• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : ANALISIS DATA

5.5. Konseling Trauma Seks (CBT)

5.5.3. Ada Tidaknya Manfaat Dari CBT

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di lapangan oleh peneliti mengenai ada tidaknya manfaat dari CBT, keseluruhan responden yang berjumlah 24 atau 100% menyatakan bahwa ada manfaat dari kegiatan CBT. Responden yang memiliki trauma pelecehan seksual yang dilakukan oleh pacarnya, temannya, ataupun orangtuanya sehingga tidak memiliki semangat, merasa putus asa dapat berbagi cerita (sharing) dengan volunteer P3M. P3M memberikan masukan, saran dan dukungan semangat.

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan pada bab - bab sebelumnya, maka pada bab ini penulis akan memberikan kesimpulan dan saran mengenai Peranan Perempuan Peduli Pedila Medan Dalam Mendampingi Pekerja Seks Komersial Di Losmen Sinabung Medan.

1. Berdasarkan analisis pada bab sebelumnya, bahwa outreach kondom (penyuluhan dan pembagian kondom) yang dilakukan oleh P3M kepada PSK dampingannya,khususnya PSK yang ada di Losmen Sinabung sudah berjalan dengan baik.

2. Berdasarkan analisis pada bab sebelumnya, bahwa VCT (klinik VCT, mobile klinik) yang dilakukan oleh P3M kepada PSK dampingannya,khususnya PSK yang ada di Losmen Sinabung sudah berjalan dengan baik.

3. Berdasarkan analisis pada bab sebelumnya, bahwa pelatihan keterampilan yang dilakukan oleh P3M kepada PSK dampingannya,khususnya PSK yang ada di Losmen Sinabung sudah berjalan dengan baik.

4. Berdasarkan analisis pada bab sebelumnya, bahwa Konseling Trauma Seks (CBT) yang dilakukan oleh P3M kepada PSK dampingannya,khususnya PSK yang ada di Losmen Sinabung sudah berjalan dengan baik.

6.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan sebelumnya, penulis memberikan beberapa saran yang diajukan bagi pihak-pihak yang terkait.

1. Kepada Perempuan Peduli Pedila Medan (P3M)

Disarankan kepada P3M, untuk meningkatkan lagi pelayanan bagi PSK yang menjadi dampingannya agar PSK bisa tetap terhindar dari HIV/AIDS dan IMS.

2. Kepada PSK

Disarankan kepada PSK, untuk rajin memeriksakan kesehatannya, dan juga aktif mengikuti kegiatan pelatihan keterampilan yang diberikan P3M karena kegiatan pelatihan keterampilan ini berdampak positif bagi kemampuan mereka, ketika mereka sudah tidak bekerja sebagai PSK lagi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Peranan

2.1.1. Pengertian Peranan

Peranan berasal dari kata peran. Peran memiliki makna yaitu seperangkat tingkat yang diharapkan yang dimiliki oleh yang berkedudukan di masyarakat. Usman mengemukakan peranan adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku.

Horton dan Hunt mengemukakan bahwa peran adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai status. Bahkan dalam suatu status tunggal pun orang dihadapkan dengan sekelompok peran yang disebut sebagai perangkat peran. Istilah seperangkat peran(role-set) digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu status tidak hanya mempunyai satu peran tunggal, akan tetapi sejumlah peran yang saling berhubungan dan cocok

(sumber;http//id.shvoong.com/humanities/theory-criticism/2165744-defenisi-peran-atau-peranan). Di akses tanggal 29 April 2014 pukul 22.30 WIB).

Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). apabila seseorang yang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka orang tersebut telah melaksanakan suatu peranan. peranan dapat membimbing seseorang dalam berprilaku, karena fungsi peran itu sendiri adalah :

b. Pewarisan tradisi, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma dan pengetahuan. c. Dapat mempersatukan kelompok atau masyarakat.

d. Menghidupkan sistem pengendali dan kontrol, sehingga dapat melestarikan kehidupan masyarakat.

Peranan mencangkup 3 (tiga) hal, yaitu :

a. Peranan mengikuti dihubungkan dengan posisi dari tempat seseorang dalam masyarakat. peranan dalam arti merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.

b. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.

c. Peranan juga dapat dikatakan perilaku individu yang penting bagi struktur sosial.

2.2. Proses Pendampingan

2.2.1. Pengertian Proses Pendampingan

Proses adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami atau didesain,dapat menggunakan waktu, ruang, keahlian atau sumber daya lainnya, yang menghasilkan suatu hasil. Suatu proses mungkin dikenali oleh perubahan yang diciptakan terhadap sifat-sifat dari satu atau lebih objek yang dibawah pengaruhnya, serta adanya perubahan berdasarkan mengalirnya waktu dan kegiatan yang saling berkaitan (sumber http//id.wikipedia.org/wiki/proses, diakses tanggal 23 April 2014 pukul 19.00 WIB).

Pendampingan adalah suatu proses pemberian kemudahan (fasilitas) yang diberikan pendamping kepada klein dalam mengidentifikasikan kebutuhan dan pemecahan masalah serta mendorong tumbuhnya inisiatif dalam proses pengambilan keputusan, sehingga kemandirian klein secara berkelanjutan dapat diwujudkan (sumber

http//hukum.ud.ac.id/wp-content/uploads/2014/08/jurnal-lalu-Muhammad-wahyu-pdf, diakses tanggal 23 april 2014 pukul 19.30 WIB).

Jadi, Proses Pendampingan adalah urutan pelaksanaan atau kejadian secara alami atau didesain, dapat menggunakan waktu, ruang, keahlian atau sumber daya lainnya yang menghasilkan suatu hasil untuk mempermudah memberikan fasilitas dan dapat memecahkan masalahnya dan kemandirian PSK atau klein secara berkelanjutan dapat terwujud.

Secara umum Prinsip- prinsip dari dampingan itu sendiri adalah a. Prinsip Manusiawi

Perempuan adalah manusia yang memiliki hak azasi manusia yang sama tanpa ada diskriminasi dari pihak manapun. Khususnya PSK, karena mereka hanya korban dari sistem ekonomi dan kekerasan seksual yang di alaminya di ruang publik ataupun di kelompok terkecil yaitu keluarga.

b. Prinsip yang Mengutamakan Kepentingan terbaik terhadap PSK

Berdasarkan Konvensi Komnas Perlindungan tentang perempuan khususnya PSK dampingannya berpatokan kepada terhadap kepentingan yang terbaik untuk perempuan tersebut.

c. Prinsip Non-Diskriminasi

Dalam pendampingan yang dilakukan lembaga yang bergerak pada isu perempuan tidak boleh memandang ras, bahasa, agama, pandangan politik, keturunan sosial, harta, tempat tinggal dan lain sebagainya.

d. Prinsip efektivitas dan efesiensi

Proses pendampingan harus di lakukan secara profesional dan harus tepat sasaran.

Pendampingan dapat diartikan sebagai proses relasi sosial antara pendamping dan klien dalam bentuk memperkuat dukungan, mendayagunakan berbagai sumber dan potensi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, serta meningkatkan akses klien terhadap pelayanan sosial dasar, lapangan kerja, dan fasilitas pelayanan publik lainnya dalam usaha memecahkan masalah serta mendorong tumbuhnya inisiatif dalam proses pengambilan keputusan, sehingga kemandirian klien secara berkelanjutan dapat diwujudkan. Pekerja sosial adalah sebagai orang yang memiliki kewenangan keahlian dalammenyelenggarakan berbagai pelayanan sosial (Budhi Wibhawa, 2010:52). Pekerja sosial adalah seseorang yang mempunyai kompetensi profesional dalam pekerjaan sosial yang diperolehnya melalui pendidikan formal atau pengalaman praktek di bidang pekerjaan sosial/kesejahteraan sosial yang diakui secara resmi oleh pemerintah dan melaksanakan tugas profesional pekerjaan sosial (Kepmensos No. 10/HUK/2007).

Dapat dirumuskan bahwa pekerja sosial merupakan seseorang yang mempunyai kompetensi dalam menyelenggarakan berbagai pelayanan sosial baik di instansi pemerintah maupun di instansi swasta lainnya.Berdasarkan pengertian tentang pendampingan dan pekerja sosial, sehingga dapat diartikan bahwa pendampingan pekerja sosial terhadap klien adalah proses relasi sosial antara pekerja sosial yang memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan berbagai pelayanan sosial baik di instansi pemerintah maupun di instansi swasta lainnya dengan klien dalam bentuk memperkuat dukungan, mendayagunakan berbagai sumber dan potensi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, serta meningkatkan akses klien terhadap pelayanan sosial dasar, lapangan kerja, dan fasilitas pelayanan publik lainnya dalam usaha memecahkan masalah serta mendorong tumbuhnya inisiatif dalam proses pengambilan keputusan, sehingga kemandirian klien secara berkelanjutan dapat diwujudkan

2.2.3. Program Pendampingan Yang Dilakukan Oleh P3M

Di dalam melakukan pendampingan P3M membentuk beberapa program terpadu yang bertujuan memfasilitasi dan membantu kebutuhan dan masalah- masalah yang di hadapi para PSK. P3M memandang bahwa kehadiran para PSK bukanlah hasil pilihan pribadi ataupun berkaitan dengan moral seseorang, namun keberadaan perempuan pada dunia prostitusi merupakan korban dari industri seks yang membutuhkan tubuh perempuan sebagai barang yang di perdagangkan.

Adapun beberapa program pendampingan yang dilakukan oleh P3M adalah : a. Outrech Kondom

Kegiatan penyuluhan atau sosialisasi kelompok yang di berikan kepada para PSK dengan target memberikan pengetahuan seberapa pentingnya penggunaan kondom dalam berhubungan seks dan mereka diberitahu resiko apabila mereka tidak menggunakan kondom. Penyuluhan ini dilakukan bertujuan untuk menekan jumlah PSK yang terkena virus HIV AIDS dan penyakit menular lain seperti IMS.

b. Pelayanan Klinik VCT ( Voluntary Counseling and Testing )

VCT berintregrasi dengan pelayanan kesehatan dan mempunyai hubungan dengan pelayanan perawatan dan dukungan lain. Pelayanan mandiri dikelola oleh P3M dan menjadikan VCT sebagai kegiatannya utamanya. Keberhasilan pelayanan didukung oleh publikasi, pemahaman masyarakat akan VCT, mobile VCT, dan upaya untuk mengurangi stigma berkaitan dengan HIV. VCT terintegrasi pada pelayanan kesehatan (Infeksi Menular Seksual, Terapi Tuberkulosa, pelayanan kesehatan masyarakat, dan rumah sakit). Pelayanan VCT dapat terintegrasi pada pelayanan kesehatan yang telah ada. Dalam pendekatan ini, P3M mengintregasikan layanan pada program IMS, TB, Puskesmas dan rumah sakit. VCT yang terrintegrasi pada

pelayanan penjangkauan lapangan atau program BCI (BCC- Seksual & HR Program) Bagi mereka yang sudah mendapatkan program BCI atau terjangkau oleh program lapangan dipromosikan untuk mengikuti pelayanan VCT. Salah satu variasi pendekatan ini adalah konselor bekerjasama dengan petugas lapangan untuk membantu kelompok memperoleh akses lebih dekat.

c. Pemberian Pelatihan Keterampilan

Secara umum pelatihan merupakan bagian dari pendidikan yang menggmabarkan suatu proses dalam pengembangan organisasi maupun masyarakat. Pendidikan dengan pelatihan merupakan suatu rangkaian yang tak dapat dipisahkan dalam sistem pengembangan sumberdaya manusia, yang di dalamnya terjadi proses perencanaan, penempatan, dan pengembangan tenaga manusia. Dalam proses pengembangannya diupayakan agar sumber daya manusia dapat diberdayakan secara maksimal, sehingga apa yang menjadi tujuan dalam memenuhikebutuhan hidup manusia tersebut dapat terpenuhi. Program pelatihan yag di laksanakan oleh P3M adalah keterampilan menjahit dan bordir. Hal ini sangat bermanfaat mengingat kebutuhan mereka yang cukup besar.

d. Konseling Trauma Seksual CBT

Konseling trauma seksual adalah jenis kegiatan dalam upaya membantu para PSK melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan klein agar klein dapat memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya.

2.3. Seks

Istilah “seks” secara etimologis, berasal dari bahasa Latin “sexus” kemudian diturunkan menjadi bahasa Perancis Kuno “sexe”. Istilah ini merupakan teks bahasa Inggris pertengahan yang bisa dilacak pada periode 1150-1500 M. “Seks” secara leksikal bisa berkedudukan sebagai kata benda (noun), kata sifat (adjective), maupun kata kerja transitif (verb of transitive). Secara terminologis seks adalah nafsu syahwat, yaitu suatu kekuatan pendorong hidup yang biasanya disebut dengan insting/ naluri yang dimiliki oleh setiap manusia, baik dimiliki laki-laki maupun perempuan yang mempertemukan mereka guna meneruskan kelanjutan keturunan manusia.

Pengertian seks yang lebih luas lagi adalah yang dikemukakan oleh Wirawan (1991 : 10) yang mendefinisikan seks dalam dua segi, yaitu :

1. Seks dalam arti sempit

Dalam arti yang sempit, seks berarti kelamin dan yang termasuk adalah kelamin : a. Alat kelamin itu sendiri

b. Anggota-anggota tubuh dan ciri-ciri badaniah lainnya yang membedakan antara laki-laki dan wanita, misalnya : perbedaan suara, pertumbuhan kumis, payudara dan lain-lain.

c. Kelenjar dan hormon-hormon dalam tubuh yang mempengaruhi bekerjanya alat kelamin.

d. Hubungan kelamin (senggama dan percumbuan). e. Proses pembuahan, kehamilan dan kelahiran. 2. Seks dalam arti luas

Dalam arti yang luas seks berarti segala hal yang terjadi sebagai akibat dari adanya perbedaan jenis kelamin, antara lain :

a. Perbedaan tingkah laku: lembut, kasar dan genit. b. Perbedaan atribut : pakaian, nama dan lain-lain. c. Perbedaan peran dan pekerjaan.

d. Hubungan antara pria dan wanita : tata krama, pergaulan, percintaan, pacaran, perkawinan dan lain-lain.

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis.

Ada beberapa tipe hubungan seksual yang dapat terjadi antara dua orang yang bersahabat yaitu :

a. Tipe hubungan seks yang dapat terjadi antara seorang pria dengan pria lain (homoseksual);

b. Tipe hubungan seks yang dapat terjadi antara seorang wanita dengan wanita lain (lesbian);

c. Tipe hubungan seks seorang pria dengan seorang wanita. Menurut Reuben (Wirawan, 1991:13) seks mempunyai fungsi :

a. Seks untuk tujuan reproduksi, yaitu untuk memperoleh keturunan, oleh kerena itu sebagian orang beranggapan bahwa seks adalah sesuatu yang suci, sesuatu yang tabu dan tidak patut dibicarakan secara terbuka;

b. Seks untuk pernyataan cinta, yaitu seks yang dilakukan berlandaskan cinta dan didukung oleh ikatan cinta;

c. Seks untuk kesenangan yaitu hubungan seks dengan menghayati hubungan yang lama dan mampu mengalami kenikmatan tanpa merugikan salah satu pihak.

Menurut Surtiretna (2001:2), pengertian seks bisa ditinjau dari 5 aspek antara lain : a. Seks ditinjau dari segi biologis

Bagaimana remaja tersebut memahami tentang seks itu sendiri yang mana karakteristik kelamin primer yang menunjuk pada organ tubuh yang langsung berhubungan dengan alat persetubuhan dan proses repruduksi. Perbedaan organ repruduksi juga termasuk dalam segi biologis yang sejak kecil sudah tertanam dalam diri anak.

b. Seks ditinjau dari segi Psikologis

Kematangan sangat nampak dalam bidang perilaku seksual. Hal ini disebabkan karena penyesuaian diri sikap bermusuhan dengan lawan yang merupakan ciri dari akhir masa kanak-kanak dan masa puber, menjadi sikap menaruh minat dan mengembangkan kasih sayang kepada mereka merupakan penyesuaian yang radikal. Remaja yang tidak berkencan karena mereka kurang menarik bagi lawan jenis atau karena mereka masih meneruskan perasaan tidak senang pada lawan jenis, dianggap tidak matang oleh teman-teman sebaya, keadaan ini menyebabkan terputusnya hubungan sosial remaja dengan teman-teman yang sikap dan perilaku terhadap lawan jenis sudah menjadi lebih matang. Menolak peran seks yang diakui dan terus-menerus memikirkan masalah seks, kehamilan sebelum menikah dan pernikahan sebelum remaja dapat mencari nafkah, juga dianggap sebagai tanda-tanda ketidakmatangan. Menolak peran seks yang diakui, terlebih bagi gadis-gadis, dianggap sebagai salah satu ketidakmatangan yang paling berbahaya dibidang ini karena dapat merupakan sumber kesulitan dalam perkawinan.

c. Seks ditinjau dari segi Agama

Dalam agama Islam, pendidikan seks tidak dapat dipisahkan dari agama dan bahkan harus sepenuhnya dibangun diatas landasan agama. Dengan mengajarkan pendidikan seks yang demikian, diharapkan dapat terbentuk individu remaja yang menjadi manusia dewasa dan bertanggung jawab, baik pria maupun wanita sehingga

mereka mampu berperilaku sesuai dengan jenisnya dan bertanggungjawab atas kesesuaian dirinya serta dapat menyesuaiakan diri dengan lingkungan sekitarnya, strata sosial ekonomi akan berpengaruh pada tingkat pendidikan dan hubungan sosial seseorang dengan orang lain, sehingga fungsi-fungsi pengenalan ingatan, khayalan dan daya fikir individu yang semua itu akan mempengaruhi terhadap informasi, kemajuan teknologi sangat besar perananya, sehingga jelas bahwa orang yang hidup dikota akan berbeda kebutuhannya dengan orang yang hidup didesa. Dengan kata lain bahwa lingkungan mempengaruhi kebutuhan manusia baik materi maupun non materi. Perbuatan seseorang adalah cerminan dari pemenuhan kebutahan orang tersebut. Dengan demikian iman yang ada pada hati nurani dan perasaan takut pada tuhan mempunyai peranan yang penting terhadap kebutuhan manusia dan itu semua sudah dibatasi dalam hukum agama.

d. Seks ditinjau dari Sosial

Bernstein (dalam Hurlock, 2004:129) menjelaskan bahwa seksisme (pemahaman seks) dimulai dari kegiatan di taman kanak-kanak dimana gadis-gadis kecil diarahkan bermain dengan boneka dan diluar kegiatan rekreasi antara anak laki-laki dan perem puan sangat dibedakan misalnya, anak laki-laki-laki-laki diberi bola dan alat pemukulnya, sedangkan anak perempuan bermain lompat tali, perantara penting yang mampu memberikan pendidikan pendidikan atau peran seks diri anak adalah media massa, buku cerita, pertunjukkan TV yang dilihat dan semua yang mengerahkan pada penggolongan peran seks. Pendidikan seks saat ini harus mengantisipasi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara pada satu atau dua dekade mendatang agar subjek atau peserta didik dapat mengambil peran yang tepat dalam kehidupan. Pendidikan sebagai investasi kemanusian jangka panjang (long range human investment) harus memberi

kemungkinan suksesnya kehidupan manusia pada masa yang akan datang. Berbagai kemajuan teknologi, penyebaran informasi melalui media cetak dan elektronik, termasuk didalamnya terdapat informasi tentang seks, menantang para pendidik dimanapun ia berada untuk berpartisipasi secara aktif dan benar menyiapkan anak bangsa membangun masa depan yang baik, mapun menyangkal berbagai informasi yang justru mampu merusak masa depan.

e. Seks ditinjau dari segi Hukum

Kesopanan pada umumnya mengenai adat kebiasaan yang baik dalam hubungan antara berbagai anggota masyarakat, sedangkan kesusilaan mengenai juga adat kebiasaan yang baik itu, tetapi yang khusus ini sedikit banyak mengenai kelamin (seks) seorang manusia yang sudah tercantum dalam KUHP. Menurut Oemar Seno Adji dalam karangannya pada majalah “Hukum dalam Masyarakat” Tahun 1965 Nomor 3,4,5,6 dan tahun 1966 Nomor 1,2,3 menggunakan istilah delict susila.

Beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa seks adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang mempunyai peranan masing-masing dalam kehidupannya.

2.4. Pekerja Seks Komersial 2.4.1.Pengertian PSK

Pelacur adalah orang yang melacur di dunia pelacuran. Pemaknaan terhadap isitilah pelacur akan menciptakan bingkai pemahaman atau pandangan dunia tentang pelacuran yang akan mengejawantahkan dalan sikap dan perilaku menerima atau menolak. Dalam Kamus

Besar Bahasa Indonesia istilah pelacur berkata dasar “lacur” yang berarti malang, celaka, gagal, sial, buruk. Selain pelacur, istilah lain untuk menyebut para penjaja daging mentah itu adalah sundel, yang berarti perempuan jalang, liar, nakal, pelanggar norma susila. Disamping itu kata lain yang sinonim dengan kata pelacur adalah lonte yang semakna dengan sundel. Dengan melihat perkembangan istilah-istilah tersebut, semakin bisa di pahami bahwa bahasa sebenarnya milik masyarakat. Perluasan dan penyempitan pemahaman sebuah bahasa selalu berkembang secara arbitrer seiring dengan perkembangan masyarakat. Seperti akhir-akhir ini, istilah pelacur menemukan istilah barunya, yakni “Pekerja Seks Komersial (PSK)” sebagaimana kerap dipakai oleh pakar,praktisi,dan pejabat sebagaiman contoh diatas.

PSK adalah para pekerja yang bertugas melayani aktivitas seksual dengan tujuan untuk mendapatkan upah atau imbalan dari yang telah memakai jasa mereka tersebut (Koentjoro, 2004:26). Di beberapa negara istilah prostitusi dianggap mengandung pengertian yang negatif. Di Indonesia, para pelakunya diberi sebutan PSK. Ini artinya bahwa para perempuan itu adalah orang yang tidak bermoral karena melakukan suatu pekerjaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kesusilaan yang berlaku. PSK adalah sebagai seseorang yang memperjualbelikan tubuh, kehormatan dan kepribadian kepada bayak orang untuk memuaskan nafsu-nafsu dengan memperoleh imbalan pembayaran.

2.4.2.Sejarah PSK

Pelacuran merupakan profesi yang sangat tua usianya, setua umur kehidupan manusia itu sendiri. Pelacuran selalu ada sejak zaman purba sampai sekarang. Pada masa lalu pelacuran selalu dihubungkan dengan penyembahan dewa-dewa dan upacara-upacara keagamaan tertentu. Ada praktek-praktek keagamaan yang menjurus pada perbuatan dosa dan tingkah laku cabul yang tidak ada bedanya dengan kegiatan pelacuran. Pada zaman kerajaan Mesir Kuno, Phunjsia, Assiria, Chalddea, Ganaan dan di Persia, penghormatan terhadap

dewa-dewaIsis, Moloch, Baal, Astrate, Mylitta, Bacchus dan dewa-dewalain disertai orgie-orgie. Orgie (orgia) adalah pesta kurban untuk para dewa, khususnya pada dewa Bachus yang terdiri atas upacara kebaktian penuh rahasia dan bersifat sangat misterius disertai pesta-pesta makan dengan rakus dan mabuk secara berlebihan. Orang-orang tersebut juga menggunakan obat-obat pembangkit dan perangsang nafsu seks untuk melampiaskan hasrat berhubungan seksual secara terbuka. Sehubungan dengan itu, kuil-kuil pada umunya dijadikan pusat perbuatan cabul.

Menurut Hull (1997:145)menyatakan bahwa adanya perkembangan pelacuran di Indonesia dari masa ke masa yang dimulai dari masa kerajaan-kerajaan di Jawa, masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, dan setelah kemerdekaan. Pada masa kerajaan di Jawa, perdagangan wanita yang kemudian akan dimasukan dalam dunia pelacuran terkait dengan sebuah sistem pemerintahan yang feodal. Bentuk pelacuran ini disebabkan oleh konsep kekuasaan raja yang bersifat agung, mulia dan tak terbatas, sehingga mendapatkan banyak selir. Muncul pula anggapan bahwa, semakin banyak selir yang dimiliki raja maka semakin kuat pula posisi raja di mata masyarakat. Sistem feodal tidak sepenuhnya menunjukkan keberadaan komersialisasi industri seks seperti masyarakat modern ini, meskipun apa yang dilakukan pada masa itu dapat membentuk landasan bagi perkembangan industri seks yang sekarang.

Setelah masa kerajaan, pelacuran muncul kembali dengan wajah yang berbeda dalam masa penjajahan Belanda. Pada periode penjajahan Belanda, bentuk pelacuran lebih terorganisir dan berkembang pesat. Didasarkan pada pemenuhan kebutuhan pemuasaan seks masyarakat Eropa yang ada di Indonesia, dengan melalui adanya selir-selir. Juga adanya dasar alasan lain mengapa pelacuran lebih terorganisir dan berkembang pesat, yaitu sistem perbudakan tradisional. Contohnya dalam pertumbuhan industri seks di pulau Jawa dan

Sumatera, berkembang seiring pendirian perkebunan-perkebunan. Para pekerja perkebunan dengan mayoritas laki-laki akan menciptakan permintaan aktivitas prostitusi.

Komersialisasi seks di Indonesia terus berkembang, selama pendudukan Jepang (antara tahun 1941-1945), semua perempuan yang dijadikan budak sebagai wanita penghibur dikumpulkan dan dijadikan satu dalam rumah-rumah bordir. Bukan hanya wanita yang

Dokumen terkait