• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I: PEDAHULUAN

E. Tinjauan Kepustakaan

1. Tindak Pidana dan Unsur-unsur Tindak Pidana…

Istilah tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana Belanda yaitu “strafbaar feit”.Para ahli hukum mengemukaan istilah yang berbeda-beda dalam upayanya memberikan arti dari strafbaar feit. Adami Chazawi telah menginventarisir sejumlah istilah-istilah yang pernah digunakan baik dalam perundang-undangan yang ada maupun dalam berbagai literatur

hukum sebagai terjemahan dari istilah starfbaar feit, yaitu sebagai berikut:9

a. Tindak Pidana, dapat dikatan berupa istilah resmi dalam perundang-undangan pidana kita. Dalam hampir seluruh peraturan perundang-perundang-undangan menggunakan istilah tindak pidana, seperti dalam UU No.6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi jo. UU No. 20 Tahun 2001, dan perundang-undangan

9Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hal.2 dalam Mohammad Ekaputra, Dasar-Dasar Hukum Pidana Edisi 2, (Medan: USU Press, 2015), hal. 77

lainnya. Ahli hukum yang menggunakan istilah ini, misalnya seperti Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro, S.H.;

b. Peristiwa Pidana, digunakan oleh beberapa ahli hukum, misalnya: Mr. R. Tresna dalam bukunya “Azas-azas Hukum Pidana” Mr. Drs. H.J van Schravendijk dalam buku “Pelajaran tentang Hukum Pidana Indonesia”, Prof. A. Zainal Abidin, S.H dalam bukunya “Hukum Pidana”. Pembentuk UU juga pernah menggunakan istilah peristiwa pidana, yaitu dalam UUDS 1950 Pasal 14 ayat 1;

c. Delik, yang sebenarnya berasal dari bahasa latin “delictum” juga digunakan untuk menggambarkan tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit. Istilah ini dapat dijumpai dalam berbagai literatur, misalnya Prof. Drs. E. Utrecht, S.H, walaupun juga beliau menggunakan istilah lain yakni peristiwa pidana (dalam buku Hukum Pidana I). Prof. A. Zainal Abidin dalam buku beliau “Hukum Pidana I”. Prof. Moeljatno pernah juga menggunakan istilah ini seperti pada judul buku “Delik-Delik Percobaan Delik-Delik Penyertaan”, walaupun menurutnya lebih tepat dipergunakan istilah perbuatan pidana;

d. Pelanggaran pidana, dapat dijumpai dalam buku Mr. M.H. Tirta Amidjaja yang berjudul Pokok-pokok Hukum Pidana;

e. Perbuatan yang boleh dihukum, istilah tersebut digunakan oleh M. Karni dalam buku beliau “Ringkasan tentang Hukum Pidana Begitu juga Schravendijk dalam bukunya “Buku Pelajaran Tentang Hukum Pidana Indonesia”;

f. Perbuatan yang dapat dihukum, digunakan oleh Pembentuk Undang-Undang di dalam UU No. 12/Drt/1951 tentang Senjata Api dan Bahan Peledak (Pasal 3);

g. Perbuatan pidana, digunakan oleh Prof. Mr. Moeljatno dalam berbagai tulisan beliau, misalnya dalam buku Azas-azas Hukum Pidana.

Istilah yang dipergunakan oleh konsep KUHP Baru sebagai terjemahan dari istilah strafbaar feit adalah tindak pidana.

Secara khusus memang tidak ditemukan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit di dalam KUHP maupun di luar KUHP, oleh karena itu para ahli hukum berusaha untuk memberikan arti dan isi dari istilah itu, yang sampai saat ini belum ada keseragaman perndapat. Pengertian tindak pidana penting dipahami untuk mengetahui unsur-unsur yang terkandung di dalamnya.Unsur-unsur tindak pidana ini dapat menjadi patokan dalam upaya menentukan apakah perbuatan seseorang itu merupakan tindak pidana atau tidak.

Perlu diperhatikan bahwa istilah tindak pidana (strafbaar feit) dengan tindakan/perbuatan (gedraging/handeling) memiliki makna yang berbeda.Sudarto mengemukakan, bahwa unsur pertama dari tindak pidana adalah tindakan/perbuatan (gedraging), perbuatan orang ini merupakan titik penghubung dan dasar untuk pemberian pidana. Perbuatan (gedraging), meliputi pengertian berbuat dan tidak berbuat, sehingga definisi itu tetap akan kurang lengkap atau

berbelit-belit dan tidak jelas.10

10Ibid., hal.78-79

Barda Nawawi Arief menyebutkan,11

a. Pada tanggal 13 Juli 1938 Rb. Dordrecht, dalam kasus pembunuhan,

menjatuhkan pidana penjara 7 tahun pada seorang perempuan (banding tidak diupayakan), yang dalam kapasitasnya sebagai ibu dan pengasuh anaknya ‘secara sistematis dengan sengaja tidak member anaknya yang berumur 4 bulan makanan yang ia perlukan sehingga anak tersebut mati’;

bahwa di dalam KUHP (WvS) hanya ada asas legalitas (Pasal 1 KUHP) yang merupakan “landasan yuridis” untuk menyatakan suatu perbuatan (feit) sebagai perbuatan yang dapat dipidana (strafbaar feit). Namun apa yang dimaksud dengan “strafbaar feit” tidak dijelaskan. Jadi tidak ada pengertian/batasan yuridis tentang tindak pidana.Pengertian tindak pidana (strafbaar feit) hanya ada dalam teori atau pendapat para sarjana.

Tindak pidana tidak hanya terjadi karena telah dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang oleh Undang-Undang, namun adakalanya tindak pidana ini juga terjadi karena tidak berbuatnya seseorang, misalnya:

b. Seseorang ditunjuk menjadi pengawas toko, namun membiarkan terjadinya

pencurian kopi: HR 21 Februari 1921, NJ 1921, 465, W 10717.

Menurut R. Tresna, pertimbangan atau pengukuran terhadap perbuatan-perbuatan terlarang, yang mentapkan mana yang harus ditetapkan sebagai peristiwa pidana dan mana yang tidak dianggap sedemikian pentingnya, dapat berubah-ubah tergantung dari keadaan, tempat, dan waktu atau suasana serta

11Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (Perkembangan

Penyusunan Konsep KUHP Baru), (Jakarta: Kencana,2008) hal. 73-74, dalam Mohammad

berhubungan erat dengan perkembangan pikiran dan pendapat umum. Apa yang pada suatu waktu di tempat itu dianggap sebagai suatu perbuatan yang harus dicela namun tidak membahayakan kepentingan masyarakat, pada suatu saat bisa berubah dan dianggap sebagai suatu kejahatan. Sebaliknya, apa yang tadi dianggap sebagai suatu kerjahatan, di waktu yang lain, karena keadaannya berubah, dianggap tidak merupakan suatu hal yang membahayakan. Undang-Undang harus mencerminkan keadaan, pendapat atau anggapan umum, dan meskipun pada umumnya Undang-Undang selalu terbelakang dalam mengikuti perkembangan gerak hidup di dalam masyarakat, akan tetapi terhadap beberapa perbuatan, ketentuan hukum tetap sesuai dengan anggapan umum. Misalnya pembunuhan, dari dulu kala sampai sekarang, tetap dianggap sebagai sesuatu perbuatan jahat, baik dilihat dari sudut agama atau moral, maupun dilihat dari sudut sopan santun, sehingga sudah semestinya terhadap perbuatan yang demikian

itu diadakan ancaman hukuman pidana.12

Tindak pidana merupakan suatu pengertian yuridis, lain halnya dengan istilah perbuatan jahat atau kejahatan yang bisa diartikan secara yuridis atau

kriminologis.13

Adapun unsur-unsur tindak pidana hendaklah dibedakan dari pengertian unsur-unsur tindak pidana sebagaimana tersebut di dalam rumusan Undang-Undang (rumusan pasal). Pengertian unsur-unsur tindak pidana sebagaimana tersebut dalam rumusan Undang-Undang, yang dalam bahasa Belanda disebut

12R. Tresna, Azas-Azas Hukum Pidana, (Jakarta: Tiara Limited, 1959), hal. 29-30 dalam Mohammad Ekaputra, Dasar-Dasar Hukum Pidana Edisi 2, (Medan: USU Press, 2015), hal. 80

13Mohammad Ekaputra, Dasar-Dasar Hukum Pidana Edisi 2, (Medan: USU Press, 2015), hal. 81

elementen van de wettelijk delictsome schrijving, misalnya: unsur-unsur (dalam arti sempit) dari tindak pidana pencurian ialah unsur-unsur yang tercantum dalam

Pasal 362 KUHP.14

Menurut Moeljatno unsur-unsur atau elemen-elemen yang harus ada dalam

suatu perbuatan pidana, adalah:15

a. Kelakuan dan akibat (dapat disamakan dengan perbuatan);

b. Hal atau keadaan yang menyertai perbuatan;

c. Keadaan tambahan yang memberatkan pidana;

d. Unsur melawan hukum yang objektif;

e. Unsur melawan hukum yang subjektif

Kelima unsur atau elemen diatas pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke

dalam dua unsur pokok, yaitu unsur objektif dan unsur subjektif.16

a. Perbuatan manusia yang termasuk unsur pokok objektif adalah sebagai

berikut:

Unsur objektif dapat dibagi menjadi:

1) Act, ialah perbuatan aktif yang disebut juga perbuatan positif; dan 2) Ommission, ialah tidak aktif berbuat dan disebut juga perbuatan negatif;

b. Akibat perbuatan manusia

Hal ini erat hubungannya dengan ajaran kausalitas. Akibat yang dimaksud adalah membahayakan atau menghilangkan kepentingan-kepentingan yang

14Sudarto, Hukum Pidana I, (Semarang: Yayasan Sudarto, 1990), hal.9 dalam Mohammad Ekaputra, Dasar-Dasar Hukum Pidana Edisi 2, (Medan: USU Press, 2015), hal. 107

15

Moeljatno, Azas-Azas Hukum Pidana, (1982), hal.1, dalam Mohammad Ekaputra,

Dasar-Dasar Hukum Pidana Edisi 2, (Medan: USU Press, 2015), hal.43

16Leden Marpaung, Unsur-unsur Perbuatan yang Dapat Dihukum (Delik), (Jakarta: Sinar Grafika, 1991), hal.6-7, dalam Mohammad Ekaputra, Dasar-Dasar Hukum Pidana Edisi 2, (Medan: USU Press, 2015), hal.115

dipertahankan oleh hukum, misalnya nyawa, badan, kemerdekaan, hak milik/harta, atau kehormatan;

c. Keadaan-keadaan

Pada umumnya keadaan-keadaan ini dibedakan atas:

1) Keadaan pada saat perbuatan dilakukan; dan

2) Keadaan setelah perbuatan dilakukan;

d. Sifat dapat dihukum dan sifat melawan hukum

Sifat dapat dihukum itu berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan terdakwa dari hukuman.Sifat melawan hukum bertentangan dengan hukum, yakni berkenaan dengan larangan atau perintah.

Sedangkan unsur pokok subjektif tercermin dalam asas pokok hukum pidana, yaitu “tiada pidana tanpa kesalahan” (an act does not make guilty unless the mind is guilty; actus non facit reum nisi mens sit rea). Kesalahan yang dimaksud pada konteks ini adalah:

a. Kesengajaan, yang terdiri dari tiga bentuk, yaitu:

1) Sengaja sebagai maksud;

2) Sengaja sebagai kepastian;

3) Sengaja sebagai kemungkinan (dolus eventualis);

b. Kealpaan, yang merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan daripada

kesengajaan. Ada dua bentuk kealpaan, yaitu:

1) Tidak berhati-hati; dan

Berkaitan dengan kasus yang sedang penulis teliti, jika diaplikasikan ke dalam rumusan tindak pidana yang disebutkan didalam Pasal 15 PERPU No. 1 Tahun 2002 yang telah disahkan menjadi Undang-Undang berdasarkan UU No. 15 Tahun 2003 maka dapat disimpulkan unsur-unsur nya adalah sebagai berikut:

Pasal 15 UU No. 15 Tahun 2003 jo. PERPU No. 1 Tahun 2002 yang menyatakan bahwa “Setiap orang yang melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup.”

Maka dapat diuraikan unsur subjektif dari pasal tersebut adalah melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan. Sedangkan unsur objektif nya adalah setiap orang, melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud pada Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12.

Dengan demikian maka jika seseorang memenuhi kesemua unsur tersebut maka ia dapat dikatakan sebagai pelaku tindak pidana Terorisme.

2. Ruang Lingkup Terorisme

Dokumen terkait