• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 4 Mekanisme Penyaluran dan Pencairan Dana PMU Bongkar Ratoon

Penyaluran dan Pencairan Dana Pembongkaran Eks Tanaman Tebu Ratoon

Mekanisme penyaluran dan pencairan dana pembongkaran eks tanaman tebu ratoon diawali dengan koperasi menyusun Rencana Usaha Kegiatan (RUK) dan disahkan/ditandatangani ketua koperasi, dua pengurus koperasi lainnya, dua orang wakil petani, Kepala Bagian tanaman Pabrik Gula dan Pelaksana Proyek di Kabupaten. Kemudian Ketua Koperasi menyampaikan RUK dengan dilampiri nama-nama anggota kepada Ketua Tim Teknis Kabupaten. Selanjutnya Ketua Tim Teknis Kabupaten menyiapkan usulan sesuai rekapitulasi RUK. Pabrik Gula melaksanakan verifikasi terhadap rekapitulasi RUK yang disampaikan Ketua Tim Teknis Kabupaten. Ketua KPTR membuka rekening tabungan khusus untuk PMUK tebu pada Kantor Cabang BRI atau bank-bank lain terdekat, bersama dengan Pabrik Gula dan Pelaksana Proyek kabupaten/Kota, dan memberitahukan kepada Pemimpin Proyek. Ketua Tim Teknis Kabupaten megusulkan RUK kepada Pemimpin Proyek Pengembangan Tebu Jawa Timur setelah diverifikasi oleh Pabrik Gula. Pemimpin Proyek meneliti usulan kegiatan yang akan dibiayai, selanjutnya membuat dan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS) kepada KPKN dengan melampirkan Surat Keputusan (SK) Kepala Dinas Perkebunan atau yang membidangi perkebunan tentang penetapan petani/KPTR sasaran, Surat Perjanjian kerja sama antara Pemimpin Proyek

Pengembangan Tebu Jawa Timur dengan Koperasi dan Rekapitulasi RUK dengan mencantumkan nama Koperasi, alamat Koperasi, nama Ketua Koperasi, nomor rekening (a.n. Ketua Koperasi), nama Kantor Cabang Bank/Unit BRI atau bank lain yang terdekat, nomor SK Perjanjian (MOU), SK Penetapan Koperasi serta jumlah Dana dan Kegiatan. Kuitansi harus ditandatangani oleh Ketua Koperasi dan diketahui Ketua Tim Teknis Kabupaten. Atas dasar SPP-LS dari proyek, KPKN menerbitkan SPM-LS untuk pemindahbukuan dana ke rekening masing- masing ketua Koperasi pada Kantor Cabang/BRI unit atau bank lainnya.

Setelah tata cara pencairan tersebut di atas dipenuhi maka pencairan dana pada kantor cabang bank yang dikehendaki dilakukan dengan Ketua Koperasi mengajukan pemintaan penarikan dana kepada bank yang disetujui oleh ketua Tim Teknis Kabupaten dan Pabrik Gula. Kemudian jumlah dana yang diarik sesuai dengan kebutuhan dan jadwal penggunaannya. Selanjutnya Ketua Tim Teknis kabupaten dan Pabrik Gula betanggung jawab atas pencairan dana dari bank dan peruntukannya.

Pelaksanaan Pembongkaran Eks Tanaman Tebu Ratoon

Pada dasarnya pelaksanaan kegiatan adalah membongkar eks tanaman

tebu giling (ratoon), yng diikuti dengan perbaikan irigasi (saluran air, got) untuk

menjamin ketersediaan air dan pembuangan air, dan bantuan sarana produksi dalam rangka meningkatkan produktivitas tebu giling sekaligus meningkatkan produksi gula.

Konsepsi Penggantian Varietas

Sebelum pelaksanaan pembongkaran ratoon berlangsung, maka pemilihan varietas unggil baru mutlak dilakukan. Mengacu pada tujuan dan sasarannya, pembongkaran ratoon menjadi kurang berarti apabila tidak dilandasi konsepsi pemilihan varietas dan penggunaan bahan tanaman yang benar. Pembongkaran ratoon yang disarankan diestimasi tiga sampai empat kepras per siklus tanaman. Konsekuensi kekeliruan dalam pemilihan varietas, maka

pengelolaan siklus tanaman yang diharapkan tersebut tidak akan tercapai, maka pembongkaran ulang dapat menyebabkan kerugian waktu dan biaya.

Konsep dalam pemilihan varietas harus dilandaskan pada pertimbangan terhadap penggunaan varietas unggul baru yang telah beradaptasi dengan lingkungan secara baik dan pertimbangan katagori tanaman terhadap sifat kemasakan, masa tanam dan perencanaan tebang secara optimal.

Pembahasan Penggunaan Varietas Baru

Hasil pengamatan di lapangan terhadap penggunaan bibit varietas baru yaitu PS 851, PS 864 dan BL serta varietas lama yaitu PS 58 pada jumlah batang berdasarkan hasil taksasi maret di kebun TRIS di Wilayah Diwek, menunjukkan bahwa jumlah batang pada varietas baru lebih tinggi dibandingkan varietas lama. Meskipun hasil uji menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 10 %.

Tabel 13 Jumlah batang per juring pada Empat Varietas Tebu.

Varietas Jumlah Batang

Var. baru : PS 851 66,14

PS 864 65,43

BL 64,00

Var. lama : PS 58 61,00

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Pengujian untuk peubah tinggi batang, bobot batang per meter dan rendemen dilakukan dalam tiga periode pengamatan mulai tanaman berumur + 10 BST pada lahan TRIS, satu periode selama 15 hari. Hasil pengujian terhadap tinggi batang untuk keempat varietas, menunjukkan bahwa varietas PS 851 dan PS 58 berbeda nyata pada periode pertama. Pada periode ketiga menunjukkan tinggi batang PS 851 lebih tinggi dari pada PS 58, meskipun hasil uji pada taraf 10% tidak berbeda nyata.

Tabel 14 Tinggi Batang pada Empat Varietas Tebu Periode Pengamatan Varietas I II III Var. baru : PS 851 2.26 b 2.54 b 2.70 a PS 864 2.40 b 2.65 a 2.68 a BL 2.13 a 2.65 a 2.68 a Var. lama : PS 58 2.04 a 2.63 a 2.65 a

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Pada hasil pengujian terhadap bobot tanaman, meskipun pada uji BNJ tidak berbeda nyata, PS 864 menunjukkan bobot yang lebih tinggi dibandingkan varietas yang lain. Hal ini disebabkan oleh ukuran dan kandungan serat varietas ini cukup tinggi. PS 58 menunjukkan bobot terendah dari varietas lain pada periode ketiga, hal ini disebabkan oleh ukuran batangnya yang relatif kecil karena termasuk varietas lama yang sudah banyak mengalami penurunan mutu bibit akibat penangkaran berulang-ulang.

Tabel 15 Bobot Batang Per Meter pada Empat Varietas

Periode Pengamatan Varietas I II III Var. baru : PS 851 0.40 0.42 0.45 PS 864 0.41 0.42 0.46 BL 0.40 0.42 0.45 Var. lama : PS 58 0.40 0.42 0.44

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Peubah rendemen menunjukkan bahwa ketiga varietas baru berbeda nyata dengan varietas lama PS 58 pada ketiga periode. Pada tabel 12 dapat dilihat bahwa varietas baru mempunyai rendemen gula lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lama dan randemen tertinggi dihasilkan oleh varietas PS 864. Hal ini bisa terjadi karena pada varietas lama tidak lagi dikembangkan sehingga penangkaran

yang terjadi biasanya dikelola petani dan kurang diperhatikan kultur teknisnya. Akibatnya terjadi ketidaknormalan dalam duplikasi sel.

Tabel 16 Rendemen pada Empat Varietas

Periode Pengamatan Varietas I II III Var. baru : PS 851 4.58 b 5.62 b 5.88 b PS 864 4.87 b 5.75 b 6.10 b BL 4.76 b 5.72 b 5.99 b Var. lama : PS 58 4.37 a 5.08 a 5.66 a Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Teknik Pelaksanaan Bongkar Ratoon

Pembongkaran ratoon dikatakan telah dilakukan dengan baik dan benar apabila tercipta lingkungan tumbuh di daerah perakaran yang lebih baik dengan kondisi tanahyang lebih gembur, porositas total tanah yang lebih tinggi sehingga melancarkan aerasi dan drainase tanah dan meningkatkan ketersediaan hara yang lebih menguntungkan pertumbuhan tanaman, dongkelan tunggul asal tanaman ratoon yang telah dibongkar dikeluarkan dari petak kebun sehingga kebun bersih dari pertunasan ratoon yang dapat menyebabkan percmpuran varietas, bahan tanam menggunakan varuetas unggul dari sumber bibit yang baik dan segar.

Pembongkaran ratoon. Teknis pelaksanaan pembongkaran ratoon dibedakan pada tipe pengolahan lahan, yaitu dilakukan secara manual/tenaga orang dan tenaga mekanis. Standar bongkaran ratoon kedua cara tersebut sebagai berikut :

a. Manual atau Tenaga Orang

Kegiatan dimulai dari trash dan kotoran bahan organik lainnya

dikumpulkan pada satu tempat, kemudian dibakar. Untuk memudahkan pembongkaran unggul, petak kebun diairi sampai kondisi lengas tanah jenuh, kemudian guludan eks ratoon dicangkul, tunggul dibongkar dan didongkel, dikeluarkan dari petak kebun bersamaan dengan batang tebu sisa tebangan,

selanjutnya guludan diratakan dengan permukaan tanah waras. Got yang ada dipelihara sesuai kondisinya. Apabila got lama eks ratoon sudah dalam bentuk kerucut, maka got tersebut perlu ditutup dan dibuatkan got yang baru dari tanah waras di sebelah got yang bersangkutan. Kemudian dibuat juringan dengan ukuran standar baku budidaya PC.

b. Mekanis di Lahan HGU/Lahan Milik PG

Kegiatan dimulai dari trash dan bahan organik lainnya dibakar, krmudian dikeluarkan dari kebun dengan trash raking. Lahan dibajak piring L2 – L3 sebanyak dua kali untuk tanah berat dan satu kali untuk tanah ringan sehingga

dongkelan terbalik. Selanjutnya dilakukan garu berat (heavy harrow) dengan

arah melintang 30 derajat dari arah bajakan. Kemudian dibuat alur

menggunakan furrower. Bila diperlukan, pada tanah berat dan solum dangkal

dilakukan denagn subsoiler-furrower.

c. Cara Mekanis di Lahan Tebu Rakyat

Apabila tidak terdapat trash raking, trash dibersihkan secara manual.

Dengan menggunakan bajak piring 32 inch, dilakukan bajak pertama dengan kecepatan L2, selanjutnya dengan alat yang sama diikuti bajak ke dua dengan kecepatan L3. Pembajakan dilakukan searah alur tanaman ratoon. Dongkelan yang terdapat di permukaan tanah dibersihkan dan dikeluarkan dari peak

kebun. Dibuat alur menggunakan furrower. Bila diperlukan, pada tanah berat

dan solum dangkal dilakukan dengan subsoiler-furrower.

Perbaikan Saluran Air/Got. Diawali dengan pembuatan got keliling di sekeliling bidang lahan dengan dalam 80 cm, lebar 100 cm. Diikuti dengan got mujur yang melintang tegak lurus dengan arah miring lahan, jarak antara got mujur 62,5 cm, dalam 70 cm dan lebar 80 cm. Setelah itu got malang yang searah/sejajar dengan arah kemiringan lahan dengan jarak antara got malang 8 m, dalam 60 cm dan lebar 50 cm.

Perbaikan Juringan/Lubang Tanam/Leng. Juringan harus diperbaiki untuk mencapai lebar juringan 50 cm, lebar guludan 54 cm, dalam juringan 30 cm dan jarak pusat ke pusat (PKP) 104 cm.

Penanaman Kembali. Penanaman kembali eks tebu giling yang telah dibongkar dengan bibit dari pembibitan (KBD) dan varietas anjuran yang unggul dan bermutu.

Tabel 17 Komposisi menurut waktu penanaman kembali yang dianjurkan.

No. Jenis lahan Waktu Tanam Kemasakan Bibit 1. Lahan Sawah Mei (30%) Akhir

Juni (40%) Tengah Juli (30%) Awal

2. Lahan Kering Maret (50%) Akhir (akhir musim hujan) April (50%) Akhir Lahan Kering Oktober (50%) Awal (awal musim hujan) November (50%) Awal Sumber : Juknis Pelak PPTJT/2004

Pemeliharaan. Kegiatan pemeliharaan untuk tanaman eks ratoon meliputi pemupukan, pengaturan kebutuhan air, pengendalian gulma dan perlindungan tanaman.

a. Pemupukan

Pemupukan diarahkan pada pemupukan lengkap dan berimbang. Jenis pupuk yang digunakan adalah ZA, SP – 36, KCl atau ZK pada daerah tembakau. Penggunaan jenis pupuk lain termasuk pupuk organik ataupun pupuk pelengkap cair harus berdasarkan saran dari P3GI dan rekomendasi dari Dinas Perkebunan.

Dosis pemupukan yang digunakan menggunakan pedoman dosis pemupukan pada penyelenggaraan kebun tebu berdasarkan jenis tanah di lahan sawah dan lahan kering/tegal seperti terdapat pada tabel 18.

Tabel 18 Dosis Pemupukan pada Penanaman Tebu

Dosis Pemupukan (Ku/Ha) No. Jenis Tanah

ZA SP-36 KCl I. Lahan Sawah Aluvial 5 – 6 0 – 2 0 – 1 . Regosol 6 – 7 1 – 2 1 – 2 Mediteran 7 – 8 1 – 3 1 – 3 Latosol 6 – 7 1 – 3 1 – 3 Grumusol 7 – 8 2 – 3 1 – 3

II. Lahan Kering

Aluvial 5 – 7 0 – 2 0 – 1 Regosol 6 – 8 1 – 2 1 – 2 Latosol 6 – 8 1 – 3 1 – 3 Grumusol 7 – 9 2 – 3 1 – 3 Mediteran 7 – 9 1 – 3 1 – 2 Podsolik Merah kuning 5 – 7 4 – 6 2 – 4 Sumber : Juknis PPTJT/2004

Waktu pemupukan untuk masing-masing jenis pupuk sesuai dengan baku teknis pemupukan adalah untuk SP – 36 sebagai pupuk dasar diberikan satu hari sebelum tanam dengan dosis penuh. Pemupukan ZA dilakukan dua kali, untuk pemupukan ZA pertama diberikan saat tanaman berumur paling lambat 1 – 7 hari. Pemupukan ZA kedua diberikan saat tanaman berumur 30 – 40 hari atau sebulan setelah pemupukan ZA pertama. Sedangkan pupuk KCl atau ZK diberikan bersamaan dengan waktu pemupukan ZA pertama.

Pupuk diberikan dengan cara menggunakan alat takar yang tepat sesuai dosis. Pupuk SP- 36 disebarkan merata di dasar juringan sedangkan pupuk lainnya ditugal. Pupuk KCl atau ZK diberikan bersama dengan pupuk ZA pertama dengan lubang pupuk yang letaknya berseberangan. Pada pemupukan kedua, ZA diberikan dalam satu lubang yang letaknya berseberangan dengan yang pertama.

b. Pengaturan Kebutuhan Air

Untuk memenuhi kebutuhan air pada tanaman tebu hendaknya dilakukan pengaturan kebutuhan air dan drainase untuk membuang air yang berlebihan.

c. Pembersihan Tebu Jadah

Pada umur dua bulan, apabila setelah tanam PC terdapat pertunasan tebu bekas dongkelan (tebu jadah), maka dilakukan pembersihan tanaman

tersebut dari petak kebun. Membiarkan, memasukkan dan memelihara tebu jadah berada dalam juringan akan mengurangi manfaat dan esensi pembongkaran ratoon.

d. Pengendalian Gulma

Sejak penanaman sampai tanaman berumur empat bulan hendaknya kebun bebas gulma. Pengendalian gulma secara manual dengan menyiang dilakukan tiga sampai empat kali dengan inteval waktu tiga mnggu. Pengendalian gulma secara kimiawi dengan mempergnakan herbisida harus mendapat rekomendasi dari P3GI.

Jadwal Kegiatan Bongkar Ratoon. Kelancaran dan ketertiban operasional kegiatan proyek akan sangat dipengaruhi oleh tertib jadwal pelaksanaan. Untuk itu dalam pelaksanaan kegiatan proyek perlu mendapat perhatian untuk menyesuaikan dengan pedoman/jadwal pelaksanaan kegiatan. Sebagai pedoman hendaknya memperhatikan jadwal pelaksanaan kegiaan bongkar ratoon (barchart).

Produktivitas Tebu pada PC Murni, Bongkar Ratoon dan Keprasan di Kebun TRIS

Jumlah Batang per Juring. Hasil pengujian terhadap peubah jumlah batang per juring menunjukkan berbeda nyata antara PC murni dengan tanaman keprasan. Pada tabel 13 dapat dilihat bahwa tanaman PC murni memiliki jumlah batang tertinggi. Meskipun PC bongkar ratoon juga lebih tinggi dari pada tanaman keprasan,tetapi hasil uji pada taraf 10% menunjukkan PC bongkar ratoon tidak berbeda nyata dengan tanaman keprasan. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan hara pada kebun PC murni yang masih tinggi dan faktor rotasi tanaman dengan tanaman palawija. Sedangkan pada bongkar ratoon, walaupun tanamannya merupakan tanaman pertama, tetapi ditanam pada lahan bekas tebu juga sehingga ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan tebu lebih sedikit dibandingkan lahan bekas palawija atau yang lainnya.

Tabel 19 Jumlah Batang Per Juring pada PC Murni (PCM), Bongkar Ratoon (BKR) dan Keprasan (KPRS) di Lahan TRIS.

Kategori Kebun Jumlah Batang

PCM 62.00 b

BKR 61.57 a

KPRS 59.71 a

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Tinggi Batang. Secara garis besar, rata-rata tinggi batang tertinggi dihasilkan oleh tanaman PC murni, diikuti PC bongkar ratoon dan tinggi batang terendah pada tanaman keprasan. Hal ini juga bisa dilihat bahwa hasil uji menunjukkan berbeda nyata antara tinggi batang tanaman PC murni dan bongkar ratoon terhadap tanaman keprasan pada periode pertama dan ketiga.

Tabel 20 Tinggi Batang pada PC Murni (PCM), Bongkar Ratoon (BKR) dan Keprasan (KPRS) di Lahan TRIS.

Periode Pengamatan Kategori Kebun I II III PCM 2.02 b 2.55 a 2.69 b BKR 2.04 b 2.48 b 2.65 b KPRS 1.89 a 2.56 a 2.55 a Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Bobot Batang per Meter. Hasil pengamatan terhadap bobot batang per meter tanaman, menunjukkan bahwa bobot tanaman keprasan tertinggi dibandingkan tanaman PC murni dan bongkar ratoon, meskipun hasil uji menunjukkan tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan oleh kandungan serat yang lebih tinggi pada batang tanaman keprasan. Tingginya serat tersebut disebabkan pengaruh pertumbhan tunggul yang cenderung di atas permukaan tanah, sehingga sukulensinya kecil.

Tabel 21 Bobot Batang Per meter pada PC Murni (PCM), Bongkar Ratoon (BKR) dan Keprasan (KPRS) di Lahan TRIS.

Periode Pengamatan Kategori Kebun I II III PCM 0.39 0.42 0.44 BKR 0.39 0.42 0.44 KPRS 0.39 0.42 0.45

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Rendemen. Salah satu faktor yang mempebgaruhi produktivitas tanaman adalah rendemen yaitu nilai pol gula per kilogram tebu. Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa tanaman PC murni berbeda nyata terhadap tanaman keprasan, meskipun hasil uji tidak menunjukkan beda nyata antara PC bongkar ratoon dan keprasan, tapi rendemen PC bongkar ratoon rata-rata lebih tinggi dari pada keprasan.Rendemen tertinggi dihasilkan oleh tanaman PC murni. Hal ini disebabkan oleh faktor nutrisi yang didapatkan tanaman PC murni lebih tinggi karena kesediaan unsur haranya juga lebih tinggi. Berbeda dengan PC bongkar ratoon yng menggunakan lahan bekas tanaman tebu, sehingga unsur hara esensial yang tersedia dalam tanah sudah terkuras oleh tanaman tebu sebelumnya.

Tabel 22 Rendemen pada PC Murni (PCM), Bongkar Ratoon (BKR) dan Keprasan (KPRS) di Lahan TRIS.

Periode Pengamatan Kategori Kebun I II III PCM 4.38 b 5.38 b 5.68 b BKR 4.21 a 4.98 a 5.48 a KPRS 4.12 a 5.00 a 5.31 a

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Produktivitas Tebu pada PC Murni, Bongkar Ratoon dan Keprasan di Kebun TRIT

Jumlah Batang per Juring. Jumlah batang per juring pada kebun TRIT tidak sepadat TRIS. Hal ini disebabkan karena pada umumnya lahan tegalan yang

digunakan adalah lahan yang berada pada ketinggian 1200 m dpl sehingga produktivitasnya menurun. Selain itu pada lahan sawah memungkinkan ketebalan solum yang lebih tinggi sehingga kedalaman akarpun lebih dalam. Faktor lain yang menyebabkan perbedaan tersebut adalah sistem pengolahan lahan. Pada lahan tegalan umumnya menggunakan traktor sehingga PKP-nya lebih kecil dan kedalaman antar juring juga kecil memungkinkan pertumbuhan akar yang terbatas.

Hasil pengamatan jumlah batang perjuring menunjukkan bahwa tanaman PC bongkar ratoon berbeda nyata terhadap keprasan. Begitu juga dengan PC murni, berbeda nyata dengan keprasan. Sedangkan rata-rata jumlah batang PC bongkar ratoon lebih padat dibandingkan PC murni dan keprasan. Hal ini bisa terjadi karena faktor perawatan yang dilakukan petani.

Tabel 23 Jumlah Batang Per Juring pada PC Murni (PCM), Bongkar Ratoon (BKR) dan Keprasan (KPRS) di Lahan TRIT.

Kategori Kebun Jumlah Batang

PCM 57.33 b

BKR 58.00 b

KPRS 54.67 a

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Tinggi Batang. Secara garis besar, rata-rata tinggi batang tertinggi dihasilkan oleh tanaman PC murni, diikuti tanaman keprasan dan tinggi batang terendah pada tanaman PC bongkar ratoon. Sedangkan berdasarkan hasil uji pada taraf 10% PC murni menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada periode pertama dan tidak berbeda nyata pada periode ketiga.

Tabel 24 Tinggi Batang pada PC Murni (PCM), Bongkar Ratoon (BKR) dan Keprasan (KPRS) di Lahan TRIT.

Periode Pengamatan Kategori Kebun I II III PCM 2.37 b 2.50 a 2.75 a BKR 2.15 a 2.61 b 2.65 a KPRS 2.06 a 2.46 a 2.73 a

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Bobot Batang per Meter. Hasil pengamatan terhadap bobot batang per meter tanaman, menunjukkan bahwa bobot tanaman pada masing-masing kategori kebun pada periode ketiga memiliki rataan yang sama. Akan tetapi terlihat bahwa perkembangan yang pesat dialami oleh tanaman PC bongkar ratoon, meskipun hasil uji menunjukkan tidak berbeda nyata. Jumlah dan perkembangan yang hampir sama tersebut disebabkan oleh kandungan serat yang tinggi pada batang tanaman keprasan walaupun pada umunya diameter batangnya paling kecil. Tingginya serat tersebut disebabkan pengaruh pertumbhan tunggul yang cenderung di atas permukaan tanah, sehingga sukulensinya kecil.

Tabel 25 Bobot Batang Per meter pada PC Murni (PCM), Bongkar Ratoon (BKR) dan Keprasan (KPRS) di Lahan TRIT.

Periode Pengamatan Kategori Kebun I II III PCM 0.40 0.42 0.45 BKR 0.39 0.43 0.45 KPRS 0.40 0.42 0.45

Keterangan : Angka–angka pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Rendemen. Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa rendemen tertinggi dihasilkan oleh tanaman PC murni, kemudian PC bongkar ratoon dan terendah pada tanaman keprasan. Hal ini disebabkan oleh faktor nutrisi yang didapatkan tanaman PC murni lebih tinggi karena kesediaan unsur haranya juga lebih tinggi. Berbeda dengan PC bongkar ratoon yng menggunakan lahan bekas tanaman tebu, sehingga unsur hara esensial yang tersedia dalam tanah sudah terkuras oleh tanaman tebu sebelumnya.

Tabel 26 Rendemen pada PC Murni (PCM), Bongkar Ratoon (BKR) dan Keprasan (KPRS) di Lahan TRIT.

Periode Pengamatan Kategori Kebun I II III PCM 4.17 b 5.26 b 5.56 b BKR 4.33 b 5.14 a 5.40 a KPRS 3.96 a 4.98 a 5.36 a

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji t

Secara garis besar pengaruh penggantian varietas, produktivitas TRIS dan produktivitas TRIT dapat dilihat pada tabel rekapitulasi berikut.

Tabel 27 Rekapitulasi Hasil Pengamatan di lapang.

Kategori Jumlah Batang Tinggi Batang Bobot Batang/Meter Rendemen TM I II III I II III I II III

Varietas Ps 851 tn * * tn tn tn tn * * * Ps 864 tn * tn tn tn tn tn * * * BL tn tn tn tn tn tn tn * * * Ps 58 tn tn tn tn tn tn tn tn tn tn TRIS PCM * * * * tn tn tn * * * BKR tn * tn * tn tn tn tn tn tn KPRS tn tn * tn tn tn tn tn tn tn TRIT PCM * * tn tn tn tn tn * * * BKR * tn * tn tn tn tn * tn tn KPRS tn tn tn tn tn tn tn tn tn tn Keterangan : TM : taksasi Maret, PCM : PC Murni, BKR : bongkar ratoon, KPRS :

keprasan

* : berbeda nyata pada uji t tn : tidak berbeda nyata

Dokumen terkait