46 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Implementasi Tindakan Aborsi atas Indikasi Kedaruratan Medis dan Kehamilan Akibat Perkosaan Sebagai Bagian Dari Kebijakan Hukum Pidana
a. Tindakan Aborsi atas Indikasi Medis
Sebelum adanya legalisasi tindakan aborsi, pengaturan mengenai aborsi sepenuhnya diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Seperti pada Pasal 349 KUHP yang menyatakan bahwa jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan Pasal 346 (aborsi), ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam Pasal 347 dan Pasal 348 (aborsi), maka dapat dipidana ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan.Suatu pembaharuan dalam hukum pidana di Indonesia dengan di undangkannyaa Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan pengaturan mengenai pengecualian terhadap tindakan aborsi yang semula hanyalah tindakan aborsi atas indikasi kedaruratan medis yang mengancam jiwa ibu hamil, namun dalam undang-undang ini pengecualian tersebut ditambah dengan kehamilan akibat perkosaan. Berdasarkan hal tersebut, penulis melakukan penelitian secara empiris dengan mengumpulkan data sekunder berupa wawancara yang pertama dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.
Moewardi Surakarta (RSUD Dr. Moewardi).
RSUD Dr. Moewardi Surakarta telah menerapkan regulasi yang diatur dalam UU No. 36 Tahun 2009, PP No. 61 Tahun 2014, PERMENKES No. 71 Tahun 2014, dan PERMENKES No. 3 Tahun commit to user commit to user
2016 terkait tindakan aborsi. Berdasakan hasil wawancara dengan Responden di RSUD Dr. Moewardi, pelaksanaan kebijakan hukum tersebut telah dilaksanakan oleh RSUD Dr. Moewardi sejak terbitnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (sebelum di revisi menjadi UU No. 32 Tahun 2004). Di dalam pasal 15 Undang- undang No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan disebutkan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya dapat dilakukan tindakan medis tertentu. Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan :
1) Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut;
2) Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan ahli;
3) Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya.61
Menurut responden, RSUD Dr. Moewardi melaksanakan tindakan aborsi memang dilakukan dengan tujuan sebagai upaya penyelamatan ibu hamil yang memiliki resiko tertentu sehingga berdasarkan beberapa perimbangan yang mengharuskan pelaksanaan tindakan aborsi.62 Hal ini sejalan dengan penjelasan Pasal 15 Undang- Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (untuk selanjutnya disingkat UU No. 23 Tahun 1992) yang mengandung arti bahwa tindakan medis dalam bentuk penggunaan kandungan (aborsi) dengan alasan apapun dilarang, namun diperbolehkan dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan nyawa ibu dan atau janin yang dikandungnya.
61 Wawancara kepada Dr. Hari Wujoso, Sp.F, Kepala Komisi Etika dan Medikolegal Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta, tanggal 20 Desember 2018.
62 Ibid.
commit to user commit to user
Namun sebelum terbitnya UU No. 23 Tahun 1992, RSUD Dr.
Moewardi juga telah melaksanakan tindakan aborsi yang sesuai dengan indikasi kedaruratan medis karena dalam segi etis, kehamilan yang mengancam kesehatan ibu maupun bayi yang dikandungnya tidaklah dibenarkan untuk dilaksanakan, maka jauh sebelum UU No.
23 Tahun 1992 berlaku, RSUD Dr. Moerwardi telah melaksanakan tindakan aborsi. Munculnya UU No. 23 Tahun 1992 hanyalah sebagai bentuk formil atas legalitas tindakan aborsi pada saat itu.63
Alasan kesehatan, yaitu apabila ada indikasi vital yang terjadi pada masa kehamilan, apabila diteruskan akan mengancam dan membahayakan jiwa si Ibu dan indikasi medis non vital yang terjadi pada masa kehamilan dan berdasar perkiraan dokter, apabila diteruskan akan memperburuk kesehatan fisik dan psikologis ibu. Selain itu juga didasarkan pada alasan kesehatan janin uyaitu untuk menghindari kemungkina melahirkan bayi cacat fisik maupun mental, walaupun alasan ini belum bisa diterima sebagai dasar pertimbangan medis.64
Selain itu, berdasarkan hasil penelitian Penulis berupa wawancara kepada Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi yang memberikan pendapatnya terkait dengan pelaksanaan tindakan aborsi bahwa tindakan aborsi dilaksanakan atas indikasi medis, baik indikasi medis terhadap ibu maupun indikasi medis terhadap bayi (janin) yang sedang di kandung oleh ibu hamil. Responden memberikan pendapatnya dengan memberikan contoh kasus seorang ibu hamil yang memiliki indikasi medis berupa penyakit jantung grade III, maka seorang ibu hamil yang memiliki penyakit tersebut, perlu dilakukan tindakan aborsi dengan alasan untuk menyelamatkan ibu hamil tersebut.65 Penyakit jantung grade III sebaiknya tidak diperbolehkan
63 Ibid.
64 Dewi Novita, Aborsi menurut Petugas Kesehatan, PPPK-UGM, Yogyakarta, 1997, Hal. 16.
65 Wawancara kepada Dr. Sigit Setiadji, Sp.Og, M.Kes, M.H., Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, tanggal 26 Desember 2018.
65 Wawancara kepada Dr. Hari Wujoso, Sp.F, Kepala Komisi Etika dan Medikolegal Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta, tanggal 20 Desember 2018.
commit to user commit to user
untuk hamil, jika pasien tersebut hamil, maka harus dirawat di Rumah Sakit selama kehamilan, persalinan dan nifas, dibawah pengawasan ahli penyakit dalam dan ahli kebidanan, atau dapat dipertimbangkan untuk dilakukan abortus terapeutikus. Persalinan hendaknya pervaginam dan dianjurkan untuk sterilisasi.66
Menurut Responden dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, abosi bisa terjadi dalam 2 (dua) faktor, yaitu faktor janin dan faktor ibu.67 Kedua faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Faktor janin
Kelainan pertumbuhan pada janin sebagai hasil konsepsi merupakan kelainan yang paling umum sebagian penyebab pada abortus pada trimester pertama. Hal ini disebabkan karena kelainan kromosom seperti trisomi autosom, triploidi, tetraploidi, atau monosomi 45X. Kelainan kromosom ini merupakan penyebab lebih dari 90 % keguguran pada kehamilan kurang dari 8.
Penyebab abortus karena kelainan kromosom pada umumnya tidak diketahui, tetapi mungkin disebabkan oleh: (1) kelainan genetik seperti mutasi tunggal, (2) berbagai penyakit dan (3) mungkin beberapa faktor ayah.68
2) Faktor Ibu
Wanita hamil mempunyai resiko untuk mengalami abortus sebesar 10% resiko abortus terjadi pada wanita yang berusia kurang dari 20 tahun, 20% terjadi pada usia 35-39 tahun , dan 50%
pada usia 40-45.69 Usia ayah juga beresiko terhadap kejadian abortus, Insiden abortus meningkat 12-20% pada ayah yang berusia lebih dari 40 tahun. Usia ayah yang tua bisa menyebabkan
66 Ibid.
67 Ibid.
68 Cuningham, G.F., Gant,F.N., Leveno, J.K., Gilsstrap III, C.L., Hauth, C.J., Wenstrom. D.K., Obstetri William. Edisi 21, EGC, Jakrata, 2005.
69 Heffner, L, “Advanced Maternal Age - How Old Is Too Old?”, Journal The New England Journal of Medicine, Boston: Nov 4, 2004. Vol. 351, Iss. 19, Hal. 1927.
commit to user commit to user
translokasi kromosom pada sperma dimana hal tersebut dapat menyebabkan abortus.70
Selain itu indikasi medis atas janin yaitu terdapat kelainan yang mempengaruhi kesehatan atau perkembangan janin yang dikandung oleh ibu hamil, dimana kelainan itu tidak dapat diselamatkan. Misalnya saja kelainan anencephaly.71 secara legal bahwa tindakan aborsi ini sangat bermanfaat bagi ibu hamil yang memiliki indikasi kedaruratan medis.
Anachepaly (Yunani: an, “tanpa” + enkephalos, “otak”) adalah suatu malformasi kongenital pada sistem saraf pusat, yang ditandai dengan tidak terbentuknya kedua hemisfer serebri, serebelum, medula spinalis dan jaras piramidalis. Sisa batang otak biasanya masih ada, sedangkan sisa otak yang rudimenter terdiri dari jaringan ikat, pembuluh darah, dan neuroglia. Anachepaly sering disertai dengan malformasi lain misalnya kelenjar pituitari hipoplastik, akrania (tidak adanya kalvaria), kelainan dasar tengkorak, serta rakiskisis bila kegagalan penutupan tabung sarafnya ekstensif. Beberapa malformasi lain juga biasa ditemukan misalnya spina bifida, hipoplasi adrenal, polihidramnion, telinga terlipat, sumbing, kelainan jantung kongenital, dan omfalokel. Karena biasanya masih terdapat sisa batang otak dan jaringan saraf yang masih berfungsi, maka kelainan ini juga disebut meroanensefali.
Anachepaly merupakan malformasi yang berat karena dapat menyebabkan abortus spontan pada usia kehamilan yang bervariasi, terlahir mati, atau lahir hidup tetapi hanya dapat bertahan beberapa jam saja.72 Bayi yang lahir dengan Anachepaly biasanya buta, tuli, tidak sadar, dan tidak dapat merasakan sakit. Bayi dengan Anachepaly
70 Cuningham, G.F., Gant,F.N., Leveno, J.K., Gilsstrap III, C.L., Hauth, C.J., Wenstrom. D.K., Op.Cit.
71 Moore KL, Persaud TVN. 2003. The developing human: clinically oriented embryology. 7th ed.
Saunders: Philadelphia. Calzolari F, Gambi B, Garani G, Tamisari L. 2004. Anencephaly: MRI findings and pathogenetic theories. Pediatr Radiol. Hal: 34.
72 Ibid.
commit to user commit to user
mungkin memiliki batang otak yang rudimenter, tetapi tidak adanya serebrum menyebabkan hilangnya pengendalian fungsi otonom dan regulasi system organ, Meskipun demikian gerakan refleks, misalnya bernafas, dan respons terhadap suara atau sentuhan mungkin masih ada.73
Di dalam Pasal 75 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan disebutkan bahwa setiap orang dilarang melakukan aborsi.
Kemudian disebutkan di dalam Pasal 75 ayat (2) bahwa larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan : 1) Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini
kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
2) Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.
Dari pengecualian di atas, kriteria indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan merupakan kata kunci untuk dapat dilaksanakannya tindakan aborsi yang legal di Indonesia. Ruang lingkup indikasi kedaruratan medis diperinci di dalam Pasal 32 ayat (1) butir (a) dan (b) PP No. 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi, yang menyebutkan bahwa indikasi kedaruratan medis meliputi :
1) Kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan ibu
Di dalam penjelasan pasal ini disebutkan bahwa yang dimaksud dengan mengancam nyawa merupakan penyakit yang apabila kehamilannya dilanjutkan akan mengakibatkan kematian ibu. Kemudian yang dimaksud mengancam kesehatan ibu merupakan suatu keadaan fisik dan/atau mental yang apabila kehamilan dilanjutkan akan menurunkan kondisi kesehatan ibu, mengancam nyawa atau mengakibatkan gangguan mental berat.
73 Ibid.
commit to user commit to user
2) Kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan janin, termasuk yang menderita penyakit berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan.
Di dalam penjelasan pasal ini disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan janin merupakan kehamilan dengan kondisi janin yang setelah dilahirkan tidak dapat hidup mandiri sesuai dengan usia, termasuk janin yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun janin yang tidak dapat diperbaiki kondisinya.
Penentuan adanya indikasi kedaruratan medis sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 33 ayat (1) PP No. 61 Tahun 2014, dilakukan oleh tim kelayakan aborsi. Selanjutnya di dalam Pasal 33 ayat (2) disebutkan bahwa tim kelayakan aborsi paling sedikit terdiri dari 2 (dua) orang tenaga kesehatan yang diketuai oleh dokter yang memiliki kompetensi dan kewenangan. Di dalam menentukan indikasi kedaruratan medis, tim harus melakukan pemeriksaan sesuai dengan standar. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, tim membuat surat keterangan kelayakan aborsi.
Di dalam Pasal 16 ayat (1) PERMENKES No. 3 Tahun 2016 tentang Pelatihan dan Penyelenggaraan Pelayanan Aborsi atas Indikasi Kedaruratan Medis (Abortus Medisinalis), tindakan aborsi ini harus didasarkan pada pertimbangan minimal 3 (tiga) dokter terutama dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi serta dokter Spesialis Jiwa untuk menyelamatkan ibu. Disebutkan bahwa tim kelayakan aborsi dibentuk di setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang telah ditetapkan untuk memberikan pelayanan aborsi atas indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan. Berdasarkan hasil penelitian Penulis di RSUD Dr. Moewardi, pelaksanaan tindakan aborsi memang di laksanakan oleh tim yang terdiri dari Dokter Spesialis Obsetri dan commit to user commit to user
Ginekologi, Dokter Spesialis Anak, Ketua Komis Etika dan Medikolegal dan Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP). Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) ini merupaka dokter yang bertugas saat menerima pasien tertentu.74
DPJP ini bisa terdiri dari berbagai macam dokter spesialis tergantung dari kondisi ibu hamil. Misalnya ada pasien ibu hamil yang sakit dan harus di tangani oleh Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, namun pada saat dilakukan pemeriksaan ternyata ditemukan penyakit lain (misalnya ada kebocoran di jantung) yang mengharuskan dilakukan tindakan aborsi karena akan membahayakan janin jika tetap dipertahankan. Maka adanya gabungan antara Dokter Spesialis Obsetri dan Ginekologi dan Dokter Spesialis Jantung (atau Dokter Spesialis lainnya) yang bersamaan melakukan perawatan terhadap ibu hamil sekaligus melakukan tindakan aborsi tersebut.75
b. Kehamilan Akibat Perkosaan
Tindak pidana perkosaan erat sekali hubungannya dengan fungsi reproduksi perempuan. Perkosaan dapat menimbulkan kehamilan yang tak diinginkan. Menjalani kehamilan itu sendiri berat, apalagi kehamilan tersebut tidak dikehendaki. Wanita yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan pada umumnya akan melakukan berbagai upaya untuk menggugurkan kandungannya (aborsi).76
Sebenarnya, kehamilan merupakan proses alamiah karena terjadinya pembuahan sel telur oleh sperma. Setiap pasangan suami istri akan selalu menantikan peristiwa yang menggembirakan tersebut, apalagi jika hal itu memang sudah direncanakan. Kehamilan yang
74 Ibid.
75 Ibid.
76 Riza Yuniar Sari, Riza Yuniar Sari, “Aborsi Korban Perkosaan Perspektif Hukum Islam dan Hak Asasi Manusia”, Jurnal Al-Hukama The Indonesian Journal of Islamic Family Law, Volume 03, Sidoarjo, 2013, Hal. 35.
commit to user commit to user
direncanakan tersebut biasanya telah melalui berbagai pertimbangan, baik segi kesehatan, ekonomi, sosial, maupun agama. Jadi mempertimbangkan kesehatan ibu secara keseluruhan merupakan hal yang penting, karena hal tersebut akan berkait dengan keselamatan selama masa kehamilan dan saat melahirkan, disamping juga berpengaruh pada kesehatan janin yang dikandung. Sedangkan kehamilan yang tidak dikehendaki karena perkosaan akan berakibat kurang baik, karena si calon ibu tidak siap untuk menerima kenyataan tersebut.77
Alasan social merupakan alasan utmana atas pelaksanaan tindakan aborsi atas kehamilan akibat perkosaan. Tidak seluruhnya kehamilan perempuan merupakan kehamilan yang dikehendaki, artinya ada kehamilan yang tidak dikehendaki dengan alasan anak sudah banyak, hamil diluar nikah sebagai akibat pergaulan bebas, hamil akibat perkosaan atau incest, perselingkuhan dan sebagainya.
Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki berusaha agar kehamilannya gugur baik melalui perantara medis (dokter) maupun abortir gelap meskipun dengan resiko tinggi. Hasil penelitian tentang kehamilan yang tidak dikehendaki didasarkan pada alasan-alasan melakukan aborsi dari alasan yang terkuat sampai terlemah yaitu: ingin terus melanjutkan sekolah atau kuliah, takut pada kemarahan orang tua, belum siap secara mental dan ekonomi untuk menikah dan mempunyai anak , malu pada lingkungan sosial bila ketahuan hamil sebelum menikah, tidak mencintai pacar yang menghamili, hubungan seks terjadi karena iseng, tidak tahu status anak nantinya karena kehamilan terjadi akibat perkosaan apalagi apabila pemerkosa tidak dikenal.78
77 Suryono Ekotama. Harum Pudjiarto RS, G. Widiartana, Abortus Provocatus Bagi Korban Perkosaan Perspektif Viktimologi, Kriminologi, dan Hukum Pidana, Cetakan Pertama, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2001, Hal. 190-191.
78 Dewi Novita, Op.Cit, Hal. 16.
commit to user commit to user
Selain itu, alasan keadaan darurat (memaksa), kehamilan akibat perkosaan. Kehamilan yang terjadi sebagai akibat pemaksaan (perkosaan) hubungan kelamin (persetubuhan) seorang laki-laki terhadap perempuan. Adapun alasan yang terakhir ini, yaitu alasan keadaan darurat (memaksa) berupa kehamilan akibat perkosaan sebagai alasan untuk melakukan aborsi adalah merupakan fokus dan objek dalam penelitian ini, dan akan dianalisa lebih lanjut dalam bab hasil penelitian dan pembahasan.79
Dalam pengecualian tindakan aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2004, terkait kehamilan akibat perkosaan, menurut responden bahwa seorang ibu yang mengalami kehamilan akibat perkosaan juga dapat dikategorikan sebagai indikasi kedaruratan medis karena korbannyaa mengalami kondisi yang membahayakan kesehatan psikis atau mental.80 Karena manusia terdiri atas fisik, mental dan sosial. Dalam kasus perkosaan, mental merupakan kemampuan mengekspresikan yang kompleks, maka gangguan mental akibat perkosaan ini (distress) termasuk dalam gangguan kejiwaan. Apabila kehamilan yang terjadi akibat perkosaan ini dapat beresiko menjadi gangguan kewijaan dikemudian hari, namun dapat dicegah dengan dilakukannya tindakan aborsi ini, maka sangat diperbolehkan untuk dilakukan. Namun sampai saat ini, responden hanya menemukan tindakan aborsi yang telah dilakukan di RSUD Dr.
Moewardi hanya aborsi atas indikasi kedaruratan medis non-mental (perkosaan).81
Hasil penelitian yang didapat oleh Penulis lainnya kepada dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi sampai saat ini belum pernah melakukan tindakan aborsi atas kehamilan akibat perkosaan. Jika ada
79 Ibid, Hal. 20.
80 Wawancara kepada Dr. Hari Wujoso, Sp.F, Kepala Komisi Etika dan Medikolegal Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta, tanggal 20 Desember 2018.
81 Ibid.
commit to user commit to user
pasien dengan kasus perkosaan dan dalam jangka waktu 48 (empat puluh delapan) jam melaporkan kejadiannya ke kepolisian dan di tindaklanjuti oleh tenaga medis, maka dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi akan memberikan kontrasepsi darurat. Kontrasepsi darurat berguna untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, seperti perkosaan. Namun kontrasepsi darurat ini hanya berkhasiat mencegah terjadinya pembuahan paling lambat 2 X 24 jam (48 jam) setelah terjadinya perkosaan. Artinya jika terdapat wanita yang mengalami perkosaan, maka wanita atau keluarganya segera mengantarkan ke rumah sakit guna mendapatkan penanganan medis dan kontrasepsi darurat.82
Kontrasepsi darurat merupakan metode kontrasepsi yang bertujuan untuk mencegah kehamilan setelah terjadinya hubungan seksual tanpa perlindungan (unprotected intercourse). Diharapkan dengan kontrasepsi darurat, kehamilan yang tidak diiinginkan dapat dicegah. Demikian pula tindakan aborsi sebagai upaya penyelesaian kehamilan yang tidak diinginkan dapat dikurangi. Penggunaan kontrasepsi darurat ini dapat ditujukan kepada kasus-kasus perkosaan yang terjadi di masyarakat. Mekanisme kerja kontrasepsi darurat yang selama ini diketahui adalah menghambat atau menunda ovulasi, menghambat perjalanan sel telur atau sperma dalam saluran tuba, mempengaruhi fase luteal, embriotoksik, menginduksi aborsi dan mencegah implantasi dengan merubah kondisi endometrium. Sesuai dengan namanya, kontrasepsi ini hanya dipakai untuk keadaan darurat.83
82 Ibid.
83 Rizani Amran, “Kontrasepsi Darurat : Pilihan Terkini Untuk Mencegah Kehamilan Yang Tidak Diinginkan”, Disampaikan pada Seminar Sehari “Kontrasepsi Darurat” tanggal 30 November 1999 di RSMH Palembang.
commit to user commit to user
c. Pelatihan, Pelaporan dan Penegakan Hukum atas Pelaksanaan Tindakan Aborsi Indikasi Kedaruratan Medis dan Kehamilan Akibat Perkosaan
Di dalam Pasal 36 ayat (1) PP No. 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi disebutkan bahwa dokter yang melakukan aborsi berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan harus mendapatkan pelatihan oleh penyelenggara pelatihan yang terakreditasi. Kemudian di dalam Pasal 2 ayat (2) PERMENKES Nomor 71 Tahun 2014 tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif bagi Tenaga Kesehatan dan Penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam Tindakan Aborsi dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi dengan Bantuan atau Kehamilan di Luar Cara Alamiah, disebutkan bahwa bagi dokter yang melakukan tindakan aborsi harus mendapatkan pelatihan oleh penyelenggara pelatihan yang terakreditasi.
Dari ketentuan pasal yang tertuang di dalam PP Kesehatan Reproduksi dan PERMENKES No. 71 Tahun 2014 tersebut di atas, mensyaratkan bahwa dokter yang akan melakukan tindakan aborsi harus mendapatkan pelatihan terlebih dulu. Kata „harus‟ disini merupakan kata kunci sebagai persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa dilaksanakannya tindakan aborsi. Dengan kata lain jika dokter tidak mendapatkan pelatihan terlebih dulu, maka dokter tersebut seharusnya tidak dibenarkan dalam peraturan PP dan PERMENKES untuk melakukan tindakan aborsi. Menurut Nico Ngani, bahasa hukum
„harus‟ di dalam peraturan perundang-undangan adalah untuk menyatakan pemenuhan suatu kondisi atau persyaratan tertentu. Jika keharusan tersebut tidak dipenuhi, maka yang bersangkutan tidak memperoleh sesuatu yang seharusnya akan didapat.84
84 Nico Ngani, Bahasa Hukum & Perundang-Undangan, Cetakan Pertama (Yogyakarta : Pustaka Yustisia, 2012), Hal. 109-110.
commit to user commit to user
Menteri Kesehatan dalam menerbitkan PERMENKES tersebut bukan tanpa tujuan atau mempersulit dokter yang akan melakukan tindakan aborsi. Sebagaimana yang telah tertuang dalam Pasal 2 PERMENKES No. 3 Tahun 2016 disebutkan bahwa tujuan pelatihan aborsi atas indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan adalah meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam rangka pemberian pelayanan aborsi yang aman, bermutu, dan bertanggung jawab. Lebih lanjut dalam Pasal 6 PERMENKES No. 3 Tahun 2016, penyelenggara pelatihan dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah bersama dengan organisasi profesi.
Adapun untuk peserta pelatihan hanya dapat diikuti oleh dokter yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 8 PERMENKES No. 3 Tahun 2016.
Dalam Pasal 8 Ayat (2) PERMENKES No. 3 Tahun 2016, peserta yang telah mengikuti pelatihan secara lengkap berhak mendapatkan sertifikat pelatihan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Sertifikat pelatihan yang diperoleh oleh peserta pelatihan merupakan bentuk pengakuan untuk memberikan pelayanan aborsi yang aman, bermutu, dan bertanggung jawab sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 9 Ayat (2) PERMENKES No. 3 Tahun 2016.
Dari beberapa pasal dari PERMENKES yang telah diuraikan di atas, pelatihan aborsi bagi dokter yang akan melakukan tindakan aborsi, yang terpenting sebenarnya adalah sertifikasi yang merupakan bentuk pengakuan dari Pemerintah bahwa dokter yang telah dilatih tersebut akan dapat memberikan pelayanan aborsi yang aman, bermutu, dan bertanggung jawab. Hal tersebut mengacu kepada Pasal 12 ayat (1) PERMENKES No. 3 Tahun 2016 tentang Pelatihan dan Penyelenggaraan Pelayanan Aborsi atas Indikasi Kedaruratan Medis dan Kehamilan Perkosaan, yang menyebutkan bahwa pelayanan aborsi atas indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan harus dilakukan dengan aman, bermutu, dan bertanggung jawab. Kemudian commit to user commit to user
dipertegas di dalam Pasal 12 ayat (2) butir (a) bahwa pelayanan aborsi yang aman, bermutu, dan bertanggung jawab dilakukan oleh dokter sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan, dan standar prosedur operasional.
Berdasarkan penelitian Penulis di Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Penulis mendapatkan hasil penelitian bahwa sampai dengan saat ini tahun 2018, pelatihan bagi dokter terkait pelayanan aborsi atas indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan belum pernah diselenggarakan. Menurut responden dari Dinas Kesehatan Kota Surakarta memberikan keterangan bahwa selama ini tidak ada petunjuk pelaksanaan tentang pelatihan aborsi untuk dokter dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia maupun instruksi dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta.85
Bedasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Penulis di RSUD Dr. Moewardi Surakarta, tindakan aborsi sudah dilakukan sebelum ada pengaturan mengenai pelatihan oleh dokter sebagaimana dimaksud dalam PERMENKES No. 3 tahun 2016. Jika ada pasien yang memang diharuskan untuk melaksanakan tindakan aborsi, maka tim dokter yang berwenang akan tetap melakukan tindakan aborsi dengan berdasarkan pada ilmu pengetahuan dana pengalaman di bidang Obstetri dan Ginekologi.86
Kemudian menurut Pasal 11 ayat (3) PERMENKES No. 3 tahun 2016, untuk menjamin kepatuhan terhadap penerapan kompetensi yang dimiliki oleh peserta pelatihan (dokter yang telah dilatih) di tempat kerjanya, harus dilakukan evaluasi pascapelatihan.
Evaluasi pascapelatihan dilaksanakan paling lama 6 bulan setelah pelatihan. Evaluasi pasca pelatihan dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah
85 Wawancara kepada dr. Tenny Setyoharini, M.Kes, Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, tanggal 26 November 2018.
86 Wawancara kepada Dr. Hari Wujoso, Sp.F, Kepala Komisi Etika dan Medikolegal Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta, tanggal 20 Desember 2018.
commit to user commit to user
Kabupaten/Kota bersama organisasi profesi sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.
Penetapan dan pelatihan aborsi bagi dokter di tingkat Kabupaten/Kota belum pernah dilaksanakan, maka secara otomatis evaluasi pascapelatihan juga belum pernah dilaksanakan. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa terdapat ketidaksesuaian antara peraturan yang telah ditetapkan dengan implementasi kenyataan di lini lapangan. Peraturan yang mensyaratkan pelatihan aborsi bagi dokter yang akan melakukan tindakan aborsi atas indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan, yang termuat di dalam PP No.
61 Tahun 2014 dan PERMENKES No. 3 Tahun 2016 serta evaluasi pasca pelatihan tidak terpenuhi.
Berdasarkan Pasal 13 PERMENKES No. 3 Tahun 2016 tentang Pelatihan dan Penyelenggaraan Pelayanan Aborsi atas Indikasi Kedaruratan Medis dan Kehamilan Akibat Perkosaan, pelayanan tindakan aborsi dapat dilaksanakan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Fasilitas Pelayanan Kesehatan merupakan tempat pelayanan kesehatan sekaligus sebagai ujung tombak sumber data kesehatan di suatu wilayah tertentu. Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang dapat melaksanakan pelayanan tindakan aborsi terdiri atas :
1) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
Merupakan puskesmas yang mampu memberikan PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) yang memiliki dokter yang telah mengikuti pelatihan.
2) Klinik Pratama
Merupakan klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar yang memiliki dokter yang telah mengikuti pelatihan.
3) Klinik Utama
Merupakan klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik obstetri dan ginekologi atau pelayanan medik dasar dan
commit to user commit to user
spesialistik obstetri dan ginekologi, yang memiliki dokter obstetri dan ginekologi yang telah mengikuti pelatihan.
4) Rumah Sakit
Merupakan rumah sakit yang memiliki dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang telah mengikuti pelatihan.
Hasil penelitian yang dilakukan Penulis di Dinas Kesehatan Kota Surakarta, belum adanya pelaporan tindakan aborsi yang selama ini terjadi. Menurut responden bahwa selama ini Dinas Kesehatan hanya mengawasi segala pelayanan kesehatan di Puskesmas dan hingga saat ini, puskesmas tidak berwenang untuk menyelenggarakan praktik aborsi secara legal.87 Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Penulis berpendapat bahwa terdapat ketidak sesuaian pemahaman antara Dinas Kesehatan Kota Suraakarta dengan ketentuan dalam Pasal 13 PERMENKES No. 3 Tahun 2016. Dalam PERMENKES tersebut, diatur bahwa Puskesmas juga merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang diberikan wewenang untuk menyediakan pelayanan kesehatan terkait aborsi dengan kriteria puskesmas tersebut mampu memberikan PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) yang memiliki dokter yang telah mengikuti pelatihan.
Terkait pelaporan yang wajib dilakukan oleh fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) PERMENKES No. 71 Tahun 2014 yang menyebutkan bahwa setiap penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan wajib melaporkan dan mencatat pelaksanaan aborsi dan pemberian pelayanan reproduksi dengan bantuan atau kehamilan di luar cara alamiah kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan Kepala Dinas Provinsi, menurut responsden dari Dinas Kesehatan Kota Surakarta hingga saat ini karena belum adanya tindakan aborsi yang telah diketahui oleh Dinas Kesehatan Kota Surakarta, maka hingga saat ini
87 Wawancara kepada dr. Tenny Setyoharini, M.Kes, Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, tanggal 26 November 2018.
commit to user commit to user
belum ada laporan terkait tindakan aborsi secara legal yang dilakukan oleh fasilitas pelayanan kesehatan.88
Berdasarkan hal sersebut, Penulis dapat menyimpulkan bahwa tidak adanya laporan yang disampaikan oleh fasilitas pelayanan kesehatan, maka tidak berjalan pula fungsi pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Surakarta karena laporan merupakan hal utama untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Surakarta. Maka, tidak adanya laporan bisa jadi karena tidak adanya tindakan aborsi secara legal di Kota Surakarta. Padahal jika merujuk pada Pasal 22 PERMENKES No. 3 tahun 2016 menyebutkan bahwa fasilitas Pelayanan Kesehatan di setiap wilayah Kabupaten/Kota berkewajiban melaksanakan pencatatan dan melaporkan pelayanan tindakan aborsi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kompilasi laporan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kemudian dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Provinsi. Kompilasi laporan di Dinas Kesehatan Provinsi kemudian dilaporkan kepada Menteri melalui Direktur Jenderal yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pelayanan kesehatan dengan tembusan Ketua Organisasi Profesi setempat. Pencatan dan pelaporan dilaksanakan secara berkala paling sedikit 6 (enam) bulan sekali artinya laporan ataupun pencatatan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Surakarta adalah Nihil.
Di dalam Pasal 23 ayat (1) PERMENKES No. 3 Tahun 2016 disebutkan bahwa Menteri, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bersama organisasi profesi melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Menteri ini sesuai dengan fungsi, tugas, dan wewenang masing-masing. Kemudian dipertegas di dalam Pasal 23 ayat (2)
88 Wawancara kepada dr. Tenny Setyoharini, M.Kes, Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, tanggal 26 November 2018.
commit to user commit to user
bahwa pembinaan dan pengawasan diarahkan pada peningkatan mutu pelatihan pelayanan aborsi.
Penelitian Penulis di Dinas Kesehatan Kota Surakarta, didapatkan hasil bahwa pembinaan dan pengawasan tentang pelatihan dan pelaksanaan tindakan aborsi belum pernah dilaksanakan karena :89 1) Belum terdapat sosialisasi, pedoman, atau petunjuk pelaksanaan
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
2) Belum pernah diselenggarakan pelatihan aborsi bagi dokter.
3) Belum adanya pencatatan dan pelaporan yang dilakukan oleh fasilitas pelayanan kesehatan terkait tindakan aborsi.
Dengan demikian Penulis berkesimpulan bahwa terdapat ketidaksesuaian antara peraturan yang telah ditetapkan di dalam PERMENKES dengan implementasi kenyataannya di lini lapangan.
d. Analisis Berdasarkan Teori Bekerjanya Hukum
Pada asasnya undang-undang yang baik adalah undang-undang yang langsung dapat diimplementasikan dan tidak memerlukan peraturan pelaksanaan lebih lanjut.90
Dalam teori bekerjanya hukum sebagaimana dicetuskan oleh Lawrence M. Friedman yang membagi 3 kriteria yaitu Substansi (Substance), Struktur (Structure) dan Budaya (Culture) maka dapat dianalisis sebagai berikut:
1) Dilihat dari Komponen Substansi (Substance)
Beberapa regulasi baik undang-undang, peraturan pemerintah maupun peraturan menteri yang terkait dalam tindakan legalisasi aborsi telah berlaku di Indonesia, diantaranya UU No.
36 Tahun 2009, PP No. 61 Tahun 2014), PERMENKES No. 71 Tahun 2014, dan PERMENKES No. 3 Tahun 2016
89 Wawancara kepada dr. Tenny Setyoharini, M.Kes, Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, tanggal 26 November 2018.
90 F. Fernando M. Manulang, Menggapai Hukum Berkeadilan, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2007, Hal. 12.
commit to user commit to user
Menurut Maria Farida Indrati, Peraturan Pemerintah berisi peraturan-peraturan untuk menjalankan undang-undang, atau dengan kata lain peraturan pemerintah merupakan peraturan- peraturan yang membuat ketentuan dalam suatu undang-undang bisa berjalan/diberlakukan.91 Fungsi Peraturan Pemerintah adalah sebagai pengaturan lebih lanjut ketentuan dalam undang-undang yang tegas-tegas menyebutnya. Fungsi ini sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa Presiden menetapkan Peraturan Pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya. Dalam hal ini Peraturan Pemerintah harus melaksanakan semua ketentuan dari suatu undang-undang yang secara tegas meminta untuk diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.92
Dalam UU No. 36 Tahun 2009, pengaturan mengenai legalisasi aborsi diatur dalam Pasal 75 yang menegaskan adanya pengecualian terhadap tindakan aborsi diantaranya apabila aborsi tersebut dilakukan atas kehamilan yang mempunyai indikasi kedaruratan medis dengan klasifikasi sudah dideteksi sejak usia dini kehamilan, serta dapat mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan. Selain itu pengecualian juga dapat dilakukan apabila kehamilan tersebut adalah hasil dari perkosaan dengan klasifikasi dapat menyebabkan trauma secara psikologis bagi perempuan korban perkosaan itu.
Beberapa hal pokok yang penulis cermati dari berbagai peraturan perundang-undangan terkait substansi hukum antara lain:
a) Terdapat perbedaan penentuan batas waktu pelaksanaan tindakan aborsi yaitu dalam UU No. 36 Tahun 2009 aborsi
91 Maria Farida Indrati S., Ilmu Perundang-undangan 1, Cetakan Ke-22, Kanisius, Sleman, 2007, Hal. 194.
92 Ibid, Hal. 221.
commit to user commit to user
hanya dapat dilaksanakan apabila Sebelum kehamilan berumur 6 minggu dengan kata lain 42 hari dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis sedangkan dalam PP No. 61 Tahun 2014 bahwa tindakan aborsi hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir;
b) Terdapat penegasan pelaksana tindakan aborsi yaitu dalam UU No. 36 Tahun 2009 aborsi dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri sedangkan dalam PP No. 61 Tahun 2014 ditegaskan bahwa aborsi dapat dilakukan dokter dengan menyertakan suraat keterangan dokter mengenai usia kehamilan, keterangan penyidik, psikolog, dan/atau ahli lain mengenai adanya dugaan perkosaan. Terkait dengan pelaksanaan aborsi, dalam PP No. 61 Tahun 2014 ditegaskan bahwa pelaksanaan aborsi dapat dilakukan oleh tim kelayakan aborsi yang beranggotakan tim dokter spesialis (dalam hal ini spesialis kandungan dan kebidanan) yang telah memiliki sertifikat pelatihan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Pasal 15 PERMENKES Nomor 3 Tahun 2016).
c) Terdapat penambahan adanya konseling dari konselor. Di dalam UU No. 36 Tahun 2009 belum dicantumkan persyaratan tentang persyaratan konseling oleh konselor. Sedangkan di dalam PP No. 61 Tahun 2014 dipersyaratkan bahwa tindakan aborsi hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling.
Konseling tersebut meliputi konseling pratindakan dan diakhiri pascatindakan yang dilakukan oleh konselor. Dalam Pasal 19 dan 20 PERMENKES Nomor 3 Tahun 2016 menjelaskan kedudukan konselor dalam tindakan aborsi. Namun dalam PERMENKES Nomor 3 Tahun 2016, tidak disebutkan secara commit to user commit to user
jelas siapa yang menjadi konselor dalam melaksanakan konseling dan hanya menyebutkan bahwa tindakan aborsi hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling pratindakan dan diakhiri dengan konseling pascatindakan serta dilakukan oleh konselor yang berkompeten dan berwenang.
Menurut penulis, tindakan konseling yang diatur dalam PERMENKES Nomor 3 Tahun 2016 akan menjadi permaslahan apabila kedudukan konselor tidak disebutkan secara jelas dalam PERMENKES Nomor 3 Tahun 2016 ini.
Terlebih lagi, jangka waktu konseling ini tidak dibatasi.
Padahal tindakan aborsi waktunya sangat terbatas yaitu hanya 40 hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat dilihat bahwa UU No. 36 Tahun 2009 dan PP No. 61 Tahun 2014 serta PERMENKES Nomor 3 Tahun 2016, dilihat dari komponen substansi (substance) masih cukup efektif. Dikatakan cukup efektif karena antara UU No. 36 Tahun 2009 dan PP No. 61 Tahun 2014 menetapkan aturan-aturan yang saling mendukung satu sama lain.
Namun dalam PERMENKES No. 3 Tahun 2016, terdapat kerancuan mengenai kedudukan konselor dalam proses tindakan aborsi secara legal. PERMENKES No. 3 Tahun 2016 tidak menyebutkan secara eksplisit siapa yang menjadi konselor.
Seharusnya, peentuan konselor harus dijelaskan agar tidak menjadi permasalahn dikemudian hari. Maka, penentuan konselor ini harus di interpretasikan kembali.
2) Dilihat dari Komponen Struktur (Structure)
Struktur Hukum adalah keseluruhan institusi penegakan hukum beserta aparatnya yang mencakup kepolisian dengan para
commit to user commit to user
polisinya, kejaksaan dengan para jaksanya, kantor pengacara dengan pengacaranya, dan pengadilan dengan hakimnya..93
Sebagaimana disebutkan dalam Pasal UU No. 36 Tahun 2009, PP No. 61 Tahun 2014 dan PERMENKES No. 3 Tahun 2016, bahwa yang termasuk dalam struktur hukum pada penelitian ini adalah Dinas Kesehatan. PERMENKES No. 71 Tahun 2014 menetapkan bahwa Dinas Kesehatan khususnya Kepala Dinas Kesehatan diberikan wewenang untuk menyelenggarakan pelatihan aborsi yang terakreditasi, menetapkan fasilitas kesehatan mana saja yang dapat menyelenggarakan praktik aborsi secara legal, menetapkan Tim Kelayakan Aborsi, menerima laporan tindakan aborsi yang telah dilakukan hingga penjatuhan sanksi praktik aborsi yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam UU No. 36 Tahun 2009, PP No. 61 Tahun 2014), PERMENKES No. 71 Tahun 2014, dan PERMENKES No. 3 Tahun 2016.
Hasil penelitian sebagaimana disebutkan diatas dapat dianalisa bahwa peranan Dinas Kesehatan Kota Surakarta sebagai lembaga struktur masih belum berjalan secara efektif. Hal tersebut dibuktikan dengan ketidaktahuan Dinas Kesehatan Kota Surakarta bahwa fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat melaksanakan tindakan aborsi bukan hanya Rumah Sakit saja. Sesuai dengan Pasal 13 PERMENKES No. 3 Tahun 2016 tentang Pelatihan dan Penyelenggaraan Pelayanan Aborsi atas Indikasi Kedaruratan Medis dan Kehamilan Akibat Perkosaan, pelayanan tindakan aborsi dapat dilaksanakan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang terdiri atas : 1) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas); 2) Klinik Pratama; 3) Klinik Utama; dan 4) Rumah Sakit. Dinas Kesehatan Kota Surakarta hanya beranggapan bahwa selama ini kegiatan aborsi tidak boleh dilaksanakan khususnya di puskesmas. Padahal
93 Ahmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence), Volume 1 Pemahaman Awal, Kencana, Jakarta, 2009, Hal. 204.
commit to user commit to user
sesuai dengan PERMENKES tersebut, puskesmas diberikan kewenangan untuk melaksanakan tindakan aborsi apabila puskesmas dimaksud memiliki pelayanan PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) yang memiliki dokter yang telah mengikuti pelatihan.
Bukan hanya terkait dengan penyelenggaraan tindakan aborsi di fasilitas pelayanan kesehatan saja, namun hal terpenting dalam pelaksanaan tindakan aborsi ini adalah dengan menyelenggarakan pelatihan bagi dokter yang telah ditunjuk.
Sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 3 PERMENKES Nomor 3 Tahun 2016 bahwa Penyelenggaraan pelatihan (aborsi) harus terakreditasi dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, meliputi akreditasi : 1) Kurikulum dan modul; 2) Penyelenggaran;
3) Tenaga Pelatih/Fasilitator; 4) Peserta Pelatihan; dan 5) Tempat penyelenggaraan. Dari keempat unsur tersebut, belum ada satupun yang telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Surakarta.
Padahal, untuk menyelenggarakan tindakan aborsi yang aman haruslah didahului dengan pelatihan untuk dokter sesuai dengan standart akreditasi yang berlaku. Hal ini juga yang akan digunakan oleh dokter dalam melaksanakan tindakan aborsi secara aman.
Berdasarkan hal tersebut, Penulis berpendapat bahwa peranan Dinas Kesehatan Kota Surakarta sebagai lembaga struktur (structure) kurang berperan dengan baik.
3) Dilihat dari Komponen Budaya (Culture)
Komponen budaya (culture) yaitu terdiri dari nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Norma-norma diluar hukum yang sampai saat ini berlaku yaitu norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma hukum. Norma agama menduduki peringkat pertama dalam keberlakuan nilai norma dalam masyarakat. commit to user commit to user
Komponen budaya hukum ini sangat menentukan sekali dalam upaya penegakan hukum (law enforcement). Ada kalanya penegakan hukum pada suatu komunitas masyarakat sangat baik, karena didukung oleh kultur yang baik melalui partisipasi masyarakat (public participation). Pada masyarakat seperti ini, meskipun komponen struktur dan substansinya tidak begitu baik hukumnya akan tetap jalan dengan baik. Begitu pula sebaliknya, jika tidak ada dukungan dari masyarakat, sebaik apapun struktur dan substansi aturan tersebut, hasilnya tetap tidak akan baik dalam penegakan hukum. Ross menyatakan bahwa hukum tidak lebih dan tidak kurang hanyalah salah satu saja dari sekian banyak sarana kontrol sosial dengan sifat yang paling terspesialisasi dan tergarap.94
Di Indonesia, budaya hukum dimaksud adalah seperangkat nilai normatif bersama yang diperoleh dari keseluruhan budaya lokal Nusantara yang kini disebut Bangsa Indonesia. Secara ideologis, budaya hukum Bangsa Indonesia dimaksud oleh Soekarno disebut Pancasila dan diakui sebagai puncak budaya bangsa Indonesia. Konsekuensi yuridis-logisnya, keseluruhan produk hukum yang mengatur dinamika kehidupan bangsa Indonesia seharusnya merupakan aktualisasi prinsip-prinsip Pancasila.
Jika demikian pemahamannya, ketika produk hukum, misalnya undang-undang diberlakukan akan diterima sebagian besar warga (untuk tidak mengatakan seluruh) warga Nusantara, dan jika tidak diterima berarti kemungkinan ada garis yang terpotong (disconnection). Oleh sebab itu, dalam konteks politik hukum, jika ada seperangkat peraturan perundang-undangan asal
94 Satjipto Rahardjo, “Mengajarkan Keteraturan Menemukan Ketidakteraturan”, Pidato Mengakhiri Jabatan Sebagai Guru Besar Tetap Pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Hal. 256.
commit to user commit to user
negara kolonial atau dari negara lain akan diberlakukan, maka paling tidak harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip Pancasila.
Demikian pula, aktivitas sosial, budaya, politik, ekonomi, dan hukum senantiasa dirujukkan pada prinsip-prinsip Pancasila.
Dalam konteks Indonesia, menurut penulis, Pancasila lah yang dimaksud oleh Lawrence M. Friedman95 sebagai inti legal cultural. Berdasarkan teori ini, maka Pancasila merupakan budaya hukum bangsa Indonesia yang berisikan nilai-nilai ke-Indonesia-an yang harus dijadikan input pada bekerjanya struktur hukum di Indonesia sesuai alur yang diterangkan di atas. Lebih-lebih ketika atribut globalisasi seperti individualistik, kapitalistik, dan hedonistik semakin menjalar ke tengah masyarakat Indonesia, maka kita sebagai bagian masyarakat Indonesia semakin menjadi sadar bahwa betapa pentingnya budaya lokal, sekaligus menegaskan baik lokal kita maupun budaya mereka.
Di Indonesia, sila kesatu Pancasila adalah Ketuhanan yang maha esa. Sila kesatu ini mengandung pengertian bahwa tuhan menduduki peringkat tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat sehingga segala sesuatu yang berjalan di Negara Republik Indonesia tidak boleh menyimpang dari nilai-nilai agama. Dalam Penulisan ini, hal utama terkait tindakan aborsi yang paling menonjol adalah tindakan aborsi ini seringkali dianggap bertentangan dengan nilai agama.
Misalnya dalam agama islam, terminologi aborsi aborsi sebagaimana yang dikutip dalam kitab Al-Ashri bahwa aborsi disebut dengan Isqatu Al-Khamli atau Al-Ijhad. Akan tetapi oleh pakar bahasa, kata Al-Ijhad lebih sering diartikan dengan keguguran janin yang terjadi sebelum memasuki bulan keempat
95 Lawrence M. Friedman, The Legal System, Russell Sage, New York, 1975. Lihat juga Lawrence M. Friedman, 1986. “Legal Culture and Welfare State”, dalam Gunther Teubner (Ed), Dilemas of Law in the Welfare State, Walter de Gruyter, New York,. Hal 13-27.
commit to user commit to user
(sebelum 120 hari) dari usia kehamilannya. Sedangkan kata yang digunakan antara empat sampai tujuh bulan (lebih dari 120 hari) setelah fisik janin terbentuk secara sempurna dan telah ada ruh (nyawa) akan tetapi tidak dapat melanjutkan hidupnya adalah Al- Isqat.96
Dalam konteks Islam dinyatakan bahwa kehidupan janin (anak dalam kandungan) adalah kehidupan yang harus dihormati.97 Merupakan suatu pelanggaran jika melakukan aborsi terhadap janin yang dikandung tanpa alas an yang sah atau dikuatkan tim medis.
Perbedaan pendapat terkait hukum aborsi dalam Islam didasarkan dari hadits, pada masa Rasulullah Shallallahu „Alaihi Wasallam telah terjadi suatu pertengkaran antara dua wanita dari suku Huzail.
Salah satunya yang tengah hamil dilempar batu dan mengenai perutnya. Akibatnya janin yang berada dalam kandungannya itu meninggal. Ketika persoalan tersebut diadukan kepada Rasulullah Shallallahu „Alaihi Wasallam, pembuat jarimah tersebut (yang melempar batu) dikenakan sanksi ghurrah, yaitu memberikan seorang budak laki-laki atau perempuan. Ketetapan inilah yang kemudian diadopsi para ahli fiqih untuk menetapkan sanksi hukum terhadap orang yang melakukan aborsi tanpa alasan yang sah atau tindak pidana terhadap pengguguran kandungan.
Menurut pendapat ulama, hukum aborsi dalam Islam dibagi dalam tiga kategori, yaitu boleh, makruh, dan haram.98 Menurut mayoritas ahli fiqih, melakukan aborsi terhadap janin yang telah berusia 120 (seratus dua puluh) hari hukumnya adalah haram.
Sedangkan apabila usia janin sebelum 120 hari, maka terjadi khilafiyah. Ada yang berpendapat boleh, makruh, dan haram.
96 Riza Yuniar Sari, Op. Cit, Hal. 59-60.
97 Yusuf Qaradhawi, Fatwa-fatwa Kontemporer, Jilid II, Gema Insani Press, Jakarta, 1995, Hal.
70.
98 Dewani Romli, “Aborsi Dalam Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam (Suatu Kajian Komparatif)”, Jurnal IAIN Ar-Raniri, Banda Aceh., Hal. 4.
commit to user commit to user
Alasan yang membolehkan atau yang mengharamkan sebelum 120 hari adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala dan hadits Nabi yang menyatakan tentang penciptaan janin, dari nuthfah ke „alaqah ke mudghah dan sampai ditiupkannya ruh. Secara sistematis, sebagaimana yang telah dijelaskan pada ayat dan hadits di atas, terdapat tahap pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam rahim, mulai dari tahap al-nuthfah (sperma) atau setetes air mani.
Pertemuan sperma dan sel telur (ovum) ini lalu berdiam dalam rahim ibu (uterus), yang di dalam Al-Qur‟an diistilahkan dengan qarar makiin. Menetapnya telur di dalam rahim terjadi karena timbulnya villis, yaitu perpanjangan telur yang menghisap zat yang dibutuhkan dari dinding rahim, seperti akar tumbuh-tumbuhan yang masuk ke dalam tanah. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telur di dalam rahim.99 Tahapan-tahapan penciptaan manusia ini membutuhkan proses selama 4 bulan (120 hari).100
Dari tahapan penciptaan diketahui bahwa tahap pemberian nyawa (nafkh al-ruh) terjadi pada saat janin berusia sekitar 4 bulan (120 hari), namun dari tahapan proses tersebut para ahli fiqih berbeda pendapat tentang hukum aborsi yang dijabarkan sebagai berikut :101
a) Mazhab Hanafiyah, diperbolehkan menggugurkan kandungan yang belum berusia 4 bulan (120 hari), dengan alasan bahwa sebelum waktu 4 bulan janin belum ditiupkan ruh. Dengan demikian kehidupan insaniyah belum dimulai. Sebagian ulama Hanafiyah berpendapat makruh apabila pengguguran tersebut tanpa udzur (halangan/dispensasi), dan jika terjadi pengguguran maka perbuatan tersebut merupakan dosa.
99 Khoirul Bariyyah dan Khairul Muttaqin, “Legalisasi Aborsi Dalam Perspektif Medis dan Yuridis”, Jurnal Al-Ihkam Volume 11 No. 1, Pamekasan, 2016, Hal. 124.
100 Ibid.
101 Ibid, Hal. 142.
commit to user commit to user
b) Mazhab Malikiyah, mengharamkan aborsi sejak terjadinya konsepsi (bertemunya sel telur dengan sperma di rahim ibu).
Pendapat yang sama dengan Malikiyah dikemukakan oleh Al- Ghazali yang mengharamkan mutlak aborsi sejak terjadinya konsepsi. Al-Ghazali mengartikan aborsi sebagai penghilangan jiwa dalam janin. Ia membagi dua fase keadaan janin, yaitu fase kehidupan yang belum teramati yang ditandai dengan adanya proses kehidupan secara diam-diam dan fase kehidupan yang sudah teramati yaitu ketika ibu atau orang lain dapat mendeteksi tanda-tanda kehidupan bayi di dalam kandungan.
Muhammad Syaltut juga berpendapat sejak bertemunya sel sperma dengan sel telur (ovum) sudah ada kehidupan pada kandungan yang sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi makhluk baru yang bernyawa yaitu manusia yang harus dihormati dan dilindungi eksistensinya.
c) Mazhab Syafi‟iyah, dimakruhkan aborsi ketika usia kandungan belum sampai 40 hari, 42 hari sampai dengan 45 hari.
Disamping itu ulama Syafi‟iyah juga mensyaratkan adanya kerelaan kedua belah pihak (suami dan istri). Apabila usia kandungan lebih dari 4 bulan (120 hari) maka hukumnya haram.
d) Mazhab Hanabilah, sebagaimana pendapat ulama Hanafiyah, memperbolehkan aborsi ketika usia kandungan belum sampai 4 bulan (120 hari) atau belum ditiupkan ruh. Lebih dari 120 hari hukumnya haram.
Berdasarkan hal tersebut, Penulis berpendapat bahwa peranan dalam lembaga budaya (culture) tidak berjalan efektif dengan paradigma-paradigma masyarakan maupun ajaran-ajaran agama yang membatasi waktu pelaksanaan aborsi. Padahal banyak
commit to user commit to user
kasus-kasus aborsi atas indikasi kedaruratan medis yang dilaksanakan diluar jangka watu 40 (empat puluh) hari.
B. Faktor-Faktor Penghambat dalam Pelaksanaan Tindakan Aborsi Atas Kehamilan Akibat Perkosaan Untuk Memberikan Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Korban Perkosaan
Pelaksanaan tindakan aborsi secara legal tidak serta merta dapat berjalan dengan sempurna. Ada berbagai faktor yang menjadi penghambat dalam pelaksanaanya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis, maka penulis akan menjabarkan faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan tindakan aborsi secara legal, antara lain :
1. Tindakan Aborsi Merupakan Perbuatan yang Bertentangan dengan Kode Etik Kedokteran
Dengan terbitnya PP Kesehatan Reproduksi yang menambahkan aturan legalisasi aborsi kehamilan akibat perkosaan, hal tersebut menimbulkan kontroversi terutama di kalangan dokter.
Penulis mendapatkan hasil penelitian bahwa dokter hanya akan melaksanakan tindakan aborsi atas indikasi kedaruratan medis dan tidak akan melaksanakan tindakan aborsi karena kehamilan akibat perkosaan. Tindakan aborsi kehamilan akibat perkosaan sudah masuk ke dalam ranah hukum pidana. Selain itu, tindakan aborsi kehamilan akibat perkosaan melanggar Sumpah Dokter, sebab janin yang dikandung wanita hamil akibat perkosaan wajib untuk dihormati dan diselamatkan. Apabila terdapat wanita korban perkosaan dalam kondisi sudah positif hamil datang kepada dokter untuk dilayani aborsi, maka dokter wajib menolak dan menyarankan wanita tersebut untuk melanjutkan kehamilannya. Setiap dokter harus berpegang teguh pada sumpahnya yang berbunyi : “Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan”. Jika ada dokter Spesialis Obstetri commit to user commit to user
dan Ginekologi sekalipun, jika melakukan tindakan aborsi selain indikasi kedaruratan medis, maka dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi itu dapat dipastikan melanggar Sumpah Dokter.
Lafal Sumpah Dokter Indonesia bersumber dari Sumpah Hippocrates. Sumpah Hippocrates yang sudah berusia lebih dari 2000 tahun itu tetap bertahan pada profesi dokter dari generasi ke generasi hingga sekarang, dan menjadikan sumpah itu sebagai pokok janji mereka. Karena itu sumpah dokter pada dasarnya seragam di berbagai negara di dunia. Di Indonesia dengan urutan kalimat yang berbeda dari
Sumpah Hippocrates, Lafal Sumpah Dokter Indonesia telah dikukuhkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960 yang berbunyi sebagai berikut :102
“Saya bersumpah/berjanji bahwa :
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai Dokter;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian, atau Kedudukan Sosial;
Saya akan memberikan kepada Guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Teman sejawat akan saya perlakukan sebagai saudara kandung;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan; Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
Saya ikrarkan Sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertahankan kehormatan diri saya.
102 Paulinus Soge, Hukum Aborsi …Op.Cit., Hal. 133-134
commit to user commit to user
Bunyi bunyi Lafal Sumpah Dokter di atas disebutkan bahwa
“Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan”, mengandung pengertian bahwa setiap dokter mempunyai kewajiban moral untuk menghormai tiap hidup insani serta mengandung tuntutan kepada semua dokter untuk tidak hanya sekedar hafal terhadap lafalnya, akan tetapi diperlukan motivasi yang tinggi untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam lafal sumpah tersebut, antara lain adalah menghormati setiap hidup insani mulai dari pembuahan dengan tidak melakukan aborsi.
Sumpah Hippocrates yang dibuat Pythagoras sangat mengharamkan aborsi, begitu juga di dalam agama Islam dan Katholik.
Bahkan di dalam sumpah itu, sejak awal terjadinya pembuahan, jiwa dan nyawa sudah ada dan memiliki hak untuk hidup. Maka mengakhiri hidup janin dengan paksa sama saja dengan melakukan kejahatan terhadap nyawa.
Aborsi di dalam Surat Keputusan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Hasil Musyawarah Kerja Nasional Etik Kedokteran III tanggal 22 April 2001 tentang Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia(KODEKI) diatur di dalam Pasal 7d yang menyatakan bahwa
“Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.”
Pedoman pelaksanaan KODEKI pasal 7d, ketentuan aborsi dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :103
Tuhan Yang Maha Esa menciptakan seseorang yang pada suatu waktu akan menemui ajalnya. Tidak seorang dokter pun, betapa pintarnya akan dapat mencegahnya. Naluri yang terkuat pada setiap makhluk bernyawa, termasuk manusia ialah mempertahankan hidupnya. Untuk itu manusia diberi akal, kemampuan berfikir dan
103 Penjelasan dan Pedoman Pelaksanaan Pasal 7d Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)
commit to user commit to user
mengumpulkan pengalamannya, sehingga dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan usaha untuk menghindarkan diri dari bahaya maut.
Semua usaha tersebut merupakan tugas seorang dokter. Ia harus berusaha memelihara dan mempertahakankan hidup makhluk insani.
Ini berarti bahwa baik menurut agama, Undang-Undang Negara, maupun Etik Kedokteran, seorang dokter tidak diperbolehkan :
1) Menggugurkan kandungan (abortus provocatus);
2) Mengakhiri hidup seorang pasien yang menurut ilmu dan pengetahuan tidak mungkin akan sembuh lagi (euthanasia).
Menurut responden memberikan pendapatnya terkait tindakan aborsi dalam segi Kode Etik Kedokteran memang tidak diperbolehkan karena dalam sumpah dokter dan Kode Etik Kedokteran konsepnya setiap dokter wajib untuk melindungi setiap insan kehhidupan mulai saat pembuahan. Ini hanya dalam konsep secara etik. Etik ini dibentuk dan ditujukan untuk manusia dalam hakekat kemanusiaan. Pada saat ini di hadapkan dengan peristiwa aborsi terhadap ibu, maka saat diberikan keadilan, kesempatan, segala situasi yang mendukung kearah keadilan, kesempatan, tidak menutup kemungkinan aborsi itu ada.
Selama itu memberikan manfaat yang lebih banyak, maka aborsi itu tetap boleh.104 Pandangan serupa juga disampaikan oleh Responden Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi bahwa tindakan aborsi memang bertentangan dengan Kode Etik Kedokteran, namun apabila tindakan aborsi itu sangat diperlukan atau merupakan jalan satu- satunya yang harus dipilih oleh ibu hamil, maka tindakan aborsi itu harus dilaksanakan.105
104 Wawancara kepada Dr. dr. Hari Wujoso, Sp.F, Kepala Komisi Etika dan Medikolegal Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta, tanggal 20 Desember 2018.
105 Wawancara kepada Dr. Sigit Setiadji, Sp.Og, M.Kes, M.H., Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, tanggal 26 Desember 2018.
commit to user commit to user
2. Jangka Jaktu 40 Hari dalam Melakukan Tindakan Aborsi atas kehamilan akibat Perkosaan
Pada dasarnya setiap orang dilarang melakukan aborsi. Namun menurut ketentuan UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, larangan tersebut dikecualikan berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan. Ketentuan tersebut diatur lebih lanjut di dalam Pasal 31 ayat (2) PP No. 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi, yang menyebutkan bahwa tindakan aborsi karena kehamilan akibat perkosaan hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama 40 (empat puluh hari) dihitung sejak hari pertama haid terakhir.
Klausula ini kemudian menjadi problematika apabila jangka waktu yang ditetapkan dalam PP No. 61 Tahun 2014 tidak dapat diimplementasikan dengan baik. Untuk menjawab persoalan tersebut, penulis akan meninjau berdasarkan regulai terkait khusus nya dalam hukum pidana di Indonesia mengenai aborsi. Hal terpenting adalah melihat pada dasarnya perkosaan merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 285 yang menyatakan bahwa perkosaan adalah kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
Untuk menyelesaikan permasalahan pidana, maka tahap pertama yang harus di lalui adalah melalui mekanisme penyidikan dan penyelidikan di kepolisian. Pasal 1 butir 2 KUHAP menjelaskan penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang
commit to user commit to user
tentang pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.106 Berdasarkan rumusan Pasal 1 butir 2 KUHAP, unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian penyidikan adalah:
1) Penyidikan merupakan serangkaian tindakan yang mengandung tindakan-tindakan yang antara satu dengan yang lain saling berhubungan;
2) Penyidikan dilakukan oleh pejabat publik yang disebut penyidik;
3) Penyidikan dilakukan dengan berdasarkan peraturan perundang- undangan.
4) Tujuan penyidikan ialah mencari dan mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi, dan menemukan tersangkanya.
Berdasarkan keempat unsur tersebut dapat disimpulkan bahwa sebelum dilakukan penyidikan, telah diketahui adanya tindak pidana tetapi tindak pidana itu belum terang dan belum diketahui siapa yang melakukannya. Adanya tindak pidana yang belum terang itu diketahui dari penyelidikannya.107
Penyidik menurut Pasal 1 butir ke-1 KUHAP adalah pejabat polisi Negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. KUHAP lebih jauh lagi mengatur tentang penyidik dalam pasal 6, yang memberikan batasan pejabat penyidik dalam proses pidana. Adapun batasan pejabat dalam tahap penyidikan
106 Undang-Undang Nomor Tentang Kitab Undang-Undang Hukum acara Pidana, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981., Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 76 tahun 1981, Pasal 1 butir 2.
107 Adami Chazawi, Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonesia, Bayumedia Publishing, Malang, 2005, Hal. 380-381.
commit to user commit to user