• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 PENGERJAAN AUDIT KESELAMATAN JALAN

4.9. Tindak Lanjut

Hingga tahap ini proses kegiatan audit yang dilakukan oleh tim audit dianggap selesai, kecuali bilamana dalam proses redesain serta pengimplementasiannya pemilik proyek mengganggap masih memerlukan pengawasan dari tim audit yang sifatnya konsultasi. Beberapa hal yang dilakukan dalam tahap ini adalah : a. Pemilik proyek menyerahkan hasil-hasil temuan audit dalam berupa laporan

audit kepada tim perencana;

b. Tim perencana ditugaskan untuk menindak-lanjuti hasil-hasil temuan dengan mengapresiasi hasil temuan tersebut ke dalam desain;

c. Bila hasil redesain (bila dianggap perlu redesain) dianggap sudah memenuhi standar berdasarkan NSPM dan manual yang ada;

d. Hasil redesain tersebut dapat diimplementasikan setelah mendapat pengesahan dari tim audit.

4.10. Rangkuman

1. Setelah tim audit keselamatan jalan terbentuk dan mendapat data informasi dari pemilik proyek dan perencana, maka tim audit dapat bekerja secara independen sejak tahapan inspeksi lapangan (survai), analisa dan evaluasi dan perumusan laporan, tanpa ada intervensi dari pihak manapun.

2. Tim audit melakukan pemeriksaan sesuai dengan formulir daftar periksa standar audit keselamatan jalan yang sudah dipahami dan disepakati bersama.

3. Laporan yang sudah dipaparkan dan pemilik proyek dan perencana bukan menjadi tanggung jawab tim audit keselamatan jalan untuk melakukan tindak lanjutnya.

4.11. Latihan

Pada suatu proyek peningkatan kapasitas jalan nasional perkotaan dari 2 lajur 2 arah tidak terbagi ditingkatkan menjadi 4 lajur 2 arah terbagi, yang pada kenyataannya bahwa dalam ruas jalan tersebut terdapat sebuah pusat perbelanjaan yang ramai dan merupakan rute trayek bus kota. Dalam

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 37

pemeriksaan detail desain yang dibandingkan dengan hasil inspeksi lapangan ternyata detail desain hanya mengakomodasi desain geometrik jalan dan bangunan pelengkap jalan saja;

Masalahnya: desain perlengkapan jalan terutama yang terkait dengan pusat perbelanjaan dan rute bus kota tersebut tidak/ belum diakomodasi keberadaannya.

Apakah pendapat dan bagaimana saran Saudara bila Saudara ditunjuk sebagai salah satu dari tim audit keselamatan jalan pada ruas jalan tersebut? Jelaskan.

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 38

BAB 5 PRINSIP KESELAMATAN PADA PERENCANAAN

DAN DESAIN JALAN

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 39

5. PRINSIP KESELAMATAN PADA PERENCANAAN DAN DESAIN JALAN

Indikator Keberhasilan

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta memahami prinsip keselamatan pada perencanaan dan desain jalan

5.1. Latar Belakang

Untuk dapat melakukan penilaian fokus-fokus dalam daftar periksa audit keselamatan jalan, maka analisa dan evaluasi menggunakan banyak sekali prinsip keselamatan yang sebaiknya diterapkan pada perencanaan dan desain jalan.

Prinsip keselamatan dalam perencanaan dan desain jalan berkembang secara dinamis dari waktu ke waktu.

5.2. Prinsip Keselamatan dan Perencanaan Jalan

5.2.1. Hirarki Jalan

Di dalam perencanaan jalan pada suatu jaringan jalan harus disesuaikan dengan fungsinya (arteri, kolektor atau lokal). Prinsip yang penting terkait keselamatan dalam penyesuaian/ pengaturan hirarki jalan pada konsep ini adalah:

a. Tingkatan hirarki jalan harus mengimplementasikan fungsi jalan yang diinginkan;

b. Jaringan jalan yang mengikuti konsep hirarki jalan pada dasarnya untuk mengontrol pergerakan lalu lintas dari satu hirarki ke tingkatan hirarki lainnya;

c. Implentasi hirarki yang tepat akan membuat pergerakan lalu lintas dapat meminimalkan konflik terutama di persimpangan tak bersinyal;

d. Jaringan jalan yang bersistem grid dapat dimodifikasi sesuai dengan hirarkinya;

e. Jumlah akses sedapat mungkin dikurangi terutama untuk menghindari munculnya potensi-potensi konflik lalu lintas;

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 40

f. Jumlah dan jarak antar akses harus sesuai standar;

g. Suatu jalan yang bersimpangan dengan jalan lain harus dengan jalan yang setingkat atau setingkat di bawah atau di atas hirarkinya;

h. Akses jalan dari pemukiman (jalan lokal) sedapat mungkin dihindari langsung ke jalan arteri.

5.2.2. Pemanfaatan Ruang

Pengaturan pemanfaatan ruang dimaksudkan untuk dapat meminimumkan konflik lalu lintas dengan pejalan kaki dan mengurangi kebutuhan melakukan perjalanan. Beberapa prinsip keselamatan jalan berkaitan dengan pengaturan pemanfaatan ruang antara lain:

a. Perencanaan pemanfaatan ruang harus sesuai dengan peruntukkannya (contoh: pengembangan pemukiman harus terpisah dari area industri atau pusat perdagangan atau pusat perkantoran);

b. Pengaturan pemanfaatan ruang harus diterapkan secara tepat, demikian juga dengan pengaturan lalu lintasnya;

c. Pengembangan pemanfaatan ruang yang tidak terkendali cenderung menimbulkan kondisi lalu lintas yang tidak tertib dan berpotensi konflik.

5.2.3. Pengaturan Jalan Masuk

Jalan masuk (akses) langsung ke jalan utama atau jalan masuk yang terlalu dekat dengan persimpangan harus dihindarkan, dan akses dilarang pada tempat-tempat yang berbahaya terutama pada tikungan jalan. Prinsip-prinsip keselamatan jalan dalam pengaturan jalan masuk antara lain:

a. Jumlah persimpangan harus diupayakan seminimal mungkin;

b. Desain persimpangan dibuat lebih sederhana serta bila mungkin dilengkapi service roads;

c. Lalu lintas didesain berjalan mengikuti hirarki jalan hingga secara bertahap mencapai jalan utama;

d. Jalan dengan hirarki yang lebih tinggi harus selalu diberi prioritas;

e. Di persimpangan, rambu/ marka jalan stop dan prioritas (give way) harus dipasang pada jalan-jalan yang hirarkinya lebih rendah;

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 41

f. Pembina/ penyelenggara jalan harus membuat sistem kontrol para pengembang berupa izin untuk membuat akses baru ke jalan umum sesuai standar;

g. Jalan masuk ke tempat parkir atau fasilitas umum (rumah sakit, pusat perbelanjaan, dll) tidak diperkenankan dekat ke persimpangan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari konflik lalu lintas yang berujung kepada potensi kecelakaan atau kemacetan lalu lintas di sekitar persimpangan;

h. Jarak antara jalan masuk ke persimpangan yang diperkenankan minimum berjarak 50 m.

5.2.4. Jalan Arteri

Proyek peningkatan dan perbaikan kapasitas jalan menjadi jalan arteri harus mempertimbangkan pengunaan jalan yang ada serta harus menjamin terpenuhinya keperluan pengguna jalan lokal serta keamanannya. Beberapa prinsip keselamatan dalam hal ini antara lain : a. Beberapa pertimbangan di dalam perencanaan jalan arteri primer :

1. Perencanaan jalan dengan ruas jalan 4 lajur 2 arah tanpa pemisah jalur (median) khusus untuk jalan arteri primer perlu mempertimbangkan aspek keselamatan;

2. Ruas jalan dengan 4 lajur 2 arah khusus untuk jalan arteri primer antar kota (seperti jalur pantura) disarankan menggunakan pemisah jalur berupa median;

3. Untuk ruas jalan arteri yang tidak terbagi (khususnya seperti jalur pantura, jalinsum) disarankan untuk melengkapinya dengan perambuan serta alat-alat penurun kecepatan yang memadai;

4. Segmen ruas jalan (khusus pada tikungan) yang berpotensi dengan cahaya lampu lalu lintas yang menyilaukan sebaiknya dilengkapi dengan alat penghalang cahaya (screen glare);

5. Untuk segmen ruas jalan yang berpotensi kecelakaan akibat kecepatan tinggi disarankan untuk melengkapi median dengan penghalang tabrakan (guardrail).

b. Beberapa penyesuaian yang perlu pada pembangunan suatu jalan arteri primer antara lain :

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 42

1. Menurunkan kelas jalan lama untuk menghindarkan lalu lintas menerus, menurunkan kecepatan sesuai dengan kelas jalan, dan memperjelas tingkatan hirarki jalan;

2. Menghubungkan jalan lama dengan jalan baru melalui beberapa ruas terbatas;

3. Melarang/ membatasi akses langsung dari persil/ lahan ke jalan arteri;

4. Mempersiapkan jalan masuk untuk pengembangan dimasa yang akan datang.

c. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada jalan arteri :

1. Turunkan kecepatan lalu lintas menerus pada ruas yang melalui banyak pejalan kaki;

2. Teknik-teknik penurunan kecepatan berkaitan dengan di atas antara lain:

a. Pemasangan rambu hati-hati pada lokasi-lokasi yang banyak dilalui pejalan kaki dan sepeda,

b. Pembuatan pita penggaduh (rumble strip) untuk memperingatkan pengemudi untuk menurunkan kecepatan, c. Pembuatan gerbang untuk memperingatkan pengemudi

bahwa mereka

d. memasuki areal bekecepatan rendah 5.2.5. Jalan Akses ke Permukiman

Pembuatan jalan akses bertujuan untuk menyediakan lingkungan jalan yang aman dan nyaman bagi masyarakat, terutama bagi pejalan kaki dan sepeda. Jalan akses harus mempertimbangkan keamanan, sosial, dan lingkungan, dan hal ini dapat dicapai dengan :

a. Mengurangi arus lalu lintas dan melarang lalu lintas yang tidak diperuntukkan pada lokasi tersebut;

b. Pengaturan lalu lintas didesain berkecepatan rendah;

c. Menggunakan jalan berbentuk “cul-de-sac and loop” untuk menghindarkan lalu lintas menerus;

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 43

d. Membuat persimpangan “T” untuk menghindarkan konflik lalu lintas yang tinggi;

e. Menandai batas kawasan perumahan/ pemukiman sehingga terbentuk citra adanya gerbang ke lokasi perumahan/ pemukiman tersebut;

f. Membuat parkir di luar badan jalan dan jauh dari tempat bermain anak-anak;

g. Menggunakan kerb tinggi untuk mengurangi kesan lebar pada jalan, tetapi masih memungkinkan kendaraan besar masuk untuk keperluan darurat.

5.3. Prinsip Keselamatan Jalan di dalam Desain Jalan

5.3.1. Pengharapan Pengemmudi

Desain jalan yang aman adalah sesuai dengan prinsip-prinsip geometri jalan serta dilengkapi dengan fasilitas perambuan diharapkan dapat membimbing pengemudi untuk merespon kondisi jalan di depannya untuk menghindarkan manuver atau pergerakan yang tidak diharapkan, menghindarkan perilaku yang ilegal, serta menghindarkan pengemudi dari penggunaan kecepatan yang tidak sesuai dengan desain kecepatan jalan yang ada.

Beberapa prinsip dasar perbaikan/ pembuatan desain jalan yang dapat meningkatkan pengharapan pengemudi antara lain melalui:

a. Peningkatan kondisi lingkungan jalan, sehingga pengemudi dapat dengan leluasa untuk menguasai kondisi lingkungan jalan;

b. Pemasangan rambu peringatan dan marka yang dapat menuntun pengemudi ketika menuju/ melalui tempat-tempat berbahaya;

c. Pengemudi dan pejalan kaki harus dituntun secara konsisten melalui perambuan, marka, serta penjaluran yang cukup jelas terbaca dan dipahami;

d. Mempertegas hirarki jalan melalui feature design guna menggiring lalu lintas mengikuti jalurnya;

e. Mempertegas karakteristik alinyemen jalan, bila perlu dilengkapi dengan delineasi khususnya jalan antar kota yang berpotensi berkecepatan tinggi.

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 44

5.3.2. Desain Persimpangan

Desain persimpangan jalan yang baik akan menghasilkan pergerakan menerus pada jalan utama dan transisi dari satu rute ke rute lain dengan waktu tunda yang minimum serta keamanan yang maksimum. Beberapa prinsip penting dalam membuat desain persimpangan antara lain :

a. Mempertimbangkan beberapa aspek antara lain dapat dilakukan melalui:

1. Pembuatan ruang bebas samping yang memadai;

2. Pemenuhan jarak pandang yang memadai;

3. Melengkapi rambu dan marka jalan;

4. Membuat pulau jalan dan pelindungnya yang berguna untuk melindungi pengguna jalan;

5. Pembatasan pergerakan membelok;

6. Pemisahan dan penjaluran yang aman untuk pejalan kaki;

b. Persimpangan dengan prioritas hanya digunakan jika lalu lintas harian rata-ratanya rendah;

c. Desain persimpangan “T” merupakan pilihan utama dengan memprioritaskan jalan lurus (utama), sedangkan persimpangan “Y”

sedapat mungkin dihindarkan;

d. Bentuk persimpangan staggered (bila tempat cukup memungkinkan), merupakan salah satu pilihan yang baik guna menghindari konfik dan kemacetan lalu lintas;

Gambar 4 Desain Persimpangan Stagged

e. Desain persimpangan memerlukan pelebaran lokal pada persimpangan untuk kendaraan yang akan berbelok pada jalan utama;

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 45

f. Menghindarkan adanya persimpangan T di tikungan.

Gambar 5 Desain Persimpangan yang Perlu Perlebaran Lokal

5.4. Median dan Penghalang

Median dan penghalang bermanfaat untuk memisahkan lalu lintas dan menghindarkan kecelakaan dengan tipe tabrak depan-depan. Median dan penghalang harus didesain sedemikian rupa agar tidak menjadi penyebab kecelakaan. Beberapa hal penting untuk mendesain median dan penghalang, adalah :

a. Pertimbangan Desain Median dan Penghalang :

1. Median penghalang sedapat mungkin didesain untuk menghindarkan kendaraan berputar arah (U-turn) pada sembarang tempat serta menghindarkan kemungkinan terjadinya tabrak depan-depan;

2. Median penghalang didesain untuk menyalurkan pejalan kaki ke arah tempat penyeberangan yang aman;

3. Desain median penghalang harus mempertimbangkan untuk akses bagi kendaraan darurat;

4. Desain ujung median dibuat sedemikian rupa agar tidak menimbulkan bentuk yang dapat menganggu keamanan lalu lintas;

5. Jika penghalang pada median tidak diperlukan, lebar median yang ideal adalah minimum 5 meter (arteri primer);

6. Minimum lebar median yang dapat melindungi pejalan kaki pada lokasi penyeberangan adalah 1,2 meter.

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 46

Gambar 6 Median dan Penghalang Jalan b. Pertimbangan Desain Penghalang Pejalan Kaki

1. Pagar penghalang/ pelindung pejalan kaki didesain untuk dapat mengarahkan pejalan kaki ke lokasi yang lebih aman dan harus dapat menghindarkan pejalan kaki dari jalur lalu lintas yang sibuk;

2. Pagar pengaman idealnya ditempatkan pada ruas jalan yang memiliki akses ke lokasi sekolah, tempat-tempat rekreasi, pusat-pusat perbelanjaan, dan lajur pejalan kaki;

3. Pagar pengaman pada lokasi peyeberangan harus didesain sedemikian hingga dapat memaksa pejalan kaki untuk melihat lalu-lintas kendaraan yang mengarah kepadanya sebelum menyeberangi jalan;

4. Pagar penghalang pejalan kaki didesain terbatas pada jalan primer, tetapi dapat juga dipertimbangkan pada jalan lokal dan akses pada persimpangan dan lokasi-lokasi yang rawan kecelakaan;

5. Pagar penghalang selain berfungsi untuk melindungi pejalan kaki, juga berfungsi untuk menghindarkan pemarkiran kendaraan yang tidak pada tempatnya atau menghalangi akses langsung ke lokasi perumahan atau perkantoran.

5.5. Fasilitas Pejalan Kaki

Pejalan kaki merupakan kelompok pemakai jalan yang paling lemah, sehingga penyediaan fasilitas yang memenuhi keperluannya harus mendapat

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 47

pertimbangan. Desain fasilitas pejalan kaki antara lain harus mempertimbangkan :

a. Membuat lajur pejalan kaki yang terhindar dari halangan, dengan pertimbangan lebar lajur efektif minimum 1 m untuk 50-60 pejalan kaki/

menit ditambah 1 m untuk kerb dan dinding samping;

b. Membuat fasilitas penyeberangan yang aman (antara lain jembatan penyeberangan atau terowongan penyeberangan pejalan kaki khususnya pada lalu lintas berkecepatan tinggi);

c. Membuat penghalang (pagar penghalang) untuk mengarahkan pejalan kaki secara aman;

d. Mempertimbangkan desain kecepatan rendah (30 km/ jam) atau pembuatan alat-alat yang berfungsi untuk mereduksi kecepatan, khususnya pada lokasi yang banyak pejalan kaki menggunakan jalan;

e. Mempertimbangkan suatu area pejalan kaki (pedestrian area) pada daerah perbelanjaan;

f. Membuat pelindung tengah (central refuges) pada jalan-jalan yang lebar, agar pejalan kaki memiliki tempat yang aman untuk menunggu dan melanjutkan penyeberangan;

g. Melengkapi alat pemandu penyeberangan (rambu-rambu) khususnya pada lokasi penyeberangan yang banyak digunakan anak-anak sekolah;

h. Tempat parkir harus dijauhkan (minimum 30 m) dari lokasi penyeberangan;

i. Lokasi pemberhentian bus harus didesain sedemikian rupa dapat memudahkan pejalan kaki berjalan secara aman dari dan ke lokasi penyeberangan jalan atau lokasi yang dituju.

5.6. Fasilitas bagi Kendaraan Roda Dua

Kendaraan roda dua dan kendaraan tak bermotor lainnya merupakan bagian dari lalu lintas, sehingga penyediaan fasilitas bagi kendaraan ini diperlukan terutama pada lokasi-lokasi yang banyak memiliki pengguna jalan tipe kendaraan tersebut. Untuk beberapa lokasi yang dianggap membutuhkan fasilitas ini dasar pertimbangannya adalah :

a. Pembuatan lajur sepeda yang terpisah dari lajur lalu lintas kendaraan lainnya;

b. Pembuatan lebar lajur lambat kurang lebih 2 m;

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 48

c. Pemisahan lajur perlu dilakukan dengan pemisah atau kerb;

d. Pemisahan phase lampu lalu lintas;

e. Pembuatan garis pemberhentian khusus bagi sepeda pada persimpangan yang ditempatkan lebih dekat ke persimpangan;

f. Pembuatan lajur penyeberangan untuk sepeda yang terpisah dari lajur pejalan kaki;

g. Pembuatan ramp khusus untuk sepeda pada jembatan penyeberangan yang dipakai bersama.

Gambar 7 Fasilitas Jalur Sepeda dalam Jalan Perkotaan

5.7. Rangkuman

1. Prinsip-prinsip keselamatan adalah hal yang paling penting dalam pelaksanaan audit keselamatan jalan dan penerapannya dapat dilakukan pada setiap tahapan desain

2. Hirarki jalan dapat mengontrol pergerakan lalu lintas dari satu hirarki ke tingkatan hirarki lainnya dan implentasi hirarki yang tepat dapat meminimalkan konflik terutama di persimpangan

3. Penyelenggara jalan harus mengendalikan pembuatan akses baru ke jalan umum sesuai standar dan mengusahakan agar akses jalan masuk ke jalan utama minimal

4. Penerapan prinsip-prinsip geometri jalan yang dilengkapi dengan perambuan dapat membimbing pengemudi untuk merespon kondisi

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 49

jalan, menghindar dari pergerakan yang tidak diharapkan, menghindari dari perilaku yang ilegal, serta menghindari dari penggunaan kecepatan yang berlebih.

5. Median jalan, lajur khusus dan pagar pengaman pejalan kaki, lajur khusus bagi peseda atau dan pengendara motor adalah upaya-upaya pemisahan antar jenis pemakai jalan berbeda yang bertujuan untuk meningkatkan keselematan

5.8. Latihan

1. Saudara sebagai pelaksana kegiatan peningkatan kapasitas jalan dari fungsi jalan kolektor menjadi fungsi jalan arteri. Sebutkan beberapa hal terkait dengan audit keselamatan jalan yang sebaiknya diperiksa dan disarankan dalam detil desain kegiatan peningkatan tersebut.

2. Dampak dari peningkatan fungsi jalan ke jalan dengan hirarki yang lebih tinggi adalah peningkatan volume dan kecepatan operasional lalu lintas. Jelaskan upaya yang Saudara lakukan pada lokasi pasar yang terdapat pada ruas jalan tersebut untuk menyesuaikan perubahan/

peningkatan tersebut.

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 50

DAFTAR PUSTAKA

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 51

GLOSARIUM

Abutmen/Kepala atau Pangkal Jembatan (Abutment): bangunan bawah jembatan yang terletak pada kedua ujung jembatan, berfungsi sebagai pemikul seluruh beban pada ujung bentang dan gaya-gaya lainnya yang didistribusikan pada tanah pondasi.

Alat Pengendali Isyarat Lalu Lintas - APILL (Traffic Control Signal): perangkat peralatan teknis yang menggunakan isyarat lampu untuk mengatur lalu lintas orang dan/atau kendaraan di persimpangan atau pada ruas jalan.

APILL untuk pejalan kaki berupa:

APILL yang Dioperasikan oleh Pejalan Kaki (Pedestrian Operated Signals - Pos): APILL yang memiliki tiga aspek dan ditempatkan di tengah blok antar simpang. APILL ini dilengkapi dengan tombol tekan yang dipasang di tiang utamanya untuk memberi tahu kehadiran pejalan kaki yang menunggu. Selain itu, ada tampilan isyarat penjalan kaki menghadap ke seberang. Tampilan merah, kuning, dan hijau untuk pengemudi/pengendara, sedangkan ikon manusia berdiri berwarna merah atau manusia berjalan berwarna hijau untuk pejalan kaki.

Penyeberangan PELICAN (Pedestrian Light Controlled Crossing - Pelican Crossing): tipe penyeberangan yang dioperasikan oleh pejalan kaki, yang memiliki fase kuning berkedip yang ditampilkan sesaat sebelum fase hijau bagi pengemudi.

Penyeberangan PUFFIN (Pedestrian User Friendly Intelligent Crossing - PUFFIN Crossing): penyeberangan ini beroperasi mirip APILL pejalan kaki lainnya, namun memiliki detektor untuk menengarai kehadiran pejalan kaki yang bergerak lambat (misal manula) sehingga mampu menambah waktu jalan dan/atau waktu bebas APILL untuk membantu mereka.

Alinyemen (Alignment): proyeksi garis sumbu jalan.

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 52

Alinyemen Horizontal (Horizontal Alignment): proyeksi garis sumbu jalan pada bidang horizontal.

Alinyemen Vertikal (Vertical Alignment): proyeksi garis sumbu jalan pada bidang vertikal yang melalui sumbu jalan.

Area Bebas (Clear Zone): daerah di dekat lajur lalu lintas yang harus dijaga terbebas dari hazard sisi jalan.

Audit Keselamatan Jalan (Road Safety Audit): suatu pemeriksaan formal jalan atau proyek lalu lintas oleh tim ahli independen yang melaporkan potensi kecelakaan dan kinerja keselamatan suatu ruas jalan (Austroads, 2009).

Bahu Jalan (Shoulder): bagian daerah manfaat jalan yang berdampingan dengan jalur lalu lintas untuk menampung kendaraan yang berhenti, keperluan darurat, dan untuk pendukung samping bagi lapis pondasi bawah, dan lapis permukaan.

Bahaya Sisi Jalan: semua objek tetap yang terdapat di sisi jalan di dalam daerah bebas yang dapat memperbesar tingkat keparahan kecelakaan.

Bundaran (Roundabout): persimpangan tempat kendaraan berjalan searah mengelilingi pulau lalu lintas.

Caping (Crown): bentuk mahkota pada potongan melintang di dua lajur jalan yang memiliki dua arah kemiringan melintang.

Efek Lapis Tipis Air (Aqua Planing): terjadi ketika ada lapis tipis air yang menyelimuti roda sehingga kendaraan tergelincir tidak terkendali di jalan yang basah.

Garis Pandang (Line of Sight): garis langsung pada pandangan tak terhalang antara pengemudi dan sebuah objek dengan tinggi tertentu di atas jalan.

Jalan Terbagi (Divided Road): jalan dua arah yang dipisahkan dengan median, pagar, atau objek fisik lain. Jalur Jalan (Carriageway): bagian jalan yang diperuntukkan untuk lalu lintas kendaraan

Jarak Berhenti yang Berkeselamatan (Safe Stopping Distance - SSD): jarak yang dibutuhkan oleh pengemudi kendaraan untuk menangkap hazard, bereaksi, dan mengerem untuk berhenti. Untuk keperluan perancangan, kondisi cuaca basah dan pengereman dengan roda terkunci diperhitungkan.

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 53

Jarak Mendahului (Overtaking Distance): jarak yang dibutuhkan sebuah kendaraan untuk mendahului kedaraan lain.

Jarak Mengerem (Braking Distance): jarak yang dibutuhkan oleh rem kendaraan untuk menghentikan kendaraan.

Jarak Pandang (Sight Distance): jarak di sepanjang tengah-tengah suatu jalur dari mata pengemudi ke suatu titik dimuka pada garis yang sama yang dapat dilihat oleh pengemudi [RSNI T-14-2004].

Jarak Pandang Berkeselamatan di Persimpangan (Safe Intersection Sight Distance - ISD): jarak pandang yang diperlukan pengendara pada jalan major untuk mengamati kendaraan pada jalan minor sehingga dapat mengurangi kecepatannya, atau berhenti bila diperlukan.

Jarak Pandang Henti (Stopping Sight Distance): jarak pandangan pengemudi ke depan untuk berhenti dengan aman dan waspada dalam keadaan biasa, didefinisikan sebagai jarak pandangan minimum yang diperlukan oleh seorang pengemudi untuk menghentikan kendaraannya dengan aman begitu melihat adanya halangan di depannya. Jarak pandang henti diukur berdasarkan anggapan bahwa tinggi mata pengemudi adalah 108 cm dan tinggi halangan adalah 60 cm diukur dari permukaan jalan [RSNI T-14-2004].

Jarak Pandang Manuver (Maneuver Sight Distance): jarak pandang yang dibutuhkan oleh pengemudi kendaraan yang waspada untuk menyadari objek di atas jalan dan melakukan tindakan menghindar.

Jarak Pandang Masuk (Entering Sight Distance - ESD): jarak pandang yang diperlukan pengendara pada jalan minor untuk memotong/masuk ke jalan major, tanpa mengganggu arus di jalan major.

Jarak Pandang Mendahului (Overtaking Sight Distance): jarak pandang yang dibutuhkan oleh pengemudi untuk memulai dan menyelesaikan dengan selamat manuver mendahului.

Jarak Pandang Pendekat (Approach Sight Distance - ASD): jarak pandang henti pada suatu persimpangan.

Kanalisasi: sistem pengendalian lalu lintas dengan menggunakan pulau lalu lintas atau marka jalan.

MODUL 10 | PENGENALAN AUDIT KESELAMATAN JALAN 54

Kecepatan Operasional (Operating Speed): 85 persentil kecepatan kendaraan pada suatu waktu saat kondisi lalu lintas lancar yang memungkinkan kendaraan untuk bebas memilih kecepatan.

Kecepatan Operasional Truk (Operating Speed of Trucks): kecepatan 85 persentil truk yang diukur pada suatu waktu saat kondisi lalu lintas lancar yang memungkinkan kendaraan untuk bebas memilih kecepatan.

Kecepatan Rencana (Design Speed): kecepatan maksimum kendaraan yang aman yang dapat dipertahankan sepanjang bagian jalan tertentu bila kondisi sedemikian baik sehingga ketentuan desain jalan merupakan faktor yang menentukan.

Kecepatan Rencana (Design Speed): kecepatan maksimum kendaraan yang aman yang dapat dipertahankan sepanjang bagian jalan tertentu bila kondisi sedemikian baik sehingga ketentuan desain jalan merupakan faktor yang menentukan.

Dokumen terkait