• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tindakan Penahanan, Penolakan dan Pemusnahan

PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KARANTINA PERTANIAN DAN PENGAWASAN KEAMANAN HAYATI

D. Pemeriksaan Domestik Masuk

4.2 Tindakan Penahanan, Penolakan dan Pemusnahan

Berdasarkan Undang-Undang No.16 Tahun 1992 pasal 10 merupakan tindakan karantina yang dilakukan petugas karantina berupa :

pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan dan pembebasan. Sepanjang tahun 2015 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon dalam rangka pengawasan melakukan tindakan 8P terhadap Media pembawa HPHK dan OPTK yang dilalulintaskan antar area.

Sesuai Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2000, pada pasal 8 dan pasal 15 tentang pemusnahan dilakukan terhadap media pembawa yang dimasukkan ke dalam wilayah negara RI atau dari suatu area ke area lain di dalam wilayah RI merupakan tindakan karantina yang dilakukan oleh petugas karantina dan itu sudah berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Penahanan dan pemusnahan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 7. Data Penahanan, Penolakan, Pemusnahan Karantina Hewan 3 (tiga) tahun Terakhir

No. Tindakan Tahun (Kali) Keterangan

2013 2014 2015

1 Penahanan 2 4 7 Anjing, Ayam

2 Penolakan 2 2 3 Anjing, Ayam

3 Pemusnahan 1 2 4 Anjing, Ayam

Berdasarkan tabel 7 diatas, menunjukkan bahwa pada tahun 2015 frekuensi penahanan 7 kali sebanyak 16 ekor ayam, penolakan frekuensi 3 kali sebanyak 11 ekor ayam dan pemusnahan sebanyak 5 ekor ayam dengan frekuensi 4 kali. Hal ini terkait dengan larangan pemasukan dan pengeluaran penyakit rabies dan penyakit flu burung dari daerah tertular masuk ke Ambon atau keluar dari wilayah Ambon ke daerah kabupaten

lain di wilayah Ambon dan juga tidak dilengkapi sertifikat kesehatan dari daerah asal. Jika dibandingkan dengan tahun 2014 terjadi peningkatan penahanan dan pemusnahan terjadi peningkatan yang signifikan.

Sesuai Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2002, pada pasal 7 dan pasal 13 tentang pemusnahan dilakukan terhadap media pembawa yang dimasukkan ke dalam wilayah negara RI atau dari suatu area ke area lain di dalam wilayah RI merupakan tindakan karantina yang dilakukan oleh petugas karantina dan itu sudah berjalan sesuai dengan peraturann perundang-undangan. Penahanan dan pemusnahan untuk karantina tumbuhan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 8. Data Penahanan, Penolakan, Pemusnahan Karantina Tumbuhan 3 (tiga) tahun Terakhir

No. Tindakan Tahun (kali) Keterangan 2012 2014 2015

1 Penahanan - 3 11 Benih bunga (720 gr/3 kali) dari Belanda

Bawang putih (500 gr/1 kali) dari Belanda

Beras hitam (1 kg/1 kali)Malaysia

Benih padi (20.041 kg/4 kali) dari Gresik

Benih paprika (100 gr/1 kali) dari Belanda

Bibit jeruk (700 btg/1 kali) dari Surabaya

2 Penolakan - - 4 Benih padi (20.041 kg/4 kali) dari Gresik

3 Pemusnahan - 3 7 Benih bunga (720 gr/3 kali) Bawang putih (500 gr/1 kali) Beras hitam (1 kg/1 kali) Benih paprika (100 gr/1 kali) Bibit jeruk (700 btg/1 kali)

Berdasarkan tabel 8 diatas, menunjukkan bahwa pada tahun 2015 terjadi tindakan penahanan frekuensi 11 kali, penolakan frekuensi 4 kali dan pemusnahan frekuensi 7 kali. Jika dibandingkan dengan tahun 2014 frekuensi penahanan 3 kali dan frekuensi pemusnahan 3 kali. Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan penahanan dan pemusnahan.

Umumnya yang dilakukan penahanan dan pemusnahan komoditi yang berasal dari Negara Belanda dan Malaysia yaitu benih tanaman hias (bunga), benih sayuran, bawang putih dan beras hitam. Tindakan karantina ini sudah sesuai prosedur, dimana ketiga kasus tersebut hampir sama yaitu tidak dilengkapi dokumen karantina seperti yang dipersyaratkan dalam UU No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Selain itu, benih impor yang di musnahkan tersebut tidak memiliki ijin resmi berupa Ijin Pemasukan Benih Impor dari Kementerian Pertanian.

Untuk penahanan dan pemusnahan antar area adalah bibit jeruk sebanyak 700 batang dari Surabaya yang tidak dilengkapi dengan surat kesehatan benih dan sertifikat kesehatan dari daerah asal.

Penolakan yang dilakukan terhadap benih padi sebanyak 20.041 kg dari Gresik, hal ini dilakukan tidak dilengkapi dokumen kesehatan, tidak dilaporkan ke petugas karantina dan tidak bebas dari OPTK daerah tujuan.

4.3 Penggunaan Formulir

Penggunaan Formulir selama 3 (tiga) tahun terakhir untuk sertifikat Karantina Hewan dan sertifikat Karantina Tumbuhan dapat dilihat dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 9. Penggunaan Sertifikat Karantina Hewan SKP Kelas I Ambon

No. Jenis Sertifikat Jumlah

2013 2014 2015

1. KH – 9 299 227 288

2. KH – 10 76 107 182

3. KH – 12 635 817 949

Jumlah 1.010 1.151 1.419

Tabel 10. Penggunaan Sertifikat Karantina Tumbuhan SKP Kelas I Ambon

No. Jenis Sertifikat Jumlah

2013 2014 2015

1. KT – 9 1.219 1.113 1.595

2. KT – 10 14 18 19

3. KT – 12 698 1.012 1.327

Jumlah 1.931 2.143 2.941

Berdasarkan tabel 9 diatas, menunjukkan bahwa penerbitan sertifikat karantina hewan pada tahun 2015 sebanyak 1.419, tahun 2014 jumlah sertifikat 1.151 lembar dan tahun 2013 sebanyak 1.010 lembar.

Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan penggunaan setiap tahunnya sejalan dengan jumlah frekuensi dan jumlah masuknya keluarnya media pembawa HPHK di Propinsi Maluku yang dilakukan pengawasan baik dilakukan dor tu dor atau maupun atas kesadaran para pengguna jasa.

Pembatalan dokumen sebanyak 4 dokumen KH-9 (noser 0570450, 0570600, 0570609 dan 0960789), hal ini disebabkan kesalahan input.

Berdasarkan tabel 10 diatas, menunjukkan bahwa penggunaa sertifikat karantina tumbuhan sebanyak 2.941 lembar (tahun 2015), 2.143 lembar (tahun 2014) dan tahun 2013 sebanyak 1.931 lembar. Terjadi peningkatan penggunaan KT-9, KT-10 dan KT-12 tahun 2015 jika dibanding tahun 2014. Dengan terjadinya kenaikan penggunaan sertifikat ini, menyebabkan jumlah volume serta frekuensi media pembawa yang masuk pada tahun 2015 juga bertambah. Pembatalan dokumen sebanyak 11 dokumen yaitu KT-9 sebanyak 1 dokumen (noser 0988602) dari UPT induk dan dokumen KT-12 sebanyak 10 dokumen (noser 0659105, 0659107, 0659437, 0828023, 0828035, 0779531, 0828202, 0828440, 0828521 UPT Wilker Kobisadar dan noser 0828356 UPT wilker Tual).

Pembatalan dokumen ini disebabkan salah input dan salah cetak.

4.4 Pemantauan Daerah Sebar HPHK dan OPTK A. Karantina Hewan

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon selain menyelenggarakan fungsi pemeriksaan tindak karantina terhadap Media Pembawa yang dilalulintaskan juga menyelanggarakan fungsi Pemantauan Daerah Sebar HPHK, yang merupakan implementasi dari UU No. 16 tahun 1992 dan PP No 82 Tahun 2000 serta Surat Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor 207/Kpts/OT.160/L/02/2015 tentang Pedoman Pemantauan Daerah Sebar Hama Penyakit Hewan (HPHK) Tahun 2015.

Pengamatan status dan situasi Hama Penyakit Hewan Karantina dilakukan secara tidak langsung dengan memperoleh informasi dari instansi berwenang yaitu Balai Besar Veteriner dan Dinas yang membidangi Kesehatan Hewan di Propinsi, Kabupaten/Kota. Dengan dilaksanakannya kegiatan pengamatan ini, maka kegiatan pemantauan daerah sebar HPHK dengan metode pengambilan sampel tidak dilakukan.

Pemantauan ini bertujuan untuk memperoleh informasi dan situasi HPHK di area dalam wilayah Propinsi Maluku, memetakan status dan situasi HPHK di wilayah kerja SKP Kelas I Ambon dan tersusunya peta status dan situasi HPHK di Propinsi Maluku.

Tabel 11. Kabupaten/Kota di Propinsi Maluku

No Kabupaten/Kota Lokasi

1 Kab. Maluku Tengah P. Seram dan P.Ambon

2 Kab. Seram Bagian Barat P. Seram

3 Kab. Seram Bagian Timur P. Seram

4 Kab. Buru P.Buru

5 Kab. Maluku Tenggara Kepulauan Kei

6 Kab. Maluku Tenggara Barat P. Yamdena, P.Larat

7 Kab. Kepulauan Aru Kepulauan Aru

8 Kota Ambon P.Ambon

9 Kota Tual P.Kei

10 Kab. Buru Selatan P.Buru

11 Kabupaten Maluku Barat Daya P.Moa, P.Kisar, P.Romang,P.Lakor,P.Wetar, P.Leti dan PulauPulau Sekitar

Materi Pemantauan

Materi yang digunakan pada pemantauan ini yaitu berupa data kejadian penyakit dari dinas yang membidangi kesehatan hewan di Kabupaten/kota dan Propinsi baik berupa data kasus penyakit atau hasil surveilen penyakit serta data hasil pengujian laboratorium pasif atau aktif dari laboratorium milik daerah, Balai Besar veteriner dan atau hasil penelitian sesuai kaidah penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan dan data-data dari instansi-instansi terkait.

Metode Pemantauan

Pengamatan status dan situasi HPHK dilakukan secara tidak langsung dengan mengumpulkan data kasus penyakit atau hasil survelen penyakit serta data hasil pengujian laboratorium pasif atau aktif serta informasi dari instansi berwenang yaitu Balai Besar Veteriner dan Dinas yang membidangi Kesehatan Hewan di Propinsi, Kabupaten/Kota.

Kegiatan pengumpulan informasi dilakukan melalui kegiatan perjalanan dinas ke tempat/instansi terkait. Apabila anggaran perjalanan dinas terbatas, maka dapat dilakukan dengan surat menyurat kepada instansi yang bersangkutan. Metode pengumpulan informasi dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan Participatory Epidemiology.

Kuisioner yang dipergunakan pada saat tim pengamatan melakukan perjalanan pengumpulan data dalam bentuk form isian yang disusun sesuai dengan pedoman pemantauan. Untuk menggali informasi yang mendalam, tim dapat melakukan PE dengan metode Focus Group Discussion atau In Depth Interview. Dengan demikian kuisioner perlu disusun pertanyaan yang terperinci dan bersifat terbuka guna mendapat informasi yang mendalam.

Analisis Data

Analisis data disajikan secara kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan jenis data yang diperoleh. Data diekspresikan dalam bentuk table dan grafik untuk prevalensi dan insidensi serta dalam bentuk peta status dan situasi HPHK yang memuat keterangan lokasi keberadaan penyakit menurut hasil perolehan data(peta kasus penyakit, Peta Diagnosa hasil lab) sesuai dengan pedoman pemantauan yang ditetapkan Pusat.

Pelaporan

Hasil pemantauan disusun dalam bentuk laporan yang dibuat berdasar data yang telah dikumpulkan berserta lampiran validasi sebagai bagian dari laporan yang tidak terpisahkan. Laporan disusun sebagaimana hasil penelitian menurut kaedah penulisan yang dapat dapat dipertanggung jawabkan sebagaimana karya tulis ilmiah.

Hasil pemantauan akan di seminarkan terlebih dahulu sebelum menjadi hasil pemantauan yang final untuk mendapatkan koreksi dari para pakar dan instansi terkait sebagai tahapan pengujian hasil pemantauan sehingga nantinya didapatkan hasil laporan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan keasliannya.

Seminar Hasil pemantauan yang dilaksankan dalam bentuk workshop akan dilaksanakan sebanyak 3 kali. Tahap pertama dilaksanakan secara regional menurut regional masing-masing UPT dengan dihadiri UPT pada regional untuk mendapatkan masukan dari para pakar sehingga serta penyeragaman hasil pemantauan dan laporan/tampilan untuk penggabungan hasil pemantauan guna

disampaikan dalam regional regional tahap II. Tahap II dilaksanakan Workshop Regional dengan mengundang instansi terkait untuk mendapatkan masukan dan validasi hasil pemantauan oleh masing- maisng UPT yang telah disusun dalam bentuk hasil regional. Seminar Nasional dilaksanakan oleh Pusat dengan mengundang seluruh UPTKP untuk dikompilasi secara Nasional berdasar pemaparan dari tiap regional yang telah disusun sebelumnya. Hasil workshop nasional akan di koreksi atau mendapat masukan masukan dari para pakar dan instansi terkait pada tingkat nasional untuk kesempurnaan hasil pemantauan dan guna perbaikan metode pamantauan Badan Karantina Pertanian kedepan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik untuk kemajuan Bangsa

Daerah sebar tempat dilakukan pemantauan

Daerah tempat pemantauan HPHK adalah area dalam wilayah Kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon yang meliputi Kabupaten/Kota di dalam Propinsi Maluku. Daerah yang dapat dikunjungi terkait pemantauan HPHK Tahun 2015 karena dilihat dari wilayah geografis Propinsi Maluku yang terdiri dari ribuan gugus pulau dan untuk mencapai seluruh kabupaten dan Kota di Propinsi Maluku sedangkan ketersedian anggaran dan waktu pelaksanaan jadi kemungkinan tidak semua wilayah tidak dapat didatangi sehingga dipilih beberapa tempat yang dianggap mewakili keadaan geografis Propinsi, adalah sebagai berikut:

1. Provinsi Maluku 2. Kota Ambon

3. Kabupaten Buru (P.Buru)

4. Kabupaten Seram Bagian Barat (P. Seram) 5. Kabupaten Maluku Tengah (P.Seram) 6. Kota Tual

7. Kabupaten Tual, Maluku Tenggara

Derah lain yang tidak dapat di kunjungi terkait pengambilan data langsung dilaksanakan pengumpulan data secara korespondensi dan via komunikasi dengan petugas di wilayah tersebut ketika bertemu dalam pertemuan di Propinsi Maluku.

Waktu Pelaksanaan

Pemantauan daerah sebar hama dan penyakit hewan karantina di wilayah kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon dilaksanakan pada rentang waktu Januari sampai Juli sebagaimana berikut :

Kegiatan Bulan

Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Pembentukan Tim

Persiapan

Pengambilan Data Penyusunan Laporan Workshop I dan II Workshop Nasional Penyempurnaan Laporan

Hasil

Hasil pemantauan Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) tahun 2015 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon didapatkan sebaran peta status dan situasi Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) yang terdiri atas 2 penyakit yang terverifikasi dari hasil pengujian laboratorium

Dokumen terkait