• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tindakan Sosial Komunitas Tasawuf Underground

BAB III: TEMUAN DAN ANALISIS

B. Analisis Penelitian

1. Tindakan Sosial Komunitas Tasawuf Underground

Mengacu pada teori tindakan maka dapat di katakan bahwa apa yang dilakukan oleh Komunitas Tasawuf Underground terhadap anak binaannya (anak punk dan anak jalanan) merupakan tindakan sosial. Tindakan sosial tersebut dapat dilihat dari hasil temuan penelitian yang telah dijabarkan penulis pada bab sebelumnya bahwa komunitas ini mempunyai rangkaian kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk anak binaan sebagai bentuk pembinaan dan pemberdayaan anak punk dan anak jalanan.

75

Dikatakan sebagai tindakan sosial karena tindakan-tindakan Komunitas

Tasawuf Underground ditujukan atau diarahkan kepada anak punk dan anak

jalanan serta memiliki tujuan, yakni agar agama bisa dirasakan oleh kaum marjinal dan mengenalkan konsep “Peta Jalan Pulang”, yaitu jalan pulang kembali kepada Tuhan dan jalan pulang kembali kepada keluarga.

Tindakan sosial tersebut sesuai dengan pengertian tindakan yang dinyatakan oleh Jones dkk (2016). Bahwa, hampir semua tindakan manusia adalah sukarela (voluntary). Tindakan itu adalah produk dari suatu keputusan untuk bertindak, sebagai hasil dari pikiran. Hampir semua yang kita lakukan adalah hasil dari memilih tindakan dengan suatu cara tertentu bukan cara lain. Lebih lanjut, ini adalah pilihan purposif, atau berorientasi pada tujuan, sebagai manusia, kita mampu mengarah kepada tujuan atau hasil dan mengambil tindakan untuk mencapainya. Oleh karena itu, hampir semua tindakan manusia adalah tindakan yang disengaja: kita mewujudkan tindakan tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang dikehendaki (Jones dkk, 2016: 26) .

Dari tindakan-tindakan Komunitas Tasawuf Underground juga dapat dianalisis melalui tipe-tipe tindakan sosial Max Weber yang membagi tindakan sosial ke dalam empat tipe tindakan sosial. Tipe-tipe tindakan sosial tersebut adalah sebagai berikut:

a. Tindakan Instrumentalis

Tindakan instrumentalis atau tindakan rasional instrumental pada intinya adalah tindakan sosial yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang

76

sebelumnya sudah dipikirkan bagaimana caranya untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam kaitannya dengan Komunitas Tasawuf Underground, tindakan dalam memberikan pembinaan dan pemberdayaan baik dalam bidang keagamaan, sosial, ekonomi, kesehatan dan bantuan hukum terhadap anak punk dan anak jalanan dikatakan paling efesien untuk mencapai suatu tujuan.

Tindakan tersebut dianggap merupakan cara yang terbaik untuk mencapai tujuan. Sebab Komunitas Tasawuf Underground sebagai komunitas yang bergerak di bidang dakwah keagamaan memiliki tujuan agar agama bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat (membumi). Maka dari itu Komunitas

Tasawuf Underground merangkul kaum marjinal seperti, anak punk dan anak

jalanan untuk mengajak mereka kepada jalan yang benar dengan mengenalkan konsep Peta Jalan Pulang. Pertama, jalan pulang kepada Tuhan dengan mendapat pembinaan dan pendidikan mengenai bagaimana beragama dengan baik dan benar. Dan kedua, jalan pulang kepada keluarga, yaitu dengan cara diberi pembinaan dan pemberdayaan keterampilan skill. Hal itu sesuai apa yang dirasakan Ustadz Halim Ambiya selaku Pendiri Komunitas

Tasawuf Underground yang miris melihat anak punk tidak tersentuh oleh

pendakwah pada umumnya dan dibiarkan saja dengan stigma-stigma buruk tentang mereka.

“Begitu kita menyaksikan anak jalanan, anak punk bisa kita lihat di trotoar, di tepi jembatan, di terminal, di stasiun itu melilip mata tapi tidak ada yang merangkul. Meskipun mereka muslim mereka tidak pergi ke masjid, tidak pergi kesekolah, dan sebagainya. Dan disitu kita terenyuh bahwa kita pingin bahwa agama itu dirasakan oleh mereka, kita pingin bahwa agama itu bisa menjembatani jalan pulang mereka kepada Allah. Karena itu, kita mendesain sebuah pemberdayaan yang kita sebut sebagai “Peta Jalan Pulang”. Jadi kita

77

ada dua program di “Peta Jalan Pulang” ini. Peta jalan pulang kepada Allah, yaitu dengan mengenalkan ajaran agama. Dan peta jalan pulang kepada keluarga, yaitu dengan pemberdayaan ekonomi dan sosial (Observasi pada Kamis, 28 Februari 2019 Di Universitas Budi Luhur).”

b. Tindakan Berorientasi Nilai

Tindakan berorientasi merupakan tindakan yang dilakukan dianggap baik dan benar dalam penialian masyarakat, misalnya dalam berperilakunya. Tindakan Komunitas Tasawuf Underground yang dapat dikategorikan sebagai tindakan yang berorientasi nilai dapat dilihat dari pencapaian-pencapaian atau apa saja yang sudah dilakukan oleh Komunitas Tasawuf

Underground terhadap anak punk dan anak jalanan sebagai berikut:

1. Membantu 3 kelahiran anak Punk dengan menanggung biaya persalinan, membantu menyediakan peralatan bayi hingga mengontrakkan rumah. 2. Membantu biaya pengobatan dan perawatan bagi anak binaan yang

terkena penyakit karena mereka tidak memiliki KTP ataupun jaminan sosial (BPJS/KIS).

3. Membantu mencarikan pekerjaan dan modal usaha dari berbagai pihak melalui program donasi yang disiapkan oleh para relawan. Tujuannya agar mereka tidak terlunta-lunta di jalanan, mengamen atau mengemis. 4. Menyediakan tempat singgah dan ruang belajar bagi anak-anak Punk dan

jalanan yang layak agar mereka melepaskan diri dari jalanan.

5. Menolong anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah atau kuliah dengan mengikutsertakan mereka dalam program belajar Paket A, B atau C.

78

6. Menyediakan makanan, sembako dan pakaian bagi mereka yang sudah istiqamah “Mondok” di Pesantren Punk yang disediakan Tasawuf

Underground. Tujuanya agar mereka bisa fokus belajar dan berbenah

tanpa dibebani masalah biaya.

c. Tindakan Tradisional

Pada tindakan tradisional, tindakan ini lebih kepada tindakan yang sudah dilakukan dari sebelum-sebelumnya atau sudah menjadi suatu kebiasaan.

“Dari sudut kegiatan agama, akivitas yang hingga kini dan selalu dilakukan adalah kegiatan shalat lima waktu dan dzikir Laa ilaha illallah tiap habis shalat. Serta kegiatan dzikir malam Jum‟at. Hal ini seperti layaknya obat yang melepaskan mereka dari ketergantungan Narkoba dan obat-obatan Psikotropika. Sedangkan, kegiatan lain adalah belajar dan mengaji di kantor Salima Publik di Ciputat. Mereka layaknya santri yang sedang mondok dan mendapat tugas menghafalkan ayat-ayat Al-Qur‟an. Sedangkan, kegiatan usaha ekonomi yang dilakukan adalah Jasa Sablon dan bisnis online. Sebagian mereka yang sudah bekerja di kafe atau perusahaan tetap berjalan. Begitu juga mereka yang masih mengikuti program belajar Paket A, B dan C (Wawancara dengan ustadz Halim Ambiya pada 1 April 2020).”

Selain itu, dari segi perilaku anak binaan ,tindakan tradisional juga dilihat dari sebagian anak binaan Komunitas Tasawuf Underground yang masih berpenampilan atau menggunakan kostum anak punk. Komunitas Tasawuf

Underground memang tidak memaksakan mereka untuk melepas atribut atau

merubah penampilan tetapi ketika akan melaksanakan kegiatan khusus seperti mengaji, shalat, mereka telah mengetahui dengan sendirinya, yaitu dengan cara berpenampilan rapi, seperti ada yang memakai kopiah, sarung, atau paling sederhana kaos dengan celana panjang.

79 d. Tindakan Afektif

Tindakan afektif adalah tindakan yang didominasi perasaan atau emosi tanpa refleksin intelektual atau perencanaan yang sadar. Dapat dilihat dari tindakan Komunitas Tasawuf Underground yang menampung beberapa anak punk untuk di tempatkan disalah satu tempat. Adapun kantor Ustadz Halim Ambiya lah yang menjadi tempat singgah beberapa anak punk. Kemudian lokasi tersebut yang terkadang menjadi lokasi anak punk yang singgah maupun tidak singgah untuk mendapat pembinaan berupa pelatihan-pelatihan, seperti menyablon.

Pelatihan-pelatihan di lokasi luar tempat singgah pun ada, seperti pelatihan barbershop, pelatihan barista dan lain-lain. Pelatihan-pelatihan yang seperti itulah yang diharapkan Komunitas Tasawuf Underground agar anak punk dan anak jalanan mempunyai skill yang bisa membuat mereka mengubah nasib terutama dalam kehidupan berekonomi menjadi lebih baik sehingga diharapkan tidak lagi hidup di jalanan.

Dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Komunitas Tasawuf

Underground tersebut memiliki pengaruh terhadap anak punk dan anak

jalanan. Hal itu dapat dilihat dari perubahan anak punk dan anak jalanan dari segi penampilan dan perilaku. Merekapun juga mengakui manfaatnya dengan ikut bergabungnya di Komunitas Tasawuf Undrground. Seperti berikut ini:

“Manfaatnya banyak terutama soal ilmu agama dan perubahan-perubahan dari diri sendiri maupun temen-temen yang lain. Kan kalo anak-anak jalanan anak-anak punk tau sendirilah suka minum-minuman sekarang jadi engga, udah berhenti total. Sekarang yang tadinya pada kurus-kurus pada gemuk-gemuk juga. Penampilan dulu kan lebih nge punk mulai dari gaya rambut pakaian yang dulu compang camping robek-robek. Yang dulunya sama sekali ga berhubungan sama keluarga sekarang suka hubungin yang dulunya ga

80

pernah pulang kerumah sekarang lebih sering pulang ya kembali kekeluarga. (wawancara dengan D pada Selasa, 25 Juni 2019).”

“Iya saya dulu ga berhijab sekarang lagi belajar berhijab. bisa deket sama keluarga, tata bahasanya kita juga yang biasanya asal ngejeplak ngomong tapi sekarang masih bisa diusahakan di kontrol lama kelamaan bisa berubah. yang kita dapatin ilmu yang pasti si ilmu ya ka perubahannya kita dengan keluarga bisa lebih dekat secara tata bahasa juga penampilan yang kita dapet dari situ dan yang pasti si ilmu agama. lebih mengenal tentang ilmu agama. Awalnya kita udah lama ga ngaji akhirnya kita bisa ngaji lagi dengan baik istilah katanya bisa shalat dulu kan kita yang namanya shalat kan buat bangun aja shalat aja kayanya males banget. Ya istilah katanya ga kaya dulu banget mungkin berantakan tapi ada niatan shalat kaya gitu. Yang lingkungan lebih menerima kita agak baik yang tadinya pakaiannya seksi-seksi sekarang tertutup. (wawancara dengan L pada Selasa, 25 Juni 2019).”

Perubahan-perubahan tersebut juga dirasakan oleh relawan pengajar di Komunitas Tasawuf Underground:

“Awal aku kenal ga begini lho penampilan mereka, masih parah, ini udah pada bersih. Ada yang tadinya jarang mandi. Yang cewe-cewenya juga sekarang mah udah pada bersih-bersih tadinya boro-boro pada dekil banget. Dan tadinya mereka rata-rata ga pake krudung sekarang ikut begini pake krudung (wawancara dengan Berlin pada Sabtu, 27 April 2019).”

Pengalaman-pengalaman mengenai pembinaan berupa pendidikan juga dirasakan manfaatnya oleh anak jalanan yang masih dibawah umur. Seperti salah satu informan peneliti yang masih berusia 12 tahun yang mengaku senang sekali bisa diajarkan mengaji dan belajar agama terkadang pula belajar pelajaran-pelajaran umum seperti di sekolah.

“Kadang kaya nulis di papan tulis, belajar kali-kalian diajarin bahasa inggris pernahlah di kolong situ. Suruh nulis arab pernah. Ya jadi bisa ngaji, belajar agama, belajar pelajaran biasa juga suka diajarin seneng aja gitu (Wawancara dengan E pada Sabtu, 21 Juli 2019).”

Selain dari segi pembinaan dalam pendidikan, manfaat yang diambil pun ternyata bisa dalam bentuk hubungan social dengan keluarga yang lebih harmonis. Yang dahulunya anak punk dan anak jalanan jarang pulang sekali bahkan ada

81

yang sama sekali segan untuk menengok orang tuanya di rumah hanya karena sudah merasa terbiasa hidup di jalanan menjadi sering menengok dan bersilaturahmi menjalin hubungan baik kembali bersama keluarga di rumah.

“Ya maknanya sih yang pasti ilmu agama yah jadi tau yang tadinya belum tau. Terus lebih bisa dekat sama keluarga. Itu yang paling penting (Wawancara dengan L pada Selasa, 25 Juni 2019).”

2. Pemaknaan Jama’ah Komunitas Tasawuf Underground Terhadap

Dokumen terkait