BAB II : TINDAK PIDANA PERDAGANGAN TENAGA KERJA
B. Tindak Pidana Perdagangan Tenaga Kerja Wanita (TKW)
Dari defenisi perdagangan orang sebagaimana termuat dalam UU No. 21 Tahun 2007 pada Pasal 1 ayat 1 tersebut di atas memberikan rumusan yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan perdagangan manusia. Uraian lebih lanjut atas rumusan di Pasal 1 ayat 1 UU ini mendekatai uraian yang dipaparkan dalam menanggapi Protokol PBB untuk Mencegah, Menekan dan Menghukum Pelaku Trafficking terhadap manusia, bahwa dari defenisi di atas ada beberapa elemen yang berbeda yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya yakni:
Tindakan atau Perbuatan
Tindakan atau perbuatan yang dikategorikan perdagangan manusia dapat berupa tindakan : Perekrutan, Pengangkutan, Penampungan, Pengiriman, Pemindahan, atau penerimaan seseorang;
Dengan Cara
Tindakan atau perbuatan di atas dilakukan dengan cara: dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang attau memberi
bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut,
Tujuan Atau Maksud
Tujuan atau maksud tindakan dan perbuatan tersebut adalah untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. Eksploitasi mencakup setidak- tidaknya eksploitasi pelacuran dari orang lain atau bentuk-bentuk eksploitasi seksual lainnya, kerja paksa, perbudakan, penghambaan42 dan pengambilan organ tubuh.
Dalam Protokol PBB tersebut juga ditetapkan bahwa persetujuan yang telah diberikan oleh korban perdagangan manusia berkenaan dengan eksploitasi yang menjadi tujuan dari perdagangan tersebut kehilangan relevansinya (tidak lagi berarti), bilamana cara-cara pemaksaan atau penipuan sebagaimana diuraikan dalam defenisi di atas telah digunakan. Kemudian, setiap tindakan rekruitmen, transportasi, pemindahan, penempatan atau penerimaan seorang anak dengan maksud-tujuan eksploitasi, dianggap sebagai “perdagangan manusia” sekalipun cara-cara pemaksaan atau penipuan yang diuraikan dalam defenisi di atas tidak digunakan. Hal ini menegaskan bahwa untuk korban perdagangan anak, tanpa terpenuhinya elemen kedua, yakni dengan menggunakan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-
42
Kerja paksa, perbudakan dan perhambaan merupakan jenis eksploitasi terhadap orang dengan memanfaatkn tenaga mereka untuk bekerja tanpa dibarengi kewajiban menyelenggarakan hak- hak sosial ekonominya. Dalam perbudakan, kerja paksa dan penghambaandicirikan adanya ketidakmampuan si pekerja/ buruh untuk melakukan perlawanan dikarenakan kuasa pemilik yang sangat dominant. Budak dari sejarahnya merupakansebuah kelas masyarakat terendah yang turun temurun, dapat diperjualbelikan sama seperti barang, perhambaan (pandelingschap) terjadi atas peristiwa pemberian pinjaman uang, dimana seseorang (si ber-utang ataupun orang lain yang dikuasainya) diserahkan pada si pemberi piutang/gadai untuk bekerja padanya sampai uang pinjaman dilunasi, untuk lebih jelas baca dalam Iman Soepomo, Hukum Perburuhan Bidang Hubungan Kerja, Djambatan, Jakarta, 2001, hlm., 10-26.
bentuk paksaan lain, penculikan, tipu daya, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau kedudukan rentan atau pemberian atau penerimaan pembayaran atau keuntungan untuk memperoleh persetujuan dari orang-orang sudah merupakan sebuah bentuk perdagangan orang. Hal lain yang dapat diambil dari protocol PBB ini yaitu dicakupkannya unsur tipu daya, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau kedudukan rentan, merupakan pengakuan bahwa perdagangan manusia dapat terjadi tanpa adanya penggunaan kekerasan (fisik).43
Dalam penafsiran istilah penyalahgunaan kedudukan rentan (abuse of position of vulnerability) haruslah dimengerti sebagai sebuah situasi dimana seseorang tidak memiliki alternative nyata atau yang dapat diterima, terkecuali untuk pasrah pada penyalahgunaan yang terjadi. Unsur umum dari semua cara yang tersebut di dalam UN Trafficking Protocol adalah terdistorsinya kehendak bebas seseorang. Tipu daya atau penipuan berkenaan dengan apa yang dijanjikan dan realisasinya, yakni mencakup jenis pekerjaan dan kondisi kerja.
Paparan di atas menunjukkan bahwa perdagangan tenaga kerja adalah merupakan sebahagian dari perdagangan manusia umumnya, dimana dalam perdagangan tenaga kerja ini dapat terjadi:
1. Tujuannya adalah eksploitasi tenaga kerja
2. Korbannya adalah para tenaga kerja yang memang dijanjikan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik.
Khusus dalam UU 39 tahun 2004 tentang PPTKI diperuntukkan bagi pekerja/buruh migran (TKI yang bekerja ke luar negeri). UU inilah sesungguhnya
43
yang secara langsung berkenaan dengan pencegahan dan upaya penanggulangan perdagangan tenaga kerja perempuan dan anak ke luar wilayah negara Indonesia. Sebagaimana dinyatakan dalam UU 39 tahun 2004:44
”bahwa tenaga kerja Indonesia di luar negeri sering dijadikan objek perdagangan manusia termasuk perbudakan dan kerja paksa, korban kekerasan, kesewenang- wenangan, kejahatan atas harkat dan martabat manusia, serta perlakuan lain yang melanggar hak asasi manusia.”
Indonesia juga telah meratifikasi Konvensi ILO Nomor 105 Tahun 1957 Tentang Penghapusan Kerja Paksa (Abolition of Forced Labour Convention), menuangkannya dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 1999. Konvensi ini mengharuskan kerja paksa dalam bentuk apapun harus dihapus dari perundangan nasional, selain itu juga Negara wajib menerapkan hukuman pada orang-orang yang secara illegal menerapkan kerja paksa/kerja wajib.
Fakta yang ditemukan masyarakat bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perdagangan orang antara lain;45
1. Kurangnya Lapangan Pekerjaan
Di Indramayu, keterbatasan lapangan pekerjaan, khususnya bagi perempuan, membuat orang beralih ke sektor PRT migrant dan pelacuran. Menjadi PRT migran adalah pilihan yang lebih baik ketimbang menjadi pelacur. Menjadi pelacur adalah lebih baik dari pada menjadi buruh tani atau buruh garam. Kemiskinan membuat masyarakat cenderung nekad mencari pekerjaan, termasuk
44
Lihat dictum Menimbang pada poin c dalam UU 39 Tahun 2004
45
ke luar negeri. Meski jauh dan banyaknya informasi tentang kekerasan terhadap buruh migran, tidak menyurutkan niat untuk bekerja di luar negeri.
2. Terpengaruh orang sekitar yang pernah berimigrasi dan sukses
Anak perempuan cenderung dipengaruhi oleh faktor lingkungan setempat, misalnya tatkala melihat teman sebaya yang bekerja. Dibiarkan dengan adanya sikap pembiaran oleh orang tua, keluarga dan masyarakat setempat. Gaya hidup yang dibawa pulang oleh mantan Pembantu Rumah Tangga (PRT), kuat melekat dan menjadi pemicu bagi anak perempuan untuk menirunya.
3. Mencari gaji yang lebih besar
Gaji besar menjadi daya tarik utama bagi mereka yang ingin bekerja ke luar negeri. Di Indramayu, kebanyakan masyarakat yang awalnya bekerja sebagai buruh tani, buruh garam, dan PRT dalam negeri, melihat bekerja ke luar negeri sebagai peluang mendapat gaji besar.
Di Cirebon Desa Serang Wetan, Kecamatan Babakan, Cirebon tercatat 326 warga yang berimigrasi, sebagian besar perempuan dengan jumlah 293 orang. Jumlah ini merupakan data yang tercatat di aparat desa. Jumlah ini kemungkinan besar berbeda dengan fakta, sebab sering ditemukan warga yang berimigrasi dengan tidak menggunakan alamat sebenarnya. Dari data tersebut sebagian besar memilih negara tujuan Timur Tengah karena relatif lebih cepat diberangkatkan, tidak begitu lama di penampungan, biaya yang dikeluarkan sedikit dan cabutan (potongan gaji) sedikit.
Faktor lain yang menyebabkan anak lebih rentan menjadi korban perdagangan orang adalah pengetahuan dan informasi yang sangat terbatas, keinginan anak
untuk bekerja tidak dibarengi dengan pengetahuan dan informasi jenis pekerjaan dan situasi lingkungan kerja.46
Pembangunan ekonomi di negara miskin dipengaruhi golongan berkuasa di negara kapitalis maju (Baran 1957). Kemunduran dan kemiskinan di negara- negara Dunia Ketiga ini dianggap sebagai hasil pergantungan negara tersebut ke dalam sistem ekonomi dunia. Keadaan ini dikenal juga sebagai perhubungan antara pusat dan pinggiran dimana negara-negara maju telah mengeksploit negara-negara pinggiran. Keadaan ini berlangsung sampai kepada tataran kehidupan di pedesaan. Menurut pendekatan struktur, kemiskinan yang terjadi di pedesaan berakar umbi kepada sistem produksi dan bukannya faktor internal individu tersebut (Frank 1978). Kekurangan ketiadaan sumber kebendaan menimbulkan halangan membuat dan menikmati pilihan di kalangan golongan miskin tersebut. Keadaan ini berimbas kepada munculnya perempuan-perempuan pedesaan yang miskin dan tidak berpenghasilan. Ketidak berdayaan perempuan- perempuan pedesaan tersebut telah dijadikan peluang oleh jaringan perdagangan haram untuk mengeksploit mereka.
Selain kemiskinan perempuan pedesaan, masih banyak lagi faktor-faktor penyebab perdagangan manusia. Sebab-sebab ini rumit dan seringkali saling memperkuat satu sama lain. Jika melihat perdagangan manusia sebagai pasar global, maka para korban merupakan sisi penawaran (persedian) dan para majikan yang kejam atau pelaku eksploitasi seksual mewakili permintaan.
46
Faktor-faktor yang mempengaruhi dari sisi penawaran antara lain ialah kemiskinan, pendidikan dan ketrampilan yang rendah, kekurangan informasi, daya tarik standar hidup di tempat lain yang lebih tinggi, strukur sosial dan ekonomi yang lemah, kesempatan bekerja yang kurang, kejahatan yang terorganisir, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, diskriminasi terhadap perempuan, budaya patriarkhi, penegakan hukum yang lemah, korupsi pemerintah, ketidakstabilan politik, konflik bersenjata, dan tradisi-tradisi budaya seperti perbudakan tradisional. Di beberapa masyarakat, sebuah tradisi memungkinkan anak ketiga atau keempat dikirim untuk hidup dan bekerja di kota dengan seorang anggota keluarga jauh (seringkali seorang “paman”), dengan janji akan memberi pendidikan dan pelajaran berdagang kepada anak. Dengan mengambil keuntungan dari tradisi ini, para pelaku perdagangan seringkali memposisikan diri mereka sebagai agen pekerjaan, yang membujuk para orang tua untuk berpisah dengan seorang anak, tetapi kemudian memperdagangkan anak tersebut untuk bekerja sebagai pekerja seks, pelayan rumah atau perusahaan komersial.
Di sisi permintaan, faktor-faktor yang membawa pada perdagangan manusia mencakup industri seks dan permintaan akan tenaga kerja yang dapat dieksploitasi. Pariwisata seks dan pornografi telah menjadi industri dunia luas, yang difasilitasi oleh teknologi seperti internet, yang secara berlebihan memperluas pilihan-pilihan yang tersedia bagi para pelanggan dan memungkinkan adanya transaksi yang cepat dan hampir tidak terdeteksi. Perdagangan haram untuk tujuan prostitusi ini semakin tumbuh subur karena
keuntungannya sangat luar biasa. Perdagangan manusia juga ditimbulkan oleh adanya permintaan global atas tenaga kerja yang murah, rentan, dan illegal.
Di Cirebon, kebanyakan anak perempuan di bawah umur menjadi PRT dengan memalsukan dokumen seperti KTP. Data yang paling sering dipalsukan adalah usia, pemalsuan inilah yang membuat anak perempuan di bawah umur rentan menjadi korban perdagangan orang.
Di Cirebon, perekrutan PRTA dari beberapa daerah Jawa Tengah dilakukan oleh calo yang masih merupakan kerabat. Adapula beberapa PRT migran, perekrutannya dalam negeri dapat dilakukan tanpa melalui calo. Majikan atau pengguna jasa sering mencari tenaga PRT melalui non yayasan atau non calo, misalnya dengan menghubungi keluarga dan teman, bahkan mendatangi sendiri calon PRT bersangkutan.
Informasi mengenai tersedianya pekerjaan kadangkala di dapat dari teman yang juga direkrut sebagai PRT. Anak perempuan yang sedang direkrut menjadi PRT tidak jarang diminta mencarikan beberapa temannya untuk direkrut secara bersamaan. Calo kemudian mengurusi semua persyaratan, termasuk dokumen. Aparat desa setempat terkadang tidak mau memberikan surat-surat yang dibutuhkan jika calon PRT migran berusia di bawah 18 tahun. Ini menyebabkan para sponsor kemudian memalsukan identitas orang yang dbawanya ke daerah lain. Pemalsuan identitas yang dilakukan kebanyakan adalah umur dan alamat asal.
Selanjutnya perdagangan orang yang terjadi di masyarakat adalah pengiriman buruh migran untuk menjadi pekerja rumah tangga di luar negeri (PRT migran) dan eksploitasi seksual komersial anak (ESKA). Beberapa PRT migran mengatakan
bahwa mereka tidak mengurus ijin dari desa. Hal ini juga dibenarkan oleh aparat desa yang terkadang tidak mengetahui warganya yang berangkat bekerja ke luar negeri. Mereka mengetahui bahwa warganya telah bermigrasi dari ucapan mulut ke mulut.
Negara yang menjadi tujuan migrasi adalah negara-negara di Timur Tengah dan Hongkong. Sebagian besar responden bekerja di negara Timur Tengah dan Hongkong. Sebagian besar responden yang bekerja di negara Timur Tengah, mengikuti jejak orang disekitar mereka yang sebelumnya pernah bekerja di Timur Tengah.
Beberapa Lembaga Perempuan telah melakukan advokasi, Cirebon cenderung dinilai paling banyak korban perdagangan perempuan. Untuk menekan dan mengurangi jumlah korban berikutnya, maka cara yang paling tepat adalah dengan mensosialisasikan peraturan hukum yang berlaku di Indonesia, yang mana salah satunya adalah sosialisasi tentang “Convention on The Elimination of All Form of
Discrimination Againts Women” (CEDAW)/ Konvensi Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi terhadap perempuan, diadopsi oleh majelis umum PBB pada tahun 1979, merupakan dokumen internasional pertama yang mengakui hak asasi perempuan (international bill of rights of women) dan bersifat mengikat negara peratifikasi. Di dalamnya dimuat hak-hak perempuan secara konfrehensif meliputi bidang-bidang ekonomi, sosial, budaya, dan politik dan hukum. Pemerintah Indonesia menjadi salah satu negara yang telah menandatangani konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap perempuan. Pada tanggal 24 Juli 1984 pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menjadi UU RI No.7 tahun 1984.
Beberapa upaya telah dilakukan lembaga perempuan yang concern terhadap masalah perempuan dan anak. Khususnya masalah perdagangan orang, secara maksimal telah dilakukan sosialisasi dan temu bicara dengan para tokoh agama dan masyarakat. Tetapi dalam pelaksanaannya selalu terbentur dengan para calon migran atau para pencari kerja. Mereka lebih memilih membuat dan memalsukan identitas/ KTP di daerah lain, yang mana semua urusannya beres melalui pembayaran uang.
Sampai saat ini sosialisasi dan penyadaran hukum masih terus diupayakan, akan tetapi kenyataannya akan selalu dikembalikankepada calon buruh migran yang mana lebih memikirkan urusan perut.
Direktur LBH Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK), Cut Betty, mengatakan, jumlah trafficking saat ini semakin meningkat di Sumatera Utara, dan kebanyakkan korban trafficking itu terjadi di Perusahaan Jawatan Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).47
“Sebab PJTKI kebanyakan tidak menyalurkan tenaga kerjanya sesuai yang diharapkan,” katanya kepada Waspada Online, malam ini.
Dijelaskan, para tenaga kerja yang masuk ke PJTKI menginginkan kerja ke luar negeri, tapi malah dipekerjakan di daerah sendiri. Ironisnya lagi, gaji yang diberikan juga tidak memadai.
“Jadi, aparat keamanan (kepolisian) seharusnya menindak tegas para PJTKI, yang melakukan perbuatan tersebut, dan memberikan sanksi tegas,” katanya.
47
Jika itu diberlakukan, katanya, PJTKI tentu tidak berani berbuat demikian kepada para kaum perempuan.
Diduga tak memenuhi syarat, PT Karya Semesta Sejahtera (KSS), sebuah Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) digerebek polisi. Selain tak memenuhi syarat perizinan, PJTKI yang berkantor di Ruko Larangan, Sidoarjo itu juga diduga melakukan trafficking.
"Kami juga mengamankan pasutri pengelola PJTKI itu," ujar Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polwiltabes Surabaya, AKP Eusebia Torimtubun kepada wartawan di Mapolwiltabes, Jalan Sikatan, Rabu (10/12/2008).
Pasutri itu adalah Ngoey Bambang Djumali (59) dan Sofia Nohemy Dewi (41), yang bertempat tinggal di Darmo Hill Blok M. Sebi menceritakan bahwa berawal dari laporan praktek trafficking di sebuah PJTKI, pihaknya selama seminggu terus menyelidikinya. Dan hasilnya mengarah kepada PT KSS.
Petugas pun segera menggerebek PT KSS. PT KSS sendiri mempunyai 3 tempat penampungan calon TKI yakni Ruko Putat Gede, Darmo Hill dan Jalan Raya Sekarpuro, Malang. Semua tempat itu sudah digeledah petugas.
Hasilnya, untuk perizinan tempat penampungan di Putat Gede dan Jalan Raya Sekarpuro sudah terpenuhi. Sedangkan tempat penampungan di Darmo Hill ternyata tak berizin.
Dari 3 tempat itu petugas juga menemukan 64 calon TKI yang kesemuanya adalah wanita. Mereka rencananya akan dikirim bekerja di Taiwan,
Hongkong, Malaysia, Singapura dan Brunei. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa 8 diantara mereka terbukti tak memenuhi persyaratan.
Sebi mengatakan Bahwa Satu orang tak memenuhi persyaratan pendidikan dan tujuh lainnya tak memenuhi persyaratan umur.
Menurut UU nomor 39/2004, persyaratan pendidikan minimal seorang calon TKI ke luar negeri adalah lulus SMP dan batas umur minimal yang diperbolehkan adalah 21 tahun. Tetapi kedelapan calon TKI itu tak memenuhi dua persyaratan tersebut.
Sebi menduga bahwa dokumen kedelapan calon TKI itu telah dipalsukan karena mereka mempunyai KTP, KK dan paspor yang mana datanya tidak sesuai dengan identitas mereka sebenarnya.
PT KSS sendiri mengambil untung dari calon TKI itu dengan cara memotong gaji mereka selama tujuh bulan. Saat masuk, mereka tidak diwajibkan membayar apa-apa. Namun begitu mereka sudah mulai bekerja, gaji para TKI itu etiap bulannya dipotong sekitar HKD 3.000 (Rp 45 juta) selama tujuh bulan.
Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) ilegal yang telah mengirimkan sebanyak 200 orang sebagai pekerja seks komersil (PSK).
"Pengiriman 200 TKI tersebut sudah berlangsung sejak tiga bulan lalu lalu," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Metro Tangerang Komisaris Pol Budhi Herdi Susianto di Tangerang, Provinsi Banten, Rabu (21/10).
Budhi mengungkapkan seluruh tenaga kerja tersebut, adalah pekerja wanita yang awalnya dijanjikan akan diperkerjakan sebagai pembantu rumah tangga atau pelayan di kafe atau restoran.
Namun perusahaan penyalur tenaga kerja itu, menempatkan seluruh tenaga kerjanya sebagai wanita penghibur di kafe dan tempat karaoke yang menjadi lokalisasi di Malaysia dan Singapura.
Budhi mengatakan bahwa polisi membongkar kasus ini setelah salah satu korban yang berada di Singapura, menghubungi pihak keluarganya melalui sambungan telepon.
Korban tersebut mengeluh karena dirinya diperkerjakan sebagai wanita penghibur, padahal awalnya dijanjikan menjadi pelayan di restoran, kemudian pihak keluarga melaporkan perusahaanya kepada Polres Metro Tangerang.
Selanjutnya polisi mencari alamat perusahaan pengirim tenaga kerja itu, lalu petugas menyergap lokasi PJTKI dan berhasil mengamankan Yan (65) yang diduga sebagai pengelola.
Polisi juga mengamankan dua calon tenaga kerja, yakni SR dan FA yang belum diberangkatkan, untuk dimintai keterangan seputar keberadaan dan aktifitas selama dikarantina pihak pengelola.
Selain itu, petugas juga menyita berbagai kelengkapan dokumen untuk memberangkatkan para korban, seperti paspor dan visa kunjungan yang berlaku kurang dari 30 hari.
Budhi menuturkan pihaknya menuduh pengelola PJTKI tidak memiliki izin resmi dari Departemen Tenaga Kerja dan menempatkan pekerja di tempat yang tidak sesuai dengan norma susila.
Sehingga pengelola terjerat Pasal 102 ayat 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri dengan ancaman 10 tahun penjara dan denda Rp 15 miliar.
Dalam menjalankan usahanya PJTKI harus memenuhi beberapa syarat-syarat yang dibutuhkan, syarat-syarat tersebut tercantum dalam Ringkasan Keputusan Menteri nomor KEP-204/MEN/1999 dan NO:KEP-138/MEN/2000 tentang Penempatan Tenaga Kerja ke Luar Negeri yang Berkaitan dengan TKI
1. Tenaga Kerja Indonesia yang selanjutnya disebut TKI adalah warga negara Indonesia baik laki-laki maupun perempuan yang bekerja di luar negeri dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kerja.
2. TKI dapat bekerja ke seluruh negara tujuan penempatan, dimana negara tujuan tersebut memiliki peraturan perlindungan terhadap tenaga kerja asing dan tidak membahayakan keselamatan TKI.
3. TKI dapat melakukan pekerjaan di darat, laut maupun udara.
4. Penempatan TKI dapat dilakukan oleh lembaga pelaksanaan penempatan yang terdiri dari :
a. Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI); b. Instansi Pemerintah atau Badan Usaha Milik Negara; c. Badan Usaha Swasta untuk kepentingan sendiri.
5. Pendataan calon TKI dapat dilakukan oleh petugas pengantar kerja pemerintah dan atau petugas Perwakilan Daerah PJTKI, dengan tidak dipungut biaya. Pendataan tersebut belum merupakan jaminan penempatan.
6. Untuk dapat melakukan pendaftaran calon TKI, PJTKI harus memiliki dokumen perjanjian kerjasama penempatan, surat permintaan tenaga kerja (job order), perjanjian kerja dan perjanjian penempatan.
7. Permintaan tenaga kerja (job order) sekurang-kurangnya harus memuat : a. jumlah TKI yang akan ditempatkan;
b. jenis dan uraian pekerjaan atau jabatan; c. kualifikasi TKI;
d. syarat-syarat kerja; e. kondisi kerja; f. jaminan social; dan
g. masa berlakunya surat permintaan TKI.
8. Perjanjian penempatan sekurang-kurangnya harus memuat : a. Kepastian waktu pemberangkatan calon TKI;
b. Biaya penempatan calon TKI ke negara tujuan; c. Jabatan atau pekerjaan calon TKI.
9. Perjanjian kerja sekurang-kurangnya harus memuat : a. nama dan alamat pengguna
b. jenis dan uraian pekerjaan atau jabatan
c. kondisi dan syarat kerja yang meliputi antara lain jam kerja, upah dan cara pembayaran, upah lembur, cuti dan waktu istirahat serta jaminan sosial
10. Persyaratan calon TKI:
a. usia minimal 18 tahun kecuali negara tujuan menentukan lain. b. Memiliki kartu kartu tanda penduduk
c. Sehat mental dan fisik yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter
d. Sekurang-kurangnya tamat SLTP, memiliki keterampilan atau keahlian atau pengalaman sesuai dengan persyaratan jabatan atau pekerjaan yang diperlukan e. Ijin dari orang tua atau wali bagi yang belum berkeluarga dan Suami atau isteri
bagi yang sudah berkeluarga.
11. Calon TKI mengurus paspor ke kantor imigrasi setempat berdasarkan daftar nominasi calon TKI
12. Pengurusan visa kerja calon TKI dilakukan oleh PJTKI sesuai dengan ketentuan yang berlaku
13. Sebelum diberangkatkan calon TKI harus menandatangani perjanjian kerja (PK) yang isinya telah disetujui oleh pengguna. Penandatanganan PK ditandatangani setelah TKI memperoleh visa kerja. Pelaksanaan penandatanganan PK dihadapan dan diketahui oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan di Kantor BP2TKI atau Kantor Wilayah Depnaker.
14. PJTKI wajib mengikutsertakan calon TKI dalam program asuransi perlindungan TKI
15. PJTKI wajib memberikan pembekalan akhir pemberangkatan sebelum TKI berangkat ke luar negeri
16. Semua biaya penempatan TKI pada prinsipnya menjadi tanggung jawab pengguna, kecuali ditentukan lain atau persetujuan Dirjen
17. Biaya penempatan yang dapat dibebankan kepada calon TKI meliputi biaya: