KAJIAN PUSTAKA
2.3 Fenomena Pragmatik
2.3.2 Tindak Tutur
Tindak tutur adalah fenomena pragmatik yang berkenaan dengan tindakan penutur yang ditunjukkan melalui tuturan. Diperjelas oleh Yule (2006:82−84) bahwa tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan biasanya disebut tindak tutur. Tindakan yang ditampilkan dengan menghasilkan suatu tuturan akan mengandung tiga tindak yang saling berhubungan. Pertama, tindak lokusi, yang merupakan tindak dasar tuturan atau menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna. Kedua, tindak illokusi. Penutur membentuk tuturan dengan beberapa fungsi di dalam pikiran. Tindak illokusi ditampilkan melalui penekanan
komunikatif suatu tuturan. Ketiga, tindak perlokusi. Tentu penutur tidak secara sederhana menciptakan tuturan yang memiliki fungsi tanpa memaksudkan tuturan itu memiliki akibat.
Tindak tutur diklasifikasikan menjadi 5 jenis fungsi umum, yaitu deklaratif, representatif, ekspresif, direktif, dan komisif (Yule, 2006:92–94). Deklarasi adalah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan. Contoh 1: Pastor : Sekarang saya menyebut Anda berdua suami-istri. Seperti contoh tersebut menggambarkan, penutur harus memiliki peran institusional khusus, dalam konteks khusus, untuk menampilkan suatu deklarasi secara tepat. Pada waktu menggunakan deklarasi penutur mengubah dunia dengan kata-kata.
Jenis tindak tutur selanjutnya adalah representatif. Representatif merupakan jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan. Pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Contoh :
Bumi itu datar. Itu merupakan contoh dunia sebagai sesuatu yang diyakini oleh penutur yang menggambarkannya. Pada waktu menggunakan sebuah representatif, penutur mencocokkan kata-kata dengan dunia (kepercayaannya).
Selanjutnya, tindak tutur ekspresif merupakan jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur itu mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, atau kesengsaraan. Contoh: Sungguh, saya minta maaf. Tindak tutur itu mungkin disebabkan oleh sesuatu yang dilakukan oleh penutur atau pendengar, tetapi semuanya menyangkut pengalaman penutur.
Direktif adalah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Jenis tindak tutur ini menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur. Tindak tutur ini meliputi; perintah, pemesanan, permohonan, pemberian saran, dan bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif. Contoh 1: Berilah aku secangkir kopi. Buatkan kopi pahit. Contoh 2: Jangan menyentuh
itu! Pada waktu menggunakan direktif, penutur berusaha menyesuaikan dunia dengan kata (lewat pendengar).
Jenis tindak tutur yang terakhir adalah komisif. Jenis tindak tutur ini adalah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengaitkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Tindak tutur ini menyatakan apa saja yang dimaksudkan oleh penutur. Tindak tutur ini dapat berupa janji, ancaman, penolakan, dan ikrar. Contoh : Saya akan kembali. Pada waktu menggunakan komisif, penutur berusaha untuk menyesuaikan dunia dengan kata- kata (lewat penutur).
2.3.3 Implikatur
Ketika terjadi sebuah tuturan, sesungguhnya penutur dan mitra tutur harus memiliki pemahaman yang sama tentang latar belakang pengetahuan dari topik yang dituturkan oleh penutur. Hal itulah yang akan memperlancar terjadinya komunikasi. Grice (1975) via Rahardi (2005:43) menyatakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut.
Yule (2006:61) juga memaparkan implikatur secara kompleks. Jika seorang pendengar mendengar suatu tuturan, pertama-tama dia harus berasumsi bahwa penutur sedang melaksanakan kerja sama dan bermaksud untuk menyampaikan informasi. Informasi itu tentunya (memiliki makna) lebih banyak daripada sekedar kata-kata itu. Makna ini merupakan makna tambahan yang disampaikan, yang disebut dengan implikatur. Dengan mengatakan suatu tuturan, penutur berharap pendengar akan mampu menentukan implikatur yang dimaksud dalam konteks berdasarkan pada apa yang sudah diketahui.
2.3.4 Deiksis
Deiksis adalah fenomena pragmatik tentang apa yang ditunjuk oleh penutur berkaitan dengan konteks tuturannya. Yule (2006:13−14) menjabarkan bahwa deiksis adalah istilah teknis (dari bahasa Yunani) untuk salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Deiksis berarti ‘penunjukan’ melalui bahasa. Bentuk linguistik yang dipakai untuk menyelesaikan ‘penunjukan’ disebut ungkapan deiksis. Ketika seseorang menunjuk suatu objek dan bertanya, “Apa itu?”, maka ia telah menggunakan ungkapan deiksis (“itu”) untuk menunjuk sesuatu dalam suatu konteks secara tiba-tiba. Ungkapan-ungkapan deiksis kadang- kala juga disebut indeksikal.
Masih oleh Yule, dijelaskan pula bahwa ungkapan-ungkapan itu berada di antara bentuk-bentuk awal yang dituturkan oleh anak-anak yang masih kecil dan dapat digunakan untuk menunjuk orang dengan deiksis pesona (‘ku’, ‘mu’), atau untuk menunjuk tempat dengan deiksis spasial (‘di sini’, ‘di sana’), atau untuk
menunjuk waktu dengan deiksis temporal (‘sekarang’, ‘kemudian’). Untuk menafsirkan deiksis-deiksis itu, semua ungkapan bergantung pada penafsiran penutur dan pendengar dalam konteks yang sama. Jelas sekali bahwa deiksis mengacu pada bentuk yang terkait dengan konteks penutur, yang dibedakan secara mendasar antara ungkapan-ungkapan deiksis’dekat penutur’ dan ‘jauh dari penutur’.
2.3.5 Kesantunan
Fenomena kelima yang dikaji oleh pragmatik adalah kesantunan. Bahasa yang digunakan oleh seseorang merupakan cerminan dari dirinya sendiri. Melalui bahasa pula, orang lain dapat menilai harkat dan martabat seseorang. Seseorang yang mampu berbahasa secara santun menunjukkan kepribadiannya yang santun pula. Inilah mengapa, memperhatikan kesantunan dalam berbahasa menjadi suatu hal penting pula dalam berkomunikasi dengan lingkungan sosial.
Struktur bahasa yang santun adalah struktur bahasa yang disusun oleh penutur/penulis agar tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembaca. Ketika menggunakan bahasa dalam bersosialisasi, penutur harus memperhatikan kaidah berbicara dengan baik dan benar. Bahasa yang benar adalah bahasa yang dipakai sesuai dengan kaidah yang berlaku. Begitu juga ketika seseorang sedang menulis cerpen, mereka menggunakan kaidah bahasa sesuai dengan peran tokoh yang sedang diperankan. Namun, kedua hal tersebut tidaklah cukup. Masih ada satu kaidah lagi yang perlu diperhatikan yaitu kesantunan (Pranowo, 2009:4−5).
Pranowo (2009:14−15) juga menyebutkan tiga alasan berbahasa secara santun dalam interaksi penutur dan mitra tutur. Pertama, mitra tutur diharapkan dapat memahami maksud yang diampaikan oleh penutur. Kedua, setelah mitra tutur memahami maksud penutur, mitra tutur akan mencari aspek tuturan yang lain. Ketiga, tuturan penutur kadang-kadang juga disimak oleh orang lain (orang ketiga) yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan komunikasi antara penutur dengan mitra tutur.
2.3.6 Ketidaksantunan
Dalam perkembangan pragmatik, kelima fenomena yang telah dipaparkan di atas ternyata kurang menjawab semua permasalahan bahasa yang terdapat dalam kehidupan sosial masyarakat. Terdapat fenomena baru yang perlu dikaji secara mendalam di dalam kajian pragmatik. Fenomena baru ini muncul berdasarkan konteks dan lingkungan penutur yang selalu berkembang. Fenomena baru yang muncul seiring perkembangan kajian pragmatik ini adalah ketidaksantunan berbahasa. Tidak jauh berbeda dengan kelima fenomena yang telah dikaji secara mendalam sebelumnya, ketidaksantunan tentulah tidak lepas dari konteks.
Ketidaksantunan berbahasa muncul dengan melihat realita di masyarakat bahwa berbahasa secara santun masih jauh dari harapan. Penggunaan bahasa yang santun tampaknya kurang mendapat perhatian. Banyak individu yang merupakan bagian dari masyarakat tidak mengindahkan pentingnya berbahasa secara santun. Padahal, untuk dapat berkomunikasi dengan lancar, seseorang tidak hanya dituntut
mampu menggunakan bahasa yang baik dan benar, tetapi juga harus mampu berbahasa secara santun.
Pranowo (2009:72−73) menyebutkan empat faktor yang menyebabkan adanya ketidaksantunan pemakaian bahasa. Pertama, ada orang yang memang tidak tahu kaidah kesantunan yang harus dipakai ketika berbicara. Kedua, faktor pemerolehan bahasa. Kebanyakan kesantunan berbahasa Indonesia masyarakat Indonesia dikuasai secara alamiah. Mereka berbahasa secara santun, tetapi tidak dapat menjelaskan kaidah kesantunan apa yang digunakan. Ketiga, ada orang yang sulit meninggalkan kebiasaan lama dalam budaya bahasa pertama sehingga masih terbawa dalam kebiasaan baru (berbahasa Indonesia) (interferensi).
Keempat, karena sifat bawaan “gawan bayi” yang memang suka berbicara tidak santun di hadapan publik.
Pranowo (2009:68−71) menunjukkan beberapa fakta dalam berkomunikasi yang tidak santun. Komunikasi menjadi tidak santun jika penutur ketika bertutur menyampaikan kritik secara langsung kepada mitra tutur. Ketika bertutur, penutur didorong rasa emosi yang berlebihan ketika bertutur sehingga terkesan marah kepada mitra tutur. Selain itu, seorang penutur kadang-kadang protektif terhadap pendapatnya ketika bertutur. Hal demikian dimaksudkan agar tuturan mitra tutur tidak dipercaya oleh pihak lain. Fakta lain, dapat pula penutur sengaja ingin memojokkan mitra tutur dalam bertutur. Dengan demikian, mitra tutur menjadi tidak berdaya. Tuturan menjadi tidak santun dengan fakta jika penutur terkesan menyampaikan kecurigaan terhadap mitra tutur.