TINDAK PIDANA DAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN
G. TINDAK PIDANA KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM
Sumber daya alam berdasarkan jenisnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu, sumber daya alam hayati dan sumber daya alam nonhayati/
abiotik. Sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam he-wani (satwa) yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. Menurut Supardi;132 “Sumber daya alam merupakan karunia Allah SWT yang harus dikelola dengan bijak-sana, sebab sumber daya alam memiliki keterbatasan penggunaanya.”
Selanjutnya menurut A. Fatchan menyatakan bahwa;133 “Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang ada di lingkungan alam yang dapat di-manfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar lebih sejahtera.” Widada menyatakan;134 “Negara Republik Indone-sia merupakan negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang menjadi sumber daya alam khas negara Indonesia, mengingat ka-wasan hutan, laut serta habitat satwa di Indonesia mencakup sangat
ba-132 Supardi, 2008, Hukum Lingkungan Indonesia, Sinargrafika, Jakarta, hlm. 95.
133 A Fatchan, 2013, Geografi Tumbuhan dan Hewan, Ombak, hlm. 244.
134 Widada, et al., 2006,Sekilas tentang Koservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Ditjen Perlindungan Hukum dan Konserfasi Alam dan JICA, hlm. 26.
nyak jenis satwa yang ada, kondisi satwa yang ada di Indonesia memiliki keunikan tersendiri.”
Secara geografis, “Indonesia terletak pada perbatasan lempeng Asia Purba dan lempeng Australia itu menyebabkan perbedaan tipe satwa di kawasan barat, tengah, dan timur Indonesia.”135 Kekayaan dan keane-karagaman hayati yang dimiliki Indonesia ini diikuti dengan ancaman kepunahan keanekaragaman hayati pada satwa itu sendiri. Kerusakan sumber daya alam Indonesia tampak semakin mencemaskan dengan pe-satnya daya pengelolaan isi sumber daya alam Indonesia serta pemanfa-atan secara berlebihan yang tidak diikuti dengan keamanan yang ketat serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang norma-norma yang telah ditetapkan secara yuridis. Kekayaan keanegaragaman hayati di In-donesia sangat mengkhawatirkan, baik itu dari alam maupun dari tangan manusia itu sendiri, untuk itu pemerintah melakukan pengolahan sum-ber daya alam sebagai ekosistem secara adil, demokratis, efisien, dan profesional guna menjamin keterlanjutan fungsi lingkungan hidup dan manfaatnya untuk kesejahteraan bagi negara dan masyarakat.136
Dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan nasional, yakni un-tuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya salah satu di antaranya ialah melalui perlindungan sumber daya alam kekayaan alam yang terkandung di dalamnya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Persoalan-persoal-an yPersoalan-persoal-ang berkaitPersoalan-persoal-an dengPersoalan-persoal-an sumber daya alam dPersoalan-persoal-an kekayaPersoalan-persoal-an yPersoalan-persoal-ang ter-kandung di dalamnya dapat berupa; tindakan anggota masyarakat atau oknum masyarakat yang mempunyai kebiasaan membakar hutan atau menebang pohon secara ilegal; gemar menggunakan senapan angin un-tuk berburu yang mengakibatkan korban masyarakat; adanya anggota masyarakat yang pekerjaan tambahannya adalah berburu, menjerat atau mencari satwa-satwa tertentu untuk diperjualbelikan; tindakan masyara-kat yang memelihara satwa-satwa tertentu tanpa surat izin dari pemerin-tah; khalayak masyarakat belum mengetahui dan memahami beberapa ketentuan hukum pidana yang berhubungan dengan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem.
Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan bagian ter-penting dari sumber daya alam yang terdiri dari alam hewani, alam na-bati ataupun berupa fenomena alam, baik secara masing-masing maupun bersama-sama mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup, yang kehadirannya tidak dapat diganti. Mengingat
135 Ibid.
136 http://repository.unpas.ac.id/9597/5/9.%20BAB%20I.pdf, dikutip pada tanggal 13 Feb-ruari 2019.
sifatnya yang tidak dapat diganti dan mempunyai kedudukan serta pe-ranan penting bagi kehidupan manusia, maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah menjadi kewajiban mutlak dari tiap generasi. Dengan demikian, tindakan yang tidak bertanggungja-wab yang dapat menimbulkan kerusakan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam ataupun tindakan yang melanggar ketentuan tentang perlindungan tumbuhan dan satwa yang dilindungi, diancam de-ngan pidana yang berat berupa pidana badan dan denda. Pidana yang berat tersebut dipandang perlu karena kerusakan atau kepunahan salah satu unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya akan mengaki-batkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan materi, sedangkan pemulihannya kepada keadaan semula tidak mungkin lagi.
Oleh karena sifatnya yang luas dan menyangkut kepentingan ma-syarakat secara keseluruhan, maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggungjawab dan kewajiban pe-merintah serta masyarakat. Peran serta rakyat akan diarahkan dan dige-rakkan oleh pemerintah melalui kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. Untuk itu, pemerintah berkewajiban meningkatkan pendidikan dan penyuluhan bagi masyarakat dalam rangka sadar konservasi. Berhasilnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berkaitan erat de-ngan tercapainya tiga sasaran konservasi, yaitu:
1. Menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kese-jahteraan manusia (perlindungan sistem penyangga kehidupan);
2. Menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebu-tuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah); mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin kelestariannya.
Batasan-batasan mengenai lingkungan hidup dan sumber daya, oleh Undang-Undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup telah dirumus-kan, bahwa lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manu-sia dan perilakunya, yang memengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya; sedangkan sum-ber daya adalah sumsum-ber daya alam buatan. Sumarwoto sum-berpendapat, lingkungan adalah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang
kita tempati yang memengaruhi kehidupan kita. Secara teoretis ruang itu tidak terbatas jumlahnya, namun secara praktis ruang itu selalu diberi batas menurut kebutuhan yang dapat ditentukan. Misalnya; jurang, su-ngai atau laut, faktor politik atau faktor lainnya. Jadi lingkungan hidup harus diartikan luas, yaitu tidak hanya lingkungan fisik dan biologi, me-lainkan juga lingkungan ekonomi, sosial, dan budaya. Selanjutnya Ko
eswadi berpendapat bahwa, sumber daya merupakan unsur lingkungan yang terdiri dari sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam hayati (SDAH), sumber daya alam nonhayati (SDANH), sumber daya alam bu-atan/binaan (SDB) sebagai unsur lingkungan hidup sering kali disebut sebagai komponen biologik yang sendiri dari tumbuh-tumbuhan (flora), baik mikro maupun makro dan binatang (fauna) baik makro maupun mikro.137
Penegakan hukum lingkungan sebagai suatu tindakan dan/atau proses paksaan untuk menaati hukum yang didasarkan kepada keten-tuan, peraturan perundang-undangan dan/atau persyaratan-persyaratan lingkungan. Ada tiga langkah penegakan hukum secara sistematis, yaitu mulai dengan penegakan hukum administratif, penyelesaian sengketa di luar pengadilan atau melalui pengadilan dan penyidikan atas tindak pi-dana lingkungan hidup. Dua tugas berat yang dilaksankan secara arif dan bijaksana dalam era pembangunan saat ini, yaitu meletakkan pada titik keseimbangan dan keserasian yang saling menunjang secara sinergik an-tara penegakan hukum lingkungan dengan pelaksanaan pembangunan.
Pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati beserta ekosistem-nya perlu diberi dasar hukum yang jelas, tegas, dan menyeluruh guna men jamin kepastian hukum bagi usaha pengelolaan tersebut. Secara umum, konservasi, mempunyai arti pelestarian, yaitu melestarikan/mengawet-kan daya dukung, mutu, fungsi, dan kemampuan lingkungan secara se-imbang.138 Adapun tujuan konservasi:
a. Mewujudkan kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya, sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan dan mutu kehidupan manusia;
b. Melestarikan kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam ha-yati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang. Selain itu, konser-vasi merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kelestarian satwa.
Tanpa konservasi akan menyebabkan rusaknya habitat alami
sat-137 https://journal.unwira.ac.id/index.php/AEQUITAS/article/download/32/13, dikutip pada tanggal 11 Desember 2018, Pukuk 15.51 WIB.
138 Maman Rachman, Indonesian Journal of Conservation, Vol. 1 No. 1 - Juni 2012, hlm. 31
wa. Rusaknya habitat alami ini telah menyebabkan konflik manusia dan satwa. Konflik antara manusia dan satwa akan merugikan kedua belah pihak: manusia rugi karena kehilangan satwa bahkan nyawa, sedang-kan satwa rugi karena asedang-kan menjadi sasaran balas dendam manusia.139 Konservasi lahir akibat adanya semacam kebutuhan untuk melestarikan sumber daya alam yang diketahui mengalami degradasi mutu secara ta-jam. Dampak degradasi tersebut, menimbulkan kekhawatiran dan kalau tidak diantisipasi akan membahayakan umat manusia, terutama berim-bas pada kehidupan generasi mendatang pewaris alam ini. Sisi lain, ba-tasan konservasi dapat dilihat berdasarkan pendekatan tahapan wilayah, yang dicirikan oleh:
a. Pergerakan konservasi, ide-ide yang berkembang pada akhir abad ke-19, yaitu yang hanya menekankan keaslian bahan dan nilai do-kumentasi;
b. Teori konservasi modern, didasarkan pada penilaian kritis pada ba-ngunan bersejarah yang berhubungan dengan keaslian, keindahan, sejarah, dan penggunaan nilai-nilai lainnya.
Dewasa ini kenyataan menunjukkan bahwa peraturan perundangun-dangan yang mengatur konservasi sumber daya alam hayati dan ekosis-temnya yang bersifat nasional belum ada. Peraturan perundang-undangan warisan pemerintah kolonial yang beraneka ragam coraknya, sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat perkembangan hukum dan kebutuhan bangsa Indonesia. Perubahan-perubahan yang menyangkut aspek-aspek peme-rintahan, perkembangan kependudukan, ilmu pengetahuan, dan tuntutan keberhasilan pembangunan pada saat ini menghendaki peraturan perun-dang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan eko-sistemnya yang bersifat nasional sesuai dengan aspirasi bangsa Indonesia.
Upaya pemanfaatan secara lestari sebagai salah satu aspek konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, belum sepenuhnya dikem-bangkan sesuai dengan kebutuhan.
Penyebab terjadinya persoalan sebagaimana di atas, tentu tidak ter-lepas dengan tingkat pengetahuan, pemahaman dan kesadaran hukum masyarakat yang masih rendah. Walaupun secara idealis upaya konserva-si sumber daya alam hayati dan ekokonserva-sistem ini adalah menjadi kewajiban mutlak bagi setiap generasi, akan tetapi secara empiris (sadar atau tidak) menunjukkan bahwa tidak sedikit terjadinya tindakan-tindakan (ulah) manusia yang tidak bertanggungjawab menimbulkan kerusakan peles-tarian dan perlindungan alam ataupun perbuatan-perbuatan lain yang
139 Ibid.
berupa pelanggaran.
Ancaman penurunan populasi dan kepunahan satwa di Indonesia terus berlangsung, hal ini menyebabkan punahnya satwa di antaranya yaitu; terfragmentasinya habitat tempat hidup, pemanfaatan secara ber-lebihan dan perburuan serta perdagangan ilegal, perburuan dan perda-gangan ilegal satwa terus berlangsung memenuhi permintaan pasar an-tara lain digunakan sebagai peliharaan, dikonsumsi dan dijadikan bahan obat tradisional. Penyebab utama dari kondisi tersebut yakni pengeta-huan yang kurang dan nilai ekonomis yang tinggi terhadap satwa yang dilindungi. Perburuan liar yang sangat merugikan bagi negara dan tentu saja melanggar ketentuan yang telah ditetapkan negara. Perdagangan satwa dilindungi juga merupakan tindak pidana kejahatan, yang telah melanggar ketentuan yang ada pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Da-lam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.
Tindak Pidana Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya merupakan “Suatu peristiwa yang telah/sedang/akan terjadi berupa perbuatan melanggar larangan atau kewajiban dengan ancaman sanksi pidana dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya bagi barangsiapa yang secara melawan hukum melanggarnya.” Adapun per-buatan yang dilarang, yaitu: