Bab V adalah bagian penutup yang merupakan simpulan dari penelitian
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK MEREK A. Pengertian dan Sejarah Undang-Undang Merek
D. Tindak Pidana Pemalsuan Merek di dalam Hukum Positif dan Hukum Is- Is-lam Is-lam
2. Tindak Pidana Pemalsuan Merek dalam Hukum Islam
Merek merupakan harta berupa hak tidak berwujud namun melekat pada suatu barang atau jasa dengan kata lain merek adalah harta immateril pada suatu barang atau jasa karena bentuk dan wujudnya yang abstrak. pem-alsuan adalah proses menirukan benda statistik atau dokumen-dokumen dengan maksud untuk memanipulasi. Pemalsuan juga diartikan sebagai per-buatan mengubah atau meniru suatu barang dengan menggunakan tipu mus-lihat seolah-olah termus-lihat sama dengan aslinya. Pemalsuan merek merupakan perbuatan yang sangat merugikan si pemilik merek karena untuk mencip-takan sebuah merek pemilik telah melalui berbagai macam halang rintangan, suka duka, dan telah bersusah payah mengeluarkan segala tenaga, pikiran, waktu, uang, dan segala yang ada pada dirinya demi menciptakan sebuah merek yang bernilai di masyarakat sehingga agar nilai pada suatu produk maupun jasa tidak terkontaminasi dengan perbuatan kotor dalam persaingan dagang maka perlu adanya perlindungan terhadap hak-hak atas sebuah merek.
Selain pemalsuan merek ternyata masih ada beberapa jenis pem-alsuan lainnya yaitu:26
a. Pemalsuan intelektual tentang isi surat atau tulisan.
b. Pemalsuan uang, pemalsuan mata uang, uang kertas negara atau bank yang digunakan sebagaimana fungsi uang pada umumnya.
c. Pemalsuan merek dengan maksud menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakannya seolah-olah merek tiruan ini sama dengan merek aslinya.
d. Pemalsuan materai yang dikeluarkan negara atau menirukan tanda tangan yang diperlukan untuk keabsahan materai.
52
Islam sebagai agama rahmatan lil „alamin telah mengatur segala macam permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan. Namun mengenai pembahasan merek secara eksplisit tidak dibahas dalam al-qur‟an maupun hadits nabi karena zaman ketika Rasulullah SAW masih hidup belum pernah terjadi permasalahan mengenai pemalsuan merek yang merupakan masalah kontemporer dan marak terjadi saat ini.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sumber hukum Islam tidak ter-lepas pada Alquran, hadits, dan ijtihad sehingga pembahasan mengenai tin-dak pidana pemalsuan merek terus diperbincangkan dan menjadi sebuah permasalahan kontemporer yang besaran hukumannya akan ditentukan oleh ijtihad hakim, ulama, maupun penegak hukum yang berwenang.
Dalam Alquran kata yang mempunyai kesamaan arti dengan kata pemalsuan itu tidak ditemukan yang ada hanya kata yang mempunyai per-samaan dengan kata palsu yaitu Al-kadzibu. Islam memandang pemalsuan merek dikatagorikan sebagai perbuatan curang, membohongi atau menipu dan merugikan orang lain yaitu pemilik merek, konsumen maupun negara. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT yang terkandung dalam surat as-syura ayat 183:
َنْيِِْسْفُم ِضْرَْلَا ِفِ اْوَ ثََْ ت َلََو ْمُىَءۤاَيْشَا َساَّنلا اوُسَخْبَ ت َلََو
Artinya: “Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi”.Selain dalam al-Qur‟an, pembahasan mengenai perbuatan me-malsukan suatu barang/ produk juga terkandung dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Nabi SAW bersabda:
53
اَنَّشَغ ْنَم
ِراَّنلا ِفِ ُعاَِْْلْاَو ُرْكَمْلاَو ،اَّنِم َسْيَلَ ف
Artinya: “Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban 2: 326. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1058).27
Selain hadits diatas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim juga menjelaskan tentang larangan membohongi konsumen yaitu: Dari Abu Hurairah, ia berkata:
َِّللَّا َِوُسَر َّنَأ
-صلى الله عليه وسلم
َم
َِاَقَ ف ًلََلَ ب ُوَُِباَصَأ ْتَلاَنَ ف اَهيِف ُهََْي َلَخْدَأَف ٍماَََط ِةَرْ بُص ىَلَع َّر
«
َيَ اَذَى اَم
ِماَََّطلا َبِحاَص
.»
ْنَم ُساَّنلا ُهاَرَ ي ْىَك ِماَََّطلا َقْوَ ف ُوَتْلَََج َلََفَأ َِاَق .َِّللَّا َِوُسَر َيَ ُءاَمَّسلا ُوْتَ باَصَأ َِاَق
َ ف َّشَغ
ِّنِم َسْيَل
Artinya: “Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari
27 Muhammad Abduh Tuasikal, “Hukum Menjual Produk Imitasi/KW”,
https://rumaysho.com/10343-hukum-menjual-produk-imitasi-kw.html, (diakses pada 29 Maret 2021 pukul 20.00)
54
longan kami.” (HR. Muslim no. 102). Jika dikatakan tidak termasuk golon-gan kami, maka itu menunjukkan perbuatan tersebut termasuk dosa besar.28
Berdasarkan dalil-dalil diatas pemalsuan merek merupakan perbuatan dilarang karena membohongi konsumen namun pada sisi lain dalam Alquran juga memerintahan umat islam untuk menerapkan perdagangan yang adil dan jujur yaitu perdagangan yang antara pedagang dan pembeli tidak saling menzolimi dan tidak pula dizolimi Allah subhanahu wa ta'ala berfirman da-lam Quran surat al-baqarah ayat 279:
ِلْظَت َلَ ْمُكِلاَوْمَأ ُسوُءُر ْمُكَلَ ف ْمُتْ بُ ت ْنِإَو ِوِلوُسَرَو َِّللَّا َنِم ٍبْرَِبِ اوُنَذْأَف اوُلََْفَ ت َْلَ ْنِإَف
َنوُمَلْظُت َلََو َنوُم
Artinya: Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan). (QS. Al-Baqarah: 279).
Ayat diatas merupakan ayat tentang riba namun didalamnya terkan-dung arti mengenai hak konsumen yaitu antara penjual maupun pembeli tid-ak saling merugikan. Rasulullah SAW meruptid-akan sosok pemimpin yang sangat menaruh perhatian khusus terhadap kegiatan perdagangan terutama yang dapat merugikan konsumen. Berikut praktik-praktik perdagangan yang dilarang oleh Rasulullah SAW antara lain:29
28 Muhammad Abduh Tuasikal, “Hukum Menjual Produk Imitasi/KW”,
https://rumaysho.com/10343-hukum-menjual-produk-imitasi-kw.html, (diakses pada 29 Maret 2021 pukul 20.00)
29
Nurhalis, “Perlindungan Konsumen dalam Perspektif Hukum Islam dan Undang-undang
55
a. Talaqqi rukban yaitu melakukan proses jual beli dengan mencegat peda-gang yang membawa barang dari tempat asal (pabriknya) sebelum sam-pai ke pasar (mencegat ditengah jalan).
b. Melipatgandakan harga, hal ini dilarang jika harga yang ditawarkan san-gat melambung tinggi dari harga pada umumnya.
c. Bai‟ al-Gharar yaitu perdagangan yang didalamnya mengandung unsur penipuan dan tidak ada kepastian.
d. Gisyah adalah menyembunyikan kecacatan pada barang yang dijual dengan mencampur produk cacat tersebut ke dalam produk yang berkualitas baik.
e. Bisnis najasy adalah strategi bisnis yang dilakukan seseorang dengan cara berpura-pura sebagai pembeli yang menawar barang dagangan dengan harga tinggi dan disertai dengan pujian kualitas yang tidak wajar dengan tujuan untuk menaikkan harga barang.
f. Produk Haram adalah memperdagangkan barang-barang yang telah dil-arang dan diharamkan oleh Alquran dan Sunah.
g. Riba adalah penetapan bunga/ menerapkan tambahan biaya dalam perdagangan.
h. Tathfif adalah mengurangi timbangan atau takaran barang yang akan di-jual.
Dari praktik-praktik perdagangan yang dilarang oleh Rasulullah ke-jahatan pemalsuan merek juga termasuk dalam praktek perdagangan Gisyah yakni menyembunyikan kecacatan pada barang yang dijual. Dalam hal ini hukuman yang dapat dikenakan kepada pelaku Gisyah adalah ta'zir karena bentuk dan ukurannya hukumannya tidak diatur secara tegas oleh syariat.
Pelanggaran merek tidak dapat dimasukkan ke dalam katagori jari-mah hudud karena wujud merek itu sendiri tidak ada ukuran jumlah yang pasti dan termasuk barang yang abstrak. Namun permasalahan mengenai
56
pemalsuan merek lebih tepatnya masuk ke dalam katagori jarimah dengan sanksi pidana ta'zir karena merupakan permasalahan kontemporer yang ter-jadi akibat perkembangan zaman. Walau di dalam Alquran dan Sunnah tidak ada aturan yang mengatur tentang permasalahan pemalsuan merek maka tu-gas ini akan dilimpihkan kepada ulil amri yang akan mempertimbangkan hukuman yang tepat bagi pelaku berdasarkan unsur-unsur jarimah yang dil-akukan pelaku yaitu unsur formil (rukun syar‟i), unsur materil (rukun mad-di), dan unsur moril (rukun adabi) demi mewujudkan kemaslahatan umat, mendidik sekaligus mencegah terjadinya kerusakan (mencegah orang lain
57 BAB IV
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU PEMALSUAN MEREK