• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab III Profil The Wahid Institute

C. The Wahid Institute: Negara, Warga Negara,

Kegagalan aparatur negara dalam menjalankan usaha pencegahan terjadinya pelanggaran kebebasan beragama telah menjadi preseden buruk bagi institusi hukum terkait. Terlebih ketika hanya sebagian sangat kecil dari intensitas tinggi

70

Wawancara dengan Ahmad Suaedy, Direktur Eksekutif The Wahid Institute (26 Maret 2012).

71

Wawancara dengan Alamsyah M Djafar, Staf The Wahid Institute (19 September 2012).Luasnya pergaulan pegiatnya mendorong Wahid Institute untuk menjalin dengan beragam organisasi gerakan Muslim progresif. Jaringan gerakan Muslim progresif Wahid Institute, diantaranya, CMARs (Center for Marginalized Communities Studies), Lembaga Kajian untuk Transformasi Sosial (LKTS), Lembaga Studi Kemanusiaan (LenSA), Santri untuk Advokasi Masyarakat (SYARIKAT) Indonesia, Pusat Studi Antar Komunitas (PUSAKA), Puspek Averroes, Lembaga Kajian Pengembangan Masyarakat dan Pesantren (LKPMP), Rahima, Pusat Dokumentasi Islam dan Gender, Lembaga Kajian Demokrasi dan Sosial (LeKDaS), Serikat Paguyuban Petani Qoryah Thayyibah, YPKM Nusa Tenggara Barat, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Masyarakat Dialog Antar Agama (MADIA), Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LS-ADI), Forum Studi Agama dan Sosial (FSAS), Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR), Fahmina, Ma'had Aliy Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Laboratorium Dakwah Shalahuddin, Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS), Jaringan Islam Liberal (JIL),

52

pelanggaran kebebasan beragama yang memperoleh penyelesaian hukum.72

Seiring dengan itu, pengabaian negara untuk memenuhi hak atas kompensasi,

restitusi, dan rehabilitasi untuk korban pelanggaran kebebasan beragama.73

Laporan Tahunan 2008 Pluralisme Beragama/Berkeyakinan di Indonesia 2008 Wahid Institute menyebut menapaki bangsa yang kian retak untuk menggambarkan realitas kebebasan beragama yang ditandai pelanggaran kebebasan beragama dalam intensitas tinggi terutama mengarah pada individu dan kelompok yang memiliki kecenderungan berbeda dari sudut pandang negara

maupun mainstream agama masyarakat. Jamaah Ahmadiyah dan Kristiani

misalnya salah satu korban pelanggaran kebebasan beragama dalam intensitas tertinggi. Jamaah Ahmadiyah tidak hanya mengalami berbagai bentuk diskriminasi tapi juga mewujud dalam bentuk persekusi, yaitu, bentuk tindakan penganiayaan sistematis dalam berbagai bentuknya yang dilakukan oleh individu

atau kelompok terhadap individu atau kelompok lainnya.74

72

Dari sekian banyak pelanggaran kebebasan beragama hanya beberapa pelanggaran diproses penyelesaian hukumnya, misalnya sepanjang 2010 Setara Institute mencatat putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung atas gugatan yang diajukan oleh jemaat Kristiani terkait dengan pendirian rumah ibadah yang diajukan oleh Gereja dan Amal Katolik Kristus Raja Purwakarta, Gereja HKBP Filadefia Bekasi, dan GKI Taman Yasmin Bogor. Bahkan untuk GKI Taman Yasmin Bogor, Mahkamah Agung juga menguatkan melalui putusan kasasi dan penolakan Peninjauan Kembali yang diajukan oleh Pemerintah Kota Bogor, Kepolisian dalam kasus penyerangan jemaat HKBP Ciketing Bekasi yang memproses secara hukum pelaku penusukan. Demikian juga polisi memproses pelaku pengrusakan masjid Ahmadiyah Cisalada Bogor hingga ke pengadilan. Juga peranan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang memberikan kontribusi bagi kebebasan beragama, khusus di Bali, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, dan Surabaya. Di tiga propinsi dan satu kota ini, FKUB tidak bertindak sebagai agen sensor jaminan kebebasan beragama sebagaimana yang terjadi di Jawa Barat dan sebagian besar wilayah lainnya, tapi mampu memberikan kontribusi positif bagi penyelesaian sejumlah persoalan terkait jaminan kebebasan beragama (Setara Institute, 2011:87).

73

Setara Institute, Negara Harus Bersikap: Realitas Legal Diskriminatif dan Impunitas Praktik Persekusi Masyarakat atas Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (Jakarta: Setara Institute, 2010), h. 81-82.

74

10 langkah menuju persekusi Jamaah Ahmadiyah. Pertama, membangun solidaritas organisasi Islam radikal melalui dakwah. Kedua, memasang stiker/spanduk penolakan dan permusuhan.

53

Ketika merilis laporan tersebut, Direktur Wahid Institute Yenny

menyatakan:75

Selama ini kualitas demokrasi hanya diukur dengan keikutsertaan masyarakat dalam pemilu. Sementara ekspresi beragama cenderung diabaikan.

Dalam perspektif Wahid Institute, intensitas tinggi pelanggaran kebebasan beragama yang mengemuka diruang publik berada dalam tiga level permasalahan mencakup level regulasi dalam struktur kenegaraan, kapasitas aparatur penegak hukum, dan permasalahan pada level masyarakat termasuk intoleransi organisasi-organisasi Islam radikal. Ketiga level masalah ini tetap berada dalam kerentanan memicu berulangnya pelanggaran kebebasan beragama yang mengarah pada individu atau kelompok yang memiliki kecenderungan berbeda dengan perspektif

negara dan mainstream agama masyarakat.

Pertama, Indonesia menyatakan sebagai negara berketuhanan, dengan demikian warga negaranya harus beragama. Dalam implementasinya tidak seluruh agama diperlakukan setara di Indonesia. Ada enam agama yang diakui dan mendapat fasilitas negara (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu), sedang agama-agama yang lain boleh hidup tapi tidak mendapat fasilitas dari negara. Seperti dijelaskan Alamsjah, regulasi terkait kebebasan beragama belum

Ketiga, menggelar tabligh akbar dan membakar emosi umat. Keempat, ancaman penghentian kegiatan ibadah. Kelima, pemerintah daerah berinisiatif untuk memfasilitasi dialog. Keenam, tekanan melalui surat pernyataan. Ketujuh, Musyawarah Pimpinan Daerah mengeluarkan surat keputusan bersama atau produk kesepakatan. Kedelapan, jika tidak berhenti maka terjadi penyerangan oleh massa. Kesembilan, Bupati melalui Satuan Polisi Pamong Praja melakukan penyegelan. Kesepuluh, pembiaran oleh pihak kepolisian (Setara Institute, 2010:80-82).

75

The Wahid Institute, “Toleransi Yang Kian Rendah Meretakkan Bangsa”, diakses pada 18 Agustus 2012 dari http://www.wahidinstitute.org/Program/Detail/?id=411/hl=id/Toleransi_Yang_ Kian_Rendah_Meretakkan_Bangsa

54

bisa sepenuhnya melepaskan diri dari paradigma agama yang diakui dan agama

yang tidak diakui.76

Peran interventif negara dalam implementasi kebebasan beragama ditandai regulasi yang problematik, misalnya, Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan atau Penodaan Agama. Alamsjah berpandangan semangat Undang-Undang ini kemudian ditransformasikan dalam pasal 156a KUHP yang dalam praktiknya lebih banyak digunakan untuk mengancam kebebasan beragama, tidak hanya ekspresi keberagamaan tetapi keyakinan agama itu sendiri. Jika Pasal 156a hanya bisa menjerat keyakinan, maka Undang-Undang No. 1 PNPS /1965 bisa membubarkan organisasi keagamaan yang dinilai menodai agama. Delik penodaan agama yang diberlakukan secara longgar dalam praktiknya diterapkan untuk mengancam penafsiran-penafsiran agama yang

berbeda dengan perspektif negara dan mainstream agama masyarakat.77

MUI yang dalam prosesnya sebagai lembaga yang dianggap representasi agama Islam secara luas telah mempengaruhi kehidupan sosial keagamaan yang luas di dalam masyarakat menyangkut persoalan-persoalan termasuk kebebasan

beragama melalui fatwa–fatwa yang dikeluarkannya. Rumadi menjelaskan

berbagai kasus keagamaan di masyarakat yang kemudian menjadi konflik tidak bisa dilepaskan dari peran MUI dengan produk fatwa yang dikeluarkannya.

Meskipun fatwa MUI bukanlah produk hukum yang mengikat (legaly binding),

namun masyarakat sering menjadikan fatwa MUI sebagai alat legitimasi tindakan

76

Wawancara dengan Alamsyah M Djafar, Staf The Wahid Institute (19 September 2012). 77

55

mereka. Bahkan aparat negara juga sering menjadikan fatwa MUI sebagai

pedoman dalam mengambil tindakan terhadap kelompok yang disesatkan.78

Lebih jauh sejak era reformasi bergulir, diskursus dan kontestasi kekuasaan formalisasi agama di ruang publik daerah berakhir pada lahirnya berbagai peraturan daerah yang berlandaskan agama dan moralitas tanpa perhatian lebih pada pertimbangan kesesuaian dengan konstitusi dan hak asasi manusia. Rumadi menerangkan peraturan-peraturan daerah berlandaskan agama dan moralitas ini tidak saja memiliki kecenderungan diskriminatif, pembatasan,

bahkan represi terhadap kebebasan beragama.79 Konteks otonomi daerah pasca

Orde Baru kemudian ditandai peraturan daerah yang seringkali hanya didasarkan

pada pertimbangan sosial politik lokal daerah yang bersangkutan.80

78

Wawancara dengan Rumadi, Staf The Wahid Institute (19 September 2012). Terkait dengan hal itu, MUI pada Rapat Kerja Nasional 4-6 November 2007, MUI mengeluarkan 10 panduan kriteria yang menjadi semacam parameter menilai suatu aliran agama menyimpang.MUI mengemukakan 10 panduan aliran sesat itu menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat yang berpotensi jadi korban kelompok yang dituduh sesat sekaligus keresahan yang ditimbulkannya. 10 panduan kriteria tersebut, yaitu, mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam, meyakini dan atau mengikuti akidah yang tak sesuai dengan Alquran dan Assunah, meyakini turunnya wahyu setelah Alquran, mengingkari otensitas dan atau kebenaran isi Alquran, melakukan penafsiran Alquran yang tak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir, mengingkari kedudukan hadits nabi sebagai sumber ajaran Islam, menghina, melecehkan, dan atau merendahkan para nabi dan rasul, mengingkari nabi Muhammad sebagi nabi dan rasul terakhir, mengubah, menambah, dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang ditetapkan syariah, seperti pergi haji tidak ke baitullah, salat wajib tidak lima waktu, dan mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i seperti mengkafirkan sesama Muslim karena bukan kelompoknya (The Wahid Institute, 2008:33).

79

Wawancara dengan Rumadi, Staf The Wahid Institute (19 September 2012). Narasi pendek mengenai pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan di daerah, misalnya, Atas Nama Ketertiban dan Keamanan: Persekusi Ahmadiyah di Bogor, Garut, Tasikmalaya, dan Kuningan (Setara Institute, 2010).

80

Meskipun sebenarnya, regulasi bernuansa agama sebenarnya bukan fenomena baru dalam diskursus dan praktik politik hukum di Indonesia. Sejak masa-masa awal kemerdekaan, regulasi bernuansa agama dan kehidupan keagamaan sudah menjadi bagian dari sejarah bangsa. Hal ini terkait dengan bentuk negara Indonesia yang tidak sepenuhnya sekuler, tapi pada saat yang sama juga bukan negara agama. Dilihat dari tingkat pemberlakuannya, ada regulasi keagamaan tingkat nasional yang ditetapkan melalui undang-undang atau peraturan tingkat nasional lainnya, ada juga regulasi tingkat daerah yang ditetapkan melalui peraturan daerah maupun peraturan tingkat daerah lainnya.

56

Isu agama yang dianggap menguntungkan baik secara politik kemudian berakhir pada terbitnya regulasi tanpa memperhatikan kesejalanan dengan hak asasi manusia yang ada dalam konstitusi dan aturan lain di atasnya. Robin L. Bush menyebut setidaknya telah lahir setidaknya 78 peraturan daerah bernuansa agama, di 52 kabupaten dan kota di seluruh wilayah Indonesia. Belum termasuk Surat Keputusan Bupati, Walikota dan Gubernur ataupun rancangan peraturan daerah

yang belum diputuskan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.81

Kedua, permasalahan pada tingkat penegakan hukum dan kapasitas aparatur penegak hukum. Alamsjah menjelaskan bahwa kapasitas aparatur dalam implementasi kebebasan beragama warga negara juga sangat lemah yang tercermin dari tingginya intensitas pelanggaran kebebasan beragama oleh aparatur negara dan ketidakmampuannya untuk mencegah bahkan pembiaran terjadinya pelanggaran kebebasan beragama yang kemudian lebih banyak berlalu tanpa adanya penyelesaian hukum. Tindak pelanggaran kebebasan beragama oleh negara banyak didahului oleh tindakan intoleran oleh mereka yang mengatasnamakan mayoritas. Dalam berbagai kasus, baik menyangkut kebebasan beragama maupun intoleransi aparat penegak hukum seringkali terpenjara dengan tuntutan massa. Sehingga, langkah yang diambil biasanya mengamankan korban,

daripada menghalau penyerang karena dianggap paling kecil resikonya.82

81

Wahid Institute memilah regulasi bernuansa agama yang terbit di daerah menjadi lima kategori, pertama, pengaturan soal moralitas dan ketertiban sosial, seperti larangan pelacuran, minuman keras, perzinaan, dan khalwat (berkumpul antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram). Kedua, pengaturan kualitas keimanan dan ketakwaan dengan mengangkat simbol-simbol keagamaan dan pengaturan ritual. Ketiga, pengaturan ketrampilan beragama. Keempat, pengaturan mobilisasi ekonomi, semisal zakat, sedekah, dan infak. Kelima, pengaturan keberadaan kelompok-kelompok keagamaan yang dianggap menyimpang dan pengaturan aktifitas keagamaan lain (The Wahid Institute, 2008:22-24).

82

57

Ketiga, intensitas tinggi pelanggaran kebebasan beragama terkait permasalahan pada level masyarakat. Alamsjah menunjukan pada level masyarakat permasalahannya lebih kompleks daripada relasi problematik regulasi maupun kapasitas aparatur negara dalam implementasi kebebasan beragama, karena di dalamnya melibatkan struktur kesadaran, baik yang berasal dari agama, tradisi maupun perpaduan antara keduanya. Seiring paradigma regulasi kebebasan beragama masih bias pemihakan mayoritas, penggunaan alasan ketertiban umum dan meresahkan masyarakat oleh aparatur negara diasosiasikan untuk menjaga kepentingan mayoritas guna membatasi kelompok minoritas. Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum, tampak aparatur negara tersandera oleh

kelompok-kelompok yang mengatasnamakan mayoritas.83

D. The Wahid Institute dan Strategi Gerakan Kebebasan Beragama

Dokumen terkait