44 BAB IV
DATA DAN ANALISIS
Bab ini menjabarkan mengenai hasil pengumpulan data dan analisis yang terdiri dari gambaran aktivitas pengelolaan sampah TPA Putri Cempo, gambaran kualitas permukiman di sekitar TPA Putri Cempo, serta analisis dampak aktivitas pengelolaan sampah TPA Putri Cempo terhadap kualitas permukiman di sekitarnya.
4.1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian
Wilayah penelitian berada pada radius 1000 m dari area TPA Putri Cempo yang meliputi sebagian wilayah kelurahan Mojosongo serta sebagian wilayah Desa Plesungan.
Wilayah penelitian terdiri dari RW 9, 11, 26, 28, 30, 33, 34, 37, 38 39 Kelurahan Mojosongo, serta RW 2, 4, 5, 6, 8, 9 Desa Plesungan, yang selanjutnya dibagi menjadi dua zona, yaitu zona beradius ≤500 m dari TPA, serta zona beradius >500 - 1000 m dari TPA. Luas total wilayah penelitian sebesar 526,4 Ha, yang terdiri atas 151,28 Ha zona beradius ≤500 m dari TPA serta 375,12 Ha zona beradius >500 - 1000 m dari TPA.
Terdapat beberapa pemanfaatan lahan di Wilayah Penelitian, yaitu permukiman, pertanian, tegalan, industri, pasar, lapangan, taman dan hutan kota, pendidikan tinggi, dan pengelolaan sampah. Berdasarkan luasannya, wilayah penelitian didominasi oleh penggunaan lahan permukiman, tegalan, dan pertanian dengan proporsi masing-masing sebesar 39,22%, 39,27 % dan 17,60%. Sedangkan pemanfaatan lainnya hanya memiliki proporsi luasan yang tidak terlalu signifikan. Rincian luas pemanfaatan lahan wilayah penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini.
Tabel 4.1 Luas Pemanfaatan Lahan Wilayah Penelitian
Pemanfaatan Lahan
Radius ≤500 m Radius >500-1000 m Keseluruhan Luas (Ha) Persentase Luas (Ha) Persentase Luas (Ha) Persentase
Permukiman 62,96 41,62% 143,34 38,21% 206,30 39,19%
Pertanian 25,78 17,04% 66,80 17,81% 92,58 17,59%
Tegalan 59,37 39,25% 147,23 39,25% 206,60 39,25%
Industri 2,82 1,87% 5,81 1,55% 8,64 1,64%
Lapangan, taman dan
hutan kota 0,06 0,04% 1,03 0,27% 1,09 0,21%
Pendidikan Tinggi 0 0% 9,98 2,66% 9,98 1,90%
Pengelolaan Sampah 0,28 0,18% 0 0% 0,28 0,05%
Peruntukan Lainnya 0 0% 0,92 0,25% 0,92 0,18%
TOTAL 151,28 100% 375,12 100% 526,40 100%
Sumber : Olahan data GIS, 2020
Gambar 4.1 berikut ini merupakan peta yang menunjukkan pemanfaatan lahan di wilayah penelitian.
commit to user
digilib.uns.ac.id
45 Gambar 4.1 Peta Pemanfaatan Lahan Wilayah Penelitian
Sumber : Bappeda, Citra Satelit Google Earth, www.bhumi.atrbpn.go.id , 2020 commit to user
46 4.2. Gambaran Aktivitas Pengelolaan Sampah di TPA Putri Cempo
TPA Putri Cempo merupakan satu-satunya tempat pemrosesan akhir sampah yang berada di Surakarta, tepatnya berlokasi di Jatirejo, RW 39, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres. TPA Putri Cempo yang dibangun sejak tahun 1985 ini melayani pemrosesan akhir sampah yang berasal dari seluruh wilayah Kota Surakarta.
TPA Putri Cempo memiliki luas total sebesar 17 Ha, yang terbagi menjadi beberapa sub zona, antara lain, 2 Ha lahan untuk kantor, 12,5 Ha lahan untuk open dumping dan 2,5 Ha lahan untuk IPLT (Instalasi Pengolahan Limbah Tinja) dan situs Putri Cempo. Setiap harinya, TPA Putri Cempo menerima timbulan sampah dengan berat rata-rata mencapai ±300 ton/hari dan memiliki tren meningkat dari tahun ke tahun seperti yang ditampilkan dalam Tabel 4.2 dan Gambar 4.2 di bawah ini.
Tabel 4.2 Timbulan Sampah TPA Putri Cempo Tahun 2010-2019 Tahun Jumlah Timbulan
Sampah (kg)
Rata-rata Bulanan (kg)
Rata-rata Harian (kg)
2010 91,600,230 7,633,353 250,960
2011 88,039,630 7,336,636 241,204
2012 89,656,340 7,471,362 244,963
2013 92,435,720 7,702,977 253,249
2014 96,210,050 8,017,504 263,589
2015 100,267,400 8,355,617 273,955
2016 109,282,710 9,106,893 299,405
2017 106,278,860 8,856,572 291,175
2018 111,836,340 9,319,695 306,401
2019 110,893,880 9,241,157 303,819
Sumber : DLH Kota Surakarta, 2019
Gambar 4.2 Grafik Timbulan Sampah TPA Putri Cempo 2010-2019 Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2020
Saat ini, metode yang digunakan TPA Putri Cempo dalam pengelolaan sampah adalah open dumping. Metode open dumping ini dipilih karena kondisi TPA Putri Cempo saat ini
80.000.000 85.000.000 90.000.000 95.000.000 100.000.000 105.000.000 110.000.000 115.000.000
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Timbulan Sampah (kg)
commit to user
digilib.uns.ac.id
47 ketersediaan lahan untuk pengembangan area TPA belum tersedia. Ragam aktivitas pengelolaan persampahan yang terjadi di kawasan TPA Putri Cempo dapat dilihat pada bagan alir sebagai berikut :
Gambar 4.3 Diagram Alir Pengelolaan Sampah di TPA Putri Cempo Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2020; Observasi, 2020
Gambar 4.4 di bawah ini merupakan peta yang menggambarkan sebaran lokasi aktivitas pengelolaan sampah pada kawasan TPA Putri Cempo.
commit to user
48 Gambar 4.4 Peta Persebaran Aktivitas Pengelolaan Sampah
Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2020; Observasi Penelitian, 2020 commit to user
digilib.uns.ac.id
49 Pengumpulan dan pengangkutan sampah dibedakan atas asal timbulan sampah, yaitu sampah rumah tangga (dari kawasan permukiman); sampah pasar; sampah jalan, taman, rumah sakit, dan sekolah; serta sampah industri, hotel, perdagangan, restoran, kantor, dan terminal. Pada sampah rumah tangga, masing-masing kelurahan di Kota Surakarta memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan dan pengangkutan sampah. Termasuk rekrutmen petugas pengangkut sampah, penggajian petugas pengangkut sampah, dan perawatan angkutan pengumpulan dan pengangkutan sampah. Jadi, sampah dari rumah warga diangkut dengan gerobak/sepeda motor menuju ke pembuangan komunal. Selanjutnya, sampah yang telah dikumpulkan akan diangkut kendaraan dari kelurahan untuk dibawa ke TPA Putri Cempo.
Pada sampah rumah sakit, sekolah, dan fasilitas umum lainnya, sampah yang dihasilkan akan ditransfer ke TPS terdekat. Selanjutnya, pengangkutan sampah dari TPS ke TPA Putri Cempo menjadi tanggung jawab petugas pengangkutan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup dengan kendaraan dump truck. Selain sampah dari fasilitas umum, sampah dari hasil penyapuan jalan, taman dan sebagainya juga ditransfer terlebih dahulu ke TPS terdekat dan diangkut oleh petugas DLH. Pada sampah yang berasal dari pasar tradisional, biasanya dikumpulkan pada kontainer sampah yang telah disediakan di setiap pasar. Setelah itu, Dinas Perdagangan yang memiliki tanggung jawab dalam mengangkut sampah dari 43 pasar di Surakarta menuju TPA Putri Cempo. Kontainer dari setiap pasar akan diangkut ke TPA Putri Cempo dengan kendaraan dump truck. Untuk sampah yang berasal dari industri, sistem pengelolaan dan pengangkutan sampah menuju TPA Putri Cempo menjadi tanggung jawab masing-masing perusahaan. Begitu pula dengan sampah dari kegiata usaha lainnya, seperti hotel, restoran, perkantoran, dan usaha perdagangan selain pasar.
Dalam operasionalnya, SNI 19-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan menentukan persyaratan alat pengangkut yaitu : (1) harus dilengkapi penutup sampah, minimal dengan jaring; (2) tinggi bak maksimum 1,6 m; (3) sebaiknya ada alat ungkit; (4) kapasitas disesuaikan dengan kelas jalan yang akan dilalui; (5) bak truk/dasar kontainer sebaiknya dilengkapi pengaman air sampah. Namun pada pengumpulan dan pengangkutan sampah menuju TPA Putri Cempo, masih terdapat banyak kendaraan yang mengangkut sampah dengan muatan yang berlebih tanpa penutup dan tanpa pengaman air sampah seperti tampak dalam Gambar 4.7.
Alur pengumpulan dan pengangkutan sampah menurut sumbernya dilakukan seperti pada Gambar 4.5di bawah ini :
commit to user
50 Gambar 4.5 Diagram Alir Tahap Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah menuju TPA Putri Cempo
Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2020
Pengangkutan sampah dilakukan dengan kendaraan pengangkut yang digunakan di Kota Surakarta terdiri dari beberapa jenis kendaraan, antara lain dump truck, pick up, arm roll.
kendaraan L-300, serta gerobak motor sampah (germosa), sepeda motor. Setiap harinya aktivitas pengumpulan dan pengangkutan sampah berlangsung mulai dari pagi hingga petang hari. Gambar 4.6 berikut ini merupakan peta yang menunjukkan rute pengangkutan sampah dari TPS ke TPA Putri Cempo.
commit to user
digilib.uns.ac.id
51 Gambar 4.6 Peta Rute Pengangkutan Timbulan Sampah dari TPS menuju TPA Putri Cempo
Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2020 commit to user
52
Gambar 4.7 Aktivitas Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah ke TPA Putri Cempo Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2020
Selain pengangkutan timbulan sampah, aktivitas pengangkutan juga terjadi pada hasil pemilahan sampah. Sampah-sampah yang telah dipilah oleh pemulung di dalam lokasi TPA Putri Cempo, selanjutnya dibersihkan dan dikumpulkan di tempat tertentu untuk selanjutnya secara berkala akan diangkut dari pemulung ke pengepul sampah ataupun dari pengepul sampah menuju industri daur ulang sampah. Aktivitas pengangkutan hasil pemilahan sampah dapat dilihat pada Gambar 4.8 di bawah ini.
Gambar 4.8 Aktivitas Pengangkutan Hasil Pemilahan Sampah Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2020
Peta yang menunjukan jalur yang dilewati aktivitas pengangkutan sampah, baik dari TPS ke TPA maupun pengangkutan hasil pemilahan sampah yang melewati wilayah penelitian bisa dilihat pada Gambar 4.9 berikut ini.
commit to user
digilib.uns.ac.id
53 Gambar 4.9Peta Jalur Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah
Sumber : Observasi Penelitian, 2020 commit to user
54 4.2.2. Pemilahan Sampah
Sampah yang dibuang ke TPA Putri Cempo terdiri atas beragam jenis. Berikut ini merupakan komposisi sampah yang dibuang di TPA Putri Cempo.
Gambar 4.10 Diagram Komposisi Sampah pada TPA Putri Cempo Sumber : DLH Kota Surakarta, 2020
Berdasarkan diagram pada Gambar 4.10 di atas, mayoritas sampah yang dibuang di TPA Putri Cempo merupakan sampah organik, seperti sampah dapur, dedaunan, dan sebagainya. Sampah organik ini memiliki komposisi sebanyak 61,92% dari keseluruhan sampah. Jenis sampah lain yang mendominasi adalah sampah plastik (13,40%) dan sampah kertas (12,26%). Sedangkan sebanyak 12,42% sisanya terdiri atas sampah metal (1,80%), kaca (1,73%), kain (1,55%), karet (0,50%), dan sampah lainnya (6,84%).
Karena aktivitas pemilahan sampah pada skala rumah tangga dan TPS tidak dilakukan, aktivitas ini dilakukan langsung di TPA. Pemilahan sampah di TPA Putri Cempo melibatkan masyarakat yang bekerja sebagai pemulung, yang setiap harinya melakukan pemilihan sampah-sampah yang dapat dijual/dimanfaatkan kembali, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.13. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, terdapat sekitar 196 orang pemulung yang tercatat bekerja di TPA Putri Cempo yang merupakan penduduk sekitar TPA Putri Cempo maupun warga luar kota. Menurut jenis kelaminnya, sebanyak 56,12% (110 orang) pemulung TPA Putri Cempo adalah perempuan, dan 43,88% (86 orang) lainnya adalah laki-laki (Lestari, 2017). Gambar 4.11 dan 4.12 berikut merupakan diagram yang menunjukan profil jenis kelamin dan asal pemulung yang bekerja di TPA Putri Cempo.
Organik 61,92%
Plastik 13,40%
Kertas 12,26%
Besi/metal 1,80%
Kaca 1,73%
Kain 1,55%
Karet 0,50%
Lainnya 6,84%
Komposisi Sampah TPA Putri Cempo
commit to user
digilib.uns.ac.id
55
Sampah-sampah yang dipilah oleh pemulung di TPA Putri Cempo meliputi sampah karung, botol, plastik, besi, seng, kardus, gelas plastik, dan sebagainya. Jam operasional masing-masing pemulung di TPA Putri Cempo tidak menentu dan bervariasi mulai pukul 05.00 pagi hingga pukul 18.00 petang. Setiap harinya, rata-rata satu orang pemulung berhasil memilah sampah sebanyak 50 hingga 100 kg yang sebagian besar terdiri atas sampah-sampah plastik dan mendapatkan penghasilan minimal sebesar Rp 50.0000.
Gambar 4.13 Aktivitas Pemilahan Sampah pada TPA Putri Cempo oleh Pemulung Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2020
Hasil pemilahan sampah tersebut, selanjutnya akan disortir menurut jenis dan warnanya, kemudian dibersihkan. Setelah sampah-sampah dipilah dan dibersihkan, selanjutnya dikumpulkan pada suatu tempat (biasanya pada ruang terbuka di sekitar tempat tinggal pemulung) seperti terlihat pada Gambar 4.14. Selanjutnya, setiap periode tertentu, hasil pemilahan sampah yang telah dikumpulkan akan dijual dan diangkut kepada pengepul sampah ataupun industri daur ulang sampah.
56,12%
43,88%
Profil pemulung menurut jenis kelamin
Perempuan Laki-laki
87,76%
12,24%
Profil pemulung menurut asal wilayah
Sekitar TPA PC Luar kota
Gambar 4.11 Profil Pemulung menurut Jenis Kelamin
Sumber : Lestari, 2017
Gambar 4.12 Profil Pemulung menurut Asal Wilayah
Sumber : Lestari, 2017
commit to user
56
Gambar 4.14 Pengumpulan Sampah Hasil Pemilahan pada Ruang Terbuka Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2020
Secara keseluruhan, proses pemilahan sampah di TPA Putri Cempo dapat digambarkan dalam bagan alir berikut ini.
Gambar 4.15 Bagan Alir Pemilahan Sampah di TPA Putri Cempo Sumber : Observasi Penelitian, 2020
Lokasi terjadinya aktivitas pemilahan sampah terbagi menjadi dua lokasi yaitu di dalam area TPA Putri Cempo dan di luar TPA Putri Cempo. Aktivitas yang terjadi di dalam area TPA Putri Cempo adalah mulai dari pemilahan sampah oleh pemulung dan pengelompokan sampah menurut jenis dan warna. Sedangkan pencucian sampah hingga pengangkutan hasil pemilahan sampah dilakukan pada sekitar tempat tinggal pemulung/pengepul sampah TPA Putri Cempo. Peta lokasi aktivitas pemilahan sampah dapat dilihat pada Gambar 4.4.
4.2.3. Daur Ulang Sampah
Aktivitas daur ulang sampah merupakan salah satu teknik pengolahan sampah guna mengurangi sampah yang ditimbun di TPA Putri Cempo. Jenis sampah yang biasanya dapat didaur ulang adalah jenis sampah anorganik, seperti plastik, kertas, kaca, dan metal. Sesuai pada Gambar 4.10, komposisi sampah TPA Putri Cempo yang dapat didaur ulang mencapai 29,19% dari total timbulan sampah, sehingga dengan adanya aktivitas daur ulang sampah, diharapkan mampu mengurangi sebagian timbulan sampah TPA Putri Cempo dan memperpanjang usia TPA.
commit to user
digilib.uns.ac.id
57 Aktivitas daur ulang sampah menggunakan bahan baku berupa hasil pemilahan sampah yang telah disortir dan dibersihkan sebelumnya, seperti terlihat pada Gambar 4.16a.
Selanjutnya, bahan baku tersebut diproses dengan cara daur ulang sampah. Pada proses daur ulang sampah ini, plastik yang telah dikelompokan berdasarkan jenis dan warnanya kemudian digiling menggunakan mesin penggiling sehingga menjadi bentuk cacahan plastik yang ukurannya lebih kecil, hal ini dilakukan untuk memudahkan proses pengolahan menjadi bijih plastik. Cacahan plastik kemudian akan masuk ke tahap pencucian lagi. Proses ini menggunakan mesin pencuci khusus dan tambahan detergen untuk menghilangkan tanah dan kotoran juga zat-zat yang dapat mengganggu proses pengolahan. Tahap selanjutnya cacahan plastik yang telah bersih selanjutnya dikeringkan, seperti terlihat pada Gambar 4.16b. Hal ini dilakukan agar tidak ada sisa air yang menempel pada cacahan plastik, karna sisa air tersebut dapat merusak zat kimia yang terdapat dalam plastik dan mengganggu proses pembetukan bijih plastik.
Gambar 4.16 Aktivitas Daur Ulang Sampah Plastik Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2020
Setelah mengalami proses pencucian dan pengeringan, bahan atau cacahan plastik tersebut siap untuk diproses menjadi bijih plastik dengan menggunakan mesin pellet / mesin extruder. Proses pembuatan bijih plastik dengan menggunakan mesin pellet / mesin extruder, yaitu mesin dengan sistem pemanas (heater) dengan suhu sekitar 230 oC yang menyebabkan plastik meleleh sehingga antar cacahan plastik tersebut menyatu. Proses ini berlangsung selama kurang lebih dua jam. Setelah proses pemanasan oleh mesin extruder maka bahan plastik tersebut akan keluar melalui filter output dari mesin extruder dalam bentuk benangan dengan diameter sekitar 4 mm, dan kemudian benangan plastik tersebut akan dilanjutkan ke mesin pemotong untuk dicacah menjadi bijih-bijih plastik. Setelah melalui mesin pemotongan, bahan plastik tersebut telah selesai diolah menjadi bijih plastik (pellet) dengan ukuran panjang sekitar 0,5 cm dan diameter 4 mm, dan siap untuk diproses menjadi berbagai
(a). Bahan Baku Daur Ulang (b). Pengeringan hasil pencacahan sampah
commit to user
58 macam produk yang berbahan dasar plastik. Secara keseluruhan, proses daur ulang sampah ditunjukkan pada Gambar 4.17 di bawah.
Gambar 4.17 Bagan Alir Proses Daur Ulang Sampah Sumber : Rahmita dkk, 2015, Observasi Penelitian, 2020 4.2.4. Penimbunan Sampah
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa TPA Putri Cempo menggunakan metode open dumping. Metode ini merupakan metode penanganan sampah yang paling konvensional, yaitu dengan menimbun sampah tanpa lapisan penutup, dan dilakukan terus- menerus pada area tertentu. Pada TPA Putri Cempo, lahan penimbunan sampah yang aktif adalah seluas 12,5 Ha yang terbagi atas 4 zona menurut usia timbunan sampahnya, seperti pada Gambar 4.18 berikut.
Gambar 4.18 Zonasi Penimbunan Sampah TPA Putri Cempo Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2020
commit to user
digilib.uns.ac.id
59 Keterangan :
- Zona I : tumpukan sampah usia 25 tahun - Zona IV : tumpukan sampah usia 15 tahun - Zona II : IPLT - Zona V : tumpukan sampah usia 5 tahun - Zona III : tumpukan sampah usia 20 tahun - Zona VI : kantor TPA Putri Cempo
Setiap harinya, sampah yang datang ke TPA Putri Cempo ditimbun di zona penimbunan. Setelah itu, sampah-sampah tersebut diratakan dan dipadatkan dengan alat-alat berat, untuk selanjutnya ditimbun kembali di atasnya. Hingga saat ini, sampah-sampah yang ditimbun di TPA Putri Cempo, baik sampah baru maupun pada zona sampah yang berusia 25 tahun hanya dibiarkan begitu saja tanpa metode pengelolaan tertentu, sehingga tumpukan sampah telah membentuk gunung-gunung sampah dan kapasitas TPA semakin berkurang kemampuannya dalam menampung timbulan sampah setiap hari. Gambar 4.19 di bawah ini menunjukkan kondisi timbunan sampah di TPA Putri Cempo serta aktivitas pemerataan dan pemadatan timbunan sampah dengan alat berat.
Gambar 4.19 Aktivitas Open Dumping pada TPA Putri Cempo Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2020
Namun, dalam beberapa tahun terakhir ini, sedang dikembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2021. Dengan adanya PLTSa ini, timbunan sampah yang telah menggunung di TPA Putri Cempo dapat berkurang dan dikonversikan menjadi energi listrik. Rencananya, PLTSa ini akan mengolah 450 ton sampah per hari untuk membangkitkan listrik dengan kapasitas mencapai 10 MW.
PLTSa Putri Cempo yang direncanakan akan beroperasi menggunakan teknologi wet pyrolysis dan gasification. Wet pyrolysis akan mengubah sampah perkotaan menjadi biochar.
Kemudian, biochar diolah dengan metode gasification pada temperatur 1500 0C untuk menghasilkan gas sintesis yang mampu membangkitkan energi listrik. PLTSa Putri Cempo direncanakan akan memasok listrik melalui Gardu Induk Palur. commit to user
60 4.2.5. Pengolahan Air Lindi
Air lindi merupakan limbah cair yang muncul akibat masuknya air eksternal ke dalam timbunan sampah, membilaskan dan melarutkan materi terlarut, termasuk materi hasil dekomposisi biologis. TPA Putri Cempo yang mengubah sistem pengolahan dari sanitary landfill menjadi open dumping mempengaruhi penyaluran air lindi, karena air lindi mengalir mengikuti kemiringan tanah.
Air lindi pada TPA Putri Cempo dikelola oleh Pengelola TPA Putri Cempo. Pengolahan air lindi dilakukan dengan menampung timbulan lindi pada kolam pengolahan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.20. Kolam pengolahan air lindi terdiri dari kolam stabilisasi (kolam oksidasi) dan kolam aerasi. Kolam stabilisasi atau oksidasi merupakan kolam pengolahan yang terdiri atas tanggul dengan aliran air buangan yang laminer sehingga menyebabkan aktivitas mikroorganisme. Sedangkan kolam aerasi merupakan kolam yang berfungsi untuk mengoksidasi air buangan, yang mana kebutuhan oksigennya dipenuhi dengan proses aerasi. Fungsi kolam pengolahan ini adalah mengkonversi air buangan menjadi komponen-komponen yang lebih sederhana dengan cara oksidasi.
Gambar 4.20 Instalasi Pengolahan Air Lindi Sumber :Dokumentasi Penelitian, 2018
Secara keseluruhan, pada TPA Putri Cempo terdapat dua instalasi pengolahan lindi, seperti yang ditampilkan pada Gambar 4.21 di bawah, yaitu berada di zona I yang merupakan timbunan berusia 25 tahun, serta zona V yang merupakan timbunan beusia lima tahun. Tidak semua zona penimbunan sampah memiliki instalasi pengolahan air lindi, sehingga seringkali air lindi mengalir langsung ke badan sungai tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu dan berpotensi mencemari sungai maupun air tanah di wilayah sekitarnya.
commit to user
digilib.uns.ac.id
61 Gambar 4.21 Peta Lokasi Instalasi Pengolahan Air Lindi TPA Putri Cempo
Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, 2020, diolah
4.3. Kondisi Permukiman di Sekitar TPA Putri Cempo
TPA Putri Cempo yang berlokasi di Kelurahan Mojosongo dikelilingi oleh kawasan dengan pemanfaatan sebagai permukiman. Dalam hal penelitian ini, permukiman di sekitar TPA Putri Cempo dibatasi pada radius 1000 m dari TPA, yang kemudian dibagi menjadi dua bagian wilayah, yaitu wilayah permukiman dengan radius ≤500 m dan wilayah permukiman dengan radius >500 - 1000 m. Secara keseluruhan, luas permukiman di sekitar TPA Putri Cempo (radius 0-1000 m) sebesar 199.71 Ha, yang terdiri atas 62,35 Ha kawasan permukiman di radius ≤500 m, dan 137,36 Ha kawasan permukiman di radius >500 - 1000 m.
Berdasarkan pada pengumpulan data, kualitas permukiman di sekitar TPA Putri Cempo dapat diuraikan sebagai berikut.
4.3.1. Kondisi Fisik dan Tata Bangunan
Bangunan permukiman di sekitar TPA Putri Cempo, baik pada radius ≤500 m maupun
>500 - 1000 m dari TPA didominasi oleh bangunan yang bersifat permanen yang menggunakan bahan bangunan berupa batu bata, dengan atap berbahan genting dan berlantai keramik atau ubin. Meskipun demikian, terlihat sedikit perbedaan antara permukiman radius
≤500 m dengan permukiman radius >500-1000 m, yaitu bahwa kondisi rumah pada permukiman radius ≤500 m menampakkan karakteristik perdesaan dengan fasad bangunan yang sederhana dan tradisional. Sedangkan area hunian pada permukiman radius >500-1000 m lebih menampakkan karakteristik perkotaan dengan desain bangunan yang lebih modern
commit to user
62 dan mewah, bahkan beberapa hunian yang ditemui merupakan perumahan yang belum lama dikembangkan. Hunian di wilayah penelitian cenderung memiliki pola mengelompok membentuk aglomerasi-agkomerasi perumahan (ada yang kemudian membentuk dusun- dusun).
Seperti yang telah diterangkan sebelumnya bahwa di TPA Putri Cempo terdapat sekitar 196 orang yang bekerja sebagai pemulung sampah yang sebagian besar tinggal di sekitar TPA Putri Cempo. Pemulung-pemulung TPA Putri Cempo tinggal di beberapa titik dan cenderung mengelompok membentuk suatu kawasan permukiman. Berdasarkan observasi lapangan, diidentifikasi kawasan permukiman kumuh yang dihuni pemulung seluas 4,322 Ha yang berada di Dusun Jengglong dan Sulurejo, Plesungan serta Kampung Jatirejo dan Randusari, Mojosongo. Kondisi kawasan permukiman yang ditinggali oleh pemulung TPA Putri Cempo ditandai dengan penataan bangunan yang kurang teratur. Bahan bangunan rumah pada kawasan ini menggunakan batu bata, anyaman bambu, atau papan. Jaringan jalan lingkungan pada kawasan ini sempit (memiliki lebar kurang dari 3 m) dan pada beberapa titik belum memiliki perkerasan. Kawasan permukiman pemulung di sekitar TPA Putri Cempo tampak lebih kumuh dengan tumpukan sampah–sampah hasil kegiatan memulung di setiap muka rumah ,seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.23.
Peta keberadan permukiman kumuh yang dihuni oleh pemulung yang bekerja di TPA Putri Cempo dapat dilihat pada Gambar 4.22 di bawah ini.
commit to user
digilib.uns.ac.id
63 Gambar 4.22 Peta Persebaran Permukiman Kumuh Pemulung TPA Putri Cempo
Sumber : Peta RBI; Citra Satelit Google Earth; Observasi Peneliti, 2020 commit to user
64
Gambar 4.23 Kondisi Permukiman Kumuh Pemulung TPA Putri Cempo Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2019
Kondisi fisik dan bangunan di wilayah penelitian, secara garis besar dapat dituangkan dalam tabel berikut ini :
Tabel 4.3 Kondisi Fisik dan Tata Bangunan Wilayah Penelitian Zona Radius ≤500 m Zona Radius >500 – 1000 m
Didominasi bangunan perumahan lama dan perdesaan yang kurang tertata
Masih terdapat bangunan rumah dengan bahan bangunan yang kurang memadai serta desain rumah yang lebih sederhana
Terdapat kawasan dengan rumah-rumah yang kurang layak huni yang dihuni oleh pemulung TPA Putri Cempo seluas 4,322 Ha
Terdiri dari perumahan perdesaan serta perumahan-perumahan baru yang lebih tertata
Kualitas bangunan perumahan lebih baik dari segi bahan bangunan dan desain yang lebih modern
Tidak ditemukan rumah-rumah yang dihuni pemulung TPA Putri Cempo
4.3.2. Sarana dan Fasilitas Umum
Berdasarkan data Kecamatan Jebres dalam Angka Tahun 2019 (BPS Kota Surakarta, 2020) dan Kecamatan Gondangrejo dalam Angka Tahun 2019 (BPS Kab. Karanganyar, 2020), serta hasil observasi lapangan dan citra satelit Google Earth, kemudian dibandingkan dengan cakupan pelayanan sarana menurut SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan, berikut ini analisis ketersediaan sarana di wilayah penelitian yang terbagi atas dua zona, yaitu radius ≤500 m dan radius >500-1000 m.
Tabel 4.4 Analisis Ketersediaan Sarana Kesehatan
Jenis Sarana Kesehatan
Jumlah Penduduk
(jiwa)
Threshold Kebu- tuhan
Keterse-
diaan Keterangan Radius ≤500 m
Puskesmas 7234 120000 1 0 Belum cukup
Praktek dokter 7234 5000 2 0 Belum cukup
Radius >500-1000 m
Puskesmas 18429 120000 1 1 Cukup
Praktik Dokter 18429 5000 4 4 Cukup
Sumber : BPS Surakarta, 2020, BPS Karanganyar, 2020, Citra Satelit Google Earth, SNI 03-1733-
2004 commit to user
digilib.uns.ac.id
65 Tabel 4.5 Analisis Ketersediaan Sarana Pendidikan
Jenis Sarana Pendidikan
Jumlah Penduduk
(jiwa)
Threshold Kebu- tuhan
Keterse-
diaan Keterangan Radius ≤500 m
SD 7234 1600 5 1 Belum Cukup
SMP 7234 4800 2 1 Belum Cukup
SMA 7234 4800 2 0 Belum Cukup
Radius >500-1000 m
SD 18429 1600 12 6 Belum Cukup
SMP 18429 4800 4 3 Belum Cukup
SMA 18429 4800 4 2 Belum Cukup
Sumber : BPS Surakarta, 2020, BPS Karanganyar, 2020, Citra Satelit Google Earth, SNI 03-1733- 2004
Tabel 4.6 Analisis Ketersediaan Sarana Peribadatan
Jenis Sarana Peribadatan
Jumlah Penduduk menurut Agama
(jiwa)
Threshold Kebu- tuhan
Keterse-
diaan Keterangan Radius ≤500 m
Masjid Islam : 5476 2500 3 8 Cukup
Gereja Kristen Protestan dan Katolik : 1748
2500 1 0 Belum cukup
Radius >500-1000 m
Masjid Islam :15448 2500 7 15 Cukup
Gereja Kristen Protestan dan Katolik : 2975
2500 2 2 Cukup
Sumber : BPS Surakarta, 2020, BPS Karanganyar, 2020, Citra Satelit Google Earth, SNI 03-1733- 2004
Pada Tabel 4.4 di atas, didapatkan bahwa pada zona radius >500-1000 m terdapat sarana kesehatan berupa puskesmas dan tempat praktik dokter dengan jumlah yang cukup untuk melayani masyarakat. Meskipun demikian, persebaran sarana kesehatan (seperti tampak pada Gambar 4.24) di zona ini kurang merata karena hanya berada pada bagian barat. Sehingga, masyarakat pada bagian lain zona ini memiliki jarak yang cukup jauh dan memerlukan transportasi pribadi untuk menjangkau fasilitas kesehatan terdekat. Sedangkan pada radius
≤500 m tidak terdapat sarana kesehatan, baik puskesmas maupun tempat praktik dokter, sehingga masyarakat menggunakan sarana terdekat yang berada pada zona >500-1000 m.
Berdasarkan Tabel 4.5 didapatkan bahwa pada zona radius >500-1000 m memiliki sarana pendidikan dengan jumlah yang belum cukup untuk masyarakat wilayah penelitian baik pada jenjang SD, SMP, maupun SMA. Dilihat dari aksesibilitasnya, bagian barat zona ini memiliki akses yang lebih mudah kepada sarana pendidikan yang tersedia, sedangkan bagian
commit to user
66 lainnya memiliki jarak yang lebih jauh untuk menjangkau sarana pendidikan terutama SMP dan SMA. Kurangnya jumlah sarana pendidikan juga dialami pada radius ≤500 m yang hanya terdapat sarana pendidikan berupa 1 SD dan 1 SMP. Masyarakat pada zona ini dilayani oleh sarana pendidikan yang berada di wilayah Mojosongo dan Desa Plesungan. Namun, jumlah sarana pendidikan di Desa Plesungan sendiri juga sangat terbatas.
Berdasarkan Tabel 4.6, sarana peribadatan berupa masjid di kedua zona penelitian, baik radius ≤500 m maupun radius >50-1000 m telah memenuhi jumlah yang dibutuhkan untuk melayani masyarakat dengan persebaran yang merata sehingga memudahkan masyarakat untuk menjangkaunya. Sarana peribadatan berupa gereja pada zona radius >500-1000 m juga sudah memiliki jumlah yang cukup, sedangkan pada radius ≤500 m tidak tersedia sarana gereja, namun masih tercakup pelayanan gereja pada radius >500-1000 m. Untuk melihat persebaran sarana kesehatan, pendidikan, dan peribadatan pada wilayah penelitian dapat disaksikan pada Gambar 4.24 hingga Gambar 4.26 di bawah ini.
commit to user
digilib.uns.ac.id
67 Gambar 4.24 Peta Sebaran Sarana Kesehatan di Wilayah Penelitian
Sumber : Citra Satelit Google Earth, 2019 dan Observasi Penelitian, 2020 commit to user
68 Gambar 4.25 Peta Sebaran Sarana Pendidikan di Wilayah Penelitian
Sumber : Citra Satelit Google Earth, 2019 dan Observasi Penelitian, 2020 commit to user
digilib.uns.ac.id
69 Gambar 4.26 Peta Sebaran Sarana Peribadatan di Wilayah Penelitian
Sumber : Citra Satelit Google Earth, 2019 dan Observasi Penelitian, 2020 commit to user
70 Selain terdapat sarana-sarana di atas, wilayah penelitian, yaitu kawasan permukiman di sekitar TPA Putri Cempo memiliki ketersediaan Ruang Terbuka Hijau yang masih tinggi karena kepadatan bangunan yang masih relatif rendah. Ruang terbuka hijau pada wilayah penelitian berupa tegalan, lapangan, taman, dan hutan kota dengan luas 207,53 Ha atau sebesar 39,42% dari luas keseluruhan wilayah penelitian. Berdasarkan observasi yang dilakukan ditemukan beberapa titik ruang terbuka hijau yang digunakan untuk timbunan sampah. Hal ini teramati pada permukiman baik radius ≤500 m dan >500 - 1000 m seperti terlihat pada Gambar 4.27 dan Gambar 4.28.
Timbunan sampah di kawasan permukiman beradius ≤500 m didominasi oleh sampah sisa pemilahan/penyortiran berupa sampah plastik dan karung. Timbunan sampah ini muncul akibat aktivitas pemilahan sampah yang terjadi di area TPA Putri Cempo. Lain halnya dengan timbunan sampah yang berada pada kawasan permukiman beradius >500 - 1000 m yang muncul akibat sampah rumah tangga seperti yang terdapat pada Jalan Sibela Utara, Mojosongo dan Dusun Samirukun, Plesungan.
Gambar 4.27 Timbunan Sampah pada Ruang Terbuka Hijau di Radius ≤500 m Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2020
Gambar 4.28 Timbunan Sampah pada Ruang Terbuka Hijau di Radius >500 - 1000 m Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2020
Gambar 4.29 di bawah ini merupakan peta yang menunjukkan sebaran RTH di wilayah penelitin yang disalahgunakan untuk penimbunan hasil pemilahan sampah.
commit to user
digilib.uns.ac.id
71 Gambar 4.29 Peta Persebaran Timbunan Sampah pada Ruang Terbuka Hijau
Sumber : Peta RBI; Citra Satelit Google Earth; Observasi Peneliti, 2020 commit to user
72 Secara keseluruhan, kondisi sarana dan fasilitas umum di wilayah penelitian dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.7 Kondisi Sarana dan Fasilitas Umum di Wilayah Penelitian Zona radius ≤500 m Zona radius >500 – 1000 m
Ketersediaan sarana peribadatan cukup memadai, namun fasilitas pendidikan dan kesehatan belum memadai
Ditemukan ruang terbuka hijau yang dimanfaatkan sebagai tempat penimbunan sampah sebanyak 9 titik
Sampah yang ditimbun pada RTH di zona ini adalah hasil kegiatan pemilahan sampah berupa aneka macam sampah plastik dan karung-karung bekas yang akan dijual
Ketersediaan fasilitas kesehatan dan peribadatan cukup memadai, namun fasilitas pendidikan belum memadai
Ditemukan pula ruang terbuka hijau yang dimanfaatkan sebagai tempat penimbunan sampah sebanyak 4 titik
Sampah yang ditimbun di RT H merupakan sampah rumah tangga yang belum terlayani jaringan persampahan (bukan hasil pemilahan sampah TPA Putri Cempo)
Sumber :Hasil Analisis, 2020 4.3.3. Prasarana Dasar
Prasarana dasar meliputi jaringan listrik dan penerangan, jaringan telekomunikasi, jaringan persampahan, jaringan drainase, dan jaringan air bersih. Berdasarkan pada observasi wilayah penelitian, jaringan listrik pada wilayah penelitian sudah terpenuhi menurut SNI 03- 1733-2004, baik pada permukiman dengan radius ≤500 m maupun radius >500 - 1000 m dari TPA, karena setiap rumah telah memiiki aliran listrik yang disediakan oleh PLN minimal dengan daya 450 VA, meskipun demikian, jaringan penerangan di beberapa titik masih belum tersedia terutama pada wilayah Desa Plesungan. Begitu pula dengan jaringan telekomunikasi, seluruh wilayah penelitian telah terlayani jaringan, baik kabel maupun nirkabel. Sebagian besar masyarakat telah menggunakan telepon seluler (nirkabel) sebagai prasarana telekomunikasi. Sedangkan pada jaringan persampahan, meskipun dekat dengan TPA Putri Cempo, terdapat permukiman yang beum terlayani pengangkutan sampah, yaitu pada perkampungan Desa Plesungan, sehingga beberapa masyarakat membawa sampah secara inidividu langsung ke TPA, atau membakarnya di halaman belakang rumah.
Jaringan drainase di wilayah penelitian terdiri dari drainase primer dan drainase sekunder.. Hasil observasi mengenai kondisi saluran drainase pada wilayah penelitian (terlampir dalam Lampiran C) menunjukkan di beberapa area ditemukan saluran drainase yang tersumbat oleh sampah (bisa dilihat pada Gambar 4.30). Penyumbatan sampah pada saluran drainase ini terjadi pada kedua zona di wilayah penelitian. Pada permukiman beradius
>500-1000 m penyumbatan drainase disebabkan oleh perilaku masyarakat membuang sampah di sungai. Berbeda halnya dengan penyumbatan drainase yang terjadi pada wilayah beradius 500 m, khususnya pada Dusun Randusari, yang mana penyumbatan drainase terjadi karena luapan timbunan sampah di TPA yang telah melebihi kapasitasnya.
commit to user
digilib.uns.ac.id
73 Gambar 4.30 Peta Kondisi Drainase Wilayah Penelitian
Sumber : Peta RBI; Citra Satelit Google Earth; Observasi Peneliti, 2020 commit to user
74 Pembahasan berikutnya adalah mengenai kondisi aspek prasarana air bersih di wilayah penelitian. Dikarenakan menurunnya kualitas air dangkal di wilayah penelitian (akan dijelaskan lebih lanjut dalam Subbab 4.3.6 mengenai Kualitas Lingkungan Alami), masyarakat di wilayah penelitian memenuhi kebutuhan air bersih dengan sumur air dalam milik pribadi ataupun jaringan perpipaan, baik perpipaan PDAM maupun perpipaan PAMSIMAS yang dikelola masyarakat. Berdasarkan hasil kuesioner pendapat masyarakat sebagaimana terlampir dalam Lampiran D, diperoleh penggunaan sumber air oleh masyarakat di wilayah penelitian adalah sebagai berikut.
(a) Pendapat masyarakat keseluruhan (b) Pendapat masyarakat per zona Gambar 4.31 Diagram Persentase Penggunaan Sumber Air Wilayah Penelitian
Sumber :Kuesioner Penelitian, 2020
Berdasarakan Gambar 4.31a, pada wilayah penelitian, 28,57 % penduduk menggunakan PDAM sebagai sumber air, 36,73 % penduduk menggunakan Pamsimas sebagai sumber air, dan 34,69% menggunakan sumur dalam sebagai sumber air. Kemudian, pada Gambar 4.31b menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna PDAM adalah penduduk yang tinggal di zona radius >500-1000 m, pengguna Pamsimas juga didominasi oleh penduduk zona radius >500- 1000 m, sedangkan pengguna sumur dalam didominasi oleh penduduk radius ≤500 m.
Berdasarkan pendapat masyarakat, air yang berasal dari PDAM Surakarta memiliki kualitas yang kurang baik untuk dikonsumsi, karena berbau kurang sedap dan mengandung endapan, sehingga beberapa kawasan menggunakan sumber air yang berasal dari Pamsimas atau sumur dalam individu. Sedangkan penduduk yang menggunakan sumber air PDAM menggunakan air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.
28,57%
36,73%
34,69%
Penggunaan Sumber Air Masyarakat Wilayah Penelitian
PDAM Pamsimas Sumur dalam
22,4% 22,4%
5,1%
6,1% 14,3%
29,6%
0,0%
20,0%
40,0%
60,0%
80,0%
100,0%
PDAM Pamsimas Sumur dalam Rad ≤500 m Rad >500-1000 m
commit to user
digilib.uns.ac.id
75 Gambar 4.32 Sumur Air Dalam Pamsimas
Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2020
Secara garis besar, kondisi prasarana dasar di wilayah penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.8 Kondisi Prasarana Dasar di Wilayah Penelitian
Zona radius ≤500 m Zona radius >500 – 1000 m
Pelayanan jaringan listrik dan telekomunikasi sudah cukup memadai
Terdapat beberapa saluran drainase primer dan sekunder yang tersumbat sampah, baik akibat perilaku masyarakat maupun tumpahan TPA yang overload (terutama pada saluran drainase yang berbatasan langsung dengan TPA
Pelayanan jaringan air bersih sudah menjangkau seluruh wilayah, namun kualitas air PDAM kurang layak konsumsi
Pelayanan jaringan listrik dan telekomunikasi sudah cukup memadai
Terdapat beberapa saluran drainase primer dan sekunder yang tersumbat sampah, yang disebabkan perilaku masyarakat membuang sampah di sungai.
Pelayanan jaringan air bersih sudah menjangkau seluruh wilayah, namun kualitas air PDAM kurang layak konsumsi
Sumber : Analisis Peneliti, 2020
4.3.4. Kenyamanan dan Keamanan Lingkungan
Kenyamanan dan Keamanan Lingkungan permukiman diamati dari tingkat kerawanan kebakaran, tingkat kebisingan, serta kondisi kesehatan penduduk kawasan permukiman di sekitar TPA Putri Cempo. Berdasarkan data kejadian kebakaran di wilayah Surakarta dan sekitarnya Tahun 2019 dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surakarta diperoleh jumlah kejadian kebakaran sebanyak 174 kejadian dengan rincian 106 kejadian di Kota Surakarta dan 68 kejadian di luar Kota Surakarta. Selanjutnya dapat diketahui jumlah kejadian pada wilayah penelitian seperti pada tabel berikut:
Tabel 4.9 Tingkat Kerawanan Kebakaran menurut Jumlah Kejadian Kebakaran Tahun 2019
Wilayah Penelitian Jumlah Kejadian Kebakaran
Persentase jumlah kejadian (%)
*dari total 174 kejadian
Klasifikasi Tingkat Kerawanan menurut Perka BNPB No2/2012
Zona Radius ≤500m 6 3,448% Sedang
Zona Radius >500 - 1000 m 6 3,448% Sedang
Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran, 2019
Gambar 4.33 berikut ini merupakan peta sebaran lokasi kebakaran di Wilayah Penelitian dalam tahun 2019.
commit to user
76 Gambar 4.33 Peta Lokasi dan Jumlah Kejadian Kebakaran di Wilayah Penelitian Tahun 2019
Sumber: Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surakarta, 2019 commit to user
digilib.uns.ac.id
77 kebakaran, baik pada radius ≤500 m maupun radius >500-1000 m masih tergolong sedang, yaitu antara 2-5% dari total kejadian di Surakarta dan sekitarnya. Menurut teori yang didapatkan pada awal penelitian, kerawanan kebakaran pada permukiman sekitar TPA dapat terjadi karena proses pembakaran pada aktivitas daur ulang sampah. Namun, berdasarkan peta pada Gambar 4.33, tidak ada kebakaran yang terjadi pada usaha daur ulang sampah. Lokasi kejadian kebakaran pada wilayah penelitian yaitu di Perumahan Puncak Mojosongo sebanyak satu kali, Pondok Al Kahfi sebanyak satu kali, Jalan Ringroad sebanyak dua kali, Dusun Ingasrejo Plesungan sebanyak 2 kali, dan yang paling sering mengalami kebakaran adalah lokasi TPA Putri Cempo dengan jumlah kejadian kebakaran sebanyak 6 kali.
Kebakaran yang terjadi di timbunan sampah TPA Putri Cempo menimbulkan asap kebakaran yang terbawa hingga ke kawasan permukiman di sekitar TPA Putri Cempo.
Timbulnya asap kebakaran TPA sering terjadi terutama saat angin bertiup cukup kencang.
Berikut ini hasil kuesioner penelitian sebagaimana terlampir dalam Lampiran D, yang menunjukkan pendapat masyarakat mengenai kejadian asap kebakaran akibat timbunan sampah TPA Putri Cempo.
(a) Pendapat masyarakat keseluruhan (b) Pendapat masyarakat per zona Gambar 4.34 Diagram Pendapat Masyarakat mengenai Kejadian Asap Kebakaran
Sumber : Kuesioner Penelitian, 2020
Berdasarkan Gambar 4.34a di atas, 57,14% penduduk di wilayah penelitian menyatakan pernah terdampak asap kebakaran TPA Putri Cempo, terdiri atas 24,49% penduduk yang menyatakan kejadian asap kebakaran sering terjadi dan 32,65% penduduk yang menyatakan kejadian asap kebakaran kadang terjadi. Kemudian Gambar 4.34b menunjukkan bahwa menurut pendapat masyarakat, pada radius ≤500 m, kejadian asap kebakaran TPA lebih sering terjadi, sedangkan pada radius >500-1000 m kejadian asap kebakaran relatif jarang, atau bahkan tidak pernah terjadi. Masyarakat mengungkapkan adanya asap kebakaran yang datang,
24,49%
32,65%
42,86%
Pendapat masyarakat tentang frekuensi terjadinya asap kebakaran
Sering Terkadang Tidak pernah
9,2%
40,8%
24,5% 23,5%
2,0%
0,0%
20,0%
40,0%
60,0%
80,0%
100,0%
Sering Terkadang Tidak pernah Rad ≤500 m
Rad >500-1000 m
commit to user
78 terutama pada saat angin berhembus ini menganggu aktivitas sehari-hari. Selain, asap kebakaran, berdasarkan hasil pengumpulan informasi melalui kuesioner, didapatkan pula bahwa sebagian responden mengatakan terdapat masyarakat sekitar yang mengalami gangguan kesehatan akibat TPA Putri Cempo.
Gambar 4.35 Diagram Persentase Gangguan Kesehatan yang dialami Masyarakat Sumber : Kuesioner Penelitian, 2020
Gambar 4.36 Persentase Gangguan Kesehatan yang dialami Masyarakat menurut Zona Radius Sumber : Kuesioner Penelitian, 2020
Pada Gambar 4.35 di atas, sebanyak 30,61% penduduk di wilayah penelitian menyatakan pernah mengalami gangguan kesehatan, seperti diare, pusing dan mual, ISPA, dan gatal-gatal akibat TPA. Sedangkan 69,39% sisanya tidak pernah mengalami gangguan kesehatan karena TPA Putri Cempo. Kemudian pada Gambar 4.36 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk yang mengalami gangguan kesehatan merupakan penduduk yang tinggal pada radius ≤500 m dari TPA, sedangkan mayoritas penduduk pada radius >500-1000 m menyatakan tidak mengalami gangguan kesehatan akibat TPA Putri Cempo.
15,31%
12,24%
2,04%
1,02%
69,39%
Gangguan Kesehatan Akibat TPA Putri Cempo
Diare Pusing, mual Asma; ISPA Gatal Tidak ada
1,0% 2,0%
46,9%
14,3%
10,2%
2,0% 1,0%
22,4%
0,0%
20,0%
40,0%
60,0%
80,0%
100,0%
Diare Pusing, mual ISPA Gatal Tidak ada Rad ≤500 m Rad >500-1000 m
commit to user
digilib.uns.ac.id
79 Surakarta (dimuat dalam Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup TPA Putri Cempo 2017) dengan tiga titik pengukuran, yaitu lokasi TPA, jalan masuk TPA, dan permukiman Jatirejo, didapatkan nilai kebisingan (dalam satuan dB) masing-masing titik sebagai berikut.
Tabel 4.10 Hasil Pengukuran Tingkat Kebisingan
No Titik Pengukuran Kebisingan (dB)
Kesesuaian dengan batas kebisingan permukiman (maks. 55 dB)
1 Lokasi TPA 35 Sesuai
2 Jalan masuk TPA 77 Tidak Sesuai
3 Jatirejo (RW 39 Mojosongo) 55,6 Tidak Sesuai
Sumber : Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup TPA Putri Cempo, 2017
Berdasarkan Tabel 4.10 di atas, titik dengan tingkat kebisingan tertinggi adalah pada jalan masuk TPA senilai 77 dB. Kebisingan yang tinggi di titik ini disebabkan adanya aktivitas keluar masuknya kendaraan pengangkut sampah yang berlalu lalang. Tingginya tingkat kebisingan tidak ditemukan pada lokasi permukiman di Dusun Jatirejo, Mojosongo, karena tingkat kebisingan yang didapatkan hanya senilai 55,6 dB, sedikit lebih tinggi dari standar kebisingan di wilayah permukiman yaitu 55 dB. Karena pada data sekunder tidak tersedia data kebisingan pada radius >500-1000 m, sehingga peneliti juga menggali informasi melalui kuesioner penelitian dan didapatkan hasil sebagai berikut.
(a) Pendapat masyarakat keseluruhan (b) Pendapat masyarakat per zona
Gambar 4.37 Diagram Pendapat Masyarakat tentang Dampak Kebisingan akibat TPA Putri Cempo Sumber : Kuesioner Penelitian, 2020
Berdasarkan Gambar 4.37a hanya 12,24% penduduk yang menyatakan tingginya kebisingan di wilayah penelitian, sedangkan 87,76% penduduk menyatakan tidak merasakan kebisingan yang berlebih pada wilayah penelitian. Kemudian Gambar 4.37b menunjukkan bahwa penduduk yang merasakan adanya kebisingan akibat TPA Putri Cempo berada pada radius ≤500 m (24,4% dari total penduduk zona radius ≤500 m), sedangkan penduduk radius
>500-1000 m seluruhnya menyatakan tidak merasakan kebisingan akibat TPA Putri Cempo.
12,24%
87,76%
Pendapat masyarakat mengenai kebisingan di wilayah penelitian
Bising Tidak
50,0%
12,2%
37,8%
0,0%
20,0%
40,0%
60,0%
80,0%
100,0%
Bising Tidak
Rad ≤500 m Rad >500-1000 m
commit to user
80 Secara garis besar, kondisi kenyamanan dan keamanan di lingkungan permukiman pada wilayah penelitian adalah sebagai berikut :
Tabel 4.11 Kondisi Kenyamanan dan Keamanan Lingkungan di Wilayah Penelitian Zona radius ≤500 m Zona radius >500 – 1000 m
Jumlah kejadian kebakaran tergolong sedang, yaitu antara 2%-5% dari total kejadian di wilayah Surakarta dan sekitar.
Asap kebakaran di area TPA seringkali berhembus hingga zona ini
Lebih dari separuh penduduk menyatakan masyarakat mengalami gangguan kesehatan (pernafasan, pencernaan, iritasi kulit) akibat TPA
Tingkat kebisingan di salah satu titik sampel pada zona ini menunjukkan nilai >55 dB (kurang sesuai dengan standar kebisingan permukiman).
Menurut kuesioner, 24% penduduk menyatakan merasakan dampak kebisingan TPA.
Jumlah kejadian kebakaran tergolong sedang, yaitu antara 2%-5% dari total kejadian di wilayah Surakarta dan sekitar.
Asap kebakaran dari area TPA juga terkadang sampai ke zona ini
Hanya 6,12% penduduk menyatakan pernah mengalami gangguan kesehatan akibat TPA
Seluruh responden menyatakan tidak merasakan dampak kebisingan akibat TPA
Sumber : Analisis Peneliti, 2020 4.3.5. Lokasi dan Aksesibilitas
Lokasi dan aksesibilitas pada wilayah penelitian diamati dari jarak terhadap pusat kota, nilai tanah serta ketersediaan dan kualitas jaringan jalan yang melayani wilayah penelitian.
Wilayah penelitian berada pada perbatasan Kota Surakarta, atau tepatnya pada Kelurahan Mojosongo dan Desa Plesungan, Kabupaten Karanganyar. Jarak wilayah penelitian dengan pusat Kota Surakarta (diasumsikan Balai Kota Surakarta) adalah antara 5 hingga 8 km dengan waktu tempuh 12-15 menit dengan kendaraan bermotor. Sedangkan jarak wilayah penelitian terhadap pusat kota Kabupaten Karanganyar (diasumsikan Kantor Bupati Karanganyar) adalah 15 hingga 17 km dengan waktu tempuh sekitar 27 menit dengan kendaraan bermotor.
Berdasarkan peta Zona Nilai Tanah yang bersumber dari BPN (diakses melalui laman www.peta.bpn.go.id) , pada wilayah radius ≤500 m dari TPA Putri Cempo, memiliki kisaran nilai tanah antara < Rp 100.000 hingga Rp 1.000.000/m2, sedangkan pada wilayah radius
>500 - 1000 m dari TPA Putri Cempo, memiliki kisaran nilai tanah antara <Rp 100.000 hingga Rp 2.000.000/m2. Jika dibandingkan dengan wilayah yang lebih luas, yaitu Kelurahan Mojosongo, memiliki kisaran nilai tanah antara <Rp 100.000 hingga Rp 10.000.000/m2. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa nilai tanah wilayah penelitian cenderung lebih rendah dibandingkan dengan kisaran nilai tanah di sekitarnya. Perbedaan nilai tanah ini dapat disaksikan lebih jelas dengan peta yang ditampilkan pada Gambar 4.38. Pada peta berikut, warna hijau yang lebih terang mengindikasikan nilai tanah yang lebih rendah, dan sebaliknya.
commit to user
digilib.uns.ac.id
81 Gambar 4.38 Peta Zona Nilai Tanah Wilayah Penelitian
Sumber : Peta Zona Nilai Tanah (BPN, 2019) commit to user
82 Dilihat dari aksesibilitasnya, wilayah penelitian dilayani oleh jaringan jalan arteri primer, kolektor primer, lokal primer, lokal sekunder, serta jalan lingkungan. Secara keseluruhan, wilayah penelitian telah memiliki jaringan jalan. Perkerasan jalan pada wilayah penelitian ada yang berupa aspal, beton, semen/cor, serta paving block. Namun, berdasarkan hasil observasi sebagimana terlampir dalam Lampiran C, ditemukan juga beberapa ruas jalan yang mengalami kerusakan. Jika dibandingkan panjang jalan yang mengalami kerusakan dengan panjang jalan total pada masing-masing zona wilayah penelitian, diperoleh persentase sebagai berikut :
Tabel 4.12 Persentase Panjang Jalan Rusak No Radius dari TPA Putri
Cempo
Panjang Jalan Total (m)
Panjang Jalan Rusak (m)
Persentase panjang jalan rusak (%)
1. ≤500 m 18 965 3.513 18,52%
2. >500-1000 m 37 929 1 854 4,89%
Sumber :Hasil Analisis, 2020
Berdasarkan tabel di atas, kerusakan jalan yang terjadi pada zona radius ≤500 m mencapai 18,52% dari seluruh ruas jalan yang ada, sedangkan pada radius >500-1000 m kerusakan jalan terjadi pada 4,89% ruas jalan yang ada. Berdasarkan pengamatan peneliti, kerusakan jalan pada wilayah penelitian cenderung diakibatkan oleh pengangkutan hasil pemilahan sampah dari tempat pemilahan sampah ke industri daur ulang yang biasa dilakukan dengan angkutan mobil pickup. Hal ini dapat disaksikan pada Gambar 4.39, yang memperlihatkan bahwa titik kerusakan jalan berada dekat dengan lokasi-lokasi usaha pemilahan sampah dan daur ulang sampah. Berdasarkan data spasial tersebut, didapatkan bahwa dari 3.513 m ruas jalan yang rusak di zona radius ≤500 m, 80,52% di antaranya (2.829 m) berada tidak jauh dari tempat usaha pemilahan dan daur ulang sampah. Berikut ini merupakan peta sebaran kerusakan jalan di wilayah penelitian.
commit to user
digilib.uns.ac.id
83 Gambar 4.39 Peta Sebaran Kerusakan Jalan
Sumber : Peta RBI; Citra Satelit Google Earth; Observasi Lapangan, 2020 commit to user
84 Selain kerusakan jalan, permasalahan lain terkait aksesibilitas wilayah penelitian adalah sempitnya lebar jalan, terutama pada jalan lingkungan permukiman dengan lebar <3m, hal ini diperparah dengan adanya ceceran sampah dan juga timbunan hasil pemilahan sampah pada badan jalan seperti terlihat dalam Gambar 4.40. Berdasarkan hasil observasi lapangan, ceceran sampah ditemukan pada wilayah penelitian, baik radius ≤500 m dan radius >500- 1000 m, sedangkan timbunan hasil pemilahan sampah ditemukan pada beberapa titik, yang sebagian besar berada pada permukiman beradius ≤500 m dan dekat dengan klaster usaha pemilahan sampah. Akibat adanya timbunan sampah pada jalan, akses jalan lingkungan hanya bisa dilalui pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
Gambar 4.40 Timbunan Sampah di Badan Jalan Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
Peta sebaran ceceran sampah serta timbunan hasil pemilhan sampah dapat dilihat pada Gambar 4.41 dan Gambar 4.42.
commit to user
digilib.uns.ac.id
85 Gambar 4.41 Peta Jaringan Jalan dengan Ceceran Sampah
Sumber : Peta RBI; Citra Satelit Google Earth; Observasi Peneliti, 2020 commit to user
86 Gambar 4.42 Peta Jaringan Jalan dengan Timbunan Hasil PemilahanSampah
Sumber : Peta RBI; Citra Satelit Google Earth; Observasi Peneliti, 2020 commit to user
digilib.uns.ac.id
87 dalam tabel di bawah ini :
Tabel 4.13 Kondisi Lokasi dan Aksesibilitas Wilayah Penelitian Zona radius ≤500 m Zona radius >500 – 1000 m
Jarak dengan pusat Kota Surakarta relatif dekat (±5 km), jarak dengan pusat Kab. Karanganyar relatif jauh ( ±15 km)
Nilai tanah pada zona ini berkisar antara < Rp 100.000 hingga Rp 1.000.000/m2, lebih rendah dari wilayah sekitarnya
Sekitar 18,52% dari total panjang jalan di zona ini mengalami kerusakan. Kerusakan jalan terjadi di sekitar klaster pemilahan sampah akibat kendaraan pengangkut hasil pemilahan sampah
Ruas jalan di sekitar usaha-usaha pemilahan sampah menyempit akibat timbunan sampah
Jarak dengan pusat Kota Surakarta relatif dekat (±8 km), jarak dengan pusat Kab. Karanganyar relatif jauh ( ±17 km)
Nilai tanah pada zona ini berkisar antara < Rp 100.000 hingga Rp 2.000.000/m2, lebih tinggi dari zona radius ≤500 m, namun masih lebih rendah dari wilayah sekitarnya
Sekitar 4,89% dari total panjang jalan mengalami kerusakan/belum memiliki perkerasan
Pada ruas jalan hanya terdapat ceceran sampah dan tidak mengurangi lebar jalan
Sumber : Analisis Peneliti, 2020 4.3.6. Kualitas Lingkungan Alami
Kualitas Lingkungan Alami pada kawasan permukiman di sekitar TPA Putri Cempo ditinjau dari kualitas air tanah, kualitas udara, serta kondisi vegetasi. Pengolahan air lindi pada TPA Putri Cempo yang kurang memadai dan pembuangan limbahnya ke badan air menyebabkan menurunnya kualitas air dangkal di sekitar TPA Putri Cempo. Berdasarkan data penelitian dari Arifin (2018) dengan sampel 24 sumur air dangkal di Sulurejo, Plesungan, ditemukan 4,16% sampel tidak memenuhi baku mutu pada parameter kekeruhan, sampel air berbau (12,5 %), sampel air berasa (12,5%), sampel air tidak memenuhi parameter pH (91,7%), sampel air tidak memenuhi parameter nitrat (70,83%), dan sampel air tidak memenuhi parameter zat organik (12,5%). Berdasarkan data dari penelitian Yudhyarto, dkk (2015) yang dilakukan pada sumur air dangkal di Jatirejo Mojosongo juga ditemukan bahwa kandungan bakteri coliform yang melebihi ambang batas menurut Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih. Sedangkan menurut penelitian Masyifa (2009), juga didapatkan bahwa air tanah pada Dusun Randusari, Mojosongo telah menurun kualitasnya akibat cemaran air lindi TPA Putri Cempo, sedangkan pada Dusun Jengglong, Plesungan memiliki kualitas fisik dan kimia yang masih memenuhi parameter baku mutu air bersih. Hal ini terjadi karena apabila dilihat dari konturnya, Dusun Jengglong ini memiliki kedudukan topografi yang lebih tinggi dibanding TPA Putri Cempo, sehingga cemaran air lindi dari TPA yang mengalir menurut kontur tanah dan aliran sungai, tidak mengarah ke dusun ini. Gambar 4.43 di bawah ini merupakan peta yang menunjukkan wilayah yang mengalami penurunan kualitas air dangkal menurut penelitian-penelitian yang telah disebutkan di atas. commit to user
88 Gambar 4.43 Peta Pencemaran Air Dangkal Wilayah Penelitian
Sumber : Arifin (2018); Yudhyarto dkk (2015); Masyifa (2009); Kuesioner Penelitian (2020) commit to user
digilib.uns.ac.id