• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINDAKAN MEDIS IN7ASIF DAN TERAPI RADIASI TINDAKAN MEDIS IN7ASIF DAN TERAPI RADIASI

menolong dirinya sendiri

4.4. TINDAKAN MEDIS IN7ASIF DAN TERAPI RADIASI TINDAKAN MEDIS IN7ASIF DAN TERAPI RADIASI

--

Distraksi pernafasanDistraksi pernafasan &asi

&asien en berbernafnafas as ritritmik mik samsambil bil memmemandandang ang fokfokus us padpada a satu satu objobjek ek ataatauu memejamkan mata dan melakukan inhalasi perlahan

memejamkan mata dan melakukan inhalasi perlahan melalui hidung denganmelalui hidung dengan hitun

hitungan satu gan satu sampasampai i empat dan empat dan kemukemudian menghemdian menghembuskan nafas buskan nafas melalumelaluii mulut secara perlahan dengan menghitung satu sampai empat dalam hati!. mulut secara perlahan dengan menghitung satu sampai empat dalam hati!. njurkan pasien untuk berkosentrasi pada sensasi pernafasan dan terhadap njurkan pasien untuk berkosentrasi pada sensasi pernafasan dan terhadap gambar yang memberi ketenangan

gambar yang memberi ketenangan

4.4. TINDAKAN MEDIS IN7ASIF DAN TERAPI RADIASI 4.4. TINDAKAN MEDIS IN7ASIF DAN TERAPI RADIASI

3indakan invasif merupakan pilihan terakhir apabila penatalaksanaan non 3indakan invasif merupakan pilihan terakhir apabila penatalaksanaan non invasif gagal. 3indakan invasif dalam pengelolaan nyeri kronik antara lain@

invasif gagal. 3indakan invasif dalam pengelolaan nyeri kronik antara lain@

--

+njeksi +njeksi sendi sendi dandan soft tissue soft tissue

--

$lok saraf dengan obat anestesi atau neurolitik dengan phenol atau alkohol$lok saraf dengan obat anestesi atau neurolitik dengan phenol atau alkohol absolut

absolut

--

3indakan bedah3indakan bedah

--

3indakan bedah saraf 3indakan bedah saraf 

--

3ehnik non destruktif 3ehnik non destruktif  Mem

Memperperbaikbaiki i dan dan menmengemgembalbalikaikan n konkondisdisi i fisifisiloglogis is anaanatomtomis is bagbagianian tubuh yang rusak, contohnya antara lain release

tubuh yang rusak, contohnya antara lain release -arpal #unel Syndro!e-arpal #unel Syndro!e,, dekompresi

Contohnya neurotomi perifer,

Contohnya neurotomi perifer, cordoto!ycordoto!y

--

3ehnik modulatori3ehnik modulatori

&emasangan implant untuk memasukkan obat analgesik, pemasangan &emasangan implant untuk memasukkan obat analgesik, pemasangan implant alat stimulasi listrik.

implant alat stimulasi listrik.

--

&rosedur bedah muskuloskeletal&rosedur bedah muskuloskeletal Contohnya

Contohnya 5oint replace!ent  5oint replace!ent  dan eksisi tumor  dan eksisi tumor 

3erapi radiasi diberikan untuk mengatasi nyeri yang berasal dari jaringan 3erapi radiasi diberikan untuk mengatasi nyeri yang berasal dari jaringan lokal kanker primer atau metastatiknya. Oang termasuk terapi radiasi antara lain lokal kanker primer atau metastatiknya. Oang termasuk terapi radiasi antara lain tera

terapi pi radradiasi lokaliasi lokal,, ide field radiation therapyide field radiation therapy, dan radiofarmakoterapi iodine", dan radiofarmakoterapi iodine" %7% dan strontium"44!.

%7% dan strontium"44!.

M&al )a! M&!"a M&al )a! M&!"a

Mual adalah keluhan subyektif ditandai dengan perasaan tidak nyaman di Mual adalah keluhan subyektif ditandai dengan perasaan tidak nyaman di dae

daerah rah belbelakaakang ng kerkerongongkonkongan gan dan dan epiepigasgastriutrium. m. 6eb6ebalialiknyknya, a, munmuntah tah adaadalahlah refleksi eliminasi isi lambung yang di kontraksikan secara kuat oleh otot abdomen refleksi eliminasi isi lambung yang di kontraksikan secara kuat oleh otot abdomen untuk mengeluarkan substansi toksik. Mekanisme yang mendasari muntah lebih untuk mengeluarkan substansi toksik. Mekanisme yang mendasari muntah lebih dip

dipahamahami i dardaripaipada da mekmekanianisme sme mumual. al. #on#ontrotrol l yanyang g baibaik k terterhadhadap ap konkondisdisi i iniini ter

terdadapapat t dididadalam lam tutububuh, h, akakan an memenunururunknkan an kekecemcemasaasan n dadan n peperasrasaan aan tatakukut,t, menurunkan ketergantungan pada

menurunkan ketergantungan pada caregiverscaregivers dan dapat melakukan aktifitas sehari" dan dapat melakukan aktifitas sehari" harinya dengan lebih baik Cheville, 0)%)!.

harinya dengan lebih baik Cheville, 0)%)!.

&re

&revalvalensensi i muamual l dan dan mumuntantah h di di suasuatu tu perperawaawatan tan palpaliatiiatif f adaadalah lah 8)"8)"5)/5)/,, sering ditemukan pada penderita yang mendapat kemoterapi dan terapi radiasi. sering ditemukan pada penderita yang mendapat kemoterapi dan terapi radiasi. Mual lebih sering dirasakan daripada muntah. #eluhan mual dan muntah disebut Mual lebih sering dirasakan daripada muntah. #eluhan mual dan muntah disebut kronik jika berlangsung lebih dari

kronik jika berlangsung lebih dari % minggu *ohnston, 0))H Cheville, 0)%)!.% minggu *ohnston, 0))H Cheville, 0)%)!. &enyebab mual dan muntah antara lain oodwin et al, 0))7H *ohnston, 0))H &enyebab mual dan muntah antara lain oodwin et al, 0))7H *ohnston, 0))H Cheville, 0)%)!H

Cheville, 0)%)!H %.

%. #e#egagagagalalan n sisistestem m ototononom om memenynyebaebabkbkan an memelamlambabatntnya ya pepengngososonongagann lambung. 1al ini sering terjadi pada penderita kanker dengan kondisi lambung. 1al ini sering terjadi pada penderita kanker dengan kondisi  buruk

 buruk dan dan status status nutrisi nutrisi yang yang kurang. kurang. 6tatus 6tatus nutrisi nutrisi yang yang kurang kurang akanakan mengakibatkan penekanan sistem saraf simpatik,

0. angguan kardiovaskuler, seperti hipotensi postural, sinkop, dan  fi3ed  heart rate. 1al ini menyebabkan disfungsi otonom,

7. <fek samping obat, seperti analgesik opioid, N6+Ds, antibiotik, suplemen zat besi, antidepresan tricyclic, dan phenothiazine,

8. bnormalitas biomekanik, seperti hiperkalemia, hiponatremia, kegagalan fungsi hati,

. Metastasis CN6,

(. &eningkatan tekanan intrakranial,

5. 9aktor psikologis, seperti ketakutan dan kecemasan.

ssessment terhadap gangguan mual dan muntah meliputi intensitas, frekuensi, faktor pencetus, dan pengalaman penderita. namnesa dan  pemeriksaan fisik yang meliputi frekuensi, kualitas pergerakan bowel,

imaging dan tes serologi Cheville, 0)%)!.

6elain mual dan muntah, gangguan pencernaan lain yang bisa didapatkan pada penderita kanker stadium lanjut adalah konstipasi dan obstruksi bowel. $eberapa hal yang dapat menyebabkannya adalah imobilisasi, intake oral yang buruk, dehidrasi, gangguan otonom, obat analgesik opioid. ?bstruksi bowel lebih jarang terjadi dibandingkan konstipasi tetapi berperan menyebabkan mual yang kronik 2ochman, %447H >oodruff, %447H oodwin et al, 0))7!.

3erapi mual adalah farmakologi dan terapi etiologisnya. 6embilan kelompok obat entiemetik pada perawatan paliatif adalah butyrophenones,  prokinetic agents, cannabinoids, phenothiazines, antihistamines,

anticholinergics, steroids, 137 receptor antagonists, dan benzodiazepines. Cara pemberian obat bisa per enteral apabila per oral tidak memungkinkan Cheville, 0)%)!.

A!'re+#a )a! Ka+e+#a

a. Definisi

noreksia dideskripsikan sebagai kekurangan atau hilangnya nafsu makan yang mengakibatkan berkurangnya intake oral  dan penurunan berat  badan. #akeksia merupakan kondisi disfungsi metabolik yang ditandai oleh berkurangnya lemak dan jaringan otot secara progresif, dan diinduksi

oleh starvasi. ?rgan vital yang terpengaruh akibat kakeksia dan anoreksia adalah otot skeletal, otot pernafasan, otot jantung dan otot halus. noreksia dan kakeksia merupakan masalah penting dalam penyakit stadium lanjut karena berhubungan dengan peningkatan resiko kegagalan terapi, efek samping dan mortalitas. 6elain itu, kakeksia menjadi penyebab utama kematian pada 0/ penderita kanker.

 b. Diagnosis

ambaran klinis kakeksia adalah edema, berkurangnya masa otot lingkar lengan mengecil!, berkurangnya lapisan lemak kulit, kulit kering,  bersisik dan berkurangnya hipersensitifitas kulit.

&emeriksaan laboratorium menunjukkan menurunnya kadar serum albumin, kadar serum ferritin darah 1aryodo 16, %44(H Cheville, 0)%)!. c. <pidemiologi

&revalensi kakeksia tergantung pada derajat keparahan penyakit. &ada -ongestive Heart +ailure C19! sebesar %(/"7(/, C?&D sebesar  05/"77/ dan <62D sebesar 7)/"()/. &ada penderita kanker stadium +:, prevalensinya meningkat hingga -(/ dalam %"0 minggu akhir  hidupnya Cheville, 0)%)!.

d. &enyebab

ktifitas fisik telah dikenal fisiatris berperan penting dalam menginduksi dan progresifitas kakeksia. $eberapa penyebab kakeksia yang berkerja bersamaan yaitu 2ochman, %447H Cheville, 0)%)!H

%. supan makanan yang berkurang

Merupakan penyebab paling penting disebabkan berkurangnya nafsu makan anoreksia! yang terjadi -)/ pada penderita kanker terminal. angguan pencernaan karena gangguan pengecapan pada lidah, gangguan pembauan, gangguan peristaltik lambung, pada kanker  mulut, faring, esophagus, lambung dan kolon menyebabkan makanan sulit dikunyah, ditelan dan dikunyah. 9aktor psikologis berupa depresi dan cemas menyebabkan penurunan nafsu makan. 6edangkan perasaan takut menyebabkan jumlah makanan yang dimakan berkurang.

0. &engeluaran makanan yang meningkat

Disebabkan karena perdarahan saluran cerna, diare dan konsumsi nutrisi oleh sel kanker.

7. angguan metabolisme

angguan metabolism karbohidrat, lemak dan protein dan peningkatan metabolisme karena keganasan kanker itu sendiri yang tidak   berhubungan dengan stadium,

8. <fek dari pengobatan

Disebabkan karena operasi, radioterapi mual, muntah, berkurangnya nafsu makan, enteritis! dan kemoterapi mual, muntah, berkurangnya nafsu makan,stomatitis, esofagitis dan enteritis!.

e. &atofisiologi

Mekanisme proses ketidakseimbangan antara intake oral dan !uscle asting  pada penderita dengan tumor ataupun penyakit lain, masih  belum dipahami dengan baik. 3umor mempengaruhi  proinfla!atory cytokine sehingga mengaktifkan sel inflamasi yang akan beredar sistemik  dan menginduksi Hepatic Acute Phase Protein /esponse &&2!.

6elain itu, tumor juga mengeluarkan 0 macam faktor pro kakeksia, yaitu  Proteolysis"Inducing +actor  &+9! dan  ipid"(obilizing +actor   'M9!

Cheville, 0)%)!. f. &enatalaksanaan

&endekatan nutrisional saat ini tidak lagi dititik beratkan sejak  konseling diet dan nutrisi total parenteral gagal dalam penatalaksanaan kakeksia, tidak memperbaiki kualitas hidup dan tampilan fungsional. &emberian nutrisi pada penderita kanker secara individual dan disesuaikan setiap waktu dengan kebutuhannya dan dikoordinasikan dengan semua rencana terapi lainnya sejak awal. &enatalaksanaan yang dapat diberikan adalah penambah nafsu makan, pendekatan 6upstrea!7 ,  pendekatan 6donstrea!7 , serta stimulasi anabolisme protein otot. 6uplemen nutrisi hanya sedikit membantu, kecuali pemberian obat thalidomide. &emberian latihan konservatif dengan ataupun tanpa farmakologi kini diindikasikan untuk beberapa penderita. pabila saluran cerna masih baik, maka pemberian makan diusahakan melalui enteral disesuaikan dengan kondisi penderita secara oral biasa, nasogastric tube  ataupun  gastroto!i  dan 5e5unosto!i. 3otal  parenteral  nutrition memainkan peran penting pada pemberian nutrisi penderita

kanker stadium lanjut dan diindikasikan bila saluran cerna tidak dapat  bekerja dengan baik 2ochman, %447H 1aryodo 16, %44(H Cheville,

0)%)!.

&enderita diberikan makanan yang merupakan kesenangannya asalkan bukan kontra indikasi, serta mengatur menu yang bervariasi agar   penderita tidak cepat bosan. 6elain menu makanan sehari"hari perlu juga

memberikan makanan suplemen dan makanan yang diberikan sedapat mungkin bersifat tinggi protein dan tinggi kalori 2ochman, %447!.

6esak Nafas

a. Definisi

6esak nafas didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman pada saat  bernafas dan kesulitan bernafas. 6esak nafas mengganggu performa fungsional dan aktifitas fisik, oleh karena itu hal ini menjadi target penting terapi oleh fisiatris Cheville, 0)%)!.

 b. <pidemiologi

 %ational Hospice Study menyatakan bahwa 5)/ dari %.58  penderita pernah mengalami sesak nafas dalam ( minggu terakhir 

hidupnya.

'ebih dari 0-/ penderita merasakan sesak yang sedang hingga berat. Dalam penelitian kohort tentang kanker, telah ditemukan kejadian sesak  nafas sebesar 08/ hingga ()/ pada penderita keganasan ekstra thorakal Cheville, 0)%)!.

c. &atofisiologi

Mekanisme regulasi pernafasan yang berperan dalam sesak nafas adalah melalui interaksi komplek antara pernafasan abnormal dan persepsi terhadap abnormalitas tersebut di susunan saraf pusat. 2egulasi kontrol  pernafasan tergantung dari interaksi antara pusat pernafasan di susunan

saraf pusat, kemoreseptor dan input afferent  dari otot"otot pernafasan Cheville, 0)%)!. ambar dibawah ini mengilustrasikan interaksi dari  beberapa komponen tersebut.

d. &enyebab

bnormalitas yang terjadi pada sistem kardiopulmoner baik secara langsung maupun tidak langsung dapat menyebabkan sesak nafas .

3umor di parenkim paru, pleura ataupun sistem limfatik paru dapat menurunkan kapasitas oksidatif secara signifikan. #anker menyebar dari tumor intra thorakal atau dari metastasis. 3umor juga dapat menyebabkan obstruksi saluran nafas. 6elain itu, adanya ascites dan distensi heptik dapat menghambat pergerakan diafragma.

#akeksia yang berhungan dengan !uscle asting  dapat pula meningkatkan kebutuhan kapasitas maksimal otot untuk bernafas dan menyebabkan kelelahan otot Cheville, 0)%)!.

e. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dari anamnesa dan pemeriksaan fisik. #eluhan dan tanda yang menjadi perhatian adalah adanya nyeri dada, demam, batuk, kakeksia, distensi abdomen dan pleuritis. #eluhan yang  berhubungan dengan sesak nafas seperti nyeri dan kecemasan akan  berkaitan pula dengan intensitas, sehingga penting menjadi target terapi. 3es diagnostik yang dapat membantu adalah foto E ray thoraks, electrocardiography, echocardiography, tes fungsi paru, analisa gas darah, serum elektrolit dan darah lengkap. C3 6can bdominal dan Chest dapat menunjukkan penjalaran tumor dalam cavitas di tubuh Cheville, 0)%)!.

f. &enatalaksanaan

3erapi simptomatik diberikan sejalan dengan managemen spesifik  terhadap sesak nafas. &emberian kemoterapi dapat mengurangi sesak nafas  pada penderita kanker yang memiliki keluhan sesak akibat efek tumor. 2adiasi, termasuk brachytherapy juga cepat mengurangi tumor lokal yang  berhubungan dengan obstruksi jalan nafas.  *rainase pleura, efusi  perikardiak, atau ascites abdomen mengurangi sesak nafas secara signifikan. *ika terdapat kemungkinan pneumonia maka diberikan antibiotik empirik. #onsultasi ke bagian paru diperlukan untuk  memperjelas kecurigaan obstruksi atau penyempitan dengan  bronchoscopic dan penatalaksanaan lesi intralumen dengan bronchoscope

rigid, balloon dilatation, lasers, electrocautery, stents, argon plas!a coagulation, dan cryoprobes Cheville, 0)%)!.

Managemen simptomatik diberikan berdasarkan 7 prinsip yaitu oksigen, farmakologi dan terapi suportif. 6asaran rehabilitasi pernafasan  pada penderita dengan hambatan dan disabilitas adalah untuk 

menggunakan fungsi paru yang tersisa seefisien mungkin, meringankan sesak nafas sehingga meningkatkan kualitas hidup. Diskusi dengan  penderita dan keluarga untuk menemukan modifikasi gaya hidup yang sesuai, mengurangi atau tidak lagi melakukan aktifitas fisik tertentu dan  penataan rumah yang disesuaikan dengan kondisi penderita seperti memindahkan kamar tidur penderita ke lantai bawah, menambah toilet dekat kamar tidur 6oebadi, 0)))!.

9isioterapi pada penanganan paliatif sesak terutama ditujukan pada mobilisasi sekret dan mencegah atau mengurangi !uscle fati&ue. &enumpukan sekret seringkali mengakibatkan sesak pada penderita. Antuk  membantu evakuasi sekret, fisioterapi dada berupa perkusi dada dan  postural drainage, terlebih lagi pada fase terminal dimana didapatkan kelemahan umum. &ada keadaan sekret berlebih, usaha mengurangi sekret dengan antikolinergik merupakan tindakan paliatif yang lebih efektif, misalnya dengan ipratropium bromide Margono, 0)))!.

<fisiensi pernafasan akan lebih baik apabila penderita duduk,  berbaring setengah duduk atau bahkan sedikit membungkuk kedepan

dengan bertumpu diatas suatu meja atau tumpukan bantal, yang memungkinkan penggunaan otot bantu nafas lebih efektif. Demikian pula dianjurkan perubahan posisi berbaring sebagai tindakan preventif  timbulnya edema paru karena pengaruh gravitasi Margono, 0)))!.

;H&%#< )a! Ba"&+ 

a. Definisi

P1iccupQ atau PsingulatusQ adalah kontraksi involunter berulang pada satu sisi atau kedua diafragma dan otot interkostal diakhiri dengan  pergerakan mendadak penutupan glottis menghasilkan suara PhicQ.

6ebaliknya, batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk  mencegah masuknya materi asing ke dalam saluran respirasi Cheville, 0)%)!. P1iccupQ dan batuk yang tidak terkontrol dapat mengurangi semangat penderita dan mengganggu tidur, mempengaruhi status hidrasi dan nutrisi.

 b. <pidemiologi

&revalensi PhiccupQ pada populasi penyakit stadium lanjut belum dapat dijelaskan. 2eview sistematik kejadian batuk pada penyakit lanjut di 08 penelitian menunjukkan prevalensi batuk sebesar 0-/ diantara %0.)))  penderita. &ada 0-4 kasus non"s!all cell  kanker paru, batuk muncul pada ()/ penderita dan prevalensinya meningkat hingga -)/ sebelum meninggal Cheville, 0)%)!.

c. &atofisiologi

9isiologi terjadinya PhiccupQ belum diketahui, kemungkinan  berkaitan dengan hiccup refle3 arc yang terdiri dari impuls afferent  yang ditransmisikan melalui nervus phrenicus atau vagus atau ganglia simpatik. 6inyal efferent ditransmisikan melalui nervus phrenicus ke glottis, diafragma, dan otot pernafasan accessory.

#emungkinan pusat PhiccupQ berada di cervical cord antara C7 dan C serta susunan saraf pusat yang lebih tinggi. #rigger hiccup  adalah iritasi, inflamasi, distensi viscera, primary esophagus, liver, dan lambung. P1iccupQ yang terus menerus berhubungan dengan faktor toksik dan metabolik seperti uremia, hiponatremia, hipokalemia, hipokalsemia, ethanol, dan beberapa obat kemoterapi,

$atuk juga melalui arkus refleks menghasilkan respiratory flo rates  yang cukup tinggi untuk melepas mukus dan substansi asing dari saluran nafas. 2eflek batuk terdiri dari serabut afferent  dalam nervus vagus, trigeminal, dan phrenicus. 6erabut ini membawa impuls ke reseptor  nociceptive  batuk  Ad"  dan -"fibers  di laring, epitel respirasi, membran timpani, esophagus, pericardium dan mukosa sinus.  Ad"fibers menyampaikan impuls yang didapat dari stimuli mekanik, sedangkan -"  fibers menyampaikan impuls dari stimuli kemikal.  Infla!!atory neuro!odulators seperti prostaglandin, mempengaruhi receptor thresholds

untuk depolarisasi. +mpuls melalui medulla menuju pusat batuk. +mpuls efferent  berjalan melalui nervus vagus, phrenicus, dan nervus spinal ke glottis dan otot respirasi.

$atuk terjadi karena 7 fase, yaitu fase inspirasi inisial, fase co!pressive dan fase e3pulsive Cheville, 0)%)!.

d. &enyebab

P1iccupQ secara teori disebabkan distensi lambung berlebihan. &enyebab lain dalam konteks paliatif adalah iritasi esophagus, ileus, dan metastasis peridiaphragmatic metastasis. $atuk sering terjadi sekunder  karena efek lokal dari penyakit. 3umor mengiritasi daerah sekitarnya seperti pada thoraks, abdomen dan struktur neurologis. &enderita dengan  penyakit kanker dan non kanker yang sering batuk, dan beresiko terjadi aspirasi, memerlukan evaluasi klinik lebih lanjut. 8pper airay cough  syndro!e karena gangguan rhinosinus, asma, dan  gastroesofageal refluks merupakan kondisi tersering penyebab batuk pada populasi umum dan  penderita paliatif Cheville, 0)%)!.

e. &enatalaksanaan

&enatalaksanaan PhiccupQ melalui pendekatan nonfarmakologis seperti !aneuver  respirasi sederhana menahan nafas, rebreathing into a bag , kompresi diafragma!, stimulasi nasal dan faringeal menekan hidung, inhalation of a sti!ulant , traction lidah!, stimulasi vagal ocular  co!pression, carotid !assage!, terapi psikiatrik behavioral therapy!,  gastric distension relief  berpuasa, menggunakan  %' tube, lavage!, dan injeksi anastetik nervus phrenicus. Namun efikasi dari penggunaan terapi ini belum dikaji ketat dalam suatu percobaan klinik ray, %44(H Cheville, 0)%)!.

Ga!**&a! H)ra# )a! N&"r#

6uport hidrasi dan nutrisi sangat penting bagi penderita dan keluarga untuk kelangsungan hidup penderita. #etersediaan  Artificial %utrition and   Hydration N1! masih menjadi perdebatan karena terapi intervensi ini

disatu sisi ditolak keberadaannya tetapi sebenarnya merupakan pelayanan dasar yang harus diberikan Cheville, 0)%)!.

a. <pidemiologi

Data prevalensi kehilangan berat badan dan dehidrasi sangat  bervariasi tergantung dari stadium penyakit. &enurunan berat badan dikaitkan kondisi morbiditas dan berkurangnya survival penderita kanker. Deteksi penurunan berat badan pada penderita dengan edema anasarka sangat sulit dikerjakan. Namun, telah dilaporkan bahwa hampir semua  penderita kanker mengalami penurunan berat badan signifikan hingga  pada saat mereka meninggal Cheville, 0)%)!.

 b. &enyebab

#ondisi dehidrasi sering terjadi pada penderita dengan penyakit terminal. 1al ini disebabkan karena hiponatremi, hipernatremi, atau dehidrasi isotonik. Dehidrasi hiponatremia timbul karena kehilangan sodium dari cairan yang dikeluarkan tubuh terutama berasal dari air  dibandingkan makanan. #ondisi yang sering menjadi penyebabnya adalah anoreksia, nausea, dan vo!iting . 6elain itu, overuse diuretic, salt" asting renal conditions, third spacing, dan insufisiensi adrenal juga  berperan 2ochman, %447H Cheville, 0)%)!.

Dehidrasi hipertonik terjadi pada saat kehilangan air lebih besar  daripada kehilangan sodium. &enyebab terbanyak adalah karena demam,  pengeluaran air melalui paru, kulit, dan intake oral yang tidak tercukupi. Diduga penderita dengan penyakit lanjut mayoritas mengalami dehidrasi eunatremik Cheville, 0)%)!.

c. ssessmen

ssessmen klinik untuk dehidrasi hendaknya meliputi skrining  perubahan status mental, rasa haus, intake  oral;parenteral, output urine

dan fluid loss.

&enderita dapat mengeluhkan rasa haus maupun tidak, penurunan nafsu makan, nyeri pada saat makan, tersedak atau batuk pada saat menelan.

 Nyeri pada rongga mulut mungkin berkaitan dengan adanya jamur, osteoradionecrosis pada penderita kanker kepala dan leher!, mukositis, osseus metastasis ke tulang facial, infeksi herpes zoster dan neuropathic  pain syndro!e Cheville, 0)%)!.

&emeriksaan fisik menunjukkan penurunan turgor kulit, mulut kering dan postural hipotensi. &emeriksaan laboratoris untuk menilai hematokrit, serum sodium, blood urea nitrogen, dan creatinine. 6elain itu  pemeriksaan urine untuk menilai osmolaritas juga diperlukan. &emeriksaan imaging mungkin diperlukan untuk konfirmasi keganasan yang berhubungan dengan + tract Cheville, 0)%)!.

d. &enatalaksanaan

3idak ada evidence yang menunjang penggunaan suplemen hidrasi Cheville, 0)%)!.

Lm$e)ema

a. Definisi

'imfedema merupakan disfungsi sistem limfatik karena akumulasi cairan tinggi protein yg abnormal 9ife et al, 0)%0!.

 b. &enyebab

'imfedema primer karena perkembangan sistem limfatik yang abnormal, dijumpai sejak lahir, remaja dan dewasa muda.

&enyebab sekunder meliputi kerusakan sistem limfatik karena faktor  ekstrinsik atau obstruksi. #eganasan tersering menyebabkan limfedema adalah kanker payudara, melanoma, keganasan ginekologi dan lymphoma.

Di negara berkembang limfedema banyak terjadi pada penderita setelah terapi kanker payudara terutama dengan tindakan  full a3illary dissection mengambil semua lymph nodes dibawah vena aEillaris! 9ife et al, 0)%0!.

c. ssessmen

6ecara klinis ditandai dengan bengkak pada ekstremitas atau bagian tubuh yang lain, seperti wajah, thoraks dan abdomen, perubahan kulit dan

Dokumen terkait