• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. rahmat dan hidayah-nya sehingga Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR. rahmat dan hidayah-nya sehingga Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon telah mampu melaksanakan kinerjanya melalui program dan kegiatan tahun 2015.

Laporan ini disusun berdasarkan bentuk pertanggungjawaban terhadap besarnya anggaran tahun 2015 yang telah digunakan dan sekaligus sebagai alat bantu evaluasi guna penyempurnaan hasil-hasil serta manfaat yang telah dcapai maupun yang belum dicapai. Selain itu laporan ini dapat digunakan sebagai bahan informasi kinerja terutama di lingkup Badan Karantina Pertanian maupun instansi terkait lainnya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan, penulisan hingga selesainya laporan ini.

Tiada gading yang tak retak. Kami menyadari bahwa laporan ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan laporan tahunan ini dan kinerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon pada tahun-tahun berikutnya agar menjadi lebih baik.

Akhirnya kami berharap, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Ambon, Januari 2016 Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon

drh. Ubaidullah

NIP. 19661205 199903 1 001

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 4

BAB II. VISI DAN MISI STASIUN KARANTINA PERTANIAN KELAS I AMBON 2.1 Visi... 6

2.2 Misi ... 6

2.3 Tujuan ... 7

2.4 Sasaran ... 8

2.5 Program... 8

2.6 Kedudukan ... 10

2.7 Struktur Organisasi ... 11

2.8 Wilayah Kerja ... 13

BAB III. KEPATUHAN, KERJASAMA DAN INFORMASI PERKARANTINAAN 3.1 Pelayanan Informasi (Sosialisasi) ... 14

3.2 Koordinasi Pengawasan Karantina ... 16

(4)

3.3 Penyelidikan Kasus Tindakan Pidana Karantina ... 17

3.4 Inhouse Sistem (E-Qvet dan E-plaq) ... 17

3.5 Jaringan VPN ... 18

3.6 Website SKP Kelas I Ambon ... 19

BAB IV. PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KARANTINA PERTANIAN DAN PENGAWASAN KEAMANAN HAYATI 4.1. Tindakan Pemeriksaan dan Pengawasan Keamanan Hayati . 20 4.2 Tindakan Penahanan, Penolakan dan Pemusnahan... 31

4.3 Penggunaan Formulir ... 34

4.4 Pemantauan Daerah Sebar HPHK dan OPTK ... 36

BAB V. PENINGKATAN KUALITAS PENYELENGGARAAN LABORATORIUM KARANTINA HEWAN DAN KARANTINA TUMBUHAN 5.1. Kegiatan Intersepsi HPHK dan ... 59

5.2 Koleksi HPHK/OPTK dan Media Pembawa HPHK dan OPTK 63 BAB VI. DUKUNGAN MANAJEMEN DAN DUKUNGAN TEKNIS LAINNYA 6.1. Pengembangan SDM... 65

6.2 Serapan Anggaran Keuangan... 80

6.3 Penerimaan Negara Bukan Pajak ... 82

6.4 Sarana dan Prasarana ... 84

6.6 Penghapusan Barang Milik Negara ... 86

BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan ... 88

7.2 Saran ... 89

LAMPIRAN ... 91

(5)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Kegiatan Sosialisasi dan Penyebaran Informasi Karantina

Pertanian Tahun 2015……… ... 15

Tabel 2. Data Kegiatan Ekspor Bibit/Benih Tanaman, Hasil Tanaman Hidup, Hasil Tanaman Mati dan Benda Lain... 22

Tabel 3. Data Kegiatan Domestik Keluar Media Pembawa Hewan, Bahan Asal Hewan, Hasil Bahan Asal Hewan dan Benda Lain... 24

Tabel 4. Data Kegiatan Domestik Keluar Bibit/Benih Tanaman, Hasil Tanaman Hidup, Hasil Tanaman Mati dan Benda Lain... 26

Tabel 5. Data Kegiatan Domestik Masuk Media Pembawa Hewan, Bahan Asal Hewan, Hasil Bahan Asal Hewan dan Benda Lain... 28

Tabel 6. Data Kegiatan Domestik Masuk Bibit/Benih Tanaman, Hasil Tanaman Hidup, Hasil Tanaman Mati dan Benda Lain 30 Tabel 7. Data Penahanan, Penolakan dan Pemusnahan Karantina Hewan 3 (tiga) Tahun Terakhir ……… 32

Tabel 8. Data Penahanan, Penolakan dan Pemusnahan Karantina Tumbuhan 3 (tiga) Tahun Terakhir ……….. 33

Tabel 9. Penggunaan Sertifikat Karantina Hewan SKP Kelas I Ambon ... 35

Tabel 10. Penggunaan Sertifikat Karantina Tumbuhan SKP Kelas I Ambon .. 35

Tabel 11. Kabupaten/Kota di Propinsi Maluku ... 37

Tabel 12. Data Penyakit Propinsi Maluku ... 43

Tabel 13. Data Penyakit Dinas Kota Ambon ……... 44

Tabel 14. Data Penyakit Dinas Kabupaten Buru…….. ... 45

Tabel 15. Data Penyakit Dinas Kabupaten SBB……... 46

Tabel 16. Data Penyakit Dinas Kabupaten Maluku Tengah…….. ... 46

Tabel 17. Data Penyakit Maluku Tenggara…….. ... 47

Tabel 18. Data Penyakit Kota Tual……... 47

Tabel 19. Pelaksana Pemantauan Daerah Sebar OPT/OPTK Tahun Tahun Anggaran ……... 55

(6)

Tabel 20. OPT/OPTK Temuan di Lapang Hasil pemantauan Komoditi

Unggulan ... 56

Tabel 21. Hasil Pengujian Laboratorium Karantina Hewan Tahun 2015 ... 60

Tabel 22. Hasil Pengujian Laboratorium Karantina Tumbuhan Tahun 2015 ... 62

Tabel 23. Daftar Intersepsi dan Koleksi OPTK Karantina Tumbuhan 2015 ... 64

Tabel 24. Data Pegawai Berdasarkan Golongan/Ruang ... 66

Tabel 25. Data Pegawai Berdasarkan Pendidikan, Golongan/Ruang Jabatan Pegawai Negeri Sipil ... 66

Tabel 26. Data Pegawai Berdasarkan Penempatan Petugas ... 66

Tabel 27. Daftar Nominatif Pegawai SKP Kelas I AMbon ... 67

Tabel 28. Daftar Pejabat Fungsional ... 69

Tabel 29. Daftar Pegawai Penerima Kenaikan Gaji Berkala ... 71

Tabel 30. Daftar Pegawai yang Memperoleh Kenaikan Pangkat ... 73

Tabel 31. Daftar Penanggung Jawab Wilker ... 74

Tabel 32. Daftar Pegawai yang Mutasi ... 74

Tabel 33. Daftar CPNS SKP Kelas I Ambon Tahun Masuk 2014 ... 75

Tabel 34. Daftar Pegawai yang Mengikuti Pelatihan Teknis dan Non Teknis SKp Kelas I Ambon Tahun 2015 ... 75

Tabel 35. Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja Per Sumber Dana ... 81

Tabel 36. Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja Per Jenis Belanja ... 81

Tabel 37. Rincian Realisasi Pengembalian Belanja Per Jenis Belanja ... 81

Tabel 38. Rincian Realisasi Belanja Modal ... 82

Tabel 39. Perbandingan antara Target dan Penerimaan (TA.2013-2015) ... 83

Tabel 40. Posisi Barang Milik Negara di Neraca Per Tanggal 31 Desember 2015 ... 84

Tabel 41. Perincian Kendaraan Bermotor... 86

(7)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambarl 1. Struktur Organisasi Organisasi SKP Kelas I Ambon ... 12

Gambar 2. Peta Status Penyakit HPHK Propinsi Maluku ... 42

Gambar 3. Peta HPHK Berdasar Gejala Klinis dan Kasus Lapangan ... 42

Gambar 4. Peta Penyakit di Kota Ambon ... 43

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1a. Rekapan Volume Komoditi Hewan Januari s/d Juni 2015 ... 91 Lampiran 1b. Rekapan Volume Komoditi Hewan Juli s/d Desember 2015 ... 93 Lampiran 2a. Rekapan Volume Komoditi Tumbuhan Januari s/d Juni 2015 95 Lampiran 2b. Rekapan Volume Komoditi Tumbuhan Juli s/d Desember 2015 99 Lampiran 3. Daftar Koleksi OPTK Karantina Tumbuhan SKP Kelas I Ambon ... 103 Lampiran 4. Koleksi Media Pembawa OPTK Per 31 Desember 2015 ... 105 Lampiran 5. Laporan SIMAK- BMN Tahun 2015 ... 106

(9)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki wilayah laut dan garis pantai yang sangat panjang, sehingga besar kemungkinan masuknya berbagai hama dan penyakit hewan dan tumbuhan melalui aktivitas lalulintas keluar masuknya produk pertanian, baik dari luar negeri maupun antar area di dalam wilayah Republik Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut, maka tanggung jawab BARANTAN menjadi sangat penting sebagai garda terdepan dalam mencegah masuknya/ keluar hama penyakit hewan karantina (HPHK) dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) ke dalam/ dari wilayah Negara Republik Indonesia dan penyebarannya dari suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia.

Globalisasi dalam kerangka perdagangan internasional, mendorong semakin meningkatnya arus lalulintas dan menurunnya secara bertahap hambatan tarif (tarrif barrier) dalam perdagangan hasil pertanian antar negara. Keadaan ini mendorong masing-masing negara memperketat persyaratan jaminan kesehatan, mutu dan keamanan hasil pertanian sebagai instrumen pengendalian perdagangan antar negara.

Pada saat ini ancaman yang dapat mengganggu kelestarian sumberdaya alam, ketentraman dan kesehatan masyarakat, kesehatan pangan, gangguan terhadap produksi sektor pertanian, serta lingkungan telah didefinisikan sebagai ancaman yang perlu untuk dicegah masuk dan

(10)

penyebarannya. Ancaman yang secara global telah diidentifikasi dapat dikendalikan secara efektif melalui penyelenggaraan perkarantinaan antara lain; 1) ancaman terhadap kesehatan hewan dan tumbuhan, 2) jenis asing invasif, 3) penyakit Zoonosis, 4) Bioterorism, 5) pangan yang tidak sehat termasuk GMO yang belum dapat diidentifikasi keamanannya;

6) kelestatian plasma nutfah/keanekaragaman hayati; 7) hambatan teknis perdagangan; dan 8) ancaman terhadap kestabilan perekonomian nasional.

Peran Badan Karantina Pertanian dalam perlindungan terhadap kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan serta lingkungan hidupnya dalam hubungannya dengan perdagangan internasional y aitu : 1) mengoperasikan persyaratan teknis (persyaratan karantina) impor yang ditetapkan di 3(tiga) titik sebelum masuk (pre-border), di tempat pemasukan (at-border) dan setelah pemasukan (post-border) dalam upaya tindakan perlindungan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan; 2) memfasilitasi ekspor komoditi pertanian melalui pemeriksaan, audit, verifikasi dan sertifikasi karantina ekspor agar persyaratan teknis negara pengimpor dapat terpenuhi; 3) turut serta memverifikasi persyaratan teknis negara tujuan ekspor agar tetap dalam koridor perjanjian SPS; 4) sebagai Notification body dan National Enquiry Point SPS, peran tersebut merupakan salah satu bentuk dari komunikasi

persyaratan teknis (dengan organisasi internasional dan negara mitra) yang akan diberlakukan.

Dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan terbangun pasar tunggal dan basis produksi, dimana terdapat aliran barang, jasa, investasi

(11)

dan tenaga kerja terampil yang lebih bebas, kawasan berdaya saing tinggi, pembangunan ekonomi merata, pengembangan UKM ASEAN, serta integrasi ASEAN ke dalam ekonomi global. Wujud kinerja MEA 2015 dari sisi karantina adalah fasilitasi kelancaran arus barang/produk pertanian yang diperdagangkan. Dengan demikian, salah satu fokus yang perlu mendapatkan perhatian serius menyangkut kesetaraan sistem manajemen risiko antar negara anggota MEA.

Salah satu faktor penting dalam kelancaran arus barang/produk adalah hambatan teknis yaitu keberadaan/status penyakit yang berdasarkan ketentuan internasional berkaitan dengan prevalensi hama dan penyakit serta organisme pengganggu tumbuhan di suatu area/kawasan, sistem surveilans yang dimiliki dan dilaksanakan, dan sistem pengendalian yang dibangun.

Sebagai unit pelaksana teknis Badan Karantina Pertanian Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon tahun 2015 melaksanakan kegiatan/

program yang sejalan dengan program BATANTAN yaitu Peningkatan Kualitas Pengkarantinaan Pertanian dan Pengawasan Keamanan Hayati.

Indikator kinerja utama program adalah sebagai berikut :

1. Meningkatnya efektifitas pengendalian risiko masuk, tersebar dan keluarnya HPHK dan OPTK;

2. Meningkatnya kualitas pelayanan tindakan karantina dan pengawasan keamanan hayati terhadap ekspor Media Pembawa HPHK dan OPTK dan keamanan hayati;

3. Tingkat kepatuhan dan kepuasan pengguna jasa karantina pertanian.

(12)

Dalam upaya mendukung program pembangunan pertanian di Indonesia, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon senantiasa melakukan pembenahan secara internal maupun eksternal dengan kerjasama instansi terkait dalam rangka optimalisasi tupoksi.

Adapun jenis kegiatan dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan karantina pertanian dan pengawasan keamanan hayati meliputi :

1. Pelaksanaan tindakan karantina terhadap hama dan penyakit hewan karantina (HPHK), organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) dan keamanan hayati hewani dan nabati.

2. Pelaksanaan pemantauan daerah sebar HPHK dan OPTK 3. Pelaksanaan dan pembuatan koleksi HPHK dan OPTK

4. Pengelolaan laboratorium karantina hewan dan karantina tumbuhan 5. Pengelolaan data, informasi dan dokumentasi kegiatan operasional

perkarantinaan hewan, tumbuhan dan pengawasan keamanan hayati hewani dan nabati.

6. Pemberian pelayanan teknis kegiatan operasional perkarantinaan hewan, tumbuhan dan pengawasan keamanan hayati hewani dan nabati.

7. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

1.2 Tujuan

Penyusunan lapaoran tahunan Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon TA.2015 ini mempunyai tujuan diantaranya :

(13)

1. Sebagai bahan informasi pelaksanaan kegiatan Stasiun Karantina Pertanian kelas I Ambon yaitu kegiatan yang telah dilakukan di Kantor Pusat, Wilker Pelabuhan Laut Yos Sudarso, Wilker Bandara Pattimura, Wilker Pelabuhan Laut Namlea, Wilker Pelabuhan Laut Tual, Wilker Pelabuhan Laut Kobisadar dan Kantor Pos Ambon.

2. Sebagai bahan informasi terhadap tingkatan capaian kinerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon Tahun 2015.

3. Untuk mengetahui berbagai permasalahan terkait dengan tupoksi baik di kantor pusat maupun wilker lingkup Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon

4. Untuk menjadi bahan penyusunan kebijakan Badan Karantina Pertanian yang akan datang.

(14)

BAB II VISI DAN MISI

STASIUN KARANTINA PERTANIAN KELAS I AMBON

2.1 Visi

Visi merupakan gambaran tentang masa depan realistik yang dipilih dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu. Visi merupakan kondisi ideal tentang masa depan, terjangkau, dipercaya, meyakinkan dan mengandung daya tarik, sekaligus merupakan refleksi keadaan internal dan potensi kemampuan inti serta keliatan (fleksibilitas) suatu organisasi dalam menghadapi hambatan dan tantangan masa depan. Oleh karena itu sebagai unit pelaksana teknis Badan Karantina Pertanian visi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon yaitu “Menjadi Instansi yang Tangguh dan Terpercaya”.

Tangguh : Penyelenggaraan karantina pertanian pada hakekatnya adalah perwujudan pertahanan negara di bidang kelestarian sumber daya alam hayati hewan dan tumbuhan. Prinsip pertahanan adalah tangguh menghadapi serangan.

Terpercaya :Penyelenggaraan karantina pertanian yang dilaksanakan dengan asas legalitas, sistem dan prosedur yang transparan di dtukung kaidah-kaidah lmiah yang obyektif dan sumber daya manusia yang profesional dan akuntabel.

2.2 Misi

Untuk mewujudkan visi, maka Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon mengemban misi sejalan misi Bandan Karantina Pertanian yang ditetapkan sebagai berikut :

(15)

1. Melindungi kelestarian sumberdaya alam hayati hewan dan tumbuhan dari serangan hama dan penyakit hewan karantina (HPHK), dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) di wilayah kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas IAmbon Propinsi Maluku;

2. Mendukung terwujudnya keamanan pangan di wilayah kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon Propinsi Maluku;

3. Memfasilitasi perdagangan dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan akses pasar Media Pembawa Pertanian di wilayah kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon Propinsi Maluku;

4. Meningkatkan citra dan kualitas layanan publik di wilayah kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon Propinsi Maluku.

2.3 Tujuan

Visi dan misi memiliki sifat yang relatif sulit diukur oleh karena itu perlu diritunkan/diderivasi menjadi tujuan dan sasaran strategis. Tujuan merupakan pernyataan tentang apa yang ingin dicapai oleh Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan. Sesuai dengan tupoksi yaitu melaksanakan perkarantinaan hewan dan tumbuhan, maka hasil yang dapat digambarkan adalah tingkat efektifitas penyelenggaraannya. Sebagai unit pelaksana teknis Badan Karantina Pertanian tujuan Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon 2015 – 2019 adalah :

a. Melaksanakan dan meningkatkan efektifitas dan efisiensi perkarantinaan hewan dan tumbuhan serta pengawasan keamanan hayati;

(16)

b. Meningkatkan kualitas sumber daya dan implementasi prinsip tata pemerintahan yang baik.

2.4 Sasaran

Dalam rangka pencapaian sasaran Program Badan Karantina Pertanian Tahun 2015, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon sebagai Unit Pelaksana Teknis di Daerah mendukung program tersebut dengan sasaran program sebagai berikut :

1. Meningkatnya efektivitas pengendalian risiko masuk, tersebar dan keluarnya HPHK dan OPTK.

2. Meningkatnya kualitas pelayanan tindakan karantina dan pengawasan keamanan hayati terhadap ekspor Media Pembawa HPHK dan OPTK dan keamanan hayati.

3. Meningkatnya kepatuhan dan kepuasan pengguna jasa karantina pertanian.

2.5 Program

Sesuai sasaran program Badan Karantina Pertanian, ada 3 (tiga) yang harus dicapai sebagai berikut :

1. Peningkatan efektivitas pengendalian resiko masuk, tersebar dan keluarnya HPHK dan OPTK.

Hal ini diperlukan dalam rangka memaksimalkan tugas dan fungsi Badan Karantina Pertanian, mengingat besarnya ancaman dan risiko berbagai jenis HPHK dan OPTK yang dapat masuk dan tersebar ke wilayah RI karena sangat luasnya wilayah yang harus diawasi dan

(17)

dijaga. Besarnya risiko dan ancaman tersebut berdampak terhadap kesiap-siagaan seluruh jajaran Badan Karantina Pertanian dalam menjaga wilayah RI sehingga diperlukan implementasi yang konsisten dalam pelaksanaan dan efektivitas tindakan karantina mulai dari tingkat pre-border, at-border dan post border.

2. Peningkatan kualitas pelayanan tindakan karantina dan pengawasan keamanan hayati terhadap ekspor media pembawa HPHK dan OPTK sert Keamanan Hayati,

Hal ini diperlukan dalam rangka pelayanan perkarantinaan yang maksimal sesuai dengan standar internasional. Pengembangan sistem pengendalian risiko penyakit hewan secara in-line inspection akan mampu mendukung upaya pengawasa, dan penegakan hukum yang sekaligus mendukung rangkaian proses penjaminan kesehatan sehingga pemasaran produk pertanian yang sesuai standar dapat diterima oleh negara mitra yang sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global.

3. Peningkatankepatuhan dan kepuasan pengguna jasa karantina pertanian.

Hal ini diperluka dalam rangka memberikan jaminan terhadap kesehatan dan keamanan produk pertanian kepada masyarakat Indonesia dan mitra sesuai tata aturan internasional. Pemerintah, dalam hal ini Badan Karantina Pertanian sebagai regulator perkarantinaan memiliki mandat konstiusional untuk memberikan perlindungan terhadap warga negara Indonesia dalam rangka penyediaankebutuhan produk pertanian yang bermutu tinggi dan

(18)

produk yang akan diekspor sesuai persyarataan negara mitra. Oleh karena itu memberika kepastian regulasi yang harus ditaati dan melaksanakannya dengan konsisten dan konsekuan serta perbaikan sistem pelayanan pdublik dapat memberikan kepuasan kepada pengguna jasa karantina dalam kegiatan ekspor dan impor produk pertanian.

2.6 Kedudukan

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon adalah Unit Pelaksana Teknis yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan Karantina Pertanian Departemen Pertanian yang dipimpin oleh Kepala Stasiun.Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 22/Permentan/OT.140/4/2008 tanggal 3 April 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan operasional perkarantinaan hewan dan tumbuhan, serta pengawasan keamanan hayati hewani nabati.

Dalam melaksanakan tugas pokok di atas, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon menyelenggarakan fungsi sebagai berikut : 1. Penyusunan rencana, evaluasi dan pelaporan

2. Pelaksanaan pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan dan pembebasan media pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK)

3. Pelaksanaan pemantauan daerah sebar HPHK dan OPTK 4. Pelaksanaan pembuatan koleksi HPHK dan OPTK

(19)

5. Pelaksanaan pengawasan keamanan hayati hewani dan nabati

6. Pelaksanaan pemberian pelayanan operasional pengawasan keamanan hayati hewani dan nabati

7. Pengelolaan informasi, dokumentasi dan sarana teknik karantina hewan dan tumbuhan.

8. Pelaksanaan pengawasan dan penindakan pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang karantina hewan, karantina tumbuhan dan keamanan hayati hewani dan nabati.

9. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

2.7 Struktur Organisasi

Sebagai unit pelaksana teknis Badan Karantina Pertanian, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon mempunyai susunan organisasi yang terdiri dari :

a. Urusan Tata Usaha, mempuyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan rencana dan pelaporan, serta urusan tata usaha dan rumah tangga.

b. Subseksi Pelayanan Operasional, mempunyai tugas melakukan pemberian pelayanan operasional karantina hewan dan karantina tumbuhan, pengawasan keamanan hayati hewani dan nabati, dan sarana teknik serta pengelolaan sistem informasi dan dokumentasi, serta pengawasan dan penindakan pelanggaran peraturan perundang- undangan dibidang karantina hewan dan karantina tumbuhan serta keamanan hayati hewani dan nabati.

(20)

c.Kelompok jabatan fungsional terdiri dari jabatan fungsional medik veteriner, jabatan fungsional paramedik veteriner, dan jabatan fungsional pengendali organisme pengganggu tumbuhan serta jabatan fungsional lain, yang terbagi dalam berbagai kelompok jabatan fungsional berdasarkan bidang keahlian masing-masing sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Disamping itu dalam rangka ketertiban dan kelancaran pelaksanaan pekerjaan/kegiatan maka setiap awal tahun anggaran kepala UPT juga menetapkan Surat Keputusan tentang uraian tugas pegawai Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon tahun anggaran yang berjalan.

Gambar struktur organisasi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon tersaji seperti berikut :

STRUKTUR ORGANISASI

STASIUN KARANTINA PERTANIAN KELAS I AMBON

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL Arafah, SP.

KASUBSIE YANOP

Oktavianus Yan KAUR TATA USAHA KEPALA STASIUN

drh. Ubaidullah

(21)

Gambar 1. Struktur Organisasi Organisasi SKP Kelas I Ambon 2.8 Wilayah Kerja

Berdasarkan peraturan Menteri Pertanian Nomor : 44/Permentan/OT.140/3/2014 tanggal 25 Maret 2014 tentang Tempat Pemasukan dan Pengeluaran Media Pembawa Penyakit Hewan Karantina dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon memiliki 6 (Enam) wilayah kerja adalah Pelabuhan Laut Yos Sudarso, Bandara Udara Pattimura, Pelabuhan Laut Namlea, Pelabuhan Laut Tual, Pelabuhan Laut Kobisadar dan Kantor Pos Ambon.

Untuk mendukung pelaksanaan perkarantinaan di wilayah kerja, setiap wilayah kerja yang dinilai frekuensi lalulintas Media Pembawanya tinggi ditugaskan seorang penanggungjawab wilker yang bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan operasional di wilayah kerja masing-masing.

(22)

BAB III

KEPATUHAN, KERJASAMA DAN INFORMASI PERKARANTINAAN

3.1 Pelayanan Informasi (Sosialisasi)

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam. Bentuk kepulauan inilah yang membuat banyak pula daerah yang dapat dijadikan sebagai pintu-pintu masuk atau keluar bagi media pembawa pertanian baik ke dalam pulau tersebut atau keluar pulau bahkan ke luar negeri.

Sosialisasi memegang kendali dalam mensukseskan pelaksanaan tindakan karantina di suatu wilayah. Dalam pelaksanaan sosialisasi karantina mencakup implementasi peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan karantina pertanian. Karantina merupakan instansi pemerintah yang bekerja berdasarkan peraturan perundang-undangan, seperti yang tertuang dalam UU Nomor 16 tahun 1992 dan peraturan menteri pertanian terkait.

Kesadaran masyarakat (public awareness) tentang penyelenggaraan perkarantinaan pertanian menentukan keberhasilan tindakan pencegahan hama penyakit hewan karantina (HPHK) dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) di Propinsi Maluku.

Peran masyarakat dalam penyelenggaraan perkarantinaan sangat membantu kelancaran tindakan karantina yang dilakukan di lapangan.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat, perlu dilaksanakan sosialisasi karantina pertanian. Sosialisasi adalah suatu

(23)

proses penyampaian informasi karantina pertanian pada masyarakat dan aparatur pemerintah daerah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya penyelenggaraan perkarantinaan pertanian di Propinsi Maluku. Diharapkan setelah sosialisasi ini ada perubahan respon masyarakat terhadap karantina pertanian agar lebih peduli dan melindungi Propinsi Maluku dan wilayah sekitarnya dari ancaman HPHK dan OPTK. Sosialisasi dilaksanakan secara berkelanjutan, karena membangun kesadaran masyarakat terutama pelaku usaha adalah suatu proses panjang yang membutuhkan dukungan dari aparat pemerintah daerah dan instansi terkait di Propinsi Maluku.

Sosialisasi karantina pertanian di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon Tahun 2015 telah melakukan kegiatan sosialisasi peraturan karantina pertanian dan penyakit hewan (Rabies dan Avian Influensa) serta hama dan penyakit tumbuhan yang dapat mengancam di sekitar kita. Kegiatan tersebut antara lain dapat dilihat di bawah ini :

Tabel 1. Kegiatan Sosialisasi dan Penyebaran Informasi Karantina Pertanian Tahun 2015

No. Kegiatan Waktu dan Tempat

Peserta 1. Sosialisasi

Karantina Pertanian

27 Pebruari 2015 di SMA Negeri 14 Ambon

Sebanyak 250 peserta terdiri dari Kepala Sekolah, Dewan Guru, Karyawan, dan seluruh Siswa (kelas X, XI. XII) SMA Negeri 14 Ambon 2. Sosialisasi

Karantina dan Bulan Bakti Karantina Pertanian dan Donor Darah

09 Juni 2015 di Kantor Stasiun Karantina

Pertanian Kelas I Ambon

Sebanyak 80 orang berasal dari pegawai dan keluarga SKP kelas I Ambon, pengguna jasa dan masyarakat sekitar kantor

3. Kegiatan MPTHI XIII dan Pameran

02 s/d 03

September 2015 di

± 1.00o orang dari Kementerian pertanian,

(24)

Halaman Gedung Islamic Centre Waihaong

BPTI, Dinas Pertanian Propinsi, kab/kota, petani dan stakeholder

Kegiatan sosialisasi dan penyebarluasan informasi karantina pertanian ini dilakukan untuk meningkatkan wawasan dan pemahaman para masyarakat, petani dan stakeholder terhadap kegiatan perkarantinaan hewan dan perkarantinaan tumbuhan serta meningkatkan kesadaran generasi muda sejak dini agar peduli dan melindungi wilayah Maluku dari ancaman HPHK dan OPTK. Kegiatan ini juga dilakukan untuk mengatasi kurangnya dukungan sebagian pemangku kebijakan di daerah terhadap pelaksanaan peraturan perkarantinaan, pemasukan dan pengeluaran hewan dan tanaman tanpa tindakan karantina dan adanya pemasukan Media Pembawa wajib periksa karantina secara ilegal dan tingginya kasus rabies dan penyakit lainnya yang berbahaya.

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon dalam rangka sosialisasi karantina pertanian dan bulan bakti karantina pertanian telah mengadakan donor darah, dimana ikut berpartisipasi dalam mendukung program pemerintah dalam menyediakan darah. Setetes darah yang disumbangkan sangat berarti dalam mengurangi kelangkaan stok darah utamanya di Propinsi Maluku.

Kegiatan lain dalam penyebaran informasi perkarantinaan dengan mengikuti pameran yang dilaksanakan oleh Ditjen Tanaman Pangan bekerjasama dengan BP3M dalam kegiatan MPTHI XIII.

3.2 Koordinasi Pengawasan Karantina

(25)

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi Karantina oleh petugas Karantina di lapangan sangat memerlukan partisipasi aktif dan dukungan dari instansi-instansi terkait di setiap lingkungan wilayah kerja.

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Badan Karantina Pertanian yang terletak di Propinsi Maluku senantiasa menjalin hubungan dan koordinasi yang baik dengan instansi-instansi terkait di Kota Ambon pada khususnya dan koordinasi ditempat pemasukan dan pengeluaran di luar kota Ambon serta pengawasan di tempat pemasukan dan pengeluaran yang belum ditetapkan.

Koordinasi ini dapat digali informasi dan masukan terhadap lalulintas komoditi hewan dan tumbuhan serta frekuensinya. Khsusunya di tempat pemasukan dan pengeluaran yang belum ditetapkan, jika dari hail koordinasi yang didapatkan menunjukkan bahwa lalulintas dan frekuensi komiditi hewan dan tumbuhan lebih banyak setiap bulan dan komoditi tersebut media pembawa HPHK dan OPTK, maka tempat pemasukan dan pengeluaran tersebut bisa diusulkan untuk ditetapkan dan di tambah petugas karantina.

3.3 Penyelidikan Kasus Tindak Pidana Karantina

Selama Tahun Anggaran 2015, Penyidikan kasus Tindak Pidana Karantina berdasarkan Undang Undang Nomor 16 Tahun 1992 tidak ditemukan adanya kasus tindak pidana.

3.4 Inhouse Sistem (E-QVet dan E-Plaq)

(26)

Badan Karantina Pertanian telah mengembangkan sistem informasi dalam berbagai bidang, dimana ditahun-tahun sebelumnya Barantan khususnya bagian informasi telah mengembangkan program Sistem Karantina Hewan (E-Qvet) dan E-Plaq untuk Sistem Karantina Tumbuhan dalam rangka mendukung kegiatan tindakan karantina. Kedua program tersebut terus mengalami perkembangan dan perbaikan, perkembangan terakhir dari kedua program tersebut adalah adanya sistem online sehingga data kegiatan bisa langsung diterima dan dilihat langsung dipusat dan di UPT tujuan Media Pembawa. Program ini juga memudahkan petugas dalam menjalankan tugas operasional karantina, pelaporan dan meningkatkan mutu pelayanan karantina terhadap pengguna jasa.

3.5 Jaringan LAN

Dalam rangka meningkatkan akselerasi pelayanan karantina dan komunikasi data dalam lingkup Badan Karantina Pertanian, sejak tahun 2015 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon sebagai Unit Pelaksana Teknis Badan Karantina Pertanian telah mengembangkan salah satu teknologi informasi Lokal Area Nertwork yang merupakan jaringan telekomunikasi yang dibuat khusus untuk menghubungkan karantina baik pusat dengan UPT dan antar UPT diseluruh wilayah Indonesia.

Beberapa manfaat LAN diantaranya adalah :

a. Menjamin autentikasi, kontrol akses, kerahasiaan dan keutuhan data.

Data dapat dengan cepat diperoleh karena seluruh UPT yang terhubung LAN dianggap berada pada satu jaringan yang sama;

b. Pengurangan biaya operasional internet, telepon dan faksimili;

(27)

c. Semua data tersentralisasi di server Badan Karantina Pertanian sehingga memudahkan dalam pengorganisasian jaringan;

d. Pemanfaatannya dapat digunakan untuk segala jenis pelaporan, misalnya SAK, SIMAK-BMN, E-Plaq, E-Qvet termasuk segala aplikasi terapan lainnya akan dapat berjalan secara optimal.

3.6 Website SKP Kelas I Ambon

Website Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon adalah www.karantinapertanianambon.org. Website ini sebagai sarana bagi

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon untuk menyebarluaskan informasi dalam bidang perkarantinaan khususnya lingkup Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon kepada masyarakat khususnya pengguna jasa yang dapat mengakses informasi tentang perkarantinaan hewan dan tumbuhan serta keamanan hayati dan informasi lainnya.

(28)

BAB IV

PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KARANTINA PERTANIAN DAN PENGAWASAN KEAMANAN HAYATI

4.1 Tindakan Pemeriksaan dan Pengawasan Keamanan Hayati

Kegiatan pemeriksaan terhadap media pembawa dalam mencegah Penyakit Hewan Karantina dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina serta cemaran pangan segar asal hewan dan tumbuhan yang merupakan bentuk pengawasan karantina hewan dan karantina tumbuhan. Tindakan ini dilakukan terhadap media pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina yang dimasukkan ke dalam (impor), dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain (antar area), transit dan atau dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia (ekspor). Kegiatan ini sering diistilahkan dengan tindakan 8 P yaitu Pemeriksaan, Pengasingan, Pengamatan, Perlakuan, Penolakan, Penahanan, Pemusnahan dan Pembebasan.

Namun tindakan ini tidak terlepas dari beberapa output terbitnya aturan main di lapangan dalam bentuk peraturan perundang-undangan, pedoman teknis, petunjuk pelaksanaan maupun hasil-hasil rekomendasi teknis lainnya yang dijadikan dasar utama dalam menjalankan tugas dan fungsi pokok Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon.

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon pada Tahun 2015 telah melakukan pemeriksaan media pembawa HPHK dan OPTK. Untuk Karantina Hewan pemeriksaan keluar antar area sebanyak 9.638 ekor

(29)

dengan frekuensi 270 kali, 240.901 kilogram dengan frekuensi 156 kali, 60 kloloni dengan frekuensi 1 kali dan 7.345 lembar dengan frekuensi 23 kali.

Pemeriksaan masuk antar area sebanyak 326.155 ekor dengan frekuensi 245 kali, 2.698.639 kilogram dengan frekuensi 745 kali, 60 koloni dengan frekuensi 1 kali dan 8 kemasan dengan frekuensi 7 kali.

Sedangkan untuk karantina tumbuhan pemeriksaan ekspor sebanyak 152.25 kilogram dengan frekuensi 31 kali. Pemeriksaan keluar antar area sebanyak 78.347 batang dengan frekuensi 101 kali,

21.769.306 kilogram dengan frekuensi 1.113 kali dan 32 M2 dengan frekuensi 2 kali. Pemeriksaan masuk antar area sebanyak 170.543 batang dengan frekuensi 326 kali dan 3.481.915,03 kilogram dengan frekuensi 2.672 kali. Untuk lebih jelasnya diuraikan berdasarkan media pembawa impor, ekspor, domestik keluar dan domestik masuk.

A. Pemeriksaan Impor

Kegiatan pemeriksaan HPHK dan OPTK terhadap media pembawa hewan dan tumbuhan serta pengawasan keamanan hayati yang masuk ke wilayah Republik indonesia di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon dengan melakukan pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium dengan tujuan untuk memastikan media pembawa yang dimasukkan bebas dari HPHK dan OPTK.

Kegiatan Impor pada tahun 2013 sampai tahun 2015 di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon, untuk kegiatan tindakan karantina hewan tidak ada dan tindakan karantina tumbuhan juga tidak ada.

(30)

B. Pemeriksaan Ekspor

Kegiatan pemeriksaan HPHK dan OPTK terhadap media pembawa hewan dan media pembawa tumbuhan yang dikeluarkan dari wilayah Republik Indonesia di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon dengan melakukan pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium dengan tujuan untuk memastikan media pembawa yang dikeluarkan bebas dari HPHK dan OPTK.

Kegiatan ekspor pada tahun 2015 di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon, untuk kegiatan tindakan karantina hewan tidak ada dan tindakan karantina tumbuhan ada.

Data kegiatan dan frekuensi ekspor media pembawa karantina tumbuhan selama 3 (tiga) tahun terakhir dapat dilihat pada tabel dibawa ini :

Tabel 2. Data Kegiatan Ekspor Bibit/Benih Tanaman, Hasil Tanaman Hidup, Hasil Tanaman Mati dan Benda Lain No. Media Pembawa Tahun (kg/kali)

2013 2014 2015

1 Bibit/Benih Tanaman

- - -

2. Hasil Tanaman Hidup

- - -

3. Hasil Tanaman Mati

144 / 26 237 / 29 141,75 / 30

4. Benda Lain - - 10 / 1

(31)

Berdasarkan tabel 2 di atas, menunjukkan bahwa media pembawa yang diekspor pada Tahun 2015 di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi penurunan volume sebesar 67,19 % dan pada frekuensi terjadi peningkatan sebesar 3,45 %.

Kegiatan ekspor pada tahun 2015 berupa bunga pala, cengkeh, daun bakau, kayu manis, makanan burung kenari, pala biji, pala bubuk, tanaman kering, sebanyak 142 kg dengan frekuensi 30 kali ke negara Belanda dan untuk benda lain sebanyak 10 kg dengan frekuensi 1 kali ke negara Amerika Serikat. Hal ini disebabkan media pembawa yang dilalulintaskan sebatas sampel atau contoh untuk pertimbangan ekspor dan penelitian, sehingga sampel atau contoh yang dikirim jumlahnya relatif sedikit.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 44 Tahun 2014 tentang tempat pemasukan dan pengeluaran media pembawa HPHK dan OPTK untuk kegiatan ekspor hanya melalui bandara udara Pattimura dan Kantor Pos, sedangkan melalui pelabuhan laut/pelabuhan sungai, pos pemeriksaan lintas batas, dan dry port tidak ditetapkan sebagai pintu pengeluaran media pembawa ekspor.

Pengeluaran media pembawa berupa pala dan bagian-bagiannya tidak melanggar peraturan yang ditetapkan.

Media pembawa berupa pala dan bagian-bagian yang di ekspor 3 (tiga) tahun terakhir jumlahnya sedikit setiap pengiriman dan hanya sampel atau contoh. Dengan adanya ketentuan tersebut, media pembawa pala yang akan diekspor ke luar negeri tidak bisa melewati

(32)

pelabuhan laut Ambon. Sehingga media pembawa pala dan bagian- bagiannya diantar areakan ke Propinsi Jawa Timur melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Tanjung Priok Jakarta, dan media pembawa tersebut baru bisa untuk dilakukan ekspor.

Untuk lebih jelasnya kegiatan pengeluaran media pembawa dari Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon dapat dilihat pada lampiran laporan tahunan ini.

C. Pemeriksaan Domestik Keluar

1. Media Pembawa Karantina Hewan

Kegiatan pemeriksaan HPHK terhadap media pembawa hewan yang dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain dalam wilayah Republik Indonesia (domestik keluar) di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon dengan melakukan pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium dengan tujuan untuk memastikan media pembawa yang dikeluarkan bebas dari HPHK.

Data kegiatan dan frekuensi domestik keluar media pembawa karantina hewan selama 3 (tiga) tahun terakhir dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 3. Data Kegiatan Domestik Keluar Media Pembawa Hewan, Bahan Asal Hewan, Hasil Bahan Asal Hewan dan Benda Lain

No. Media Pembawa Satuan/

Frekuensi

Tahun

2013 2014 2015

1. Hewan Ekor 36.655 19.031 9.818

Koloni - - 60

Kali 309 166 271

(33)

2. Bahan Asal Hewan (BAH)

Kg 90.826 207.062 240.895

Lbr 5.671 6.249 7.545

Kali 44 121 178

No. Media Pembawa Satuan/

Frekuensi

Tahun

2013 2014 2015 3. Hasil Bahan Asal

Hewan (HBAH)

Kg 80 2 6

Kali 1 1 1

4. Benda Lain Kg - - -

Kali - - -

Berdasarkan tabel 3, menunjukkan bahwa Media Pembawa berupa hewan pada tahun 2015 terjadi penurunan volume sebesar 93.84 % namun terjadi peningkatan frekuensi 63,25 % dari tahun 2014. Hal ini menunjukkan jumlah produksi hewan menurun di Propinsi Ambon sehingga volume yang di antar arekakan terbilang sedikit akan tetapi frekuensi pengiriman hewan lebih banyak. BAH pada tahun 2015 terjadi peningkatan baik volume maupun frekuensi. Hal ini menunjukkan media pembawa berupa BAH lebih banyak di produksi di Maluku yang membuktikan bahwa Propinsi Maluku juga dapat memberikan konstribusi dalam pemenuhan kebutuhan BAH di daerah lain. Sedangkan untuk HBAH sangat jarang di produksi di Propnsi Maluku sehingga pengiriman ke daerah lain juga terbilang sedikit.

Media pembawa berupa hewan yang dominan yaitu sapi potong, ayam dan bebek, media pembawa berupa bahan asal hewan yaitu telur ayam konsumsi, daging ayam beku dan kulit sapi. Sedangkan media pembawa hasil bahan asal hewan yaitu daging sapi olah. Pengeluaran dalam jumlah besar menunjukkan arus perdagangan media pembawa hewan, BAH dan HBAH dari

(34)

Kabupaten Maluku ke daerah Pulau Irian, Sulawesi dan Jawa memberikan keuntungan yang lebih besar sehingga banyak pengguna jasa berminat dan berbisnis di daerah Ambon. Untuk lebih jelasnya kegiatan domestik keluar di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon per wilayah kerja dapat dilihat pada lampiran laporan tahunan ini.

2. Media Pembawa Karantina Tumbuhan

Kegiatan pencegahan OPTK terhadap media pembawa tumbuhan yang dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain dalam wilayah Republik indonesia (domestik keluar) di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon dengan melakukan pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium dengan tujuan untuk memastikan media pembawa yang dikeluarkan bebas dari OPTK.

Data kegiatan dan frekuensi domestik keluar media pembawa karantina tumbuhan selama 3 (tiga) tahun terakhir dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4. Data Kegiatan Domestik Keluar Bibit /Benih Tumbuhan, Hasil Tumbuhan Hidup, Hasil Tumbuhan Mati dan Benda Lain

No. Media Pembawa

Satuan / Frekuensi

Tahun

2013 2014 2015

1 Bibit/Benih Tanaman

Btg 5.058 23.443 78.347

Kg 21.049 329 20.350

M2 - - 35

Kali 35 102 106

2. Hasil Tanaman Hidup

Kg 110.405 135.021 1.344.714

Kali 93 164 285

(35)

No. Media Pembawa

Satuan / Frekuensi

Tahun

2013 2014 2015

3. Hasil Tanaman Mati

Kg 20.242.561 21.361.519 20.528.482

M3 19 - -

Kemasan 4 - -

Kali 620 765 871

4. Benda Lain Kg - 1.505 115

Kali - 10 2

Berdasarkan tabel 4 diatas, menunjukkan bahwa pada Tahun 2015 media pembawa berupa bibit/benih tanaman, hasil tanaman hidup dan hasil tanaman mati terjadi peningkatan volume, demikian halnya dengan frekeunsi juga terjadi peningkatan yang siginfikan terhadap bibit/benih tanaman, hasil tanaman hidup dan hasil tanaman mati dbanding tahun 2014.

Untuk benih/bibit terjadi peningkatan 234,20 % satuan batang dan frekuensi sebesar 3,92 %. Hasil tanaman hidup dengan peningkatan frekuensi 73,78 % dan hasil tanaman mati terjadi penurunan 4,06 % satuan kilogram dan terjadi peningkatan frekuensi 13,86%. Hal ini disebabkan disamping frekuensi dan volume pengeluaran cukup banyak, juga terjadinya pertumbuhan perdagangan yang lebih baik dan adanya jaminan perdagangan yang lebih baik di propinsi Maluku, khususnya kota Ambon.

Pengeluaran yang cukup besar terhadap media pembawa hasil tanaman hidup dan hasil tanaman mati. Di Tahun 2015, umumnya media pembawa berupa bibit/benih tanaman yang dominan yaitu benih padi, bibit pala dan bibit cengkeh. Media pembawa berupa hasil tanaman hidup yaitu brondolan kelapa sawit, tomat, ketimun,

(36)

buah jeruk, cabe dan jagung biji. Sedangkan media pembawa berupa hasil tanaman mati yaitu kopra, cengkeh dan kakao biji.

Untuk lebih jelasnya per wilayah kerja dapat dilihat pada lampiran laporan tahunan ini.

D. Pemeriksaan Domestik Masuk

1. Media Pembawa Karantina Hewan

Kegiatan pencegahan HPHK terhadap media pembawa hewan yang dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain dalam wilayah Republik Indonesia (domestik masuk) di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon dengan melakukan pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium dengan tujuan untuk memastikan media pembawa yang dimasukkan bebas dari HPHK.

Data kegiatan dan frekuensi domestik keluar media pembawa karantina hewan selama 3 (tiga) tahun terakhir dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5. Data Kegiatan Domestik Masuk Media Pembawa Hewan, Bahan Asal Hewan, Hasil Bahan Asal Hewan dan Benda Lain

No. Media Pembawa Satuan/

Frekuensi

Tahun

2013 2014 2015

1. Hewan Ekor 265.699 286.182 326.155

Koloni - - 60

Kali 267 230 246

2. Bahan Asal Hewan (BAH)

Kg 1.736.838 2.561.065 2.548.13 9

Koli - 10 -

Kms - - 2

Kali 324 209 613

(37)

3. Hasil Bahan Asal Hewan (HBAH)

Kg 2.650 10.147 44.645

Kali 30 40 126

(38)

No. Media Pembawa Satuan/

Frekuensi

Tahun

2013 2014 2015

4. Benda Lain Kms 8 7 6

Kilogram - 140.000 105.911

Kali 5 14 14

Berdasarkan tabel 5 diatas, menunjukkan bahwa domestik masuk Media Pembawa hewan, BAH, HBAH dan Benda lain, menunjukan bahwa pada tahun 2015 terjadi peningkatan volume sebesar 13,97 % satuan ekor pada media pembawa hewan demikian juga frekuensi sebesar 6,96% bila dibandingkan tahun 2014. Hal ini disebabkan frekuensi penerbangan dengan tahun dan sandarnya kapal di wilayah Maluku bertambah. Dengan frekuensi penerbangan dan sandarnya kapal bertambah, memungkinkan untuk arus lintas perdagangan media pembawa hewan, BAH, HBAH bertambah. Juga didukung dengan bertambah kondusifnya wilayah Ambon dari adanya konflik sosial.

Investor daerah baik dari dalam maupun dari luar juga bertambah, dengan adanya penambahan mall city maluku (MCM) serta bertambahnya penduduk Maluku yang mau berbisnis di Ambon. Di Tahun 2015, media pembawa berupa hewan di dominasi DOC dan DOD melalui bandara udara Pattimura dan pelabuhan laut tual, media pembawa bahan asal hewan yaitu daging ayam beku dan telur ayam konsumsi melalui pelabuhan laut yos sudarso, pelabuhan laut tual dan pelabuhan laut namlea. Sedangkan media pembawa hasil bahan asal hewan adalah daging unggas olahan, daging sapi olah dan yoghurt melalui bandara udara Pattimura

(39)

serta benda lain adalah pakan ternak. Untuk lebih jelasnya per wilayah kerja dapat dilihat pada lampiran laporan tahunan ini.

2. Media Pembawa Karantina Tumbuhan

Kegiatan pencegahan OPTK terhadap media pembawa tumbuhan yang dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain dalam wilayah Republik Indonesia (domestik masuk) di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Ambon dengan melakukan pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium dengan tujuan untuk memastikan media pembawa yang dimasukkan bebas dari OPTK.

Data kegiatan dan frekuensi domestik masuk media pembawa karantina tumbuhan selama 3 (tiga) tahun terakhir dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 6. Data Kegiatan Domestik Masuk Bibit/Benih Tanaman, Hasil Tanaman Hidup, Hasil Tanaman Mati dan Benda Lain

No. Media Pembawa

Satuan / Frekuensi

Tahun

2013 2014 2015

1 Bibit/Benih Tanaman

Btg 342.862 228.666 170.543

Kg 167.484 71.604,62 74.253,83

Kali 256 328 354

2. Hasil Tanaman Hidup

Kg 1.582.312 1.705.446 3.637.774,2

Koli 23 - -

Kali 1.879 1.718 2.616

3. Hasil Tanaman Mati

Kg 910.296 3.892 6.317

Btg - - -

Koli - - -

Kali 19 10 28

4. Benda Lain Kg 3.900 1.050 -

Kali 2 2 -

(40)

Berdasarkan tabel 6 diatas, menunjukkan bahwa pada Tahun 2015 media pembawa baik bibit/benih, hasil tanaman hidup maupun hasil tanaman mati umumnya terjadi peningkatan volume dan frekuensi. Jika dibandingkan terhadap volume kilogram tahun 2014 terhadap bibit/benih tanaman terjadi peningkatan sebanyak 3.69 %. Hal ini disebabkan volume media pembawa yang masuk jumlah dan frekuensi pemasukan disebabkan terjadi penurunan produksi di sebagian wilayah di Propinsi Maluku baik pangan dan hortikutura, sehingga pemasukan komoditi lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Umumnya pemasukan media pembawa berupa bibit/benih tanaman didominasi benih jagung, benih kangkung, benih kelapa sawit, bibit kakao dan bibit rambutan.

Media pembawa hasil tanaman hidup tahun 2015 mengalami peningkatan volumen yang signifikan dan frekuensi sebesar 52,27 % jika dibandingkan dengan tahun 2014 . umumnya komoditi terbesar kedelai, kentang dan sayuran kubis.

Sedangkan media pembawa berupa hasil tanaman mati berupa kentang iris beku, beras dan kentang beku. Untuk lebih jelasnya per wilayah kerja dapat dilihat pada lampiran laporan tahunan ini.

4.2 Tindakan Penahanan, Penolakan dan Pemusnahan

Berdasarkan Undang-Undang No.16 Tahun 1992 pasal 10 merupakan tindakan karantina yang dilakukan petugas karantina berupa :

Gambar

Gambar  struktur  organisasi  Stasiun  Karantina  Pertanian  Kelas  I  Ambon tersaji seperti berikut :
Tabel  1.  Kegiatan  Sosialisasi  dan  Penyebaran  Informasi  Karantina  Pertanian Tahun 2015
Tabel  2.  Data  Kegiatan  Ekspor  Bibit/Benih  Tanaman,  Hasil   Tanaman Hidup, Hasil Tanaman Mati dan Benda Lain  No
Tabel  3.  Data  Kegiatan  Domestik  Keluar  Media  Pembawa  Hewan,  Bahan  Asal  Hewan,  Hasil  Bahan  Asal  Hewan dan Benda Lain
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil yang dicapai setelah pemeriksaan media pembawa OPTK (Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina) yaitu setiap media pembawa hama dan organisme penggangu tumbuhan karantina yang

Sesuai dengan TUPOKSI Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan yaitu melaksanakan perkarantinaan hewan dan tumbuhan serta pengawasan keamanan hayati hewani dan

204/Kpts/OT.140/07/2009 Tentang Wilayah Pemantauan Hama Penyakit Hewan dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (HPHK/OPTK) pada Balai Besar, Balai dan Stasiun

Kegiatan pengawasan Komoditi Karantina Pertanian melalui Impor, Ekspor, Domestik Masuk maupun Domestik Keluar terhadap media pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK)

Boder atau garis tepi peta merupakan garis untuk membatasi informasi peta. Semua komponen peta berada di dalam garis tepi peta atau dengan kata lain tidak ada informasi

Sumber data yang akan dipakai adalah: Buku-buku panduan pembuatan website, website-website yang menampilkan cara-cara pembuatan website yang menarik serta praktis,

Kota Batam yang semula kota administratif dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2000 tentang

3) Tingkat kepatuhan dan kepuasan pengguna jasa karantina pertanian. Dalam upaya mendukung program pembangunan pertanian di Indonesia, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I