DAFTAR PUSTAKA
Buku
Abdurrahman Pribadi dan Abdu Rayyan. 2009. Membongkar Jaringan Terorisme. Jakarta: Abdika Press
Afiah, Ratna Nurul. 1989. Barang Bukti dalam Proses Pidana. Jakarta: Sinar Grafika
Beres, Louis Rene. 1987. Terrorismand Global Security The Nuclear Threat. London: Westview Press, Inc.
Chazawi, Adami. 2005. Kemahiran dan Keterampilan Praktik Hukum Pidana. Malang: Bayumedia
Djari, Marthen Luther. 2013. Terorisme dan TNI. Jakarta: CMB Press
Effendi, Mahsryur. 2007. HAM dalam Dimensi/Dinamika Yuridis, Sosial, Politik, dan Proses Penyusunan/Aplikasi Ha-Kham (Hukum Hak Asasi Manusia) dalam masyarakat. Bogor: Ghalia Indonesia
Ekaputra, Mohammad. 2015. Dasar-Dasar Hukum Pidana Edisi 2. Medan: USU Press
Golose, Petrus Reinhard. 2009. Deradikalisasi Terorisme. Jakarta: YPKIP
____________________. 2015. Invasi Terorisme ke Cyberspace. Jakarta: YPKIK Gunawan, Budi. 2006. Terorisme, Mitos, dan Konspirasi. Jakarta: Forum Media
Utama Rinakit, Sukardi. 2013. Meneropong Indonesia 2020. Jakarta: Perpustakaan Nasional
Hakim, Luqman. 2004. Terorisme di Indonesia. Surakarta: FSIS
Hamzah, Andi.1996. Hukum Acara Pidana Indonesia. Jakarta: CV. Sapta Artha Jaya
Hendropriyono, A.M. 2009. Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam. Jakarta: Buku Kompas
Manulang, A.C. 2001.Menguak Tabu Intelijen: Teror, Motif, dan Rezim. Jakarta: CMB Press
Marpaung, Leden. 1992. Proses Penanganan Perkara Pidana bagian Ke-2. Jakarta: Sinar Grafika
_______________. 2009. Asas-Teori-Praktek Hukum Pidan. Jakarta: Sinar Grafika
Mertokusumo, Sudikno. 1996. Mengenal Hukum, Suatu Pengantar. Yogyakarta: Liberty
Muladi. 2002. Demokrasi, HAM, dan Reformasi Hukum di Indonesia. Jakarta: Habibie Center
Muladi dan Barda Nawawi. 1992. Bunga Rampai Hukum Pidana. Bandung: Alumni
Muzadi, K.H.A. Hasyim. 2004. Kejahatan Terorisme Prespektif Agama, HAM, dan Hukum. Bandung: PT Refika Aditama
Priyanto, Dwidja. 2009. Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara di Indonesia. Bandung: PT Rafika Aditama
Prodjodikoro, Wiryono. 1977.Hukum Acara Pidana. Bandung: Sumur S, Adjie. 2005. Terorisme. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Soesilo, R. 1982. Hukum Acara Pidana (Prosedur Penyelasaian Perkara Pidana Menurut KUHAP bagi penegak hukum). Bogor:Politea
Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah. 2005. Politik Hukum Pidana (Kajian Kebijakan Kriminalisasi dan Dekriminalisasi). Jakarta: Pustaka Pelajar
Perundang-undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946)
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981)
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pengesahan PERPU Nomor 1 Tahun 2002
Undang-Undang No. 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention of The Suppression of The Financing of Terrorism 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1999)
Undang-Undang No. 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2014 tentang Pengesahan International Convention for The Suppression of Acts of Nuclear Terrorism (Konvensi Internasional Penanggulangan Tindakan Terorisme Nuklir)
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme
Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2002 tentang Penanganan Masalah Terorisme
Website
Repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/4748/1/09E01948.pdf
Jurnal
Kusumah, Mulyana W. Terorisme dalam Prespektif Politik dan Hukum. Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI
Nitibaskara, Tb. Ronny R. Terorisme Sebagai Kejahatan Penuh Wajah : Suatu Tinjauan Kriminologis dan Hukum Pidana. Jurnal Kriminologi Indonesia
Bahan Kuliah
Khair, Abul. 2010. Bahan Kuliah Hukum Acara Pidana. Medan: Fakultas Hukum USU
Media Massa
Koran Kompas, 26 Mei 2011 Koran Kompas, 20 Juli 2011 Koran Kompas 27 Juli 2009
BAB III
PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANATERORISME (STUDI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI
JAKARTA SELATAN Nomor : 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel)
A. Teori-teori yang Melatarbelakangi Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Pidana
Teori yang melatarbelakangi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan suatu
sanksi pidana tentunya tidak lain adalah teori pemidanaan. Dimana teori-teori
pemidanaan ini berkembang mengikuti dinamika kehidupan masyarakat sebagai
reaksi dari timbul dan berkembangnya kejahatan itu sendiri yang senantiasa
mewarnai kehidupan sosial masyarakat dari masa ke masa. Dalam dunia ilmu
hukum pidana itu sendiri, berkembang beberapa teori tentang tujuan pemidanaan,
yaitu teori absolut (retributive), teori relatif (deterrence/utilitarian), teori
penggabungan (integrative), teori treatment, dan teori perlindungan sosial (social
defence). Teori-teori pemidaan inilah yang menjadi bahan pertimbangan hakim untuk mempertimbangkan berbagai aspek sasaran yang hendak dicapai di dalam
penjatuhan pidana.78
Teori absolut (teori retributif), memandang bahwa pemidanaan merupakan
pembalasan atas kesalahan yang telah dilakukan, jadi berorientasi pada perbuatan
dan terletak pada kejahatan itu sendiri. Pemidanaan diberikan karena si pelaku
harus menerima sanksi itu demi kesalahannya. Menurut teori ini, dasar hukuman
harus dicari dari kejahatan itu sendiri, karena kejahatan itu telah menimbulkan
penderitaan bagi orang lain, sebagai imbalannya (vergelding) si pelaku harus
diberi penderitaan.79
Ciri pokok atau karakteristik teori retributif, yaitu:80
Selanjutnya teori relatif (deterrence), teori ini memandang pemidanaan
bukan sebagai pembalasan atas kesalahan si pelaku, tetapi sebagai sarana
mencapai tujuan bermanfaat untuk melindungi masyarakat menuju kesejahteraan.
Dari teori ini muncul tujuan pemidanaan sebagai sarana pencegahan, yaitu
pencegahan umum yang ditujukan pada masyarakat. Berdasarkan teori ini,
hukuman yang dijatuhkan untuk melaksanakan maksud atau tujuan dari hukuman
itu, yakni memperbaiki ketidakpuasan masyarakat sebagai akibat kejahatan itu.
Tujuan hukuman harus dipandang secara ideal, selain dari itu, tujuan hukuman
adalah untuk mencegah (prevensi) kejahatan.
1. Tujuan pidana adalah semata-mata untuk pembalasan;
2. Pembalasan adalah tujuan utama dan di dalamnya tidak mengandung
sarana-sarana untuk tujuan lain misalnya untuk kesejahteraan masyarakat;
3. Kesalahan merupakan satu-satunya syarat untuk adanya pidana;
4. Pidana harus disesuaikan dengan kesalahan si pelanggar;
5. Pidana melihat ke belakang, ia merupakan pencelaan yang murni dan
tujuannya tidak untuk memperbaiki, mendidik atau memasyarakatkan
kembali si pelanggar.
81
79Leden Marpaung, Asas-Teori-Praktek Hukum Pidana, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 105
Sedangkan teori gabungan (integratif) mendasarkan pidana pada asas
pembalasan dan asas tertib pertahanan tata tertib masyarakat, dengan kata lain dua
alasan itu menjadi dasar dari penjatuhan pidana. Pada dasarnya teori gabungan
adalah gabungan teori absolut dan teori relatif. Gabungan kedua teori itu
mengajarkan bahwa penjatuhan hukuman adalah untuk mempertahankan tata
tertib hukum dalam masyarakat dan memperbaiki pribadi si penjahat.82
Lalu teori treatment, mengemukakan bahwa pemidanaan sangat pantas
diarahkan kepada pelaku kejahatan, bukan kepada perbuatannya. Teori ini
memiliki keistimewaan dari segi proses re-sosialisasi pelaku sehingga diharapkan
mampu memulihkan kualitas sosial dan moral masyarakat agar dapat berintegrasi
lagi ke dalam masyarakat. Menurut Albert Camus, pelaku kejahatan tetap human
offender, namun demikian sebagai manusia, seorang pelaku kejahatan tetap bebas
pula mempelajari nilai-nilai baru dan adaptasi baru. Oleh karena itu, pengenaan
sanksi harus mendidik pula, dalam hal ini seorang pelaku kejahatan membutuhkan
sanksi yang bersifat treatment.83
Sedangkan teori perlindungan sosial(social defence) merupakan
perkembangan lebih lanjut dari aliran modern dengan tokoh terkenalnya Filippo
Gramatica, tujuan utama dari teori ini adalah mengintegrasikan individu ke dalam
tertib sosial dan bukan pemidanaan terhadap perbuatannya. Hukum perlindungan
sosial mensyaratkan penghapusan pertanggungjawaban pidana (kesalahan)
digantikan tempatnya oleh pandangan tentang perbuatan anti sosial, yaitu adanya
seperangkat peraturan-peraturan yang tidak hanya sesuai dengan kebutuhan untuk
82Leden Marpaung, Ibid.,hal. 107
83Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Politik Hukum Pidana (Kajian
kehidupan bersama tapi sesuai dengan aspirasi-aspirasi masyarakat pada
umumnya.84
B. Posisi Kasus
Dengan teori-teori itulah Majelis Hakim dalam perkara nomor
1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel ini menjatuhkan sanksi pidana kepada terdakwa
Sefariano alias Mambo agar dapat member efek jera, menrehabilitasi kejiwaan
terdakwa, serta melindungi masyarakat dari tindak pidana terdakwa.
1. Kronologis
Perkara kasus terorisme dengan Nomor : 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel di
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memiliki kronologis perkara sebagai berikut:85
Pada bulan April 2013 hingga bulan Mei 2013 di Rumah Kontrakan
terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo alias Asep alias Dimasriano yaitu di
Jl. Bangka II F RT 02 RW 13 Kel. Mampang, Jakarta Selatan, terdakwa Sefariano
alias Mambo alias Aryo alias Asep alias Dimasriano bersama dengan saksi
Achmad Taufiq alias Ovhie bersama dengan Sigit Indrajid alias Abu Yahya alias
Dimas Nugroho, Rokhadi alias Shiro Kosmos Jannaholic Hellphobia alias Abu
Junnah bin Kusmo Diharjo, Muhammad Saiful Sa’bani alias Saiful alias Sayev
alias Ipul, dan Safi’i alias Imam alias Abdurrahman (Para Terdakwa dalam berkas
perkara terpisah) belajar merakit bom yang sebelumnya pada tanggal 31 Januari
2013 sekitar jam 11.00 WIB terdakwa Sefariano alias Mambo datang ke rumah
neneknya saksi Sigit Indrajid di Desa Babakan, Muncul, Serpong, Tangerang.
84Muladi dan Barda Nawawi, Bunga Rampai Hukum Pidana, (Bandung: Alumni, 1992), hal. 12
Sesampainya terdakwa Sefariano alias Mambo di rumah neneknya Sigit tersebut,
terdakwa Sefariano alias Mambo langsung masuk ke dalam menjumpai saksi
Achmad Taufiq alias Ovhie, Rokhadi, Imam, Saiful, dan Sigit. Lalu terdakwa
Sefariano alias Mambo menjelaskan sambil memberikan pelatihan merakit bom
kepada saksi Achmad Taufiq, Imam, Ipul, dan Rohadi.
Selama terdakwa Sefariano alias Mambo memberikan pelajaran membuat
atau merakit bom, saksi Achmad Taufiq, Rokhadi, Imam, dan Saiful alias Sayev
alias Ipul memperhatikan dan mencatat apa yang disampaikan terdakwa Sefariano
alias Mambo, sedangkan saksi Sigit Indrajid berjaga-jaga di depan rumah
neneknya.
Lalu tanggal 27 April 2013 sekitar jam 23.00 WIB terdakwa Sefariano alias
Mambo datang ke kontrakan Sigit Indrajid yang beralamat di Jl. Bendar Barat 14
Pamulang, Tangerang, ketika terdakwa Sefariano alias Mambo sampai di rumah
kontrakan Sigit Indrajid tersebut sudah ada saksi Achmad Taufiq, Sigit dan Tio,
setelah itu saksi Achmad Taufiq, Sigit, Tio, dan terdakwa Mambo berkumpul di
teras depan dan saat itu Sigit menyampaikan rencananya dengan berkata, “yuk kita
amaliyah di Kedutaan Besar Myanmar untuk membalas atas kezoliman orang Myanmar yang membantai orang Muslim di Myanmar, kita barengin aja dengan momen orang FUI sebelum aksi demo dimulai kita ledakkan terlebih dulu sebagai kejutan untuk Dubes Myanmar”.Ajakan pengeboman Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta ini pada prinsipnya disetuji oleh terdakwa Sefariano alias Mambo, saksi
Untuk menindaklanjuti rencana tersebut, pada hari Rabu tanggal 1 Mei 2013
terdakwa Sefariano alias Mambo menjemput saksi Sigit dan Tio di Blok M
Jakarta Selatan, ketika itu saksi Sigit dan Tio telah membawa bahan-bahan bom
dan dibawa ke rumah kontrakan terdakwa Sefariano alias Mambo di Jl. Bangka II
F Jakarta Selatan. Saat sampai dirumah terdakwa Sefariano alias Mambo sekitar
jam 23.00 WIB Sigit langsung ke dapur , di dalam dapur tersebut Sigit
mengeluarkan bahan-bahan bom dari tas, Sigit juga mengeluarkan 1 (satu) buah
pipa besi berukuran kecil. Ketika itu Sigit berkata kepada terdakwa Sefariano alias
Mambo, “ini bom yang satu Ente satuin aja sama buatan Ente.Kabelnya yang
diparalel jadi satu dengan yang dibuat”. Setelah itu terdakwa Sefariano alias Mambo, saksi Achmad Taufiq, dan Sigit membuat bahan-bahan bom dengan cara
bersama-sama, yaitu dengan cara menghaluskan belerang, arang, dan paraffin
terlebih dahulu dengan cara ditumbuk dan dihancurkan dengan blender. Setelah
halus bahan-bahan tersebut disaring dan dituangkan ke dalam baskom lalu
diendapkan.Sedangkan Saksi Tio saat itu hanya mengawasi.
Kemudian pada hari Kamis tanggal 2 Mei 2013 sekitar jam 15.00 WIB
terdakwa Sefariano alias Mambo membeli paralon ukuran 1” (satu inci) dan
penutupnya di toko material di Jl. Bangka Mampang sepanjang 3 meter yang
dipotong menjadi 3 (tiga) bagian. Setelah itu terdakwa Sefariano alias Mambo
membawa pulang pipa paralon tersebut. Setibanya di rumah kontrakannya di Jl.
Bangka II F Jakarta Selatan, terdakwa Sefariano alias Mambo meminjam pisau
milik saksi Achmad Taufiq lalu memotong pipa tersebut dengan dibantu oleh
hingga menjadi 4 bagian dengan panjang masing-masing pipa sekitar 15cm (lima
belas senti meter). Kemudian pipa paralon tersebut salah satu ujungnya terdakwa
Sefariano alias Mambo tutup dengan tutup paralon dan dilem dengan lem paralon.
Setelah itu terdakwa Sefariano alias Mambo memasukan bahan-bahan bom yang
sudah halus ke dalam 4 buah paralon tersebut, lalu dimasukan lampu sen yang
sudah dipecahkan dan ditutup dengan tisu yang disiram etanol dan kemudian
ditutup dengan penutup paralon lalu dilem dan dilakban hingga rapat.
Selanjutnya terdakwa Sefariano alias Mambo dan saksi Achmad Taufiq
melakban kelima buah bom tersebut menjadi satu dan kabelnya disatukan secara
paralel hingga tinggal 2 buah kabel yang dipasang ke batere. Setelah itu terdakwa
Sefariano alias Mambo keluar rumah untuk membeli jam weker dengan
mengendarai sepeda motor Honda ke toko yang ada di sekitar Jl. Bangka Jakarta
Selatan, namun karena tidak dapat makan terdakwa Sefariano alias Mambo
kemudian pulang dan menghubungi saksi Sigit melalui HP dengan pembicaraan
sebagai berikut:
MAMBO : Git, Ane gak dapet weker. Ente deh yang beli.
SIGIT : Oke deh.
MAMBO : Kita ketemuan di HI (Bundaran Hotel Indonesia)
aja jam 9 (21.00 WIB).
Kemudian pada hari Kamis tanggal 2 Mei 2013 sekitar jam 20.00 WIB,
terdakwa Sefariano alias Mambo dan saksi Achmad Taufiq memasukan 5 (lima)
buah bom tersebut ke dalam tas ransel, lalu terdakwa Sefariano alias Mambo
itu Sigit menjawab, “entar dulu ni nungguin Tio, Ane berangkat nunggu Tio”.
Setelah itu terdakwa Sefariano alias Mambo dan saksi Achmad Taufiq berangkat
menuju Bundaran HI (Hotel Indonesia) dengan menggunakan sepeda motor
Honda Kharisma No. Pol. B 6324 BBQ, dengan posisi terdakwa Sefariano alias
Mambo yang di depan/menyetir motor, sedangkan saksi Achmad Taufiq
dibonceng terdakwa Sefariano alias Mambo sambil membawa tas ransel yang
berisi Bom dengan rute dari kontrakan terdakwa Sefariano alias Mambo di Jl.
Bangka II F Jakarta Selatan melewati Mabes Polri, selanjutnya Sekolah Al Azhar
hingga lampu merah Senayan belok kanan lurus hingga masuk kolong Jembatan
Semanggi. Ketika sudah keluar dari kolong Semanggi dekat dengan Gedung
BRI.Saksi Achmad Taufiq dan terdakwa Sefariano alias Mambo ditangkap oleh
Petugas Kepolisian.
2. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum
Dakwaan yang digunakan oleh Jaksa Penuntut Umum terhadap terdakwa
Sefariano alias Mambo adalah sebagai berikut:86
86Dakwaan Jaksa Penuntut Umum pada Putusan dengan Nomor Perkara 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel, hal. 5-24
PERTAMA
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal
15 Jo Pasal 9 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Terorisme.
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 15
Jo.Pasal 7 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Terorisme.
3. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum
Pada kasus ini Jaksa Penuntut Umum menuntut terdakwa sebagai berikut:87
a. Menyatakan terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo alias Asep alias
Dimasriano terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme
sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam dakwaan pertama melanggar
Pasal 15 Jo. Pasal 9 PERPU Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Terorisme sebagaimana diatur dan dan diancam pidana
dalam dakwaan yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang berdasarkan
UU No. 15 Tahun 2003.
b. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo
alias Asep alias Dimasriano dengan pidana penjara selama 8 (delapan) tahun
dikurangi selama terdakwa menjalani penahanan dengan perintah agar
terdakwa tetap ditahan.
c. Menyatakan Barang Bukti berupa:
1) Barang bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo
alias Asep alias Dimasriano di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat yang
berupa:
a) 1 (satu) buah tas ransel warna hitam merek Alto
b) 1 (satu) buah multitester warna hitam
c) 1 (satu) buah batere 9 Volt merek HW
d) 1 (satu) buah obeng tespen warna bening dan merah
e) 1 (satu) buah batere AA merek Energizer
f) Potongan kabel warna hijau, biru, putih, dan Merah
g) 2 (dua) buah lakban warna hitam
h) 1 (satu) buah SIM Card Three Nomor 89628-93000 03382 03760
i) 1 (satu) unit sepeda motor merek Honda Kharisma dengan Nomor Polisi B
6324 BBQ
2) Barang Bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo
alias Asep alias Dimasriano di Jl. Bangka II F RT 02 RW 13 Kel. Kemang
Kec. Mampang Jakarta Selatan yang berupa:
a) 1 (satu) buah botol plastic bertuliskan Yuasa ACCU Zuur, berisi cairan
berwarna bening
b) 2 (dua) buah Jerigen Plastik Ukuran satu liter bertuliskan Vajar Setia,
masing-masing berisi cairan warna bening
c) 2 (dua buah) botol plastik bertuliskan Fajar Setia, masing-masing berisi
cairan warna bening
d) 1 (satu) buah botol plastik air mineral merek Club berisi cairan berwarna
bening
e) 2 (dua) buah potongan pipa paralon ukuran kecil, masing-masing terdapat
f) 4 (empat) buah batere 1,5 Volt merek ABC
g) 1 (satu) buah batere 1,5 Volt merek Alkaline
h) 1 (satu) buah potongan pipa paralon terdapat lubang kecil, salah satunya
ditutup koin logam Rp. 100,- yang terangkai dengan batere 9 Volt Merek
Panasonic
i) 1 (satu) buah multitester berwarna kuning
j) 1 (satu) buah penjepit ACCU yang tersambung dengan bohlam
k) 1 (satu) buah papan kayu berwarna hitam; terdapat delapan buah lubang dan
dua buah baut
l) 3 (tiga) buah penjepit dengan potongan kabel
m) 1 (satu) buah test-pen, gagang berwarna biru muda
n) 1 (satu) buah obeng dengan gagang berwarna kuning
o) 1 (satu) buah mata bor
p) 1 (satu) buah pisau pemotong berwarna biru
q) 1 (satu) buah kikir dengan gagang kayu
r) 1 (satu) buah gergaji besi
s) 1 (satu) buah potongan pipa paralon
t) 1 (satu) buah dinamo
u) 1 (satu) buah alat tembak paku merek Stanley dengan anak pakunya
w) 1 (satu) buah pipa logam berbentuk elbow/sudut yang tersambung dengan
dua buah kabel berwarna hitam dan hijau berisi serbuk berwarna abu-abu
x) 1 (satu) buah plastic berwarna hitam berisi bongkahan berwarna kuning
berat sekitar 5 kg
y) 1(satu) plastic berisi serbuk berwarna putih dengan berat sekitar 720 gram
z) 3 (tiga) buah tabung dari logam yang masing-masing terhubung dengan
kabel
aa) 1 (satu) buah tas ransel berwarna hitam bertuliskan Monster
bb) 1 (satu) buah tas ransel coklat muda dan hitam merek Polo King
cc) 2 (dua) buah saringan masing-masing warna merah dan hijau terdapat
serbuk berwarna abu-abu kehitaman
dd) 1 (satu) buah wadah plastik dengan tutupnya yang terdapat serbuk berwarna
abu-abu
ee) 1 (satu) buah blender dengan tutup berwarna putih yang masih terdapat
serbuk berwarna abu-abu
ff) 1 (satu) buah wadah plastik dengan tutupnya yang terdapat serbuk berwarna
abu-abu
gg) 1 (satu) buah baskom plastik berwarna abu-abu terdapat serbuk berwarna
abu-abu
hh) 1 (satu) buah buku tulis dengan sampul berwarna hijau
ii) 6 (enam) lembar foto kopi berisi tentang cara pembuatan campuran bahan
3) Barang bukti yang disita dari saksi Achmad Taufiq alias Ovhie berupa:
a) 1 (satu) buah tas ransel warna cokelat dan merah merek I Joctor
b) Bom rakitan berbentuk lima buah tabung dari logam terdapat saklar on off
yang terangkai dengan kabel berikut dua buah batere
c) 1 (satu) buah flashdisk berwarna merah
Barang bukti tersebut tetap terlampir dalam berkas perkara untuk di
pergunakan dalam perkara lain a.n. Muhammad Saiful Sa’bain aias Saiful alias
Sayew alias Ipul.
4. Putusan Hakim
Dalam perkara pidana dengan Nomor Perkara 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel
di Pengadilan Negeri Klaten setelah melalui proses persidangan dengan
pemeriksaan alat bukti maka Majelis Hakim telah membuat putusan sebagai
berikut:88
1. Menyatakan terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo alias Asep alias
Dimasriano terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan
tindak pidana “Permufakatan Jahat, Secara Melawan Hukum Membawa
Sesuatu Bahan Peledak Atau Bom Untuk Melakukan Tindak Pidana Terorisme”;
2. Menjatuhkan pidana kepada Sefariano alias Mambo alias Aryo alias Asep
alias Dimasriano oleh karena itu dengan Pidana Penjara selama 7 (tujuh)
tahun dan 6 (enam) bulan;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh
Terdakwa, sebelum Putusan ini mempunyai kekuatan hukum yang tetap,
dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan tersebut;
4. Memerintahkan supaya Terdakwa tetap ditahan;
5. Memerintahkan Barang Bukti berupa:
a. Barang bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo
alias Asep alias Dimasriano di Jalan Jenderal Soedirman, Jakarta Pusat yang
berupa:
1) 1 (satu) buah tas ransel warna hitam merek Alto
2) 1 (satu) buah multitester warna hitam
3) 1 (satu) buah batere 9 Volt merek HW
4) 1 (satu) buah obeng tespen warna bening dan merah
5) 1 (satu) buah batere AA merek Energizer
6) Potongan kabel warna hijau, biru, putih, dan Merah
7) 2 (dua) buah lakban warna hitam
9) 1 (satu) unit sepeda motor merek Honda Kharisma dengan Nomor Polisi B
6324 BBQ
b. Barang bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo alias Aryo
alias Asep alias Dimasriano di Jl. Bangka II RT. 02/ RW. 13 Kelurahan
Kemang Kecamatan Mampang, Jakarta Selatan yang berupa:
1) 1 (satu) buah botol plastic bertuliskan Yuasa ACCU Zuur, berisi cairan
berwarna bening
2) 2 (dua) buah Jerigen Plastik Ukuran satu liter bertuliskan Vajar Setia,
masing-masing berisi cairan warna bening
3) 2 (dua buah) botol plastik bertuliskan Fajar Setia, masing-masing berisi
cairan warna bening
4) 1 (satu) buah botol plastik air mineral merek Club berisi cairan berwarna
bening
5) 2 (dua) buah potongan pipa paralon ukuran kecil, masing-masing terdapat
lubang
6) 4 (empat) buah batere 1,5 Volt merek ABC
7) 1 (satu) buah batere 1,5 Volt merek Alkaline
8) 1 (satu) buah potongan pipa paralon terdapat lubang kecil, salah satunya
ditutup koin logam Rp. 100,- yang terangkai dengan batere 9 Volt Merek
Panasonic
9) 1 (satu) buah multitester berwarna kuning
11) 1 (satu) buah papan kayu berwarna hitam; terdapat delapan buah lubang dan
dua buah baut
12) 3 (tiga) buah penjepit dengan potongan kabel
13) 1 (satu) buah test-pen, gagang berwarna biru muda
14) 1 (satu) buah obeng dengan gagang berwarna kuning
15) 1 (satu) buah mata bor
16) 1 (satu) buah pisau pemotong berwarna biru
17) 1 (satu) buah kikir dengan gagang kayu
18) 1 (satu) buah gergaji besi
19) 1 (satu) buah potongan pipa paralon
20) 1 (satu) buah dinamo
21) 1 (satu) buah alat tembak paku merek Stanley dengan anak pakunya
22) 1 (satu) buah kompas berwarna hijau tua
23) 1 (satu) buah pipa logam berbentuk elbow/sudut yang tersambung dengan
dua buah kabel berwarna hitam dan hijau berisi serbuk berwarna abu-abu
24) 1 (satu) buah plastic berwarna hitam berisi bongkahan berwarna kuning
berat sekitar 5 kg
25) 1(satu) plastic berisi serbuk berwarna putih dengan berat sekitar 720 gram
26) 3 (tiga) buah tabung dari logam yang masing-masing terhubung dengan
kabel
28) 1 (satu) buah tas ransel coklat muda dan hitam merek Polo King
29) 2 (dua) buah saringan masing-masing warna merah dan hijau terdapat
serbuk berwarna abu-abu kehitaman
30) 1 (satu) buah wadah plastik dengan tutupnya yang terdapat serbuk berwarna
abu-abu
31) 1 (satu) buah blender dengan tutup berwarna putih yang masih terdapat
serbuk berwarna abu-abu
32) 1 (satu) buah wadah plastik dengan tutupnya yang terdapat serbuk berwarna
abu-abu
33) 1 (satu) buah baskom plastik berwarna abu-abu terdapat serbuk berwarna
abu-abu
34) 1 (satu) buah buku tulis dengan sampul berwarna hijau
35) 6 (enam) lembar foto kopi berisi tentang cara pembuatan campuran bahan
peledak
c. Barang bukti yang disita dari saksi Achmad Taufiq alias Ovhie berupa:
1) 1 (satu) buah tas ransel warna cokelat dan merah merek I Joctor
2) Bom rakitan berbentuk lima buah tabung dari logam terdapat saklar on off
yang terangkai dengan kabel berikut dua buah batere
Semuanya dikembalikan kepada Penuntut Umum untuk dipergunakan sebagai barang bukti dalam perkara atas nama terdakwa Muhammad Saiful Sa’bani alias Saiful alias Sayev alias Ipul.
6. Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar
Rp. 5000,- (lima ribu Rupiah).
Hakim menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Sefariano alias Mambo
dengan dasar hukum bahwa terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana
sebagaimana diatur dalam Pasal 15 jo. Pasal 9 Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Terorisme sebagaimana telah ditetapkan menjadi Undang-Undang berdasarkan
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 dan segala ketentuan dalam KUHAP (UU
RI No. 8 Tahun 1981) yang bersangkutan.
C. Pertimbangan Hakim dalam Penjatuhan Pidana
1. Pertimbangan Yuridis
Dalam memutus suatu perkara, pertimbangan yuridis merupakan
pertimbangan dasar bagi Hakim untuk menjatuhkan Putusan.Maksud dari
pertimbangan yuridis adalah pertimbangan Hakim yang bersifat yuridis yang
didasarkan kepada fakta-fakta hukum yang terungkap di dalam persidangan dan
yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang sebagai hal yang harus dimuat di
dalam Putusan.89
Adapun pertimbangan yuridis hakim dalam menjatuhkan putusan pidana
terhadap perkara ini antara lain adalah:
a. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum
Dengan mempertimbangkan dakwaan yang digunakan oleh Jaksa Penuntut
Umum terhadap terdakwa Sefariano alias Mambo yang berisi:90
PERTAMA
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal
15 Jo Pasal 9 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
ATAU KEDUA
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 15
Jo. Pasal 7 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Maka, berdasarkan pertimbangan Majelis Hakim pada surat dakwaan Jaksa
Penuntut Umum dan berdasarkan fakta-fakta hukum pada persidangan, Majelis
Hakim mengambil kesimpulan bahwa Jaksa Penuntut Umum menyusun surat
dakwaan dalam bentuk alternatif dan memutuskan bahwa dakwaan alternatif
pertama yang lebih tepat didakwakan kepada Terdakwa Sefariano alias Mambo
dan oleh karena itu pula maka Majelis Hakim memilih untuk mempertimbangkan
dakwaan alternatif pertama dan mengesampingkan dakwaan alternatif kedua.
b. Keterangan Saksi
Dalam persidangan pada Kasus ini, terdapat 5 (lima) orang saksi dan 1
(satu) orang saksi ahli yang mana keseluruhan saksi diajukan oleh pihak Penuntut
Umum.
Keterangan dari saksi-saksi tersebut membenarkan bahwa telah terjadi
sebuah peristiwa pidana yaitu tindak pidana Terorisme yang dilakukan oleh
terdakwa Sefariano alias Mambo dengan dibantu oleh teman-temannya yang
diharidkan sebagai saksi dalam persidangan ini.91
Selain itu Majelis Hakim juga berpendapat bahwa berdasarkan keterangan
saksi-saksi dalam persidangan, maka benar telah terjadi perbuatan pidana sesuai
dengan Dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang dilakukan oleh Terdakwa Sefariano
alias Mambo. Pendapat Majelis Hakim yang berdasarkan keterangan saksi
tersebut mengartikan bahwa keterangan saksi menjadi bahan pertimbangan bagi
Hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap kasus ini, sehingga dapat
disimpulkan bahwa Hakim yakin bahwa benar telah terjadi perbuatan Terorisme
sesuai dengan Dakwaan Jaksa Penuntut Umum atas terdakwa Sefariano alias
Mambo.92
91Keterangan saksi-saksi pada Putusan dengan register perkara No. 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel
c. Keterangan Terdakwa
Dalam kasus ini, Terdakwa Sefariano alias Mambo membenarkan bahwa ia
telah diperiksa oleh Penyidik dan telah memberikan keterangan pada BAP
Penyidik serta menandatangani dan membenarkan seluruh keterangan pada BAP
tesebut. Terdakwa juga membenarkan bahwa ia pernah merencanakan
pengeboman di Kedutaan Myanmar Jakarta dengan mengajak teman-temannya
yang akan telah dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan ini, menggunakan
bom yang mereka rakit sendiri. Meski pada akhirnya pengeboman itu tak dapat
mereka lakukan karena telah tertangkap.Terdakwa mengakui semua yang telah
dikemukakan oleh para saksi dan tetap menyatakan bahwa tindakan yang
dilakukannya semata untuk berjihad bukan bermaksud melakukan suatu aksi
terorisme.93
a. Barang-barang Bukti
Dalam persidangan terdakwa Sefariano alias Mambo ini telah dihadirkan 9
barang bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo di Jalan Jenderal
Sudirman Jakarta Pusat, 35 barang bukti yang disita dari terdakwa Sefariano alias
Mambo di Jalan Bangka II F RT.02/RW.13 Kelurahan Kemang Kecamatan
Mampang Jakarta Selatan, dan 3 barang bukti yang disita dari saksi Achmad
Taufiq alias Ovhie. Yang mana barang bukti tersebut tetap terlampir dalam berkas
perkara untuk dipergunakan dalam perkara terdakwa lain.94
93Bagian Pertimbangan Hakim pada Keterangan Terdakwa pada Putusan No. 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel, hal. 40-45
b. Alat Bukti Surat
Alat bukti surat dalam kasus terdakwa Sefariano alias Mambo ini adalah
berupa berita acara persidangan dan laporang keterangan dari laboratorium yang
membenarkan bahwa memang ada zat adiktif yang terkandung dalam perangkat
yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo yang sifatnya adalah zat
peledak.
f. Pasal yangDijadikan Bahan Pertimbangan Hakim
1) Pasal 15jo. Pasal 9 PERPU No. 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Terorismeyang telah ditetapkan menjadi Undang-undang
berdasarkanUU No. 15 Tahun 2003
Jaksa Penuntut Umum dalam tuntutannya, menuntut Terdakwa Sefariano
alias Mambo dengan pidana yang mengacu pada ketentuan Pasal 15 jo. Pasal 9
PERPU No. 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang
berdasarkan UU No. 15 Tahun 2003. Oleh karena itu penjatuhan putusan terhadap
perkara tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh terdakwa Sefariano alias
Mambo ini, hakim dalam pertimbangannya harus mengacu pada rumusan Pasal 15
jo. Pasal 9 PERPU No. 1 Tahun 2002 yang telah disahkan menjadi
Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 tersebut, yang berbunyi:
Setiap orang yang melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana yang sama dengan pelaku tindak pidananya.
Terdakwa Sefariano alias Mambo dalam Perkara Nomor
bersama teman-temannya untuk melakukan sebuah aksi teror.Sehingga ketentuan
dalam Pasal 15 diatas berlaku bagi terdakwa Sefariano alias Mambo dan tentunya
pasal inilah yang juga menjadi bahan pertimbangan hakim dalam menjatuhkan
putusan terhadap terdakwa Sefariano alias Mambo.
Selanjutnya dapat kita lihat pada Pasal 9 yang berbunyi:
Setiap orang yang secara melawan hukum memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya, atau mempunyai dalam miliknya, menyimpang, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan ke dan/atau dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.
Berdasarkan ketentuan Pasal 9 diatas itulah yang menjadi bahan
pertimbangan hakim untuk menjatuhkan vonis 8 tahun penjara.
2. Pertimbangan Non Yuridis
a. Hal-hal memberatkan Terdakwa
Menimbang, bahwa sebelum menjatuhkan pidana yang setimpal dengan
kesalahan Terdakwa, Majelis Hakim akan mempertimbangkan adanya hal-hal
sebagai berikut:
1) Perbuatan Terdakwa menghambat program Pemerintah dalam upaya
pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di Indonesia;
2) Terdakwa mengakui terus terang atas perbuatannya tetapi tidak merasa
bersalah, karena perbuatan tersebut dianggap merupakan perbuatan Jihad
3) Perbuatan Terdakwa meresahkan masyarakat.
b. Hal-hal yang meringankan Terdakwa
Namun demikian disamping itu terdapat juga hal-hal yang dapat
meringankan pidana bagi Terdakwa, antara lain;
1) Terdakwa masih muda dan diharapkan dapat memperbaiki kesalahannya;
2) Terdakwa belum pernah dihukum;
3) Terdakwa bersikap sopan dan mengaku terus terang atas perbuatannya.
D. Analisa Kasus
Pada kasus ini perhatian penulis tertuju pada bagaimana hakim menjatuhkan
putusan yang mana penjatuhan putusan tersebut tentunya tak lepas dari
pertimbangan hakim yang meliputi pertimbangan yuridis maupun non
yuridisnya.Didalam pertimbangan itu hal yang paling utama mempengaruhi
tentunya adalah tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang juga memuat dakwaan dan
fakta-fakta hukum dalam persidangan. Untuk itu penulis akan coba menjabarkan
analisa kasus ini menjadi dua bagian, yaitu:
1. Analisis Dakwaan/Tuntutan
Tuntutan atau Requisitoir adalah kewenangan penuntut umum untuk
mengajukannya setelah pemeriksaan di sidang dinyatakan selasai oleh hakim
ketua sidang atau ketua majelis, dasar hukumnya Pasal 182 ayat (1) huruf a
KUHAP. Dalam buku “Peristilahan hukum dalam praktek” (Kejaksaan
hukuman jaksa penuntut umum pada pengadilan negeri setelah pemeriksaan
ditutup. 95
Pada Pasal 1 butir 7 KUHAP tercantum definisi penuntutan sebagai
berikut:96
Apabila hakim memandang pemeriksaan sidang sudah selesai, maka ia
mempersilahkan Penuntut Umum membacakan tuntutannya (requisitoir), baru
setelah itu giliran Terdakwa atau Penasehat Hukum Terdakwa untuk membacakan
pembelaannya, yang dapat dijawab oleh Penuntut Umum, dengan ketentuan
Terdakwa atau Penasehat Hukumnya mendapat giliran terakhir.
Penuntutan adalah tindakan Penuntut Umum untuk melimpahkan perkara pidana ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh Hakim di sidang pengadilan.
97
Surat tuntutan (requisitoir) memuat hal-hal mengenai:98
e. Permintaan Jaksa Penuntut Umum pada majelis hakim.
a. Hal tindak pidana yang didakwakan;
b. Fakta-fakta yang diperoleh dalam persidangan;
c. Analisis hukum terhadap fakta-fakta untuk memberikan konstruksi hukum
atas peristiwa yang didakwakan;
d. Pendapat tentang hal terbukti tidaknya dakwaan;
95Leden Marpaung ,Proses Penanganan Perkara Pidana bagian ke-2. Jakarta: Sinar Grafika. 1992. halaman 401
96Pasal 1 butir 7Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana 97Pasal 182 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
Mengenai huruf a hal tindak pidana yang didakwakan perlu disebut kembali
dalamsurat tuntutan (requisitoir), dalam praktik telah menjadi kebiasaan untuk
memuatnya dengan menyalin kembali seluruh bunyi surat dakwaan. Penyalinan
seluruh bunyi surat dakwaan ditempatkan pada awal surat tuntutan.99
Mengenai huruf b fakta-fakta yang didapat dalam persidangan dimuat
dengan sistematika berdasarkan tata urutan dalam pemeriksaan, yaitu dimulai dari
fakta-fakta keterangan, saksi-saksi dan saksi ahli, keterangan terdakwa, dan
alat-alat bukti. Pencatatan mengenai fakta-fakta harus dilakukan secara benar dan
transparan. Fakta-fakta yang diperoleh dalam persidangan kemudian dianalisis.
Pekerjaan hukum diarahkan pada tiga hal antara lain:100
Surat tuntutan (requisitoir) yang baik adalah surat tuntutan yang
mengandung konstruksi hukum yang objektif, benar, dan jelas. Jelas dalam arti
penggambarannya dan hubungan antara keduanya. Dari kejelasan bentukan
peristiwa dan bentukan hukumnya, maka akan menjadi jelas pula kesimpulan
hukum yang ditarik tentang terbukti atau tidaknya tindak pidana yang
didakwakan, terdakwa dapat dipersalahkan atau tidak, serta apa terdakwa dapat
memikul beban pertanggungjawaban pidana atau tidak dalam peristiwa yang
a. Bentukan konstruksi peristiwa yang sesungguhnya terjadi;
b. Bentukan konstruksi hukumnya dalam peristiwa tersebut;
c. Kesimpulan yang ditarik atas bentukan konstruksi peristiwa dan bentukan
hukumnya.
terjadi. Kesimpulan yang benar dari sudut hukum yang didukung oleh doktrin
hukum maupun ilmu sosial lainnya dan keadilan merupakan taruhan
keprofesionalan dan kualitas seorang Jaksa Penuntut Umum. Dari kesimpulan
yang ditarik itulah Jaksa Penuntut Umum mengajukan permintaan pada majelis
hakim, baik mengenai kedudukan perkara itu dalam 7 hubungannya dengan tindak
pidana yang didakwakan maupun terhadap terdakwa sendiri mengenai bentuk
pertanggungjawaban pidana yang dimohonkan.101
Jika kita membahas tuntutan, maka tentunya tak lepas dari surat dakwaan.
Peranan surat dakwaan salah satunya adalah sebagai dasar tuntutan pidana
(requisitoir). Kalau dalam tuntutan perdata disebut surat gugatan, maka dalam
perkara pidana disebut surat dakwaan, keduanya mempunyai persamaan, karena
dengan itulah hakim melakukan pemeriksaan dan hanya dalam batas-batas dalam
surat gugatan/dakwaan itulah hakim akan memutuskan. Di samping itu, ada
perbedaan asasi, yaitu kalau surat gugatan disusun oleh pihak yang dirugikan,
maka dalam pembuatan surat dakwaan, penuntut umum (Jaksa) tidak tergantung
pada kemauan korban (kecuali dalam delik aduan).102
Dakwaan merupakan dasar penting hukum acara pidana karena berdasarkan
hal yang dimuat dalam surat itu hakim akan memeriksa perkara itu. Pemeriksaan
didasarkan kepada surat dakwaan dan menurut Nederburg, pemeriksaan tidak
101Adami Chazawi, Loc. Cit.
batal jika batas dilampaui, namun putusan hakim hanya boleh mengenai
peristiwa-peristiwa yang terletak dalam batas itu.103
Dalam KUHAP perihal dakwaan ini dimuat dalam Pasal 143 ayat (2)
KUHAP menentukan syarat surat dakwaan dibuat oleh Penuntut Umum dengan
diberi tanggal dan ditandatangani serta berisi dua hal penting yaitu:104
a. Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin,
kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan tersangka;
b. Uraian secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak pidana yang
didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu
dilakukan.
Bentuk surat dakwaan sendiri dapat disusun secara tunggal, kumulatif,
alternatif, ataupun subsidair. Seorang atau lebih Terdakwa mungkin melakukan
satu macam perbuatan saja, misalnya pencurian (biasa) Pasal 362 KUHP. Dalam
hal seperti itu, dakwaan bisa disusun secara tunggal, yaitu pencurian biasa.
Namun sering pula seorang atau lebih Terdakwa melakukan lebih dari satu
perbuatan (delik), misalnya di samping ia (mereka) melakukan perbuatan
pencurian (biasa), membawa pula senjata api tanpa izin dari yang berwajib. Dalam
hal ini Terdakwa akan didakwa dengan dua macam perbuatan (delik) sekaligus,
yaitu pencurian (biasa) dan membawa senjata api tanpa izin dari pihak yang
berwajib. Dengan demikian, maka dakwaan akan disusun sebagai dakwaan
kumulatif I, II, III, dan seterusnya. Selain itu apabila suatu dakwaan disusun
secara kumulatif, maka tiap perbuatan (delik) itu harus dibuktikan
tersendiri-sendiri pula, walaupun pidananya disesuaikan dengan peraturan tentang delik
gabungan (samenloop) dalam Pasal 63 sampai dengan Pasal 71 KUHP.105
Sedangkan dakwaan alternatif dibuat dalam dua hal menurut van Bammelen,
yaitu:106
1. Jika penuntut umum tidak mengetahui perbuatan mana apakah yang satu
ataukah yang lain akan terbukti nanti dipersidangkan (suatu perbuatan
apakah merupakan pencurian ataukah penadahan).
2. Jika Penuntut Umum ragu, peraturan hukum pidana yang mana yang akan
diterapkan oleh Hakim atas perbuatan yang menurut pertimbangannya telah
nyata tersebut.
Selain itu surat dakwaan dapat juga dibuat dengan bentuk kombinasi yang
dibuat agar terdakwa tidak lepas dari dakwaan dengan dilatarbelakangi oleh
kompleksnya masalah dari perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa. Dakwaan
kombinasi ini bisa berbentuk komulasi sibsidair, komulasi alternatif, dan subsidair
alternatif.107
Dalam kasus yang putusannya menjadi objek kajian pada penulisan skripsi
ini, surat dakwaannya disusun dengan metode alternatif. Hal tersebut boleh jadi
dikarenakan Jaksa Penuntut Umum masih ragu terhadap pasal apa yang dapat
didakwakan kepada Terdakwa. Sehingga ketika dalam proses persidangan nanti,
105Andi Hamzah, SH, op. cit., hal. 188-189 106Andi Hamzah, SH, loc. Cit.
jika dakwaan pasal pertama tidak terbukti, maka masih bisa diperiksa apakah
pasal keduanya dapat dibuktikan benar telah dilakukan oleh Terdakwa.
Kembali pada tuntutan, Jaksa Penuntut Umum dalam Tuntutannya di kasus
ini menyatakan bahwa Terdakwa Sefariano alias Mambo terbukti bersalah
melakukan tindak pidana dalam dakwaan pertama yaitu melanggar Pasal 15 Jo.
Pasal 9 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, sebagaimana diatur dan di
ancam pidana dalam dakwaan pertama yang telah ditetapkan menjadi
undang-undang berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003.108
a. Penyertaan, sebab Terdakwa Sefariano alias Mambo melakukan tindak
pidana tersebut bersama teman-temannya;
Pertanyaan besarnya kini adalah, apakah pasal yang diajukan dalam
Tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum sudah tepat?Padahal, ada beberapa jenis
perbuatan pidana yang dilakukan oleh Terdakwa Sefariano alias Mambo. Antara
lain;
b. Percobaan, sebab aksi mereka belum berhasil karena sudah tertangkap lebih
dahulu oleh pihak yang berwajib; dan
c. Pembantuan, sebab Terdakwa Sefariano alias Mambo saling bantu
membantu bersama teman-temannya untuk melancarkan aksi terorisme
dengan bom tersebut.
Ada 3 (tiga) jenis perbuatan pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa
namun Jaksa Penuntut Umum hanya menuntut dengan pidana dalam satu pasal
saja.Sedangkan dalam KUHP tiga jenis perbuatan itu memiliki ketentuan pidana
yang berbeda. Penyertaan yang diatur dalam Pasal 55, Percobaan diatur dalam
Pasal 53, dan Pembantuan diatur dalam Pasal 57 yang mana sanksi pidananya
adalah pidana pokok dikurangi sepertiga.
Namun, pemilihan pasal tersebut oleh Jaksa Penuntut Umum sudah
tepat.Sebab, Pasal 15 tersebut sudah memuat 3 jenis perbuatan pidana yang
dilakukan oleh Terdakwa Sefariano alias Mambo.
Terdakwa Sefariano alias Mambo memang telah melakukan permufakatan
jahat bersama dengan teman-temannya untuk melakukan percobaan dan
pembantuan tindak pidana terorisme sesuai pasal 15 dan juga telah membuat
bahan peledak dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme sesuai
dengan pasal 9.
Selanjutnya dalam tuntutannya, Jaksa Penuntut Umum meminta agar
Terdakwa Sefariano alias Mambo dijatuhkan pidana penjara selama 8 (delapan)
tahun dikurangi selama Terdakwa menjalani penahanan. Hal ini sah saja, sebab
menurut ketentuan dalam Pasal 9, sanksi pidana yang dapat dijatuhkan atas tindak
pidana tersebut adalah pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling
lama 20 (dua puluh) tahun. Artinya 8 (delapan) tahun masih merupakan waktu
yang tepat karena masih dalam rentang waktu antara 3 (tiga) sampai dengan 20
2. Analisis Putusan
Setiap keputusan Hakim merupakan salah satu dari tiga kemungkinan:109
a. Pemidanaan atau penjatuhan pidana dan/atau tata tertib;
b. Putusan bebas;
c. Putusan lepas dari segala tuntutan hukum.
Pada putusan ini Hakim telah menjatuhkan Putusan dalam Perkara dengan
Nomor 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel yang mana di dalam Putusan tersebut
Hakim memutuskan untuk menghukum terdakwa Sefariano alias Mambo dengan
Pidana Penjara selama 8 (delapan) tahun karena telah melanggar ketentuan Pasal
15 jo. Pasal 9 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2002 yang disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang
Pemerantasan Tindak Pidana Terorisme.
Putusan ini dijatuhkan oleh Majelis Hakim dengan dasar surat Tuntutan dan
surat Dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum serta berdasarkan fakta-fakta yang
diajukan dalam Persidangan atas nama Terdakwa Sefariano alias Mambo. Majelis
Hakim berpendapat bahwa dakwaan alternatif pertama adalah dakwaan yang lebih
tepat didakwakan kepada Terdakwa Sefariano alias Mambo. Oleh karena itu pula
maka Majelis Hakim memilih untuk mempertimbangkan dakwaan alternatif
pertama dan mengesampingkan dakwaan alternatif kedua.
Dalam surat Dakwaan alternatif pertama, Terdakwa Sefariano alias Mambo
didakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dengan
pidana pada Pasal 15 Jo. Pasal 9 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2002 yang telah disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang berbunyi;
Pasal 15
Setiap orang yang melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan untuk melakukan tindak Pidana Terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidananya.
Juncto Pasal 9
Setiap orang yang secara melawan hukum memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, dan mengeluarkan ke dan/atau dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.
Sebelum membuktikan apakah tindakan Terdakwa memenuhi unsur-unsur
dalam kedua pasal tersebut, marilah terlebih dahulu melihat mengenani
fakta-fakta hukum dalam persidangan yang mana tentunya menjadi petunjuk dan bahan
pertimbangan bagi Majelis Hakim dalam menjatuhkan Putusan. Adapun
fakta-fakta hukum yang ada dalam persidangan itu antara lain:110
1. Keterangan Saksi
Usaha untuk mencari titik terang terhadap dugaan telah terjadinya suatu
tindak pidana maka diperlukan bukti yang mendukung bahwa memang telah
terjadi tindak pidana tersebut. Adapun bukti yang dimaksudkan disini adalah bukti
yang berhubungan langsung maupun tidak langsung terhadap tindak pidana yang
terjadi. Untuk bukti yang bersifat langsung diantaranya adalah dengan adanya
korban yang jelas-jelas dirugikan baik kerugian jasmani maupun kerugian rohani
yang dideritanya, sedangkan adanya saksi yang melihat, mengetahui atau
mendengar sendiri telah terjadinya tindak pidana.111
Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan
penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia
dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.112
Pada umumnya, semua orang dapat menjadi saksi. Pengecualian menjadi
saksi tercantum dalam Pasal 168 KUHAP:113
c. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis keturunan lurus ke atas atau ke
bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai
terdakwa;
d. Saudara dari Terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara
ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena
perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga;
111R. Soesilo, Hukum Acara Pidana (Prosedur Penyelasaian Perkara Pidana Menurut
KUHAP bagi penegak hukum), (Bogor:Politea, 1982), hal.54
e. Suami atau isteri Terdakwa maupun sudah bercerai atau yang bersama-sama
sebagai Terdakwa.
Saksi ada beberapa macam yang karena syaratnya maka dapat digolongkan
sebagai berikut:114
a. Saksi yang memberatkan (saksi A Charge)
Saksi ini merupakan saksi yang memberatkan tersangka, dimana
keterangannya menguatkan tersangka melakukan tindak pidana yang sedang
diperiksa. Saksi yang memberatkan ini biasanya diajukan oleh jaksa penuntut
umum dan dicantumkan dalam surat dakwaannya, hal ini dilakukan oleh jaksa
penuntut umum karena dalam persidangan dia harus dapat membuktikan akan
segala sesuatu hal yang ia tuntut dari si pelaku tindak pidana tersebut sehingga
dalam melaksanakan tugasnya sebagai penuntut umum dipersidangan ia harus
mampu meyakinkan hakim dengan bukti-bukti yang kuat bahwa benar telah
terjadi peristiwa yang merugikan korban. Adapun saksi utama yang memberatkan
yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum ini dapat saja saksi berperan penting
bagi jaksa penuntut umum dalam membuktikan dakwaannya terhadap terdakwa.
b. Saksi yang meringankan (A de Charge)
Saksi yang meringankan bagi tersangka, atau saksi yang tidak menguatkan
bahwa tersangka itu melakukan tindak pidana. Saksi yang meringankan ini
biasanya diajukan oleh terdakwa (tersangka) atau penasehat hukum pada waktu
sidang pengadilan. Pasal 65 KUHP mengatakan : “ Tersangka atau terdakwa
berhak mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau seorang yang memiliki
keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan baginya”.
Saksi a decharge dapat diajukan oleh tersangka pada penyidikan. Penuntut umum
boleh mengajukan keberatan terhadap saksi-saksi a de charge yang diajukan
dipersidangan dengan mengajukankeberatan terhadap saksi-saksi a de charge yang
diajukan dipersidangan dengan menyebutkan alasan-alasannya. Hakim dalam hal
pegajuan saksi ini sangat berperan, dimana dia harus dapat menentukan
saksi-saksi mana yang diperbolehkan untuk memberikan keterangan dipersidangan,
seperti yang telah diatur dalam KUHP mulai pasal 159-179 tentang saksi.
c. Saksi Ahli
Pasal 1 butir 28 KUHP, bahwa keterangan ahli adalah keterangan yang
diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang
diperlukan untuk membuat terang suati perkara pidana guna kepentingan
pemeriksaan. Mengenai keterangan ahli ini diatur dalam KUHP pada Pasal 184
ayat (1) butir b dan keterangan ahli ini merupakan alat bukti tersendiri dalam
hukum acara pidana. Keterangan ahli di dalam praktek di persidangan dapat
diberikan secara langsung maksudnya ahli yang bersangkutan secara langsung
memberikan keterangan dipersidangan atas permintaan hakim atau jaksa penuntut
umum.
d. Saksi Mahkota
Definisi otentik dalam KUHAP mengenai saksi mahkota (kroon getuide)
memang tidak pernah ada, namun berdasarkan perspektif empirik maka saksi
mahkota didefinisikan sebagai saksi yang berasal atau diambil dari salah seorang
dan dalam hal mana kepada saksi tersebut diberikan mahkota. Adapun mahkota
yang diberikan kepada saksi yang berstatus terdakwa tersebut adalah dalam
bentuk ditiadakan penuntutan terhadap perkaranya atau diberikannya suatu
tuntutan yang sangat ringan apabila perkaranya dilimpahkan ke pengadilan atau
dimaafkan atas kesalahan yang pernah dilakukan.bahwa yang dimaksud dengan
saksi mahkota adalah kesaksian sesama terdakwa, yang biasanya terjadi dalam
peristiwa penyertaan.
Adapun dalam kasus ini dihadirkan 3 (tiga) orang saksi mahkota, 2 (dua)
orang saksi yang memberatkan, dan 1 (satu) orang saksi ahli yang merupakan
seorang ahli dalam bidang balistik forensik.
2. Keterangan Terdakwa
Keterangan terdakwa merupakan alat bukti yang sah dalam
persidangan.115Dalam keterangan terdakwa dimungkinkan adanya pengakuan
seorang terdakwa. Pengakuan terdakwa dulu merupakan target utama, sehingga
dalam praktek pemeriksaan pendahuluan (sekarang pemeriksaan penyidikan)
sering terjadi penekanan secara fisik dan psikis untuk mendapatkan pengakuan
tersangka. Pengakuan terdakwa dianggap sebagai raja dari segala bukti dengan
alasan siapa yang paling tahu suatu perbuatan pidana adalah diri terdakwa
sendiri.116
Mengenai keterangan terdakwa ini sebenarnya ada diatur dalam Pasal 189
KUHAP. Dalam pasal tersebut disebutkan pada Ayat (1) bahwa keterangan
115Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
116Sri Gunting, Sistem Pembuktian Dalam Hukum Pidana, dalam https://jurnalsrigunting.wordpress.com/2012/12/22/sistem-pembuktian-dalam-hukum-pidana/
terdakwa ialah apa yang terdakwa apa yang terdakwa nyatakan di persidangan
tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami
sendiri.117
Keterangan terdakwa dapat dibedakan menjadi dua.Yaitu yang pertama,
yang diberikan terdakwa di dalam persidangan dan yang kedua, keterangan yang
diberikan oleh terdakwa di luar persidangan.118
3. Barang Bukti
Dalam persidangan pada kasus ini, Terdakwa Sefariano alias Mambo
mengakui perbuatannya didalam persidangan dan menyatakan merasa menyesal
serta membenarkan segala barang bukti yang diajukan di persidangan.
Barang bukti merupakan penunjang alat bukti yang mana mempunyai
kedudukan yang sangat penting dalam suatu perkara pidana. Tetapi kehadiran
suatu barang bukti tidak mutlak dalam suatu perkara pidana, karena ada beberapa
tindak pidana yang dalam proses pembuktiannya tidak memerlukan barang bukti,
seperti tindak pidana penghinaan secara lisan.119
1) Benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian
diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana; Sementara dalam KUHAP tidak ada disebutkan secara jelas apa yang
dimaksud dengan barang bukti. Namun dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP
menyebutkan mengenai apa saja yang dapat disita, yaitu meliputi:
117 Pasal 189 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana 118Pasal 189 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
2) Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak
pidana atau untuk mempersiapkannya;
3) Benda yang digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak
pidana;
4) Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan untuk melakukan tindak
pidana;
5) Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang
dilakukan.
Adapun dalam kasus ini terdapat 9 (Sembilan) barang bukti yang disita dari
Terdakwa Sefariano alias Mambo di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta Pusat, 35
(tiga puluh lima) barang bukti yang disita dari Terdakwa Sefariano alias Mambo
di Jalan Bangka II F Kecamatan Mampang Jakarta Selatan, dan 3 (tiga) barang
bukti yang disita dari saksi Achmad Taufiq alias Ovhie. Yang mana berkas
perkara tersebut tetap terlampir dalam berkas perkara untuk dipergunakan dalam
perkara terdakwa lain.
4. Alat Bukti Surat
Alat bukti surat merupakan alat bukti yang dipergunakan sebagai bahan
pertimbangan hakim yang menurut KUHAP merupakan alat bukti yang sah.
Dimana alat bukti tersebut bisa berupa keterangan ahli, surat, petunjuk, dan
keterangan terdakwa.120
120Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
yang menyebutkan beberapa jenis surat yang ada dalam hukum acara pidana.
Antara lain yaitu:121
1) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat
umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya. Yang memuat
keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang
dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang
keterangan itu;
2) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau
surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata
laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan diperuntukkan bagi
pembuktian sesuatu hal atau suatu keadaan;
3) Surat dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai suatu hal atau suatu keadaan yang diminta secara resmi darinya;
4) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari
alat pembuktian lain.
Adapun alat bukti surat dalam kasus ini adalah berupa berita acara
persidangan dan laporan hasil penelitian dari laboratorium balistik forensik yang
membenarkan adanya zat adiktif bahan peledak yang terkandung dalam perangkat
yang disita dari terdakwa Sefariano alias Mambo dan teman-temannya.
Berdasarkan semua fakta hukum yang ada, maka dapat dikaitkan dengan
pasal yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum kepada Terdakwa Sefariano alias
Mambo yang sebelumnya sudah diuraikan. Menurut kedua pasal tersebut, segala
tindakan terdakwa terbukti memenuhi unsur-unsur sebagai berikut;
1. Unsur Setiap Orang
Unsur setiap orang merupakan pengertian untuk subjek hukum secara
perorangan (persoonlijk) maupun kelompok dan di beberapa Undang-Undang
seperti Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi122 dan Undang-Undang Tindak
Pidana Pencucian Uang123
Selain itu juga dalam putusan
juga menyebutkan korporasi sebagai subjek hukum.
Dalam kasus ini tentunya subjek hukumnya adalah seseorang yang
bertanggungjawab atas identitasnya sebagaimana dalam dakwaan Jaksa Penuntut
Umum.Berdasarkan keterangan dari Terdakwa, saksi-saksi di Persidangan serta
telah dihubungkan juga dengan barang bukti yang diajukan dimuka persidangan
terbukti bahwa identitas Terdakwa tidak dapat disangkal lagi
kebenarannya.Sehingga tidak mungkin terjadi sebuah keadaan dimana terdapat
kesalahan dalam penangkapan orang atau yang biasa disebut dengan error in
persona.
124
122Pasal 1, Pasal 2, dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
123
Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
124Bagian Pertimbangan Hakim pada Putusan No. 1477/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Sel, hal 49-50
pada kasus ini dikatakan bahwa yang
dimaksud setiap orang adalah merujuk pada pelaku suatu tindak pidana atau
subjek hukumnya atau orangnya, yaitu orang yang diajukan ke muka persidangan
oleh Penuntut Umum karena adanya dakwaan atas dirinya dan dalam perkara ini
yang mana setelah identitas lengkapnya ditanyakan dipersidangan oleh Hakim
Ketua Majelis sama dengan identitas terdakwa dalam surat dakwaan Penuntut
Umum. Selain itu terdakwa tersebut adalah sehat jasmani dan rohani serta dapat
dipertanggungjawabkan sebagai subjek hukum pidana Indonesia atas
perbuatannya, dan atas diri Terdakwa di Persidangan tidak ditemukan adanya
hal-hal yang dapat menghapuskan pidana baik alasan pembenar maupun alasan
pemaaf dan alasan penghapus penuntutan.
Maka berdasarkan fakta-fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur
setiap orang telah terpenuhi.
2. Unsur Melakukan Permufakatan Jahat, Percobaan, atau Pembantuan untuk
melakukan Tindak Pidana Terorisme
Meski pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 jo. Peraturan
Pemerintah Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberatasan Tindak Pidana Teorisme
belum ada diatur mengenai klasifikasi maupun definisi mengenai permufakatan
jahat ini, namun kita dapat mengacu pada KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana) dimana dalam Pasal 88 nya dikatakan bahwa permufakatan jahat terjadi
apabila dua orang atau lebih telah sepakat akan melakukan kejahatan.125
Uraian seperti terdapat pada Pasal 88 KUHP tersebut sesuai dengan kasus
ini dimana Terdakwa Sefariano alias Mambo melakukan kejahatan tersebut
bersama-sama dengan teman-teman lainnya, antara lain Saksi Sigit Indrajid,
Achmad Taufiq, Rokhadi, Sefa, Muhammad Sa’bani dan Syafi’i yang dengan
kesadaran penuh mengikuti latihan pembuatan bom di rumah nenek Sigit Indarjid
di Desa Babakan, Muncul, Serpong, Tangerang untuk selanjutnya merangkai bom
lalu membawa bom yang telah dirangkai tersebut. Maka berdasarkan fakta
tersebut unsur melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan untuk
melakukan tindak pidana terorisme terbukti.126
3. Unsur Melakukan Tindak Pidana Terorisme sebagai mana dimaksud dalam
Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12
Didalam unsur ini dapat kita lihat selanjutnya pada Pasal 9 yang dikaitkan
dengan Pasal 15 yang mana memiliki unsur-unsur sebagai berikut;
a. Unsur setiap orang
Yang sudah diuraikan seperti diatas.
b. Unsur yang melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan
untuk melakukan tindak pidana terorisme
yang sudah juga diuraikan diatas.
c. Unsur secara melawan hukum memasukan ke indonesia, membuat,
menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba
menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya, atau
mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan,
mempergunakan, atau mengeluarkan ke dan/atau dari indonesia sesuatu
senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya
yang berbahaya
Dalam Putusan pada kasus ini dikatakan sebagai berikut:127
Yang dimaksud dengan melawan hukum artinya melanggar suatu ketentuan
Undang-Undang atau bertentangan dengan Undang-Undang.
Unsur ini menguraikan beberapa pilihan perbuatan, yang diberi tanda koma
(,) yang sifat pembuktiannya adalah alternative, sehingga apabila salah satu saja
dari beberapa perbuatan tersebut telah terbukti, maka unsur ini dianggap telah
terbukti menurut hukum, dan unsur yang lain tidak perlu dibuktikan lagi.
Berdasarkan keterangan Saksi Achmad Taufiq, Saksi Sigit Indrajid, Saksi
Rokhadi, Saksi Heru Bambang Budi S., Saksi Komang Dwijayanom, dan
keterangan Terdakwa Sefariano alias Mambo serta adanya barang bukti yang
diajukan dipersidangan:
1) Bahwa pada hari Kamis tanggal 2 Mei 2013 sekira jam 20.00 WIB
Terdakwa Sefariano alias Mambo dan Saksi Achmad Taufiq memasukan 5
(lima) buah bom tersebut ke dalam tas ransel, lalu terdakwa Sefariano alias
Mambo menghubungi Sigit sambil mengatakan, “ni Ane sudah siap
berangkat” dan saat itu Sigit menjawab, “Entar dulu ni nungguin Tio, Ane berangkat nunggu Tio”, setelah itu Terdakwa Sefariano alias Mambo dan Saksi Achmad Taufiq berangkat menuju Bundaran HI (Hotel Indonesia)
dengan menggunakan sepeda motor Honda Kharisma dengan nomor Polisi
B 6324 BBQ, dengan posisi Terdakwa Sefariano alias Mambo yang di
depan/menyetir motor tersebut, sedangkan Saksi Achmad Taufiq dibonceng
oleh Terdakwa Sefariano alias Mambo sambil membawa tas ransel yang
berisi bom dengan rute dari kontrakan Terdakwa Sefariano alias Mambo di
Azhar hingga lampu merah Senayan, belok kanan lurus hingga masuk
kolong Jembatan Semaggi, ketika sudah keluar dari kolong Semanggi dekat
dengan Gedung BRI, Saksi Achmad Taufiq dan Terdakwa Sefariano alias
Mambo ditangkap oleh Petugas Kepolisian;
2) Bahwa perbuatan Terdakwa bersama-sama dengan Saksi Achmad Taufiq,
Sigit Indrajid, Rokhadi, Muhammad Saiful Sa’bani, dan Syafi’I mengikuti
latihan pembuatan atau merakit bom di rumah nenek Sigit Indrajid di Desa
Babakan, Muncul, Serpong, Tangerang, dan membawa bahan-bahan bom ke
rumah kontrakan Terdakwa Sefariano alias Mambo di Jalan Bangka Jakarta
Selatan, setelah itu Terdakwa Sefariano alias Mambo, Saksi Achmad Taufiq
, dan Saksi Sigit Indrajid membuat bahan bom dengan cara bersama-sama,
selanjutnya merangkai dan membawa bom yang telah dirangkai tersebut,
kemudian tanggal 2 Mei 2013 jam 20.00 WIB terdakwa sefariano alias
Mambo dan saksi Achmad Taufiq menggunakan sepeda motor Honda
Kharisma dengan nomor Polisi B 6324 BBQ, dengan posisi Terdakwa
Sefariano yang di depan/menyetir motor dan Saksi Achmad Taufiq
dibonceng oleh Terdakwa Sefariano alias Mambo berangkat menuju
Bundaran HI yang mana ketika sudah keluar dari kolong Semanggi dekat
Gedung BRI, tertangkap oleh Petugas Kepolisian.
3) Bahwa benar Terdakwa ikut pelatihan untuk membuat atau merakit bom dan
membawa bom bersama Saksi Achmad Taufiq tersebut tidak ada izin dari
merupakan perbuatan yang melanggar Undang-Undang atau bertentangan
dengan Undang-Undang.
Oleh karena fakta-fakta yang telah diuraikan tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa unsur secara melawan hukum, membuat, menguasai,
membawa, sesuatu bahan peledak, dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya telah
terpenuhi.
d. Unsur Dengan Maksud untuk Melakukan Tindak Pidana Terorisme
Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan Saksi Achmad Taufiq, Sigit
Indradjid, Rokhadi, dan Saksi Heru Bambang Budi S., Komang Wijayanom,
beserta keterangan Ahli Jakaria Sembiring, S.Si dan keterangan Terdakwa
Sefariano alias Mambo serta adanya barang bukti yang diajukan dipersidangan:
1) Bahwa latihan untuk membuat dan merangkai bom serta membawa bom
dalam tas ransel yang dilakukan oleh Terdakwa Sefariano alias Mambo
bersama dengan Saksi Achmad Taufiq tersebut adalah untuk persiapan atau
permulaan melakukan tindak pidana terorisme, yaitu dimaksudkan bom
tersebut akan diledakkan di Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta untuk
menimbulkan kekacauan dan menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka
terhadap orang lain sebagai solidaritas terhadap sesame umat Muslim
Rohingya di Myanmar.
2) Selain itu Terdakwa mengetahui dan menyadari bahwa akibat dari
penggunaan bom tersebut dapat menciptakan suasana ketakutan dan