BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Tindakan yang dilakukan DK PBB terkait dengan perannya
Krisis nuklir Korea Utara telah mengancam keamanan serta perdamaian kawasan Asia, bahkan telah mengancam masyarakat internasional. Dewan Keamanan PBB saat ini telah menangani krisis nuklir di Korea utara, ada beberapa langkah yang telah dilakukan DK PBB untuk meyelesaiakan krisis ini yaitu:
a. Penyelidikan IAEA mengenai program nuklir yang ada di Korea Utara Badan Tenaga Atom Internasional IAEA adalah organisasi internasional yang bertujuan membatasi penggunaan energi nuklir hanya untuk tujuan kesejahteraan manusia. Tujuan IAEA untuk membatasi penggunaan energi nuklir untuk bertujuan damai, kesehatan, dan kesejahteraan manusia dan melarang penggunaannya untuk tujuan militer.(KBS,http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/fa q_03.htm)
Berdasarkan struktur, IAEA merupakan sebuah badan otonom di bawah naungan PBB yang setiap tahun melaporkan tentang kegiatan-kegiatannya kepada Majelis Umum, kepada Dewan Keamanan dan Dewan Ekonomi dan Sosial. Laporan IAEA dalam bidang nuklir menjadi bahan masukan DK PBB dalam melakukan suatu tindakan yang diperlukan bila dianggap telah mengancam perdamaian dan keamanan internasional. Sesuai dengan regulasi NPT, IAEA
menandatangani persetujuan keamanan nuklir dengan negara anggota dan kemudian melakukan inspeksi, monitoring dan mengelolanya. Walapun IAEA membantu untuk mempromosikan kebijakan PBB dan juga mengajukan laporan kepada badan internasional itu, tetapi IAEA bukan badan PBB secara resmi.(KBS,http://world.kbs.co.kr/ indonesian/event/nkorea_nuclear/faq_03.htm).
Korea Utara mulai bergabung dengan NPT pada tahun 1985 namun tidak bersedia melengkapi perjanjian pengawasan dengan IAEA. Korea Utara pada akhirnya memenuhi ketetapan IAEA saat Amerika serikat menarik senjata nuklirnya yang berada di Korea Selatan. Pada tanggal 27 September 1991 Presiden George H.W. Bush mengumumkan penarikan seluruh senjata nuklir taktisnya yang diletakkan di Korea Selatan. Pada 31 Desember 1991, kedua negara Korea menandatangani South-North Joint Declaration on Denuclearization. April 1992, Korea Utara pada akhirnya meratifikasi perjanjian pengawasan dengan IAEA(US and North Korea Key Security Development (Anonim, http://
www.ncnk.org/ resources/briefingpapers/
all-briefing-papers/dprk-security-and-non-proliferation-key-events,)
IAEA telah melakukan enam kali inspeksi di Korea Utara, diantaranya adalah inspeksi yang bersifat khusus. Inspeksi khusus dilaksanakan saat inspeksi sementara dan reguler tidak cukup menuntaskan kecurigaan tentang senjata nuklir negara tertentu. Inspeksi khusus dilakukan apabila laporan suatu negara dianggap ada selisih antara isi laporan mereka dan hasil investigasi sementara dari IAEA, atau saat menemukan bukti yang dicurigai melalui investigasi reguler. Inspeksi khusus dilaksanakan supaya mengetahui status pengembangan senjata nuklir atau kepemilikan senjata nuklir.
Inspeksi khusus yang pertama adalah pada 19 Februari 1992. Korea Utara diharuskan mendeklarasikan kepemilikan material nuklir sesuai yang disyaratkan oleh IAEA. Namun berdasarkan analisa lingkungan dan gambar yang terdeteksi oleh satelit AS memperlihatkan bahwa
Korea Utara memiliki jumlah plutonium yang lebih banyak dari yang dideklarasikan. Korea Utara melaporkan bahwa mereka hanya mengekstraksi 90 gram plutonium berbeda dengan kenyataan, tetapi inspeksi ternyata menemukan cukup bukti yang mencurigakan bahwa ada beberapa kilogram materi yang telah diekstraksi selama ini (KBS, http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/faq_01.htm)
IAEA meminta pemeriksaan khusus dengan alasan perbedaan laporan dari pihak Korea Utara dengan inspektor yang kemudian ditolak oleh Korea Utara. IAEA meminta Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk mendapatkan izin inspeksi khusus. Korea Utara merasa tersinggung dan mengancam untuk menarik keanggotaannya dari NPT pada tahun 1993. Kemudian pada tahun 2002 IAEA melakukan inspeksi lagi terhadap fasilitas nuklir di Korea Utara, akan tetapi pihak IAEA telah di tolak oleh pihak Korea Utara. (KBS, http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/faq_01.htm)
Inspeksi terakhir adalah pada 14-17 Juli 2007, Sebanyak delapan anggota IAEA telah tiba di Pyongyang, ibukota Korea Utara. Inspeksi ini merupakan verifikasi terhadap kesediaan negara komunis itu untuk menutup fasilitas nuklir yang dimilikinya. Para inspektor tersebut kembali mengunjungi Yongbyon, setelah akhir Juni melakukan pemeriksaan terhadap reaktor utama nuklir Korut itu berlokasi. Dari delapan anggota IAEA, enam diantaranya bertugas menutup dan menyegel reaktor Yangbyon. Sedangkan dua anggota lainnya bertugas mengawasi sekaligus memastikan tidak terjadi kekeliruan yang fatal selama operasi penutupan dilakukan (http://www.suaramerdeka.com/ cybernews/harian/0707/09/int1.htm).
Jepang sebagai negara yang telah merasakan dampak dari krisis Nuklir Korea Utara juga ikut memantau dengan ketat setiap kegiatan yang berlangsung di Korut. Sementara itu, dewan gubernur IAEA menggelar rapat darurat untuk mendiskusikan hasil-hasil yang diperolehnya selama di Korut dan juga perkembangan yang terjadi.
Korea Utara bersedia menutup fasilitas nuklirnya melalui perundingan enam negara yang mendesak negara komunis itu segera menutup fasilitas nuklirnya, kata sepakat dicapai pada Februari 2007 (Suara Merdeka,http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0707/09/int1 .htm).
IAEA telah melaksanakan Inspeksi kepada Korea Utara terkait krisis nuklir di Korea Utara, inspeksi yang dilakukan adalah inspeksi khusus. Inspeksi ini merupakan salah satu bentuk usaha IAEA untuk melakukan penyelidikan nuklir di Korea Utara. Penyelidikan digunakan untuk mencapai penyelesaian sebuah sengketa dengan dasar bukti-bukti dan permasalahan yang timbul, kemudian IAEA akan mengeluarkan sebuah fakta. Fakta ini berupa apakah nuklir tersebut digunakan untuk damai atau untuk kepentingan yang membahayakan dunia internasional. Pada prinsipnya tujuan utama dari IAEA ini adalah untuk memberikan laporan kepada para pihak serta kepada DK PBB mengenai fakta yang ditelitinya. Dengan adanya pencarian fakta-fakta demikian, diharapkan proses penyelesaian sengketa di antara para pihak dapat segera diselesaikan. Apabila suatu fakta menunjukkan bahwa suatu negara menyalah gunakan Nuklir maka DK PBB akan menangani hal tersebut, hal ini seperti yang terjadi di Korea Utara yang telah terang-terangan menggunakan nuklir sebagai bahan pembuatan senjata.
IAEA merupakan organisasi yang mempunyai hubungan dengan DK PBB, kedudukan IAEA ialah dibawah DK PBB. Kedua organisasi ini bekerjasama dalam bidang Keamanan terkait penggunaan nuklir. Pembentukan IAEA ini adalah untuk mengawasi dan mengembangkan penggunaan energi nuklir dengan menekankan pada kerjasama internasional yang secara bersama-sama mengembangkan penggunaan nuklir secara damai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa IAEA mempunyai misi atau fungsi pokok yaitu pemeriksaan dan penyelidikan fasilitas energi nuklir, apabila hasil pemeriksaan nuklir
tersebut membahayakan stabilitas keamanan dunia internasional maka IAEA wajib melaporkan fakta-fakta tersebut ke DK PBB.
b. Negosiasi multilateral oleh enam negara (Six Party Talks)
Korea Utara mengundurkan diri dari NPT pada tahun 2003 dan menolak segala jenis intervensi internasional. Implikasi dari kejadian tersebut adalah dibentuknya upaya resolusi konflik yang diinisiasi oleh Korea Selatan, Jepang, Rusia, Cina, dan Amerika Serikat bernama Six-Party Talks atau Negosiasi multilateral. (D.Chaffee, North Korea's
Withdrawal from Nonproliferation Treaty Official' ,
http://www.wagingpeace.org/articles/2003/04/10_chaffee_korea npt.htm).
Tindakan yang dilakukan DK PBB selanjutnya adalah menganjurkan pihak yang bersengketa untuk melaksanakan negosiasi. In July 2003, Beijing tried to find a formula for multilateral talks concerning the North Korean, nuclear issue. Finally, China persuaded North Korea to agree to a series of Six-Party Talks (involving the US, China, Russia, Japan, North Korea, and South Korea) with the inducement of extra food and oil supplies (Pada bulan Juli 2003, China (Beijing) berusaha untuk menemukan formula untuk pembicaraan multilateral mengenai masalah nuklir Korea Utara. Akhirnya, Cina membujuk Korea Utara untuk menyetujui serangkaian Negosiasi enam pihak (melibatkan AS, China, Rusia, Jepang, Korea Utara, dan Korea Selatan) dengan merayu memberikan makanan tambahan dan pasokan minyak) (Yufan Fao, 2007 : 31).
Negosiasi multilateral yang dikenal dengan Six Party Talks atau pertemuan segi enam ini dipelopori oleh tiga anggota tetap DK PBB, yaitu Cina, Rusia, dan Amerika. Selain itu ada dua negara Asia yang ikut dalam negosiasi tersebut yaitu Jepang dan Korea Selatan, kedua negara ini merupakan pihak yang merasakan langsung dampak dari krisis nuklir di Korea Utara. Berikut dibawah ini adalah hasil dan isu utama dari Six Party Talks.
1) Six Party Talks tahap pertama
Hasil dari Six Party Talks tahap pertama gagal untuk mencapai kesepakatan, hanya mengumumkan pernyataan singkat ketua pertemuan untuk mengadakan pertemuan berikutnya. Isu utama dalam Six Party Talks pertama adalah :
a) Pembahasan tentang penyerahan bantuan politik dan ekonomi tidak bisa dibahas sampai Korea Utara menyelesaikan pelucutan senjata secara menyeluru;
b) Menolak pertemuan bilateral antara AS dan Korea Utara untuk menuntaskan krisis;
c) Korea Utara mengklaim bahwa walaupun Korea utara memiliki prinsip denuklirisasi, tetapi kebijakan permusuhan AS terhadap Korut mamaksa pihak Pyongyang untuk memiliki kekuatan nuklir untuk pertahanan diri;
d) AS mengendurkan kebijakan bermusuhan sebagai kunci utama untuk menuntaskan krisis Korea Utara menuntut : Perjanjian non-agresi AS dan Korea Utara, normalisasi hubungan AS dan Korut,Pencabutan sanksi ekonomi;
e) Tindakan untuk menuntaskan masalah krisis nuklir harus dilaksanakan dengan bentuk tindakan yang berkelanjutan(KBS, http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/world_0 1a.htm).
2) Six Party Talks tahap kedua
Hasil dari Six Party Talks tahap kedua adalah pengumuman pernyataan dari ketua yang terdiri dari 7 pasal, yang merupakan kesepakatan pertama yang dijadikan dokumen oleh pertemuan Six Party Talks. Kesepakatan tersebut meliputi tentang denuklirisasi Semenanjung Korea, pembahasan masalah nuklir melalui dialog secara damai, dan mengambil tindakan koordinasi satu sama lain untuk menuntaskan krisis nuklir. kemudian sepakat menjaga momentum pertemuan dengan mengadakan pertemuan ketiga
dengan semua negara peserta selama triwulan kedua tahun 2004 serta sepakat untuk mengorganisir pertemuan kelompok kerja untuk menyiapkan pertemuan ketiga itu (http://world.kbs.co.kr/ indonesian/event/nkorea_nuclear/world_01b.htm). Isu Utama dari Six Party Talks kedua ini antara lain:
a) Seperti saat pertemuan pertama, Korea Utara terus mengklaim bahwa kesepakatan atau perjanjian dengan AS akan menjadi sia-sia, apabila pihak AS tidak membuang kebijakan bermusuhannya. Korea Utara menuntut perjanjian non–agresi oleh AS dan menghormati kedaulatan Korea Utara, normalisasi hubungan AS dan Korut, serta pencabutan sanksi ekonomi sebagai bukti bahwa AS membuang kebijakan bermusuhan terhadap Pyonyang;
b) AS mereaksi permintaan Korut terkait keamanan dan mengajukan kemungkinan pemberian jaminan tertulis serta akan dapat dibahas dalam kerangka pertemuan tingkat kerja berikutnya;
c) Korut menyangkal memiliki HEU atau pengayaan uranium; d) Korea Utara sekarang berada dalam posisi sulit untuk
memutuskan pembuangan energi nuklir untuk tujuan damai, karena kesulitan ekonomi dan terbatasnya kapasitas untuk memenuhi permintaan listrik nasional;
e) Gagal untuk mencapai persetujuan tingkat kerja karena AS dan Korea Utara tidak bisa mempersempit perbedaan pandangan tentang konsep;
f) Korea Selatan mengusulkan 3 tahap proses dalam kerangka kerjasama antara AS, Jepang, Korea Selatan, yang nanti akan menjadi dasar pertemuan segi enam berikutnya;
g) Korea Selatan juga menunjukkan inisiatif dengan mengajukan rancangan pemberian bantuan energi dari Korsel sejalan dengan perkembangan pembuangan program nuklir Korut, sehingga
menerima dukungan dari Cina , Rusia dan disetujui oleh AS dan Jepang (KBS,http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_n uclear/world_01b.htm).
3) Six Party Talks tahap ketiga
Hasil dari Six Party Talks tahap ketiga yaitu berisi tentang kegagalan untuk mengumumkan pernyataan mengenai penegaskan kembali tekat untuk denuklirisasi di Semenanjung Korea, menekan agar segera menetapkan skop dan waktu, cara verifikasi untuk sebagai tahap pertama menuntaskan krisis dan menekankan betapa pentingnya perkembangan proses secara bertahap. hasil yang kedua adalah setuju untuk mengadakan pertemuan ke empat di Beijing sebelum September 2004 (KBS, http://world.kbs.co.kr/ indonesian/event/nkorea_nuclear/ world_01c.htm).
Isu Utama dari Six Party Talks tahap ketiga adalah Amerika Serikat untuk pertama kali mengajukan usulan tentang cara penyelesaian. Penyelesaian yang diajukan oleh Amerika Serikat secara garis besar berisi mengenai hubungan timbal balik, Amerika serikat akan memberikan imbalan apabila Korea Utara melakukan perintah dari Amerika Serikat.Isi Utama usulan Amerika Serikat dijelaskan dalam tabel berikut.
Tindakan Korea Utara
Imbalan (pelaksanaan secara bertahap) a) Deklarasi tentang pembuangan program nuklir (termasuk pengayaan uranium HEU).
a) Kesepakatan Korsel ,China
,Jepang ,Rusia untuk memberikan minyak kepada Korut.
b) Jaminan keamanan multilateral, termasuk perjanjian non-agresi. c) Pemasokan energi non-nuklir. d) Pembahasan; AS untuk mencabut
Korut dari daftar negara pendukung terorisme. a) Denuklirisasi
secara sempurna.
a) Pembahasan normalisasi hubungan AS dan Korut.
Tabel 2: Isi usulan Amerika Serikat (Sumber KBS,
http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/world_01c.htm) 4) Six Party Talks tahap keempat
Pertemuan Six Party Talks pada tahap keempat ini terjadi dalam dua sesi.Hasil sesi pertama nihil, dikarenakan gagal untuk membuat Deklarasi Bersama dalam pertemuan sepanjang 13 hari, karena selisih pandangan AS dan Korea Utara tentang penggunaan energi nuklir tujuan damai. Isu Utama dari Six Party Talks tahap keempat sesi pertama ini adalah:
a) Tentang masalah hak Korea Utara untuk menggunakan teknologi nuklir bertujuan damai. Korea Utara bersikukuh tentang hak mereka untuk menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai;
b) Menuntut bahwa penggunaan nuklir secara damai adalah hak bagi negara yang berdaulat, dan terkait hal itu, Korea Utara mengatakan pihaknya tidak bisa membuang program reaktor nuklir air ringan (light water);
c) Wakil Menlu Korut, Kim Gye-gwan mengatakan bahwa selama masa istirahat pertemuan Amerika Serikat harus mengubah posisinya yang tidak menginginkan kepemilikan nuklir Korea Utara dalam bentuk apapun. Amerika serikat menuntut bahwa Korea Utara tidak bisa memiliki reaktor nuklir air ringan (light water), semua program nuklir harus dibuang;
d) Korea Utara melanggar Perjanjian Jenewa 1994 dan kemungkinan menggunakan reaktor air ringan untuk mengembangkan senjata. Oleh karena itu, Korea Utara harus membuang semua program nuklirnya. Yaitu, semua jenis teknologi nuklir harus dibuang dan Korut harus mentaati perjanjian internasional (kembali ke keanggotaan NPT dan lain-lain);
e) Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, menegaskan agar delegasi Korea Utara segera ke Pyongyang dan menjelaskan bahwa agenda tentang pemberian reaktor air ringan (light water) kepada Korut tidak ada di atas meja perundingan;
f) China mengusulkan agar Korea Utara menaati kewajibannya dan menikmati hak-haknya di bawah perjanjian NPT,usulan itu ditolak oleh Korea Utara;
g) Korea Selatan mengusulkan bahwa Korea Utara harus menaati kewajiban dan menikmati haknya untuk menggunakan teknologi nuklir tujuan damai sebagai anggota NPT, tetapi usulan itu ditolak oleh pihak Amerika Serikat (KBS, http://
world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/world_01d.ht m)
Hasil Six Party Talks tahap keempat sesi kedua berbeda dengan sesi pertama. Sesi kedua ini menghasilkan kesepakatan yang terdiri dari 6 Pasal, kesepakatan tersebut antara lain:
a) Enam pihak secara bulat menegaskan kembali bahwa tujuan pertemuan segi enam adalah mewujudkan denuklirisasi di Semenanjung Korea dengan cara yang bisa diverifikasi secara damai. Korea Utara berjanji untuk membuang semua senjata nuklir dan program nuklir yang ada, dan kembali ke perjanjian non-proliferasi (pengembangan) senjata nuklir (NPT) dan pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional IAEA dalam waktu dekat. Amerika Serikat menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki senjata nuklir di Semenanjung Korea dan tidak memiliki niat untuk menyerang atau menginvasi Korea Utara dengan senjata nuklir atau konvensional. Korea Selatan menegaskan kembali janjinya untuk tidak menerima atau menempatkan senjata nuklir sejalan dengan Pernyatan Bersama 1992 tentang denuklirisasi Semenanjung Korea, dan menegaskan bahwa tidak ada senjata nuklir di wilayah Korea Selatan. Deklarasi Bersama 1992 tentang denuklirisasi Semenanjung Korea harus ditaati dan dilaksanakan. Korea Utara menyatakan bahwa pihaknya memiliki hak untuk menggunakan energi nuklir secara damai. Pihak lain menyatakan menghormati posisi Korea Utara tersebut dan setuju untuk membahas pemasokan reaktor air ringan (light water) kepada Korea Utara dalam yang waktu tepat di kemudian hari;
b) Enam pihak, dalam hubungan mereka menaati tujuan dan prinsip Piagam PBB dan mengakui kaidah dalam hubungan internasional. Korea Utara dan Amerika Serikat setuju untuk
menghormati kedaulatan satu sama lain, hidup bersama secara damai dan mengambil langkah untuk normalisasi hubungan mereka, sejalan dengan kebijakan bilateral masing-masing. Korea Utara dan Jepang berjanji untuk mengambil langkah-langkah normalisasi hubunga sejalan dengan Deklarasi Pyongyang pada tahun 2002 berdasarkan landasan upaya untuk menyelesaikan masa lalu yang tidak menguntungkan dan menuntaskan hal-hal yang masih tersisa;
c) Enam pihak setuju untuk mempromosikan kerjasama ekonomi di bidang energi, perdagangan, dan investasi secara bilateral maupun multilateral. China, Jepang, dan Korea Selatan, Rusia dan Amerika Serikat menyatakan niat mereka untuk memberikan bantuan energi kepada Korea Utara. Korea Selatan menegaskan kembali usulannya 12 Juli 2005, terkait pemasokan 2 juta Kilowat energi listrik kepada Korea Utara; d) Enam pihak berjanji untuk bersama-bersama berupaya untuk
melanjutkan perdamaian dan kestabilan di kawasan Asia Timur Laut. Negara peserta yang terkait langsung akan melakukan negosiasi untuk membentuk sistem perdamaian permanen di Semenanjung Korea di forum lain yang tepat. Enam pihak setuju untuk mencari jalan dan cara untuk meningkatkan kerjasama keamanan di kawasan Timur Laut; e) Enam pihak setuju untuk melakukan langkah koordinasi untuk
melaksanakan konsensus yang telah diungkapkan sebelumnya, sejalan dengan prinsip;
f) Enam pihak setuju untuk mengadakan pertemuan segi-6 ke-5 di Beijing pada awal Nopember 2005 dan waktu tepat akan ditetapkan melalui pembahasan satu sama lain (KBS, http:// world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/world_01e.ht m).
5) Six Party Talks tahap kelima
Pertemuan Six Party Talks pada tahap kelima ini terjadi dalam tiga sesi. Sesi pertama pertemuan kelima menunjukkan bahwa pembangunan kepercayaan antara Ameria Serikat dan Korea Utara adalah kunci utama dalam pelaksanaan perdamaian.
Hasil dari tahap kelima sesi pertama ini adalah enam pihak menegaskan kembali ke prinsip dan tujuan Deklarasi Bersama dan setuju untuk membahas bagaimana cara pelaksanaannya. Hasil selanjutnya adalah untuk mengadakan pertemuan lebih lanjut. (KBS,http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/worl d_01f.htm). Isu utama dalam tahap kelima sesi pertama ini adalah: a) Pembangunan kepercayaan dengan langkah awal Walaupun
para pengamat menduga pertemuan segi-6 ke-5 akan terfokus pada proyek konstruksi reaktor air ringan, namun, poin utama konflik adalah masalah pembangunan kepercayaan, dalam memenuhi tuntutan AS untuk membekukan reaktor nuklir Yongbyeon Korut dan tuntutan Korea Utara untuk mencabut sanksi keuangan AS;
b) Pembekuan Reaktor Yongbyeon, masalah itu dibahas secara mendalam pada pertemuan bilateral antara Korea utara, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Ketua juru runding A.S. Christopher Hill menuntut Korea Utara menghentikan pengoperasian rektor nuklir 5-megawatt di Yongbyon;
c) Sanksi Amerika Serikat terhadap Korea Utara Berkenaan tuntuan Amerika Serikat tentang penghentian operasi reaktor nuklir Yongbyeon, Korea Utara mengatakan bahwa sanksi Amerika Serikat terhadap Korea Utara adalah pelanggaran prinsip. (KBS, http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea _nuclear/world_01f.htm).
Sesuai dengan hasil pertemuan Six Party Talks tahap kelima sesi pertama para anggota berkomitmen untuk bertemu kembali.
Sesi kedua nihil, hanya komitmen pertemuan tingkat kerja bilateral antar Korea Utara dan AS tentang pembekuan rekening Korea Utara di Banco Delta Asia di Macao yang dilaksanakan atas permintaan Pyongyang. Isu utama dalam sesi kedua tersebut antara lain:
a) Amerika Serikat membekukan sekitar 24 juta dolar rekening Korea Utara di Banco Delta Asia di Macao, dengan tuduhan bahwa rekening itu digunakan untuk pemalsuan dan pencucian uang dolar. Korea Utara memprotes pembekuan rekening itu, dan menetapkan hal itu sebagai tindakan sanksi keuangan terhadap Korea Utara, dan menghubungkan resolusi masalah itu dengan perkembangan pertemuan segi enam , sedangkan Amerika Serikat bersikukuh bahwa hal itu adalah masalah hukum di luar lingkup pertemuan segi enam. Maka , hal itu menyebabkan Korea Utara menolak pertemuan segi enam selama 13 bulan dan melakukan tes nuklir pertamanya;
b) Amerika Serikat mengusulkan dalam pertemuan trilateral dengan Korea Utara dan China pada Nopember agar Pyongyang melakukan beberapa tindakan langkah awal yang akan bisa membuktikan niat Korea Utara untuk menyerahkan program nuklirnya. Penuntasan masalah nuklir Korea Utara akan dimulai dengan pengumuman Pyongyang bahwa pihaknya akan membuang program nuklirnya, dan kemudian mengambil langkah untuk melaksanakan pengumuman itu. Sebagai reaksi terhadap pengumuman Pyongyang, pihak lain akan mengambil langkah yang disebut tindakan imbalan untuk memberi insentif kepada Pyongyang (KBS, http:// world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/world_01g.ht m).
Sesi ketiga adalah pertemuan terakhir dalam Six Party Talks tahap kelima. Hasil dari sesi ketiga ini adalah dengan adanya