B. Faktor-Faktor Penghambat dalam Pelaksanaan Tindakan Aborsi Atas Kehamilan Akibat Perkosaan Untuk Memberikan Perlindungan
1. Tindakan Aborsi Merupakan Perbuatan yang Bertentangan dengan Kode Etik Kedokteran
Dengan terbitnya PP Kesehatan Reproduksi yang menambahkan aturan legalisasi aborsi kehamilan akibat perkosaan, hal tersebut menimbulkan kontroversi terutama di kalangan dokter.
Penulis mendapatkan hasil penelitian bahwa dokter hanya akan melaksanakan tindakan aborsi atas indikasi kedaruratan medis dan tidak akan melaksanakan tindakan aborsi karena kehamilan akibat perkosaan. Tindakan aborsi kehamilan akibat perkosaan sudah masuk ke dalam ranah hukum pidana. Selain itu, tindakan aborsi kehamilan akibat perkosaan melanggar Sumpah Dokter, sebab janin yang dikandung wanita hamil akibat perkosaan wajib untuk dihormati dan diselamatkan. Apabila terdapat wanita korban perkosaan dalam kondisi sudah positif hamil datang kepada dokter untuk dilayani aborsi, maka dokter wajib menolak dan menyarankan wanita tersebut untuk melanjutkan kehamilannya. Setiap dokter harus berpegang teguh pada sumpahnya yang berbunyi : “Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan”. Jika ada dokter Spesialis Obstetri commit to user commit to user
dan Ginekologi sekalipun, jika melakukan tindakan aborsi selain indikasi kedaruratan medis, maka dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi itu dapat dipastikan melanggar Sumpah Dokter.
Lafal Sumpah Dokter Indonesia bersumber dari Sumpah Hippocrates. Sumpah Hippocrates yang sudah berusia lebih dari 2000 tahun itu tetap bertahan pada profesi dokter dari generasi ke generasi hingga sekarang, dan menjadikan sumpah itu sebagai pokok janji mereka. Karena itu sumpah dokter pada dasarnya seragam di berbagai negara di dunia. Di Indonesia dengan urutan kalimat yang berbeda dari
Sumpah Hippocrates, Lafal Sumpah Dokter Indonesia telah dikukuhkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960 yang berbunyi sebagai berikut :102
“Saya bersumpah/berjanji bahwa :
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai Dokter;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian, atau Kedudukan Sosial;
Saya akan memberikan kepada Guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Teman sejawat akan saya perlakukan sebagai saudara kandung;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan; Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
Saya ikrarkan Sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertahankan kehormatan diri saya.
102 Paulinus Soge, Hukum Aborsi …Op.Cit., Hal. 133-134
commit to user commit to user
Bunyi bunyi Lafal Sumpah Dokter di atas disebutkan bahwa
“Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan”, mengandung pengertian bahwa setiap dokter mempunyai kewajiban moral untuk menghormai tiap hidup insani serta mengandung tuntutan kepada semua dokter untuk tidak hanya sekedar hafal terhadap lafalnya, akan tetapi diperlukan motivasi yang tinggi untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam lafal sumpah tersebut, antara lain adalah menghormati setiap hidup insani mulai dari pembuahan dengan tidak melakukan aborsi.
Sumpah Hippocrates yang dibuat Pythagoras sangat mengharamkan aborsi, begitu juga di dalam agama Islam dan Katholik.
Bahkan di dalam sumpah itu, sejak awal terjadinya pembuahan, jiwa dan nyawa sudah ada dan memiliki hak untuk hidup. Maka mengakhiri hidup janin dengan paksa sama saja dengan melakukan kejahatan terhadap nyawa.
Aborsi di dalam Surat Keputusan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Hasil Musyawarah Kerja Nasional Etik Kedokteran III tanggal 22 April 2001 tentang Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia(KODEKI) diatur di dalam Pasal 7d yang menyatakan bahwa
“Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.”
Pedoman pelaksanaan KODEKI pasal 7d, ketentuan aborsi dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :103
Tuhan Yang Maha Esa menciptakan seseorang yang pada suatu waktu akan menemui ajalnya. Tidak seorang dokter pun, betapa pintarnya akan dapat mencegahnya. Naluri yang terkuat pada setiap makhluk bernyawa, termasuk manusia ialah mempertahankan hidupnya. Untuk itu manusia diberi akal, kemampuan berfikir dan
103 Penjelasan dan Pedoman Pelaksanaan Pasal 7d Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)
commit to user commit to user
mengumpulkan pengalamannya, sehingga dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan usaha untuk menghindarkan diri dari bahaya maut.
Semua usaha tersebut merupakan tugas seorang dokter. Ia harus berusaha memelihara dan mempertahakankan hidup makhluk insani.
Ini berarti bahwa baik menurut agama, Undang-Undang Negara, maupun Etik Kedokteran, seorang dokter tidak diperbolehkan :
1) Menggugurkan kandungan (abortus provocatus);
2) Mengakhiri hidup seorang pasien yang menurut ilmu dan pengetahuan tidak mungkin akan sembuh lagi (euthanasia).
Menurut responden memberikan pendapatnya terkait tindakan aborsi dalam segi Kode Etik Kedokteran memang tidak diperbolehkan karena dalam sumpah dokter dan Kode Etik Kedokteran konsepnya setiap dokter wajib untuk melindungi setiap insan kehhidupan mulai saat pembuahan. Ini hanya dalam konsep secara etik. Etik ini dibentuk dan ditujukan untuk manusia dalam hakekat kemanusiaan. Pada saat ini di hadapkan dengan peristiwa aborsi terhadap ibu, maka saat diberikan keadilan, kesempatan, segala situasi yang mendukung kearah keadilan, kesempatan, tidak menutup kemungkinan aborsi itu ada.
Selama itu memberikan manfaat yang lebih banyak, maka aborsi itu tetap boleh.104 Pandangan serupa juga disampaikan oleh Responden Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi bahwa tindakan aborsi memang bertentangan dengan Kode Etik Kedokteran, namun apabila tindakan aborsi itu sangat diperlukan atau merupakan jalan satu-satunya yang harus dipilih oleh ibu hamil, maka tindakan aborsi itu harus dilaksanakan.105
104 Wawancara kepada Dr. dr. Hari Wujoso, Sp.F, Kepala Komisi Etika dan Medikolegal Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta, tanggal 20 Desember 2018.
105 Wawancara kepada Dr. Sigit Setiadji, Sp.Og, M.Kes, M.H., Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, tanggal 26 Desember 2018.
commit to user commit to user
2. Jangka Jaktu 40 Hari dalam Melakukan Tindakan Aborsi atas