• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

B. Grand Theory

                 Terjemahnya:

“Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. Pada dasarnya seluruh ciptaan Allah yang ada di muka bumi ini sengaja diciptakan oleh Allah untuk kemaslahatan umat manusia dan manajemen sumber daya manusia mempunyai tugas untuk mengelola unsur manusia secara baik agar kita dapat mengelola kenikmatan yang dilimpahkan kepada manusia.”

B. Grand Theory

1) Teori peran (Role Theory)

Grand teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori peran (Role theory). Teori peran (Role Theory) adalah teori yang merupakan perpaduan antara teori, orientasi, maupun disiplin ilmu. Selain dari psikologi, teori peran berawal dari sosiologi dan antropologi. Dalam ketiga ilmu tersebut. isrilah “peran” diambil dari dunia teater. Dalam teater, seorang aktor harus bermain sebagai seorang tokoh tertentu. Posisi aktor dalam teater (sandiwara) itu kemudian dianalogikan dengan posisi seorang dalam masyarakat. Sebagaimana halnya dalam teater. Posisi orang dalam masyarakat sama dengan posisi aktor dalam teater, yaitu bahwa perilaku yang diharapkan daripadanya tidak berdiri sendiri, melainkan

selalu berada dalam kaitan dengan adanya orang lain yang berhubungan dengan orang atau aktor tersebut. dari sudut pandang inilah disusun teori-teori peran.

Menurut linton seorang antropolog , telah mengembangkan teori peran. Teori peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun individu untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita dan lain sebagainya diharapkan agar seorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. mengapa seorang mengobati orang lain, karna dia adalah seorang dokter. Jadi karena statusnya adalah dokter maka dia harus mengobati pasien yang datang kepadanya dan perilaku tersebut ditentukan oleh peran sosialnya.

Kemudian, sosiolog yang bernama Eider membantu menperluas penggunaan teori peran dengan menggunakan pendekatan yang dinamakan “life course” yang artinya bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku terntentu sesuai dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut. contohnya. Sebagian besar warga amerika serikat akan menjadi murid sekolah ketika berusia empat atau lima tahun, menjadi peserta pemilu pada usia delapan belas tahun, bekerja pada usia tujuh belas tahun, mempunyai istri/suami pada usia dua puluh tujuh tahun, punya pasangan hidup sudah bisa sejak usia tujuh belas tahun, dan pensiun pada usia enam puluh than. Di indonesia berbeda, usia sekolah dimulai sejak usia tujuh tahun, punya pasangan hidup sudah bisa sejak usia tujuh belas tahun, dan pensiun

pada usia lima puluh lima tahun. Urutan tadi dinamakan “tahapan usia” (age grading). Dalam masyarakat konterporer kehidupan manusia dibagi kedalam masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua, dimana setiap masa mempunyai bermacam-macam pembagian lagi.

Selain itu, ahmad dan taylor juga mengenalkan teori peran dalam literatur perilaku organisasi. Mereka menyatakan bahwa sebuah lingkungan organisasi dapat mempengaruhi harapan setiap individu mengenai perilaku peran mereka. Harapan tersebut meliputi norma-norma atau tekanan untuk bertindak dalam cara tertentu. Individu akan menerima pesan tersebut, menginterpretasikannya dan merespon dalam berbagai cara. Masalah akan muncul ketika pesan yang dikirim tersebut tidak jelas, tidak secara lansung, tidak dapat diinterpretasikan dengan mudah, dan tidak sesuai dengan daya tangkap sipenerima pesan. Akibatnya pesan tersebut dinilai ambigu atau mengandung unsur konflik. Ketika hal itu terjadi, individu akan merespon pesan tersebut dalam cara yang tidak diharapkan oleh sipengirim pesan.

Harapan akan peran tersebut dapat berasal dari peran itu sendiri, individu yang mengendalikan peran tersebut, masyarakat, atau pihak lain yang berkepentingan terhadap peran tersbut. Setiap orang yang memegang kewenangan atas suatu peran akan membentuk harapan tersebut. Oleh karena itu setiap individu dapat menduduki peran sosial ganda, maka dimungkinkan bahwa dari beragam peran tersebut akan menimbulkan persyaratan/harapan peran yang saling bertentangan. Hal tersebut dikenal dengan konflik peran.

Teori ini juga menyatakan bahwa ketika perilaku yang diharapkan oleh individu tidak konsisten, maka mereka dapat mengalami steress, depresi, mereka tidak puas, dan kinerja mereka akan kurang efektif jika pada harapan tersebut tidak mengandung konflik. Jadi, dapat dikatakan bahwa konflik peran dapat memberikan pengaruh negatif terhadap cara berfikir seseorang. Dengan kata lain, konflik peran dapat menurunkan tingkat komitmen indenpendensi seseorang.23

Kaitan teori peran dengan penelitian yang dilakukan adalah bahwa Setiap orang memainkan sejumlah peran yang berbeda, dan kadang-kadang peran-peran tersebut membawa harapan-harapan yang bertentangan. Peran sebagai istri dan karyawan yang tidak dapat diimbangkan menjadi konflik pada diri karyawan yang berdampak pada kinerja karyawan.

2) Teori Ekspektansi (expectancy theory)

Teori ekspektansi ((expectancy theory) yang dicetuskan oleh victor vroom menyatakan bahwa kekuatan kecenderungan kita untuk bertindak dengan cara tertentu bergantung pada kekuatan lebih praktis, para pekerja akan mengarahkan pada penilaian kinerja yang baik, yang mana penilaian yang baik mengarahkan pada imbalan organisasi, misalnya peningkatan gaji dan atau imbalan secara intrinsik, dan bahwa imbalan akan memuaskan tujuan pribadi para pekerja.24

23 Anis Chariri, ‘pengaruh konflik peran dan ambiguitas peran terhadap komitmen

independensi auditor internal pemerintah daerah (studi empiris pada inspektorat kota semarang)

24 Stephen p.robbins,timothy A.Judge. perilaku organisasi edisi 16 .jakarta : salemba empat,2017 hal.148

Dokumen terkait