BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Proses Pendampingan
2.2.1. Pengertian Proses Pendampingan
Proses adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami atau didesain,dapat menggunakan waktu, ruang, keahlian atau sumber daya lainnya, yang menghasilkan suatu hasil. Suatu proses mungkin dikenali oleh perubahan yang diciptakan terhadap sifat-sifat dari satu atau lebih objek yang dibawah pengaruhnya, serta adanya perubahan berdasarkan mengalirnya waktu dan kegiatan yang saling berkaitan (sumber http//id.wikipedia.org/wiki/proses, diakses tanggal 23 April 2014 pukul 19.00 WIB).
Pendampingan adalah suatu proses pemberian kemudahan (fasilitas) yang diberikan pendamping kepada klein dalam mengidentifikasikan kebutuhan dan pemecahan masalah serta mendorong tumbuhnya inisiatif dalam proses pengambilan keputusan, sehingga kemandirian klein secara berkelanjutan dapat diwujudkan (sumber
http//hukum.ud.ac.id/wp-content/uploads/2014/08/jurnal-lalu-Muhammad-wahyu-pdf, diakses tanggal 23 april 2014 pukul 19.30 WIB).
Jadi, Proses Pendampingan adalah urutan pelaksanaan atau kejadian secara alami atau didesain, dapat menggunakan waktu, ruang, keahlian atau sumber daya lainnya yang menghasilkan suatu hasil untuk mempermudah memberikan fasilitas dan dapat memecahkan masalahnya dan kemandirian PSK atau klein secara berkelanjutan dapat terwujud.
Secara umum Prinsip- prinsip dari dampingan itu sendiri adalah a. Prinsip Manusiawi
Perempuan adalah manusia yang memiliki hak azasi manusia yang sama tanpa ada diskriminasi dari pihak manapun. Khususnya PSK, karena mereka hanya korban dari sistem ekonomi dan kekerasan seksual yang di alaminya di ruang publik ataupun di kelompok terkecil yaitu keluarga.
b. Prinsip yang Mengutamakan Kepentingan terbaik terhadap PSK
Berdasarkan Konvensi Komnas Perlindungan tentang perempuan khususnya PSK dampingannya berpatokan kepada terhadap kepentingan yang terbaik untuk perempuan tersebut.
c. Prinsip Non-Diskriminasi
Dalam pendampingan yang dilakukan lembaga yang bergerak pada isu perempuan tidak boleh memandang ras, bahasa, agama, pandangan politik, keturunan sosial, harta, tempat tinggal dan lain sebagainya.
d. Prinsip efektivitas dan efesiensi
Proses pendampingan harus di lakukan secara profesional dan harus tepat sasaran.
Pendampingan dapat diartikan sebagai proses relasi sosial antara pendamping dan klien dalam bentuk memperkuat dukungan, mendayagunakan berbagai sumber dan potensi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, serta meningkatkan akses klien terhadap pelayanan sosial dasar, lapangan kerja, dan fasilitas pelayanan publik lainnya dalam usaha memecahkan masalah serta mendorong tumbuhnya inisiatif dalam proses pengambilan keputusan, sehingga kemandirian klien secara berkelanjutan dapat diwujudkan. Pekerja sosial adalah sebagai orang yang memiliki kewenangan keahlian dalammenyelenggarakan berbagai pelayanan sosial (Budhi Wibhawa, 2010:52). Pekerja sosial adalah seseorang yang mempunyai kompetensi profesional dalam pekerjaan sosial yang diperolehnya melalui pendidikan formal atau pengalaman praktek di bidang pekerjaan sosial/kesejahteraan sosial yang diakui secara resmi oleh pemerintah dan melaksanakan tugas profesional pekerjaan sosial (Kepmensos No. 10/HUK/2007).
Dapat dirumuskan bahwa pekerja sosial merupakan seseorang yang mempunyai kompetensi dalam menyelenggarakan berbagai pelayanan sosial baik di instansi pemerintah maupun di instansi swasta lainnya.Berdasarkan pengertian tentang pendampingan dan pekerja sosial, sehingga dapat diartikan bahwa pendampingan pekerja sosial terhadap klien adalah proses relasi sosial antara pekerja sosial yang memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan berbagai pelayanan sosial baik di instansi pemerintah maupun di instansi swasta lainnya dengan klien dalam bentuk memperkuat dukungan, mendayagunakan berbagai sumber dan potensi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, serta meningkatkan akses klien terhadap pelayanan sosial dasar, lapangan kerja, dan fasilitas pelayanan publik lainnya dalam usaha memecahkan masalah serta mendorong tumbuhnya inisiatif dalam proses pengambilan keputusan, sehingga kemandirian klien secara berkelanjutan dapat diwujudkan
2.2.3. Program Pendampingan Yang Dilakukan Oleh P3M
Di dalam melakukan pendampingan P3M membentuk beberapa program terpadu yang bertujuan memfasilitasi dan membantu kebutuhan dan masalah- masalah yang di hadapi para PSK. P3M memandang bahwa kehadiran para PSK bukanlah hasil pilihan pribadi ataupun berkaitan dengan moral seseorang, namun keberadaan perempuan pada dunia prostitusi merupakan korban dari industri seks yang membutuhkan tubuh perempuan sebagai barang yang di perdagangkan.
Adapun beberapa program pendampingan yang dilakukan oleh P3M adalah : a. Outrech Kondom
Kegiatan penyuluhan atau sosialisasi kelompok yang di berikan kepada para PSK dengan target memberikan pengetahuan seberapa pentingnya penggunaan kondom dalam berhubungan seks dan mereka diberitahu resiko apabila mereka tidak menggunakan kondom. Penyuluhan ini dilakukan bertujuan untuk menekan jumlah PSK yang terkena virus HIV AIDS dan penyakit menular lain seperti IMS.
b. Pelayanan Klinik VCT ( Voluntary Counseling and Testing )
VCT berintregrasi dengan pelayanan kesehatan dan mempunyai hubungan dengan pelayanan perawatan dan dukungan lain. Pelayanan mandiri dikelola oleh P3M dan menjadikan VCT sebagai kegiatannya utamanya. Keberhasilan pelayanan didukung oleh publikasi, pemahaman masyarakat akan VCT, mobile VCT, dan upaya untuk mengurangi stigma berkaitan dengan HIV. VCT terintegrasi pada pelayanan kesehatan (Infeksi Menular Seksual, Terapi Tuberkulosa, pelayanan kesehatan masyarakat, dan rumah sakit). Pelayanan VCT dapat terintegrasi pada pelayanan kesehatan yang telah ada. Dalam pendekatan ini, P3M mengintregasikan layanan pada program IMS, TB, Puskesmas dan rumah sakit. VCT yang terrintegrasi pada
pelayanan penjangkauan lapangan atau program BCI (BCC- Seksual & HR Program) Bagi mereka yang sudah mendapatkan program BCI atau terjangkau oleh program lapangan dipromosikan untuk mengikuti pelayanan VCT. Salah satu variasi pendekatan ini adalah konselor bekerjasama dengan petugas lapangan untuk membantu kelompok memperoleh akses lebih dekat.
c. Pemberian Pelatihan Keterampilan
Secara umum pelatihan merupakan bagian dari pendidikan yang menggmabarkan suatu proses dalam pengembangan organisasi maupun masyarakat. Pendidikan dengan pelatihan merupakan suatu rangkaian yang tak dapat dipisahkan dalam sistem pengembangan sumberdaya manusia, yang di dalamnya terjadi proses perencanaan, penempatan, dan pengembangan tenaga manusia. Dalam proses pengembangannya diupayakan agar sumber daya manusia dapat diberdayakan secara maksimal, sehingga apa yang menjadi tujuan dalam memenuhikebutuhan hidup manusia tersebut dapat terpenuhi. Program pelatihan yag di laksanakan oleh P3M adalah keterampilan menjahit dan bordir. Hal ini sangat bermanfaat mengingat kebutuhan mereka yang cukup besar.
d. Konseling Trauma Seksual CBT
Konseling trauma seksual adalah jenis kegiatan dalam upaya membantu para PSK melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan klein agar klein dapat memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya.