• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hampir setiap hari Saat tertentu Tidak bau

1,02% 22,45% 26,53%

41,84% 6,12% 2,04%

0,00%

20,00%

40,00%

60,00%

80,00%

100,00%

Timbulnya Bau Akibat TPA PC

Rad ≤500 m Rad >500-1000 m

commit to user

90 masyarakat pada radius ≤500 m yang merasakan bau hampir setiap hari menandakan adanya kandungan gas-gas polutan yang disebabkan oleh timbunan sampah TPA Putri Cempo (CH4, H2S, dan NH3).

Menurut Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta Tahun 2017 (pengambilan sampel pada jalan masuk TPA Putri Cempo dan di dalam lokasi TPA Putri Cempo) dan Rekapitulasi Hasil Pemantauan Kualitas Udara Ambien Tahun 2015 dan 2019 (pengambilan sampel pada ruas Jalan Ring Road dan permukiman JL.

Rinjani Selatan, Mojosongo) diperoleh hasil pengukuran parameter kualitas udara sebagai berikut.

Tabel 4.14 Hasil Pemantauan Kualitas Udara di Wilayah Penelitian

No Lokasi Pemantauan

Parameter NO2

(μg/Nm3)

O3

(μg/Nm3)

SO2

(μg/Nm3)

TSP/Debu (μg/Nm3)

BAKU MUTU 316 200 632 230

Radius ≤500 m

1. Lokasi TPA PC 66,45 185,8 <47,9 7,6

2. Jalan masuk TPA PC 49,84 183,4 <47,9 2,5

Radius >500-1000 m

3. Ring Road Mojosongo 43,72 8,77 31,73 0,1

4. JL. Rinjani Selatan,

Mojosongo 8,28 4,32 10,86 0,07

Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2015. 2017. dan 2019

Berdasarkan pada data di atas, diketahui bahwa berdasarkan parameter kadar NO2, O3, SO2 dan debu pada udara, baik pada jalan masuk TPA Putri Cempo, Lokasi TPA Putri Cempo (merepresentasikan wilayah beradius ≤500 m dari TPA Putri Cempo), serta pada Ruas Jalan Ring Road dan permukiman JL. Rinjani Selatan, Mojosongo (merepresentasikan wilayah beradius >500-1000 m dari TPA Putri Cempo), tidak melebihi baku mutu kualitas udara.

Meskipun demikian, dapat terlihat pada Gambar 4.45 di bawah, bahwa hasil pemantauan kualitas udara pada lokasi-lokasi yang semakin dekat dengan TPA Putri Cempo memiliki kadar NO2, O3, SO2 dandebuyang jauh lebihtinggi dari lokasi yang semakin jauh dari TPA.

Hal ini dapat menjadi indikasi adanya dampak aktivitas daur ulang sampah TPA Putri Cempo terhadap penurunan kualitas udara di sekitarnya.

commit to user

digilib.uns.ac.id

91 Gambar 4.45 Peta Kualitas Udara Wilayah Penelitian

Sumber : DLH Kota Surakarta, 2015, 2017, 2019 commit to user

92 Selanjutnya, terkait kondisi vegetasi di wilayah penelitian, berdasarkan observasi lapangan, tidak ditemukan adanya kerusakan vegetasi (tanaman) yang hidup pada wilayah penelitian, baik pada kawasan permukiman beradius ≤500 m dari TPA Putri Cempo maupun permukiman beradius >500 - 1000 m dari TPA Putri Cempo. Kondisi vegetasi pada wilayah penelitian tampak subur, rimbun dan tidak mengalami kekeringan ataupun mati, seperti terlihat pada Gambar 4.46 dan Gambar 4.47 di bawah ini..

Gambar 4.46 Contoh kondisi vegetasi pada radius ≤500 m Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020

Gambar 4.47 Contoh kondisi vegetasi pada radius >500 - 1000 m Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020

Secara garis besar, kondisi lingkungan alami di wilayah penelitian adalah sebagaimana tabel berikut ini :

Tabel 4.15 Kondisi Lingkungan Alami Wilayah Penelitian

Zona radius ≤500 m Zona radius >500 – 1000 m

 Kualitas air dangkal pada zona ini tidak memenuhi standar baku mutu air

 Tidak ditemukan adanya kerusakan vegetasi pada zona ini.

 Mayoritas masyarakat merasakan bau TPA Putri Cempo hampir setiap hari

 Kualitas udara masih sesuai dengan baku mutu kualitas udara, namun, kadar zat-zat pencemar udara lebih tinggi dibandingkan pada zona radius

>500 – 1000 m

 Kualitas air dangkal pada zona ini masih memenuhi standar baku mutu air

 Tidak ditemukan adanya kerusakan vegetasi pada zona ini.

 Sebagian masyarakat tidak merasakan bau TPA Putri Cempo, sebagian masyarakat merasakan bau pada waktu-waktu tertentu.

 Kualitas udara masih sesuai dengan baku mutu, dan kadar pencemar udara lebih rendah dari zona radius ≤500 m

Sumber : Analisis Peneliti, 2020

commit to user

digilib.uns.ac.id

93 Kondisi perekonomian masyarakat erat hubungannya dengan mata pencaharian yang dijalankan masyarakatnya. Menurut Kecamatan Jebres dan Gondangrejo dalam Angka 2019, mata pencaharian masyarakat pada wilayah penelitian didominasi oleh karyawan swasta/buruh pabrik, PNS/TNI/POLRI, petani/buruh tani, pedagang, wiraswasta, dan buruh bangunan. Menurut mayoritas mata pencaharian tersebut, maka dapat diperkirakan bahwa masyarakat di zona ini masuk ke dalam kelompok rentan miskin (Rp 354.000 – Rp 532.000 per kapita/bulan) hingga menengah (Rp 1.200.000 – Rp 6.000.000 per kapita/bulan, sumber klasifikasi : The World Bank, 2019).

Sektor usaha yang dijalankan oleh masyarakat di zona permukiman beradius ≤500 m, sedikit banyak dipengaruhi oleh keberadaan TPA, sehingga banyak ditemukan mata pencaharian yang berkaitan dengan sektor persampahan seperti pada Gambar 4.48, mulai dari pemulung sampah, pengepul/pelapak hasil pemilahan sampah, industri daur ulang sampah plastik, hingga peternakan sapi pemakan sampah. Usaha pemulung dan pemilahan sampah banyak ditemukan pada Kampung Jatirejo dan Randusari di Mojosongo, serta pada Dusun Jengglong dan Sulurejo di Plesungan. Usaha daur ulang sampah berada di Jatirejo Mojosongo, serta Dusun Wirun Plesungan. Usaha peternakan sapi pemakan sampah berada di Dusun Jengglong dan Sulurejo, Desa Plesungan, serta Dusun Jatirejo, Kepuhsari, dan Randusari di Kelurahan Mojosongo. Peta persebran usaha persampahan dapat dilihat pada Gambar 4.49.

Gambar 4.48 Kegiatan Perekonomian sekitar TPA Putri Cempo Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2021

Berbeda halnya dengan masyarakat kawasan permukiman pada radius >500-1000 m yang mata pencahariannya tidak lagi pada sektor persampahan seperti pada zona radius ≤500 m, melainkan lebih beragam seperti karyawan swasta, PNS, wiraswasta, pedagang, petani/buruh tani, dan lainnya. Pada zona ini, kegiatan ekonomi persampahan hanya ditemukan 1 usaha daur ulang yang terdapat pada Dusun Wirun, Plesungan.

(a) Usaha Peternakan Sapi Pemakan Sampah (b) Usaha Pemilahan Sampah

commit to user

94 Gambar 4.49 Peta Sebaran Usaha-Usaha Pengelolaan Sampah

Sumber : Peta RBI; Citra Satelit Google Earth; Observasi Lapangan, 2020 commit to user

digilib.uns.ac.id

95 Kualitas Permukiman di Sekitarnya

4.4.1. Dampak Pemilahan Sampah

Sub variabel pertama untuk dampak pemilahan sampah adalah potensi ekonomi usaha pemilahan sampah. Dilihat dari keberadaan usaha pemilahan sampah, pada wilayah penelitian terdapat sekitar 196 orang yang bekerja di TPA Putri Cempo yang sebagian besar tinggal di sekitar TPA Putri Cempo, selain itu pada kawasan permukiman beradius ≤500 m terdapat 29 usaha pemilahan sampah, sedangkan pada kawasan permukiman beradius >500 - 1000 m tidak ditemukan usaha pemilahan sampah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sub variabel dampak pemilahan sampah berupa potensi ekonomi pemilahan sampah hanya terjadi pada kawasan permukiman radius ≤500 m, sedangkan pada kawasan permukiman radius >500 - 1000 m sub variabel ini tidak terjadi.

Sub variabel kedua adalah adanya kawasan permukiman kumuh karena keberadaan pemulung. Berdasarkan data kualitas permukiman dari aspek kondisi fisik dan tata bangunan, pada kawasan permukiman radius ≤500 m terdapat kawasan permukiman kumuh yang dihuni pemulung dengan bangunan yang tidak teratur, kontruksi bangunan yang kurang memadai serta lingkungan yang tidak sehat. Sedangkan pada wilayah permukiman beradius >500-1000 m dari TPA Putri Cempo, tidak terdapat kawasan permukiman kumuh yang dihuni oleh pemulung. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sub variabel dmapak pemilahan sampah berupa adanya kawasan permukiman kumuh karena keberadaan pemulung terjadi pada permukiman radius ≤500 m, sedangkan pada kawasan permukiman radius >500-1000 m sub variabel ini tidak terjadi.

Sub variabel dampak pemilahan sampah yang berikutnya adalah pemanfaatan RTH sebagai tempat penimbunan hasil pemilahan sampah. Berdasarkan observasi, ditemukan 9 titik RTH pada permukiman radius ≤500 m yang dimanfaatkan untuk menimbun atau mengeringkan hasil pemilahan sampah. Timbunan sampah juga teramati pada permukiman radius >500-1000 m sebanyak 4 titik. Namun, timbunan sampah pada radius >500-1000 m bukan merupakan hasil penimbunan sampah, melainkan sampah rumah tangga dari masyarakat permukiman. Sehingga menurut sub variabel ini dampak aktivitas pemilahan sampah ini hanya terjadi pada permukiman radius ≤500 m dari TPA Putri Cempo.

Sub variabel yang terakhir yaitu penyempitan jalan akibat timbunan hasil pemilahan sampah. Berdasarkan temuan penelitian, ditemukan sebanyak 7 titik terjadinya penyempitan jalan akibat penimbunan sampah. Ketujuh titik tersebut berada pada radius ≤500 m, sehingga dapat disimpulkan bahwa sub variabel ini juga hanya terjadi pada kawasan permukiman radius ≤500 m.

commit to user

96 Tabel 4.16 Hasil Identifikasi Variabel Dampak Pemilahan Sampah

Variabel Sub Variabel

Indikator Kondisi Eksisting Keterangan

Terdampak Tak

Sumber : Analisis Peneliti, 2020

4.4.2. Dampak Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah

Dampak pengumpulan dan pengangkutan sampah ditinjau dari sub variabel tingginya kebisingan, timbulan ceceran sampah, serta kerusakan jalan. Sub variabel pertama adalah tingginya kebisingan. Berdasarkan analisis tingkat kebisingan dengan data sekunder dan kuesioner, didapatkan bahwa permukiman pada radius ≤500 m memiliki kebisingan 55,6 dB (sedikit melebihi baku mutu kebisingan) (Sumber : Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup DLH Kota Surakarta, 2017), sedangkan menurut kuesioner penelitian, pada radius ≤500 m didapatkan hanya 24% responden menyatakan adanya kebisingan akibat TPA, sedangkan

commit to user

digilib.uns.ac.id

97 TPA. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa sub variabel dampak berupa tingginya kebisingan tidak terjadi pada radius ≤500 m maupun radius >500-1000 m.

Sub variabel dampak pengumpulan dan pengangkutan sampah yang kedua adalah timbulan ceceran sampah. Berdasarkan analisis persebaran ceceran sampah, pada kedua delineasi permukiman ditemukan ceceran sampah pada jalan yang dilalui angkutan pengangkutan sampah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sub variabel timbulan ceceran sampah terjadi pada kedua delineasi permukiman.

Sub variabel yang terakhir adalah kerusakan jalan. Berdasarkan hasil analisis kondisi jalan, persentase panjang jalan yang mengalami kerusakan dibanding dengan panjang jalan total, didapatkan pada permukiman radius ≤500 m terdapat 18,52% dari total panjang jalan mengalami kerusakan. Sedangkan pada permukiman radius >500 - 1000 m dari TPA, terdapat 4,89% jalan yang mengalami kerusakan. Berdasarkan indikator sub variabel, kerusakan jalan ditandai dengan minimal 11% dari total panjang jalan yang mengalami kerusakan, maka dapat disimpulkan bahwa permukiman beradius ≤500 m dari TPA mengalami kerusakan jalan dan terdampak aktivitas pengumpulan dan pengangkutan sampah, sedangkan permukiman beradius >500 - 1000 m tidak terdampak.

Tabel 4.17 Hasil identifikasi Variabel Dampak Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah Variabel Sub

Variabel

Indikator Kondisi Eksisting Keterangan Terdampak Tidak

Sumber : Analisis Peneliti, 2020

commit to user

98 4.4.3. Dampak Daur Ulang Sampah

Dampak daur ulang sampah dilihat dari sub variabel polusi udara, kerawanan kebakaran serta potensi ekonomi industri daur ulang. Sub variabel yang pertama adalah polusi udara karena daur ulang sampah. Berdasarkan data kualitas udara, kadar NO2, O3, dan SO2 pada udara di radius ≤500 m serta radius >500 - 1000 m tidak melampaui baku mutu kualitas udara yang ditetapkan, sehingga berdasarkan indikator polusi udara, sub variabel ini tidak terjadi pada wilayah penelitian.

Sub variabel dampak daur ulang yang kedua adalah kerawanan kebakaran. Berdasarkan data jumlah kejadian kebakaran pada wilayah penelitian, diperoleh bahwa tingkat kerawanan kejadian kebakaran pada permukiman beradius ≤500 m tergolong sedang karena mencapai 3,45% dari total kejadian kebakaran di Kota Surakarta dan sekitarnya, begitu pula dengan permukiman beradius >500 - 1000 m yang memiliki tingkat kerawanan kejadian kebakaran sedang yaitu 3,45% dari total kejadian di Surakarta. Selain itu, tidak ada satu kejadian kebakaran pun yang terjadi pada unit industri daur ulang sampah, melainkan justru terjadi pada timbunan sampah di dalam TPA Putri Cempo dengan jumlah kejadian sebanyak 6 kali selama tahun 2019. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sub variabel dampak kerawanan kebakaran tidak terjadi pada permukiman di radius ≤500 m maupun pada permukiman radius

>500 - 1000 m.

Sub variabel yang terakhir adalah potensi ekonomi usaha daur ulang sampah. Menurut data yang diperoleh dari observasi lapangan, ditemukan bahwa industri daur ulang tidak hanya terdapat pada permukiman radius ≤500 m dari TPA, melainkan juga terdapat industri daur ulang pada radius >500 - 1000 m, sehingga dapat disimpulkan bahwa sub variabel dampak daur ulang berupa potensi ekonomi industri daur ulang terjadi pada permukiman radius ≤500 m maupun radius >500 - 1000 m.

Tabel 4.18 Hasil Identifikasi Variabel Dampak Daur Ulang Sampah Variabel Sub

Variabel

Indikator Kondisi Eksisting Keterangan Terdampak Tidak

99

Variabel Terdampak Tidak Terdampak

Sumber : Analisis Peneliti, 2020

4.4.4. Dampak Penimbunan Akhir Sampah

Dampak aktivitas penimbunan sampah ditinjau dari beberapa sub variabel yaitu polusi udara dan timbulan debu, penyumbatan saluran drainase, pemanfaatan RTH sebagai tempat pembuangan liar, rendahnya nilai tanah, penyempitan jalan akibat timbunan sampah, potensi ekonomi peternakan sapi pemakan sampah, serta gangguan kesehatan.

Sub variabel yang pertama adalah polusi udara dan timbulan debu. Berdasarkan data kandungan debu, didapatkan jumlah kandungan partikel debu berukuran <100 μm pada keseluruhan lokasi adalah senilai <230 μg/Nm3 (DLH Kota Surakarta, 2015). Jumlah tersebut belum melampaui baku mutu kualitas udara. Namun, ditemukan bahwa TPA Putri Cempo merupakan kontributor CH4 terbesar di Kota Surakarta. Di samping itu, sebanyak 95,92%

masyarakat pada radius ≤500 m mengeluhkan adanya bau busuk yang tajam dari TPA Putri Cempo yang menandakan kandungan gas H2S, NH3,dan CH4 dalam udara. Selain polusi karena bau sampah, polusi yang ditimbulkan timbunan sampah TPA Putri Cempo juga dihasilkan dari kebakaran yang sering terjadi. Berdasarkan data kejadian kebakaran, setidaknya tercatat 6 kejadian kebakaran pada TPA Putri Cempo pada Tahun 2019. Kebakaran yang terjadi menimbulkan asap kebakaran yang dirasakan hingga radius 500 m. Dengan demikian, dampak aktivitas penimbunan sampah berupa polusi udara dan timbulan debu terjadi pada radius ≤500 m.

Sub variabel yang kedua adalah penyumbatan saluran drainase karena luapan TPA yang overload. Dari analisis kondisi drainase, ditemukan terjadinya penyumbatan beberapa saluran drainase, primer dan sekunder, pada kedua kawasan permukiman beradius ≤500 m maupun

>500-1000 m. Meskipun demikian, drainase yang benar-benar tersumbat karena luapan TPA Putri Cempo hanya ditemukan pada radius ≤500 m, yaitu drainase pada Dusun Randusari dan sungai pada Dusun Ingasrejo. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa sub variabel

commit to user

100 penyumbatan drainase karena luapan TPA yang overload terjadi pada zona permukiman radius ≤500 m.

Sub variabel yang ketiga adalah rendahnya nilai tanah. Berdasarkan analisis nilai tanah dengan mengunakan data dari Peta Zona Nilai Tanah (BPN, 2019), diperoleh bahwa wilayah penelitian baik pada radius ≤500 m maupun >500-1000 m memiliki nilai tanah yang cenderung lebih rendah dari wilayah di sekitartnya, sehingga menurut variabel ini, kedua delineasi kawasan terdampak aktivitas penimbunan sampah TPA Putri Cempo.

Sub variabel yang keempat adalah potensi ekonomi peternakan sapi pemakan sampah Berdasarkan analisis persebaran usaha peternak sapi pemakan sampah, ditemukan usaha tersebut pada kawasan permukiman beradius ≤500 m dan tidak ditemukan pada kawasan permukiman beradius >500-1000 m, sehingga dapat disimpulkan bahwa sub variabel potensi ekonomi peternakan sapi pemakan sampah terjadi pada permukiman radius ≤500 m, sedangkan pada permukiman radius >500-1000 m dampak ini tidak terjadi.

Sub variabel terakhir yaitu gangguan kesehatan pernafasan, pencernaan, dan iritasi akibat timbunan sampah TPA. Berdasarkan analisis jumlah gangguan kesehatan menurut data dari kuesioner penelitian, sebanyak 55,01% masyarakat di zona radius ≤500 m menyatakan pernah mengalami gangguan kesehatan, seperti diare, pusing/mual, ISPA, dan gatal-gatal akibat TPA Putri Cempo. Sedangkan pada radius >500-1000 m, hanya 6,12% masyarakat pernah mengalami gangguan kesehatan akibat TPA, dengan gejala keluhan yang lebih ringan, yaitu mual dan batuk. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa menurut sub variabel gangguan kesehatan pernafasan, pencernaan, dan iritasi, aktivitas penimbunan sampah berdampak terhadap kualitas permukiman hingga radius 500 m.

Tabel 4.19 Hasil Identifikasi Variabel Dampak Penimbunan Sampah Variabel Sub

Variabel

Indikator Kondisi eksisting Keterangan Terdampak Tidak

saluran Terdampak Tidak Terdampak

commit to user

digilib.uns.ac.id

101

Variabel Terdampak Tidak Terdampak

Sumber : Analisis Peneliti, 2020

4.4.5. Analisis Dampak Pengolahan Air Lindi

Dampak pengolahan air lindi ditinjau dari sub variabel rendahnya kualitas air tanah dangkal, polusi udara, kerusakan vegetasi. Sub variabel yang pertama adalah rendahnya kualitas air tanah dangkal. Berdasarkan data yang diperoleh, didapatkan bahwa kualitas air pada permukiman radius ≤500 m dari TPA mengalami tingkat polutan yang melebihi ambang batas yang ditentukan (Arifin, 2018; Yudhyarto, 2015; dan Masyifa, 2009). Sehingga berdasarkan sub variabel ini, pengolahan air lindi berdampak terhadap kualitas permukiman beradius ≤500 m.

Sub variabel yang berikutnya yaitu kerusakan vegetasi. Berdasarkan data yang berasal dari observasi lapangan, menunjukkan tidak ada kerusakan vegetasi di seluruh delineasi wilayah penelitian. Kondisi vegetasi pada kedua delineasi permukiman tampak subur, rimbun commit to user

102 dan tidak mengalami kekeringan, sehingga menurut sub variabel ini, pengolahan air lindi tidak berdampak pada kedua delineasi kawasan permukiman.

Sub variabel yang terakhir yaitu potensi ekonomi pengolahan air lindi menjadi pupuk cair. Berdasakan observasi lapangan tidak menunjukkan keberadaan jenis usaha tersebut, baik pada permukiman beradius ≤500 m hingga >500 - 1000 m. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sub variabel ini tidak terjadi pada kedua delineasi kawasan permukiman.

Tabel 4.20 Hasil Identifikasi Variabel Dampak Pengolahan Air Lindi Variabel Sub

Variabel

Indikator Kondisi eksisting Keterangan Terdampak Tidak

Sumber : Analisis Peneliti, 2020

4.4.6. Dampak Keseluruhan Aktivitas Pengelolaan Sampah TPA Putri Cempo

Berdasarkan analisis di atas, dari enam variabel yang dirinci lagi menjadi 18 sub variabel, didapatkan sebanyak 3 sub variabel dampak yang terjadi dan menjangkau hingga radius 1000 m dari TPA Putri Cempo, yaitu timbulnya ceceran sampah, potensi ekonomi usaha daur ulang, serta rendahnya nilai tanah dan properti. Sebanyak 10 sub variabel dampak terjadi dengan jangkauan radius 500 m, yaitu adanya permukiman kumuh pemulung, potensi ekonomi pemilahan sampah, pemanfaatan RTH sebagai tempat penimbunan hasil pemilahan sampah, penyempitan jalan akibat timbunan hasil pemilahan sampah, kerusakan jalan, polusi

commit to user

digilib.uns.ac.id

103 sungai akibat kapasitas TPA yang telah overload, potensi ekonomi peternakan sapi pemakan sampah, serta rendahnya kualitas air tanah dangkal. Sedangkan 5 sub variabel lainnya tidak terjadi pada wilayah penelitian, yaitu polusi udara akibat daur ulang, tingginya kebisingan, kerawanan kebakaran, kerusakan vegetasi, dan potensi ekonomi pengolahan air lindi.

Apabila dilihat dari ketujuh aspek kualitas permukiman yang telah disintesis pada bab kedua, seluruh aspek tersebut terdampak aktivitas pengelolaan sampah TPA Putri Cempo.

Berikut ini merupakan dampak masing-masing aktivitas pengelolaan sampah TPA Putri Cempo terhadap aspek-aspek kualitas permukiman di sekitarnya.

Tabel 4.22 Dampak Aktivitas Pengelolaan Sampah TPA Putri Cempo terhadap Aspek Kualitas Permukiman

Variabel Keterangan

Dampak pemilahan sampah

Berdampak terhadap aspek kondisi fisik dan tata bangunan, perekonomian masyarakat, kondisi sarana dan fasilitas umum (RTH), serta aksesibilitas permukiman hingga jangkauan radius 500 m dari TPA Putri Cempo Dampak

pengumpulan dan pengangkutan sampah

 Berdampak terhadap aspek aksesibilitas hingga jangkauan radius 500 m

 Berdampak terhadap aspek keamanan dan kenyamanan hingga jangkauan radius 1000 m dari TPA Putri Cempo

Dampak daur ulang sampah

Berdampak terhadap aspek perekonomian masyarakat hingga jangkauan radius 1000 m dari TPA Putri Cempo

Dampak penimbunan akhir

 Berdampak terhadap aspek keamanan dan kenyamanan lingkungan,

perekonomiain masyarakat, kondisi lingkungan alami serta kondisi prasarana hingga jangkauan radius 500 m dari TPA Putri Cempo

Berdampak terhadap nilai lokasi hingga jangkauan radius 1000 m dari TPA Putri Cempo

Dampak pengolahan air lindi

Berdampak terhadap kualitas lingkungan alami (air tanah) hingga jangkauan radius 500 m dari TPA Putri Cempo

Sumber : Analisis Peneliti, 2020

Gambar 4.50 di bawah ini merupakan peta yang menunjukkan keseluruhan dampak aktivitas pengelolaan sampah TPA Putri Cempo yang terjadi pada kualitas permukiman beradius ≤500 m dan radius >500 - 1000 m.

commit to user

104 Gambar 4.50 Peta Keseluruhan Dampak Aktivitas TPA Putri Cempo terhadap Kualitas Permukiman Radius 1000 m

Sumber : Analisis Penelitian, 2020 commit to user

digilib.uns.ac.id

Dokumen terkait