dari suatu negara. Sertifikat ini juga dapat berbentuk pernyataan yang dikeluarkan oleh pabrikan, produsen, supplier, eksportir, ataupun pihak lain yang ditunjuk.
Penerbitan surat keterangan telah ditetapkan periodenya, yaitu sebelum, pada saat, atau 3 (tiga) hari setelah tanggal B/L. Namun demikian, sekalipun telah ditetapkan periodenya, faktanya masih terdapat penerbitan yang dilakukan diluar periode tersebut.
Para negosiator menyadari adanya kemungkinan kondisi ini, sehingga kemudian disediakan fleksibilitas untuk penerbitannya, yaitu :
a. Surat keterangan asal “ISSUED RETROACTIVELY”, yaitu surat keterangan asal yang penerbitannya dilakukan setelah periode yang telah ditetapkan di atas. Penerbitan jenis surat keterangan asal ini ditandai dengan pemberian contreng atau tanda “X” pada box 13 surat keterangan asal. Khusus untuk form IJEPA, mengingat tidak tersedia box untuk pemberian tanda itu, kiranya dapat diberikan dengan memberikan tulisan “ISSUED RETROACTIVELY”
pada approval area dalam form IJEPA tersebut.
b. Jenis surat keterangan asal lainnya yang penerbitannya diatur secara khusus adalah back-to-back certificate of origin, yaitu surat keterangan asal yang ditebitkan oleh issuing authority di negara kedua (intermediate country), atas permohonan dari importir di negara tersebut yang kemudian berubah statusnya menjadi eksportir kedua.
c. Jenis lainnya adalah surat keterangan asal “CERTIFIED TRUE COPY”, yaitu surat keterangan asal yang diterbitkan sebagai pengganti dari surat keterangan asal sebelumnya yang hilang atau rusak. Surat keterangan asal jenis ini diterbitkan atas permohonan eksportir dengan mengacu pada surat keterangan pertama yang dimilikinya (lembar ketiga-triplicate) dan/atau arsip yang ada di issuing authority (lembar kedua-dulicate). Jangka waktu surat keterangan asal “CERTIFIED TRUE COPY” adalah sama dengan surat keterangan asal yang hilang, sehingga tanggal surat keterangan asal yang hilang tersebut wajib dicantumkan dalam dokumen pengganti tersebut.
1.4 Tes Formatif 1
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jawaban yang singkat, jelas dan benar!
1. Dalam proses pengajuan permohonan untuk mendapatkan surat keterangan asal, eksportir atau kuasanya wajib mengisi surat keterangan asal yang akan digunakan sesuai dengan skema FTA yang akan digunakannya. Untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan oleh eksportir adalah benar,
hal apakah yang dilakukan oleh eksportir atas surat keterangan asal tersebut?
2. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh issuing authority terkait permohonan yang diajukan oleh eksportir atau kuasanya, sebelum memberikan persetujuan pada box 12 surat keterangan asal dalam rangka kerja sama ASEAN ? jelaskan!
3. Bagaimanakah pengaturan jangka waktu penerbitan surat keterangan asal?
4. Dalam hal jangka waktu penerbitan tersebut tidak dapat dipenuhi dan surat keterangan asal baru dapat diterbitkan setelah jangka waktu yang diatur di dalam perjanjian pembentuk skema FTA, bagaimanakah proses penerbitannya kemudian oleh issuing authority?
5. Adakalanya dalam dalam proses pengiriman surat keterangan asal dari eksportir kepada importir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (diluar kemampuan ekspotir untuk penanganannya), sehingga menyebabkan surat keterangan asal yang telah diperolenya rusak atau bahkan hilang. Apabila hal ini terjadi, siapakah yang harus bertindak kemudian agar atas komoditi yang diekspor tetap memperoleh tarif preferensi?
1.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan materi yang sudah ada pada pembahasan ini. Hitunglah jawaban yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini.
Perhatikan dan cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci sebagaimana rumus berikut.
TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%
Jumlah keseluruhan Soal
Apabila tingkat pemahaman (TP) dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai:
91 % s.d 100 % : Sangat Baik 81 % s.d. 90,99 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup 61 % s.d. 70,99 % : Kurang
0 % s.d. 60,99 % : Sangat Kurang
Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.
PENERIMAAN CERTIFICATE OF ORIGIN
2.1 Uraian dan Contoh
Pada bab satu di atas dibahas tentang hal-hal yang harus dipahami dalam rangka penerbitan surat keterangan asal oleh issuing authority. Proses penerbitan surat keterangan sangat perlu diketahui oleh petugas administrasi pabean untuk memastikan hal-hal apa saja yang telah dilakukan oleh pihak penerbit, sehingga dapat dijadikan sebagai bagian dari risk management pada saat penerimaan dan penentuan apakah atas komoditiyang diekspor layak mendapatkan tarif bea masuk atau tidak.
Pada bab dua ini akan dibahas tentang hal-hal terkait penerimaan surat keterangan asal oleh administrasi pabean, termasuk Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), serta poin-poin penting dalam melakukan pemeriksaan surat keterangan asal.
KEGIATAN BEL AJAR
DUA
Indikator Keberhasilan :
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan :
1. Dapat menjelaskan tatacara pengajuan surat keterangan asal untuk memperoleh tarif preferensi;
2. Dapat menjelaskan tata cara pemeriksaan surat keterangan asal; dan 3. Dapat menjelaskan tata cara penolakan atau penundaan pemberikan
tarif preferensi ;
A. Pengajuan Surat Keterangan Asal
Setelah surat keterangan asal diterbitkan oleh issuing authority, maka lembar asli atau lembar pertama (original) dan lembar ketiga (triplicate) diserahkan kepada eksportir. Lembar pertama selanjutnya diserahkan eksportir kepada importir untuk diajukan kepada adminisitrasi pabean (kantor Bea dan Cukai) di pelabuhan pemasukan negara importir. Sedangkan lembar ketiga dijadikan arsip oleh ekspotir guna mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari. Untuk lembar kedua (duplicate) tetap dipegang oleh issuing authority untuk dijadikan arsip di kantornya.
Lembar kedua yang dipegang oleh eksportir dapat digunakan misalnya pada saat lembar pertama hilang atau rusak, sehingga diperlukan surat keterangan asal pengganti yang tentunya harus mengacu pada dokumen yang telah diterbitkan sebelumnya. Oleh karena itu masing-masing pihak yang mendapat salinan surat keterangan asal, issuing authority, eksportir, dan receiving authority, diberikan kewajiban untuk menyimpan surat keterangan asal yang diterimanya selama 3 tahun guna kepentingan administrasi tertentu.
1. Saat pengajuan
Seluruh perjanjian pembentuk skema FTA mengatur bahwa pengajuan surat keterangan asal dilakukan bersamaan dengan pengajuan import declaration, yang mana untuk Indonesia mengacu pada Pemberitahuan Impor Barang (PIB). Inilah yang disebut dengan asas presentasi menurut para perunding skema FTA.
Indonesia berpedoman pada perjanjian pembentuk skema FTA untuk melaksanakan ketentuan ini apa adanya sebagaimana isi dari perjanijan tersebut, khususnya OCP. Oleh karena itu dalam hal terdapat pengajuan surat keterangan asal untuk mendapatkan tarif preferensi yang diajukan tidak bersamaan dengan pengajuan PIB tidak akan diberikan tarif preferensi.
Adakalanya barang tiba lebih dulu dibandingkan dengan surat keterangan asal yang datangnya menyusul. Dalam kondisi seperti ini, maka apabila importir masih mengharapkan agar barang yang diimpornya dapat
memperoleh tarif preferensi, maka pihaknya atau kuasanya jangan terlebih mengajukan PIB, melainkan menunggu sampai dengan datangnya surat keterangan asal. Dalam beberapa pertemuan/sidang pembahasan implementasi skema FTA, hal ini pernah dibahas dan administrasi pabean Indonesia dianggap tidak akomodatif terhadap kondisi yang ada sehingga dianggap kurang fasilitatif.
Menanggapi asumsi seperti ini, pihak Indonesia menyampaikan bahwa inilah yang disebut dengan kepastian hukum, sehingga setiap pelaku usaha akan dapat mudah memahami dan memprediksi/menyiapkan hal-hal yang harus dilakukan. Poin yang paling penting adalah bahwa sikap Indonesia ini tidak bertentangan dengan perjanjian yang mendasari implementasi skema FTA.
Beberapa negara anggota ASEAN, seperti Thailand dan Singapore, membuat aturan sedikit berbeda dengan Indonesia, dimana apabila terdapat importasi ke negaranya, kemudian pengajuan surat keterangan asal dilakukan setelah pengajuan import declaration, maka pihak pabeannya akan menerima dan melakukan koreksi atas keputusan yang telah diambil sebelumya.
Atas perbedaan sikap ini tentunya masing-masing pihak tidak dapat saling menyalahkan, mengingat hal tersebut berangkat dari penafsiran atas substansi perjanjian pembentuk skema FTA yang sama-sam atelah ditanda tangani.
Sekalipun importir melakukan pengajuan surat keterangan asal
“ISSUED RETROACTIVELY”, yaitu surat keterangan asal yang terbitnya terlambat, yakni setelah barang diberangkatkan, maka untuk mendapatkan tarif preferensi pengajuan PIB tetap harus menunggu kedatangan surat keterangan asal. Begitu juga apabila yang diajukan adalah surat keterangan asal “CERTIFIED TRUE COPY”, tetap saja pengajuannya harus bersamaan dengan PIB.
Dengan adanya kepastian seperti itu maka seyogyanya importir dapat mempersiapkan segala sesuatunya, serta dapat mengkomunikasikan hal ini
kepada eksportir, sehingga dapat saling mendukung dalam transaksi mereka.
2. Masa berlaku surat keterangan asal
Surat keterangan asal yang berlaku saat ini, yaitu : form D untuk skema ATIGA, form E untuk skema ASEAN-China FTA, form AK untuk skema ASEAN-Korea, form AI untuk skema ASEAN-India, form AANZ untuk skema ASEAN-Australia-New Zealand FTA, dan form IJEPA untuk skema Indonesia-Japan, disepakati bahwa masa berlakunya adalah 12 (dua belas) bulan sejak tanggal penerbitan.
Masa berlaku ini berlaku juga untuk surat keterangan asal pengganti yang hilang atau rusak, dengan tanda “ISSUED RETROACTIVELY”, dimana masa berlakunya mengacu pada tanggal penerbitan surat keterangan asal yang rusak atau hilang.
Khusus untuk surat keterangan asal yang diterbitkan kemudian, yaitu back-to-back certificate of origin, masa berlakunya tidak mengacu pada tanggal penerbitan, melainkan pada tanggal pengapalan, yang dalam hal ini sebagaimana telah dijelaskan di atas mengacu pada tanggal B/L. Penetapan tanggal pengapalan (bukan tanggal penerbitan) tentunya merupakan keputusan yang tepat, mengingat pada saat penerbitan surat keterangan asal, barang yang akan diekspor sebenarnya telah berangkat.
Penetapan tanggal B/L sebagai referensi juga merupakan bagian dari kepastian hukum di Indonesia, karena apabila kita hanya menyebutkan tanggal pengapalan, tidak mudah untuk mencari dokumen yang harus dijadikan referensinya.
Masa berlaku 12 (dua belas) bulan memiliki makna lain, yaitu setiap mekanisme yang terkait dengan surat keterangan asal, seperti : proses retroactive check, pelaksanaan verifikasi visit, pengajuan kepada administrasi pabean, dan lain-lain harus mempertimbangkan jangka waktu tersebut, sehingga hak dan kewajiban yang melekat pada surat keterangan asal tersebut juga masih berlaku.
B. Pemeriksaan surat keterangan asal oleh petugas pabean
Setelah surat keterangan asal diajukan oleh importir atau kuasanya ke kantor pabean yang mengawasi pelabuhan pemasukan barang-barang yang diimpornya, maka selanjutnya adalah tugas dari para petugas pabean untuk melakukan verifikasi atau pemeriksaan atas dokumen impor, termasuk surat keterangan asal. Tentunya pejabat yang melakukan kegiatan tersebut adalah pejabat yang memiliki kewenangan untuk melakukan aktivitas terkait pemeriksaan dokumen.
Terkait dengan pengajuan permohonan mendapatkan tarif preferensi, tentunya fokus dari proses pemeriksaan tersebut adalah pemenuhan terhadap ROO (ROO), yang meliputi 3 (tiga) hal sangat penting, yaitu : kriteria origin (lihat modul kedua), kriteria pengiriman langsung, dan procedural provisions.
1. Pemeriksaan Kriteria Origin
Pada modul 2 telah dijelaskan kriteria origin yang ada di dalam skema FTA yang berlaku di Indonesia, yang meliputi :
v Wholly Obtained atau Wholly Produced v Diproduksi secara khusus (PE)
v Regional Value Content (RVC 40%), dan RVC 35% untuk ASEAN-India FTA
v Change Tariff Classification, yang terdiri : Change Tariff Heading (CTH) dan Change in Tariff Sub Heading (CTSH)
v Product Specific Rules (PSR)
Oleh karena itu di dalam modul ini tidak akan dijelaskan kembali tentang masing-masing kriteria origin, melainkan hanya tata cara pemeriksaan ke- asal-an dari produk-produk yang masuk ke Indonesia dengan dilindungi surate keterangan asal.
Agar lebih mudah melaksanakan pemeriksaan kriteria origin, maka ikutilah langkah-langkah sebagai berikut :
a. Skema FTA yang diajukan
Saat menerima PIB yang dilampiri surat keterangan asal, pastikan bahwa kolom 19 PIB telah diisi dengan benar, dengan membandingkan kode di dalam kolom tersebut dengan kode pada surat keterangan asal yang diajukan, yaitu :
v Kode 06, berati surat keterangan yang diajukan adalan form D.
v Kode 54, berarti surat keterangan asal yang diajukan adalah form E.
v Kode 55, berarti surat keterangan asal yang diajukan adalah form AK.
v Kode 56, berarti surat keterangan asal yang diajukan adalah form IJ- EPA.
v Kode 57, berarti surat keterangan asal yang diajukan adalah form AI.
v Kode 58, berarti surat keterangan asal yang diajukan adalah form AANZ.
Apabila pada kolom 19 PIB tidak ditemukan kode apapun sementara importir melampirkan surat keterangan asal, ada baiknya ditanyakan kembali kepada importir terkait keberadaan surat keterangan asal tersebut, karena dikhawatirkan lupa memasukkan kode dimaksud pada saat pengajuan PIB secara elektronik.
Namun demikian, mengingat pengisian kolom 19 adalah wajib dan dilakukan secara elektronik, serta kebutuhan akan diperolehnya tarif preferensi merupakan kepentingan dari importir, maka penulis berpendapat bahwa dalam hal tidak ditemukan kode apapun dalam kolom 19, petugas pabean dapat menganggap bahwa importir tidak akan memanfaatkan surat keterangan asal yang telah dimilikinya. Hal ini bisa terjadi karena tarif bea masuk MFN telah sama dengan tarif preferensi sehingga importir tidak akan memperoleh manfaat apapun dari fasilitas ini.
b. Kriteria origin dalam skema FTA yang diajukan
Setelah mengetahui jenis surat keterangan asal yang diajukan (atau dengan kata lain setelah mengetahui skema FTA yang digunakan dalam importasi tersebut) maka langkah selanjutnya adalah memastikan kriteria origin apa saja yang berlaku dalam skema FTA dimaksud. Hal ini
dapat diketahui dengan melihat overleaf notes dari surat keterangan asal yang diajukan. Untuk meyakinkan kriteria apa saja yang berhak digunakan dalam setiap skema FTA, petugas pabean sebaiknya telah memiliki daftar tersendiri yang disusun sedemikian rupa berdasarkan perjanjian pembentuk skem FTA-TIG masing-masing.
Kriteri origin harus dicantumkan dalam kolom atau box 8 untuk surat keterangan asal dalam kerangka kerja sama regional (ASEAN atau ASEAN dengan dialogue partners), dan box 5 untuk surat keterangan asal dalam kerangka kerja sama Indonesia-Jepang.
Penulisan kode kriteria origin juga harus sesuai dengan apa yang telah disepakati dan dimuat di dalam overleaf notes masing-masing surat keterangan asal tersebut.
Contoh :
Ø Dalam skema ATIGA, untuk kriteria origin Change in Tariff Classification (CTC) ditulis : CC (dua digit); CTH (empat digit); dan CTSH (enam digit). Oleh karena itu pada box 8 harus ditulis salah satu dari kode di atas.
Ø Apabila kriteria yang diajukan adalah wholly obtained, maka pada box 8 akan tertulis WO
c. Periksa daftar Product Specific Rules
Daftar Product Specific Rules (PSR) telah dijelaskan pada modul 2, berupa sekumpulan produk yang hanya dapat menggunakan kriteria origin yang disepakati sebagaimana yang tercantum pada daftar tersebut. Untuk pengujian ke dalam daftar PSR diperlukan pos tarif yang sesuai bagi barang yang diimpor.
Setelah penulisan kode pada box 8 (atau box 5 untuk skema IJEPA) kedapatan sesuai, lihat pos tarif yang diberitahukan pada box 7 (atau box 4 untuk skema IJEPA). Pastikan bahwa kode HS yang diberitahukan adalah sesuai dengan komoditi yang diimpor. Dalam hal tidak ditemukan kode HS pada box tersebut, maka petugas pabean harus memastikan terlebih dahulu kode HS yang tepat.
Berdasarkan kode HS tersebut, petugas pabean melakukan pemeriksaan apakah tercantum di dalam daftar PSR atau tidak.
Ø Dalam hal kode HS atas barang yang diimpor tercantum di dalam daftar PSR, maka pastikan kriteria origin apa saja yang dapat digunakan untuk HS tersebut.
Ø Dalam hal kode HS atas barang yang diimpor tidak tercantum di dalam daftar PSR, maka atas produk tersebut tidak terdapat pembatasan penggunaan kriteria origin.
Contoh :
Ø Sebuah perusahaan di Jakarta mengimpor CARBON PASTE, kode HS : 3801.90, dari China dengan menggunakan skema ACFTA.
Pada box 8 dituliskan bahwa kriteria origin dari produk tersebut adalah “WO”. Artinya produk tersebut diperoleh sepenuhnya dari China (wholly obtained/produced).
Ø Berdasarkan penelitian pada daftar PSR ACFTA, kedapatan bahwa untuk kode HS : 3801.90 tidak termasuk dalam daftar tersebut.
Ø Mengingat kode HS dimaksud tidak termasuk dalam daftar PSR ACFTA, maka atas penggunaan kriteria origin “WO” adalah dimungkinkan.
Mengapa “memungkinkan”?, karena petugas pabean harus memiliki keyakinan bahwa produk CARBON PASTE adalah benar-benar hanya diproduksi di China, tanpa ada campuran bahan baku yang berasal dari negara lain. Untuk contoh yang lain adalah :
Ø Sebuah perusahaan di Jakarta mengimpor barang dari Australia, yaitu : DECOLOURISED ANHYDROUS MILKFAT, kode HS 0405.90, dengan kriteria origin “WO".
Ø Berdasarkan pemeriksaan pada daftar PSR, kedapatan bahwa atas kode HS tersebut terdapat pembatasan kriteria origin, yaitu hanya dapat menggunakan kriteria : RVC (40) atau CTSH.
Ø Mempertimbangkan hasil pemeriksaan pada daftar PSR di atas, maka atas komoditi tersebut tidak dapat memperoleh tarif preferensi, karena menggunakan kriteria origin yang berbeda dengan ketentuan di dalam perjanjian pembentuk skema AANZFTA.
Satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam pemeriksaan kriteria origin adalah apabila barang yang diimpor ternyata lebih dari satu jenis atau satu item. Apabila demikian, sekalipun seluruh barang tersebut memilki kode HS yang sama, maka masing-masing jenis/item barang wajib mencantumkan kriteria origin-nya.
Contoh :
Apabila dalam satu pengiriman diketahui bahwa barang yang diimpor berjumlah 5 (lima) jenis, maka tampilan dalam surat keterangan asal yang melindungi barang tersebut tampilan pada box-box terkait uraian barang dan kriteria origin adalah sebagai berikut:
5. Item number
6. marks and numbers on packages
7. number and tpe of packages, description of goods (including quantity where appropriate and HS number of the importing country)
8. Origin criterion (see Overleaf Notes
9. Gross ...
10. Numb er ....
1 2 3 4 5
N/M MALIMO
HS CODE : 5603.14
NON WOVEN HS CODE : 5602.10
CHEMICAL SHEET HS CODE : 5602.10
MAGIC TAPE HS CODE : 3919.10
THREAD
HS CODE : 8208.90
X
X
X
X
X
Apabila kedapatan surat keterangan asal dengan multi item seperti di atas, dan hanya satu atau sebagian saja yang diberikan penjelasan kriteria origin, hendaknya dimintakan penjelasan terlebih dahulu kepada issuing authority dengan mengirimkan surat permintaan retroactive check.
2. Pemenuhan Kriteria Pengiriman Langsung
Pada modul 2 juga telah dijelaskan tentang kriteria bahwa suatu barang yang ingin mendapatkan tarif preferensi harus dikirim langsung dari negara produsen ke negara pengimpor. Pengertian “pengiriman langsung” memiliki fleksibilitas yang disepakati, sehingga dimungkinkan untuk terjadinya transit dan/atau transhipment di negara lain.
Untuk membuktikan apakah suatu barang dalam pengangkutannya memenuhi kriteria tersebut, dokumen utama yang dapat dijadikan referensi adalah dokumen pengangkutan, yaitu : Bill of Lading (B/L) atau Air Way Bill (AWB).
Guna mendukung mekanisme ini, dalam perjanjian pembentuk skema FTA diatur bahwa dokumen yang harus disampaikan kepada administrasi pabean adalah :
a. A through B/L yang diterbitkan oleh negara pengekspor (negara asal barang).
Berdasarkan definisi yang penulis ambil dari business dictionary, Through B/L adalah :
B/L issued for containerized door-to-door shipments that have to use different ships and/or different means of transportation (aircraft, railcars, ships, trucks, etc.) from origin to destination.
Pengertian di atas dapat diterjemahkan secara bebas bahwa Through B/L adalah B/L yang digunakan untuk pengangkutan barang kepada satu atau lebih pemesan yang memerlukan pergantian moda transportasi, dari negara asal ke negara tujuan.
Jika demikian, maka di dalam B/L tersebut seharusnya tercantum negara asal barang serta tujuan barang, sekaligus juga tempat-tempat lain yang akan disinggahi oleh alat angkutnya.
b. Surat keterangan asal harus diterbitkan oleh issuing authority di negara pengekspor.
Setiap pengajuan barang yang ingin memperoleh tarif preferensi, maka wajib dilindungi dengan surat keterangan asal yang diterbitkan oleh negara dimana barang tersebut diproduksi. Hal ini mempertimbangkan bahwa issuing authority di negara tempat barang diproduksi adalah yang paling mengetahui ke-asal-an barang tersebut, baik bahan baku serta proses produksinya, untuk membuktikan terpenuhinya kriteria origin yang dapat digunakan.
Oleh karena itu, pengertian negara pengekspor hendaknya diartikan sebagai negara tempat asal barang. Hal ini perlu diwaspadai dalam hal terjadinya third country invoicing, dimana importir melakukan transaksi dengan pihak lain yang bukan berdomisili di negara tempat barang diproduksi. Sehingga eksportir-nya dalam hal ini sebenarnya adalah pihak ketiga.
c. Copy original commercial invoice atas barang yang dikirim.
Dalam hal ini yang dimaksud dengan original commercial invoice adalah invoice yang dikeluarkan oleh pemilik barang yang sebenarnya, sebelum terjadi proses transaksi antara importir dengan eksportir.
Contoh :
Ø Perusahaan A di Indonesia memesan barang dari perusahaan B di Singapore. Oleh karena perusahaan Singapore tidak memiliki barang yang di pesan (karena bukan merupakan produsen atas barang yang dimaksud), maka pihaknya melakukan transaksi dengan perusahaan C (sebagai produsen) di Thailand.
Ø Melihat kasus di atas, tentunya akan terbit dua invoice, yaitu invoice yang diterbitkan oleh perusahaan B di Singapore untuk perusahaan A di Indonesia, dan invoice yang diterbitkan oleh perusahaan C di
Thailand untuk perusahaan B di Singapore. Invoice yang kedua inilah yang disebut dengan original commercial invoice, yaitu diterbitkan oleh produsen di Thailand.
Ø Dalam rangka pembuktian “pengiriman langsung”, maka invoice yang diterbitkan oleh perusahaan C di Thailand wajib diajukan kepada administrasi pabean di negara importir, untuk membuktikan bahwa barang berasal dari negara produsen, dan dikirim langsung ke negara importir.
d. Dokumen pendukung lainnya
Dalam perjanjian pembentuk skema FTA-TIG tidak dijelaskan dokumen pendukung dimaksud, termasuk jenis-jenisnya. Hanya saja terdapat penekanan bahwa dokumen pendukung tersebut adalah untuk membuktikan bahwa ketentuan/ persyaratan dalam kriteria pengiriman langsung dipenuhi.
Apabila tujuannya adalah sebagaimana tersebut di atas, maka penulis dapat mengambil contoh dokumen yang digunakan oleh Singapore pada saat alat angkut transit di negaranya, kemudian melanjutkan perjalanannya ke negara tujuan. Untuk membuktikan kegiatan apa saja yang dilakukan terhadap barang yang akan diangkut kemudian, pihak administrasi pabean Singapore mengeluarkan semacam surat yang menjelaskan hal-hal terkait barang tersebut.
Hal-hal yang wajib dijelaskan dalam surat keterangan dimaksud adalah sesuai dengan persyaratan yang melekat atas barang-barang transit/
transhipment, yaitu :
Ø Barang tidak memasuki daerah pabean negara transit atau tempat terjadinya transhipment;
Ø Barang tidak mengalami proses perpindahan tangan (transaksi di negara transit);
Ø Barang tidak mengalami proses pengolahan apapun selain daripada bongkar muat saja.