• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penjatuhan Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Terorisme (Studi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penjatuhan Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Terorisme (Studi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel)"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Abdurrahman Pribadi dan Abdu Rayyan. 2009. Membongkar Jaringan Terorisme. Jakarta: Abdika Press

Afiah, Ratna Nurul. 1989. Barang Bukti dalam Proses Pidana. Jakarta: Sinar Grafika

Beres, Louis Rene. 1987. Terrorismand Global Security The Nuclear Threat. London: Westview Press, Inc.

Chazawi, Adami. 2005. Kemahiran dan Keterampilan Praktik Hukum Pidana. Malang: Bayumedia

Djari, Marthen Luther. 2013. Terorisme dan TNI. Jakarta: CMB Press

Effendi, Mahsryur. 2007. HAM dalam Dimensi/Dinamika Yuridis, Sosial, Politik, dan Proses Penyusunan/Aplikasi Ha-Kham (Hukum Hak Asasi Manusia) dalam masyarakat. Bogor: Ghalia Indonesia

Ekaputra, Mohammad. 2015. Dasar-Dasar Hukum Pidana Edisi 2. Medan: USU Press

Golose, Petrus Reinhard. 2009. Deradikalisasi Terorisme. Jakarta: YPKIP

____________________. 2015. Invasi Terorisme ke Cyberspace. Jakarta: YPKIK Gunawan, Budi. 2006. Terorisme, Mitos, dan Konspirasi. Jakarta: Forum Media

Utama Rinakit, Sukardi. 2013. Meneropong Indonesia 2020. Jakarta: Perpustakaan Nasional

Hakim, Luqman. 2004. Terorisme di Indonesia. Surakarta: FSIS

Hamzah, Andi.1996. Hukum Acara Pidana Indonesia. Jakarta: CV. Sapta Artha Jaya

Hendropriyono, A.M. 2009. Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam. Jakarta: Buku Kompas

(2)

Manulang, A.C. 2001.Menguak Tabu Intelijen: Teror, Motif, dan Rezim. Jakarta: CMB Press

Marpaung, Leden. 1992. Proses Penanganan Perkara Pidana bagian Ke-2. Jakarta: Sinar Grafika

_______________. 2009. Asas-Teori-Praktek Hukum Pidan. Jakarta: Sinar Grafika

Mertokusumo, Sudikno. 1996. Mengenal Hukum, Suatu Pengantar. Yogyakarta: Liberty

Muladi. 2002. Demokrasi, HAM, dan Reformasi Hukum di Indonesia. Jakarta: Habibie Center

Muladi dan Barda Nawawi. 1992. Bunga Rampai Hukum Pidana. Bandung: Alumni

Muzadi, K.H.A. Hasyim. 2004. Kejahatan Terorisme Prespektif Agama, HAM, dan Hukum. Bandung: PT Refika Aditama

Priyanto, Dwidja. 2009. Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara di Indonesia. Bandung: PT Rafika Aditama

Prodjodikoro, Wiryono. 1977.Hukum Acara Pidana. Bandung: Sumur S, Adjie. 2005. Terorisme. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Soesilo, R. 1982. Hukum Acara Pidana (Prosedur Penyelasaian Perkara Pidana Menurut KUHAP bagi penegak hukum). Bogor:Politea

Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah. 2005. Politik Hukum Pidana (Kajian Kebijakan Kriminalisasi dan Dekriminalisasi). Jakarta: Pustaka Pelajar

Perundang-undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946)

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981)

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pengesahan PERPU Nomor 1 Tahun 2002

(3)

Undang-Undang No. 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention of The Suppression of The Financing of Terrorism 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1999)

Undang-Undang No. 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2014 tentang Pengesahan International Convention for The Suppression of Acts of Nuclear Terrorism (Konvensi Internasional Penanggulangan Tindakan Terorisme Nuklir)

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme

Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2002 tentang Penanganan Masalah Terorisme

Website

Repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/4748/1/09E01948.pdf

Jurnal

Kusumah, Mulyana W. Terorisme dalam Prespektif Politik dan Hukum. Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI

(4)

Nitibaskara, Tb. Ronny R. Terorisme Sebagai Kejahatan Penuh Wajah : Suatu Tinjauan Kriminologis dan Hukum Pidana. Jurnal Kriminologi Indonesia

Bahan Kuliah

Khair, Abul. 2010. Bahan Kuliah Hukum Acara Pidana. Medan: Fakultas Hukum USU

Media Massa

Koran Kompas, 26 Mei 2011 Koran Kompas, 20 Juli 2011 Koran Kompas 27 Juli 2009

(5)

BAB III

PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANATERORISME (STUDI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI

JAKARTA SELATAN Nomor : 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel)

A. Teori-teori yang Melatarbelakangi Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Pidana

Teori yang melatarbelakangi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan suatu

sanksi pidana tentunya tidak lain adalah teori pemidanaan. Dimana teori-teori

pemidanaan ini berkembang mengikuti dinamika kehidupan masyarakat sebagai

reaksi dari timbul dan berkembangnya kejahatan itu sendiri yang senantiasa

mewarnai kehidupan sosial masyarakat dari masa ke masa. Dalam dunia ilmu

hukum pidana itu sendiri, berkembang beberapa teori tentang tujuan pemidanaan,

yaitu teori absolut (retributive), teori relatif (deterrence/utilitarian), teori

penggabungan (integrative), teori treatment, dan teori perlindungan sosial (social

defence). Teori-teori pemidaan inilah yang menjadi bahan pertimbangan hakim untuk mempertimbangkan berbagai aspek sasaran yang hendak dicapai di dalam

penjatuhan pidana.78

Teori absolut (teori retributif), memandang bahwa pemidanaan merupakan

pembalasan atas kesalahan yang telah dilakukan, jadi berorientasi pada perbuatan

dan terletak pada kejahatan itu sendiri. Pemidanaan diberikan karena si pelaku

harus menerima sanksi itu demi kesalahannya. Menurut teori ini, dasar hukuman

harus dicari dari kejahatan itu sendiri, karena kejahatan itu telah menimbulkan

(6)

penderitaan bagi orang lain, sebagai imbalannya (vergelding) si pelaku harus

diberi penderitaan.79

Ciri pokok atau karakteristik teori retributif, yaitu:80

Selanjutnya teori relatif (deterrence), teori ini memandang pemidanaan

bukan sebagai pembalasan atas kesalahan si pelaku, tetapi sebagai sarana

mencapai tujuan bermanfaat untuk melindungi masyarakat menuju kesejahteraan.

Dari teori ini muncul tujuan pemidanaan sebagai sarana pencegahan, yaitu

pencegahan umum yang ditujukan pada masyarakat. Berdasarkan teori ini,

hukuman yang dijatuhkan untuk melaksanakan maksud atau tujuan dari hukuman

itu, yakni memperbaiki ketidakpuasan masyarakat sebagai akibat kejahatan itu.

Tujuan hukuman harus dipandang secara ideal, selain dari itu, tujuan hukuman

adalah untuk mencegah (prevensi) kejahatan.

1. Tujuan pidana adalah semata-mata untuk pembalasan;

2. Pembalasan adalah tujuan utama dan di dalamnya tidak mengandung

sarana-sarana untuk tujuan lain misalnya untuk kesejahteraan masyarakat;

3. Kesalahan merupakan satu-satunya syarat untuk adanya pidana;

4. Pidana harus disesuaikan dengan kesalahan si pelanggar;

5. Pidana melihat ke belakang, ia merupakan pencelaan yang murni dan

tujuannya tidak untuk memperbaiki, mendidik atau memasyarakatkan

kembali si pelanggar.

81

79Leden Marpaung, Asas-Teori-Praktek Hukum Pidana, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 105

(7)

Sedangkan teori gabungan (integratif) mendasarkan pidana pada asas

pembalasan dan asas tertib pertahanan tata tertib masyarakat, dengan kata lain dua

alasan itu menjadi dasar dari penjatuhan pidana. Pada dasarnya teori gabungan

adalah gabungan teori absolut dan teori relatif. Gabungan kedua teori itu

mengajarkan bahwa penjatuhan hukuman adalah untuk mempertahankan tata

tertib hukum dalam masyarakat dan memperbaiki pribadi si penjahat.82

Lalu teori treatment, mengemukakan bahwa pemidanaan sangat pantas

diarahkan kepada pelaku kejahatan, bukan kepada perbuatannya. Teori ini

memiliki keistimewaan dari segi proses re-sosialisasi pelaku sehingga diharapkan

mampu memulihkan kualitas sosial dan moral masyarakat agar dapat berintegrasi

lagi ke dalam masyarakat. Menurut Albert Camus, pelaku kejahatan tetap human

offender, namun demikian sebagai manusia, seorang pelaku kejahatan tetap bebas

pula mempelajari nilai-nilai baru dan adaptasi baru. Oleh karena itu, pengenaan

sanksi harus mendidik pula, dalam hal ini seorang pelaku kejahatan membutuhkan

sanksi yang bersifat treatment.83

Sedangkan teori perlindungan sosial(social defence) merupakan

perkembangan lebih lanjut dari aliran modern dengan tokoh terkenalnya Filippo

Gramatica, tujuan utama dari teori ini adalah mengintegrasikan individu ke dalam

tertib sosial dan bukan pemidanaan terhadap perbuatannya. Hukum perlindungan

sosial mensyaratkan penghapusan pertanggungjawaban pidana (kesalahan)

digantikan tempatnya oleh pandangan tentang perbuatan anti sosial, yaitu adanya

seperangkat peraturan-peraturan yang tidak hanya sesuai dengan kebutuhan untuk

82Leden Marpaung, Ibid.,hal. 107

83Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Politik Hukum Pidana (Kajian

(8)

kehidupan bersama tapi sesuai dengan aspirasi-aspirasi masyarakat pada

umumnya.84

B. Posisi Kasus

Dengan teori-teori itulah Majelis Hakim dalam perkara nomor

1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel ini menjatuhkan sanksi pidana kepada terdakwa

Sefariano alias Mambo agar dapat member efek jera, menrehabilitasi kejiwaan

terdakwa, serta melindungi masyarakat dari tindak pidana terdakwa.

1. Kronologis

Perkara kasus terorisme dengan Nomor : 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel di

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memiliki kronologis perkara sebagai berikut:85

Pada bulan April 2013 hingga bulan Mei 2013 di Rumah Kontrakan

terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo alias Asep alias Dimasriano yaitu di

Jl. Bangka II F RT 02 RW 13 Kel. Mampang, Jakarta Selatan, terdakwa Sefariano

alias Mambo alias Aryo alias Asep alias Dimasriano bersama dengan saksi

Achmad Taufiq alias Ovhie bersama dengan Sigit Indrajid alias Abu Yahya alias

Dimas Nugroho, Rokhadi alias Shiro Kosmos Jannaholic Hellphobia alias Abu

Junnah bin Kusmo Diharjo, Muhammad Saiful Sa’bani alias Saiful alias Sayev

alias Ipul, dan Safi’i alias Imam alias Abdurrahman (Para Terdakwa dalam berkas

perkara terpisah) belajar merakit bom yang sebelumnya pada tanggal 31 Januari

2013 sekitar jam 11.00 WIB terdakwa Sefariano alias Mambo datang ke rumah

neneknya saksi Sigit Indrajid di Desa Babakan, Muncul, Serpong, Tangerang.

84Muladi dan Barda Nawawi, Bunga Rampai Hukum Pidana, (Bandung: Alumni, 1992), hal. 12

(9)

Sesampainya terdakwa Sefariano alias Mambo di rumah neneknya Sigit tersebut,

terdakwa Sefariano alias Mambo langsung masuk ke dalam menjumpai saksi

Achmad Taufiq alias Ovhie, Rokhadi, Imam, Saiful, dan Sigit. Lalu terdakwa

Sefariano alias Mambo menjelaskan sambil memberikan pelatihan merakit bom

kepada saksi Achmad Taufiq, Imam, Ipul, dan Rohadi.

Selama terdakwa Sefariano alias Mambo memberikan pelajaran membuat

atau merakit bom, saksi Achmad Taufiq, Rokhadi, Imam, dan Saiful alias Sayev

alias Ipul memperhatikan dan mencatat apa yang disampaikan terdakwa Sefariano

alias Mambo, sedangkan saksi Sigit Indrajid berjaga-jaga di depan rumah

neneknya.

Lalu tanggal 27 April 2013 sekitar jam 23.00 WIB terdakwa Sefariano alias

Mambo datang ke kontrakan Sigit Indrajid yang beralamat di Jl. Bendar Barat 14

Pamulang, Tangerang, ketika terdakwa Sefariano alias Mambo sampai di rumah

kontrakan Sigit Indrajid tersebut sudah ada saksi Achmad Taufiq, Sigit dan Tio,

setelah itu saksi Achmad Taufiq, Sigit, Tio, dan terdakwa Mambo berkumpul di

teras depan dan saat itu Sigit menyampaikan rencananya dengan berkata, “yuk kita

amaliyah di Kedutaan Besar Myanmar untuk membalas atas kezoliman orang Myanmar yang membantai orang Muslim di Myanmar, kita barengin aja dengan momen orang FUI sebelum aksi demo dimulai kita ledakkan terlebih dulu sebagai kejutan untuk Dubes Myanmar”.Ajakan pengeboman Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta ini pada prinsipnya disetuji oleh terdakwa Sefariano alias Mambo, saksi

(10)

Untuk menindaklanjuti rencana tersebut, pada hari Rabu tanggal 1 Mei 2013

terdakwa Sefariano alias Mambo menjemput saksi Sigit dan Tio di Blok M

Jakarta Selatan, ketika itu saksi Sigit dan Tio telah membawa bahan-bahan bom

dan dibawa ke rumah kontrakan terdakwa Sefariano alias Mambo di Jl. Bangka II

F Jakarta Selatan. Saat sampai dirumah terdakwa Sefariano alias Mambo sekitar

jam 23.00 WIB Sigit langsung ke dapur , di dalam dapur tersebut Sigit

mengeluarkan bahan-bahan bom dari tas, Sigit juga mengeluarkan 1 (satu) buah

pipa besi berukuran kecil. Ketika itu Sigit berkata kepada terdakwa Sefariano alias

Mambo, “ini bom yang satu Ente satuin aja sama buatan Ente.Kabelnya yang

diparalel jadi satu dengan yang dibuat”. Setelah itu terdakwa Sefariano alias Mambo, saksi Achmad Taufiq, dan Sigit membuat bahan-bahan bom dengan cara

bersama-sama, yaitu dengan cara menghaluskan belerang, arang, dan paraffin

terlebih dahulu dengan cara ditumbuk dan dihancurkan dengan blender. Setelah

halus bahan-bahan tersebut disaring dan dituangkan ke dalam baskom lalu

diendapkan.Sedangkan Saksi Tio saat itu hanya mengawasi.

Kemudian pada hari Kamis tanggal 2 Mei 2013 sekitar jam 15.00 WIB

terdakwa Sefariano alias Mambo membeli paralon ukuran 1” (satu inci) dan

penutupnya di toko material di Jl. Bangka Mampang sepanjang 3 meter yang

dipotong menjadi 3 (tiga) bagian. Setelah itu terdakwa Sefariano alias Mambo

membawa pulang pipa paralon tersebut. Setibanya di rumah kontrakannya di Jl.

Bangka II F Jakarta Selatan, terdakwa Sefariano alias Mambo meminjam pisau

milik saksi Achmad Taufiq lalu memotong pipa tersebut dengan dibantu oleh

(11)

hingga menjadi 4 bagian dengan panjang masing-masing pipa sekitar 15cm (lima

belas senti meter). Kemudian pipa paralon tersebut salah satu ujungnya terdakwa

Sefariano alias Mambo tutup dengan tutup paralon dan dilem dengan lem paralon.

Setelah itu terdakwa Sefariano alias Mambo memasukan bahan-bahan bom yang

sudah halus ke dalam 4 buah paralon tersebut, lalu dimasukan lampu sen yang

sudah dipecahkan dan ditutup dengan tisu yang disiram etanol dan kemudian

ditutup dengan penutup paralon lalu dilem dan dilakban hingga rapat.

Selanjutnya terdakwa Sefariano alias Mambo dan saksi Achmad Taufiq

melakban kelima buah bom tersebut menjadi satu dan kabelnya disatukan secara

paralel hingga tinggal 2 buah kabel yang dipasang ke batere. Setelah itu terdakwa

Sefariano alias Mambo keluar rumah untuk membeli jam weker dengan

mengendarai sepeda motor Honda ke toko yang ada di sekitar Jl. Bangka Jakarta

Selatan, namun karena tidak dapat makan terdakwa Sefariano alias Mambo

kemudian pulang dan menghubungi saksi Sigit melalui HP dengan pembicaraan

sebagai berikut:

MAMBO : Git, Ane gak dapet weker. Ente deh yang beli.

SIGIT : Oke deh.

MAMBO : Kita ketemuan di HI (Bundaran Hotel Indonesia)

aja jam 9 (21.00 WIB).

Kemudian pada hari Kamis tanggal 2 Mei 2013 sekitar jam 20.00 WIB,

terdakwa Sefariano alias Mambo dan saksi Achmad Taufiq memasukan 5 (lima)

buah bom tersebut ke dalam tas ransel, lalu terdakwa Sefariano alias Mambo

(12)

itu Sigit menjawab, “entar dulu ni nungguin Tio, Ane berangkat nunggu Tio”.

Setelah itu terdakwa Sefariano alias Mambo dan saksi Achmad Taufiq berangkat

menuju Bundaran HI (Hotel Indonesia) dengan menggunakan sepeda motor

Honda Kharisma No. Pol. B 6324 BBQ, dengan posisi terdakwa Sefariano alias

Mambo yang di depan/menyetir motor, sedangkan saksi Achmad Taufiq

dibonceng terdakwa Sefariano alias Mambo sambil membawa tas ransel yang

berisi Bom dengan rute dari kontrakan terdakwa Sefariano alias Mambo di Jl.

Bangka II F Jakarta Selatan melewati Mabes Polri, selanjutnya Sekolah Al Azhar

hingga lampu merah Senayan belok kanan lurus hingga masuk kolong Jembatan

Semanggi. Ketika sudah keluar dari kolong Semanggi dekat dengan Gedung

BRI.Saksi Achmad Taufiq dan terdakwa Sefariano alias Mambo ditangkap oleh

Petugas Kepolisian.

2. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

Dakwaan yang digunakan oleh Jaksa Penuntut Umum terhadap terdakwa

Sefariano alias Mambo adalah sebagai berikut:86

86Dakwaan Jaksa Penuntut Umum pada Putusan dengan Nomor Perkara 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel, hal. 5-24

PERTAMA

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal

15 Jo Pasal 9 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Terorisme.

(13)

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 15

Jo.Pasal 7 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Terorisme.

3. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum

Pada kasus ini Jaksa Penuntut Umum menuntut terdakwa sebagai berikut:87

a. Menyatakan terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo alias Asep alias

Dimasriano terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme

sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam dakwaan pertama melanggar

Pasal 15 Jo. Pasal 9 PERPU Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Terorisme sebagaimana diatur dan dan diancam pidana

dalam dakwaan yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang berdasarkan

UU No. 15 Tahun 2003.

b. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo

alias Asep alias Dimasriano dengan pidana penjara selama 8 (delapan) tahun

dikurangi selama terdakwa menjalani penahanan dengan perintah agar

terdakwa tetap ditahan.

c. Menyatakan Barang Bukti berupa:

1) Barang bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo

alias Asep alias Dimasriano di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat yang

berupa:

a) 1 (satu) buah tas ransel warna hitam merek Alto

(14)

b) 1 (satu) buah multitester warna hitam

c) 1 (satu) buah batere 9 Volt merek HW

d) 1 (satu) buah obeng tespen warna bening dan merah

e) 1 (satu) buah batere AA merek Energizer

f) Potongan kabel warna hijau, biru, putih, dan Merah

g) 2 (dua) buah lakban warna hitam

h) 1 (satu) buah SIM Card Three Nomor 89628-93000 03382 03760

i) 1 (satu) unit sepeda motor merek Honda Kharisma dengan Nomor Polisi B

6324 BBQ

2) Barang Bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo

alias Asep alias Dimasriano di Jl. Bangka II F RT 02 RW 13 Kel. Kemang

Kec. Mampang Jakarta Selatan yang berupa:

a) 1 (satu) buah botol plastic bertuliskan Yuasa ACCU Zuur, berisi cairan

berwarna bening

b) 2 (dua) buah Jerigen Plastik Ukuran satu liter bertuliskan Vajar Setia,

masing-masing berisi cairan warna bening

c) 2 (dua buah) botol plastik bertuliskan Fajar Setia, masing-masing berisi

cairan warna bening

d) 1 (satu) buah botol plastik air mineral merek Club berisi cairan berwarna

bening

e) 2 (dua) buah potongan pipa paralon ukuran kecil, masing-masing terdapat

(15)

f) 4 (empat) buah batere 1,5 Volt merek ABC

g) 1 (satu) buah batere 1,5 Volt merek Alkaline

h) 1 (satu) buah potongan pipa paralon terdapat lubang kecil, salah satunya

ditutup koin logam Rp. 100,- yang terangkai dengan batere 9 Volt Merek

Panasonic

i) 1 (satu) buah multitester berwarna kuning

j) 1 (satu) buah penjepit ACCU yang tersambung dengan bohlam

k) 1 (satu) buah papan kayu berwarna hitam; terdapat delapan buah lubang dan

dua buah baut

l) 3 (tiga) buah penjepit dengan potongan kabel

m) 1 (satu) buah test-pen, gagang berwarna biru muda

n) 1 (satu) buah obeng dengan gagang berwarna kuning

o) 1 (satu) buah mata bor

p) 1 (satu) buah pisau pemotong berwarna biru

q) 1 (satu) buah kikir dengan gagang kayu

r) 1 (satu) buah gergaji besi

s) 1 (satu) buah potongan pipa paralon

t) 1 (satu) buah dinamo

u) 1 (satu) buah alat tembak paku merek Stanley dengan anak pakunya

(16)

w) 1 (satu) buah pipa logam berbentuk elbow/sudut yang tersambung dengan

dua buah kabel berwarna hitam dan hijau berisi serbuk berwarna abu-abu

x) 1 (satu) buah plastic berwarna hitam berisi bongkahan berwarna kuning

berat sekitar 5 kg

y) 1(satu) plastic berisi serbuk berwarna putih dengan berat sekitar 720 gram

z) 3 (tiga) buah tabung dari logam yang masing-masing terhubung dengan

kabel

aa) 1 (satu) buah tas ransel berwarna hitam bertuliskan Monster

bb) 1 (satu) buah tas ransel coklat muda dan hitam merek Polo King

cc) 2 (dua) buah saringan masing-masing warna merah dan hijau terdapat

serbuk berwarna abu-abu kehitaman

dd) 1 (satu) buah wadah plastik dengan tutupnya yang terdapat serbuk berwarna

abu-abu

ee) 1 (satu) buah blender dengan tutup berwarna putih yang masih terdapat

serbuk berwarna abu-abu

ff) 1 (satu) buah wadah plastik dengan tutupnya yang terdapat serbuk berwarna

abu-abu

gg) 1 (satu) buah baskom plastik berwarna abu-abu terdapat serbuk berwarna

abu-abu

hh) 1 (satu) buah buku tulis dengan sampul berwarna hijau

ii) 6 (enam) lembar foto kopi berisi tentang cara pembuatan campuran bahan

(17)

3) Barang bukti yang disita dari saksi Achmad Taufiq alias Ovhie berupa:

a) 1 (satu) buah tas ransel warna cokelat dan merah merek I Joctor

b) Bom rakitan berbentuk lima buah tabung dari logam terdapat saklar on off

yang terangkai dengan kabel berikut dua buah batere

c) 1 (satu) buah flashdisk berwarna merah

Barang bukti tersebut tetap terlampir dalam berkas perkara untuk di

pergunakan dalam perkara lain a.n. Muhammad Saiful Sa’bain aias Saiful alias

Sayew alias Ipul.

4. Putusan Hakim

Dalam perkara pidana dengan Nomor Perkara 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel

di Pengadilan Negeri Klaten setelah melalui proses persidangan dengan

pemeriksaan alat bukti maka Majelis Hakim telah membuat putusan sebagai

berikut:88

1. Menyatakan terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo alias Asep alias

Dimasriano terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan

tindak pidana “Permufakatan Jahat, Secara Melawan Hukum Membawa

Sesuatu Bahan Peledak Atau Bom Untuk Melakukan Tindak Pidana Terorisme”;

(18)

2. Menjatuhkan pidana kepada Sefariano alias Mambo alias Aryo alias Asep

alias Dimasriano oleh karena itu dengan Pidana Penjara selama 7 (tujuh)

tahun dan 6 (enam) bulan;

3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh

Terdakwa, sebelum Putusan ini mempunyai kekuatan hukum yang tetap,

dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan tersebut;

4. Memerintahkan supaya Terdakwa tetap ditahan;

5. Memerintahkan Barang Bukti berupa:

a. Barang bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo

alias Asep alias Dimasriano di Jalan Jenderal Soedirman, Jakarta Pusat yang

berupa:

1) 1 (satu) buah tas ransel warna hitam merek Alto

2) 1 (satu) buah multitester warna hitam

3) 1 (satu) buah batere 9 Volt merek HW

4) 1 (satu) buah obeng tespen warna bening dan merah

5) 1 (satu) buah batere AA merek Energizer

6) Potongan kabel warna hijau, biru, putih, dan Merah

7) 2 (dua) buah lakban warna hitam

(19)

9) 1 (satu) unit sepeda motor merek Honda Kharisma dengan Nomor Polisi B

6324 BBQ

b. Barang bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo

alias Asep alias Dimasriano di Jl. Bangka II RT. 02/ RW. 13 Kelurahan

Kemang Kecamatan Mampang, Jakarta Selatan yang berupa:

1) 1 (satu) buah botol plastic bertuliskan Yuasa ACCU Zuur, berisi cairan

berwarna bening

2) 2 (dua) buah Jerigen Plastik Ukuran satu liter bertuliskan Vajar Setia,

masing-masing berisi cairan warna bening

3) 2 (dua buah) botol plastik bertuliskan Fajar Setia, masing-masing berisi

cairan warna bening

4) 1 (satu) buah botol plastik air mineral merek Club berisi cairan berwarna

bening

5) 2 (dua) buah potongan pipa paralon ukuran kecil, masing-masing terdapat

lubang

6) 4 (empat) buah batere 1,5 Volt merek ABC

7) 1 (satu) buah batere 1,5 Volt merek Alkaline

8) 1 (satu) buah potongan pipa paralon terdapat lubang kecil, salah satunya

ditutup koin logam Rp. 100,- yang terangkai dengan batere 9 Volt Merek

Panasonic

9) 1 (satu) buah multitester berwarna kuning

(20)

11) 1 (satu) buah papan kayu berwarna hitam; terdapat delapan buah lubang dan

dua buah baut

12) 3 (tiga) buah penjepit dengan potongan kabel

13) 1 (satu) buah test-pen, gagang berwarna biru muda

14) 1 (satu) buah obeng dengan gagang berwarna kuning

15) 1 (satu) buah mata bor

16) 1 (satu) buah pisau pemotong berwarna biru

17) 1 (satu) buah kikir dengan gagang kayu

18) 1 (satu) buah gergaji besi

19) 1 (satu) buah potongan pipa paralon

20) 1 (satu) buah dinamo

21) 1 (satu) buah alat tembak paku merek Stanley dengan anak pakunya

22) 1 (satu) buah kompas berwarna hijau tua

23) 1 (satu) buah pipa logam berbentuk elbow/sudut yang tersambung dengan

dua buah kabel berwarna hitam dan hijau berisi serbuk berwarna abu-abu

24) 1 (satu) buah plastic berwarna hitam berisi bongkahan berwarna kuning

berat sekitar 5 kg

25) 1(satu) plastic berisi serbuk berwarna putih dengan berat sekitar 720 gram

26) 3 (tiga) buah tabung dari logam yang masing-masing terhubung dengan

kabel

(21)

28) 1 (satu) buah tas ransel coklat muda dan hitam merek Polo King

29) 2 (dua) buah saringan masing-masing warna merah dan hijau terdapat

serbuk berwarna abu-abu kehitaman

30) 1 (satu) buah wadah plastik dengan tutupnya yang terdapat serbuk berwarna

abu-abu

31) 1 (satu) buah blender dengan tutup berwarna putih yang masih terdapat

serbuk berwarna abu-abu

32) 1 (satu) buah wadah plastik dengan tutupnya yang terdapat serbuk berwarna

abu-abu

33) 1 (satu) buah baskom plastik berwarna abu-abu terdapat serbuk berwarna

abu-abu

34) 1 (satu) buah buku tulis dengan sampul berwarna hijau

35) 6 (enam) lembar foto kopi berisi tentang cara pembuatan campuran bahan

peledak

c. Barang bukti yang disita dari saksi Achmad Taufiq alias Ovhie berupa:

1) 1 (satu) buah tas ransel warna cokelat dan merah merek I Joctor

2) Bom rakitan berbentuk lima buah tabung dari logam terdapat saklar on off

yang terangkai dengan kabel berikut dua buah batere

(22)

Semuanya dikembalikan kepada Penuntut Umum untuk dipergunakan sebagai barang bukti dalam perkara atas nama terdakwa Muhammad Saiful Sa’bani alias Saiful alias Sayev alias Ipul.

6. Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar

Rp. 5000,- (lima ribu Rupiah).

Hakim menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Sefariano alias Mambo

dengan dasar hukum bahwa terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana

sebagaimana diatur dalam Pasal 15 jo. Pasal 9 Peraturan Pemerintah Pengganti

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Terorisme sebagaimana telah ditetapkan menjadi Undang-Undang berdasarkan

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 dan segala ketentuan dalam KUHAP (UU

RI No. 8 Tahun 1981) yang bersangkutan.

C. Pertimbangan Hakim dalam Penjatuhan Pidana

1. Pertimbangan Yuridis

Dalam memutus suatu perkara, pertimbangan yuridis merupakan

pertimbangan dasar bagi Hakim untuk menjatuhkan Putusan.Maksud dari

pertimbangan yuridis adalah pertimbangan Hakim yang bersifat yuridis yang

didasarkan kepada fakta-fakta hukum yang terungkap di dalam persidangan dan

yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang sebagai hal yang harus dimuat di

dalam Putusan.89

Adapun pertimbangan yuridis hakim dalam menjatuhkan putusan pidana

terhadap perkara ini antara lain adalah:

(23)

a. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

Dengan mempertimbangkan dakwaan yang digunakan oleh Jaksa Penuntut

Umum terhadap terdakwa Sefariano alias Mambo yang berisi:90

PERTAMA

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal

15 Jo Pasal 9 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

ATAU KEDUA

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 15

Jo. Pasal 7 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan

Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Maka, berdasarkan pertimbangan Majelis Hakim pada surat dakwaan Jaksa

Penuntut Umum dan berdasarkan fakta-fakta hukum pada persidangan, Majelis

Hakim mengambil kesimpulan bahwa Jaksa Penuntut Umum menyusun surat

dakwaan dalam bentuk alternatif dan memutuskan bahwa dakwaan alternatif

pertama yang lebih tepat didakwakan kepada Terdakwa Sefariano alias Mambo

dan oleh karena itu pula maka Majelis Hakim memilih untuk mempertimbangkan

dakwaan alternatif pertama dan mengesampingkan dakwaan alternatif kedua.

(24)

b. Keterangan Saksi

Dalam persidangan pada Kasus ini, terdapat 5 (lima) orang saksi dan 1

(satu) orang saksi ahli yang mana keseluruhan saksi diajukan oleh pihak Penuntut

Umum.

Keterangan dari saksi-saksi tersebut membenarkan bahwa telah terjadi

sebuah peristiwa pidana yaitu tindak pidana Terorisme yang dilakukan oleh

terdakwa Sefariano alias Mambo dengan dibantu oleh teman-temannya yang

diharidkan sebagai saksi dalam persidangan ini.91

Selain itu Majelis Hakim juga berpendapat bahwa berdasarkan keterangan

saksi-saksi dalam persidangan, maka benar telah terjadi perbuatan pidana sesuai

dengan Dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang dilakukan oleh Terdakwa Sefariano

alias Mambo. Pendapat Majelis Hakim yang berdasarkan keterangan saksi

tersebut mengartikan bahwa keterangan saksi menjadi bahan pertimbangan bagi

Hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap kasus ini, sehingga dapat

disimpulkan bahwa Hakim yakin bahwa benar telah terjadi perbuatan Terorisme

sesuai dengan Dakwaan Jaksa Penuntut Umum atas terdakwa Sefariano alias

Mambo.92

91Keterangan saksi-saksi pada Putusan dengan register perkara No. 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel

(25)

c. Keterangan Terdakwa

Dalam kasus ini, Terdakwa Sefariano alias Mambo membenarkan bahwa ia

telah diperiksa oleh Penyidik dan telah memberikan keterangan pada BAP

Penyidik serta menandatangani dan membenarkan seluruh keterangan pada BAP

tesebut. Terdakwa juga membenarkan bahwa ia pernah merencanakan

pengeboman di Kedutaan Myanmar Jakarta dengan mengajak teman-temannya

yang akan telah dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan ini, menggunakan

bom yang mereka rakit sendiri. Meski pada akhirnya pengeboman itu tak dapat

mereka lakukan karena telah tertangkap.Terdakwa mengakui semua yang telah

dikemukakan oleh para saksi dan tetap menyatakan bahwa tindakan yang

dilakukannya semata untuk berjihad bukan bermaksud melakukan suatu aksi

terorisme.93

a. Barang-barang Bukti

Dalam persidangan terdakwa Sefariano alias Mambo ini telah dihadirkan 9

barang bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo di Jalan Jenderal

Sudirman Jakarta Pusat, 35 barang bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias

Mambo di Jalan Bangka II F RT.02/RW.13 Kelurahan Kemang Kecamatan

Mampang Jakarta Selatan, dan 3 barang bukti yang disita dari saksi Achmad

Taufiq alias Ovhie. Yang mana barang bukti tersebut tetap terlampir dalam berkas

perkara untuk dipergunakan dalam perkara terdakwa lain.94

93Bagian Pertimbangan Hakim pada Keterangan Terdakwa pada Putusan No. 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel, hal. 40-45

(26)

b. Alat Bukti Surat

Alat bukti surat dalam kasus terdakwa Sefariano alias Mambo ini adalah

berupa berita acara persidangan dan laporang keterangan dari laboratorium yang

membenarkan bahwa memang ada zat adiktif yang terkandung dalam perangkat

yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo yang sifatnya adalah zat

peledak.

f. Pasal yangDijadikan Bahan Pertimbangan Hakim

1) Pasal 15jo. Pasal 9 PERPU No. 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Terorismeyang telah ditetapkan menjadi Undang-undang

berdasarkanUU No. 15 Tahun 2003

Jaksa Penuntut Umum dalam tuntutannya, menuntut Terdakwa Sefariano

alias Mambo dengan pidana yang mengacu pada ketentuan Pasal 15 jo. Pasal 9

PERPU No. 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang

berdasarkan UU No. 15 Tahun 2003. Oleh karena itu penjatuhan putusan terhadap

perkara tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh terdakwa Sefariano alias

Mambo ini, hakim dalam pertimbangannya harus mengacu pada rumusan Pasal 15

jo. Pasal 9 PERPU No. 1 Tahun 2002 yang telah disahkan menjadi

Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 tersebut, yang berbunyi:

Setiap orang yang melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana yang sama dengan pelaku tindak pidananya.

Terdakwa Sefariano alias Mambo dalam Perkara Nomor

(27)

bersama teman-temannya untuk melakukan sebuah aksi teror.Sehingga ketentuan

dalam Pasal 15 diatas berlaku bagi terdakwa Sefariano alias Mambo dan tentunya

pasal inilah yang juga menjadi bahan pertimbangan hakim dalam menjatuhkan

putusan terhadap terdakwa Sefariano alias Mambo.

Selanjutnya dapat kita lihat pada Pasal 9 yang berbunyi:

Setiap orang yang secara melawan hukum memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya, atau mempunyai dalam miliknya, menyimpang, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan ke dan/atau dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Berdasarkan ketentuan Pasal 9 diatas itulah yang menjadi bahan

pertimbangan hakim untuk menjatuhkan vonis 8 tahun penjara.

2. Pertimbangan Non Yuridis

a. Hal-hal memberatkan Terdakwa

Menimbang, bahwa sebelum menjatuhkan pidana yang setimpal dengan

kesalahan Terdakwa, Majelis Hakim akan mempertimbangkan adanya hal-hal

sebagai berikut:

1) Perbuatan Terdakwa menghambat program Pemerintah dalam upaya

pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di Indonesia;

2) Terdakwa mengakui terus terang atas perbuatannya tetapi tidak merasa

bersalah, karena perbuatan tersebut dianggap merupakan perbuatan Jihad

(28)

3) Perbuatan Terdakwa meresahkan masyarakat.

b. Hal-hal yang meringankan Terdakwa

Namun demikian disamping itu terdapat juga hal-hal yang dapat

meringankan pidana bagi Terdakwa, antara lain;

1) Terdakwa masih muda dan diharapkan dapat memperbaiki kesalahannya;

2) Terdakwa belum pernah dihukum;

3) Terdakwa bersikap sopan dan mengaku terus terang atas perbuatannya.

D. Analisa Kasus

Pada kasus ini perhatian penulis tertuju pada bagaimana hakim menjatuhkan

putusan yang mana penjatuhan putusan tersebut tentunya tak lepas dari

pertimbangan hakim yang meliputi pertimbangan yuridis maupun non

yuridisnya.Didalam pertimbangan itu hal yang paling utama mempengaruhi

tentunya adalah tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang juga memuat dakwaan dan

fakta-fakta hukum dalam persidangan. Untuk itu penulis akan coba menjabarkan

analisa kasus ini menjadi dua bagian, yaitu:

1. Analisis Dakwaan/Tuntutan

Tuntutan atau Requisitoir adalah kewenangan penuntut umum untuk

mengajukannya setelah pemeriksaan di sidang dinyatakan selasai oleh hakim

ketua sidang atau ketua majelis, dasar hukumnya Pasal 182 ayat (1) huruf a

KUHAP. Dalam buku “Peristilahan hukum dalam praktek” (Kejaksaan

(29)

hukuman jaksa penuntut umum pada pengadilan negeri setelah pemeriksaan

ditutup. 95

Pada Pasal 1 butir 7 KUHAP tercantum definisi penuntutan sebagai

berikut:96

Apabila hakim memandang pemeriksaan sidang sudah selesai, maka ia

mempersilahkan Penuntut Umum membacakan tuntutannya (requisitoir), baru

setelah itu giliran Terdakwa atau Penasehat Hukum Terdakwa untuk membacakan

pembelaannya, yang dapat dijawab oleh Penuntut Umum, dengan ketentuan

Terdakwa atau Penasehat Hukumnya mendapat giliran terakhir.

Penuntutan adalah tindakan Penuntut Umum untuk melimpahkan perkara pidana ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh Hakim di sidang pengadilan.

97

Surat tuntutan (requisitoir) memuat hal-hal mengenai:98

e. Permintaan Jaksa Penuntut Umum pada majelis hakim.

a. Hal tindak pidana yang didakwakan;

b. Fakta-fakta yang diperoleh dalam persidangan;

c. Analisis hukum terhadap fakta-fakta untuk memberikan konstruksi hukum

atas peristiwa yang didakwakan;

d. Pendapat tentang hal terbukti tidaknya dakwaan;

95Leden Marpaung ,Proses Penanganan Perkara Pidana bagian ke-2. Jakarta: Sinar Grafika. 1992. halaman 401

96Pasal 1 butir 7Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana 97Pasal 182 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

(30)

Mengenai huruf a hal tindak pidana yang didakwakan perlu disebut kembali

dalamsurat tuntutan (requisitoir), dalam praktik telah menjadi kebiasaan untuk

memuatnya dengan menyalin kembali seluruh bunyi surat dakwaan. Penyalinan

seluruh bunyi surat dakwaan ditempatkan pada awal surat tuntutan.99

Mengenai huruf b fakta-fakta yang didapat dalam persidangan dimuat

dengan sistematika berdasarkan tata urutan dalam pemeriksaan, yaitu dimulai dari

fakta-fakta keterangan, saksi-saksi dan saksi ahli, keterangan terdakwa, dan

alat-alat bukti. Pencatatan mengenai fakta-fakta harus dilakukan secara benar dan

transparan. Fakta-fakta yang diperoleh dalam persidangan kemudian dianalisis.

Pekerjaan hukum diarahkan pada tiga hal antara lain:100

Surat tuntutan (requisitoir) yang baik adalah surat tuntutan yang

mengandung konstruksi hukum yang objektif, benar, dan jelas. Jelas dalam arti

penggambarannya dan hubungan antara keduanya. Dari kejelasan bentukan

peristiwa dan bentukan hukumnya, maka akan menjadi jelas pula kesimpulan

hukum yang ditarik tentang terbukti atau tidaknya tindak pidana yang

didakwakan, terdakwa dapat dipersalahkan atau tidak, serta apa terdakwa dapat

memikul beban pertanggungjawaban pidana atau tidak dalam peristiwa yang

a. Bentukan konstruksi peristiwa yang sesungguhnya terjadi;

b. Bentukan konstruksi hukumnya dalam peristiwa tersebut;

c. Kesimpulan yang ditarik atas bentukan konstruksi peristiwa dan bentukan

hukumnya.

(31)

terjadi. Kesimpulan yang benar dari sudut hukum yang didukung oleh doktrin

hukum maupun ilmu sosial lainnya dan keadilan merupakan taruhan

keprofesionalan dan kualitas seorang Jaksa Penuntut Umum. Dari kesimpulan

yang ditarik itulah Jaksa Penuntut Umum mengajukan permintaan pada majelis

hakim, baik mengenai kedudukan perkara itu dalam 7 hubungannya dengan tindak

pidana yang didakwakan maupun terhadap terdakwa sendiri mengenai bentuk

pertanggungjawaban pidana yang dimohonkan.101

Jika kita membahas tuntutan, maka tentunya tak lepas dari surat dakwaan.

Peranan surat dakwaan salah satunya adalah sebagai dasar tuntutan pidana

(requisitoir). Kalau dalam tuntutan perdata disebut surat gugatan, maka dalam

perkara pidana disebut surat dakwaan, keduanya mempunyai persamaan, karena

dengan itulah hakim melakukan pemeriksaan dan hanya dalam batas-batas dalam

surat gugatan/dakwaan itulah hakim akan memutuskan. Di samping itu, ada

perbedaan asasi, yaitu kalau surat gugatan disusun oleh pihak yang dirugikan,

maka dalam pembuatan surat dakwaan, penuntut umum (Jaksa) tidak tergantung

pada kemauan korban (kecuali dalam delik aduan).102

Dakwaan merupakan dasar penting hukum acara pidana karena berdasarkan

hal yang dimuat dalam surat itu hakim akan memeriksa perkara itu. Pemeriksaan

didasarkan kepada surat dakwaan dan menurut Nederburg, pemeriksaan tidak

101Adami Chazawi, Loc. Cit.

(32)

batal jika batas dilampaui, namun putusan hakim hanya boleh mengenai

peristiwa-peristiwa yang terletak dalam batas itu.103

Dalam KUHAP perihal dakwaan ini dimuat dalam Pasal 143 ayat (2)

KUHAP menentukan syarat surat dakwaan dibuat oleh Penuntut Umum dengan

diberi tanggal dan ditandatangani serta berisi dua hal penting yaitu:104

a. Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin,

kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan tersangka;

b. Uraian secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak pidana yang

didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu

dilakukan.

Bentuk surat dakwaan sendiri dapat disusun secara tunggal, kumulatif,

alternatif, ataupun subsidair. Seorang atau lebih Terdakwa mungkin melakukan

satu macam perbuatan saja, misalnya pencurian (biasa) Pasal 362 KUHP. Dalam

hal seperti itu, dakwaan bisa disusun secara tunggal, yaitu pencurian biasa.

Namun sering pula seorang atau lebih Terdakwa melakukan lebih dari satu

perbuatan (delik), misalnya di samping ia (mereka) melakukan perbuatan

pencurian (biasa), membawa pula senjata api tanpa izin dari yang berwajib. Dalam

hal ini Terdakwa akan didakwa dengan dua macam perbuatan (delik) sekaligus,

yaitu pencurian (biasa) dan membawa senjata api tanpa izin dari pihak yang

berwajib. Dengan demikian, maka dakwaan akan disusun sebagai dakwaan

kumulatif I, II, III, dan seterusnya. Selain itu apabila suatu dakwaan disusun

(33)

secara kumulatif, maka tiap perbuatan (delik) itu harus dibuktikan

tersendiri-sendiri pula, walaupun pidananya disesuaikan dengan peraturan tentang delik

gabungan (samenloop) dalam Pasal 63 sampai dengan Pasal 71 KUHP.105

Sedangkan dakwaan alternatif dibuat dalam dua hal menurut van Bammelen,

yaitu:106

1. Jika penuntut umum tidak mengetahui perbuatan mana apakah yang satu

ataukah yang lain akan terbukti nanti dipersidangkan (suatu perbuatan

apakah merupakan pencurian ataukah penadahan).

2. Jika Penuntut Umum ragu, peraturan hukum pidana yang mana yang akan

diterapkan oleh Hakim atas perbuatan yang menurut pertimbangannya telah

nyata tersebut.

Selain itu surat dakwaan dapat juga dibuat dengan bentuk kombinasi yang

dibuat agar terdakwa tidak lepas dari dakwaan dengan dilatarbelakangi oleh

kompleksnya masalah dari perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa. Dakwaan

kombinasi ini bisa berbentuk komulasi sibsidair, komulasi alternatif, dan subsidair

alternatif.107

Dalam kasus yang putusannya menjadi objek kajian pada penulisan skripsi

ini, surat dakwaannya disusun dengan metode alternatif. Hal tersebut boleh jadi

dikarenakan Jaksa Penuntut Umum masih ragu terhadap pasal apa yang dapat

didakwakan kepada Terdakwa. Sehingga ketika dalam proses persidangan nanti,

105Andi Hamzah, SH, op. cit., hal. 188-189 106Andi Hamzah, SH, loc. Cit.

(34)

jika dakwaan pasal pertama tidak terbukti, maka masih bisa diperiksa apakah

pasal keduanya dapat dibuktikan benar telah dilakukan oleh Terdakwa.

Kembali pada tuntutan, Jaksa Penuntut Umum dalam Tuntutannya di kasus

ini menyatakan bahwa Terdakwa Sefariano alias Mambo terbukti bersalah

melakukan tindak pidana dalam dakwaan pertama yaitu melanggar Pasal 15 Jo.

Pasal 9 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, sebagaimana diatur dan di

ancam pidana dalam dakwaan pertama yang telah ditetapkan menjadi

undang-undang berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003.108

a. Penyertaan, sebab Terdakwa Sefariano alias Mambo melakukan tindak

pidana tersebut bersama teman-temannya;

Pertanyaan besarnya kini adalah, apakah pasal yang diajukan dalam

Tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum sudah tepat?Padahal, ada beberapa jenis

perbuatan pidana yang dilakukan oleh Terdakwa Sefariano alias Mambo. Antara

lain;

b. Percobaan, sebab aksi mereka belum berhasil karena sudah tertangkap lebih

dahulu oleh pihak yang berwajib; dan

c. Pembantuan, sebab Terdakwa Sefariano alias Mambo saling bantu

membantu bersama teman-temannya untuk melancarkan aksi terorisme

dengan bom tersebut.

(35)

Ada 3 (tiga) jenis perbuatan pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa

namun Jaksa Penuntut Umum hanya menuntut dengan pidana dalam satu pasal

saja.Sedangkan dalam KUHP tiga jenis perbuatan itu memiliki ketentuan pidana

yang berbeda. Penyertaan yang diatur dalam Pasal 55, Percobaan diatur dalam

Pasal 53, dan Pembantuan diatur dalam Pasal 57 yang mana sanksi pidananya

adalah pidana pokok dikurangi sepertiga.

Namun, pemilihan pasal tersebut oleh Jaksa Penuntut Umum sudah

tepat.Sebab, Pasal 15 tersebut sudah memuat 3 jenis perbuatan pidana yang

dilakukan oleh Terdakwa Sefariano alias Mambo.

Terdakwa Sefariano alias Mambo memang telah melakukan permufakatan

jahat bersama dengan teman-temannya untuk melakukan percobaan dan

pembantuan tindak pidana terorisme sesuai pasal 15 dan juga telah membuat

bahan peledak dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme sesuai

dengan pasal 9.

Selanjutnya dalam tuntutannya, Jaksa Penuntut Umum meminta agar

Terdakwa Sefariano alias Mambo dijatuhkan pidana penjara selama 8 (delapan)

tahun dikurangi selama Terdakwa menjalani penahanan. Hal ini sah saja, sebab

menurut ketentuan dalam Pasal 9, sanksi pidana yang dapat dijatuhkan atas tindak

pidana tersebut adalah pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling

lama 20 (dua puluh) tahun. Artinya 8 (delapan) tahun masih merupakan waktu

yang tepat karena masih dalam rentang waktu antara 3 (tiga) sampai dengan 20

(36)

2. Analisis Putusan

Setiap keputusan Hakim merupakan salah satu dari tiga kemungkinan:109

a. Pemidanaan atau penjatuhan pidana dan/atau tata tertib;

b. Putusan bebas;

c. Putusan lepas dari segala tuntutan hukum.

Pada putusan ini Hakim telah menjatuhkan Putusan dalam Perkara dengan

Nomor 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel yang mana di dalam Putusan tersebut

Hakim memutuskan untuk menghukum terdakwa Sefariano alias Mambo dengan

Pidana Penjara selama 8 (delapan) tahun karena telah melanggar ketentuan Pasal

15 jo. Pasal 9 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun

2002 yang disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang

Pemerantasan Tindak Pidana Terorisme.

Putusan ini dijatuhkan oleh Majelis Hakim dengan dasar surat Tuntutan dan

surat Dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum serta berdasarkan fakta-fakta yang

diajukan dalam Persidangan atas nama Terdakwa Sefariano alias Mambo. Majelis

Hakim berpendapat bahwa dakwaan alternatif pertama adalah dakwaan yang lebih

tepat didakwakan kepada Terdakwa Sefariano alias Mambo. Oleh karena itu pula

maka Majelis Hakim memilih untuk mempertimbangkan dakwaan alternatif

pertama dan mengesampingkan dakwaan alternatif kedua.

Dalam surat Dakwaan alternatif pertama, Terdakwa Sefariano alias Mambo

didakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dengan

(37)

pidana pada Pasal 15 Jo. Pasal 9 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 2002 yang telah disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 15

Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang berbunyi;

Pasal 15

Setiap orang yang melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan untuk melakukan tindak Pidana Terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidananya.

Juncto Pasal 9

Setiap orang yang secara melawan hukum memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, dan mengeluarkan ke dan/atau dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Sebelum membuktikan apakah tindakan Terdakwa memenuhi unsur-unsur

dalam kedua pasal tersebut, marilah terlebih dahulu melihat mengenani

fakta-fakta hukum dalam persidangan yang mana tentunya menjadi petunjuk dan bahan

pertimbangan bagi Majelis Hakim dalam menjatuhkan Putusan. Adapun

fakta-fakta hukum yang ada dalam persidangan itu antara lain:110

(38)

1. Keterangan Saksi

Usaha untuk mencari titik terang terhadap dugaan telah terjadinya suatu

tindak pidana maka diperlukan bukti yang mendukung bahwa memang telah

terjadi tindak pidana tersebut. Adapun bukti yang dimaksudkan disini adalah bukti

yang berhubungan langsung maupun tidak langsung terhadap tindak pidana yang

terjadi. Untuk bukti yang bersifat langsung diantaranya adalah dengan adanya

korban yang jelas-jelas dirugikan baik kerugian jasmani maupun kerugian rohani

yang dideritanya, sedangkan adanya saksi yang melihat, mengetahui atau

mendengar sendiri telah terjadinya tindak pidana.111

Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan

penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia

dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.112

Pada umumnya, semua orang dapat menjadi saksi. Pengecualian menjadi

saksi tercantum dalam Pasal 168 KUHAP:113

c. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis keturunan lurus ke atas atau ke

bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai

terdakwa;

d. Saudara dari Terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara

ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena

perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga;

111R. Soesilo, Hukum Acara Pidana (Prosedur Penyelasaian Perkara Pidana Menurut

KUHAP bagi penegak hukum), (Bogor:Politea, 1982), hal.54

(39)

e. Suami atau isteri Terdakwa maupun sudah bercerai atau yang bersama-sama

sebagai Terdakwa.

Saksi ada beberapa macam yang karena syaratnya maka dapat digolongkan

sebagai berikut:114

a. Saksi yang memberatkan (saksi A Charge)

Saksi ini merupakan saksi yang memberatkan tersangka, dimana

keterangannya menguatkan tersangka melakukan tindak pidana yang sedang

diperiksa. Saksi yang memberatkan ini biasanya diajukan oleh jaksa penuntut

umum dan dicantumkan dalam surat dakwaannya, hal ini dilakukan oleh jaksa

penuntut umum karena dalam persidangan dia harus dapat membuktikan akan

segala sesuatu hal yang ia tuntut dari si pelaku tindak pidana tersebut sehingga

dalam melaksanakan tugasnya sebagai penuntut umum dipersidangan ia harus

mampu meyakinkan hakim dengan bukti-bukti yang kuat bahwa benar telah

terjadi peristiwa yang merugikan korban. Adapun saksi utama yang memberatkan

yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum ini dapat saja saksi berperan penting

bagi jaksa penuntut umum dalam membuktikan dakwaannya terhadap terdakwa.

b. Saksi yang meringankan (A de Charge)

Saksi yang meringankan bagi tersangka, atau saksi yang tidak menguatkan

bahwa tersangka itu melakukan tindak pidana. Saksi yang meringankan ini

biasanya diajukan oleh terdakwa (tersangka) atau penasehat hukum pada waktu

sidang pengadilan. Pasal 65 KUHP mengatakan : “ Tersangka atau terdakwa

berhak mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau seorang yang memiliki

(40)

keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan baginya”.

Saksi a decharge dapat diajukan oleh tersangka pada penyidikan. Penuntut umum

boleh mengajukan keberatan terhadap saksi-saksi a de charge yang diajukan

dipersidangan dengan mengajukankeberatan terhadap saksi-saksi a de charge yang

diajukan dipersidangan dengan menyebutkan alasan-alasannya. Hakim dalam hal

pegajuan saksi ini sangat berperan, dimana dia harus dapat menentukan

saksi-saksi mana yang diperbolehkan untuk memberikan keterangan dipersidangan,

seperti yang telah diatur dalam KUHP mulai pasal 159-179 tentang saksi.

c. Saksi Ahli

Pasal 1 butir 28 KUHP, bahwa keterangan ahli adalah keterangan yang

diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang

diperlukan untuk membuat terang suati perkara pidana guna kepentingan

pemeriksaan. Mengenai keterangan ahli ini diatur dalam KUHP pada Pasal 184

ayat (1) butir b dan keterangan ahli ini merupakan alat bukti tersendiri dalam

hukum acara pidana. Keterangan ahli di dalam praktek di persidangan dapat

diberikan secara langsung maksudnya ahli yang bersangkutan secara langsung

memberikan keterangan dipersidangan atas permintaan hakim atau jaksa penuntut

umum.

d. Saksi Mahkota

Definisi otentik dalam KUHAP mengenai saksi mahkota (kroon getuide)

memang tidak pernah ada, namun berdasarkan perspektif empirik maka saksi

mahkota didefinisikan sebagai saksi yang berasal atau diambil dari salah seorang

(41)

dan dalam hal mana kepada saksi tersebut diberikan mahkota. Adapun mahkota

yang diberikan kepada saksi yang berstatus terdakwa tersebut adalah dalam

bentuk ditiadakan penuntutan terhadap perkaranya atau diberikannya suatu

tuntutan yang sangat ringan apabila perkaranya dilimpahkan ke pengadilan atau

dimaafkan atas kesalahan yang pernah dilakukan.bahwa yang dimaksud dengan

saksi mahkota adalah kesaksian sesama terdakwa, yang biasanya terjadi dalam

peristiwa penyertaan.

Adapun dalam kasus ini dihadirkan 3 (tiga) orang saksi mahkota, 2 (dua)

orang saksi yang memberatkan, dan 1 (satu) orang saksi ahli yang merupakan

seorang ahli dalam bidang balistik forensik.

2. Keterangan Terdakwa

Keterangan terdakwa merupakan alat bukti yang sah dalam

persidangan.115Dalam keterangan terdakwa dimungkinkan adanya pengakuan

seorang terdakwa. Pengakuan terdakwa dulu merupakan target utama, sehingga

dalam praktek pemeriksaan pendahuluan (sekarang pemeriksaan penyidikan)

sering terjadi penekanan secara fisik dan psikis untuk mendapatkan pengakuan

tersangka. Pengakuan terdakwa dianggap sebagai raja dari segala bukti dengan

alasan siapa yang paling tahu suatu perbuatan pidana adalah diri terdakwa

sendiri.116

Mengenai keterangan terdakwa ini sebenarnya ada diatur dalam Pasal 189

KUHAP. Dalam pasal tersebut disebutkan pada Ayat (1) bahwa keterangan

115Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

116Sri Gunting, Sistem Pembuktian Dalam Hukum Pidana, dalam https://jurnalsrigunting.wordpress.com/2012/12/22/sistem-pembuktian-dalam-hukum-pidana/

(42)

terdakwa ialah apa yang terdakwa apa yang terdakwa nyatakan di persidangan

tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami

sendiri.117

Keterangan terdakwa dapat dibedakan menjadi dua.Yaitu yang pertama,

yang diberikan terdakwa di dalam persidangan dan yang kedua, keterangan yang

diberikan oleh terdakwa di luar persidangan.118

3. Barang Bukti

Dalam persidangan pada kasus ini, Terdakwa Sefariano alias Mambo

mengakui perbuatannya didalam persidangan dan menyatakan merasa menyesal

serta membenarkan segala barang bukti yang diajukan di persidangan.

Barang bukti merupakan penunjang alat bukti yang mana mempunyai

kedudukan yang sangat penting dalam suatu perkara pidana. Tetapi kehadiran

suatu barang bukti tidak mutlak dalam suatu perkara pidana, karena ada beberapa

tindak pidana yang dalam proses pembuktiannya tidak memerlukan barang bukti,

seperti tindak pidana penghinaan secara lisan.119

1) Benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian

diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana; Sementara dalam KUHAP tidak ada disebutkan secara jelas apa yang

dimaksud dengan barang bukti. Namun dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP

menyebutkan mengenai apa saja yang dapat disita, yaitu meliputi:

117 Pasal 189 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana 118Pasal 189 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

(43)

2) Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak

pidana atau untuk mempersiapkannya;

3) Benda yang digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak

pidana;

4) Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan untuk melakukan tindak

pidana;

5) Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang

dilakukan.

Adapun dalam kasus ini terdapat 9 (Sembilan) barang bukti yang disita dari

Terdakwa Sefariano alias Mambo di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta Pusat, 35

(tiga puluh lima) barang bukti yang disita dari Terdakwa Sefariano alias Mambo

di Jalan Bangka II F Kecamatan Mampang Jakarta Selatan, dan 3 (tiga) barang

bukti yang disita dari saksi Achmad Taufiq alias Ovhie. Yang mana berkas

perkara tersebut tetap terlampir dalam berkas perkara untuk dipergunakan dalam

perkara terdakwa lain.

4. Alat Bukti Surat

Alat bukti surat merupakan alat bukti yang dipergunakan sebagai bahan

pertimbangan hakim yang menurut KUHAP merupakan alat bukti yang sah.

Dimana alat bukti tersebut bisa berupa keterangan ahli, surat, petunjuk, dan

keterangan terdakwa.120

120Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

(44)

yang menyebutkan beberapa jenis surat yang ada dalam hukum acara pidana.

Antara lain yaitu:121

1) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat

umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya. Yang memuat

keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang

dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang

keterangan itu;

2) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau

surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata

laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan diperuntukkan bagi

pembuktian sesuatu hal atau suatu keadaan;

3) Surat dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya

mengenai suatu hal atau suatu keadaan yang diminta secara resmi darinya;

4) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari

alat pembuktian lain.

Adapun alat bukti surat dalam kasus ini adalah berupa berita acara

persidangan dan laporan hasil penelitian dari laboratorium balistik forensik yang

membenarkan adanya zat adiktif bahan peledak yang terkandung dalam perangkat

yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo dan teman-temannya.

Berdasarkan semua fakta hukum yang ada, maka dapat dikaitkan dengan

pasal yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum kepada Terdakwa Sefariano alias

(45)

Mambo yang sebelumnya sudah diuraikan. Menurut kedua pasal tersebut, segala

tindakan terdakwa terbukti memenuhi unsur-unsur sebagai berikut;

1. Unsur Setiap Orang

Unsur setiap orang merupakan pengertian untuk subjek hukum secara

perorangan (persoonlijk) maupun kelompok dan di beberapa Undang-Undang

seperti Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi122 dan Undang-Undang Tindak

Pidana Pencucian Uang123

Selain itu juga dalam putusan

juga menyebutkan korporasi sebagai subjek hukum.

Dalam kasus ini tentunya subjek hukumnya adalah seseorang yang

bertanggungjawab atas identitasnya sebagaimana dalam dakwaan Jaksa Penuntut

Umum.Berdasarkan keterangan dari Terdakwa, saksi-saksi di Persidangan serta

telah dihubungkan juga dengan barang bukti yang diajukan dimuka persidangan

terbukti bahwa identitas Terdakwa tidak dapat disangkal lagi

kebenarannya.Sehingga tidak mungkin terjadi sebuah keadaan dimana terdapat

kesalahan dalam penangkapan orang atau yang biasa disebut dengan error in

persona.

124

122Pasal 1, Pasal 2, dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

123

Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

124Bagian Pertimbangan Hakim pada Putusan No. 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel, hal 49-50

pada kasus ini dikatakan bahwa yang

dimaksud setiap orang adalah merujuk pada pelaku suatu tindak pidana atau

subjek hukumnya atau orangnya, yaitu orang yang diajukan ke muka persidangan

oleh Penuntut Umum karena adanya dakwaan atas dirinya dan dalam perkara ini

(46)

yang mana setelah identitas lengkapnya ditanyakan dipersidangan oleh Hakim

Ketua Majelis sama dengan identitas terdakwa dalam surat dakwaan Penuntut

Umum. Selain itu terdakwa tersebut adalah sehat jasmani dan rohani serta dapat

dipertanggungjawabkan sebagai subjek hukum pidana Indonesia atas

perbuatannya, dan atas diri Terdakwa di Persidangan tidak ditemukan adanya

hal-hal yang dapat menghapuskan pidana baik alasan pembenar maupun alasan

pemaaf dan alasan penghapus penuntutan.

Maka berdasarkan fakta-fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur

setiap orang telah terpenuhi.

2. Unsur Melakukan Permufakatan Jahat, Percobaan, atau Pembantuan untuk

melakukan Tindak Pidana Terorisme

Meski pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 jo. Peraturan

Pemerintah Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberatasan Tindak Pidana Teorisme

belum ada diatur mengenai klasifikasi maupun definisi mengenai permufakatan

jahat ini, namun kita dapat mengacu pada KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum

Pidana) dimana dalam Pasal 88 nya dikatakan bahwa permufakatan jahat terjadi

apabila dua orang atau lebih telah sepakat akan melakukan kejahatan.125

Uraian seperti terdapat pada Pasal 88 KUHP tersebut sesuai dengan kasus

ini dimana Terdakwa Sefariano alias Mambo melakukan kejahatan tersebut

bersama-sama dengan teman-teman lainnya, antara lain Saksi Sigit Indrajid,

Achmad Taufiq, Rokhadi, Sefa, Muhammad Sa’bani dan Syafi’i yang dengan

kesadaran penuh mengikuti latihan pembuatan bom di rumah nenek Sigit Indarjid

(47)

di Desa Babakan, Muncul, Serpong, Tangerang untuk selanjutnya merangkai bom

lalu membawa bom yang telah dirangkai tersebut. Maka berdasarkan fakta

tersebut unsur melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan untuk

melakukan tindak pidana terorisme terbukti.126

3. Unsur Melakukan Tindak Pidana Terorisme sebagai mana dimaksud dalam

Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12

Didalam unsur ini dapat kita lihat selanjutnya pada Pasal 9 yang dikaitkan

dengan Pasal 15 yang mana memiliki unsur-unsur sebagai berikut;

a. Unsur setiap orang

Yang sudah diuraikan seperti diatas.

b. Unsur yang melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan

untuk melakukan tindak pidana terorisme

yang sudah juga diuraikan diatas.

c. Unsur secara melawan hukum memasukan ke indonesia, membuat,

menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba

menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya, atau

mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan,

mempergunakan, atau mengeluarkan ke dan/atau dari indonesia sesuatu

senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya

yang berbahaya

Dalam Putusan pada kasus ini dikatakan sebagai berikut:127

(48)

Yang dimaksud dengan melawan hukum artinya melanggar suatu ketentuan

Undang-Undang atau bertentangan dengan Undang-Undang.

Unsur ini menguraikan beberapa pilihan perbuatan, yang diberi tanda koma

(,) yang sifat pembuktiannya adalah alternative, sehingga apabila salah satu saja

dari beberapa perbuatan tersebut telah terbukti, maka unsur ini dianggap telah

terbukti menurut hukum, dan unsur yang lain tidak perlu dibuktikan lagi.

Berdasarkan keterangan Saksi Achmad Taufiq, Saksi Sigit Indrajid, Saksi

Rokhadi, Saksi Heru Bambang Budi S., Saksi Komang Dwijayanom, dan

keterangan Terdakwa Sefariano alias Mambo serta adanya barang bukti yang

diajukan dipersidangan:

1) Bahwa pada hari Kamis tanggal 2 Mei 2013 sekira jam 20.00 WIB

Terdakwa Sefariano alias Mambo dan Saksi Achmad Taufiq memasukan 5

(lima) buah bom tersebut ke dalam tas ransel, lalu terdakwa Sefariano alias

Mambo menghubungi Sigit sambil mengatakan, “ni Ane sudah siap

berangkat” dan saat itu Sigit menjawab, “Entar dulu ni nungguin Tio, Ane berangkat nunggu Tio”, setelah itu Terdakwa Sefariano alias Mambo dan Saksi Achmad Taufiq berangkat menuju Bundaran HI (Hotel Indonesia)

dengan menggunakan sepeda motor Honda Kharisma dengan nomor Polisi

B 6324 BBQ, dengan posisi Terdakwa Sefariano alias Mambo yang di

depan/menyetir motor tersebut, sedangkan Saksi Achmad Taufiq dibonceng

oleh Terdakwa Sefariano alias Mambo sambil membawa tas ransel yang

berisi bom dengan rute dari kontrakan Terdakwa Sefariano alias Mambo di

(49)

Azhar hingga lampu merah Senayan, belok kanan lurus hingga masuk

kolong Jembatan Semaggi, ketika sudah keluar dari kolong Semanggi dekat

dengan Gedung BRI, Saksi Achmad Taufiq dan Terdakwa Sefariano alias

Mambo ditangkap oleh Petugas Kepolisian;

2) Bahwa perbuatan Terdakwa bersama-sama dengan Saksi Achmad Taufiq,

Sigit Indrajid, Rokhadi, Muhammad Saiful Sa’bani, dan Syafi’I mengikuti

latihan pembuatan atau merakit bom di rumah nenek Sigit Indrajid di Desa

Babakan, Muncul, Serpong, Tangerang, dan membawa bahan-bahan bom ke

rumah kontrakan Terdakwa Sefariano alias Mambo di Jalan Bangka Jakarta

Selatan, setelah itu Terdakwa Sefariano alias Mambo, Saksi Achmad Taufiq

, dan Saksi Sigit Indrajid membuat bahan bom dengan cara bersama-sama,

selanjutnya merangkai dan membawa bom yang telah dirangkai tersebut,

kemudian tanggal 2 Mei 2013 jam 20.00 WIB terdakwa sefariano alias

Mambo dan saksi Achmad Taufiq menggunakan sepeda motor Honda

Kharisma dengan nomor Polisi B 6324 BBQ, dengan posisi Terdakwa

Sefariano yang di depan/menyetir motor dan Saksi Achmad Taufiq

dibonceng oleh Terdakwa Sefariano alias Mambo berangkat menuju

Bundaran HI yang mana ketika sudah keluar dari kolong Semanggi dekat

Gedung BRI, tertangkap oleh Petugas Kepolisian.

3) Bahwa benar Terdakwa ikut pelatihan untuk membuat atau merakit bom dan

membawa bom bersama Saksi Achmad Taufiq tersebut tidak ada izin dari

(50)

merupakan perbuatan yang melanggar Undang-Undang atau bertentangan

dengan Undang-Undang.

Oleh karena fakta-fakta yang telah diuraikan tersebut maka dapat

disimpulkan bahwa unsur secara melawan hukum, membuat, menguasai,

membawa, sesuatu bahan peledak, dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya telah

terpenuhi.

d. Unsur Dengan Maksud untuk Melakukan Tindak Pidana Terorisme

Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan Saksi Achmad Taufiq, Sigit

Indradjid, Rokhadi, dan Saksi Heru Bambang Budi S., Komang Wijayanom,

beserta keterangan Ahli Jakaria Sembiring, S.Si dan keterangan Terdakwa

Sefariano alias Mambo serta adanya barang bukti yang diajukan dipersidangan:

1) Bahwa latihan untuk membuat dan merangkai bom serta membawa bom

dalam tas ransel yang dilakukan oleh Terdakwa Sefariano alias Mambo

bersama dengan Saksi Achmad Taufiq tersebut adalah untuk persiapan atau

permulaan melakukan tindak pidana terorisme, yaitu dimaksudkan bom

tersebut akan diledakkan di Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta untuk

menimbulkan kekacauan dan menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka

terhadap orang lain sebagai solidaritas terhadap sesame umat Muslim

Rohingya di Myanmar.

2) Selain itu Terdakwa mengetahui dan menyadari bahwa akibat dari

penggunaan bom tersebut dapat menciptakan suasana ketakutan dan

Referensi

Dokumen terkait

Pengulangan tindak pidana oleh klien pemasyarakatan (Studi Kasus Balai Pemasyarakatan Klas I Jakarta Pusat). Dikutip pada http://eprints.lib.ui.ac.id/. Diakses pada hari

Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana pemalsuan bilyet deposito dalam perkara Putusan Nomor: 1343/Pid/Sus/204/PN-Tjk adalah terdakwa melakukan perbuatan

mati bagi pelaku tindak pidana korupsi adalah dalam penjatuhan putusan hakim itu apakah harus dijatuhkan pidana mati atau dijatuhkan sanksi pidana lain, karena hakim dalam

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak

memakai teori keadilan bermartabat dalam sanksi pidana terhadap pelaku. tindak pidana terorisme pada

Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana upaya pemidanaan bagi pelaku tindak pidana terorisme dalam hukum pidana Islam dan Undang- Undang

Jadi dalam penerapannya penjatuhan sanksi anak yang melakukan tindak pidana narkotika hakim dalam memberikan putusan tetap mengacu pada UU No.3 Tahun 1997 tentang

huruf a, belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun melakukan tindak pidana yang diancam pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka terhadap Anak Nakal tersebut hanya